Kewirausahaan Jemaat: Sebuah Alternatif Berteologi Kewirausahaan Jemaat: Sebuah Alternatif Berteologi
Simon Julianto Simon Julianto
[email protected] [email protected]
Abstract Abstract
Entrepreneurship in the church still raises pros and cons recently. Each side Entrepreneurship in the church still raises pros and cons recently. Each side has a theological basis for his opinion. This paper attempts to elaborate has a theological basis for his opinion. This paper attempts to elaborate entrepreneurial theological thought that departs from the state of a number entrepreneurial theological thought that departs from the state of a number of churches in Indonesia, specifically in the Gereja Kristen Jawa (GKJ). The of churches in Indonesia, specifically in the Gereja Kristen Jawa (GKJ). The entrepreneurship experience of GKJ has become the foundation for practical entrepreneurship experience of GKJ has become the foundation for practical praxis on entrepreneurship, so Entrepreneurship Theology is no longer a taboo praxis on entrepreneurship, so Entrepreneurship Theology is no longer a taboo in Christian circles.
in Christian circles.
Keywords
Keywords:: Theology of Entrepreneurship, Church, Javanese Christian ChurchTheology of Entrepreneurship, Church, Javanese Christian Church
Abstrak Abstrak
Kewirausahaan dalam gereja masih menimbulkan pro dan kontra hingga Kewirausahaan dalam gereja masih menimbulkan pro dan kontra hingga saat ini. Masing-masing pihak memiliki dasar teologis atas pendapatnya.
saat ini. Masing-masing pihak memiliki dasar teologis atas pendapatnya.
Tulisan ini mencoba mengelaborasi pemikiran teologi kewirausahaan yang Tulisan ini mencoba mengelaborasi pemikiran teologi kewirausahaan yang berangkat dari keadaan sejumlah gereja di Indonesia, secara khusus di berangkat dari keadaan sejumlah gereja di Indonesia, secara khusus di Gereja Kristen Jawa (GKJ). Pengalaman kewirausahaan GKJ menjadi Gereja Kristen Jawa (GKJ). Pengalaman kewirausahaan GKJ menjadi landasan praksis berteologi kewirausahaan, sehingga Teologi Kewirausahaan landasan praksis berteologi kewirausahaan, sehingga Teologi Kewirausahaan bukan lagi menjadi hal yang tabu di kalangan Kristen.
bukan lagi menjadi hal yang tabu di kalangan Kristen.
Kata Kunci
Kata Kunci: Teologi: Teologi Kewirausahaan, Gereja, Gereja Kristen JawaKewirausahaan, Gereja, Gereja Kristen Jawa
Dialog yang Tidak Pernah Berhenti Dialog yang Tidak Pernah Berhenti
Kehidupan berjemaat adalah sebuah proses dialog berteologi yang tidak Kehidupan berjemaat adalah sebuah proses dialog berteologi yang tidak pernah berhenti, penulis merasakan hal ini dalam praktik sebagai pendeta jemaat pernah berhenti, penulis merasakan hal ini dalam praktik sebagai pendeta jemaat Gereja Kristen Jawa selama 21 tahun. Begitu banyak hal menarik yang Gereja Kristen Jawa selama 21 tahun. Begitu banyak hal menarik yang sesungguhnya dapat menjadi bahan para teolog melakukan penelitian di sekitar sesungguhnya dapat menjadi bahan para teolog melakukan penelitian di sekitar masalah kehidupan berjemaat; dari masalah persembahan, hukum gereja, etika masalah kehidupan berjemaat; dari masalah persembahan, hukum gereja, etika berjemaat, sikap terhadap adat istiadat, sampai masalah organisasi gereja. Salah berjemaat, sikap terhadap adat istiadat, sampai masalah organisasi gereja. Salah satu topik yang menurut penulis menarik a
satu topik yang menurut penulis menarik adalah dialog tentang “k dalah dialog tentang “k ewirausahaanewirausahaan jemaat” atau
jemaat” atau “bisnis jemaat”.“bisnis jemaat”. Topik tersebut menjadi dialog yang berkepanjangan Topik tersebut menjadi dialog yang berkepanjangan dan tidak pernah berhenti sampai sekarang. Pertanyaan tentang “apakah pantas dan tidak pernah berhenti sampai sekarang. Pertanyaan tentang “apakah pantas
g
gereja membahas kewirausahaan dalam ajarannya” sampai pertanyaan praktisereja membahas kewirausahaan dalam ajarannya” sampai pertanyaan praktis
“bolehkah gereja/jemaat berwirausaha” selalu terdengar dalam dialog yang
“bolehkah gereja/jemaat berwirausaha” selalu terdengar dalam dialog yang terjadi.
terjadi.
Percakapan yang
Percakapan yang hangathangat tentang boleh tidaknya gereja/jemaat tentang boleh tidaknya gereja/jemaat berwirausaha sangat menarik diikuti. Selalu saja terdapat kelompok yang tidak berwirausaha sangat menarik diikuti. Selalu saja terdapat kelompok yang tidak setuju yang berlawanan pendapat dengan kelompok yang setuju. Sebagian setuju yang berlawanan pendapat dengan kelompok yang setuju. Sebagian mereka yang tidak setuju berpijak pada cerita tentang Yesus yang mengusir para mereka yang tidak setuju berpijak pada cerita tentang Yesus yang mengusir para pedagang di Bait Allah di Mat. 21:12 “Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir pedagang di Bait Allah di Mat. 21:12 “Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-
penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati” (band. Luk. 19:45).bangku pedagang merpati” (band. Luk. 19:45). PihakPihak yang tidak setuju menekankan bahwa cerita tersebut jelas menekankan bahwa yang tidak setuju menekankan bahwa cerita tersebut jelas menekankan bahwa Yesus tidak memperbolehkan pencampuradukan dunia usaha/bisnis dengan dunia Yesus tidak memperbolehkan pencampuradukan dunia usaha/bisnis dengan dunia Bait Allah/gereja. Sementara pihak yang setuju, yaitu yang terbuka tentang bisnis Bait Allah/gereja. Sementara pihak yang setuju, yaitu yang terbuka tentang bisnis dibicarakan di tengah jemaat melakukan pembelaan dengan penjelasan bahwa dibicarakan di tengah jemaat melakukan pembelaan dengan penjelasan bahwa konteks pada zaman Yesus berbeda dengan sekarang. Kelompok ini menjelaskan konteks pada zaman Yesus berbeda dengan sekarang. Kelompok ini menjelaskan bahwa peristiwa kemarahan Yesus terhadap praktik perdagangan di Bait Allah bahwa peristiwa kemarahan Yesus terhadap praktik perdagangan di Bait Allah waktu itu dilatarbelakangi situasi kemerosotan moral
waktu itu dilatarbelakangi situasi kemerosotan moral sanhedrin sanhedrin yang cenderung yang cenderung serakah dengan mempekerjakan para pemungut cukai. Sebagaimana diketahui serakah dengan mempekerjakan para pemungut cukai. Sebagaimana diketahui bahwa kondisi sosial-politik-ekonomi zaman Yesus adalah kondisi masyarakat di bahwa kondisi sosial-politik-ekonomi zaman Yesus adalah kondisi masyarakat di bawah pengaruh
bawah pengaruh imperium romanum,imperium romanum, kondisi yangkondisi yang membawa membawa bangsa bangsa jajahanjajahan (termasuk Yudea) menjadi semakin miskin. Salah satu sistem ekonomi yang (termasuk Yudea) menjadi semakin miskin. Salah satu sistem ekonomi yang diberlakukan pada saat itu adalah
diberlakukan pada saat itu adalah sistem sistem perpajakaperpajakann yang diorganisir secarayang diorganisir secara ketat.
ketat.11 Para Para Imam SanhedrinImam Sanhedrin sebenarnya dalam sistem perpajakan tersebut telahsebenarnya dalam sistem perpajakan tersebut telah mendapat bagian yang sangat cukup untuk pengelolaan Bait Allah (lengkap mendapat bagian yang sangat cukup untuk pengelolaan Bait Allah (lengkap dengan jatah orang-orang yang ada di dalamnya). Namun mereka masih menarik dengan jatah orang-orang yang ada di dalamnya). Namun mereka masih menarik keuntungan dengan mempekerjakan para pemungut cukai, bahkan mencari keuntungan dengan mempekerjakan para pemungut cukai, bahkan mencari tambahan dengan menarik pajak dari para pedagang yang berjualan di area Bait tambahan dengan menarik pajak dari para pedagang yang berjualan di area Bait Allah. Keserakahan tersebut yang menyebabkan Yesus sangat marah kepada Allah. Keserakahan tersebut yang menyebabkan Yesus sangat marah kepada praktik perdagangan di Bait Allah, jadi tidak semata-mata marah karena praktik perdagangan di Bait Allah, jadi tidak semata-mata marah karena perdaganga
perdagangan itu n itu sendiri.sendiri.
Dinamika relasi bisnis dengan Gereja memang sangat menarik diikuti, Dinamika relasi bisnis dengan Gereja memang sangat menarik diikuti, Yahya Wijaya memberi kritik kepada Gereja dengan mengungkapkan bahwa Yahya Wijaya memberi kritik kepada Gereja dengan mengungkapkan bahwa
1
1 H. Jagersma, H. Jagersma, Dari Aleksander Agung Sampai Bar Kokhba-sejarah Israel dari +/- 330Dari Aleksander Agung Sampai Bar Kokhba-sejarah Israel dari +/- 330 SM-135 M,
SM-135 M, (PT. BPK Gunung Mulia, 1994), 164-183.(PT. BPK Gunung Mulia, 1994), 164-183.
hubungan antara dunia bisnis dengan Gereja seringkali dipahami sekadar bersifat hubungan antara dunia bisnis dengan Gereja seringkali dipahami sekadar bersifat pragmatis; bisnis dibutuhkan hanya untuk mencukupi gereja dan gereja dipakai pragmatis; bisnis dibutuhkan hanya untuk mencukupi gereja dan gereja dipakai pelaku bisnis guna kebutuhan ritual penyegaran motivasi para pekerja.
pelaku bisnis guna kebutuhan ritual penyegaran motivasi para pekerja.22 Penulis Penulis melihat bahwa selama ini telah terjadi
melihat bahwa selama ini telah terjadi relasi saling relasi saling memperamemperalatlat antara dunia bisnisantara dunia bisnis dengan Gereja, artinya ketika tidak ada hal yang diperalat lagi maka akan terjadi dengan Gereja, artinya ketika tidak ada hal yang diperalat lagi maka akan terjadi ketiadaan relasi lagi. Gereja melupakan bahwa ada sisi lain dalam dunia bisnis ketiadaan relasi lagi. Gereja melupakan bahwa ada sisi lain dalam dunia bisnis yang sesungguhnya patut dihormati dan diteladani demi kemajuan gereja/jemaat.
yang sesungguhnya patut dihormati dan diteladani demi kemajuan gereja/jemaat.
Sisi lain itu adalah: semangat pantang menyerah, keberanian mengambil resiko, Sisi lain itu adalah: semangat pantang menyerah, keberanian mengambil resiko, praktik manajemen yang baik, kreativitas yang tidak pernah berhenti serta banyak praktik manajemen yang baik, kreativitas yang tidak pernah berhenti serta banyak yang lain yang dipunyai dunia bisnis. Sementara para pelaku bisnis melupakan sisi yang lain yang dipunyai dunia bisnis. Sementara para pelaku bisnis melupakan sisi lain gereja yang sangat bermanfaat bagi dunia bisnis, antara lain: Gereja adalah lain gereja yang sangat bermanfaat bagi dunia bisnis, antara lain: Gereja adalah salah satu pasar potensial pebisnis, dalam gereja terdapat peluang berjejaring salah satu pasar potensial pebisnis, dalam gereja terdapat peluang berjejaring sangat luas, Gereja mengedepankan nilai-nilai kejujuran (yang dapat dipakai sangat luas, Gereja mengedepankan nilai-nilai kejujuran (yang dapat dipakai sebagai kontrol praktik bisnis).
sebagai kontrol praktik bisnis).
Pada
Pada saat saat Eka Eka Darmaputera Darmaputera membahas membahas tentangtentang Etika Bisnis,Etika Bisnis, beliaubeliau mengawali dengan pengakuan bahwa dalam kurun waktu yang amat lama mengawali dengan pengakuan bahwa dalam kurun waktu yang amat lama kekristenan bersikap tidak terlalu ramah terhadap dunia dagang dan bisnis, yang kekristenan bersikap tidak terlalu ramah terhadap dunia dagang dan bisnis, yang menyebabkan munculnya sikap curiga dan dianggap sebelah mata terhadap menyebabkan munculnya sikap curiga dan dianggap sebelah mata terhadap mereka yang terjun ke dunia bisnis.
mereka yang terjun ke dunia bisnis.33 Dalam perkembangannya terjadi kenyataan Dalam perkembangannya terjadi kenyataan yang menggembirakan bahwa ternyata terjadi kesadaran gereja yang lambat laun yang menggembirakan bahwa ternyata terjadi kesadaran gereja yang lambat laun bersikap semakin terbuka terhadap pembicaraan tentang bisnis. Namun dalam bersikap semakin terbuka terhadap pembicaraan tentang bisnis. Namun dalam kenyataannya karena dunia berkembang dengan pesat (ditambah dengan kenyataannya karena dunia berkembang dengan pesat (ditambah dengan semakin kompleksnya dunia bisnis) maka menyebabkan sikap gereja yang semakin semakin kompleksnya dunia bisnis) maka menyebabkan sikap gereja yang semakin terbuka dan positif ini cenderung tertinggal. Oleh sebab itu, Etika bisnis kristiani terbuka dan positif ini cenderung tertinggal. Oleh sebab itu, Etika bisnis kristiani sampai sekarang ini tetap merupakan agenda yang belum selesai. Bahkan mungkin sampai sekarang ini tetap merupakan agenda yang belum selesai. Bahkan mungkin sekali, tak pernah akan selesai.
sekali, tak pernah akan selesai.44 Penulis melihat bahwa pendapat pak Eka ada Penulis melihat bahwa pendapat pak Eka ada benarnya; dalam perjalanan diskusi-diskusi tentang
benarnya; dalam perjalanan diskusi-diskusi tentang gereja dan bisnisgereja dan bisnis sangat terasasangat terasa betapa pesatnya perkembangan dunia bisnis dan pada saat yang sama betapa betapa pesatnya perkembangan dunia bisnis dan pada saat yang sama betapa tertinggaln
tertinggalnya ya pemikiran gereja pemikiran gereja tentang tentang bisnis. Gereja bisnis. Gereja memang memang semakin terbukasemakin terbuka terhadap bisnis (paling tidak Gereja yang
terhadap bisnis (paling tidak Gereja yang penulis ada di penulis ada di dalamnydalamnya) namun seolah-a) namun seolah-
2
2 Yahya Wijaya, Kesalehan Pasar-Kajian Teologis Terhadap Isu-Isu Ekonomi dan Bisnis Yahya Wijaya, Kesalehan Pasar-Kajian Teologis Terhadap Isu-Isu Ekonomi dan Bisnis di Indonesia, (Grafika Kreasindo, 2010), 1-2.
di Indonesia, (Grafika Kreasindo, 2010), 1-2.
3 3
Eka Darmaputera,
Eka Darmaputera,Etika Sederhana Untuk Semua-Bisnis, Ekonomi danEtika Sederhana Untuk Semua-Bisnis, Ekonomi dan Penatalayanan,
Penatalayanan, (PT. BPK Gunung Mulia 1990), 1.(PT. BPK Gunung Mulia 1990), 1.
4 4 Ibid. Ibid.
olah prosesnya keterbukaan tersebut seperti anak-anak yang bermain kejar- olah prosesnya keterbukaan tersebut seperti anak-anak yang bermain kejar- kejaran, di mana yang
kejaran, di mana yang dikejar selalu bergerak menjauh.dikejar selalu bergerak menjauh.
Kenyataan di atas membawa pada sebua
Kenyataan di atas membawa pada sebuah pertanyaan: “apakah masihh pertanyaan: “apakah masih ada gunanya memperjuangkan keterbukaan Gereja/jemaat terhadap dunia ada gunanya memperjuangkan keterbukaan Gereja/jemaat terhadap dunia bisnis? Bukankah semakin dikejar menjadi semakin jauh?” Pada hemat penulis bisnis? Bukankah semakin dikejar menjadi semakin jauh?” Pada hemat penulis pertanyaan tersebut adalah wujud sikap pesimis gereja di dalam menghadapi pertanyaan tersebut adalah wujud sikap pesimis gereja di dalam menghadapi tantangan zaman. Justru semakin gereja menjauh dari dunia yang dihadapi, akan tantangan zaman. Justru semakin gereja menjauh dari dunia yang dihadapi, akan semakin jauh pula ketertinggalannya. Sebaliknya semakin berani gereja mendekati semakin jauh pula ketertinggalannya. Sebaliknya semakin berani gereja mendekati dunia yang dihadapi, maka semakin pendek pula ketertinggalannya. Demikian dunia yang dihadapi, maka semakin pendek pula ketertinggalannya. Demikian pula sungguhpun Gereja sering tertinggal dalam bersikap dalam dunia bisnis, pula sungguhpun Gereja sering tertinggal dalam bersikap dalam dunia bisnis, namun apabila dengan setia mendampingi dunia tersebut, maka bisa dipastikan namun apabila dengan setia mendampingi dunia tersebut, maka bisa dipastikan bahwa gereja tidak akan tertinggal jauh di belakang. Dengan demikian maka sikap bahwa gereja tidak akan tertinggal jauh di belakang. Dengan demikian maka sikap yang paling tepat adalah bersikap positif terhadap dunia bisnis dan melakukan yang paling tepat adalah bersikap positif terhadap dunia bisnis dan melakukan upaya pendekatan yang terbuka terhadap pelbagai macam nilai yang dapat upaya pendekatan yang terbuka terhadap pelbagai macam nilai yang dapat ditularkan kedua belah pihak (Gereja dengan pelaku Bisnis).
ditularkan kedua belah pihak (Gereja dengan pelaku Bisnis).
Selintas tentang Kewirausahaan, Wirausaha dan Teologi Kewirausahaan Selintas tentang Kewirausahaan, Wirausaha dan Teologi Kewirausahaan
Berbicara masalah kewirausahaan dan wirausaha mau tidak mau kita Berbicara masalah kewirausahaan dan wirausaha mau tidak mau kita harus bicara juga mengenai bagaimana karakter ekonomi suatu masyarakat, yang harus bicara juga mengenai bagaimana karakter ekonomi suatu masyarakat, yang mana karakter ekonomi tertentu tersebut mempunyai andil besar dalam mana karakter ekonomi tertentu tersebut mempunyai andil besar dalam terbentuknya budaya wirausaha.
terbentuknya budaya wirausaha.55 Sebagai Sebagai contoh contoh realita realita keunggulan keunggulan InggrisInggris dalam membangun industri adalah berkat karakter budaya masyarakat Inggris dalam membangun industri adalah berkat karakter budaya masyarakat Inggris yang menekankan pentingnya kerja keras dan kreativitas.
yang menekankan pentingnya kerja keras dan kreativitas.66 DalamDalam perkembangannya akan diketahui bahwa hal tersebut sangat berperan ketika perkembangannya akan diketahui bahwa hal tersebut sangat berperan ketika masyarakat Inggris mengalami keterpurukan akibat krisis ekonomi tahun 1980an. Di masyarakat Inggris mengalami keterpurukan akibat krisis ekonomi tahun 1980an. Di mana akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan menyebabkan banyak mana akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan menyebabkan banyak perusahaan besar hampir bangkrut. Kondisi ini tertolong oleh adanya karakter perusahaan besar hampir bangkrut. Kondisi ini tertolong oleh adanya karakter budaya kerja masarakat Inggris, dalam praktiknya waktu itu upaya penyelamatan budaya kerja masarakat Inggris, dalam praktiknya waktu itu upaya penyelamatan kondisi bangkrut dilakukan dengan membentuk unit-unit usaha lebih kecil yang kondisi bangkrut dilakukan dengan membentuk unit-unit usaha lebih kecil yang melakukan subkontrak dengan perusahaan besar tersebut.
melakukan subkontrak dengan perusahaan besar tersebut.77 Penulis melihat bahwa Penulis melihat bahwa hal yang sama terjadi pada masyarakat Jepang usai Perang Dunia II. Saat itu akibat hal yang sama terjadi pada masyarakat Jepang usai Perang Dunia II. Saat itu akibat
5
5 Max Sraackhouse, Max Sraackhouse,On Moral Busines: Classical and Contemporrary Resources forOn Moral Busines: Classical and Contemporrary Resources for Ethic in Economy Life,
Ethic in Economy Life, (Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Company 1995), 91.(Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Company 1995), 91.
6 6
Band. Samuel Smiles,
Band. Samuel Smiles,77 Peter Sedgwick, Peter Sedgwick, The Enterprise Culture: A Challenging New Theology of WealthThe Enterprise Culture: A Challenging New Theology of WealthSelf Help,Self Help, (London: J. Murray 1958), 58.(London: J. Murray 1958), 58.
Creation for the 1990s
Creation for the 1990s, (London: SPCK. 1992), 8., (London: SPCK. 1992), 8.
kalah perang, Jepang mengalami keterpurukan yang hebat. Namun
kalah perang, Jepang mengalami keterpurukan yang hebat. Namun kepatuhankepatuhan pada Kaisar
pada Kaisar dan budaya kerja keras masyarakat Jepang membawa pada dan budaya kerja keras masyarakat Jepang membawa pada berangsur normalnya situasi ekonomi bangsa tersebut (meski butuh waktu yang berangsur normalnya situasi ekonomi bangsa tersebut (meski butuh waktu yang tidak sedikit).
tidak sedikit).
Sebelum lebih jauh membahas tentang kewirausahaan jemaat, ada Sebelum lebih jauh membahas tentang kewirausahaan jemaat, ada baiknya penulis menjelaskan secara sederhana perihal Kewirausahaan dan baiknya penulis menjelaskan secara sederhana perihal Kewirausahaan dan Wirausaha dengan tujuan membekali pembaca (yang awam di bidang Wirausaha dengan tujuan membekali pembaca (yang awam di bidang kewirausahaan) dapat mengikuti pembahasan selanjutnya dengan agak jelas. Wiji kewirausahaan) dapat mengikuti pembahasan selanjutnya dengan agak jelas. Wiji Lestari menjelaskan dalam tulisannya:
Lestari menjelaskan dalam tulisannya:88
Kewirausahaan adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, Kewirausahaan adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian. Proses baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian. Proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari pribadi dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, maupun di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan dan lingkungan. Wirausaha adalah seseorang yang kebudayaan dan lingkungan. Wirausaha adalah seseorang yang membangun usaha baru ataupun seseorang yang menciptakan membangun usaha baru ataupun seseorang yang menciptakan lahan pekerjaan baru yang disesuaikan dengan modal yang ada, lahan pekerjaan baru yang disesuaikan dengan modal yang ada, dan wirausaha bisa digolongkan menjadi usaha besar, menengah.
dan wirausaha bisa digolongkan menjadi usaha besar, menengah.
Lebih lanjut penulis ingin menjelaskan Kewirausahaan (Entrepreneurship) Lebih lanjut penulis ingin menjelaskan Kewirausahaan (Entrepreneurship) sebagai proses berpikir dari seseorang (wirausaha) yang dapat digambarkan sebagai proses berpikir dari seseorang (wirausaha) yang dapat digambarkan sebagai berikut:
sebagai berikut:
•• proses proses mengidentmengidentifikasi ifikasi VISI VISI } } - - IDEIDE
•• MengembangMengembangkan kan VISI VISI } } - - INOVASIINOVASI
•• membawa membawa visi visi ke ke hidup hidup } } - - AKSI AKSI & & KERJAKERJA Adapun hasil
Adapun hasil akhir dari akhir dari proses proses adalah adalah penciptaan usaha penciptaan usaha baru ataubaru atau upgradingupgrading u
usaha yang lama menjadi semakin inovatif dan bernuansa selalu baru. Dari prosessaha yang lama menjadi semakin inovatif dan bernuansa selalu baru. Dari proses berwirausaha semacam ini maka wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berwirausaha semacam ini maka wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang
8 8
http://www.kompasiana.com/tarie.wizie/artikel-tentang-kewirausahaan_5528767http://www.kompasiana.com/tarie.wizie/artikel-tentang-kewirausahaan_5528767 ff17e61
ff17e61ae528b45c2.ae528b45c2.
mempunyai cara berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai cara berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai motivasi, panggilan jiwa, persepsi dan emosi yang sangat terkait mempunyai motivasi, panggilan jiwa, persepsi dan emosi yang sangat terkait dengan nilai-nilai, sikap dan perilaku sebagai manusia kerja.
dengan nilai-nilai, sikap dan perilaku sebagai manusia kerja.
Berdasar pada pemahaman di atas, hal-hal mendasar yang menurut Berdasar pada pemahaman di atas, hal-hal mendasar yang menurut penulis harus ada dalam kewirausahaan adalah:
penulis harus ada dalam kewirausahaan adalah:
•• MotivasiMotivasi Visi & Visi & Misi JelasMisi Jelas
•• Panggilan JiwaPanggilan Jiwa Passion/Konsistensi Passion/Konsistensi
•• PersepsiPersepsi Kapasitas Kapasitas
•• EmosiEmosi Relasi/Jejaring Relasi/Jejaring
•• Nilai-NilaiNilai-Nilai Religi Religi & & SpiritSpirit
•• Sikap dan PerilakuSikap dan Perilaku Ethic Ethic
•• karakter mns kerjakarakter mns kerja Personality Personality
Oleh karena itu apabila berdiskusi tentang dinamika relasi dunia bisnis dengan Oleh karena itu apabila berdiskusi tentang dinamika relasi dunia bisnis dengan Gereja, maka fokus diskusi yang disarankan lebih terarah pada motivasi,
Gereja, maka fokus diskusi yang disarankan lebih terarah pada motivasi, passionpassion,, persepsi, emosi, nilai-nilai yang muncul, sikap perilaku pebisnis dan gereja, serta persepsi, emosi, nilai-nilai yang muncul, sikap perilaku pebisnis dan gereja, serta karakter dari manusia yang terlibat di dalam dunia bisnis tersebut. Sehubungan karakter dari manusia yang terlibat di dalam dunia bisnis tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka penulis merasakan bahwa penting membangun dengan hal tersebut di atas maka penulis merasakan bahwa penting membangun sebuah teologi alternatif yang menjembatani diskusi dunia bisnis dengan dunia sebuah teologi alternatif yang menjembatani diskusi dunia bisnis dengan dunia Gereja.
Gereja.
Topik bahasan penulis adalah memberikan alternatif berteologi dengan Topik bahasan penulis adalah memberikan alternatif berteologi dengan memperhatikan bagaimana kewirausahaan dan para wirausaha semakin memperhatikan bagaimana kewirausahaan dan para wirausaha semakin mendapat tempat dalam Gereja Tuhan. Bahasan ini juga memperhatikan bahwa mendapat tempat dalam Gereja Tuhan. Bahasan ini juga memperhatikan bahwa dialog teologi yang tidak pernah berhenti sebagaimana yang disampaikan Eka dialog teologi yang tidak pernah berhenti sebagaimana yang disampaikan Eka Darmaputera dan penilaian Yahya Wijaya bahwa
Darmaputera dan penilaian Yahya Wijaya bahwa relasi dunia bisnis dengan Gereja relasi dunia bisnis dengan Gereja masih bersifat pragmatis (lihat dalam paragraf sebelumnya). Sehubungan dengan masih bersifat pragmatis (lihat dalam paragraf sebelumnya). Sehubungan dengan hal itu ada baiknya kita mencermati pandangan Banawiratma sebagai berikut:
hal itu ada baiknya kita mencermati pandangan Banawiratma sebagai berikut:
Teologi dijalankan dan dikembangkan dalam kerangka komunitas atau Teologi dijalankan dan dikembangkan dalam kerangka komunitas atau persekutuan hidup beriman. Demikianlah teologi Kristen mempunyai persekutuan hidup beriman. Demikianlah teologi Kristen mempunyai
fungsi dalam jemaat Kristen yang ingin menghayati dan menjadi saksi fungsi dalam jemaat Kristen yang ingin menghayati dan menjadi saksi injil Yesus Kristus dalam situasi masyarakat yang konkret.
injil Yesus Kristus dalam situasi masyarakat yang konkret.99
Berdasar pada pandangan tersebut maka sesungguhnya diskusi antara Berdasar pada pandangan tersebut maka sesungguhnya diskusi antara dunia bisnis dengan gereja, didukung dengan kenyataan praktik kewirausahaan dunia bisnis dengan gereja, didukung dengan kenyataan praktik kewirausahaan jemaat
jemaat akan akan mampu mampu menumbuhkan menumbuhkan sebuah sebuah teologi teologi alternatalternatif if yang yang barangkalibarangkali disebut sebagai
disebut sebagai Teologi KewirausahaanTeologi Kewirausahaan. Sebuah teologi terapan yang belum terlalu. Sebuah teologi terapan yang belum terlalu lazim dikenal di Indonesia, agaknya Made Gunaraksawati Mastra pantas disebut lazim dikenal di Indonesia, agaknya Made Gunaraksawati Mastra pantas disebut sebagai pionir dalam bidang Teologi ini, yang tertuang dalam usahanya untuk sebagai pionir dalam bidang Teologi ini, yang tertuang dalam usahanya untuk mendefinisikan teologi yang dipraktikkan ayahnya yang bernama Pdt. Em. Dr. I mendefinisikan teologi yang dipraktikkan ayahnya yang bernama Pdt. Em. Dr. I Wayan Mastra (Mantan Bishop GKPB) ketika membangun Sinode Gereja Kristen Wayan Mastra (Mantan Bishop GKPB) ketika membangun Sinode Gereja Kristen Protestan di Bali dengan pendekatan Kewirausahaan.
Protestan di Bali dengan pendekatan Kewirausahaan.1010 Sungguhpun penulis Sungguhpun penulis setelahsetelah membaca buku “Teologi Kewirausahaan” melihat Wayan Mastra tidak pernah membaca buku “Teologi Kewirausahaan” melihat Wayan Mastra tidak pernah menyebut
menyebut teologinya teologinya sebagaisebagai Teologi KewirausahaanTeologi Kewirausahaan demikian pula Madedemikian pula Made Gunaraksawati tidak eksplisit menyebut bahwa teologi ayahnya adalah
Gunaraksawati tidak eksplisit menyebut bahwa teologi ayahnya adalah teologiteologi Kewirausahaan.
Kewirausahaan.Namun judul dari buku yang adalah hasil penelusuran pandanganNamun judul dari buku yang adalah hasil penelusuran pandangan Wayan Mastra diberi judul
Wayan Mastra diberi judul Teologi Kewirausahaan.Teologi Kewirausahaan. Hal ini menandakan bahwaHal ini menandakan bahwa Teologi Kewirausahaan adalah teologi alternatif yang masih asing di telinga Teologi Kewirausahaan adalah teologi alternatif yang masih asing di telinga pembaca dan jemaat.
pembaca dan jemaat.
Penulis memilih berpijak pada proses berteologi yang diajarkan Penulis memilih berpijak pada proses berteologi yang diajarkan Banawiratma ketika melakukan penyebutan
Banawiratma ketika melakukan penyebutan Teologi Kewirausahaan.Teologi Kewirausahaan. BanawiratmaBanawiratma membimbing pembacanya dengan merumuskan
membimbing pembacanya dengan merumuskan empat angkah metodisempat angkah metodis yang yang disebut sebagai
disebut sebagai “Lingkaran Pastoral”“Lingkaran Pastoral”1111 yang secara sederhana dapat digambarkanyang secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:
sebagai berikut:
Tahap pertama
Tahap pertama adalah mengalami secara langsung dengan tujuan adalah mengalami secara langsung dengan tujuan refleksi teologis yang terjadi bersentuhan dengan masyarakat yang refleksi teologis yang terjadi bersentuhan dengan masyarakat yang mengalaminya.
mengalaminya.
Tahap kedua
Tahap kedua adalah menjalankan adalah menjalankan analisis sosialanalisis sosial dengan tujuan dengan tujuan menempatkan pengalaman tersebut dalam konteks masyarakat yang menempatkan pengalaman tersebut dalam konteks masyarakat yang lebih luas.
lebih luas.
9
9 J. B. Banawiratma, SJ dan J. Muller, SJ., J. B. Banawiratma, SJ dan J. Muller, SJ., Berteologi Sosial Lintas Ilmu-KemiskinanBerteologi Sosial Lintas Ilmu-Kemiskinan Sebagai Tantangan Hidup Beriman,
Sebagai Tantangan Hidup Beriman,(Penerbit Kanisius 1995), 23.(Penerbit Kanisius 1995), 23.
10 10
Made Gunaraksawati Mastra-ten Veen,
Made Gunaraksawati Mastra-ten Veen, Teologi Kewirausahaan-Konsep dan PraktikTeologi Kewirausahaan-Konsep dan Praktik Bisnis Gereja Kristen Protestan di bali,
Bisnis Gereja Kristen Protestan di bali, (Taman Pustaka Kristen dan UKDW 2009).(Taman Pustaka Kristen dan UKDW 2009).
11
11 Op cit 9, 27-29 Op cit 9, 27-29
Tahap ketiga
Tahap ketiga adalah refleksi teologis-sosial atas apa yang dihasilkan adalah refleksi teologis-sosial atas apa yang dihasilkan dalam analisis di atas, dalam konteks ini analisis dapat dihadapkan dalam analisis di atas, dalam konteks ini analisis dapat dihadapkan dengan kesaksian alkitab atau tradisi Kristen yang ada.
dengan kesaksian alkitab atau tradisi Kristen yang ada.
Tahap yang keempat
Tahap yang keempat adalah tindakan sebagai perwujudan iman. adalah tindakan sebagai perwujudan iman.
Dengan mengadopsi pandangan di atas, penulis memberanikan diri menyebut Dengan mengadopsi pandangan di atas, penulis memberanikan diri menyebut bahwa
bahwa Teologi KewirausahaanTeologi Kewirausahaan adalah adalah upaya upaya analisis analisis dan dan dialog dialog untukuntuk mendiskusikan pengalaman, menafsirkan pengalaman, berefleksi atas pengalaman mendiskusikan pengalaman, menafsirkan pengalaman, berefleksi atas pengalaman serta menginisiasi sebuah praktik dalam bidang Kewirausahaan dilihat dari serta menginisiasi sebuah praktik dalam bidang Kewirausahaan dilihat dari Perspektif Agama.
Perspektif Agama.
Dinamika Pemahaman Jemaat tentang Ekonomi dan Kewirausahaan Dinamika Pemahaman Jemaat tentang Ekonomi dan Kewirausahaan
Merunut Sejarah Kekristenan awal berdasarkan kesaksian perjanjian baru, Merunut Sejarah Kekristenan awal berdasarkan kesaksian perjanjian baru, terdapat kesan yang kuat bahwa gereja tidak terlalu peduli terhadap dunia bisnis terdapat kesan yang kuat bahwa gereja tidak terlalu peduli terhadap dunia bisnis (apalagi
(apalagi politik). politik). Agaknya Agaknya paham tepaham tentangntang Ciptaan Baru di dunia BaruCiptaan Baru di dunia Baru yang akanyang akan segera
segera datang datang (contoh (contoh II II Petrus Petrus 3:13 3:13 ; ; Wahyu Wahyu 3:12 3:12 ; ; Wahyu Wahyu 21:1 21:1 ; ; Wahyu Wahyu 21:2)21:2) menyebabk
menyebabkan munculnya an munculnya sikap anti dunia, sikap anti dunia, dunia dunia dipandang kotor dan dipandang kotor dan tidak perlutidak perlu untuk masuk dalam kekotoran tersebut (Roma 12:2 dan yang berhubungan) maka untuk masuk dalam kekotoran tersebut (Roma 12:2 dan yang berhubungan) maka jemaat
jemaat tidak tidak tertarik tertarik untuk untuk merubah. merubah. Menarik Menarik merunut merunut sikap sikap yang yang dibangun dibangun padapada saat itu, karena pada akhirnya jemaat tetap harus di dunia “yang kotor” maka saat itu, karena pada akhirnya jemaat tetap harus di dunia “yang kotor” maka jemaat
jemaat perlu perlu memperhatikmemperhatikan: an: dalam dalam dunia dunia kotor kotor apabila apabila harus harus bersinggungabersinggungann dengan dunia tersebut maka kita tetap harus bersih (tekun, rajin, jujur) untuk dengan dunia tersebut maka kita tetap harus bersih (tekun, rajin, jujur) untuk memenuhi kebutuhan hidup (bdk. 2 Tes 3:6-12 , Kol 3:22-25, Ef 6:5-6). Masalah memenuhi kebutuhan hidup (bdk. 2 Tes 3:6-12 , Kol 3:22-25, Ef 6:5-6). Masalah menjadi muncul ketika gereja mengalami kebingungan ketika
menjadi muncul ketika gereja mengalami kebingungan ketika Hari Tuhan yangHari Tuhan yang dikabarkan segera tiba
dikabarkan segera tiba ternyata tidak segera datang, padahal dunia yang ternyata tidak segera datang, padahal dunia yang dihadapi terus berkembang. Sehubungan dengan hal tersebut penulis melihat dihadapi terus berkembang. Sehubungan dengan hal tersebut penulis melihat bahwa ajaran dan sikap hidup Rasul Paulus tentang kerja merupakan jawaban di bahwa ajaran dan sikap hidup Rasul Paulus tentang kerja merupakan jawaban di tengah kebingungan jemaat.
tengah kebingungan jemaat.
Sejarah gereja tentang sikap antiekonomi dan antibisnis sebenarnya Sejarah gereja tentang sikap antiekonomi dan antibisnis sebenarnya diwarnai oleh kenyataan dunia Yunani (yang berpengaruh besar pada dunia diwarnai oleh kenyataan dunia Yunani (yang berpengaruh besar pada dunia kekristenan awal) yang tidak mempunyai konsep tentang “panggilan”
kekristenan awal) yang tidak mempunyai konsep tentang “panggilan” (vocation).(vocation).1212 Hal tersebut menyebabkan tertutupnya pandangan tentang kerja yang berorientasi Hal tersebut menyebabkan tertutupnya pandangan tentang kerja yang berorientasi pada upaya mencari kehidupan, di mana kerja dianggap sebagai kutukan. Konon pada upaya mencari kehidupan, di mana kerja dianggap sebagai kutukan. Konon
12
12 Paul stevens, Paul stevens, God’s BussinesGod’s Bussines-Memaknai Bisnis Secara Kristiani-Memaknai Bisnis Secara Kristiani, (PT. BPK Gunung, (PT. BPK Gunung Mulia 2008), 55.
Mulia 2008), 55.
malah di Thebes ada larangan keras bagi penduduk untuk bekerja.
malah di Thebes ada larangan keras bagi penduduk untuk bekerja.1313 Agaknya Agaknya dalam konteks politik yang ada pada saat itu, apabila penduduk bekerja akan dalam konteks politik yang ada pada saat itu, apabila penduduk bekerja akan menyebabkan pandangan bahwa kota tersebut adalah kota yang dikutuk. Oleh menyebabkan pandangan bahwa kota tersebut adalah kota yang dikutuk. Oleh karena itu maka penguasa harus berperang untuk memupuk kekayaan dan karena itu maka penguasa harus berperang untuk memupuk kekayaan dan mencukupi penduduk, apabila penguasa tidak dapat memenuhi kesejahteraan mencukupi penduduk, apabila penguasa tidak dapat memenuhi kesejahteraan penduduk maka akan menyebabkan pamornya akan turun.
penduduk maka akan menyebabkan pamornya akan turun. Penulis sempat berpikirPenulis sempat berpikir jangan-jang
jangan-jangan an konteks konteks yang yang melatarbemelatarbelakangi lakangi banyaknya banyaknya penganggurapengangguran n padapada zaman Yesus (lihat fenomena tentang Yesus memberi makan 5000 orang), di zaman Yesus (lihat fenomena tentang Yesus memberi makan 5000 orang), di samping akibat sistem perpajakan yang mencekik juga disebabkan
samping akibat sistem perpajakan yang mencekik juga disebabkan paham “kerjapaham “kerja adalah kutukan”.
adalah kutukan”.
Plato menggambarkan perbedaan besar antara spiritualitas dan Plato menggambarkan perbedaan besar antara spiritualitas dan materialisme,
materialisme,1414 yang membawa pada pemahaman bahwa perihal yang dicari yang membawa pada pemahaman bahwa perihal yang dicari dalam dunia spriritual tidak boleh dikotori dengan hal-hal yang bersifat material dalam dunia spriritual tidak boleh dikotori dengan hal-hal yang bersifat material (kesenangan badaniah). Kaum Spiritualis akan menanggalkan semua belenggu (kesenangan badaniah). Kaum Spiritualis akan menanggalkan semua belenggu tubuh. Aritoteles berpandangan lebih spesifik: perdagangan, bagi Aristoteles tubuh. Aritoteles berpandangan lebih spesifik: perdagangan, bagi Aristoteles adalah sesuatu yang patut dicurigai, jika tidak benar-benar menyesatkan:
adalah sesuatu yang patut dicurigai, jika tidak benar-benar menyesatkan:
“Seseorang yang tidak melakukan apa
“Seseorang yang tidak melakukan apa-apa tetapi dibayar sebenarnya bukan-apa tetapi dibayar sebenarnya bukan pribadi yang sungguh-
pribadi yang sungguh-sungguh bebas”.sungguh bebas”.1515 Begitu kuatnya pengaruh alam pemikiran Begitu kuatnya pengaruh alam pemikiran Yunani bagi Gereja awal sehingga ada kitab Yesus bin Sirakh (diperkirakan muncul Yunani bagi Gereja awal sehingga ada kitab Yesus bin Sirakh (diperkirakan muncul pada masa Perjanjian Lama dan Baru) menulis bahwa pekerjaan yang pada masa Perjanjian Lama dan Baru) menulis bahwa pekerjaan yang menggunakan tangan adalah berada pada urutan yang paling bawah dari semua menggunakan tangan adalah berada pada urutan yang paling bawah dari semua kondisi hidup manusia. Hal di atas menunjukan betapa besar pengaruh kekosongan kondisi hidup manusia. Hal di atas menunjukan betapa besar pengaruh kekosongan paham tentang “panggilan” (
paham tentang “panggilan” (vocationvocation) bagi minimnya pemahaman Gereja awal) bagi minimnya pemahaman Gereja awal tentang bisnis (yang menjadi bagian dari dunia
tentang bisnis (yang menjadi bagian dari dunia luar).luar).
Dalam perjalanan sejarah selanjutnya gereja diwarnai dengan sikap Luther Dalam perjalanan sejarah selanjutnya gereja diwarnai dengan sikap Luther yang secara radikal menguniversalkan panggilan dengan memasukkan semua yang secara radikal menguniversalkan panggilan dengan memasukkan semua daftar pekerjaan manusia di dalamnya. Luther mendasari pemikirannya pada daftar pekerjaan manusia di dalamnya. Luther mendasari pemikirannya pada kebenaran fundamental Alkitab: manusia tidak memilih; manusia dipanggil, dan kebenaran fundamental Alkitab: manusia tidak memilih; manusia dipanggil, dan pada dirinya semua manusia dipanggil ke dalam dunianya.
pada dirinya semua manusia dipanggil ke dalam dunianya.1616 Hanya saja dalam Hanya saja dalam
13 13 Ibid. Ibid.
14
14 The Liang Gie The Liang Gie , Pengantar Filsafat Ilmu , Pengantar Filsafat Ilmu, (Penerbit Liberty, 2000), 87., (Penerbit Liberty, 2000), 87.
15
15 Gordon Preece, Gordon Preece,Business as Calling and Profession: Toward a ProtestantBusiness as Calling and Profession: Toward a Protestant Entrepreneurial Ethic
Entrepreneurial Ethic, (Marketplace Theology Consultation, Sidney, 2001), 14.1616 Paul Marshall, Paul Marshall, A Kind of Life Imposed on Man: Vocation and Social order , (Marketplace Theology Consultation, Sidney, 2001), 14. A Kind of Life Imposed on Man: Vocation and Social order FromFrom Tyndale to Locke
Tyndale to Locke, (University of Toronto Press, 1996) 22., (University of Toronto Press, 1996) 22.
daftar Luther terdapat pengecualian yaitu kaum biarawan dan biarawati yang daftar Luther terdapat pengecualian yaitu kaum biarawan dan biarawati yang tidak dimasukkan karena mereka mempunyai panggilan sendiri untuk memilih jalan tidak dimasukkan karena mereka mempunyai panggilan sendiri untuk memilih jalan pemuridan yaitu laku hidup miskin.
pemuridan yaitu laku hidup miskin.1717 Dengan demikian Luther sebenarnya sedang Dengan demikian Luther sebenarnya sedang menyerukan agar setiap orang menerima posisi masing-masing dan menjalani menyerukan agar setiap orang menerima posisi masing-masing dan menjalani sebagai sebuah panggilan hidup. Ayat alkitab yang dipakai Luther untuk sebagai sebuah panggilan hidup. Ayat alkitab yang dipakai Luther untuk menegaskan pandangan ini adalah I Kor. 7:17 “Selanjutnya hendaklah tiap menegaskan pandangan ini adalah I Kor. 7:17 “Selanjutnya hendaklah tiap-tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat.”
semua jemaat.”
Sesungguhnya ada kemiripan pandangan Luther dengan pandangan Sesungguhnya ada kemiripan pandangan Luther dengan pandangan Calvin, hanya saja ada perbedaan saat Luther masih ragu bersikap tentang Calvin, hanya saja ada perbedaan saat Luther masih ragu bersikap tentang perdaganga
perdagangan n yang mendapatkan untung, Luther yang mendapatkan untung, Luther berpendapat demikian:berpendapat demikian:
Inilah alasannya mengapa tak seorangpun perlu bertanya bagaimana ia Inilah alasannya mengapa tak seorangpun perlu bertanya bagaimana ia dengan hati nurani yang baik bisa menjadi anggota dari suatu dengan hati nurani yang baik bisa menjadi anggota dari suatu perusahaan dagang. Saran saya hanyalah: keluar; mereka tidak akan perusahaan dagang. Saran saya hanyalah: keluar; mereka tidak akan berubah. Jika perusahaan dagang yang harus tinggal tetap, kebenaran berubah. Jika perusahaan dagang yang harus tinggal tetap, kebenaran dan kejujuran pasti tersingkir; jika kebenaran dan kejujuran harus tinggal dan kejujuran pasti tersingkir; jika kebenaran dan kejujuran harus tinggal tetap, perusahaan dagang pasti tersingkir.
tetap, perusahaan dagang pasti tersingkir.1818
Tidak seperti Luther, Calvin mengakui dunia perdagangan yang berkembang Tidak seperti Luther, Calvin mengakui dunia perdagangan yang berkembang sebagai suatu arena kegiatan yang sah bagi seorang Kristen, dan ini berkaitan erat sebagai suatu arena kegiatan yang sah bagi seorang Kristen, dan ini berkaitan erat dengan
dengan arah arah panggilan yang panggilan yang diterima diterima dalam dalam Protestanisme Reformasi. Protestanisme Reformasi. SecaraSecara khusus Calvin membaca perumpamaan tentang talenta (Mat. 25:14-30) dalam khusus Calvin membaca perumpamaan tentang talenta (Mat. 25:14-30) dalam pengertian yang lebih harafiah sebagai
pengertian yang lebih harafiah sebagai penatalayanan ekonomi.penatalayanan ekonomi. Sebagai contohSebagai contoh Calvin menerangkan bahwa kalau memberi pinjaman untuk menikmati bunga Calvin menerangkan bahwa kalau memberi pinjaman untuk menikmati bunga (riba) dianggap sebagai perbuatan jahat yang setara dengan membunuh, maka (riba) dianggap sebagai perbuatan jahat yang setara dengan membunuh, maka memberi pinjaman untuk produksi dan usaha dengan bunga yang rendah dapat memberi pinjaman untuk produksi dan usaha dengan bunga yang rendah dapat diterima.
diterima.1919 Dengan demikian sebenarnya bagi Calvin sedang berbicara tentang Dengan demikian sebenarnya bagi Calvin sedang berbicara tentang batasan berbisnis (berwirausaha), bahwa berwirausaha adalah kegiatan yang sah batasan berbisnis (berwirausaha), bahwa berwirausaha adalah kegiatan yang sah sejauh dilakukan untuk memenuhi panggilan Allah atas dunia ini dan disertai sejauh dilakukan untuk memenuhi panggilan Allah atas dunia ini dan disertai
17
17 Ibid, 24. Ibid, 24.
18
18 Martin Luther, “Trade and Martin Luther, “Trade and Usury”, Luther’s Works, vol. 45 Jaroslav PeUsury”, Luther’s Works, vol. 45 Jaroslav Pelikan,likan, (Philadelphia: Fortress Press and St. Louis: Concordia Press
(Philadelphia: Fortress Press and St. Louis: Concordia Press 1995), 272.1919 1995), 272.
W.F Graham, The Constuctive Revolutionary: John Calvin and His Socio-conomic W.F Graham, The Constuctive Revolutionary: John Calvin and His Socio-conomic Impact, (East Lansing: Michigan State University Press, 1987
Impact, (East Lansing: Michigan State University Press, 1987), 124.), 124.
dengan motivasi tidak merugikan orang lain. Pada hemat penulis, Calvin dengan motivasi tidak merugikan orang lain. Pada hemat penulis, Calvin menandaskan bahwa bicara tentang panggilan berarti berbicara tentang dunia ini menandaskan bahwa bicara tentang panggilan berarti berbicara tentang dunia ini dengan segala isinya. Sementara itu, panggilan Allah adalah panggilan yang dengan segala isinya. Sementara itu, panggilan Allah adalah panggilan yang dilakukan di manapun dan dalam bidang apapun. Tentu saja sebagaimana dilakukan di manapun dan dalam bidang apapun. Tentu saja sebagaimana ditekankan oleh Luther maka semua panggilan harus dijalani dengan laku hati ditekankan oleh Luther maka semua panggilan harus dijalani dengan laku hati nurani yang bersih. Paham semacam ini yang kemudian disebut oleh Weber nurani yang bersih. Paham semacam ini yang kemudian disebut oleh Weber dengan
dengangaya hidup Asketis yang terarah ke dunia.gaya hidup Asketis yang terarah ke dunia. 20 20 Praktik Kewirausahaan Jemaat Dewasa Ini
Praktik Kewirausahaan Jemaat Dewasa Ini
Penulis hendak mengungkapkan kembali apa yang ditulis oleh Made Penulis hendak mengungkapkan kembali apa yang ditulis oleh Made Gunaraksawati tentang pengalaman kewirausahaan jemaat di Gereja Kristen Gunaraksawati tentang pengalaman kewirausahaan jemaat di Gereja Kristen Protestan Bali dan akan disandingkan dengan pengalaman Gereja Penulis (Gereja Protestan Bali dan akan disandingkan dengan pengalaman Gereja Penulis (Gereja Kristen Jawa) untuk mendapatkan refleksi teologis dalam praktik kewirausahaan Kristen Jawa) untuk mendapatkan refleksi teologis dalam praktik kewirausahaan jemaat.
jemaat.
A.
A. Praktik Kewirausahaan Gereja Kristen Protestan BaliPraktik Kewirausahaan Gereja Kristen Protestan Bali
Pada prinsipnya praktik Kewirausaan GKPB terjadi karena keprihatinan Pada prinsipnya praktik Kewirausaan GKPB terjadi karena keprihatinan mendalam atas kondisi Gereja dan warga jemaat pada zaman Bishop Wayan mendalam atas kondisi Gereja dan warga jemaat pada zaman Bishop Wayan Mastra melayani. Sebagian besar warga jemaat GKPB adalah jemaat yang miskin Mastra melayani. Sebagian besar warga jemaat GKPB adalah jemaat yang miskin yang berakibat pada kondisi ekonomi GKPB yang juga tidak mapan pada saat itu.
yang berakibat pada kondisi ekonomi GKPB yang juga tidak mapan pada saat itu.
Penyebab utama kemiskinan tersebut adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi Penyebab utama kemiskinan tersebut adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi hampir setiap warga gereja. Di mana pada saat mereka menjadi orang Kristen hampir setiap warga gereja. Di mana pada saat mereka menjadi orang Kristen maka pada saat yang sama mereka akan mengalami keterasingan dari maka pada saat yang sama mereka akan mengalami keterasingan dari masyarakatnya, dari keluarga dan dari seluruh akses budaya serta ekonomi. Dalam masyarakatnya, dari keluarga dan dari seluruh akses budaya serta ekonomi. Dalam praktiknya hampir semua petobat baru harus kehilangan hak atas warisan, praktiknya hampir semua petobat baru harus kehilangan hak atas warisan, mengalami kesulitan mencari pekerjaan dan ditutup semua akses ekonomi yang mengalami kesulitan mencari pekerjaan dan ditutup semua akses ekonomi yang ada.
ada. Dari Dari paparan paparan ini kita ini kita dapat dapat membayangkan bahwa membayangkan bahwa pada pada saat saat ituitu keterpurukan ekonomi yang dialami oleh warga jemaat pasti berdampak pula keterpurukan ekonomi yang dialami oleh warga jemaat pasti berdampak pula pada keterpurukan ekonomi GKPB pada umumnya.
pada keterpurukan ekonomi GKPB pada umumnya.
Sinode GKPB diprakarsai Bishop Wayan Mastra menangani situasi Sinode GKPB diprakarsai Bishop Wayan Mastra menangani situasi keterpurukan tersebut dengan cara yang “spektakuler” yaitu dengan keterpurukan tersebut dengan cara yang “spektakuler” yaitu dengan menggerakkan Sinode serta Jemaat untuk melakukan Wirausaha. Tentu saja hal menggerakkan Sinode serta Jemaat untuk melakukan Wirausaha. Tentu saja hal tersebut tidak segampang membalik telapak tangan, di sana sini mengalami tersebut tidak segampang membalik telapak tangan, di sana sini mengalami kendala. Hal yang petama kali dilakukan adalah dengan merubah paradigma kendala. Hal yang petama kali dilakukan adalah dengan merubah paradigma
20
20 Ibid, 126. Ibid, 126.
jemaat
jemaat tentang tentang bisnis/kewirabisnis/kewirausahaan, usahaan, dengan dengan melakukan melakukan konstruksi konstruksi teologiteologi berbasis teologi lokal. Menarik menyimak penjelasan tentang bagaimana jemaat berbasis teologi lokal. Menarik menyimak penjelasan tentang bagaimana jemaat diajarkan membalik tangan yang tengadah menghadap atas (simbol meminta) diajarkan membalik tangan yang tengadah menghadap atas (simbol meminta) dengan menjadi menghadap kebawah (simbol memberkati). Hal tersebut dengan menjadi menghadap kebawah (simbol memberkati). Hal tersebut mengingatkan kita tentang panggilan orang beriman dalam dunia ini untuk berani mengingatkan kita tentang panggilan orang beriman dalam dunia ini untuk berani menjadi berkat bagi sesama. Bangunan sikap tersebut disebabkan oleh kenyataan menjadi berkat bagi sesama. Bangunan sikap tersebut disebabkan oleh kenyataan bahwa pada dirinya setiap orang beriman harus menyadari bahwa hidupnya telah bahwa pada dirinya setiap orang beriman harus menyadari bahwa hidupnya telah diberkati oleh Allah, dan oleh karena itu “dia yang telah diberkati harus berani diberkati oleh Allah, dan oleh karena itu “dia yang telah diberkati harus berani menjadi berkat bagi yang lain.
menjadi berkat bagi yang lain.” Adapun wujud nyata dari ajaran “Diberkati untuk” Adapun wujud nyata dari ajaran “Diberkati untuk menjadi Berkat” dilakukan dengan dorongan bagi jemaat untuk berpraktik hidup menjadi Berkat” dilakukan dengan dorongan bagi jemaat untuk berpraktik hidup dengan mengembangkan sikap “
dengan mengembangkan sikap “llebih suka memberi daripada menerima”. GKPBebih suka memberi daripada menerima”. GKPB juga mengajarkan tenta
juga mengajarkan tentangng Teologi Perut,Teologi Perut, sebuah teologi yang dibangun atas dasarsebuah teologi yang dibangun atas dasar kebutuhan primer untuk hidup (makan minum dan kecukupan hidup) yang kebutuhan primer untuk hidup (makan minum dan kecukupan hidup) yang membangkitkan semangat positif untuk berwiraswasta/berwirausaha. Teologi ini membangkitkan semangat positif untuk berwiraswasta/berwirausaha. Teologi ini mendorong jemaat untuk tidak bermalas-malasan menunggu bantuan pihak lain mendorong jemaat untuk tidak bermalas-malasan menunggu bantuan pihak lain yang
yang prihatin dengan kelaparannya, namun berani bangkit dari “kelaparan”prihatin dengan kelaparannya, namun berani bangkit dari “kelaparan”
menuju pada kebangkitan semangat untuk bekerja. Ajaran ini dipraktikkan oleh menuju pada kebangkitan semangat untuk bekerja. Ajaran ini dipraktikkan oleh Bishop I Wayan Mastra dengan dorongan pada setiap pendeta di GKPB untuk Bishop I Wayan Mastra dengan dorongan pada setiap pendeta di GKPB untuk menjadi teladan bagi jemaatnya.
menjadi teladan bagi jemaatnya.
Bangunan teologi lokal untuk merubah paradigma jemaat agar keluar dari Bangunan teologi lokal untuk merubah paradigma jemaat agar keluar dari kondisi “menganggap bahwa bisnis tabu dan kotor” didesain sangat sederhana kondisi “menganggap bahwa bisnis tabu dan kotor” didesain sangat sederhana dengan memakai contoh-contoh yang akrab dengan kondisi masyarakat Bali.
dengan memakai contoh-contoh yang akrab dengan kondisi masyarakat Bali.
Menurut penulis bermula dari ajaran yang sederhana inilah yang menyebabkan Menurut penulis bermula dari ajaran yang sederhana inilah yang menyebabkan pemahaman yang baru tersebut menjadi secara perlahan mewarnai jemaat GKPB.
pemahaman yang baru tersebut menjadi secara perlahan mewarnai jemaat GKPB.
Mastra mengungkapkan tentang teologi binatang-binatang seperti: teologi Mastra mengungkapkan tentang teologi binatang-binatang seperti: teologi kelelawar, teologi kucing, teologi ekor sapi, teologi ekor ayam, teologi kerja 5 kelelawar, teologi kucing, teologi ekor sapi, teologi ekor ayam, teologi kerja 5 binatang (semut , jangkrik, ular, katak dan monyet), teologi kerja burung diudara binatang (semut , jangkrik, ular, katak dan monyet), teologi kerja burung diudara dan bunga bakung di padang. Semua desain teologi yang dijelaskan dengan dan bunga bakung di padang. Semua desain teologi yang dijelaskan dengan bahasa sangat sederhana dimaksudkan untuk menjelaskan tentang Etos kerja bahasa sangat sederhana dimaksudkan untuk menjelaskan tentang Etos kerja orang Bali (dalam hal ini GKPB) yang sudah
orang Bali (dalam hal ini GKPB) yang sudah diberkati Tuhan.diberkati Tuhan.
Berikutnya, GKPB mengawali bisnisnya dengan melihat potensi yang ada di Berikutnya, GKPB mengawali bisnisnya dengan melihat potensi yang ada di sekitarnya. Pulau Bali adalah dunia yang mereka hadapi, Pariwisata adalah potensi sekitarnya. Pulau Bali adalah dunia yang mereka hadapi, Pariwisata adalah potensi bisnis yang terpampang di depan mereka. Oleh karena itu pilihan kewirausahaan bisnis yang terpampang di depan mereka. Oleh karena itu pilihan kewirausahaan yang dilakukan adalah kewirausahaan yang berbasis Pulau Bali sebagai tempat yang dilakukan adalah kewirausahaan yang berbasis Pulau Bali sebagai tempat
pariwisata. GKPB mempunyai unit Usaha Hotel Dyana Pura I dan II di lokasi strategis, pariwisata. GKPB mempunyai unit Usaha Hotel Dyana Pura I dan II di lokasi strategis, unit yang dapat mampu menjawab tantangan potensi yang tersedia. Di samping unit yang dapat mampu menjawab tantangan potensi yang tersedia. Di samping itu penulis merasa takjub dengan jiwa kewirausahaan teman-teman GKPB ketika itu penulis merasa takjub dengan jiwa kewirausahaan teman-teman GKPB ketika mereka membuka usaha jasa pelayanan pernikahan bagi turis. Bagi sebagian turis mereka membuka usaha jasa pelayanan pernikahan bagi turis. Bagi sebagian turis manca negara, salah satu tujuan berwisata ke Bali ternyata menginginkan manca negara, salah satu tujuan berwisata ke Bali ternyata menginginkan terjadinya pernikahan yang romantis di Pulau Dewata. GKPB melihat bahwa di terjadinya pernikahan yang romantis di Pulau Dewata. GKPB melihat bahwa di samping sebagai pelayanan gereja, sebenarnya pelayanan pernikahan turis samping sebagai pelayanan gereja, sebenarnya pelayanan pernikahan turis mancanegara adalah lahan usaha yang
mancanegara adalah lahan usaha yang basahbasah. . Pada Pada satu satu sisi sisi jasa jasa tariftarif pencatat
pencatatan sipil an sipil di Indonesia sangat mahal (apalagi tarif di Indonesia sangat mahal (apalagi tarif tersebut sangat bervariatiftersebut sangat bervariatif tergantung kebijakan otonomi daerah), di sisi yang lain pelayanan gereja yang tergantung kebijakan otonomi daerah), di sisi yang lain pelayanan gereja yang didesain khusus untuk turis mancanegara ternyata memberikan pemasukan didesain khusus untuk turis mancanegara ternyata memberikan pemasukan persembahan yang banyak bagi GKPB.
persembahan yang banyak bagi GKPB.
Untuk lebih jelasnya penulis akan membagi dua bidang besar Untuk lebih jelasnya penulis akan membagi dua bidang besar kewirausahaan di GKPB
kewirausahaan di GKPB 1.
1. Unit Usaha yang dikembangkan oleh Yayasan Dhyana PuraUnit Usaha yang dikembangkan oleh Yayasan Dhyana Pura a.
a. Hotel Resort Dhyana Pura: Hotel Resort Dhyana Pura ini dibangun denganHotel Resort Dhyana Pura: Hotel Resort Dhyana Pura ini dibangun dengan tujuan bisnis di samping pelayanan. Kegiatan Hotel ini mencakup secara tujuan bisnis di samping pelayanan. Kegiatan Hotel ini mencakup secara resmi tempat pelatihan pendidikan praktis bagi para murid sekolah resmi tempat pelatihan pendidikan praktis bagi para murid sekolah pariwisata PPLP milik Gereja Bali;
pariwisata PPLP milik Gereja Bali;
b.
b. Sekolah Perhotelan dan Pariwisata PPLP dan STIM: MenyediakanSekolah Perhotelan dan Pariwisata PPLP dan STIM: Menyediakan pendidikan perhotelan dan kepariwisataan bagi warga jemaat dan pendidikan perhotelan dan kepariwisataan bagi warga jemaat dan masyarakat dengan biaya pendidikan yang lebih
masyarakat dengan biaya pendidikan yang lebih murah;murah;
c.
c. Wisma Nangun Kerti: Tempat pusat meditasi atau tempat retreat diWisma Nangun Kerti: Tempat pusat meditasi atau tempat retreat di pegunungan khususnya bagi anak-anak muda dan juga di area taman di pegunungan khususnya bagi anak-anak muda dan juga di area taman di rancang sebagai tempat doa dan meditasi karena telah didirikan sebuah rancang sebagai tempat doa dan meditasi karena telah didirikan sebuah kapel disitu;
kapel disitu;
d.
d. Jasa Penyelenggaraan Pernikahan Asing: untuk memfasilitasi jasa tersebutJasa Penyelenggaraan Pernikahan Asing: untuk memfasilitasi jasa tersebut disediakan sebuah Kapel, Kapel ini di gunakan secara khusus untuk disediakan sebuah Kapel, Kapel ini di gunakan secara khusus untuk tempat penyelenggaraan pernikahan internasional dan pada hari tempat penyelenggaraan pernikahan internasional dan pada hari minggu digunakan untuk ibadah bagi jemaat yang bertempat tinggal di minggu digunakan untuk ibadah bagi jemaat yang bertempat tinggal di kawasan Seminyak.
kawasan Seminyak.
2.
2. Unit Usaha yang dikembangkan oleh Yayasan Maha Bhoga Marga(MBM)Unit Usaha yang dikembangkan oleh Yayasan Maha Bhoga Marga(MBM) a.
a.
Pembinaan dan pelatihan kerja serta pengembangan masyarakat dalam Pembinaan dan pelatihan kerja serta pengembangan masyarakat dalam bidang
bidang ketrampilanketrampilan-ketrampilan;-ketrampilan;
b.
b. Usaha Permebelan;Usaha Permebelan;
c.
c. Bank Pengkreditan Rakyat dan Pinjaman Modal Sarana Usaha;Bank Pengkreditan Rakyat dan Pinjaman Modal Sarana Usaha;
d.
d. Usaha Percetakan.Usaha Percetakan.
Unit usaha tersebut di atas menggambarkan bahwa Yayasan Maha Bhoga Unit usaha tersebut di atas menggambarkan bahwa Yayasan Maha Bhoga Marga adalah alat GKPB untuk melakukan karya gereja yang bersifat inklusif, di Marga adalah alat GKPB untuk melakukan karya gereja yang bersifat inklusif, di mana GKPB ingin berproses menjadi sejahtera bersama dengan masyarakat yang mana GKPB ingin berproses menjadi sejahtera bersama dengan masyarakat yang ada di sekitarnya. Dalam melakukan karya inklusif ini GKPB memakai pendekatan ada di sekitarnya. Dalam melakukan karya inklusif ini GKPB memakai pendekatan berimbang yang berbasis pada
berimbang yang berbasis pada diakonia reformatif,diakonia reformatif, yaitu pendekatan diakoniayaitu pendekatan diakonia yang mementingkan karya penguatan kapasitas masyarakat yang didampingi yang mementingkan karya penguatan kapasitas masyarakat yang didampingi (sering dicontohkan dengan bantuan untuk memberi kail dan bukan langsung (sering dicontohkan dengan bantuan untuk memberi kail dan bukan langsung memberi ikan). Praktik dari pendekatan ini adalah dengan adanya program memberi ikan). Praktik dari pendekatan ini adalah dengan adanya program Yayasan Maha Bhoga Marga berupa fasilitas permodalan, pinjaman dan Yayasan Maha Bhoga Marga berupa fasilitas permodalan, pinjaman dan pendampingan yang bertujuan membantu pengusaha lemah. Konsekuensi dari pendampingan yang bertujuan membantu pengusaha lemah. Konsekuensi dari pendekatan ini adalah bahwa harus banyak agen-agen perubahan di tengah pendekatan ini adalah bahwa harus banyak agen-agen perubahan di tengah jemaat
jemaat dan dan masyaramasyarakat, kat, oleh oleh karena karena itu itu GKPB GKPB mendorong mendorong para para pendeta pendeta untukuntuk berfungsi sebagai agen transformasi ekonomi di tengah jemaat dan berfungsi sebagai agen transformasi ekonomi di tengah jemaat dan masyarakatnya.
masyarakatnya.
Cerita singkat di atas bukan untuk menggambarkan bahwa praktik Cerita singkat di atas bukan untuk menggambarkan bahwa praktik kewirausahaan jemaat GKPB berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Made kewirausahaan jemaat GKPB berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Made Gunaraksawati menjelaskan tentang dinamika teologi tokoh-tokoh GKPB dengan Gunaraksawati menjelaskan tentang dinamika teologi tokoh-tokoh GKPB dengan obyektif, pada prinsipnya tidak semua tokoh dapat menerima seratus persen obyektif, pada prinsipnya tidak semua tokoh dapat menerima seratus persen perubahan paradigma ini. Terdapat tokoh-tokoh yang berpandangan kritis perubahan paradigma ini. Terdapat tokoh-tokoh yang berpandangan kritis mengingatkan beberapa bahaya jemaat yang berbisnis. Sebagai contoh mengingatkan beberapa bahaya jemaat yang berbisnis. Sebagai contoh disebutkan nama waspada yang mengingatkan agar dalam dalam praktik gereja disebutkan nama waspada yang mengingatkan agar dalam dalam praktik gereja berbisnis jangan semata-mata untuk mencari uang, namun menekankan tentang berbisnis jangan semata-mata untuk mencari uang, namun menekankan tentang cara-cara bisnis yang kristiani. Demikian pula beberapa tokoh yang lain cara-cara bisnis yang kristiani. Demikian pula beberapa tokoh yang lain mengingatkan tentang fungsi Gereja berkaitan Pekabaran Injil agar jangan sampai mengingatkan tentang fungsi Gereja berkaitan Pekabaran Injil agar jangan sampai dilupakan karena
dilupakan karena “Gereja asyik berbisnis”.“Gereja asyik berbisnis”. Terlepas dari dinamika tersebut di atas,Terlepas dari dinamika tersebut di atas, penulis masih melihat bahwa GKPB telah berhasil menginspirasi banyak gereja yang penulis masih melihat bahwa GKPB telah berhasil menginspirasi banyak gereja yang lain untuk berani keluar dari
lain untuk berani keluar dari zona zona nyamannyaman mengandalkan mengandalkan persembahan jemaatpersembahan jemaat (yang pada kenyataannya tidak dapat mencukupi semua kebutuhan gereja) (yang pada kenyataannya tidak dapat mencukupi semua kebutuhan gereja) menuju pada dunia baru yaitu
menuju pada dunia baru yaitu Jemaa Jemaat yang berat yang berani berwirausani berwirausahaha..
B.
B. Praktik Kewirausahaan Gereja Kristen JawaPraktik Kewirausahaan Gereja Kristen Jawa
Sinode Gereja Kristen Jawa (GKJ) adalah gereja yang mempunyai latar Sinode Gereja Kristen Jawa (GKJ) adalah gereja yang mempunyai latar belakang yang berbeda dari GKPB. GKJ lahir dari misi Zending Gereformeerd di belakang yang berbeda dari GKPB. GKJ lahir dari misi Zending Gereformeerd di Belanda. Sebagaimana lazimnya Gereja Hasil Misi Gereja luar negeri lainnnya maka Belanda. Sebagaimana lazimnya Gereja Hasil Misi Gereja luar negeri lainnnya maka dalam jangka waktu yang cukup lama mengalami ketergantungan teologi, daya dalam jangka waktu yang cukup lama mengalami ketergantungan teologi, daya dan dana terhadap gereja Induk yang ada di Belanda. Sesungguhnya kesadaran dan dana terhadap gereja Induk yang ada di Belanda. Sesungguhnya kesadaran untuk terlepas dari ketergantungan ini sudah sejak lama dimunculkan, dimulai untuk terlepas dari ketergantungan ini sudah sejak lama dimunculkan, dimulai dengan tahun 1950-an GKJ melalui Pdt. Basoeki Probowinoto menyatakan sikap dengan tahun 1950-an GKJ melalui Pdt. Basoeki Probowinoto menyatakan sikap untuk tidak tergantung lagi pada Zending Belanda (melalui sebuah nota fenomenal untuk tidak tergantung lagi pada Zending Belanda (melalui sebuah nota fenomenal yang disebut oleh Generasi muda GKJ dengan “Nota Probowinoto”). Sikap Pdt.
yang disebut oleh Generasi muda GKJ dengan “Nota Probowinoto”). Sikap Pdt.
Probowinoto yang menjabat sebagai Direktur Sinode GKJ
Probowinoto yang menjabat sebagai Direktur Sinode GKJ2121 pada saat itu mewarnai pada saat itu mewarnai pandangan beberapa pendeta GKJ lain, sebagai contoh adalah Pdt. Poerna pandangan beberapa pendeta GKJ lain, sebagai contoh adalah Pdt. Poerna Hadikawahja dan Pdt. Wirjotenoyo yang dalam beberapa kesempatan selalu Hadikawahja dan Pdt. Wirjotenoyo yang dalam beberapa kesempatan selalu menyuarakan agar GKJ jangan terjatuh pada sikap “kamizendingen”. Yaitu sebuah menyuarakan agar GKJ jangan terjatuh pada sikap “kamizendingen”. Yaitu sebuah sikap yang berarti jangan sedikit-sedikit tergantung zending, sikap yang sikap yang berarti jangan sedikit-sedikit tergantung zending, sikap yang menekankan kemandirian. Dari paparan singkat di atas jelas bahwa GKJ menekankan kemandirian. Dari paparan singkat di atas jelas bahwa GKJ mempunyai masalah pada ketergantungan jemaat terhadap zending, sikap ini mempunyai masalah pada ketergantungan jemaat terhadap zending, sikap ini yang dikemudian hari menyebabkan jemaat GKJ selalu merasa miskin dan harus yang dikemudian hari menyebabkan jemaat GKJ selalu merasa miskin dan harus dibantu oleh zending. Menurut penulis, Kondisi seperti yang
dibantu oleh zending. Menurut penulis, Kondisi seperti yang dialami GKJ sebenarnyadialami GKJ sebenarnya menjadi jamak bagi gereja-gereja di Indonesia, di mana sebagian besar menjadi jamak bagi gereja-gereja di Indonesia, di mana sebagian besar mempunyai latar belakang misi dari gereja-gereja di luar
mempunyai latar belakang misi dari gereja-gereja di luar negeri.negeri.
GKJ mengalami percepatan kesadaran untuk bangkit akibat kebijakan GKJ mengalami pe