• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebuah Kerangka Konseptua

N/A
N/A
baharudin

Academic year: 2024

Membagikan " Sebuah Kerangka Konseptua"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah Penelitian

Kerangka Wakaf Biru untuk Keberlanjutan Hutan Biru: Sebuah Kerangka Konseptual

Vika Annisa Qurrata

1,2

*,Muhammad Hakimi Mohd. Syafiai

3

, Suhaili Alma'amun

3

, Hairunnizam Wahid

3

, Abdul Ghafar Ismail

3

, Pudji Purwanti

4

1

Jurusan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang

2

Mahasiswa Ph.D Departemen Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Universiti Kebangsaan Malaysia

3

Departemen Ekonomi, Pusat Pembangunan Berkelanjutan & Inklusif (SID), Fakultas Ekonomi & Manajemen, Universiti Kebangsaan Malaysia

4

Jurusan Agribisnis Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya

ORCID

Vika Annisa Qurrata: https://orcid.org/0000-0003-4214-5956

Abstrak.

Hutan biru

merupakan kawasan yang melindungi garis pantai dari banjir dan erosi. Mereka menampung satwa liar dan menyediakan mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat.

Salah satu tipe hutan biru adalah hutan mangrove. Indonesia memiliki kawasan hutan bakau terluas di Asia Tenggara, namun hampir 25% diantaranya telah mengalami deforestasi. Menjaga kelestarian hutan mangrove merupakan salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG) 14.

Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pembiayaan untuk mendukung kebutuhan dalam menjaga kelestarian hutan mangrove. Makalah ini merupakan kerangka konseptual yang menyediakan model pendanaan berbasis keuangan sosial Islam untuk sektor hutan biru. Program ini dinamakan Wakaf Biru. Untuk melaksanakan program ini, diperlukan Badan Wakaf Indonesia dan nazir terdaftar sebagai koordinator program. Selain itu, kampanye besar-besaran perlu dilakukan. Keterlibatan masyarakat sekitar sebagai adaptor sosial juga sangat penting. Terakhir, pengelolaan wakaf melalui wakaf biru memerlukan perlindungan takaful/jaminan proyek. Hal ini perlu dilakukan untuk meminimalisir perekonomian. Dampaknya akan berkelanjutan bagi perekonomian, masyarakat, dan lingkungan. Keuntungan yang diperoleh dari wakaf biru akan dibagikan kepada penerima manfaat.

Penulis Koresponden: Vika Annisa Qurrata; surel:

[email protected] Diterbitkan24 Januari 2024

Layanan penerbitan disediakan oleh PengetahuanE

Vika Annisa Qurrata dkk Al. Artikel ini didistribusikan berdasarkan ketentuanKreatif Lisensi Atribusi Commons,

yang memungkinkan penggunaan tidak terbatas

dan redistribusi asalkan penulis asli dan sumbernya dikreditkan.

Kata kunci: Blue Waqf, berkelanjutan, Blue Forest, kerangka konseptual

Seleksi dan Tinjauan Sejawat di bawah tanggung jawab ke-4

Komite Konferensi INCLAR.

1. Perkenalan

Sebagai negara kepulauan dan maritim, Indonesia mempunyai potensi sumber daya kelautan dan pesisir yang bernilai tinggi. Salah satu sumber daya yang selama ini dianggap remeh adalah hutan pantai. Hutan biru merupakan kawasan yang melindungi garis pantai dari banjir dan erosi. Mereka menampung satwa liar dan menyediakan mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat. Ada lima jenis

istirahat: bakau, rawa asin, padang lamun, rockweed, dan rumput laut utmainah, Taqwa, & Indrawan, 2022). Saat ini, hutan mangrove merupakan tipe hutan biru

paling utama di Indonesia. Indonesia mempunyai kawasan hutan mangrove

(2)

sebesar 3.364.076 Ha (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2022) yang masih bisa

dimaksimalkan. Ekosistem hutan bakau menopang perekonomian lokal dengan mendukung perikanan, menyediakan sumber makanan bagi ekosistem dan menjaga garis pantai (BE, R.Suharto, & AP, 2018). Setiap hektar hutan bakau diperkirakan bernilai US$33-57.000 per tahun.

Hutan juga menghilangkan karbon lima kali lebih banyak dari atmosfer dibandingkan hutan hijau (UN Environment Programme, 2017).

Masyarakat juga dapat meningkatkan nilai ekonomi hutan mangrove melalui pariwisata.

Pesatnya pertumbuhan pariwisata mempengaruhi kedatangan wisatawan dan menguntungkan perekonomian lokal. Namun keberadaan hutan bakau di Indonesia mengkhawatirkan karena telah terjadi deforestasi seluas 700.000 ha (Badan Restorasi Mangrove dan Gambut Indonesia, 2022). Kerusakan kawasan mangrove terjadi pada kawasan hutan dan tambak. Pada umumnya kerusakan tersebut disebabkan oleh pemanfaatan yang berlebihan dan tidak mempertimbangkan daya dukung dan kelestarian sumber daya pesisir. Penyebab terjadinya degradasi mangrove adalah beralihnya hutan mangrove menjadi perkebunan, tambak, pertanian, tambak garam, pemukiman, industri, pemanfaatan kayu, pertambangan dan bencana alam (Ilman, Wibisono, &

Suryadiputr, 2011). Degradasi mangrove akan berlangsung lebih cepat jika kondisi ini tidak terkendali.

Kemudian, untuk memitigasi hal tersebut, dimungkinkan untuk menciptakan pariwisata berbasis hutan. Model ini secara efektif melestarikan sumber daya hutan dan keanekaragaman hayati di Bangladesh dan dapat menghasilkan pendapatan melalui ekowisata (M., Y., & S, 2010).

Untuk memperkuat pariwisata berbasis hutan, keterlibatan masyarakat melalui pendekatan Community-Based Conservation (CBC) yaitu pengelolaan bersama yang adaptif antara masyarakat lokal, lembaga pemerintah dan LSM menjadi rekomendasi pengembangan konservasi untuk keberlanjutan mangrove di Malaysia dan Indonesia (Kamariah, Said, & Dasimah, 2014; Purwanti, Fattah, Qurrata, & Narmaditya, 2021). Masyarakat dapat berpartisipasi melalui model ekowisata berbasis komunitas (CBE).

Model CBE di Thailand Selatan menjadi kunci utama pengembangan pariwisata berkelanjutan yang mempertimbangkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat lokal (Suwanno, Nittiyar, Nuttida, & Aurathai, 2017). Kegiatan ekowisata penting untuk mendidik, melindungi, dan melestarikan hutan mangrove (Friess, 2017). Pelestarian hutan mangrove harus melibatkan masyarakat lokal karena mereka memerlukan hutan mangrove yang lestari untuk memenuhi kebutuhannya dan memiliki kearifan lokal dalam melestarikannya (Eddy, M.Rasyid, Iskha, & Andy, 2016). Pengelolaan hutan mangrove yang berkelanjutan memerlukan ekowisata dan melibatkan partisipasi masyarakat lokal. Namun kerusakan parah pada hutan mangrove akibat pembukaan lahan dan konversi menjadi perkebunan kelapa memerlukan biaya restorasi yang besar. Restorasi dan kampanye edukasi hutan mangrove

(3)

program pariwisata akan membutuhkan biaya yang tinggi dan tidak bisa hanya didanai oleh

pemerintah daerah (Purwanti, Susilo, & Lestariadi, 2017). Oleh karena itu, diperlukan permodalan dan pembiayaan untuk meningkatkan keberlanjutan hutan mangrove (ADB, 2020).

Menjaga kelestarian hutan mangrove merupakan salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 14. Keempat belas tujuan SDG berkaitan dengan ekosistem dan sumber daya laut sehingga masyarakat dapat memaksimalkan manfaatnya (Mutmainah et al., 2022). Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pembiayaan untuk menunjang kebutuhan dalam menjaga kelestarian hutan mangrove. Instrumen keuangan sosial Islam yang dapat memberikan kemungkinan pembiayaan untuk mengurangi masalah kerusakan hutan mangrove dan memenuhi tujuan SDG adalah Wakaf (Bakar, Ahmad, Salleh, & Salleh, 2020; Budiman, 2011). Wakaf tidak hanya dipandang sebagai kegiatan keagamaan tetapi juga sebagai pengelolaan aset atau dana produktif yang harus

berkelanjutan.

Tulisan ini diharapkan dapat memberikan model pendanaan berbasis Islamic Social Finance untuk sektor blue forest. Model ini disebut wakaf biru, yang merupakan adaptasi dari wakaf hijau namun diterapkan pada sektor hutan biru. Model ini berfokus pada hutan biru khususnya hutan mangrove sehingga dapat membantu restorasi hutan mangrove di Indonesia dan memberikan dampak sosial ekonomi bagi masyarakat.

2. Tinjauan Pustaka

2.1. Sekilas Wakaf Lingkungan Hidup

Dalam literatur ekonomi Islam, wakaf berarti menjaga harta tertentu dan mengelolanya untuk manfaat tertentu serta melarang penggunaan apapun di luar tujuan yang telah disepakati (Kahf, 2003). Wakaf tidak hanya berupa harta benda saja, namun bisa juga berupa uang untuk tujuan kebaikan. Dengan demikian, wakaf merupakan instrumen keuangan syariah yang harus memberikan manfaat jangka panjang kepada penerima manfaatnya, terutama untuk kepentingan masyarakat (Osman & Agyemang, 2020). Oleh karena itu, wakaf telah berfokus pada pembangunan sosial-ekonomi selama dua puluh tahun terakhir. Ada tiga kriteria yang harus dipenuhi oleh wakaf, yaitu kekekalan, tidak dapat dibatalkan, dan tidak dapat dicabut (Abbasi, 2012).

Ketiga kriteria di atas membuktikan bahwa wakaf merupakan instrumen keuangan sosial Islam yang dapat mengatasi permasalahan masyarakat Muslim dan non-Muslim, termasuk namun tidak terbatas pada pendidikan, kesehatan, bencana alam, dan pengentasan kemiskinan. Terkait permasalahan lingkungan hidup, wakaf dapat berupa tanah untuk pertanian dan uang untuk memulihkan hutan dan lingkungan hidup. Sedangkan dari sisi permasalahan sosial dan ekonomi, wakaf dapat mengurangi permasalahan kemiskinan akibat dampak dari nelayan

(4)

dengan kerusakan lingkungan. Selain itu, akses terhadap layanan pendidikan dan kesehatan untuk program pengembangan masyarakat juga dapat teratasi. Dengan demikian, wakaf yang dapat digunakan untuk memperbaiki kerusakan lingkungan adalah wakaf hijau dan wakaf biru.

Wakaf hijau merupakan skema yang dapat mendukung dan menjadi solusi untuk mengurangi permasalahan lingkungan hidup. Kerangka wakaf hijau dibangun untuk memberikan solusi inovatif dari instrumen keuangan Islam untuk membantu mencapai tujuan keberlanjutan dan menghijaukan hutan bakau (www.bwi.go.id). Sedangkan wakaf biru merupakan konsep

pembiayaan melalui wakaf yang difokuskan untuk menjaga ekosistem laut. Dalam hal ini, hutan biru juga termasuk dalam ekosistem laut (UN Environment Programme, 2017). Sehingga untuk restorasi dan pemeliharaan hutan mangrove diperlukan pembiayaan di bidang ekonomi kelautan yang dapat diperoleh dari wakaf biru. Penetapan model wakaf biru tidak hanya menjaga

kelestarian lingkungan laut tetapi juga membangun ketahanan sosial ekonomi masyarakat sekitar (Thaker et al., 2022).

2.2. Wakaf Lingkungan Hidup dan Dampaknya Terhadap Keberlanjutan

Islam sangat menjunjung tinggi pelestarian lingkungan karena merupakan perintah Tuhan. Oleh karena itu, dalam ajaran Islam, umat Islam diperintahkan oleh Allah untuk turut serta menjaga lingkungan hidup dan bijaksana dalam mengelolanya. Ajaran ini terdapat dalam Al-Quran QS—Al Baqarah ayat 164 yang menjelaskan tentang hubungan Tuhan dengan lingkungan hidup.

“Dalam penciptaan langit dan bumi, dan perbedaan malam dan siang,

dan kapal-kapal yang berlayar di laut dengan membawa barang-barang yang berguna bagi manusia, dan

air yang diturunkan Allah dari langit, sehingga menghidupkan bumi setelahnya

kematian, dan menebarkan segala jenis binatang di dalamnya, dan peraturan mata angin, adalah tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Al-Qur'an, 2: 164)

Al-Quran memiliki 759 ayat yang menjelaskan pentingnya ekologi dan sumber daya lingkungan (Duh, 2010). Ayat-ayat dalam Al-Quran dapat dimaknai sebagai sumber

pandangan terhadap lingkungan hidup. Dengan demikian, Al-Quran menjelaskan perlunya umat Islam menjaga lingkungan dan mencegah kerusakan karena alam adalah milik Tuhan dan anugerah dari-Nya. Maka jelas seluruh masyarakat dapat menerima dan menjalankan konsep wakaf untuk pemulihan lingkungan khususnya hutan mangrove.

Wakaf sebagai lembaga filantropi Islam berpotensi menjadi instrumen utama pelestarian lingkungan hidup. Oleh karena itu, wakaf untuk perlindungan lingkungan hidup sudah beberapa kali dilakukan. Misalnya Ismail Zuhdu Pasa yang pernah menyumbangkan bibit tanaman,

(5)

kayu, dan hutan seluas 5.550.000 meter persegi pada tahun 1885 (Foundations, 2014). Selain itu, potensi wakaf bagi perlindungan lingkungan telah ditulis oleh Akhtar (1996) yang menjelaskan pentingnya peran wakaf dan bagaimana lembaga ini dapat diaktifkan kembali agar sumber daya lahan dapat dimanfaatkan untuk penanaman kembali, pengelolaan irigasi, dan konservasi flora dan fauna. . Selain itu, wakaf dapat berupa tanah yang dikelola untuk mendukung tujuan yang dihibahkan, seperti penelitian di bidang kebidanan pertanian atau lahan publik untuk taman, atau dapat berupa dana yang mendukung proyek penanaman kembali (Bagader, Sabbagh, Al-Glayand, Samarrai, & Llewellyn, 1994).

Dengan ciri khasnya yang unik, wakaf menggambarkan bagaimana Islam mengajarkan tentang wasiat yang tidak hanya untuk kesejahteraan masyarakat tetapi juga untuk menjaga lingkungan. Di Indonesia, banyak kegiatan yang dilakukan oleh organisasi nirlaba untuk perlindungan lingkungan hidup, khususnya oleh lembaga wakaf. Kegiatan yang paling banyak dilakukan adalah penanaman atau penanaman kembali pohon, pembuatan sumur dan pemasangan sumber air bersih (Budiman, 2011). Selain itu, program konservasi hutan juga dilakukan (Ali & Kassim, 2021), dan semua program tersebut meskipun hanya proyek yang mendapat banyak dukungan dari masyarakat. Namun demikian, proyek-proyek tersebut membantu banyak orang yang kekurangan air bersih. Selain itu juga menyelamatkan lingkungan pesisir pantai sehingga nelayan tidak kehilangan hasil tangkapannya karena menjaga kelestarian lingkungan laut.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa wakaf lingkungan tidak hanya dapat memberikan manfaat bagi pelestarian dan pemulihan lingkungan hidup tetapi juga mengurangi kemiskinan dan berbagai manfaat lainnya bagi masyarakat (Budiman, 2011). Terlebih lagi, wakaf sangat sejalan dengan tujuan SDGs yaitu blue economy dan blue finance sehingga dapat diperkenalkan sebagai blue wakaf (Abdullah, 2018; Listiana & Alhabshi, 2020). Oleh karena itu, memperkenalkan wakaf sebagai solusi permasalahan saat ini sangatlah relevan, terutama bagi Indonesia yang memiliki umat Islam terbanyak di dunia dan memiliki tingkat donasi tertinggi secara global, berdasarkan laporan CAF (CAF, 2019;

Listiana & Alhabshi, 2020).

3. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan kerangka konseptual untuk membangun model wakaf biru untuk pemeliharaan pesisir. Kami menggunakan studi kualitatif dengan analisis isi untuk membangun kerangka konseptual. Kami melakukan kajian mendalam terhadap permasalahan pengelolaan hutan mangrove dan penelitian yang ada mengenai wakaf biru untuk membangun model pengelolaan hutan mangrove lestari melalui wakaf biru.

(6)

4. Model yang Diusulkan

Melihat apa yang telah kita bahas pada bagian sebelumnya, penulis mengusulkan kerangka wakaf berwarna biru. Ekonomi biru merupakan permasalahan dunia yang harus diselesaikan masyarakat melalui kerja sama semua pihak. Sebagai pemangku kepentingan utama, pemerintah mempunyai tanggung jawab besar untuk berkontribusi terhadap kerangka ini. Oleh karena itu, pemerintah harus menemukan solusi yang sangat diperlukan terlepas dari pandangan politiknya (Guild, 2020). Meskipun di beberapa negara, pandangan politik menjadi tantangan dalam mewujudkan kebijakan biru (Moravecz, 2021). Maka untuk mengimplementasikan kerangka wakaf biru ada beberapa elemen yang terlibat yaitu

A. Kekuatan politik B. Sumber daya manusia

C. Teknologi

D. Penentuan pemangku kepentingan

e. Keuangan

Skema wakaf biru dalam tulisan ini berfokus pada penanaman kembali mangrove. Mangrove merupakan tumbuhan di hutan laut yang mempunyai manfaat langsung dan tidak langsung. Manfaat tidak langsung mangrove di Pantai Cengkrong adalah sebagai penahan erosi sungai (manfaat fisik), sebagai penyerap CO2, penghasil O2 dan penyedia unsur hara. Nilai yang dihasilkan dari keempat manfaat tersebut sebesar Rp567.531.598 per tahun atau Rp6.523.352 per tahun per hektar (Fattah, Pudji, & Edi, 2018). Sedangkan manfaat langsung mangrove adalah memberikan dampak pariwisata dan melestarikan sumber daya pesisir (Purwanti, Susilo, & Lestariadi, 2017). Oleh karena itu, proyek penanaman kembali mangrove wakaf biru dapat direplikasi dan diperluas ke wilayah lain di Indonesia dan negara lain. Selain itu, lingkungan pesisir akan mendapat manfaat dari hutan bakau karena akan lebih banyak keanekaragaman hayati yang berkembang, menyediakan tempat berkembang biak bagi ikan dan krustasea, serta mengurangi karbon dioksida.

Pemulihan lingkungan akan memberikan dampak sosial yang positif karena hutan mangrove juga dapat dimanfaatkan sebagai kawasan wisata yang dikelola oleh masyarakat setempat. Selain itu, masyarakat sekitar juga mendapatkan manfaat dari kegiatan produktif seperti penangkapan dan penangkapan kepiting bakau, serta pengembangan budidaya kepiting, budidaya kerang, pembibitan pohon bakau dan pembuatan sirup buah bakau, yang dalam jangka panjang mempunyai nilai keuntungan yang baik dan dapat dikembangkan. (Purwanti, Susilo, & Indrayani, 2017). Dalam hal ini, wakaf dapat membantu pembangunan berkelanjutan dan kolaborasi di sektor-sektor strategis. Oleh karena itu, pemaksimalan wakaf pada sektor-sektor strategis dapat membantu mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat.

Untuk merealisasikan proyek Wakaf Biru, penting untuk mengidentifikasi sumber pendanaan yang dapat memfasilitasi proyek tersebut. Oleh karena itu, diperlukan sumber pembiayaan yang mampu

(7)

Angka1: Dampak dan Ekosistem Wakaf Biru.

dimanfaatkan untuk Wakaf Biru dari berbagai sumber yaitu wakaf, infaq dan keduanya.

Untuk mendorong keberlanjutan program, Kerangka Wakaf Biru perlu didukung dalam rencana pembangunan nasional jangka menengah dan panjang pemerintah. Lembaga wakaf milik pemerintah (misalnya Badan Wakaf Indonesia) akan menjadi koordinator dan penanggung jawab Blue Waqf. Nazir yang terdaftar di lembaga wakaf milik negara dapat menjadi co-manager.

Selain itu, untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap wakaf biru, perlu dilakukan kampanye kolosal yang melibatkan media, influencer, dan pemerintah melalui kementerian, Greenpeace, dan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Selain itu, keterlibatan masyarakat sekitar sebagai adaptor sosial sangat penting karena masyarakat sekitar merupakan penghubung antara kelestarian ekosistem mangrove dan pengelola wakaf biru. Namun pengelolaan wakaf melalui wakaf biru memerlukan perlindungan takaful/jaminan proyek. Hal ini perlu dilakukan untuk meminimalkan risiko kerugian ekonomi akibat proyek penanaman kembali mangrove. Keuntungan yang diperoleh dari pengelolaan wakaf biru akan dibagikan kepada mauquf alaih.

5. Kesimpulan

Tulisan ini mengusulkan sebuah kerangka kerja yang dapat menyelesaikan masalah berkurangnya hutan biru, khususnya hutan bakau di wilayah pesisir. Keadaan ini sungguh ironis karena hutan bakau melindungi garis pantai dari banjir dan erosi. Mereka menyediakan rumah bagi satwa liar

(8)

dan mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat. Secara umum kerusakan yang terjadi disebabkan oleh pemanfaatan yang berlebihan dan tidak mempertimbangkan daya dukung dan kelestarian sumber daya pesisir. Kondisi ini tidak ideal dan bertentangan dengan pokok SDG poin 14, yaitu terkait ekosistem dan sumber daya laut agar masyarakat dapat menikmati manfaatnya secara maksimal. Penyelesaian permasalahan lingkungan hidup tentunya memerlukan dukungan dari pemerintah dan masyarakat sekitar.

Apalagi butuh biaya besar untuk memulihkan alam yang rusak. Skema wakaf biru dapat membantu pendanaan yang cukup besar ini. Wakaf biru merupakan program berupa tanah, bibit mangrove atau uang tunai untuk penanaman kembali pohon mangrove dan perbaikan mangrove yang rusak.

Keberhasilan program ini akan memberikan manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan kepada masyarakat. Namun wakaf biru tidak akan berjalan tanpa campur tangan pemerintah sebagai regulator. Oleh karena itu, program tersebut juga harus dijamin dengan asuransi syariah untuk mengurangi risiko kegagalan.

Namun makalah ini masih mempunyai kekurangan; Konsep yang diterapkan di banyak negara adalah wakaf hijau, sedangkan wakaf biru belum pernah ada. Oleh karena itu, kerangka ini masih bersifat konseptual. Jika konsep ini ingin diterapkan, perlu adanya keterpaduan antara pengelola wakaf, lingkungan pemerintah, lembaga swadaya

masyarakat, dan masyarakat. Integrasi seluruh elemen akan mempermudah pencapaian tujuan perbaikan samudra biru.

PENGAKUAN

Saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh panitia disertasi saya. Senang sekali bisa bekerja selama proyek ini.

Referensi

[1] Abbasi MZ. Hukum Wakaf Islam klasik: Pengantar singkat. Hukum Arab Q.

2012;26(2):121–153.

[2] Abdullah M. Wakaf, tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dan maqasid al-syariah.

Int J Soc Ekon. 2018;45(1):158–172.

[3] ADB. Tarif dan insentif energi terbarukan di Indonesia: Tinjauan dan rekomendasi. 2020.

[4] Akhtar MR. Menuju pendekatan Islam untuk keseimbangan lingkungan. Pejantan Ekonomi Islam.

1996;3(2):57–77.

(9)

[5] Ali KM, Kassim S. Perkembangan Hutan Wakaf di Indonesia: Analisis SWOT-ANP Program Hutan Wakaf Bogor oleh Yayasan Hutan Wakaf Bogor [ Jurnal Pengelolaan Hutan Tropis]. Jurnal Manajemen Hutan Tropika. 2021;27(2):89–99.

[6] Turisno BE, Suharto R, Priyono EA. Peran Serta Masyarakat Dan Kewenangan Pemerintah Dalam Konservasi Mangrove Sebagai Upaya Mencegah ROB Dan Banjir Serta Sebagai Tempat Wisata. Masalah-Masalah Hukum. 2018;47(4):479–497.

[7] Bagader AA, El Sabbagh AT, Al-Glayand MA, Samarrai MY, Llewellyn OA. Perlindungan Lingkungan dalam Islam. Hukum Kebijakan Lingkungan IUCN Pap. 1994;:20.

[8] Bakar MA, Ahmad S, Salleh AD, Salleh MF. Wakaf dan tujuan pembangunan

berkelanjutan (SDGs): Sebuah tinjauan kritis dari Perspektif Malaysia. Jurnal Ulasan Kritis. 2020;7(13):2362–2385.

[9] Budiman MA. Peran Wakaf bagi perlindungan lingkungan hidup di Indonesia. Konferensi Internasional Pembangunan Aceh. 2011.880–889.

[10] Indeks Pemberian Dunia CAF 2018. 2019.

[11] Duh AA. Peran agama dalam pembangunan, ekologi & perubahan iklim:

Perspektif Islam. Konferensi Peran Agama dalam Pembangunan-Fokus Ekologi dan Perubahan Iklim. 2010.

[12] Eddy SM, Rasyid R, Iskha I, Andy M. Konservasi hutan bakau berbasis masyarakat untuk perikanan berkelanjutan. Jurnal Silvikultur Tropika. 2016;7(3):S42–S47.

[13] Fattah M, Pudji P, Edi S. Nilai Manfaat Tidak Langsung Hutan Mangrove Pantai Cengkrong Kabupaten Trenggalek. Seminar Nasional Perikanan Dan Kelautan Berkelanjutan. 2018;II:172–175.

[14] Yayasan Ditjen. Wakaf yang menjaga lingkungan dan kehutanan. Yayasan Kesalehan Luar Biasa (Wakaf) di seluruh dunia. Sejarah (Lond). 2014;:34.

[15] Goreng DA. Ekowisata sebagai sarana konservasi mangrove. Jurnal Bencana Sumatera. Geografi dan Pendidikan Geografi. 2017;1(1):24–35.

[16] Ilman M, Wibisono I, Suryadiputr I. Informasi Terkini tentang Ekosistem Mangrove di Indonesia. Dalam Program Wetlands International-Indonesia.

bogor. 2011.

[17] Kahf M. Peran wakaf dalam meningkatkan kesejahteraan umat. Seminar Internasional Wakaf sebagai Badan Hukum Swasta. 2003.

[18] Kamariah A, Said AM, Dasimah O. Konservasi berbasis komunitas dalam mengelola rehabilitasi mangrove di Perak dan Selangor. Procedia Soc Perilaku Sci.

2014;153:121–131.

(10)

[19] Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kondisi Mangrove di Indonesia. 2022.

Diperoleh dari website kkp.go.id: https://kkp.go.id/artikel/26393-sepanjang-2020- kkp-tanam-2-9-juta-batang-mangrove-untuk-pulihkan-ekosistem-pesisir

[20] Listiana L, Alhabshi SM. Wakaf dan Warisan Altruisme di Singapura: Tantangan dan Perkembangan [ Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Islam]. JEBIS. 2020;6(1):116–133.

[21] MA, YF, SA. Pariwisata Berbasis Hutan di Bangladesh: Status, Masalah, dan Prospek.

PARIWISATA: Jurnal Pariwisata Multidisiplin Internasional. 2010;5(1):163–172.

[22] Mutmainah LN, Taqwa KZ, Indrawan IW. Cash Waqf Linked Blue Sukuk (CWLBS) untuk ekosistem laut berkelanjutan: Sebuah model konseptual. 2022. Diperoleh dari https://

www.unep.org/

[23] Osman AZ, Agyemang G. Mengutamakan akuntabilitas ke bawah dalam pengelolaan Wakaf. J Akun Islami Bus Res. 2020;11(3):533–554.

[24] Purwanti P, Fattah M, Qurrata VA, Narmaditya BS. Sebuah model penguatan

kelembagaan untuk perlindungan ekowisata berkelanjutan mangrove di Indonesia.

Geosite Tur Geo J. 2021;35(2):471–479.

[25] Purwanti P, Susilo E, Indrayani E. Kegiatan ekonomi rumah tangga masyarakat pengguna sumber daya pesisir di Kawasan Pesisir Cengkrong, Teluk Prigi, Kabupaten Trenggalek. Rusia J Ilmu Sosial-Ekon Pertanian. 2017;2(62).

[26] Purwanti P, Susilo E, Lestariadi RA. Pengelolaan hutan mangrove dan peluang pengembangan usaha berbasis mangrove di Teluk Prigi Trenggalek. Jurnal Internasional Tata Kelola Sosial dan Ekonomi Lokal. 2017;3(2).

[27] Suwanno S, Nittiyar T, Nuttida S, Aurathai P. Potensi sumber daya ekologi dan pengelolaan destinasi ekowisata: Studi kasus di Komunitas Koh-Mak, Thailand Selatan. Jurnal Internasional PSAKU Penelitian Interdisipliner. 2017;6(2):9–21.

[28] Thaker MA, Amin MF, Thaker HM, Khaliq A, Pitchay AA, Fauziyyah NE, dkk. Kerangka Tanah Wakaf dan Sukuk untuk Pengelolaan Pembuangan Limbah – Sebuah Studi Konseptual. Labuan E-Journal Muamalat dan Masyarakat. 2022;16:1–12.

[29] Program Lingkungan PBB. Mangrove Jadi Sorotan. 2017. Diperoleh dari situs www.unep.org: https://www.unep.org/news-and-stories/story/

mangrovesspotlight

Referensi

Dokumen terkait

Perubahan Garis Pantai dan Dampaknya terhadap Suksesi dan Kerentanan Mangrove di Kawasan Ekosistem Esensial Hutan Mangrove Desa Mojo, Kecamatan Ulujami, Kabupaten

Saecara garis besar, mata pencaharian penduduk Kelurahan Kotakarang adalah sebagai nelayan karna letaknya yang berada dibibir pantai, yang dalam setiap melakukan

Pengurusan hutan mangrove dan hutan pantai dimaksudkan untuk pengembangan kapasitas pengelolaan hutan mangrove dan hutan pantai sebagai bagian dari hutan

pentingnya, kontribusi yang paling penting dari ekosistem hutan mangrove dalam kaitannya dengan ekosistem pantai adalah serasah daunnya.. Ia

Indonesia merupakan negara maritim yang mempunyai panjang garis pantai ± 81.000 Km. Di kawasan pantai tersebut ter- dapat berbagai tipe vegetasi, diantaranya mangrove atau

Pada setiap stasiun pengamatan, tetapkan transek-transek garis dari arah laut ke arah darat (tegak lurus garis pantai sepanjang zonasi hutan mangrove yang terjadi) di

‰ Distribusi Gastropoda di Hutan Mangrove Sendang Biru pada ‰ Distribusi Gastropoda di Hutan Mangrove Sendang Biru pada masing‐masing mikrohabitat lebih dipengaruhi oleh DO

Mangrove merupakan ekosistem yang kompleks terdiri atas flora dan fauna daerah pantai hidup sekaligus di habitat daratan dan air laut, Ekosistem mangrove berperang dalam melindungi