• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah dan Profil Majelis Ulama Indonesia

N/A
N/A
sukma wijaya

Academic year: 2024

Membagikan "Sejarah dan Profil Majelis Ulama Indonesia"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III TINJAUAN UMUM

A. Majelis Ulama Indonesia

1. Profil Majelis Ulama Indonesia

MUI berdiri sebagai hasil dari pertemuan atau musyawarah para ulama, cendekiawan dan zu‟ama yang datang dari berbagai penjuru tanah air, antara lain meliputi dua puluh enam orang ulama yang mewakili 26 Provinsi di Indonesia pada masa itu, 10 orang ulama yang merupakan unsur dari ormas-ormas Islam tingkat pusat, yaitu, NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti. Al Washliyah, Math’laul Anwar, GUPPI, PTDI, DMI dan Al Ittihadiyyah, 4 orang ulama dari Dinas Rohani Islam, Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut dan POLRI serta 13 orang tokoh/cendekiawan yang merupakan tokoh perorangan. Dari musyawarah tersebut, dihasilkan adalah sebuah kesepakatan untuk membentuk wadah tempat bermusyawarahnya para ulama. zuama dan cendekiawan muslim, yang tertuang dalam sebuah “Piagam Berdirinya MUI,” yang ditandatangani oleh seluruh peserta musyawarah yang kemudian disebut Musyawarah Nasional Ulama I. Momentum berdirinya MUI bertepatan ketika bangsa Indonesia tengah berada pada fase kebangkitan kembali, setelah 30 Tahun merdeka, di mana energi bangsa telah banyak terserap dalam perjuangan politik kelompok dan kurang peduli terhadap masalah kesejahteraan rohani umat.1

Selama rentang waktu 40 tahun sejak lahirnya MUI pada tahun 1975, MUI sebagai lembaga penghimpun para ulama merupakan penerus tugas-tugas para Nabi (Warasatul Anbiya) dan concern terhadap kesejahteraan rohani umat, tentunya telah banyak menghasilkan produk berwujud fatwa-fatwa yang membahas berbagai dimensi kehidupan masyarakat. MUI telah menerbitkan berbagai macam fatwa dalam masalah ibadah, hukum, sosial, politik, politik, etika dan bahkan juga ekonomi.2

1 https://mui.or.id/sejarah-mui/

2 indra Nurfiati, Kedudukan Majelis Ulama Indonesia (Mui) Dalam Ketatanegaraan Indonesia Ditinjau Dari Perspektif Fiqh Siyasah, (Surabaya : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, 2016), h. 87.

(2)

Adapun visi yang diemban oleh Majelis Ulama Indonesia adalah: “Terciptanya kondisi kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang baik sebagai hasil penggalangan potensi dan partisipasi umat Islam melalui aktualisasi potensi ulama, zu’ama, aghniya dan cendikiawan muslim untuk kejayaan Islam dan umat Islam (izzu al- islam wa al-muslimin) guna perwujudannya. Dengan demikian posisi Majelis Ulama Indonesia adalah berfungsi sebagai Dewan Pertimbangan Syariat Nasional, guna mewujudkan Islam yang penuh rahmat (rahmat li al-‘alamin) di tengah kehidupan umat manusia dan masyarakat Indonesia. Sementara misi yang diemban oleh Majelis Ulama Indonesia adalah: “Menggerakkan kepemimpinan dan kelembagaan Islam sevara efektif, sehingga mampu mengarahkan dan membina umat Islam dalam menanamkan dan memupuk aqidah Islamiyah, dan menjadikan ulama sebagai panutan dalam mengembangkan akhlak karimah agar terwujud masyarakat yang khair al- ummah.”3

Dilihat dari latar belakang sejarahnya, pendirian MUI merupakan hasil dari proses panjang dari tarik menarik antara hubungan agama dan negara yang direpresentasikan oleh kelompok ulama dan kelompok sekular nasionalis, juga adanya kepentingan pemeritah kepada umat Islam. Salah satu tugasnya, MUI diharapkan melaksankan tugasnya dalam pemberian fatwa-fatwa dan nasihat, baik kepada Pemerintah maupun kepada kaum muslimin mengenai persoalan-persoalan yang berkaitan dengan keagamaan khususnya dan semua masalah yang dihadapi bangsa umumnya. Sehubungan dengan berbagai amanat baik dari kepala negara ataupun sejumlah menteri serta pemikiran dan saran dari peserta musyawarah maka Munas I MUI telah telah merumuskan dalam pasal 4 pedoman pokoknya yang menyebutkan bahwa MUI berfungsi:

a. Memberi fatwa dan nasehat mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada pemerintah dan umat Islam umumnya sebagai amar ma’ruf nahi munkar, dalam usaha meningkatkan ketahanan nasional.

b. Memperkuat ukhuwah Islamiyah dan melaksanakan kerukunan antar umat beragama dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional.

c. Mewakili umat Islam dalam konsultasi antar umat beragama.

3 Asrorun Ni’am Soleh, Metodologi Penetapan Fatwa Majelis Ulama Indonesia, (Jakarta:

Percetakan Emir, 2016). h. 32.

(3)

d. Penghubung ulama dan umara (pemerintah) serta jadi penerjemah timbal balik antara pemerintah dan umat guna menyukseskan pembangunan nasional.

e. Majelis Ulama tidak berpolitik dan tidak operasional.

Untuk mencapai tujuannya, Majelis Ulama Indonesia melaksanakan usaha-usaha : a. Memberikan bimbingan dan tuntutan kepada umat Islam dalam mewujudkan

kehidupan beragama dan bermasyarakat yang diridhoi oleh Allah Swt.

b. Memberikan nasehat dan fatwa mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakat kepada pemerintah dan masyarakat.

c. Meningkatkan kegiatan bagi terwujudnya ukhuwah Islamiyah dan kerukunan antar umat beragama dalam memantapkan kesatuan dan persatuan bangsa.

d. Menjadi penghubung antara ulama dan umara (pemerintah) dan penterjemah timbal balik antara pemerintah dan umat guna mensukseskan pembangunan nasional.

e. Meningkatkan hubungan serta kerjasama antara berbagai organisasi, lembaga Islam, dan cendikiawan muslim.

f. Mewakili umat Islam dalam hubungan dan konsultasi antar umat beragama.

g. Usaha lainnya yang sesuai dengan tujuan organisasi.4

2. Ijtima’ Majelis Ulama Indonesia

Tugas dari komisi fatwa adalah mengkaji dan memberikan keputusan hukum terhadap persoalan yang tidak sarih (nyata) terdapat dalam Alquran maupun Sunnah, lembaga fatwa ini merupakan lembaga yang independen yang terdiri dari para ulama- ulama, cendikiawan, yang memahami tentang hukumhuku syariah, merupakan kelompok

4 Tim Penyusun, Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Perspektif Hukum Dan Perundang-Undangan, (Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2012). h. 44.

(4)

yang berkompeten dan memiliki otoritas yang memadai untuk memberikan keputusan- keputusan ilmiah.5

Majelis Ulama Indonesia mengenal salahsatu forum mengambil keputusan yang disebut dengan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Indonesia adalah sebuah agenda rutin komisi fatwa MUI pusat yang dilaksanakan setiap tiga Tahun sekali. Ijtima’ ini pertama kali dimulai Tahun 2003 di Jakarta, Pelaksanaan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se- Indonesia dimaksudkan untuk membahas dan menjawab permasalahan yang pada umumnya bersifat sensitif dan berpotensi menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Karenanya dianggap perlu melibatkan komisi fatwa MUI se-Indonesia dan lembaga fatwa ormas dan kelembagaan Islam, dengan harapan dapat menampung sebanyak mungkin aspirasi agar keputusan yang ditetapkan lebih kuat.6

Keputusan yang dihasilkan dari sidang ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se- Indonesia itu dasarnya adalah hasil ijtihad kolektif dari peserta yang hadir. Sebagai jawaban terhadap berbagai persoalan dari pertanyaan yang sering diajukan oleh masyarakat kepada para ulama dalam interaksi di antara mereka. Permasalahan dan materi dari ijtima’ ulama dijaring dari masyarakat luas melalui komisi fatwa MUI diseluruh Indonesia, baik yang disampaikan melalui lisan, surat, telepon, dan juga e-mail. Tentu tidak semua permasalahan yang masuk bisa diagendakan dalam ijtima’ ulama, tim materi ijtima’ ulama memilih dan memilah beberapa permasalahan yang layak dijadikan materi pembahasan dalam ijtima’, Permasalahan yang tidak dibahas dalam forum ijtima’ ulama akan di tindak lanjuti melalui mekanisme di internal MUI.7

Hasil dari sidang ijtima’ Ulama ini akan dibincangkan lebih lanjud untuk disahkan sebagai fatwa setelah sidang. Sebagaimana BPJS Kesehatan yang dijelaskan oleh Prof. Dr.

Jaih Mubarak8 ketika di wawancarai di kantor Pusat MUI yang bertempat di Jl. Dempo No.

19 Pegangsaan Jakarta Pusat 10320, bahwa: Posisi sidang ijtima’ Ulama Komisi Fatwa

5 Bagian Proyek Sarana dan Prasarana Produk Halal Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, Modul Pelatihan Auditor Internal Halal (Jakarta: Departemen RI, 2003), h.

56-57.

6 Ichwan Sam, Ijma’ Ulama Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI Se Indonesia III Tahun 2009 (Jakarta: Majelis Ulama Indonesia, 2009), h. 91.

7 Ibid, h. iii

8 Jaih Mubarak, Ketua DSN MUI Pusat, Wawancara di Jl. Dempo No. 19 Pegangsaan Jakarta Pusat 10320, 26 Februari 2016

(5)

MUI yang dilaksanakan tiga tahun sekali ini sama hal nya dengan sidang-sidang fatwa di lingkungan MUI. Dan hasil dari sidang ini adalah fatwa yang akan di sosiaisasikan dengan masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa sidang ijtima’ Ulama ini menjadi sesuatu yang tak bisa dipisahkan dari proses pembentukan fatwa di lingkungan Majelis Ulama Indonesia.

3. Metodologi penetapan Fatwa Majelis Ulama Indonesia

Salah satu syarat penetapan fatwa adalah harus memenuhi metodologi (manhaj) dalam berfatwa, karena menetapkan fatwa tanpa mengindahkan manhaj, termasuk yang dilarang agama. Menetapkan fatwa yang didasarkan semata karena adanya kebutuhan (li al-hajah), atau adanya kemaslahatan (al-maslahah), atau karena adanya intisari ajaran agama (li maqasid as-Syariah), dengan tanpa berpegang pada teks keagamaan (an-nusus as- syar'iyah), termasuk kelompok yang kebablasan (ifrati). Sebaliknya kelompok yang rigit memegang teks keagamaan (an-nusus as-syar'iyah) dengan tanpa memerhatikan kemaslahatan (al-maslahah) dan intisari ajaran agama (maqasid syar’iyah), sehingga banyak permasalahan yang tidak bisa dijawab, maka kelompok ini kategori gegabah (tafriti). Oleh karenanya dalam berfatwa harus menjaga keseimbangan antara harus tetap memakai manhaj yang telah disepakati, sebagai upaya untuk tidak terjerumus dalam kategori memberikan fatwa tanpa mempertimbangan dalil yang jelas. Tapi disisi lain juga harus memperhatian unsur kemaslahatan dari fatwa tersebut, sebagai upaya untuk mempertahankan posisi fatwa sebagai salah satu alternatif pemecahan kebekuan dalam perkembangan hukum Islam.9

Metode yang digunakan oleh komisi fatwa MUI dalam proses penetapan fatwa melalui tiga pendekatan, yaitu pendekatan nas qath’i, pendekatan qauli, dan pendekatan manhaji. Pendekatan nas qath’i dilakukan dengan berpegang dengan nash Alquran dan Hadis untuk sesuatu masalah apabila masalah yang ditetapkan terdapat dalam nas Alquran ataupun Hadis secara jelas. Sedangkan apabila tidak terdapat dalam nas Alquran dan Hadis maka jawabannya dilakukan melalui pendekatan qauli dan manhaji. Pendekatan qauli

9 Lihat Salahudin al ayub, www.mui.com

(6)

adalah pendekatan proses penetapan fatwa dengan mendasarkannya pada pendapat para imam mazhab dalam kitab-kitab fikih terkemuka (al-Kutub al-Mu’tabarah).10

Pendekatan qauli dilakukan apabila jawaban dapat dicukupi oleh pendapat dalam kitab-kitab fikih terkemuka. Dan hanya terdapat satu pendapat, kecuali jika pendapat yang ada dianggap tidak cocok lagi untuk dipegangi karena sangat sulit untuk dilaksanakan (ta’ssur atau ta'azzur al-'Amal), atau karena alasan hukumnya (‘illah) berubah. Dalam kondisi seperti ini perlu dilakukan telaah ulang, sebagaimana yang dilakukan oleh ulama terdahulu. karena itu mereka tidak terpaku terhadap pendapat ulama terdahulu yang telah ada bila pendapat tersebut sudah tidak memadai lagi untuk dijadikan pedoman.

Apabila jawaban permasalahan tersebut tidak dapat dicukupi oleh nash qath'i dan juga tidak dapat dicukupi oleh pendapat kitab-kitab fikih terkemuka (al-kutub al- mu’tabarah), maka proses penetapan fatwa dilakukan melalui pendekatan manhaji.

Pendekatan manhaji adalah pendekatan dalam proses penetapan fatwa yang mempergunakan kaidah-kaidah pokok (al-qawa’id al-usuliyah) dan metodologi yang dikembangkan oleh imam mazhab dalam merumuskan suatu masalah. Pendekatan manhaji dilakukan melalui ijtihad secara kolektif (ijtihad jama’i), dengan menggunakan metode:

mempertemukan pendapat yang berbeda (al- jam'u wat taufiq), memilih pendapat yang lebih kuat dalilnya (tarjihi), menganalogkan permasalahan yang muncul dengan permasalahan yang telah ditetapkan hukumnya dalam kitab-kitab fikih (ilhaqi), dan istinbati. Metode istinbati dilakukan ketika tidak bisa dilakukan dengan metode ilhaqi karena tidak ada padanan pendapat (mulhaq bih) dalam al-kutub al-mu’tabarah. Metode istinbati dilakukan dengan memberlakukan metode qiyas, istihsan, dan sad az-zari’ah.

Majelis Ulama Indonesia dalam berfatwa pada era modern tentunya juga tidak lepas dari tuntunan kaedah-kaedah yang sesuai dengan tuntunan Alquran, hadis.11 Secara umum pendapat fatwa MUI selalu memerhatikan pula kemaslahatan umum (maslahah

10 Pendekatan qauli disebut dengan ijtihad selektif (inthiqa’i) yaitu memilih salah satu pendapat yang dinukil dari fikih klasik yang begitu luas untuk fatwa atau sebagai penguat terhadap pendapat-pendapat yang lain, ini bukan berarti taklid buta, sebab taklid buta bukan tergolong dalam kategori ijtihad. Namun yang dimaksud bagaimana mempertimbangkan antara pendapatpendapat yang ada, kemudian merujuk kepada dalil, baik nas maupun hasil ijtihad, sehingga diambil sebuah hukum yang paling kuat dalilnya sesuai dengan pentarjihan sebuah hukum. Antara lain: pendapat harus sesuai dengan zaman dan manusia, lebih akrab pada syariat, mengutamakan pemakaian yang dimaksudkan dan disyariatkan sebuah hukum, kepentingan umum serta menjauhi timbulnya kerusakan. Dalam hal ijtihad seperti ini boleh saja seorang mujtahid ke luar dari mazhab empat untuk memilih pendapat-pendapat yang dilontarkan para sahabat para tabiin atau para ulama salaf. Husnul Aqib Ameen, Ijtihad Kontemporer Problem Dan Solusinya, artikel, www. Kmnu.org Cairo-Egypt, diakses tanggal 12 Juni 2010.

(7)

al-‘ammah) dan intisari ajaran agama (maqasid as-Syariyah), sehingga fatwa MUI benar- benar menjawab permasalahan yang dihadapi umat dan benar-benar menjadi alternatif untuk dijadikan pedoman dalam menjalankan bisnis ekonomi syariah di Indonesia.

4. Tata Cara Penetapan Fatwa Majelis Ulama Indonesia

Tata cara penetapan fatwa MUI yang telah dijadikan pedoman sebagai berikut.

Pasal 1

Dasar-dasar Fatwa:

a. Alquran b. Sunah c. Ijmak d. Kias Pasal 2

a. Pembahasan sesuatu masalah untuk difatwakan harus memerhatikan:

1) Dasar-dasar fatwa tersebut dalam Pasal 1

2) Pendapat imam-imam mazhab dan fuqaha yang terdahulu dengan 3) mengadakan penelitian terhadap dalil-dalil dan wajah istidlalnya

b. Cara pembahasan seperti tersebut di atas adalah sebagai upaya menemukan pendapat mana yang lebih kuat dalilnya dan lebih maslahat bagi umat untuk difatwakan. Apabila masalah yang difatwakan tidak terdapat dalam ketetapan Pasal 2 ayat (1) dan belum terpenuhi yang dimaksud oleh Pasal 2 ayat (2), maka dilakukan ijtihad jama’i.

11 Menurut Husain bin Abdul Aziz Alu Syaikh, bahwa ada beberapa kaidah-kaidah fatwa kontemporer, yaitu: 1. Kewajiban berfatwa dengan bersandarkan ilmu syar’i. 2. Kewajiban memastikan kebenaran, tidak tergesa-gesa dan bermusyawarah. 3. Bersemangat dalam menjaga kewaraan dalm berfatwa sebisa mungkin. 4. Tidak tergesa-gesa dalam menafikan (Mediadakan) keumuman. 5. Memerhatikan maqashid as-Syari’ah dalam berfatwa. 6. Kaidah memperhatikan akibat-akibat selanjutnya. 7. Bukanlah setiap yang diketahui bahwa itu benar dituntut untuk menyebarkannya, walaupun itu termasuk ilmu syari’at.

8. Seorang Mufti harus berhati-hati dalam menjawab pertanyaan orang yang bertanyaberdasarkan Ijtihad , (tidak diperbolehkan) mengatakan inilah hukum Allah. 9. Sebisa mungkin seorang mufti bersemangat untuk menggunakan kata-kata yang jelas dalam berfatwa. 10. Seseorang mufti wajib menggambarkan pertanyaan yang dinyatakan dengan gambaran yang menyeluruh 11. Seorang mufti harus memperhatikan sebisa mungkin kondisi masnusia. 12. Memerhatikan apa-apa yang belum terjadi dan perkataan-perkataan ulama dalam mentahdir pertanyaan tentang sesuatu yang belum terjadi. 13. Wajib bagi seseorang yang awam untuk bertanya dan meminta fatwa kepada ulama tentang hal yang menjadi masalah baginya. Lihat Husain bin

‘Abdul Aziz, Kaidah-Kaidah Fatwa Kontemporer (Jakarta: Darus Sunnah, t.t.), h. 210.

(8)

Pasal 3

Yang berwenang mengeluarkan fatwa ialah:

a. Majelis Ulama Indonesia mengenai:

1) Masalah-masalah keagamaan yang bersifat umum dan menyangkut umat Islam Indonesia secara keseluruhan

2) Masalah-masalah keagamaan di suatu daerah yang diduga dapat meluas ke daerah lain

b. Majelis Ulama Daerah Tingkat I mengenai masalah-masalah keagamaan yang bersifat lokal/kasus-kasus di daerah, dengan terlebih dahulu mengadakan konsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia/ Komisi Fatwa.

Pasal 4

a. Rapat Komisi Fatwa dihadiri oleh anggota-anggota Komisi Fatwa berdasarkan ketetapan Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia/Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia Tingkat I, dengan kemudian mengundang tenaga ahli sebagai peserta rapat apabila dipandang perlu.

b. Rapat Komisi Fatwa diadakan jika:

1) Ada permintaan atau pertanyaan yang oleh Majelis Ulama Indonesia dianggap perlu untuk difatwakan.

2) Permintaan atau pertanyaan tersebut berasal dari permintaan Lembaga Sosial Kemasyarakatan atau Majelis Ulama Indonesia sendiri

3) Mengenai tata tertib rapat Komisi Fatwa berupa fatwa mengenai suatu masalah disampaikan oleh Ketua Komisi Fatwa kepada Dewan Pimpinan Majelis Indonesia/Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia Tingkat I.

c. Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia/Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia Tingkat I mentanfizkan fatwa tersebut ayat (1) dalam bentuk surat keputusan penetapan fatwa.12

12 Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Keputusan Majelis Ulama Indonesia, (Jakarta: MUI, t.t.), h.13.

(9)

Menurut Ma’ruf Amin (Ketua DSN-MUI), bahwa secara ringkas sistem dan prosedur penetapan fatwa di lingkungan DSN-MUI adalah sebagai berikut.

a. Sebelum fatwa ditetapkan, dilakukan peninjauan terlebih dahulu pendapat para imam mazhab tentang masalah yang akan difatwakan tersebut, secara saksama berikut dalil-dalilnya.

b. Masalah yang telah jelas hukumnya (al-ahkam al-qat’iyyat) akan disampaikan sebagaimana adanya.

c. Dalam masalah yang terjadi perbedaan pendapat (khilafiyah) di kalangan mazhab, maka: (1) penetapan fatwa didasarkan pada hasil usaha penemuantitik temu di antara pendapat-pendapat mazhab melalui al-Jam’u wa al-taufiq dan (2) jika usaha penemuan titik temu tidak berhasil dilakukan, penetapan fatwa didasarkan pada hasil tarjih melalui metode Muqaranah al-Mazahib dengan menggunakan qaidah-qaidah usul fikih muqaran.

d. Dalam masalah yang tidak ditemukan pendapat hukumnya di kalangan mazhab, penetapan fatwa didasarkan pada hasil ijtihad jama’i (kolektif) melalui metode bayani ta’lili (qiyasi, istihsani, ilhaqi), istishlahi, dan sad alzari’ah.

e. Penetapaan fatwa senantiasa memerhatikan kemaslahatan umum (masalih al-‘ammah) dan maqashid as-syariah

Secara umum, fatwa-fatwa yang ditetapkan oleh DSN-MUI bersifat moderat (tawasut), artinya tidak terlalu rigit terhadap teks nas (tasyadud), tapi juga tidak terlalu ke luar dari mafhum an-nash dan hanya mempertimbangkan kemaslahatan umum (tasahul), DSN-MUI berpegangan bahwa anggapan adanya mashlahah yang ternyata melanggar prinsip syariah haruslah ditolak. Karena mashlahah yang seperti itu termasuk mashlalah yang belum pasti (maslahah al-mauhumah), sedangkan yang dikandung oleh syariah termasuk maslahah yang pasti (maslahah qath’iyah). Sehingga tidak ada alasan untuk mendalihkan mendahulukan kebutuhan nasabah dengan melanggar prinsip syariah.

5. Fatwa Majelis Ulama Indonesia pada aspek ibadah

Berbagai kebijakan yang diupayakan pemerintah guna menanggulangi penyebaran Covid-19 tidak hanya berpengaruh pada aspek sosial-ekonomi saja namun juga berimbas

(10)

pada aspek ritual keagamaan, salah satu upaya tersebut tercermin melalui fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia. Selama pandemi Covid-19 mulai dari maret 2020 hingga saat ini Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan beberapa fatwa pada berbagai persoalan, beberapa diantaranya yaitu :

a. Fatwa Nomor 14 tahun 2020 tentang Penyelenggaran ibadah dalam situasi terjadi wabah Covid-19

b. Fatwa Nomor 17 tahun 2020 tentang Pedoman shalat bagi tenaga kesehatan yang menggunakan alat pelindung diri saat merawat dan menangani pasien Covid-19

c. Fatwa Nomor 18 tahun 2020 tentang pedoman pengurusan jenazah muslim yang terinfeksi Covid-19

d. Fatwa Nomor 23 tahun 2020 tentang pemanfaatan harta zakat, infak dan shadaqah untuk penanggulangan wabah Covid-19 serta dampaknya

e. Fatwa Nomor 31 tahun 2020 tentang penyelenggaraan shalat jum’at dan jamaah guna mencegah penularan wabah Covid-19

f. Fatwa Nomor 2 tahun 2021 tentang produk vaksin Covid-19 dari sinovac life science co. Ltd. China dan PT. Bio farma (persero)

g. Fatwa No.14 Tahun 2021 tentang hukum penggunaan vaksin Covid-19 produk astrazeneca.13

Penetapan berbagai fatwa tersebut tidak hanya berlandaskan pada Alquran dan as- Sunnah namun juga mengemukakan argumentasi kaidah fikih dan juga pendapat para ulama yang ditujukan untuk kemaslahat umat dengan mempertimbangkan tujuan syari’at atau biasa disebut maqāṣid asy-syarī’ah sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Wahbah Zuhaili bahwa maqāṣid asy-syarī’ah merupakan suatu syari’at yang bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan umat melalui aturan aturan dan pemanfaatan sarana yang tersedia.14 adanya tujuan tersebut secara otomatis mengakibatkan perubahan hukum serta

13 dikutip dari https://mui.or.id/ diakses pada hari Rabu tanggal 9 Oktober 2023 jam 13.00 WIB 14 Mahi M. Hikmat. Dkk. Implementasi Maqasid Syari’ah dalam Ikhtiar Memutus Mata Rantai Persebaran Covid-19 di Indonesia, (Jurnal Uin Sunan Gunung Jati, 2020), h. 2.

(11)

tata cara beribadah di masa pandemi Covid-19 sebagaimana ungkapan dari Ibn Alqayyim al Jauziyah yakni :

لاوحلأاو ةنكملأاو ةنمزلأا ريغت بسحب اهفلاتخاو ىوتفلا ريغت دئاوعلاو تاينلاو

Artinya : “Fatwa bisa berubah karena perubahan zaman, tempat, perbedaan kondisi, niat dan keadaan”15

Adapun beberapa perubahan yang telah disahkan dan difatwakan oleh majelis ulama indonesia yang antara lain :

1) Aturan Shalat Jum’at

a) Shalat jum’at yang diganti shalat dzuhur di rumah

Pada hakikatnya shalat jum’at merupakan shalat yang wajib dilakukan secara berjamaah oleh umat muslim laki-laki yang telah baligh, berakal, sehat serta mukim di suatu daerah. Namun kebijakan Majelis Ulama Indonesia yang tertuang dalam fatwa nomor 14 tahun 2020 secara ringkas menetapkan bahwa terdapat dua hukum pada pelaksanaan shalat jum’at bagi umat muslim.

Pertama, bagi daerah yang masih terkendali serta potensi penularannya rendah maka diwajibkan menyelenggarakan shalat jum’at secara berjamaah dengan memperhatikan dan mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

Kedua, tidak diperbolehkannya mengadakan sholat jum’at bagi daerah yang masih tidak terkendali dan dapat mengancam keselamatan jiwa sampai keadaan menjadi normal kembali, dalam kata lain mubah bagi orang yang berada dalam suatu wilayah dengan potensi penularan virus yang tinggi untuk meninggalkan shalat jum’at dan menggantinya dengan sholat dzuhur di tempat kediaman masing-masing sebab shalat jum’at merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang sehingga berpotensi menularkan virus Covid- 19.16

15 Muhamad Kumaidi. Dkk. Implementasi Kaidahla Yunkiru Tagayyur Al-Ahkam Bitagayyur Al- Azman Wa Al-Ahwal Dalam Ibadah Di Masa Pandemi, Jurnal Hukum Ekonomi Syari’ah 12, No. 01 (2020), 67

16 Ibid., h. 71.

(12)

Pada mulanya kebijakan pada pelaksanaan sholat tersebut menuai pro kontra antar ulama, beberapa ulama menentang kebijakan tersebut karena pada saat itu per-bulan april 2020 penyebaran virus Covid-19 masih terkendali dan belum termasuk wabah, seperti pernyataan gus najih bahwa dapat disebut wabah yaitu ketika angka kematian pada saat itu telah mencapai ribuan, sedangkan angka kematian saat itu masih ada pada angka ratusan sehingga dinilai belum memenuhi kriteria rukhṣah atau keringanan.

Maka dari itu Istinbat yang digunakan ulama dalam menetapkan kebijakan tersebut merujuk pada salah satu kaidah fikih atau mafsadah menolak yakni

حلاصملا بلج ىلع مدقم دسافملا ءرد

Yaitu mudarat didahulukan daripada mecari kemaslahatan atau manfaat, kaidah ini mengasumsikan bahwa akan timbul bahaya sebab pelaksanaan shalat jum’at melalui penularan virus dari satu orang ke orang lain sebab mafsadah dimaksud dalam persoalan ini yaitu bukan terdapat pada shalat jum’at-nya namun terdapat pada kehadiran muslim yang melaksanakan shalat jum’at bersama dan apabila mafsadah tidak dicegah dan semakin melebar tentunya maqāṣid asy-syarī’ah tidak dapat tercapai.17

b) Shalat jum’at berbilang (ta’addud al jumu’ah) dan model shift

Social distancing merupakan salah satu upaya pencegahan penyebaran virus Covid- 19 yang juga diterapkan pada tata letak shaf pelaksanaan shalat jum’at, penerapan tersebut berakibat pada persoalan terbatasnya daya tampung suatu masjid sehingga membutuhkan jalan keluar salah satunya dengan mengadakan shalat jum’at berbilang (ta’addud al jumu’ah).

Pada dasarnya pelaksanaan shalat jum’at yang dilaksanakan menjadi dua gelombang atau berbilang tidak diperbolehkan oleh jumhur ulama sama seperti kebijakan yang telah ditetapkan pada fatwa MUI Nomor 5/Munas/VI/MUI/2000, isi dari fatwa tersebut menegaskan bahwa pelaksanaan shalat jum’at yang lebih dari satu kali pada tempat yang sama namun berbeda waktunya hukumnya adalah tidak sah dengan alasan apapun termasuk alasan udzur syar’i dan apabila seseorang sedang tidak dapat menunaikan

17 Fisher Zulkarnain. Dkk. Kebijakan Fatwa Mui Meliburkan Shalat Jumat Pada Masa Darurat Covid-19, (Jurnal Uin Sunan Gunung Jati, 2020), h. 4-5.

(13)

sholat jum’at sebab udzur syar’i maka wajib menunaikan shalat dzuhur sebagaimana mestinya.18

Melihat situasi dan kondisi saat ini Majelis Ulama Indonesia merespon persoalan tersebut dengan mengeluarkan kebijakan yang tertampung pada fatwa MUI Nomor 31 Tahun 2020 yang memperbolehkan shalat jum’at berbilang (ta’addud al jumu’ah) di tempat lain seperti gedung, stadion, musholla dan lain lain apabila jamaah tidak dapat tertampung, kemudian jika dalam masjid dan tempat lain masih tidak tertampung juga maka terdapat dua perbedaan pendapat sebagai berikut:

a) Pertama, pelaksanaan shalat jum’at dapat dilaksanakan dengan model shift dan hukumnya sah.

b) Kedua, shalat jum’at diganti dengan pelaksanaan shalat dzuhur secara sendiri maupun berjamaah sehingga shalat jum’at dengan model shift menjadi tidak sah.

Kedua perbedaan pendapat tersebut dapat digunakan dengan mempertimbangkan kondisi serta kemasalahatan masing masing daerah. Salah satu kaidah yang dapat menjadi rujukan persoalan di atas pendapat imam al Nawawi dalam kitab al Majmu’ :

نيعضوم يف زاوجلا وهو لولأا هجولا وه حيحصلاو

رثكأو

عامتجلاا رسعو ةجاحلا بسحب

Artinya : “Yang shahih dalam madzhab Syafii adalah bolehnya mengadakan shalat Jum’at pada dua lokasi atau lebih tergantung hajah dan tingkat kesulitan”19

2) Aturan shalat jamaah

a) Shalat dengan menggunakan masker

Memakai penutup ketika shalat tidak dianjurkan bagi muslim laki laki maupun perempuan, hukumnya adalah makruh berdasarkan hadist riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah yang berbunyi :

18 Ibid., h. 74.

19 Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 31 Tahun 2020

(14)

هللا ىلص ِهللا ُلوُسَر ىَهَن َلاَق هنع هللا يضر َةَرْيَرُه يِبَأ ْنَع

ِة َلَصلا يِف ُهاَف ُلُجّرلا َيّطَغُي ْن َأ ملسو هيلع

Artinya : “Rasulullah SAW melarang seseorang menutup mulutnya ketika shalat”20

Ditegaskan pula oleh Imam Nawawi dalam kitab Al Majmu’ yaitu :

هذهو ...اهريغ وأ هديب هاف ايطغم يأ امثلتم لجرلا يلصي نأ هركيو ةلصلا ةحص عنمت لا هيزنت ةهارك

Artinya : "Makruh seseorang melakukan shalat dengan talatsum, artinya menutupi mulutnya dengan tangannya atau yang lainnya. Makruh di sini adalah makruh tanzih (tidak haram) sehingga tidak menghalangi keabsahan shalat"21

Namun sebagai antisipasi agar tidak tertular virus Covid-19 maka penggunaan penutup mulut atau masker saat shalat diperbolehkan pada kondisi saat ini.

b) Shalat dengan merenggangkan ṣaf

Merapatkan ṣaf merupakan suatu kesunnahan dalam shalat, bahkan ada juga sebagian ulama yang mewajibkan untuk menyambung serta merapatkan barisan ṣaf shalat maupun jarak antar depan dan belakang ṣaf shalat. Namun pada kondisi saat ini merenggangkan ṣaf antara satu orang dengan yang lainnya hukumnya diperbolehkan sesuai dengan kebijakan yang termaktub fatwa MUI Nomor 31 Tahun 2020, hukum shalat dengan perenggangan ṣaf tersebut dinilai tetap sah shalatnya dan tetap mendapat keutamaan jamaah karena kondisi yang dihadapi saat ini merupakan hajat syar’iyyah.22

Kedua aturan pada shalat jamaah tersebut ditetapkan berdasarkan kaidah fikih yang berbunyi :

قاض رملأا عستا اذاو عستا رملأا قاض اذا

Artinya: “Apabila terdapat kondisi yang sempit, maka dapat menjadi leluasa dan apabila suatu kondisi luas maka dapat menyempit”23

20 Ibnu Majah, Sunan Ibnu majah, (Kairo :Dar Ihya Kutub Al-Arabiyyah, 4112 M), jilid 1, h. 310.

21 Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab, (Beirut : Dar AlFikr,2011 M ), jilid 3, h. 17.

22 Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 31 Tahun 2020 23 Ibid., h. 76.

(15)

Maksud dari kaidah di atas yaitu jika terdapat suatu kondisi yang menyulitkan seseorang dalam menerapkan hukum asalnya maka penerapan tersebut dapat diluaskan atau diringankan, sebaliknya jika hal yang menyulitkan tersebut telah hilang maka wajib kembali pada hukum asalnya. Sama halnya dengan wabah Covid-19 yang ketika menular sangat menyulitkan diri sendiri maupun orang lain, maka dalam hal sholat jamaah dianjurkan untuk merenggangkan ṣaf taupun memakai masker guna mengantisipasi penularan virus Covid-19.16

3) Pelaksanaan shalat tenaga medis dengan memakai APD lengkap

Sebagaimana yang terjadi saat ini bahwa virus Covid-19 dapat menyebar melalui percikan kecil yang dikeluarkan melalui mulut saat batuk ataupun melalui hidung saat bersin sehingga seluruh tenaga medis yang menangani pasien diharuskan untuk memakai alat pelindung diri (APD) yang telah disediakan, alat pelindung diri tersebut dipakai dalam jangka waktu panjang selama menangani pasien, hal tersebut mengakibatkan para tenaga medis muslim tidak dapat berwudhu, tayamum maupun menunaikan ibadah sholat secara tepat waktu. Atas dasar persoalan tersebut maka Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa nomor 17 tahun 2020 yang berisi tentang pedoman kaifiat shalat bagi tenaga kesehatan yang memakai alat pelindung diri (APD) saat merawat dan menangani pasien Covid-19 yang di dalamnya terdapat beberapa poin diantaranya yaitu :

tenaga medis muslim yang mendapat tugas dalam menangani pasien Covid-19 tetap wajib menunaikan shalat fardu dengan berbagai kondisi yang sesuai dengan kemampuannya, saat tenaga medis muslim berada pada kondisi ketika jam kerjanya telah usai atau sebelum masuk waktu kerja masih mendapati waktu shalat, maka sholat fardu tersebut wajib dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Apabila para tenaga medis muslim memiliki waktu kerja sebelum masuk waktu shalat dzuhur dan berakhir di waktu ashar atau sebelum masuk maghrib dan berakhir di waktu isya’ maka tenaga medis yang menggunakan APD tersebut diperbolehkan menunaikan sholat dengan jama’ ta’khir. Begitu pula ketika berada pada kondisi sebaliknya, yaitu apabila jam kerjanya dimulai pada waktu dzuhur atau maghrib dan diperkirakan tidak dapat menunaikan shalat ashar maupun isya’ maka diperbolehkan melaksanakan shalat dengan jama’ taqdim.

(16)

Tenaga medis muslim yang jam kerjanya ada pada rentang waktu shalat dan tenaga medis tersebut masih mempunyai wudhu maka diperbolehkan menunaikan shalat mengenakan APD yang dikenakan, namun jika berada dalam kondisi sulit melakukan wudhu maka diperbolehkan bertayamum agar tetap dapat menunaikan kewajiban shalat dan jika tenaga medis ada dalam kondisi ber-hadast yang tidak memungkinkan untuk bersuci dengan cara berwudhu maupun tayamum maka tenaga medis tersebut wajib melaksanakan sholat sesuai dengan keadaan yang ada (faqid at-tahurain) dan tidak wajib mengulangi shalatnya (i’adah assholah).

Apabila kondisi APD yang dipakai terkena najis dan tidak memungkinkan untuk disucikan atau dilepas maka tenaga medis tersebut diperbolehkan menunaikan shalat dalam keadaan tidak suci dan tetap harus mengulangi shalat fardu tersebut ketika telah selesai bertugas. Beberapa poin tersebut merupakan kebijakan fatwa Majelis Ulama Indonesia merupakan sebuah rukhsah yang didasarkan pada kaidah fikih

ريسيتلا بلجت ةقشملا

yang artinya kesulitan membawa kepada kemudahan, masyaqqoh pada konteks ini memiliki arti bahwa keadaan yang dihadapi saat ini dilakukan bukan sebab lalai ataupun abai, namun sebab kondisi yang tidak memungkinankan untuk melepas APD, bertayammum dan berwudhu demi kemaslahatan bersama.

Kondisi ini juga dikategorikan dalam faqid at-tahurain yang menurut ahli fikih memiliki dua makna yaitu: Pertama, orang yang mengetahui keberadaan alat untuk bersuci (air dan debu suci) namun tidak dapat menggunakannya karena suatu uzur. Kedua, orang yang dapat menggunakan alat bersuci namun tidak terdapat media atau alat bersuci tersebut (air dan debu suci).24

4) Pengurusan Jenazah (Tajhīz Al-Janāiz) Muslim Yang Terinfeksi Covid-19 Tiap muslim yang wafat sebab terinfeksi Covid-19 masih memiliki kemungkinan menularkan virus terhadap orang yang melakukan kontak langsung dengan jenazah tersebut sebab virus tersebut masih berada di dalam tubuhnya, sehingga proses ataupun tata cara pengurusan jenazahnya tentulah berbeda dengan proses pengurusan jenazah pada

24 Subhan Shodiq, Penanganan Covid-19 Dalam Pendekatan Kaidah Fikih Dan Ushul Fikih;

Analisis Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar Dibidang Keagamaan, (Jurnal Al-Adalah : Jurnal Hukum Dan Politik Islam 3, No. 2. 2020), h. 67.

(17)

umumnya guna mempertimbangkan keselamatan jiwa dan raga. Oleh sebab itu Majelis Ulama Indonesia menjawab persoalan pengurusan jenazah ini dengan mengeluarkan fatwa nomor 18 tahun 2020 tentang pedoman pengurusan jenazah yang digunakan sebagai acuan dalam mengurus jenazah muslim yang terinfeksi Covid-19.

Adapun tata cara pengurusan jenazah Covid-19 tersebut meliputi beberapa proses yaitu memandikan jenazah, mengafani jenazah, menyalati jenazah serta memakamkan jenazah.

a) Pertama, jenazah dimandikan tanpa harus membuka pakaian dan harus dilakukan oleh petugas yang berjenis kelamin sama dengan jenazah, apabila tidak terdapat petugas yang berkelamin sama maka boleh dilakukan oleh petugas seadanya dengan syarat jenazah tetap memakai pakaian saat dimandikan, jika tidak maka boleh ditayammumkan, Petugas juga berkewajiban membersihkan najis yang ada pada jenazah sebelum memandikannya. Jenazah boleh ditayamumkan apabila memang tidak memungkinkan untuk dimandikan, tata caranya ialah mengusapkan debu pada wajah dan kedua tangan (minimal sampai pergelangan) dengan tetap menggunakan APD. Namun jika memandikan atau menayamumkan jenazah dinilai membahayakan petugas maka jenazah boleh tidak dimandikan atau dimandikan sebab ḍarurat syar’iyyah.

b) Kedua, proses pengafanan jenazah ditutup ke seluruh tubuh menggunakan kain dan kemudian dimasukkan ke dalam kantong jenazah yang tidak dapat tembus udara atau air dan diposisikan miring ke kanan agar dapat menghadap kiblat saat dimakamkan.

c) Ketiga, proses penyalatan jenazah di tempat yang aman dari penularan virus Covid-19 dan disholatkan oleh minimal satu orang secara langsung, apabila tidak memungkinkan disholatkan pada saat itu juga, sholat jenazah boleh dilakukan pada saat sebelum ataupun sesudah jenazah dimakamkan, apabila masih tidak memungkinkan maka boleh disholatkan secara gaib.

d) Keempat, proses yang terakhir ini harus dilaksanakan sesuai ketentuan medis maupun syari’ah yang mana jenazah tersebut dimasukkan ke dalam liang lahat bersama peti tanpa harus membuka plastik dan lain lainnya, selain itu

(18)

dalam persoalan jenazah Covid-19 ini juga diperbolehkan mengubur beberapa jenazah pada satu liang disebabkan oleh keadaan yang darurat.25 Aturan pada proses proses tersebut ditetapkan atas dasar kaidah fikih yaitu :

لازي ررضلا

Secara umum bemakna bahwa kemudaratan harus dihilangkan, seperti ketika memandikan jenazah yang terpapar Covid-19 namun tanpa membuka pakaian jenazah tersebut sehingga mengandung mudarat yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain yaitu terpapar virus tersebut yang jelas mengganggu berjalannya maqāṣid asysyarī’ah.26

Kaidah selanjutnya yaitu kaidah

تاروظحملا حيبت تارورضلا

yang artinya darurat membolehkan perbuatan yang dilarang. Kaidah tersebut terimplementasikan dalam hukum mubah mengubur dua atau lebih jenazah Covid-19 pada satu liang kubur yang pada dasarnya tidak diperbolehkan tanpa adanya alasan atau keadaan syar’i.27

5) Pendistribusian zakat, infak dan shadaqah era Covid-19

Menurunnya tingkat perekomomian masyarakat pada sektor riil maupun sektor keuangan merupakan salah satu dampak yang ditimbulkan dari adanya pandemi Covid-19, dampak tersebut juga mengakibatkan kondisi masyarakat menjadi serba sulit dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari hari.28Kondisi yang semakin menurun tersebut mendesak pemerintah untuk segera mengupayakan penanggulangan perekonomian Indonesia, upaya tersebut mulanya ditetapkan oleh Menteri Agama melalui Edaran Nomor

25 7Camelia Rizka Maulida Syukur, Konsep Rukhsah bagi Tenaga Medis dengan Alat Pelindung Diri saat Menangani Pasien COVID-19, (Jurnal Al-Qānūn Pemikiran dan Pembaharuan Hukum Islam 22, No. 02, 2019), h. 265-267.

26 Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 18 tahun 2020

27 Abdurrahim, Metode Istinbat Fatwa Mui Nomor: 18 Tahun 2020 Tentang Pengurusan Jenazah (Tajhiz Al-Jana’iz) Muslim Yang Terinfeksi Covid-19, (Jurnal, Jambi : Uin Sulthan Thaha Saifuddin, 2021), h. 67.

28 Bidah Sariyati, Analisis Distribusi Zakat, Infak Dan Sedekah Dalam Penanggulangan Pandemi Covid-19 Perspektif Maqashid Syariah, Studi Kasus Baznas Republik Indonesia, (Disertasi, Salatiga : Institut Agama Islam Negeri Salatiga, 2020), h. 37.

(19)

8 tahun 2020 tanggal 9 April 2020 tentang pendistribusian zakat serta optimalisasi wakaf sebagai jaring pengaman sosial pada kondisi Covid-19 yang kemudian direspon oleh Majelis Ulama Indonesia pada fatwa MUI Nomor 23 Tahun 2020.29

Pada fatwa tersebut dijelaskan bahwa pendistribusian zakat merupakan sebuat ikhtiar dalam menanggulangi wabah Covid-19, penditsribusian tersebut dibagi menjadi dua macam yaitu pendistribusian kepada mustahik secara langsung dan pendistribusian yang ditujukan untuk kemaslahatan umum dengan memperhatikan masing masing ketentuan. Pada pendistribusian mustahiq penerima harus berasal dari golongan asnaf zakat yaitu muslim yang fakir, miskin, amil, muallaf, yang terlilit hutang, riqab, ibnu sabil, dan/atau fi sabilillah dan boleh terwujud dalam bentuk makanan pokok, uang tunai, modal kerja, kebutuhan pengobatan dan kebutuhan mustahiq lainnya. Sedangkan pada pendistribusian kemaslahatan umum, penerima harus berasal dari golongan (asnaf) fi sabilillah dan terwujud sebagai layanan umum atau pengelolaan aset seperti disinfektan, alat pelindung diri dan lain lainnya.

Selain itu ketentuan zakat mal juga dapat disalurkan lebih cepat (ta’jil az-zakah) jika telah mencapai nisab tanpa harus menunggu satu tahun penuh begitu pula dengan zakat fitrah yang boleh ditunaikan mulai dari awal ramadhan.30 Dikeluarkannya kebijakan tentang pengeluaran zakat adalah solusi tepat bagi perkembangan perekonomian negara indonesia, hal ini selaras dengan kaidah fikih yang digunakan sebagai salah satu landasan fatwa ini yaitu

ةحلصملاب طونم ةيعرلا ىلع ماملا فرصت

Secara umum sesuatu yang berarti tindakan pemimpin (imam) kepada masyarakatnya wajib ditujukan untuk kemaslahatan. Artinya bahwa segala bentuk tindakan dari pemimpin hanya akan sah jika didasari oleh kemaslahatan dan apabila tindakan tersebut tidak didasari oleh tujuan kemaslahatan bersama maka menjadi batal secara syara’, seperti keputusan terkait bab zakat di atas yang dinilai oleh pemerintah berpengaruh kehidupan masyarakat sehari-hari dan juga dapat membantu perkembangan perekonomian Negara Indonesia.31

29 Jureid, Analisis Distribusi Zakat Pada Baznas Dalam Pencegahan Covid-19 Ditinjau Dari Maqashid Syariah, (Jurnal At-Tijarah 3, No. 1 (2021), h. 26-27.

30 Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 23 Tahun 2020 31 Ibid., h. 124.

(20)

B. Gambaran Umum Sumatera Utara 1. Keadaan Sumatera Utara

a. Lokasi dan Keadaan Geografis

Provinsi Sumatera Utara berada di bagian barat Indonesia, terletak pada garis 10 - 40 Lintang Utara dan 980 - 1000 Bujur Timur. Provinsi Sumatera Utara berbatasan berbatasan dengan Provinsi Aceh di sebelah utara, Selat Malaka di sebelah timur, Provinsi Riau dan Provinsi Sumatera Barat di sebelah Selatan, dan Samudera Hindia di sebelah Barat. Berdasarkan kondisi letak dan kondisi alam, Sumatera Utara dibagi dalam 3 (tiga) kelompok wilayah/kawasan yaitu Pantai Barat, Dataran Tinggi, dan Pantai Timur, sebagai berikut.

1) Kawasan Pantai Barat meliputi Nias, Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Tapanuli Tengah, Padang sidimpuan, Sibolga, dan Kota Gunung sitoli.

2) Kawasan Dataran Tinggi meliputi Tapanuli Utara, Toba Samosir, Simalungun, Dairi, Karo, Humbang Hasundutan, Pak-pak Bharat, Samosir, dan Pematang Siantar.

3) Kawasan Pantai Timur meliputi Labuhan batu, Labuhan batu Utara, Labuhanbatu Selatan, Asahan, Batu Bara, Deli Serdang, Langkat, Serdang Bedagai, Tanjung balai, Tebing tinggi, Medan, dan Binjai.

Luas Provinsi Sumatera Utara adalah 72.981,23 km2 . Berdasarkan luas daerah menurut kabupaten/kota di Sumatera Utara, luas daerah terbesar adalah Kabupaten Langkat dengan luas 6.262,00 km2 atau sekitar 8,58 persen dari total luas Sumatera Utara, sedangkan luas daerah terkecil adalah Kota Tebing Tinggi dengan luas 31,00 km2 atau sekitar 0,04 persen dari total luas wilayah Sumut.32

Gambar 1.1

Peta Administrasi Provinsi Sumatera Utara

32 BPS Provinsi Sumatera Utara. Provinsi Sumatera Utara Dalam Angka 2019. (Medan: CV. Rilis Grafika . 2019). h. 3-5.

(21)

b. Iklim

Karena terletak dekat garis khatulistiwa, Provinsi Sumatera Utara tergolong ke dalam daerah beriklim tropis. Ketinggian permukaan daratan Provinsi Sumatera Utara sangat bervariasi, sebagian daerahnya datar, hanya beberapa meter di atas permukaan laut, beriklim cukup panas, sebagian daerah berbukit dengan kemiringan yang landai, beriklim sedang dan sebagian lagi berada pada daerah ketinggian. Sebagaimana provinsi lainnya di Indonesia, Provinsi Sumatera Utara mempunyai musim kemarau dan musim penghujan.

Musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Januari sampai dengan Juli dan musim penghujan biasanya terjadi pada bulan Agustus sampai dengan bulan Desember, diantara kedua musim itu terdapat musim pancaroba. Sumatera Utara juga termasuk ke dalam daerah yang sering mengalami gempa bumi. Sepanjang 2018 tercatat sebanyak 356 kali terjadi gempa bumi. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2017 dimana tercatat gempa bumi terjadi sebanyak 497 kali.33

c. Wilayah Administrasi

Provinsi Sumatera Utara pada bulan Desember 2018 terdiri atas 25 Kabupaten dan 8 Kota. Selanjutnya Kabupaten/Kota tersebut terdiri atas 450 kecamatan. Pada administrasi yang paling bawah, Provinsi Sumatera Utara terbagi ke dalam 6.136 desa/kelurahan.34

d. Sumber Daya Manusia

Jumlah PNS daerah di Sumatera Utara pada Desember 2018 berjumlah 191.370 orang. Terdiri atas 73.267 orang (38,29%) PNS laki-laki dan sisanya sebanyak 118.103 orang (61,71%) adalah PNS perempuan. Jumlah PNS ini jika dirinci menurut jenjang

33 Ibid., h. 5-6.

34 Ibid., h. 28.

(22)

pendidikan, sebagian besar merupakan berpendidikan tamatan SMA ke atas, yaitu sebesar 21,06 persen adalah tamatan SMA dan tamatan DIV/S1 ke atas sebesar 59,97 persen.

Sedangkan tamatan DI/II/III hanya sekitar 17,49 persen, dan tamatan SMP ke bawah sekitar 1,49 persen.35

e. Penduduk dan Ketenagakerjaan

Provinsi Sumatera Utara merupakan provinsi keempat dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Menurut hasil pencacahan lengkap Sensus Penduduk (SP) 1990 per tanggal 31 Oktober 1990 (hari sensus) berjumlah 10,26 juta jiwa, kemudian dari hasil SP2000, jumlah penduduk Sumatera Utara sebesar 11,51 juta jiwa. Selanjutnya dari hasil Sensus Penduduk pada bulan Mei 2010 penduduk Sumatera Utara sebesar 12.982.204 jiwa. Kepadatan penduduk pada tahun 1990 adalah 143 jiwa per km2 kemudian pada tahun 2000 meningkat menjadi 161 jiwa per km2 dan selanjutnya pada tahun 2010 menjadi 188 jiwa per km2 . Laju pertumbuhan penduduk selama kurun waktu tahun 1990-2000 adalah 1,20 persen per tahun, dan pada tahun 2000-2010 menjadi 1,22 persen per tahun.

Pada Tahun 2018 penduduk Sumatera Utara berjumlah 14.415.391 jiwa yang terdiri dari 7.193.200 jiwa penduduk laki-laki dan 7.222.191 jiwa penduduk perempuan atau dengan ratio jenis kelamin/sex ratio sebesar 99,60. Pada tahun 2018 penduduk Sumatera Utara lebih banyak tinggal di daerah perkotaan dibanding daerah perdesaan.

Jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan adalah 7,21 juta jiwa (50,01%) dan yang tinggal di daerah perdesaan sebesar 7,21 juta jiwa (49,99%). Pada Tahun 2018 angkatan kerja di Sumatera Utara sebagian besar berpendidikan SLTA. Persentase golongan ini mencapai 38,96 persen. Selanjutnya, angkatan kerja yang berpendidikan setingkat SD kebawah dan SLTP masing-masing sekitar 27,62 persen dan 20,78 persen, sedangkan sisanya 12,64 persen berpendidikan di atas SLTA. Jika dilihat dari status pekerjaannya, lebih dari sepertiga (26,34 %) penduduk yang bekerja adalah buruh atau karyawan.

Penduduk yang berusaha sendiri sebesar 17,06 persen, sedangkan penduduk yang berusaha dibantu pekerja keluarga mencapai 22,36 persen, sehingga hanya 2,28 persen penduduk yang menjadi pengusaha yang mempekerjakan buruh tetap.

35 Ibid., h. 32.

(23)

Jumlah penduduk yang merupakan angkatan kerja pada Agustus 2018 sebanyak 7,12 juta jiwa yang terdiri dari 6,73 juta jiwa terkategori bekerja dan sebesar 396 ribu jiwa terkategori pengangguran. Penduduk yang bekerja ini sebagian besar bekerja pada sektor pertanian kehutanan, perkebunan, perikanan, peternakan yaitu 35,53 persen. Sektor kedua terbesar dalam menyerap tenaga kerja di adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran yaitu sebesar 22,91 persen. Sektor lain yang cukup besar peranannya dalam menyerap tenaga kerja adalah sektor jasa kemasyarakatan yaitu sebesar 17,82 persen, sementara penduduk yang bekerja di sektor industri hanya sekitar 9,82 persen. Selebihnya bekerja di sektor penggalian dan pertambangan, sektor listrik, gas, dan air minum, sektor bangunan, sektor angkutan dan komunikasi, dan sektor keuangan.36

f. Pendidikan

Peningkatan kualitas dan partisipasi sekolah penduduk tentunya harus diimbangi dengan penyediaan sarana fisik pendidikan maupun tenaga guru yang memadai. Pada tingkat pendidikan dasar, jumlah Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada tahun 2018 ada sebanyak 10.664 unit dengan jumlah guru 112.983 orang dan murid sebanyak 1.909.024 orang. Sementara jumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsnawiyah (MTs) ada sebanyak 3.640 sekolah dengan jumlah guru 59.389 orang dan jumlah murid sebanyak 859.006 orang. Pada tahun yang sama jumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) serta Sekolah Menengah Kejurua (SMK) ada sebanyak 2.581 sekolah dengan jumlah guru dan murid masing-masing 49.326 orang dan 627.046 siswa termasuk di dalamnya.

Rasio murid SD/sederajat terhadap sekolah di Sumatera Utara secara rata-rata pada tahun 2018 sebesar 179. Rasio tertinggi terdapat di Kota Sibolga yaitu 338 murid per sekolah dan Kota Medan sebanyak 299 murid per sekolah. Sedangkan rasio terkecil terdapat di Kabupaten Samosir yaitu sebesar 99 murid per sekolah. Pada tingkat pendidikan SMP/sederajat, rasio murid terhadap sekolah adalah sebesar 258 murid per sekolah. Rasio tertinggi terdapat di Kota Pematangsiantar yaitu 424 murid untuk setiap sekolah dan yang terendah terdapat di Pakpak Bharat yaitu 113 murid untuk setiap sekolah. Sementara itu rasio murid SMA/sederajat terhadap sekolah sebesar 344 murid per sekolah. Rasio yang tertinggi terdapat di Kota Tanjungbalai yaitu 570 murid per sekolah dan terendah di Nias Selatan yaitu 184 murid untuk setiap sekolah. Perguruan Tinggi

36 Ibid. h. 74-76.

(24)

Negeri (PTN) di Sumatera Utara berjumlah 6 PTN, sedangkan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) pada tahun 2018 sebanyak 277 PTS, yang terdiri dari 36 universitas, 102 sekolah tinggi, 9 institut, 114 akademi, dan 16 politeknik.37

g. Kesehatan

Ketersediaan sarana kesehatan berupa rumah sakit merupakan faktor utama dalam menunjang perbaikan kualitas hidup. Jumlah rumah sakit yang ada di Sumatera Utara Tahun 2018 terdiri dari 49 unit rumah sakit pemerintah dan 164 unit rumah sakit swasta.

Jumlah sarana kesehatan tingkat kecamatan dan perdesaan cukup banyak di Sumatera Utara. Puskesmas di Sumatera Utara tahun 2018 berjumlah 581 unit dan Puskesmas Pembantu (PUSTU) sebanyak 1.925 unit. Sedangkan Balai Pengobatan Umum (BPU) dan Poskesdes terdapat sebanyak 6.217 unit dan Posyandu ada 15.580 unit. Tenaga medis di Sumatera Utara jumlahnya terus meningkat setiap tahunnya. Jumlah dokter umum di Sumatera Utara tahun 2018 sebanyak 2.455 orang, dokter gigi 701 orang dan dokter spesialis sebanyak 1.629 orang. Sedangkan tenaga medis bidan berjumlah 17.528 orang dan perawat sebanyak 17.402 orang.38

h. Agama

Sesuai dengan falsafah negara, pelayanan kehidupan beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan untuk membina kehidupan masyarakat dan mengatasi berbagai masalah sosial budaya yang mungkin dapat menghambat kemajuan bangsa. Banyaknya pernikahan khususnya untuk penduduk yang beragama Islam pada tahun 2018 mencapai masing 87.954 pasangan.

Sarana ibadah umat beragama juga mengalami kenaikan setiap tahun. Pada tahun 2017 jumlah mesjid di Sumatera Utara terdapat sebanyak 10.834 unit, langgar/musollah sebanyak 6.235 unit, Gereja Protestan 12.374 unit, Gereja Katolik 2.138 unit, Kuil 83 unit, Vihara 28 unit dan Klenteng 367 unit.39

37 bid. h., 130-131.

38 Ibid. h., 131-132.

39 Ibid. h., 137.

(25)

C. Gambaran Umum COVID-19 1. Sejarah Munculnya COVID-19

Pada awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan menyebarnya virus baru yaitu coronavirus jenis baru, yang merupakan salah satu jenis virus yang masih berkerabat dengan virus penyebab SARS. Virus ini ditemukan pertama kali di Kota Wuhan China, tepatnya di ibukota Hubei, China Tengah. Pada awal Desember 2019 seorang pasien didiagnosa menderita pneumonia yang tidak biasa, dan pada tanggal 31 Desember kantor Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Beijing telah menerima pemberitahuan tentang sekelompok pasien dengan pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya dari kota yang sama. World Health Organization memberi nama virus tersebut sebagai Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) dan nama penyakitnya disebut Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) (WHO, 2020).

Menyebarnya virus corona yang sangat cepat bahkan mencapai skala Internasional sehingga disebut sebagai pandemik Covid-19, membuat dunia resah termasuk di Indonesia. Coronavirus ini merupakan jenis virus baru, sehingga banyak pihak yang tidak tahu bahkan tidak mengerti cara menanggulangi virus tersebut (Telaumbanua, 2020). Di Indonesia sendiri dalam pencegahan penularan Covid-19 diambil kebijakan social distancing atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di tiap-tiap daerah sebagai langkah awal untuk menanggulangi pandemic ini.

Penyebaran virus corona di Indonesia terbilang cukup cepat, data terakhir yang didapat dari situs https://covid19.go.id untuk periode 10 Oktober 2021, sebanyak 4.237.834 kasus pasien positif, 4.079.120 kasus pasien sembuh dan 143.120 kasus pasien meninggal. Diketahui bahwasanya virus corona terdeteksi di Indonesia sebagai kasus pertama pada tanggal 2 Maret 2020, berita ini diumumkan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Dua warga Negara Indonesia yang berstatus positif tersebut ternyata sempat melakukan kontak dengan warga Jepang yang datang ke-Indonesia.

(Litbang KOMPAS, 2020).

Dalam kondisi saat ini, virus corona bukanlah suatu wabah yang bisa diabaikan atau bahkan diremehkan begitu saja. Jika dilihat dari gejalanya, orang awam akan mengira hanya sebatas influenza biasa, tetapi menurut analisis kedokteran virus ini cukup berbahaya dan mematikan. Terbukti dari data-data yang bisa didapatkan dari situs resmi

(26)

Covid-19 bahwasanya perkembangan penularan virus ini cukup signifikan dan sudah menyebar hampir di seluruh daerah di Indonesia, khusunya di Provinsi Sumatera Utara. Di Sumatera Utara ada beberapa wilayah yang termasuk ke dalam Zona Merah, kota Medan adalah salah satu kota yang terkonfirmasi paling besar tingkat penyebaran virus ini data terakhir tanggal 21 Oktober konfirmasi positih adalah 47.911, Sembuh 46.808 dan meninggal 914, hal ini di disebabkan cepatnya penularan virus corona ini.

Coronavirus merupakan virus RNA strain tunggal positif, berkapsul dan tidak bersegmen. Coronavirus tergolong ordo Nidovirales, keluarga Coronaviridae. Struktur coronavirus membentuk struktur seperti kubus dengan protein S berlokasi di permukaan virus. Protein S atau spike protein merupakan salah satu protein antigen utama virus dan merupakan struktur utama untuk penulisan gen. Protein S ini berperan dalam penempelan dan masuknya virus ke dalam sel host (interaksi protein S dengan respektronya di sel inang) (Wang, 2020). Coronavirus bersifat sensitif terhadap panas dan secara efektif dapat dinonaktifkan oleh disenfektan mengandung klorin, pelarut lipid dengan suhu 56 °C selama 30 menit, eter, alcohol, asam perioksiasetat, detergen non-ionik, formalin, oxidizing agent dan kloroform. Klorheksidin tidak efektif dalam menonaktifkan virus (Korsman, 2012).

Coronavirus disebut dengan virus zoonotic yaitu virus yang ditransmisikan dari hewan ke manusia. Banyak hewan liar yang dapat membawa pathogen dan bertindak sebagai vector untuk penyakit menular tertentu. Kelelawar, tikus bambu, unta dan musang merupakan host yang biasa ditemukan untuk Coronavirus. Coronavirus hanya bisa memperbanyak diri melalui sel host-nya.

Virus tidak bisa hidup tanpa sel host. Setelah terjadi transmisi, virus masuk ke saluran napas atas kemudian bereplikasi di sel epitel saluran napas atas (melakukan siklus hidupnya). Setelah itu menyebar ke saluran napas bawah. Masa inkubasi virus sampai muncul penyakit sekitar 3-7 hari.

Infeksi COVID-19 dapat menimbulkan gejala ringan, sedang atau berat. Gejala klinis utama yang muncul yaitu demam (suhu > 38 °C), batuk, kesulitan bernapas. Selain itu dapat desertai dengan sesak memberat, fatigue, mialgia, gejala gastrointestinal seperti diare dan gejala saluran napas lain. Setengah dari pasien timbul sesak dalam satu minggu.

Pada kasus berat perburukan secara cepat dan progresif. Pada beberapa pasien, gejala yang

(27)

muncul ringan, bahkan tidak disertai dengan demam. Kebanyakan pasien memiliki prognosis baik, dengan sebagian kecil dalam kondisi kritis bahkan meninggal.40

2. Penyebaran Covid-19 di Indonesia

Covid-19 merupakan virus yang berasal dari china dan dapat menular antar satu orang ke orang lain, virus ini muncul pada akhir tahun 2019 dan menyebar hingga ke berbagai negara di dunia dengan beberapa gejala yaitu demam, batuk, hilangnya daya perasa, hilangnya daya penciuman (anosmia) dan yang paling berat adalah sesak napas.41 Kemunculan virus Covid-19 di Indonesia setidaknya memberikan dampak pada 3 aspek kehidupan yaitu aspek ekonomi, aspek pendidikan dan aspek sosial khususnya dalam kehidupan keberagamaan.

Dampak tersebut mengakibatkan transformasi besar pada kegiatan sehari hari masyarakat seperti pada pelaksanaan ibadah masyarakat islam dan lain lain yang lebih mengutamakan keselamatan jiwa raga manusia. Tak hanya itu, demi mencapai tujuan keselamatan jiwa manusia dan demi memutus rantai penyebaran virus tersebut pemerintah memberlakukan aturan aturan baru seperti sosial distancing, pembatasan sosial berskala besar (PSBB), lock down dan kebijakan terkait protokol kesehatan yang kemudian menimbulkan pro kontra antar masyarakat. Sebagian besar masyarakat mematuhi aturan aturan tersebut namun tidak sedikit pula yang menolak serta enggan mematuhinya dengan alasan pemerintah membatasi ruang gerak masyarakat dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari, dalam menyikapi hal tersebut pemerintah akhirnya bangkit dan merumuskan program New Normal sebagai upaya adaptasi masyarakat terhadap keadaan saat ini dan juga sebagai upaya dalam menuju tatanan kebiasaan hidup yang baru pada segala aspek kehidupan termasuk pada aspek ibadah masyarakat muslim.42

3. Penyebaran Covid-19 di Sumatera Utara

Hingga tanggal 25 Oktober 2021, Provinsi Sumatera Utara telah melaporkan 47.955 kasus terkonfirmasi COVID-19. Dari jumlah tersebut, 916 orang telah meninggal

40 Widya Rahmadani, Sagita Charolina Sihombing, Analisis Penyebaran Virus Covid-19 di Provinsi Sumatera Selatan Menggunakan Metode Interpolasi Lagrange, Jurnal Penelitian Fisika dan Terapannya Vol. 2, 01 Juli 2020.(http://jurnal.univpgripalembang.ac.id/index.php/Jupiter)

41 Matdio.Siahaan, Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Dunia Pendidikan, Jurnal Kajian Ilmiah, Edisi Khusus No 1 (2020), 2

42 Try Bunga Firma, Normal Baru Dalam Praktik Keagamaan Islam Pada Masa Pendemi Di Kota Padang, Jurnal Al Adyan Journal Of Religious Studies 1, No. 2 (2020), 155

(28)

dunia, sementara 46.884 orang telah pulih dari penyakit ini, dan 115 orang masih dalam perawatan.43 Grafik perkembangan akumulasi kasus COVID-19 di Provinsi Sumatera Utara sejak dimulainya pandemi hingga hari ini, Jumat (9/9/2022), dapat digambarkan sebagai berikut:

Kota Medan merupakan kota dengan jumlah kasus konfirmasi tertinggi di seluruh Provinsi Sumatera Utara yaitu 75.092 orang, sedangkan Kabupaten Deli Serdang menjadi kabupaten dengan angka kasus konfirmasi terbanyak di Provinsi Sumatera Utara yaitu 8.874 kasus. Kota Medan juga menjadi kota dengan jumlah meninggal tertinggi di seluruh Provinsi Sumatera Utara yaitu 1.034 pasien, sedangkan Kabupaten Serdang Bedagai merupakan kabupaten dengan jumlah meninggal terbanyak di seluruh Provinsi

43 https://covid19.pemkomedan.go.id

(29)

Sumatera Utara yaitu 258 orang. Terdapat sepuluh kota dan kabupaten dengan jumlah kasus konfirmasi positif virus corona tertinggi di seluruh Provinsi Sumatera Utara, seperti di bawah ini.

Kasus Kumulatif Covid-19 Menurut Kabupaten/Kota, 202144 Kabupaten/Kota Kasus

Konfirmas i

Kasus Sembuh

Angka Kesembuha

n (%)

Kasus Meninggal

Angka Kematian

(%)

1 N i a s 243 237 97,53 4 1,65

2 Mandailing Natal 688 661 96,08 27 3,92

3 Tapanuli Selatan 800 771 96,38 28 3,5

4 Tapanuli Tengah 944 893 94,6 51 5,4

5 Tapanuli Utara 1 865 1 832 98,23 33 1,77

6 Toba 1 426 1 388 97,34 38 2,66

7 Labuhanbatu 1 790 1 716 95,87 73 4,08

8 A s a h a n 2 408 2 230 92,61 173 7,18

9 Simalungun 3 153 2 946 93,43 191 6,06

1 0

D a i r i 1 989 1 900 95,53 89 4,47

1 1

K a r o 1 993 1 952 97,94 37 1,86

1 2

Deli Serdang 15 750 15 326 97,31 410 2,6

1 3

L a n g k a t 2 243 2 136 95,23 107 4,77

1 4

Nias Selatan 190 190 100 0 0

1 5

Humbang Hasundutan 503 480 95,43 23 4,57

1 6

Pakpak Bharat 330 320 96,97 10 3,03

1 7

Samosir 1 386 1 350 97,4 36 2,6

1 8

Serdang Bedagai 2 376 2 303 96,93 73 3,07

1 9

Batu Bara 1 492 1 418 95,04 74 4,96

44 Kasus merupakan akumulasi sejak kasus covid-19 masuk ke Indonesia sampai dengan 31 Desember 2021, Tidak dilakukan perhitungan karena tidak menggambarkan wilayah tertentu

Referensi

Dokumen terkait

Penerbitan buku ini dimaksudkan untuk memasyarakatkan hasil kerja Majelis Ulama Indonesia sebagai wadah musyawarah para ulama, zu'ama, dan cendekiawan muslim dalam mengkaji

Sementara itu dalam pandangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Wilayah Sumatera Utara selama ini bahwa aliran-aliran kepercayaan yang ada ini tidak memenuhi

Bab lV: Hasil penelitian dan pembahasan tentang, kepemimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan dalam pembinaan umat Islam. Bab V: Penutup yang terdiri dari kesimpulan

Asuransi Jiwa Perspektif Lajnah Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM-NU) dan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) (Studi tentang Karakteristik

Hasil dari pengumpulan pendapat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara adalah: bahwa memberi ucapan melalui karangan bunga hukumnya boleh karena

Selain pendapat Imam az-Zuhrī di atas, pendapat lain yang digunakan oleh MUI adalah pendapat mutaqaddimin dari ulama mazhab Hanafi, yang membolehkan wakaf uang dinar dan

Dewan Syariah Nasional (DSN) dibentuk oleh MUI pada 10 Februari 1999 sesuai dengan Surat Keputusan Majelis Ulama Indonesia Nomor: Kep-754/MUI/ II/1999. Dibentuknya DSN ini adalah

4 Tidak berhenti itu, keberadaaan berbagai fatwa MUI sejak terjadinya wabah Covid-19 juga tidak sedikit menerima pertentangan dari umat Islam sendiri.5 Padahal sebagai produk ijtihad