• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah tradisi studi Islam pdf

N/A
N/A
Ipung Ferayanti

Academic year: 2024

Membagikan "Sejarah tradisi studi Islam pdf"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Agama Islam merupakan objek studi sarjana barat, bahkan Islam sudah menjadi karir sarjana barat yang melahirkan orientalis dan Islamolog barat dalam jumlah yang besar. Sarjana barat menaruh perhatian yang besar dalam studi Islam karena mereka mamandang Islam bukan sekedar agama tetapi juga merupakan sumber peradaban dan kekuatan sosial, politik dan kebudayaan yang patut diperhitungkan.1

Sebagai agama, Islam adalah ajaran monoteisme yang luhur, tetapi sebagai system social, Islam telah gagal total, islam membiarkan wanita dalam posisi serba rendah. Ia menyatukan agama dan hokum ke dalam system yang tidak bisa di pisahkan dan tidak bisa diubah, sehingga tidak elastisitas terhadap sistem sosial.2 Islam mengizinkan perbudakan dan secara umum cenderung tidak toleran dengan agama lain. Islam tidak merangsang pengembangan kekuatan berpikir rasional. Dengan demikian kaum muslim tidak memiliki harapan untuk mengatur diri atau memperbaharui mereka sendiri.

Pada masyarakat mekanis, semua peran atau fungsi manusia diturunkan dari satu generasi kepada generasi lainnya dengan mengusahakan agar tidak terjadi perubahan yang drastis. Namun pada masyarakat organis, para manusianya tidak lagi hanya meneruskan sesuatu (perintah, larangan, hukum dan lain-lain) dari generasi sebelumnya tanpa adanya tinjauan kritis.

Pada masyarakat ini sikap inovatif menjadi suatu “hambatan” tersendiri bagi pemahaman agama yang menurut Durkheim cenderung kepada sesuatu yang statis dan sulit untuk berubah.

1 Dadan Rusmana, Al-Qur’an dan Hegemoni Wacana Islamologi Barat, (Bandung:

Pustaka Setia, cet I, 2006), h. 84.

2 Muhaimin, Abdul Mujib, Jusuf Mudzakkir, Kawasan dan Wawasan Studi Islam, diedit oleh Marno (Jakarta: Kencana, 2005), h. 1.

(2)

B. Rumusan Masalah

1. Apakah yang menjadi batasan studi Islam?

2. Bagaimana sejarah dan tradisi studi Islam?

3. Apakah ruang lingkup studi Islam?

C. Tujuan penulisan

1. Untuk lebih memahami mengenai Islamic studies 2. Untuk lebih memahami mengenai tradisi studi islam 3. Mengetahui ruang lingkup studi islam

(3)

BAB II PEMBAHASAN

A. Batasan studi islam

Ketika umat Islam berada dalam problem ketidakberdayaan dan keterbelakangan yang total, hanya satu yang bisa dibanggakan, yaitu teks suci itu. Pilihannya adalah apakah teks suci itu harus ditinggalkan atau bagaimana?

Bukankah orang lain bisa bangkit tanpa teks, walaupun sebenarnya modernisme barat pun sebetulnya merujuk pada teks Yunani kuno sebagai acuan pengembangan dan penyesuaiannya.” (Masdar F.Mas’udi)

Islam sebagai ajaran menjadi topik yang menarik dikaji, baik oleh kalangan intelektual muslim sendiri maupun sarjana-sarjana barat, mulai tradisi orientalis sampai dengan Islamolog (ahli pengkaji keislaman).

Pendekatan yang dikaji di sini merupakan pendekatan yang telah digunakan oleh para orientalis sebagai outsider (pengkaji dari luar penganut Islam) dan insider (pengkaji dari kalangan muslim sendiri). Pada tahap awal, kajian keislaman dikalangan intelektual muslim lebih mengutamakan pola transmisi, sementara kajian keislaman orientalis lebih mengedepankan kajian kritis atas ajaran, masyarakat, dan institusi yang ada di dunia Islam.3

Kajian keislaman lebih merupakan usaha kritis terhadap teks, sejarah, doktrin, pemikiran dan institusi keislaman dengan menggunakan pendekatan- pendekatan tertentu yang secara popular di kalangan akademik dianggap ilmiah. Menurut Jacques Waardenburg dalam bukunya yang berjudul Islamic Studies dikatakan bahwa Studi Islam adalah kajian tentang agama Islam dan aspek-aspek dari kebudayaan dan masyarakat muslim. Berbeda dengan kajian yang biasa dilakukan dalam perspektif pemeluk Islam pada umumnya, Islamic Studies menurutnya tidak bersifat normatif. Dalam hal ini, Islam dipandang sebagai ajaran suatu agama yang sudah membentuk komunitas dan budaya, dilepaskan dari keimanan dan kepercayaan. Dengan demikian, Islamic Studies

3 Abdul Basith Junaidi, (et,al), Islam dalam Berbagai Pembacaan Kontemporer, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet I, 2009), h. 253

(4)

menjadi kajian kritis dan menggunakan analisis yang bebas sebagaimana berlaku dalam tradisi ilmiah tanpa beban teologis atas ajaran dan fenomena keagamaan yang dikajinya. Sayyed Hossen Nasr mengatakan dalam bukunya yang berjudul Islamic Studies: Essays on Law and Society, the Sciences, and Philosophy and Sufism : “Islam bukan hanya sekedar sebuah agama dalam pengertian yang biasa, tetapi juga sebuah kerangka sosial politik, pandangan keduniaan, dan pandangan hidup, yang mencakup semua aspek fisik, mental, dan spiritual manusia. Islam lebih jauh lagi merupakan sebuah tradisi yang walaupun esensinya bersifat tunggal, meliputi berbagai pengertian dan derajat pelaksanaan.” Berdasarkan paparan di atas, pada dasarnya Islamic studies adalah tradisi kajian Islam yang dikembangkan atas dasar kecenderungan ilmiah modern ala barat, khususnya dalam lapangan ilmu sosial dan kemanusiaan.

B. Sejarah Tradisi studi Islam

Pendidikan Islam pada zaman permulaan Islam dilaksanakan di masjid-masjid. Mahmud Yunus menjelaskan bahwa pusat-pusat studi Islam klasik adalah Mekkah dan Madinah (Hijaz), Basrah dan Kufah (Irak), Damaskus dan Palestina (Syam), dan Fistat (Mesir). Madrasah Mekkah dipelopori oleh Muadz bin Jabal; madrasah Madinah dipelopori oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman; madrasah Basrah dipelopori oleh Abu Musa al Asy’ari dan Anas bin Malik; madrasah Kufah dipelopori oleh Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud; madrasah Damaskus dipelopori oleh Ubadah dan Abu Darda; sedangkan madrasah Fistat dipelopori oleh Abdullah bin Amr bin ‘Ash.4

Tradisi kajian keislaman ala barat berakar pada sejarah yang sangat panjang, paling tidak sejauh hubungan Kristen dengan Islam. Tidak bisa dielakan bahwa sebab utama dari pertumbuhan kajian keislaman itu adalah alasan teologis untuk menunjukan dan mempertahankan keabsahan ajaran Kristen, dibanding dengan Islam. Islamic studies (kajian Islam) mulai

4 Syamsul Arifin, Agus Purwadi, Khoirul Habib, Spiritualitas Islam dan Peradaban Masa Depan (Yogyakarta: SIPRESS, 1996), h. 85.

(5)

berkembang pada abad ke-19 sebagai bagian dari kajian masalah ketimuran.

Berdasarkan perkembangan kajian keislaman ala barat dapat diidentifikasikan ke dalam 3 tahap :

1. Tahap teologis

Tidak dapat dipungkiri bahwa agama Islam merupakan agama yang yang sangat cepat perkembangannya pada masa awal Islam. Inilah yang kemudian menimbulkan reaksi dari kalangan pemeluk agama lain, termasuk Kristen, sebagai agama yang ada lebih dahulu. Adalah seorang teolog Kristen bernama St. John asal Damaskus pada masa dinasti Umayyah yang mengemban amanat untuk mempelajari Islam baik dari sisi Alquran sebagai sumber utama Islam maupun sumber-sumber lain.

Usahanya didukung dengan kemampuannya berbahasa arab dan bahasa Yunani serta keluasan penguasa Islam pada masa itu yang memberi ruang terbuka bagi perdebatan teologis. Hasilnya, St. John menganggap Islam sebagai ‘agama yang mengandung seribu satu ajaran murtad.’

Karakteristik studi Islam yang diwakili oleh St. John nampak masih tetap kuat hingga beberapa abad kemudian.5

2. Tahap politis

Tahap politik dimulai pada abad ke-12 ketika usaha studi Islam dilakukan lebih serius dengan tujuan misionaris. Tujuannya ialah, menghadapi peradaban Islam dengan cara penerjemahan Alquran dan teks- teks Muslim lainnya. Disebabkan oleh kuatnya pengaruh studi Islam pada masa awal, tahapan ini juga masih diwarnai dengan unsur teologis berupa mempertahankan keyakinan Kristen. Di antara tokoh-tokohnya adalah Peter the Venerable (1094-1156). Ia menerjemahkan teks-teks Alquran, hadis, sirah Nabi dan manuskrip-manuskrip lain. Termasuk tokoh dalam tahap ini ialah St. Thomas Aquinas yang menganggap Islam sebagai ajaran kafir.

5 Jamali Sahrodi, Metodologi Studi Islam, Menelusuri Jejak Historis Kajian Islam ala Sarjana Orientalis, (Bandung, CV. Pustaka Setia, 2008), h. 44.

(6)

Pada tahapan ini, Islam dikaji lebih serius. Tidak hanya hal-hal yang bersifat teologis, pada tahapan ini juga banyak dikaji karya-karya sains Islam yang ditelurkan oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim. Di antara karya-karya ilmuwan Islam yang banyak dikaji dunia Barat saat itu antara lain karya Ibnu Sina Al Qanun fi At-Tibb misalnya, menjadi rujukan paling penting ilmu kedokteran di Eropa selama lebih dari tiga abad. Begitu juga buku penting Ibn Rusyd, Fasl Al Maqal, menjadi rujukan kaum tercerahkan di Eropa, untuk menghadapi dominasi gereja. Bahkan Ibnu Rusyd diakui sebagai komentator pemikiran Aristoteles yang paling menyeluruh melalui karya beliau Tahafut al-Tahafut.

Kemudian pada abad ke-16, studi Islam diwarnai oleh situasi politik yang sangat kompleks yaitu ketika terjadi gerakan Reformasi Eropa. Di antaranya pertentangan antara Kristen Katholik dan Protestan.

Studi terhadap Islam saat itu dijadikan sebagai perantara dan argumen untuk saling menyalahkan di antara mereka sendiri. Sebagai contoh seorang tokoh Protestan bernama Mathew Sutcliff menggunakan Islam sebagai titik perbandingan untuk menyerang Katholik. Sebaliknya Humphrey Prideaux, seorang sarjana bahasa Arab di Inggris membela ajaran Katholik dengan jalan memperbandingkannya dengan Islam Dan pada abad ke-18, studi Islam di Barat diwarnai dengan upaya berbentuk polemik teologis sebagai reaksi Kristen terhadap pesatnya perkembangan agama Islam ketika itu.6

3. Tahap scientific

Studi Islam tahap saintifik dimulai pada abad ke-19, yaitu ketika sikap kalangan Kristen dalam studi Islam mulai dihubung-hubungkan dengan kesesuaian agama Islam terhadap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Ketika itu, kekuasaan Islam mengalami penurunan drastis.

Hampir seluruh kekuasaan Bani Utsmaniyyah berada dalam kontrol kolonialisme bangsa-bangsa Barat. Studi Islam pada masa itu diwujudkan dalam bentuk kajian masalah-masalah ketimuran (oriental studies).

6 Jamali Sahrodi dalam Metodologi Studi Islam, 45-48

(7)

Kemunculan kajian keislaman dalam tradisi barat dimulai dari kalangan gereja. Kajian keislaman oleh St.John memperlihatkan sikap teologisnya sebagai seorang Kristen yang menganggap Islam sebagai ajaran murtad (Christian heresy), seperti tertulis dalam karyanya yang berjudul The Fount of Knowledge. Tokoh Kristen lainnya yang mendalami kajian keislaman adalah Peter the Venerable dan Robert of Ketton yang menerjemahkan teks- teks al-Qur’an, hadist, sejarah nabi dan manuskrip arab lainnya. Tokoh penting lainnya adalah St.Thomas Aquinas yang mengklasifikasikan dalam ajaran kafir (unbelief ).

Memasuki abad ke 12 telah terjadi sedikit perubahan dalam memperkenalkan kajian keislaman yang tidak lagi didominasi pandangan teologis namun pandangan atau dimensi lain. Pada abad ke-13 karya-karya pemikir Islam seperti filsuf Ibnu Sina telah banyak diterjemahkan dan menjadi rujukan dunia barat. Begitu pula pada abad berikutnya komentar-komentar Ibnu Rusyd tentang pemikiran Aristoteles telah dijadikan rujukan kaum orientalis, bahkan Ibnu Rusyd mendapat julukan “The commentator” atau sang komentator, berkaitan dengan analisa tajamnya terhadap pemikiranAristoteles.

C. Ruang Lingkup studi Islam

Pembahasan studi keislaman mengikuti wawasan dan keahlian para pengkajinya, sehingga terkesan ada nuansa kajian mengikuti selera pengkajinya. Secara material, ruang lingkup kajian keislaman dalam tradisi barat meliputi pembahasanmengenai ajaran, doktrin, pemikiran,teks, sejarah dan institusi keislaman. Pada awalnya ketertarikansarjana barat terhadap pemikiran Islam lebih karena kebutuhan akan penguasaan daerah koloni.

Mengingat daerah koloni pada umumnya adalah negara-negara yang banyak didiami warga muslim, sehingga mau tidak mau mereka harus memahami tentang budaya local. Contoh kasus dapat dilihat pada perang Aceh, dimana Snouck Hurgronje telahmempelajari Islam terlebih dahulu sebelum diterjunkan di lokasi dengan asumsi ia telah memahami budaya dan

(8)

peradaban masyarakat Aceh yang mayoritas beragama Islam. Islam dipelajari oleh Hurgronje dari sisi landasan normatif maupun praktik bagi para pemeluknya, kemudian dibuatlah rekomendasi kepada para penguasa colonial untuk membuat kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan umat Islam.

Setelah mengalami keterpurukan, dunia Islam mulai bangkit melalui para pembaru yang telah tercerahkan. Dari kelompok ini munculah gagasan agar umat Islam mengejar ketertinggalannya dari dunia barat. Muhammad Abduh (1849-1905) pemikir dari Mesir, menghembuskan ide-ide pembaharuan di dunia Islam.

Pemikiran Abduh diilhami oleh pemikiran gurunya, Jamaludin al- Afghani (1838-1897) seorang pemikir di bidang politik. Namun dalam skala global sebenarnya pemikiran para pembaharu Mesir diawali oleh pemikir besar sebelumnya, yaitu Rifa’ah al-Thathawi (1801-1873).

Peran Islam Dalam Kehidupan Manusia Islam sebagai sebuah agama telah memberikan peran yang cukup signifikan, tidak hanya apa yang diajarkan Islam ke seluruh manusia tetapi juga terhadap proses kehidupan dari manusia itu sendiri. Kelompok manusia yang kerap disebut masyarakat, menurut pendapat Emile Durkheim, seorang sosiolog dari Perancis dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu :

1. Masyarakat mekanis (pra industri);

2. Masyrakat organis (modern).

Pada masyarakat mekanis, semua peran atau fungsi manusia diturunkan dari satu generasi kepada generasi lainnya dengan mengusahakan agar tidak terjadi perubahan yang drastis. Namun pada masyarakat organis, para manusianya tidak lagi hanya meneruskan sesuatu (perintah, larangan, hukum dan lain-lain) dari generasi sebelumnya tanpa adanya tinjauan kritis.

Pada masyarakat ini sikap inovatif menjadi suatu “hambatan” tersendiri bagi pemahaman agama yang menurut Durkheim cenderung kepada sesuatu yang statis dan sulit untuk berubah. Pembagian 2 kategori di atas, setidaknya mewakili pemahaman sempit dan kerdil dari para ilmuwan barat yang justru

(9)

memandang Islam sebagai suatu agama yang lebih menghendaki adanya

“status quo”.

Mungkin pemahaman kerdil inilah yang menjadi salah satu alasan dari ungkapan Ernest Renan, 1862 : “Islam merupakan pengingkaran total terhadap Eropa….. Islam merupakan penghinaan terhadap ilmu pengetahuan, penindasan terhadap civil society; Islam adalah bentuk kesederhanaan spirit bangsa Semit (Yahudi) yang mengerikan, membatasi pemikiran manusia, menutupnya terhadap ide-ide yang sulit, sentiment yang beradab, dan penelitian rasional, untuk membuatnya tetap menghadapi sebuah tautology yang abadi : Tuhan adalah Tuhan”. Hal senada diungkapkan pula oleh Lord Cromer dalam Modern Egypt : “Sebagai agama Islam adalah ajaran monoteisme yang luhur, tetapi sebagai sebuah sistem sosial, Islam telah gagal total. Islam membiarkan wanitadalam posisi serba rendah. Ia menyatukan agama dan hukum ke dalam sistem yang tidak bisa dipisahkan dan tidak bisa diubah, sehingga tidak ada elastisitas terhadap sistem sosial. Islam mengizinkan perbudakan dan secara umum cenderung tidak toleran dengan agama lain. Islam tidak merangsang pengembangan kekuatan berfikir rasional.

Dengan demikian kaum muslim tidak memiliki harapan untuk mengatur diri atau memperbaharui mereka sendiri”. Dua pendapat di atas sesungguhnya adalah sebuah “kenyataan” yang senantiasa diangkat oleh para masyarakat yang anti terhadap Islam. Sebagai muslim, wajib hukumnya bagi kita semua untuk dapat mematahkan anggapan tersebut, tentunya dengan argumentasi yang dapat dipertanggung jawabkan secara rasional maupun akademik. Dalam konteks pembahasan peran atau fungsi, maka prinsip teori fungsional menyatakan bahwa segala sesuatu yang tidak berfungsi atau berperan akan lenyap dengan sendirinya. Dengan kata lain, setiap agama memiliki fungsi. Konsekuensinya, setiap yang tidak berfungsi atau berperan akan hilang atau sirna. Karena sejak dulu hingga sekarang agama dengan tangguh menyatakan eksistensinya, berarti agama mempunyai dan memerankan sejumlah peran dan fungsi di masyarakat. Perintah yang sangat mendasar yang terdapat dalam ajaran Islam adalah mengesakan Tuhan dan

(10)

larangan untuk melakukan syirik. Tauhid dan syirik adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan meskipun keduanya sangat berbeda. Dalam Surat al Ikhlas disebutkan tentang persoalan ketauhidan :

    

  

   



     

1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Sedangkan berkaitan dengan persoalan larangan untuk syirik dapat ditemukan dalam surat Luqman ayat 13

        

      

13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Perintah mengesakan Tuhan mengandung arti bahwa manusia hanya boleh tunduk kepada Tuhan.Dan oleh karenanya manusia dijadikan khalifah di bumi dan seluruh alam ditundukan oleh Allah SWT untuk manusia sebagaimana tercantum dalam surat Ibrahim sebagai berikut :

       

         

       

 

     

    

32. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu,berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.

33. dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan

(11)

untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah- Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (Nya).

Firman Allah SWT di atas menunjukan bahwa bumi, langit, laut, serta segala yang ada di bumi, langit serta laut telah ditundukan oleh Allah SWt untukkepentingan manusia. Dengan demikian apabila manusia tunduk kepada alam, maka sesungguhnya manusia telah menyalahi fungsinya, yakni menyembah atau hanya tunduk kepada Allah SWT. Konsekuensi dari tauhid adalah bahwa manusia harus menguasai alam dan haram tunduk kepada alam.

Menguasai alam berarti menguasai hokum alam; dan dari hukum alam ini ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan. Sebaliknya syirik berarti tunduk kepada alam sehingga akan berakibat lahirnya kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Jadi terdapat hubungan timbal balik antara tauhid dengan dorongan pengembangan ilmu pengetahuan dan juga adanya hubungan timbal balik antara syirik dengan kebodohan. Dengan demikian sumbangan atau peran Islam dalam kehidupan manusia adalah terbentuknya suatu komunitas yang berkecenderungan prosresif atau inovatif, yaitu suatu komunitas yang dapat mengendalikan, memelihara, dan mengembangkan kehidupan melalui pengembangan ilmu dan sains.

Menurut Nurcholis Majid ilmu adalah hasil pelaksanaan perintah Tuhan untuk memperhatikan dan memahami alam raya ciptaanNya sebagai manifestasi tau penyingkapan tabir akan rahasia Nya. Untuk kepentingan analisis, tanda-tanda atau rahasia Tuhan dapat dibedakan menjadi 3, yaitu : 1. Jagad raya. Untuk dapat menyingkap rahasia Allah SWT melalui tanda ini

maka manusia harus menggunakan perangkat berupa ilmu fisik, seperti ilmu fisika, kimia, geografi, geologi, astronomi atau falak.

2. Manusia. Untuk dapat menyingkap rahasia melalui tanda ini maka manusia nya itu sendiri harus menguasai ilmu yang berkenaan dengan fisik, seperti ilmu biologi, dan kedokteran, serta psikis seperti ilmu psikologi.

(12)

3. Wahyu. Untuk menyingkap tabir rahasia melalui tanda ini, maka manusia memunculkan ilmu-ilmu keagamaan seperti ‘ulum al Qur’an, ‘ulum al Hadits, tafsir, fikih, ilmu kalam dan tasawuf. Paradigma ini sekaligus merupakan jawaban terhadap anggapan dari para ilmuwan barat yang cenderung berasumsi bahwa Islam akan sulit diterima pada masyarakat modern (organis). Justru sesungguhnya Islam sangat berhubungan dengan segala aspek perubahan, dalam hal ini perkembangan ilmu pengetahuan.

Beberapa contoh konkrit yang dapat dijadikan rujukan bahwa Islam, yang diwakili oleh para pemeluknya (muslim) telah lama bergaul erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti :

1. Ilmu matematika, yang dipelopori oleh al Khawarizmi dengan karyanya ilmu hitung dan aljabar. Nama al Khawarizmi di transfer dalam bahasa latin menjadi algorisme atau algoritme. Selain itu ada juga Umar al Khayam dan al Thusi yang pertama kali menciptakan serta memperkenalkan angka 0 sejak tahun 873 M dan baru dipergunakan oleh dunia barat pada tahun 1202 M.

2. Astronomi, yang dipelopori oleh Umar al Khayam dan al Farazi. Kalender buatan Umar al Khayam diyakini lebih tepat dibanding dengan kalender buatan Gregorius.

3. Kimia, yang dipelopori oleh Jabir bin Hayyan dan zakaria al Razi yang sering disebut bangsa eropa dengan nama Gaber dan Rhazes.

4. Optik, yang dipelopori oleh Ibnu Haitsam yang mematahkan teori yang dikemukakan oleh Euklid dan Ptolomeus. Kedigjayaan cendikiawan muslim di atas tidak hanya menjadi kenangan tentang kejayaan Islam di masa lalu. Satu hal yang paling penting adalah pemahaman bahwa Islam identik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga tidak ada dikotomi antara ilmu agama an sich dengan ilmu non agama, karena pada kenyataannya pada masa lalu tokoh-tokoh ilmuwan Islam adalah mereka yang mafhum tentang ilmu agama.

(13)

BAB III KESIMPULAN

Studi Islam ialah suatu upaya untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam tentang seluk beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam dari berbagai aspeknya. Dengan diadakannya studi Islam, diharapkan mampu memperbaiki pemahaman dan penghayatan keislaman masyarakat Muslim dimana saja berada.

Tradisi kajian keislaman ala barat berakar pada sejarah yang sangat panjang, paling tidak sejauh hubungan Kristen dengan Islam. Tidak bisa dielakan bahwa sebab utama dari pertumbuhan kajian keislaman itu adalah alasan teologis untuk menunjukan dan mempertahankan keabsahan ajaran Kristen, dibanding dengan Islam. Islamic studies (kajian Islam) mulai berkembang pada abad ke-19 sebagai bagian dari kajian masalah ketimuran. Berdasarkan perkembangan kajian keislaman ala barat dapat diidentifikasikan ke dalam 3 tahap : Tahap teologis, Tahap politis dan Tahap scientific.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Basith Junaidi, (et,al), Islam dalam Berbagai Pembacaan Kontemporer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet I, 2009

Dadan Rusmana, Al-Qur’an dan Hegemoni Wacana Islamologi Barat, Bandung:

Pustaka Setia, cet I, 2006

Jamali Sahrodi, Metodologi Studi Islam, Menelusuri Jejak Historis Kajian Islam ala Sarjana Orientalis, Bandung, CV. Pustaka Setia, 2008

Muhaimin, Abdul Mujib, Jusuf Mudzakkir, Kawasan dan Wawasan Studi Islam, diedit oleh Marno Jakarta: Kencana, 2005

Syamsul Arifin, Agus Purwadi, Khoirul Habib, Spiritualitas Islam dan Peradaban Masa Depan Yogyakarta: SIPRESS, 1996

Referensi

Dokumen terkait