• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKOLAH DASAR NEGERI 1 LIPAT KAJANG

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "SEKOLAH DASAR NEGERI 1 LIPAT KAJANG "

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA BONEKA TANGAN TERHADAP KETERAMPILAN MENYIMAK CERITA SISWA KELAS II

SEKOLAH DASAR NEGERI 1 LIPAT KAJANG

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat guna memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan

oleh:

RENNY SANTINA 1611080059

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

BINA BANGSA GETSEMPENA BANDA ACEH

2020

(2)
(3)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING LEMBAR PENGESAHAN

SURAT PERNYATAAN

Abstrak ... i

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi. ... iii

Daftar Tabel ... v

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 5

1.3 Pembatasan Masalah ... 7

1.4 Rumusan Masalah... 7

1.5 Tujuan Penelitian ... 8

1.6 Manfaat Penelitian ... 8

1.7 Hipotesis ... 9

BAB II LANDASAN TEORITIS

2.1 Pengertian Pengaruh ... 10

2.2 Media ... 11

2.2.1 Pengertian Media ... 11

2.2.2 Manfaat dan Fungsi Media ... 11

2.2.3 Jenis-Jenis Media ... 12

2.3 Boneka Tangan ... 13

2.3.1 Pengertian Boneka Tangan ... 13

2.3.2 Beberapa Bahan yang Bisa Digunakan untuk Membuat Boneka 2.3.3 Tangan... 15

2.3.4 Membuat Hand Puppet atau Boneka Tangan Sendiri ... 16

2.4 Keterampilan Menyimak... 21

2.4.1 Hakikat Pembelajaran Menyimak... 22

2.4.2 Tujuan Menyimak... 23

2.4.3 Manfaat Menyimak ... 24

2.4.4 Ragam Menyimak ... 26

2.4.5 Faktor yang Mempengaruhi Menyimak... 27

2.4.6 Unsur-unsur Menyimak ... 31

2.4.7 Kendala Menyimak ... 32

2.4.8 Tahap-tahap Menyimak ... 33

2.4.9 Penilaian Keterampilan Menyimak... 34

2.5 Cerita ... 35

2.5.1 Manfaat Cerita ... 36

BAB III METODE PENELITIAN

(4)

3.1 Jenis dan Desain Penelitian ... 37

3.1.1 Jenis Penelitian... 37

3.1.2 Desain Penelitian ... 37

3.2 Variabel Penelitian ... 38

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian ... 38

3.4 Populasi dan Sampel Penelitian ... 39

3.5 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data... 39

3.5.1 Teknik Pengumpulan Data... 39

3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data ... 41

3.6 Teknik Analisis Data... 41

3.6.1 Uji Normalitas... 42

3.6.2 Uji Homogenitas ... 42

3.6.3 Uji Hipotesis ... 43

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Sekolah Dasar Negeri Lipat Kajang ... 46

4.2 Pengumpulan Data ... 48

4.3 Pengolahan Data ... 48

4.3.1 Perhitungan Rata-rata dan Varians ... 49

4.3.2 Nilai Tes Siswa Kelas Eksperimen ... 51

4.3.3 Nilai Tes Siswa Kelas Kontrol... 53

4.3.4 Uji Homogenitas Varians... 54

4.3.5 Uji Normalitas Sebaran Data ... 58

4.3.6 Pengujian Hipotesis ... 60

4.4 Pembahasan...

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan ... 64

5.2 Saran ... 65 Daftar Kepustakaan

Lampiran-Lampiran

Daftar Riwayat Hidup

(5)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu alat untuk memajukan suatu bangsa.

Masyarakat memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat melalui pendidikan. Pendidikan dibutuhkan untuk mencetak generasi penerus bangsa agar memiliki kualitas, sehingga terciptalah sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu meneruskan tongkat estafet dalam pembangunan bangsa. Oleh karena itu perlu adanya suatu kesadaran dari masyarakat mengenai betapa pentingnya

pendidikan bagi masyarakat itu sendiri sebagai usaha untuk mencapai

kemakmuran hidup pada khususnya dan sebagai modal pembangunan bangsa ke depan pada umumnya. Menurut Dini (dalam jurnal) Manusia merupakan mahluk individual sekaligus mahluk sosial. Oleh karena itu, manusia harus bergaul dan berhubungan dengan manusia lain. Sebagai mahluk sosial, manusia sering memerlukan orang lain untuk memahami apa yang sedang dipikirkan, apa yang dirasakan, dan apa yang diinginkan, pemahaman terhadap pikiran, kehendak dan perasaan orang lain dapat dilakukan dengan menyimak.

Zulela (2012: 19) banyak pilihan yang menganggap bahwa menyimak merupakan keterampilan yang paling penting diantara keterampilan- keterampilan lain. Melalui aktivitas ini, siswa memperoleh kosakata yang gramatika, disamping tentunya pengucapan yang baik. Selanjutnya, Astuti menyatakan bahwa” keterampilan menyimak merupakan salah satu

keterampilan berbahasa yang sangat 1 2 penting dipelajari untuk menunjang kemampuan berbahasa yang baik. Kemampuan menyimak yang baik bisa memperlancar komunikasi karena komunikasi tidak akan berjalan dengan lancar jika pesan yang sedang diberikan atau diterima tidak dimengerti”. Dan

pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa keterampilan menyimak sangatlah perlu diberikan kepada siswa. Dengan menguasai keterampilan menyimak, maka siswa dapat memperoleh informasi dari bahan simakan. Namun dalam

(6)

pencapaian harapan tersebut, banyak hambatan atau kendala dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah pada umumnya. Seperti kenyataan yang dihadapi bahwasanya kemampuan siswa dalam menyimak, khususnya mengungkapkan kembali isi berita sangat kurang. Pada dasarnya, terdapat empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Menyimak merupakan kegiatan yang paling awal dilakukan oleh anak manusia bila dilihat dari proses pemerolehan bahasa. Menurut Haryadi dan Zamzani (2009: 19), sebelum anak dapat melakukan berbicara, membaca, apalagi menulis, kegiatan menyimaklah yang pertama kali dilakukan. Akan tetapi, dalam

pelaksanaannya di sekolah, pembelajaran dan tes menyimak kurang mendapat perhatian sebagaimana halnya kompetensi berbahasa yang lain. Rankin (Henry Guntur Tarigan, 2008: 140) menemukan bahwa penekanan pembelajaran di kelas pada sekolah-sekolah di Detroit, membaca memperoleh porsi 52%, sedangkan menyimak hanya 8%. Selain itu, berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara dengan guru Kelas II Sekolah Dasar Negeri 1 Lipat Kajang, diperoleh informasi bahwa guru belum secara khusus membelajarkan sekaligus menguji kemampuan menyimak siswa dalam satu periode tertentu, walaupun guru mengetahui 3 bahwa kemampuan menyimak sangat diperlukan untuk mengikuti berbagai pelajaran lainnya. Guru beranggapan bahwa dengan sendirinya siswa telah baik kemampuannya dalam menyimak tanpa harus diberikan pembelajaran menyimak secara khusus. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa terdapat ketidakselarasan antara persentase kegiatan menyimak yang tinggi dengan kenyataan praktik pembelajaran menyimak di sekolah. Oleh karena itu, pembelajaran menyimak di sekolah perlu diberikan perhatian secara memadai sesuai persentasenya dalam kehidupan sehari hari, salah satunya dengan membelajarkan sekaligus menguji kemampuan

menyimak siswa dalam satu periode tertentu. Berkaitan dengan kompetensi menyimak di Sekolah Dasar Negeri 1 Lipat Kajang, Standar Kompetensi Bahasa Indonesia di kelas II semester 2 pada tema Budi Pekerti di pada materi cerita malin kundang. Berdasarkan standar kompetensi tersebut, siswa

(7)

diarahkan untuk tahu dan paham terhadap isi pesan cerita yang disampaikan oleh guru. Kegiatan menyimak cerita berkaitan dengan kemampuan reseptif siswa, yakni kemampuan menerima informasi dari sumber pesan. Dalam hal ini, sumber pesan adalah cerita yang disampaikan oleh guru. Dalam kegiatan menyimak cerita, terjadi interaksi dan proses komunikasi berupa proses penyampaian pesan dari seseorang atau sumber pesan (guru) kepada penerima pesan (siswa). Kemp (Rudi Susilana dan Cepi Riyana, 2008: 2)

menggambarkan proses komunikasi sebagai berikut. Gambar 1. Proses Komunikasi menurut Kemp Source of message Message encode Destination of message Message received and decoded Channel 4 Berdasarkan gambar 1 di atas, dapat diketahui bahwa pesan berupa informasi dari sumber pesan yang dikirimkan kepada penerima pesan, diubah dalam bentuk sandi-sandi atau lambang-lambang seperti kata-kata, bunyi-bunyi, gambar, dan sebagainya.

Melalui saluran (channel) berupa media, pesan diterima oleh penerima pesan melalui indera (mata dan telinga) untuk diolah, sehingga pesan yang

disampaikan oleh penyampai pesan dapat diterima dan dipahami oleh penerima pesan. Dalam penelitian yang akan penulis laksanakan nantinya, penulis khusus membahas mengenai kemampuan siswa menerima informasi dari sumber pesan atau cerita yang telah dibacakn oleh guru sesuai dengan materi yang sedang diajarkan. Namun dalam proses komunikasi, terdapat faktor penghambat atau penghalang yang disebut dengan barrier dan noise yang menyebabkan proses komunikasi tidak berlangsung secara efektif dan efisien, sehingga pesan tidak dipahami dengan baik oleh penerima pesan.

Faktor-faktor penghambat tersebut dapat berasal dari komunikan, pesan, komunikator, maupun channel. Berdasarkan uraian tersebut, jelas tergambar bahwa media merupakan bagian dari proses komunikasi. Baik buruknya komunikasi ditunjang oleh penggunaan saluran dalam komunikasi tersebut.

Pada dasarnya pembelajaran merupakan proses komunikasi, sehingga channel yang dimaksud yaitu berupa media pembelajaran. Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2011: 6), peranan media dalam proses pembelajaran dapat

(8)

ditempatkan sebagai alat untuk memperjelas bahan pengajaran pada saat guru menyampaikan pelajaran. Dalam hal ini, media digunakan guru sebagai variasi penjelasan verbal mengenai bahan pengajaran. Pada dasarnya menyimak cerita, yakni cerita yang tidak benar-benar terjadi. Tomkins dan Hoskisson (Siti Mariana, 2014: 49) mengungkapkan bahwa jenis media 5 yang yang dapat menambah variasi pada cerita adalah dengan media gambar, papan flannel, boneka atau wayang, dan objek. Senada dengan pendapat tersebut, Sudarmadji (2010: 21) mengungkapkan bercerita dengan alat peraga dapat menggunakan media boneka tangan, boneka jari, flannel, wayang, dan lain- lain. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara di kelas II Sekolah Dasar Negeri 1 Lipat Kajang, diketahui bahwa sekolah belum memiliki media boneka tangan, namun media yang digunakan guru untuk membelajarkan menyimak cerita sebatas media gambar saja. Boneka tangan belum pernah digunakan dalam proses pembelajaran. Guru juga belum melakukan variasi pembelajaran menyimak cerita dengan media yang lain, seperti media boneka tangan. Dari hasil observasi selama ini penulis menemukan masalah, masih banyak siswa yang mengalami kesulitan ketika menyimak cerita (dalam memahami pesan yang ingin disampaikan oleh guru berdasarkan cerita yang dibacakan oleh guru) di Sekolah Dasar Negeri 1 Lipat Kajang Kecamatan Simpang Kanan Kabupaten Aceh Singkil, sehingga penulis merasa tertarik untuk mengadakan sebuah penelitian tindakan kelas yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Media Boneka Tangan Terhadap Keterampilan Menyimak Cerita Siswa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 1 Lipat Kajang”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dan dari hasil observasi, maka dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut. 1. Berdasarkan Nafri Yanti, Suhartono, dan Rio Kurniawan (jurnal), hal ini juga selaras dengan pendapat Adler (dalam Hermawan, 2012, hlm. 30) yang 6 menyatakan bahwa keterampilan komunikasi didominasi oleh 53% kemampuan menyimak, 16%

berbicara, 17% membaca, dan 14% menulis. Selain itu juga Wilt (dalam

(9)

Tarigan, 2008, hlm.12) mengatakan bahwa waktu yang digunakan orang dewasa dan anak-anak dalam menyimak, yaitu 42 % dan 58 % . Kegiatan menyimak memiliki presentase yang paling tinggi di antara keterampilan berbahasa lainnya, yakni 42%, namun penekanan pembelajaran menyimak di sekolah-sekolah di Detroit hanya sebesar 8%. 2. Guru Kelas II Sekolah Dasar Negeri 1 Lipat Kajang mengetahui bahwa kemampuan menyimak sangat diperlukan untuk mengikuti berbagai pelajaran lainnya, tetapi guru

beranggapan bahwa dengan sendirinya siswa telah baik kemampuannya dalam menyimak tanpa harus diberikan pembelajaran menyimak secara khusus. 3.

Guru Kelas II Sekolah Dasar Negeri 1 Lipat Kajang belum secara khusus membelajarkan sekaligus menguji kemampuan menyimak cerita siswa dalam satu periode tertentu. 4. Ada beberapa alternatif media pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan menyimak cerita, salah satunya adalah media boneka tangan yang dimiliki oleh sekolah. Namun, media yang digunakan guru untuk membelajarkan menyimak di Kelas II Sekolah Dasar Negeri 1 Lipat Kajang baru sebatas media gambar saja.

1.3Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, terdapat berbagai permasalahan yang perlu diselesaikan. Penelitian ini agar lebih 7 fokus dan terarah, penelitian ini dibatasi pada masalah nomor 4, yaitu ada beberapa alternatif media pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan menyimak cerita, tetapi media yang digunakan yang digunakan guru untuk membelajarkan menyimak di Kelas II Sekolah Dasar Negeri 1 Lipat Kajang baru sebatas media gambar saja. Media boneka tangan belum pernah digunakan dalam pembelajaran menyimak cerita di Kelas II Sekolah Dasar Negeri 1 Lipat Kajang pada materi menyimak cerita (dalam memahami pesan yang ingin disampaikan oleh guru berdasarkan cerita yang dibacakan oleh guru).

1.4Rumusan Masalah

Rumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat

(10)

pertanyaan-pertanyaan yang hendak dicarikan jawabannya. Rumusan masalah merupakan pernyataan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah.

Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Adakah Pengaruh Penggunaan Media Boneka Tangan Terhadap Keterampilan Menyimak Cerita Siswa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 1 Lipat Kajang?”

1.5Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian mengungkapkan sasaran yang ingin dicapai dalam penelitian. Isi dan rumusan tujuan penelitian mengacu pada isi dan rumusan masalah penelitian. Sesuai dengan rumusan masalah di atas maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Penggunaan Media Boneka Tangan Terhadap Keterampilan Menyimak Cerita Siswa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 1 Lipat Kajang.

1.6Manfaat Penelitian

Pada bagian ini ditunjukkan manfaat atau kegunaan atau pentingnya

penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Dari Proposal Skripsi ini nantinya penulis berharap bahwa tulisan ini bermanfaat untuk: 1. Untuk siswa, sebagai pembelajaran pertama dalam menyimak cerita pada materi mendengarkan dongeng dan cerita rakyat dengan menggunakan boneka tangan pada Kelas II Sekolah Dasar Negeri 1 Lipat Kajang. 2. Untuk guru, sebagai masukan agar kedepannya lebih

berusaha untuk mampu menerpkan metode pembelajaran yang lain agar siswa lebih termotivasi dalam belajar. 3. Bagi lembaga, sebagai masukan agar lebih memperhatikan cara guru dalam memberi pelajaran agar bisa meningkatkan mutu pendidikan yang lebih baik kedepannya.

1.7Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada pengaruh yang signifikan penggunaan media boneka tangan terhadap kemampuan menyimak cerita siswa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 1 Lipat Kajang.

Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)

Referensi

Dokumen terkait

Dari 6 indeks dalam IPKM 2013 selain status gizi balita, sesuai dengan kerangka teori yang digunakan maka dipilih 5 indeks untuk dihubungkan dengan prevalensi

Berdasarkan uraian tersebut, maka pemecahan masalah dalam penelitian ini yaitu menerapkan model pembelajaran Two Stay Two Stray untuk meningkatkan minat belajar dan hasil