• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of UPAYA SEKOLAH DALAM MEMBINA AKHLAK PESERTA DIDIK DI SMP MUHAMMADIYAH 7 PROGRAM UNGGULAN COLOMADU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of UPAYA SEKOLAH DALAM MEMBINA AKHLAK PESERTA DIDIK DI SMP MUHAMMADIYAH 7 PROGRAM UNGGULAN COLOMADU"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

UPAYA SEKOLAH DALAM MEMBINA AKHLAK PESERTA DIDIK DI SMP MUHAMMADIYAH 7 PROGRAM

UNGGULAN COLOMADU

Abstrak

The principal is a leader in an institution, namely a school, who has full responsibility for the school he leads. One of these responsibilities is to ensure that every student does righteous deeds, in accordance with Islamic values. This study aims to look at the principal's efforts on how to cultivate morals at SMP Muhammadiyah 7 Colomadu Superior Program, in this case the teacher is always a good example for students, so that students are inspired by the akhlakul kharimah that is exemplified.

The method used in this research is through data collection techniques and interviews, which are conducted using a phenomenological qualitative approach. The object of this research is the principal, teachers, and students at the junior high school. The sources used are data from data collection and interviews. The results of this study can be seen that the principal's efforts to foster the morals of students are by creating programs, such as: internship programs, specialization classes, joint dhuha prayers, murotal activities together before learning activities and before asr prayers, Sunday morning congregation activities every two months, and tahfidz quarantine., besides that, it also provides good examples related to morals to students, and gives advice to students related to morals.

Keywords: Principal, Morals, Students

Corresponding Author:

Azzahra Dian Kusuma

Universitas Muhammadiyah Surakarta Email: [email protected] Azzahra Dian Kusuma

Universitas Muhammadiyah Surakarta [email protected]

Mohammad Zakki Azani Universitas Muhammadiyah Surakarta

[email protected] Received : 07, 2023. Accepted : 10, 2023.

Published: 10, 2023

(2)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

PENDAHULUAN

Akhlak merupakan sifat yang melakat pada diri seseorang yang digunakan untuk memberikan respon kepada sesuatu hal, yang muncul secara spontan.1 Menurut pendapat Imam Al-Ghazali selaku pakar di bidang akhlak, menurut beliau akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.2 Akhlak menurut Anis Matta adalah nilai dan pemikiran yang telah menjadi sikap mental yang mengakar dalam jiwa, kemudian tampak dalam bentuk tindakan dan perilku yang sifatnya tetap, natural atau alamiah tanpa dibuat-buat serta refleks.3 Inti dari pengertian akhlak berarti sifat yang melekat dalam diri manusia yang sifatnya mengakar pada diri manusia, muncul secara spontan ketika dibutuhkan. Dari pengertian diatas berarti akhlak beda dengan adab, adab bisa dipengaruhi oleh orang lain dan keadaan sekitar, sedangkan akhlak sudah tumbuh mengakar dalam jiwa manusia yang muncul secara spontan.

Akhlak ini menjadi sebuah perbuatan yang tercermin dalam diri seseorang dan bisa menjadi tolok ukur keimanan seseorang.4 Jadi, akhlak merupakan suatu hal yang sangat penting dalam suatu instansi-instansi yang mana memerlukan interaksi dengan orang lain, salah satunya instansi pendidikan atau yang biasa disebut sekolah, selain di instansi, dalam kehidupan sehari-hari juga sangat diperlukan adanya akhlak baik (akhlakul karimah), ketika kita berinteraksi dengan orang lain maa diperlukan suatu akhlak yang baik, karena seperti yang telah disebutkan sebelumnya, akhlak ini bisa menjadi cerminan diri seorang.5 Orang berilmu sekalipun jika akhlak nya tidak bagus akan terasa sia-sia, kebanyakan dari mereka tidak dihargai oleh orang lain, orang lain hanya mengambil ilmunya saja tidak dengan adab dan akhlaknya. Akhlak bisa dibedakan menjadi dua, yaitu akhlak mahmudah dan akhlak mazmumah.

Akhlak mahmudah merupakan semua tingkah laku yang baik (terpuji), tingkah laku atau sifat-sifat terpuji seperti jujur, bertutur kata yang baik, penyabar, disiplin, sopan dan santun dalam bertingkah laku dan lain sebagainya.

Selanjutnya akhlak mazmumah, yaitu tingkah laku tercela seperti mudah marah,

1Syarnubi et al., “Implementing Character Education in Madrasah,” Jurnal Pendidikan Islam vol 7, no. 1 (2021): 77–94.

2Sukirman, Masnun Baiti, dan Syarnubi, “Konsep Pendidikan menurut Al-Ghazali,”

Jurnal PAI Raden Fatah vol 5, no. 3 (2023): 451–69.

3Anis Matta, Membentuk Karakter Cara Islam (Jakarta: Al- I’tisom Cetakan. III, 2006).

4Syarnubi, “Guru Yang Bermoral Dalam Konteks Sosial, Budaya, Ekonomi, Hukum, dan Agama (Kajian UU No 14 Tahun 2005 Guru dan Dosen),” Jurnal PAI Raden Fatah Palembang 01, no. 02 (2019): 25.

5Syarnubi, Alimron, dan Fauzi Muhammad, “Model Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi,” CV. Insan Cendekia Palembang, 2019.

(3)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

sombong, ria, serakah, dan lain sebagainya.6 Pembinaan moral ataupun agama yang akan membentuk sebuah akhlak perlu ditanamkan semenjak anak lahir, oleh ibunya yang menjadi madrasah pertama bagi seorang anak ditambah dengan pembinaan dari ayahnya. Pengalaman yang dilewati oleh anak, mulai dari pendengaran, penglihatan, perlakuan, pembinaan, dan lainnya akan menjadi bagian dari pribadinya yang akan tumbuh berkembang dikemudian hari.7

Apa yang sudah ditanamkan di keluarga, sudah seharusnya di lanjutkan di sekolah, pembinaan dapat dilanjutkan dan diberikan disesuaikan degan pertumbuhan yang dilalui oleh anak, yang ditanamkan keluarga berupa kebiasaan-kebiasaan hidup sesuai dengan ajaran agama.8 Memiliki akhlak yang baik tentu dibutuhkan ilmu pengetahuan tentang akhlak yang baik menurut Islam. Dalam agama Islam, untuk mempelajari akhlak yang baik, para kaum perpegang teguh pada Al-Qu’ran yang menjadi sumber kehidupannya, dan Al- Hadits.9

Setiap instansi pendidikan, baik Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan juga Sekolah Menengah Atas, bahkan sampai jenjang Universitas, dalam praktiknya selalu melibatkan akhlak yang baik, salah satu contohnya akhlak peserta didik kepada gurunya, karena guru adalah orang tua dari peserta didik selama mereka di sekolah, maka sudah sewajarnya untuk dihormati dan juga dihargai. Untuk membentuk akhlak yang baik, peran guru sangat dibutuhkan, karena guru yang berinteraksi secara langsung dengan peserta didik, selain guru peran kepala sekolah juga sangat dibutuhkan sebagai pemimpin, kekuasaan tertinggi ada di kepala sekolah, dan kepala sekolah juga bertanggung jawab atas segala aspek yang ada di sekolah, salah satunya peserta didik di sekolah tersebut.10

Pada era globalisasi saat ini peran seorang pemimpin dalam suatu sekolah sangatlah dibutuhkan untuk membina akhlak, jika hal itu tidak dilaksanakan maka akan membawa dampak buruk bagi peserta didiknya.11 Suatu lembaga pendidikan tidak bisa berkembang dengan baik, jika kepemimpinan kurang

6Yesi Riana Dewi, Upaya Kepala Sekolah dan Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Akhlak Peserta Didik SD N Kangkung Kecamatan Buni Waras Lampung (Bandar Lampung: Universitas Islam Negeri Raden Intan, 2017).

7Ema Dwi Fitriyani, Abu Mansur, dan Syarnubi, “Model Pembelajaran Pesantren dalam Membina Moralitas Santri di Pondok Pesantren Sabibul Hasanah Banyuasin,” Jurnal PAI Raden Fatah 2, no. 1 (2020): 104.

8Malta, Syarnubi, dan Sukirman, “konsep pendidikan anak dalam keluarga menurut ibrahim amini,” Jurnal PAI Raden Fatah vol 4, no. 2 (2022): hal 141.

9Qodariah, “Akhlak Dalam Perspektif Alqurān,” Jurnal Al-Fath, vol 11, no. 2 (2017).

10Syarnubi, “Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Religiusitas Siswa Kelas IV di SD N 2 Pengarayan,” Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam vol 5, no. 1 (2019): hlm 88.

11Nyayu Khodijah Syarnubi, Martina, “Pengaruh Lingkungan Sekolah Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajran Pendidikan Agama Islam Di SMP Negeri 9 Tulung Selapan Kabupaten OKI,” PAI Raden Fatah 1 (2019): 166.

(4)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

begitu diperhatikan. Kepemimpinan yang tepat akan menopong keberhasilan suatu instansi pendidikan.12

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu penelitian lapangan (field research) menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan menggunakan metode pengumpulan data dan wawancara.13

Penulis melakukan wawancara kepada kepala sekolah sebagai subjek pertama, lalu guru sebagai subjek kedua, dan yang terakhir peserta didik.

Wawancara pertama kali ditujukan kepada kepala sekolah, wawancara tersebut terkait upaya-upaya, strategi-strategi, dan faktor pendukung serta faktor penghambat kepala sekolah dalam membina akhlak peserta didik di sekolah tersebut. Selanjutnya kepada guru, dan yang terakhir kepada peserta didik.

Penulis mengajukan beberapa pertanyaan kepada informan untuk mendapatkan data dari wawancara. Data yang diperoleh penulis dari hasil wawancara dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menemukan sebuah temuan yang sesuai dengan rumusan masalah penelitian.

Fenomena yang diambil dalam penelitian ini antara lain upaya kepala sekolah dalam membina akhlak peserta didik dan yang menjadi faktor pendukung serta faktor penghambatnya. Proses pengujian terhadap permasalan yang ada dilakukan secara mendalam dan mendetail terhadap peristiwa yang terjadi.

Dengan digunakannya metode ini, maka akan diketahui bagaimana upaya kepala sekolah dalam mengajak guru-guru untuk membina akhlak peserta didik sesuai dengan akhlak seorang muslim (akhlakul kharimah).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Data Sekolah

1. Profil sekolah

SMP Muhammadiyah 7 Program Unggulan Colomadu ini terletak di Kelurahan Bolon, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Sekolah ini berdiri pada tahun 1976, pertama berdiri di daerah Baturan Colomadu, pada saat itu kegiatan pembelajarannya masih berpindah-pindah dari masjid ke masjid, sekolah ini pernah mengalami kemunduran bahkan sampai hampir mati karena peserta didiknya tidak ada, lalu sekolah ini berdiri lagi pada tahun 2019, pada tahun inilah sekolah ini mulai melakukan pembangunan dengan membuat gedung sendiri di daerah Bolon Colomadu yang masih berdiri

12Lutfia Anggraeni, Peran Kepala Sekolah Dalam Membina Al-Akhlak Al-Kharimah Siswa SMP Islam Ma’arif 02 Malang (Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2009).

13Lexy J. Moleong., Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017).

(5)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

sampai sekarang, kepala sekolah dan guru menyebut masa itu sebagai masa SMP Muhammadiyah 7 Program Unggulan Colomadu reborn.

Sekolah ini menerapkan program fullday school dan menggunakan kurikum merdeka yang kemudian dikembangkan dan memiliki program pembelajaran yang terdiri dari dua jenis, yaitu program intrakulikuler dan ekstrakurikuler atau kelas peminatan, program intrakurikuler berupa kegiatan belajar mengajar inti yang wajib dilaksanakan, yaitu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan upacara setiap senin pagi. Program ekstrakulikuler yang dilaksanakan setiap hari Jumat setelah kegitan pembelajaran.

2. Visi SMP Muhammadiyah 7 Program Unggulan Colomadu

Visi dari SMP Muhammadiyah 7 Program Unggulan Colomadu adalah Berakhlaq Mulia, Berdisiplin Dan Berprestasi. Adapun Indikator dari visi tersebut adalah sebagai berikut:

a. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta budi pekerti luhur.

Hal ini tidak ditanamkan ketika di dalam kelas saja yang disampaikan secara tersurat, tetapi juga dengan cara pendekatan kultural dengan peserta didik di luar kelas.

b. Tertib dan santun dalam kehidupan sehari-hari.

Indikator yang kedua ini di perlukan dukungan dari orang tua/wali, karena keseharian peserta didik lebih banyak di rumah bersama orang tua mereka.

c. Meningkatkan perolehan nilai rata-rata UAN.

Untuk indikator yang ketiga ini peran kepala sekolah dan guru di sekolah sangat diperlukan dengan upaya-upaya nya, karena kepala sekolah dan guru sebagai actor utama dalam hal ini untuk menunjang pencapaian nilai UAN yang diinginkan.

Dukungan orang tua/wali sebagai bentuk dorongan untuk mencapai hal tersebut.

d. Memiliki prestasi akademis yang memadai untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan diatasnya.

Hal ini bisa diraih melalui kegiatan belajar mengajar di kelas, dalam hal ini guru sebagai fasilitator.

3. Misi SMP Muhammadiyah 7 Program Unggulan Colomadu

a. Membekali siswa dengan keimanan dan ketaqwaan untuk menumbuhkan budi pekerti luhur.

Pembekalan melalui program-program yang dibuat sekolah. Hal ini juga sebagai upaya dalam penanaman akhlak peserta didik.

b. Membiasakan dengan kesadaran untuk melaksanakan tata tertib sekolah.

(6)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

Dengan adanya kesadaran akan tata tertib, maka kemunginan untuk melakukan pelanggaran tata tertib sangat kecil.

c. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara efektif dalam suasana yang kondusif.

Hal ini pelu adanya kerjasama antara peserta didik dan guru agar kegiatan pembelajaran bisa efektif dan kelas kondusif, peserta didik harus mendengarkan dan juga menghargai guru ketika guru sedang menyampaikan materi.

d. Mendorong semangat berprestasi secara intensif kepada semua warga sekolah. Untuk mencapai sebuah prestasi sekolah maka diperlukan dukungan dan peran warga sekolah, tidak peserta didik dan guru saja namun semua yang berada di sekolah harus terlibat.

4. Keunggulan

SMP Muhammadiyah 7 Program Unggulan Colomadu adalah sekolah yang berpedoman pada Al Qur’an dan As Sunnah dalam pendidikan berbasis Agama, mengedepankan pendidikan adab dan berusaha menggali potensi yang dimiliki siswa tanpa mengesampingkan akademik.

5. Tujuan

Tujuan dari SMP Muhammadiyah 7 Program Unggulan Colomadu adalah:

a. Siswa memiliki aqidah yang kuat terhindar dari kemusyrikan.

b. Siswa memiliki dasar-dasar pengetahuan dan ketrampilan untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.

c. Siswa memiliki ketrampilan baik amaliah yang berhubungan dengan ibadah maupun muamalah.

d. Siswa memiliki akhlak yang terpuji yang Islami, terhindar dari peruatan-perbuatan buruk, jahat dan maksiat.

e. Siswa sehat jasmani dan rohani.

B. Upaya Kepala Sekolah Dalam Membina Akhlak Peserta Didik Di SMP Muhammadiyah 7 Program Unggulan Colomadu

1. Pendekatan Program-Program Guna Mendukung Pembinaan Akhlak Peserta Didik

Salah satu tujuan pokok dan fungsi kepala sekolah adalah merumuskan, menetapkan, dan mengembangkan visi sekolah, untuk menjalankan tugas tersebut yang dilakukan kepala sekolah di SMP ini yaitu dengan membuat program-program untuk menunjang tercapainya hal tersebut.14

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, program yang telah dibuat kepala sekolah bersama dengan guru untuk membina

14Darmadi Hamid, “Tugas, Peran, Kompetensi, dan Tanggung Jawab Menjadi Guru Profesional,” Jurnal Edukasi 13, no. 2 (2015): 161–74.

(7)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

akhlak peserta didik adalah sebagai berikut: program magang, kelas peminatan, sholat Dhuha bersama, kegiatan murotal bersama sebelum kegiatan pembelajaran dan sebelum sholat ashar, kegiatan ahad subuh setiap dua bulan sekali, dan karantina tahfidz setiap satu bulan sekali.

a) Program Magang

Program magang ini dilaksanakan selama lima hari dan mengambil waktu liburan semester. Tujuan dari kegiatan ini adalah membangun pola interaksi peserta didik dengan orang lain terbentuk dengan baik, sehingga akhlak terpuji disitu bisa di tanamkan.15 Program magang di wajibkan untk semua peserta didik. Peserta didik dibagi menjadi kelompok-kelompok, setiap kelompok terdiri dari empat sampai lima anak dengan satu guru pembimbing. Untuk tempat magang nya menyesuaikan dengan peserta didik, sekolah hanya memberikan rekomendasi, sebagai contoh: toko bangunan, tenongan, rumah makan, tempat pembuatan buket dan lain sebagainya, peserta didik diberi kebebasan untuk memilih. Dalam kegiatan ini guru yang menjadi pembimbing disetiap kelompok, namun kepala sekolah juga ikut andil untuk mengawasi secara langsung kegiatan magang ini, dengan cara mendatangi tempat-tempat magang peserta didik.16 Hikmah dari kegiatan ini dapat dilihat mulai dari perizinan magang, peserta didik secara mandiri menyerahkan surat perizinan magang ke pemilik tempat magang, dengan hal ini akhlak akan terbentuk melalui interaksi dengan pemilik tempat magang, mereka harus membangun interaksi yang baik dengan pemilik tempat magang melalui adab yang baik, selain dengan pemilik tempat, mereka juga harus mampu membangun interaksi yang baik dengan pelanggan.

b) Kelas Peminatan

Program kelas peminatan ini dibuat karena ditemukan masalah terkait akhlak peserta didik yang kurang baik kepada gurunya.

Setelah pandemi Covid-19, setelah peserta didik belajar di rumah selama kurang lebih dua tahun ketika merea kembali ke sekolah, kepala sekolah dan guru terkejut melihat akhlak peserta didik nya, yang paling terlihat adalah sopan santun mereka kepada guru yang sangat kurang.17 Dengan adanya permasalahan tersebut, sebagai bentuk upaya kepala sekolah dalam menangani permasalahan

15Muhamad Fauzi dan Hasty Andriani, “Budaya Belajar Santri Berprestasi di Pondok Pesantren,” In Prosiding Seminar Nasional 2023 vol 1, no. 1 (2023): 140–41.

16Fauzi, Saski Anggreta, dan Dea Mustika, “Peran guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran di kelas v sekolah dasar,” Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK) 4, no. 3 (2022).

17Mardeli et al., “Tafakur Pandemi Covid-19: Telaah Perspektif Pendidikan Islam,”

Jurnal Pendidiksn Islam 11, no. 01 (2022): hlm 205.

(8)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

tersebut tercipta program berupa kelas peminatan. Kepala sekolah mengajak para guru untuk memperlihatkan kemampuannya di luar kemampuan akademik, kelas peminatan yang dibuat yaitu:

fotografi, teather, masak, cooding, dan entrepreneur. Kelas peminatan ini diikuti oleh semua peserta didik sesuai dengan minatnya.18 Program kelas peminatan ini selalu mengalami perkembangan, di tahun ini ada kelas peminatan baru lagi yaitu kelas public speaking dan PMR (Palang Merah Remaja), untuk kelas peminatan PMR ini berkerjasama dengan PMI Karanganyar.

Kegiatan kelas peminatan dilaksanakan setiap hari Jumat setelah pulang sekolah. Dengan program ini kepala sekolah dan guru berhasil membentuk dan membina akhlak peserta didiknya, mereka menjadi lebih dekat dengan guru di luar jam belajar nya, dengan hal tersebut mereka merasa lebih santai dan menikmati kegiatan disitu, lalu rasa menghormati kepada guru akan muncul dengan sendirinya.

c) Kegiatan ASB (Ahad Subuh Berjamaah)

Kegiatan ini dibuat dengan gagasan kepala sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan setiap dua bulan sekali di masjid-masjid yang berbeda. Kegiatan dimulai dihari Sabtu sore diawali dengan sholat Maghrib berjamaah dilanjutkan makan malam, setelah itu ada ceramah dan dilanjut dengan sholat isya berjamaah, setelah selesai sholat Isya peserta didik diminta untuk menginap dimasjid, untuk puncak acaranya di pagi harinya yaitu di hari Ahad paginya.

Sebelum masuk waktu Subuh ada kajian sampai waktu masuk subuh, baru setelah itu dilanjutkan sholat Subuh berjamaah.19 Setelah sholat Subuh berjamaah ada kegiatan bersih-bersih bersama. Tidak hanya peserta didik yang terlibat dalam kegiatan ini, kepala sekolah dan guru juga ikut terlibat didalamnya. Kegiatan ini merupakan bentuk dari memakmurkan masjid , hal ini menjadi salah satu bentuk penanaman akhlakul kharimah.

d) Sholat Dhuha Berjamaah

Program ini dilaksanakan setiap pagi hari pukul 07.00 WIB setelah bel masuk berbunyi. Kegiatan sholat Dhuha berjamaah ini satu rangkaian dengan dzikir bersama dan kultum. Jadi, setelah sholat Dhuha bersama dilanjutkan dzikir bersama yang bacaannya di

18Bahrul Mu’min, Manajemen Kesiswaan dalam Mengembangkan Minat dan Bakat Siswa Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler di MA Nahdlatul Arifin Sumberejo Ambulu Jember, 2021.

19Tatang Hidayat, Ahmad Syamsu Rizal, dan Fahrudin Fahrudin, “Peran Pondok Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia,” Ta’dib: Jurnal Pendidikan Islam 7, no. 2 (2018): 1–10, doi:10.29313/tjpi.v7i2.4117.

(9)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

keraskan, selanjutnya untuk kultum di laksanakan secara bergilir dari peserta didik yang sudah terjadwal, mereka bebas untuk memilih temanya. Setelah serangkaian kegiatan sholat Dhuha berjamaah ini dilaksanakan, dilanjutkan dengan murotal bersama di kelas masing-masing. Kegiatan ini menjadi salah satu program untuk memupuk akhlak baik peserta didik dalam bentuk ibadah.

Peserta didik menjadi terbiasa untuk melaksanakan ibadah sunnah, walaupun dimulai dari satu shalat sunnah terlebih dulu yaitu shalat Dhuha.20

e) Murotal Bersama Sebelum Kegiatan Belajar Mengajar dan Sebelum Sholat Ashar

Kegiatan murotal di laksanakan setiap pagi sebelum kegiatan belajar mengajar disetiap kelas. Dalam kegiatan ini kepala sekolah juga mengajak para guru untuk murotal bersama dikantor sebelum mengajar, sebagai bentuk contoh yang baik untuk peserta didik.21 Selain di pagi hari, kegiatan murotal juga di laksanakan sebelum melaksanakan sholat Ashar berjamaah, kegiatan ini sebagai pemupukan rasa cinta terhadap Allah SWT, dengan membaca kitab-Nya.

f) Karantina Tahfidz

Program ini termasuk program yang masih baru, berawal dari keresahan guru dan kepala sekolah yang melihat ada peserta didiknya yang belum menyelesaikan target hafalannya. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat dan Sabtu, untuk pelaksanannya setiap satu bulan sekali. Dengan diadakan kegiatan ini bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an dengan menghafalkan isinya.

2. Memberikan Contoh Yang Baik Kepada Peserta Didik Terkait Akhlak Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, upaya lain yang dilakukan untuk membina akhlak peserta didik yaitu dengan berusaha menjadi contoh yang baik untuk peserta didiknya, sebagai contoh, kepala sekolah sering mengajak peserta didiknya untuk melakukan sholat berjamaah, beliau juga ikut melaksanakan sholat berjamaah disitu, sebagai bentuk dorongan untuk peserta didik untuk melaksanakan sholat berjamaah, karena menurut beliau dengan memberikan contoh, maka peserta didik dengan gampang akan mengikutinya, lalu ketika berada di sekolah kepala sekolah dan guru yang akan dicontoh oleh peserta

20Alif Achadah dan Nila Nur Faizah, “Budaya Sholat Berjama’ah dalam Upaya Membentuk Karakter Religius Siswa,” TABYIN: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM vol 3, no. 2 (2021): 1–6.

21Aliyah Amira, Akmal Hawi, dan Mardeli, “Hubungan antara Kompetensi Kepribadian Guru dengan Pendidikan Karakter Tanggung Jawab Siswa Kelas IX di SMP Islam Az-Zahrah 2 Palembang,” Junal PAI Raden Fatah 1, no. 2 (2019): 130.

(10)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

didiknya, jadi harus mampu menjadi contoh yang baik. Contoh selanjutnya, beliau tidak malu untuk membersihkan toilet yang kotor, tujuannya selain sebagai bentuk keimanan yaitu agar peserta didiknya juga bisa mengikuti beliau, hal ini sebagai bentuk penanaman akhlak terhadap kebersihan. Dalam Islam kebersihan menjadi bagian dari iman.

Kepala sekolah bisa diartikan sebagai lembaga fungsional guru yang diberi tugas tambahan untuk memimpin sekolah dimana diselenggarakan suatu proses pembelajaran atau suatu tempat terjadinya interaksi antara guru yang memberikan ilmu dan juga peserta didik yang menerima ilmu.22

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Sevira, salah satu guru Pendidikan Agama Islam, beliau berkata bahwa Ibu Arum (Kepala Sekollah di SMP Muhammadiyah 7 Program Unggulan Colomadu) memang sudah mampu memberikan contoh yang baik untuk peserta didik, salah satu nya dalam hal penanaman akhlak. Selain mampu menjadi contoh yang baik bagi peserta didik, Ibu Arum juga mampu menjadi contoh yang baik bagi para guru di SMP ini. Ibu Sevira mengatakan ketika Ibu Arum sedang ada masalah, masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan dan membuat beliau pusing sekalipun, beliau tidak pernah memperlihatkan kepada guru yang lain sebagai bentuk profesionalitas nya sebagai seorang pemimpin, jangan sampai guru yang lain jadi ikut terbawa dengan masalah nya Ibu Arum. Selain itu, menurut Ibu Sevira, Ibu Arum ini merupakan seorang wanita yang tangguh, walaupun beliau seorang perempuan tetapi beliau mampu menjadi pemimpin yang baik, sehingga sekolah ini bisa berkembang dengan baik, dapat dilihat sekolah ini mampu berdiri lagi ditahun 2019 , setelah hampir mati dan berpindah- pindah tempat dari masjid ke masjid, dengan perjuangan dan upaya kepala sekolah (Ibu Arum) sekolah ini bisa bangkit lagi hingga sekarang.

Setelah penulis melakukan wawancara secara langsung dengan kepala sekolah, penulis juga melihat bahwa beliau sudah mampu memberikan contoh yang baik kepada peserta didik terkait akhlak, salah satunya yaitu adab berpakaian, kepala sekolah telah berpakaian sesuai syariat Islam, mulai dari pakaian yang longgar, tidak ketat, hijab menutup dada, lengan panjang, dan berkaos kaki lengkap, semua auratnya tertutup dengan baik.

Dasar akhlak yakni adat kebiasaan yang sudah berlaku di masyarakat, untuk menilai baik buruknya adat kebiasaan tersebut, dinilai sesuai dengan norma-norma yang terdapat dalam Al Qur’an dan juga Sunnah, jikalau sesuai wajib untuk dipupuk dan juga dikembangkan, jika

22Norsa Muhammad Fajri, Kebijakan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Akhlak Siswa Kelas X Terhadap Guru PAI di SMA Negeri 1 Kalasan (Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2016).

(11)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

tidak sesuai wajib untuk ditinggalkan.23 Maka sudah seharusnya kepala sekolah memberikan contoh yang baik kepada warga sekolah, termasuk peserta didiknya.

3. Memberikan Nasehat-Nasehat Baik Kepada Peserta Didik Terkait Akhlak Berdasarkan hasil wawancara dengan peserta didik. yang merupakan perwakilan dari kelas 7,8, dan 9, mereka mengatakan bahwa kepala sekolah tidak bosan-bosan untuk memberikan nasehat-nasehat kepada peserta didiknya, salah satunya yaitu nasehat terkait adab dan akhlak. Maka mereka mengatakan ketika selesai pelaksanaan sholat berjamaah, kepala sekolah sering menyampaikan nasehatnya, contohnya seperti adab berpakaian, adab menjaga kebersihan dan lain sebagainya.

C. Kebiasaan-Kebiasaan Di sekolah Sebagai Bentuk Pembinaan Akhlak Peserta Didik di SMP Muhammadiyah 7 Program Unggulan Colomadu

Akhlak terpuji adalah akhlak yang baik yang terpuji berupa semua akhlak yang baik-baik yang harus dianut dan dimiliki semua orang.24 Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru di sekolah ini, beliau berkata bahwa sekolah ini bernotabene Islam maka sekolah ini memang memprioritaskan akhlak dan juga adab peserta didiknya, Hal ini memang sudah selayaknya diterapkan disekolah lain karena akhlak ini lebih penting daripada ilmu, karena orang yang berilmu belum tentu berakhlak, sementara orang yang berakhlak dapat memahami kondisi dengan orang yang berilmu atau belum.25

Penerapan akhlak dan adab di sekolah ini dimulai dari peserta didik itu sampai di sekolah, setiap pagi hari ada bapak ibu guru yang piket untuk menyambut kedatangan peserta didik, ketika bersalaman peserta didik perempuan bersalaman dengan ibu guru saja, dan untuk peserta didik laki-laki bersalaman dengan bapak guru saja.26 Selanjutnya adab berpakaian juga diatur, perpakaian yang sesuai dengan syariat Islam, yaitu dengan berpakaian yang syar’i. Bagi peserta didik perempuan wajib berciput dan jilbabnya menutup dada, kaos kaki wajib, dan memakai handshok, yang putra memakai songkok, tidak boleh memakai celana jeans disemua kegiatan sekolah.

Adab makan dan minum disekolah ini yaitu makan snak dan makan siang bersama di aula yang dilaksanakan di hari Selasa, Rabu, dan Jumat, karena dihari Senin dan Kamis peserta didik dianjurkan untuk puasa sunnah

23Alimron, Syarnubi, dan Maryamah, “Character Education Model in Islamic Higher Education,” AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Islam vol 15, no. 3 (2023).

24Hajriansyah Hajriansyah, ““Akhlak Terpuji Dan Yang Tercela: Telaah Singkat Ihya’

Ulumuddin Jilid Iii,”,” NALAR: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam Vol 1, no. 1 (2017): 17–

26.

25A. Sutiono, R., Riadi, H., & Wahid, “Akhlak Dalam Perspektif Al-Quran.

Akademika,” Jurnal Peurawi vol 13, no. 2 (2017).

26Eka Febriyanti, Fajri Ismail, dan Syarnubi, “Penanaman Karakter Peduli Sosial di SMP Negeri 10 Palembang,” Junal PAI Raden Fatah 1, no. no.1 (2022): 41.

(12)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

Senin-Kamis, dan tujuan dari puasa Senin-Kamis ini sudah dipahami oleh peserta didik, sehingga mereka tidak merasa keberatan untuk melaksanakannya. Ketika istirahat yang pertama, peserta didik makan snak di aula membentuk lingkaran, peserta didik perempuan dan laki-laki dipisah, kegiatan makan bersama ini diawali dengan dengan doa bersama terlebih dahulu, lalu dilanjut makan dengan menggunakan tangan kanan, ketika istirahat makan siang hal yang sama juga dilakukan.

Satu hal lagi yang bisa menjadi pendukung dalam pembinaan akhlak peserta didik adalah punishment yang diberikan kepada peserta didik ketika melanggar aturan/tata tertib sekolah, berdasarkan hasil wawancara dengan peserta didik, mereka mengatakan punishment yang diberikan adalah punishment yang bermanfaat seperti menyiram tanaman, dan membersihkan toilet, kebetulan waktu saya melakukan wawancara di sekolah, ada peserta didik yang sedang melakukan pelanggaran yaitu kerudungnya tidak menutup dada, untuk punishment yang diberikan mereka diminta untuk memakai mukena sampai jam pelajaran selesai. Punishment yang diberikan dalam bentuk yang positif dan menjadi salah satu hal yang mendukung pembinaan akhlak.27

D. Faktor Pendukung dan Penghambat Kepala Sekolah Dalam Membina Akhlak Peserta Didik Di SMP Muhammadiyah 7 Program Unggulan Colomadu

1. Faktor Pendukung

a.) Sekolah yang Bernotabene Islam

Karena SMP Muhammadiyah 7 Program Unggulan Colomadu ini merupakan sekolah yang berbasis Islam dibawah naungan Muhammadiyah, maka untuk mata pelajaran agama Islam di sekolah ini ada penambahan, sebagai contoh mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang dibagi menjadi lima, yaitu: Akidah dan Akhlak, Tarikh, Fikih, Bahasa Arab,dan Tahfidz.

Hal ini menjadi faktor pendukung pembinaan akhlak dan juga adab peserta didik, yang bisa dibina secara langsung melalui mata pelajaran.

b.) Kerjasama Tim Antara Kepala Sekolah dan Bapak Ibu Guru

Program-program yang telah dilaksanakan guna membina akhlak dan adab peserta didik tidak bisa berjalan dengan baik tanpa adanya kerjasama antara kepala sekolah dan juga guru, kepala sekolah tidak bisa menjalankan semua programnya sendiri tanpa bantuan dari bapak dan ibu guru. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru, beliau berkata bahwa program-program yang telah dilaksanakan di

27Syarnubi, “Pendidikan Karakter pada Madrasah Aliyah Negeri 3 Palembang,” PhD diss. UIN Reden Fatah Palembang., 2020.

(13)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

sekolah, khususnya program untuk membina akhlak peserta didik, datang dari gagasan kepala sekolah lalu guru yang melaksanakan dan mengembangkan program tersebut, namun tidak lepas dari pengawasan kepala sekolah itu sendiri. Kepala sekolah berperan sebagai manager, yaitu merumuskan program sekolah jangka pendek maupun panjang,menyusun organisasi, membagi tugas kemudian menggerakkan kerjanya, setelah itu mengoptimalkan SDM sesuai kemampuannya.28

c.) Dukungan dari wali murid

Program yang dibuat sekolah selalu di sosialisasikan kepada wali murid, jadi sekolah tidak terkesan jalan sendiri. Ketika wali murid dilibatkan, maka sekolah akan menjalankan programnya dengan tenang dan aman, tanpa ada rasa bersalah dan bahkan merasa terdukung karena sudah disetujui oleh wali murid. Dalam hal ini tidak pernah ditemui kasus wali murid yang menolak program yang diadakan sekolah, karena semua program yang dibuat sekolah juga bertujuan baik untuk anak-anak mereka.

2. Faktor Penghambat

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru, yang menjadi faktor penghambat kepala sekolah dan guru dalam membina akhlak peserta didik yaitu bagaimana cara memahamkan ke anak atas program-program yang diterapkan, sebagai contoh program karantina tahfidz Al-Qur’an, anak-anak banyak yang belum paham tujuan diadakannya program tersebut, peserta didik berspekulasi kalau hanya sekedar menghafal Al Qur’an di rumah juga bisa melakukannya sendiri.

Tetapi dengan hal itu kepala sekolah dan guru tidak berdiam diri saja, yang terpenting menjalin komunikasi yang baik dengan anak dan orang tua/wali murid. Kepala sekolah dan guru selalu berusaha memahamkan bagaimana program itu dilaksanakan bertujuan baik untuk mereka, dengan sering memberikan pemahaman ke peserta didik, maka sedikit demi sedikit mereka akan paham dengan tujuan diadakannya program.29 E. Dampak Setelah Kepala Sekolah Menerapkan Program-Program Guna

Membina Akhlak Peserta Didik

Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, dengan program kerja dan upaya-upaya yang telah dilakukan hasilnya pun tidak sembarangan, salah satu dampak yang terlihat yaitu peserta didik lebih menghargai dan

28Dwi Muslicah, Peran Kepala Sekolah Dalam Menannkan Akhlaqul Kharimah di SMP Negeri 1 Bulu Temanggung Tahun Pelajaran 2018/2019,2020 (Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2020).

29Santi Hajriyanti, Akmal Hawi, dan Syarnubi, “Pengaruh Penerapan Strategi Firing Line Terhadap Pemahaman Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelask VII di SMP N Sukaraya Kecamatan Karang Jaya Kabupaten Musi Rawas,” Junal PAI Raden Fatah 3, no. no.1 (2021): 62.

(14)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

menghormati guru. Selanjutnya sebagai contoh di program magang, dalam program tersebut peserta didik sering berinteraksi dengan orang luar, setelah adanya program tersebut peserta didik sering terlibat dalam panitia acara, contohnya panitia sholat Idul Adha di daerah Colomadu, mereka bisa menjalankan acara tersebut dengan baik, acaranya juga berjalan dengan lancar, selain panitia sholat Idul Adha peserta didik juga sering menjadi panitia kajian-kajian yang diadakan sekolah. Kepala sekolah dan para guru sangat bangga melihat kemampuan peserta didiknya.

Penanaman akhlak baik seperti sholat Dhuha bersama, kegiatan ahad pagi, dan juga murotal yang awalnya mereka merasa berat untuk melakukannya, ketika dijalankan secara terus menerus maka hal tersebut akan menjadi sebuah kebiasaan di kesehariannya, bahkan ketika mereka di luar sekolah. Dampak lain yang bisa dilihat yaitu peserta didik menjadi lebih percaya diri untuk tampil di depan orang banyak, dan mampu melakukan interaksi yang baik dengan orang lain.30

Selanjutnya, menurut Ibu Sevira yang merupakan salah satu guru di sekolah tersebut, beliau pernah mendapat kesaksian dari salah satu wali murid yang mengatakan bahwa anaknya dulu susah diberi nasehat, cenderung nakal, namun sekarang sudah bisa terkondisikan, sekarang anaknya aktif di kelas, bahkan sekarang jadi ketua kelas, orang tuanya juga cerita semenjak sekolah di SMP ini anaknya banyak mengalami berubahan, seperti sering membaca Al-Qur’an di rumah, dan sering memakai jubah/gamis di rumah. Hal tersebut bisa terjadi karena program dan kebiasaan di sekolah, yaitu adab berpakaian yang diterapkan dan murotal bersama yang dilakukan secara terus menerus.

KESIMPULAN

Upaya yang dilakukan kepala sekolah berupa: (1) Pendekatan program- program guna mendukung pembinaan akhlak peserta didik, program tersebut yaitu: (a) Program magang, (b) Kelas peminatan, (c) Sholat Dhuha berjamaah, (d) Kegiatan murotal bersama sebelum kegiatan pembelajaran dan sebelum sholat Ashar, (e) Kegiatan ASB (Ahad Subuh Berjamaah) setiap dua bulan sekali, dan (f) Karantina tahfidz setiap satu bulan sekali untuk peserta didik yang belum menyelesaikan target hafalannya. (2) Memberikan contoh yang baik kepada peserta didik terkait akhlak. (3) Memberikan nasehat-nasehat baik kepada peserta didik terkait akhlak

Selain program-program yang digagas kepala sekolah, ada juga pembiasaan di sekolah yang mendukung pembinaan akhlak peserta didik, yaitu:

(a) Pemisahan antara laki-laki dan perempuan disetiap kegiatan sekolah (b) Adab berpakaian sesuai dengan syariat Islam (c) Adab makan dan minum sesuai

30Ginanjar M. H, “Urgensi Lingkungan Pendidikan Sebagai Mediasi Pembentukan Karakter Peserta Didik,” Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam vol 2, no. 4 (2017).

(15)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

ajaran Islam (d) Punishment berupa kegiatan positif seperti: menyiram tanaman, membersihkan toilet, dan memakai mukena selama di sekolah ketika jilbab mereka tidak menutup dada (bagi perempuan).

Kepala sekolah telah menjadi contoh yang baik bagi peserta didik dalam hal penanaman akhlak. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan salah satu guru ,beliau mengatakan bahwa kepala sekolah selalu menghimbau bapak ibu guru untuk menjadi contoh yang baik untuk peserta didik, sebelum menasehati peserta didik, kepala sekolah dan guru harus melakukan hal yang benar terlebih dahulu. Salah satu guru juga mengatakan bahwa kepala sekolah disini merupakan seorang yang tangguh, professional ketika bekerja, disiplinan, jiwa leadership nya bagus, pemikirannya bagus, kepala sekolah di SMP ini sudah bisa menjadi pemimpin yang baik. Berdasarkan hasil wawancara dengan peserta didik, mereka mengatakan bahwa kepala sekolah di SMP ini tidak mudah marah tetapi tegas. Kepemimpinan dari kepala sekolah yang baik adalah mampu mengelola semua aspek pendidikan untuk mencapai tujuan dari pendidikan itu sendiri, mulai dari sisi pembelajaran dan juga sisi pengembambangan sumber daya manusia.31

Sebagai seorang pemimpin kepala sekolah sudah mampu membangun kemistri dengan peserta didik dan juga para guru, hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan salah satu guru, beliau mengatakan bahwa bapak ibu guru menggunakan sebutan bunda untuk kepala sekolah, karena beliau sangat dekat dengan kepala sekolah, kepala sekolah selalu memberikan ruang kepada para guru untuk bercerita keluh kesahnya masing-masing, dan selalu berusaha memberikan solusi yang terbaik, salah satunya keluh kesah terkait akhlak peserta didik, program yang digagas kepala sekolah beberapa muncul karena adanya keresahan bapak ibu guru terkait permasalahan akhlak peserta didiknya, maka dengan keluh kesah tadi bisa menciptakan suatu program baru. Berdasarkan hasil wawancara dengan peserta didik mereka mengatakan kepala sekolah selalu memberikan nasehat-nasehat baik kepada para peserta didik, salah satunya nasehat terkait adab dan akhlak.

Upaya kepala sekolah untuk membina akhlak peserta didik telah berhasil, hal ini dapat dilihat dari dampak yang terjadi setelah penerapan program tersebut, perubahan peserta didik dapat dilihat di sekolah dan juga ketika mereka di luar sekolah atau ketika mereka di rumah. Bapak ibu guru melihat perubahannya ketika mereka di sekolah, berdasarkan wawancara dengan guru, ada salah satu peserta didik yang dulunya susah diberi nasehat, sekarang sudah mengalami banyak perubahan, bahkan sekarang dia menjadi ketua kelas, dan ketika di rumah perubahan itu disampaikan oleh wali murid secara langsung, yang bercerita dengan salah satu guru di sekolah ini, beliau mendapat cerita dari wali murid yang bilang jika anaknya sekarang banyak berubah setelah

31 Subagio Atmodiwiryo, Manajemen Pendidikan Indonesia (Ardadizya jaya, 2017).

(16)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

bersekolah di SMP ini, sebagai contoh pembiasaan murotal di sekolah terbawa ketika mereka di rumah, berpakaian sesuai syariat Islam juga terbawa sampai di rumah, dan ini sudah menjadi kebiasan.

Program yang dirancang kepala sekolah bersama guru sebagai salah bentuk implementasi visi sekolah, yaitu berakhlak mulia melalui program kegiatan ASB (Ahad Subuh Berjammah), shalat dhuha berjamaah, murotal bersama sebelum bempelajaran dan sebelum shalat Ashar, karantina tahfidz, dan untuk program yang mendukungnya adalah adab makan dan minum, dan adab berpakaian yang diterapkan di sekolah.

(17)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

DAFTAR PUSTAKA

Achadah, Alif, dan Nila Nur Faizah. “Budaya Sholat Berjama’ah dalam Upaya Membentuk Karakter Religius Siswa.” TABYIN: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM vol 3, no. 2 (2021): 1–6.

Alimron, Alimron, Syarnubi Syarnubi, and Maryamah Maryamah. "Character Education Model in Islamic Higher Education." AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan 15, no. 3 (2023).

Ali, Muhammad, and Syarnubi Syarnubi. "Dampak Sertifikasi Terhadap Kompetensi Pedagodik Guru (Studi Pemetaan (PK) GPAI On-Line Tingkat SMA/SMK Provinsi Sumatera Selatan." Tadrib 6.2 (2020): 141-158.

Amira, Aliyah, Akmal Hawi, dan Mardeli. “Hubungan antara Kompetensi Kepribadian Guru dengan Pendidikan Karakter Tanggung Jawab Siswa Kelas IX di SMP Islam Az-Zahrah 2 Palembang.” Junal PAI Raden Fatah 1, no. 2 (2019): 130.

Anggraeni, Lutfia. Peran Kepala Sekolah Dalam Membina Al-Akhlak Al- Kharimah Siswa SMP Islam Ma’arif 02 Malang. Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2009.

Atmodiwiryo, Subagio. Manajemen Pendidikan Indonesia. Ardadizya jaya, 2017.

Ballianie, Novia, Mutia Dewi, and Syarnubi Syarnubi. " Internalisasi Pendidikan Karakter pada Anak dalam Bingkai Moderasi Beragama." Prosiding Seminar Nasional 2023. Vol. 1. No. 1. 2023.

Dewi, Yesi Riana. Upaya Kepala Sekolah dan Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Akhlak Peserta Didik SD N Kangkung Kecamatan Buni Waras Lampung. Bandar Lampung: Universitas Islam Negeri Raden Intan, 2017.

Fajri, Norsa Muhammad. Kebijakan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Akhlak Siswa Kelas X Terhadap Guru PAI di SMA Negeri 1 Kalasan.

Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2016.

Fauzi, Saski Anggreta, dan Dea Mustika. “Peran guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran di kelas v sekolah dasar.” Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK) 4, no. 3 (2022).

Fauzi, Muhamad, Hasty Andriani, Romli, and Syarnubi Syarnubi. “Budaya Belajar Santri Berprestasi di Pondok Pesantren.” In Prosiding Seminar Nasional 2023. Palembang, 2023.

Febriyanti, Eka, Fajri Ismail, and Syarnubi Syarnubi. "Penanaman Karakter Peduli Sosial di SMP Negeri 10 Palembang." Jurnal PAI Raden Fatah 4, no.

1 (2022): 39-51.

Fitriyani, Ema Dwi, Abu Mansur, and Syarnubi Syarnubi. "Model Pembelajaran Pesantren Dalam Membina Moralitas Santri di Pondok Pesantren Sabilul Hasanah Banyuasin." Jurnal PAI Raden Fatah 2, no. 1 (2020): 103-116.

Ginanjar M. H. “Urgensi Lingkungan Pendidikan Sebagai Mediasi Pembentukan Karakter Peserta Didik.” Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam vol 2, no. 4 (2017).

Hajriansyah Hajriansyah. ““Akhlak Terpuji Dan Yang Tercela: Telaah Singkat Ihya’ Ulumuddin Jilid Iii,”.” NALAR: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam Vol 1, no. 1 (2017): 17–26.

(18)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

Hajriyanti, Santi, Akmal Hawi, dan Syarnubi. “Pengaruh Penerapan Strategi Firing Line Terhadap Pemahaman Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelask VII di SMP N Sukaraya Kecamatan Karang Jaya Kabupaten Musi Rawas.” Junal PAI Raden Fatah 3, no. no.1 (2021): 62.

Hamid, Darmadi. “Tugas, Peran, Kompetensi, dan Tanggung Jawab Menjadi Guru Profesional.” Jurnal Edukasi 13, no. 2 (2015): 161–74.

Hidayat, Tatang, Ahmad Syamsu Rizal, dan Fahrudin Fahrudin. “Peran Pondok Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia.” Ta’dib: Jurnal Pendidikan Islam 7, no. 2 (2018): 1–10. doi:10.29313/tjpi.v7i2.4117.

Malta, Malta, Syarnubi Syarnubi, and Sukirman Sukirman. "Konsep Pendidikan Anak dalam Keluarga Menurut Ibrahim Amini." Jurnal PAI Raden Fatah 4, no. 2 (2022): 140-151.

Martina, Martina, Nyayu Khodijah, and Syarnubi Syarnubi. "Pengaruh lingkungan sekolah terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 9 Tulung Selapan Kabupaten OKI." Jurnal PAI Raden Fatah 1, no. 2 (2019): 164-180.

Mardeli, Lola Fadilah, Ratih Novianti, Juwita Puspita Sari, Zulhijra, dan Sukirman. “Tafakur Pandemi Covid-19: Telaah Perspektif Pendidikan Islam.” Jurnal Pendidiksn Islam 11, no. 01 (2022): hlm 205.

Matta, Anis. Membentuk Karakter Cara Islam. Jakarta: Al- I’tisom Cetakan. III, 2006.

Moleong., Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif,. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017.

Mu’min, Bahrul. Manajemen Kesiswaan dalam Mengembangkan Minat dan Bakat Siswa Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler di MA Nahdlatul Arifin Sumberejo Ambulu Jember, 2021.

Muslicah, Dwi. Peran Kepala Sekolah Dalam Menannkan Akhlaqul Kharimah di SMP Negeri 1 Bulu Temanggung Tahun Pelajaran 2018/2019,2020.

Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2020.

Qodariah. “Akhlak Dalam Perspektif Alqurān.” Jurnal Al-Fath, vol 11, no. 2 (2017).

Sukirman, Masnun Baiti, dan Syarnubi. “Konsep Pendidikan menurut Al- Ghazali.” Jurnal PAI Raden Fatah vol 5, no. 3 (2023): 451–69.

Sutiono, R., Riadi, H., & Wahid, A. “Akhlak Dalam Perspektif Al-Quran.

Akademika.” Jurnal Peurawi vol 13, no. 2 (2017).

Sari, Ema Indira, Ismail Sukardi, and Syarnubi Syarnubi. " Hubungan Antara Pemanfaatan Internet sebagai Media Pembelajaran dengan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Palembang." Jurnal PAI Raden Fatah 2.2 (2020): 202-216.

Sukirman, Sukirman, Masnun Baiti, and Syarnubi Syarnubi. "Konsep Pendidikan menurut Al-Ghazali." Jurnal PAI Raden Fatah 5, no. 3 (2023):

451-469.

Sutarmizi, Sutarmizi, and Syarnubi Syarnubi. " Strategi Pengembangan Kompetensi Pedagogik Guru Rumpun PAI di MTs. Mu’alliminislamiyah Kabupaten Musi Banyuasin." Tadrib 8.1 (2022): 56-74.

Syarnubi, Syarnubi, Alimron Alimron, and Fauzi Muhammad. Model Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi. Palembang: CV. Insan Cendekia Palembang, 2022.

(19)

P-ISSN 2656-1549 and E-ISSN 2656-0712

Avaliable Online At: http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/pairf DOI: 10.19109/pairf.v6i1

Syarnubi, Syarnubi, Firman Mansir, Mulyadi Eko Purnomo, Kasinyo Harto, and Akmal Hawi. "Implementing Character Education in Madrasah." Jurnal Pendidikan Islam 7, no. 1 (2021): 77-94.

Syarnubi, Syarnubi. "Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Religiusitas Siswa Kelas IV di SDN 2 Pengarayan." Tadrib 5, no. 1 (2019): 87-103.

Syarnubi, Syarnubi. "Guru yang bermoral dalam konteks sosial, budaya, ekonomi, hukum dan agama (Kajian terhadap UU No 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen)." Jurnal PAI Raden Fatah 1, no. 1 (2019): 21-40.

Syarnubi, Syarnubi. "Pendidikan Karakter pada Madrasah Aliyah Negeri 3 Palembang." PhD diss., UIN Reden Fatah Palembang (2020).

Syarnubi, Syarnubi. "Manajemen Konflik Dalam Pendidikan Islam dan Problematikanya: Studi Kasus di Fakultas Dakwah UIN-SUKA Yogyakarta." Tadrib 2, no. 1 (2016): 151-178.

Syarnubi, Syarnubi, Muhamad Fauzi, Baldi Anggara, Septia Fahiroh, Annisa Naratu Mulya, Desti Ramelia, Yumi Oktarima, and Iflah Ulvya. "Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menanamkan Nilai-Nilai Moderasi Beragama." In Prosiding Seminar Nasional 2023, vol. 1, no. 1, pp. 112-117.

2023.

Syarnubi, Syarnubi. "Penerapan Paradigma Integrasi-Interkoneksi dalam Peningkatan Mutu Lulusan." Jurnal PAI Raden Fatah 4.4 (2022): 375-395.

Wulandari, Yuniar, Muh Misdar, and Syarnubi Syarnubi. "Efektifitas Peningkatan Kesadaran Beribadah Siswa MTs 1 Al-Furqon Pampangan Kecamatan Pampangan Kabupaten Ogan Komering Ilir." Jurnal PAI Raden Fatah 3.4 (2021): 405-418.

Yanti, Santi Hajri, Akmal Hawi, and Syarnubi Syarnubi. "Pengaruh Penerapan Strategi Firing Line Terhadap Pemahaman Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VII di SMP N Sukaraya Kecamatan Karang Jaya Kabupaten Musi Rawas." Jurnal PAI Raden Fatah 3, no. 1 (2021): 55- 65.

Referensi

Dokumen terkait

Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Akhlak Pada Peserta Didik Kelas X Dan XI di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Siang Tulungagung ”. Bagaimana peran guru

Tentang akhlak pergaulan peserta didik yang berbusana muslimah. khususnya dengan

Hasil penelitian ditemukan bahwa Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Akhlak Peserta didik Kelas VIII Di SMP Negeri 2 Tulang Bawang Tengah mengalami berbagai kendala

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1)Pendidikan akhlak di SMP Negeri 4 Palopo menjadi landasan utama pihak sekolah dalam membentuk akhlak peserta didik, akhlak peserta didik di

Judul skripsi ini adalah Fungsi Kepala Sekolah dalam Pembentukan Akhlak Peserta Didik Melalui Pembiasaan Perilaku Islami di SMP Negeri 2 Tawangsari, Sukoharjo

(2) dan sebagai implikasi pendidikan Aqidah AkhlakTerhadap Upaya Guru Aqidah Akhlak Dalam Mengatasi Perilaku Peserta Didik Di MTS Lakea, menggamPendidikan Aqidah Akhlak di sekolah

(2) dan sebagai implikasi pendidikan Aqidah AkhlakTerhadap Upaya Guru Aqidah Akhlak Dalam Mengatasi Perilaku Peserta Didik Di MTS Lakea, menggamPendidikan Aqidah Akhlak di sekolah

Implementasi metode kisah Islami dalam membina akhlak mulia peserta didik yang diterapkan di setiap materi pembelajaran akidah akhlak, memiliki tujuan agar peserta didik dapat memahami