• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of The The Selection of Water Loss Reducing Strategy in PDAM Tirta Kerta Raharja Kab. Tangerang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View of The The Selection of Water Loss Reducing Strategy in PDAM Tirta Kerta Raharja Kab. Tangerang"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN ITB

E-ISSN: 27146715

Pemilihan Strategi Pengendalian Kehilangan Air pada Perusahaan Daerah Air Minum di Indonesia (Studi Kasus: PDAM Tirta Kerta Raharja Kabupaten Tangerang)

Rima Wahyudyanti1* dan Rofiq Iqbal2

1Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang, Jl. Syekh Yusuf No. 10, Kota Tangerang, Banten 15118, Indonesia

2Program Magister Pengelolaan Infrastruktur Air dan Sanitasi, Institut Teknologi Bandung, Jl. Let. Jend.

Purn. Dr. (HC) Mashudi No. 1, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat 45363, Indonesia

*E-mail: [email protected]

Abstrak INFO ARTIKEL

PDAM Tirta Kerta Raharja adalah PDAM Kabupaten yang melayani seluruh Kabupaten Tangerang, Indonesia. Persentase kehilangan air keseluruhan pada 2017 adalah 14,84%. Namun, jika dilihat dari jumlah kehilangan air per area layanan diketahui bahwa masih ada area layanan yang memiliki persentase di atas 20% di antaranya adalah Area Layanan I, II dan III dengan persentase kehilangan air 34,30% atau 17.030.638 m3/tahun pada tahun 2017.

Dalam penelitian sebelumnya diketahui bahwa pemilihan strategi pengendalian kehilangan air dipengaruhi oleh multi-kriteria yang memiliki hubungan terkait dan penerapan strategi pengendalian kehilangan air dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar, jika dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan dalam menerapkan strategi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan strategi pengendalian kehilangan air menggunakan metode Analytic Network Process (ANP) dengan bantuan Superdecision 2.6.0 dan analisis keuangan. Dari hasil analisis menggunakan metode ANP kriteria yang paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan dalam pemilihan strategi pengendalian kehilangan air adalah kriteria layanan dan sub kriteria prioritas adalah ruang lingkup layanan teknis yang optimal. Dari penelitian ini, program pengendalian kehilangan air yang direkomendasikan adalah kombinasi dari program pengendalian kehilangan air komersial dan fisik, yaitu peningkatan akurasi meter pelanggan, optimalisasi ketelitian pembacaan meter dan penanganan data penagihan dan pengendalian kebocoran aktif.

Kata Kunci: analytic network process (AHP), kehilangan air, multikriteria, neraca air, PDAM

Sitasi: Wahyudyanti, R., & Iqbal, R.

(2023). Pemilihan Strategi Pengendalian Kehilangan Air pada Perusahaan Daerah Air Minum di Indonesia (Studi Kasus: PDAM Tirta Kerta Raharja Kabupaten Tangerang). Jurnal Teknik Lingkungan, 29 (1), 14-26.

Article History:

Received 4 Agustus 2022 Revised 3 Januari 2023 Accepted 26 Februari 2023 Available online 4 April 2023

Jurnal Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung is licensed under a Creative Commons Attribution- NoDerivatives 4.0 International License. Based on a work at www.itb.ac.id

Abstract

PDAM Tirta Kerta Raharja is a Regency PDAM that serves the entire Tangerang Regency, Indonesia. The percentage of overall water loss in 2017 was 14.84%.

However, when viewed from the number of water losses per service area it is known that there are still service areas that have a percentage above 20% of which are Service Areas I, II and III with a percentage of water loss of 34.30% or 17,030,638 m3/year at in 2017. In previous studies it was known that the selection of water loss control strategies is influenced by multicriteria that have a related relationship and the implementation of water loss control strategies can produce greater profits, when compared to the costs incurred in implementing the strategy. The purpose of this research was to determine water loss control strategies using the Analytic Network Process (ANP) method with the help of superdecision 2.6.0 and financial analysis.

From the results of the analysis using the ANP method the most influencing criteria in decision making on the selection of water loss control strategies are the service criteria and priority sub criteria are the scope of optimal technical services. From this research it is recommended that as the water loss control is a combination of a commercial and physical water loss control programs, that is increasing customer meter accuracy, optimizing the accuracy of meter readings and handling billing data and active leak control.

Keywords: analytic network process (AHP), multi criteria, PDAM, water balance, water loss

(2)

1. Pendahuluan

PDAM Tirta Kerta Raharja ( P D A M T K R ) adalah PDAM Kabupaten yang melayani keseluruhan Kab.

Tangerang. PDAM TKR memiliki 11 Instalasi Pengolahan Air Minum (IPA) dengan total kapasitas produksi 5040 liter/dtk dan jumlah sambungan langganan hingga tahun 2017 sejumlah 498.689 SL.

Presentase kehilangan air saat ini menurut BPPSPAM adalah sebesar ≤ 35% dan dianggap PDAM dengan rasio kinerja yang baik dan sehat. Presentase tersebut masih dianggap belum mencapai standar toleransi Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20/PRT/M/2006 yaitu kehilangan air maksimal sebesar 20%.

Menurut perhitungan dari PDAM TKR presentase kehilangan air secara keseluruhan pada tahun 2017 yaitu 14,84% atau sebesar 22.733.838 m3/tahun. Presentase kehilangan air secara keseluruhan tersebut terbantu oleh suplai air curah yang menjadi konsumsi bermeter berekening sebesar 94.929.226 m3/tahun selama tahun 2017, sehingga presentase kehilangan menjadi cukup baik yaitu kurang dari 20%. Akan tetapi, apabila dilihat dari nilai kehilangan air per wilayah pelayanan di PDAM TKR dapat terlihat bahwa masih terdapat wilayah pelayanan yang memiliki presentase diatas 20%, diantaranya adalah Wilayah Pelayanan I, II dan III yang memiliki presentase kehilangan air 34,30% atau sebesar 17.030.638 m3/tahun pada tahun 2017 (Anonim, 2018). Wilayah pelayanan ini masih tergabung karena jaringan perpipaan yang masih menyambung sehingga terdapat kesulitan dalam menentukan penyebab kehilangan air. PDAM TKR saat ini masih terus melakukan upaya penurunan dan pengendalian kehilangan air hingga mencapai presentase terendah. Menurut (Tanjung & Mulia, 2014) kehilangan air dapat didefinisikan sebagai selisih antara jumlah air yang tercatat masuk ke sistem dan jumlah air yang tercatat keluar dari sistem. Menurut (Heston & Pasawati 2016) faktor yang mempengaruhi tingginya kehilangan air karena rendahnya kalibrasi meteran pelanggan, rendahnya aspek operasional/teknis, rendahnya pengelolaan keuangan dan seluruh pegawai yang belum mendapatkan pelatihan khusus ATR, rasio diklat pegawai yang belum proporsional, perbaikan yang dilakukan hanya pada saat terjadi kebocoran, pendapatan yang masih di bawah anggaran, keberadaan komitmen pemimpin, rendahnya penilaian terhadap kinerja karyawan, pemeliharaan infrastruktur yang masih belum rutin serta terkait penempatan pegawai yang masih belum sesuai dengan tingkat pendidikan mereka. Besarnya nilai pembiayaan kerugian akibat kehilangan air tersebut merupakan alasan yang sangat kuat mengapa harus dilakukan berbagai upaya untuk menurunkan tingkat kehilangan air. Selain itu, pengendalian kehilangan air baik fisik maupun non fisik dapat menjadi salah satu cara agar tercapainya misi PDAM TKR itu sendiri yaitu menyediakan kebutuhan air minum bagi masyarakat secara berkesinambungan, melalui pelayanan prima dan memberikan kontribusi yang optimal bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) (Farley, dkk., 2008). Begitu juga menurut (El-Ahmady & Sembiring, 2014) bahwa penanganan kehilangan air dapat memberikan keuntungan bagi PDAM yaitu peningkatan pendapatan, jumlah pelanggan, konsumsi, cakupan pelayanan dan perbaikan citra. Penundaan investasi sistem baru dan tersedianya dana untuk perluasan serta perbaikan layanan penyediaan air minum bagi masyarakat juga merupakan keuntungan yang didapatkan oleh PDAM.

Multi criteria decision making (MCDM) adalah metode yang digunakan untuk melakukan pemilihan alternatif terbaik diantara beberapa alternatif yang ada dengan penilaian terhadap berbagai kriteria yang mempengaruhinya. Pemangku kepentingan (stakeholders) dalam bidang air minum dihadapkan oleh beragamnya program pengendalian kehilangan air dengan berbagai kriteria yang saling berkaitan, tantangan yang harus dihadapi adalah menentukan program yang paling tepat untuk dilaksanakan. Metode pengambilan keputusan multi-kriteria digunakan untuk menyelesaikan tantangan tersebut (Mutikanga, dkk., 2011). Metode pengambilan keputusan multi-kriteria dapat membantu pemangku kepentingan untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan model yang terstruktur (Cambrainha & Fontana, 2018).

Menurut (Zyoud, dkk., 2016) metode pengambilan keputusan multi-kriteria berhasil dalam menangani permasalahan yang rumit dalam hal pengendalian kehilangan air di Indonesia. Analytic Network Process (ANP) adalah metodologi untuk pengambilan keputusan multi-kriteria yang digunakan untuk memperoleh kriteria prioritas yang dibandingkan dalam hierarki jaringan, metode ini mempertimbangkan ketergantungan dan keterkaitan antar kriteria. Metode ANP dapat dijadikan alternatif untuk suatu permasalahan yang mempunyai banyak kriteria yang sering berkaitan atau berpengaruh dalam pengambilan keputusan (Budiarti & Widodo, 2013). Metode ANP merupakan pengembangan dari metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Pada metode ANP ini mampu memperbaiki kelemahan dari metode AHP.

Metode ANP ini mampu mengakomodasi keterkaitan antar kriteria atau alternatif. Keterkaitan pada metode

(3)

ANP ada 2 jenis yaitu keterkaitan dalam satu set elemen (inner dependence) dan keterkaitan antar elemen yang berbeda (outer dependence). Adanya keterkaitan tersebut menyebabkan metode ANP lebih kompleks dibanding metode AHP. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan metode Analytic Network Process (Iriani & Herawan, 2012). Metode ANP sesuai untuk menangani pengambilan keputusan pada masalah yang kompleks, seperti pemilihan sistem yang tepat (Molinos-Senante, dkk., 2015). Program- program pengendalian kehilangan air komersil menurut penelitian-penelitian terdahulu yaitu pengecekan meter air pelanggan secara berkala dan mengidentifikasi yang tidak berfungsi (Dewi, dkk., 2015; Harlini, dkk., 2016), pergantian meter air yang tidak berfungsi (Harlini dkk., 2016; Zyoud dkk., 2016), kalibrasi meter air secara berkala sehingga terdapat peningkatan akurasi (El-Ahmady, dkk., 2014; Mutikanga dkk., 2011) pengembangan aplikasi sistem manajemen menggunakan perangkat lunak seperti GIS (Harlini dkk., 2016), manajemen aset (Saparina, 2017; Zyoud, dkk., 2016) peningkatkan pendanaan (Saparina, 2017), penertiban sambungan illegal atau konsumsi yang tidak sah (De Souza, dkk., 2014; Zyoud, dkk., 2016) (Al- anshari, 2013 dalam El- ahmady, 2014), analisa menggunakan panel data (Berg, 2015). Program-program pengendalian kehilangan air fisik menurut penelitian- penelitian terdahulu yaitu penggantian pipa yang rusak dan sudah tua (Choi, dkk., 2014; Dewi dkk., 2015; Harlini dkk., 2016; Mutikanga dkk., 2011; Saparina, 2017) (Al-anshari, 2013 dalam El- ahmady, 2014), pemasangan PRV (Choi, dkk., 2014; Saparina, 2017) manajemen tekanan (Mutikanga dkk., 2011), pembentukan DMA dan mengoptimalkan fungsinya (De Souza

& Costa da Silva, 2014; Saparina, 2017) peningkatan kecepatan dan kualitas perbaikan kebocoran (Mutikanga dkk., 2011; Zyoud dkk., 2016), pengontrolan kebocoran aktif (Mutikanga dkk., 2011; Zyoud dkk., 2016), manajemen kebocoran dengan mendeteksi lokasi dan mengontrol kebocoran (Fontana & Morais, 2016). Dari uraian diatas, maka dapat diketahui bahwa pemilihan strategi pengendalian kehilangan air dipengaruhi oleh multikriteria yang memiliki hubungan keterkaitan dengan pelaksanaannya yang dapat menghasilkan keuntungan, apabila dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan strategi tersebut. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dilakukan penentuan strategi pengendalian kehilangan air fisik dan non fisik yang bernilai ekonomis dan dapat diaplikasikan di PDAM TKR dengan metode Analytic Network Process (ANP) dan analisis keuangan.

2. Metodologi Penelitian

Metodologi pada penelitian ini adalah melakukan studi literatur, pengambilan data sekunder dan data primer, pengolahan data, hasil dan kesimpulan. Tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengetahui besaran nilai dan presentase kehilangan air eksisting PDAM TKR.

2. Mengetahui kondisi eksisting strategi pengendalian kehilangan air yang dilakukan PDAM TKR.

3. Menentukan program-program pengendalian kehilangan air yang dapat dijadikan alternatif-alternatif strategi pengendalian kehilangan air.

4. Menentukan alternatif strategi pengendalian kehilangan air di PDAM TKR.

5. Mengetahui kriteria dan sub-kriteria yang paling dipertimbangkan dalam menentukan strategi pengendalian kehilangan air fisik dan non fisik.

6. Menentukan kriteria dan mengidentifikasi sub-kriteria yang mempengaruhi pengambilan keputusan pemilihan strategi pengendalian kehilangan air di PDAM TKR.

7. Menganalisis hubungan keterkaitan antar kriteria dan sub-kriteria yang paling mempengaruhi kajian pemilihan strategi pengendalian kehilangan air di PDAM TKR menggunakan metode Dependence and Driving Prower Analysis (DDPA) serta membangun model jaringan.

8. Mengetahui 3 (tiga) prioritas teratas alternatif program pengendalian kehilangan air untuk PDAM TKR dengan menggunakan metode Analytic Network Process (ANP).

9. Menganalisis aspek keuangan (finansial) program pengendalian kehilangan air.

10. Mengetahui tingkat profitabilitas dari program pengendalian kehilangan air.

11. Mengetahui strategi pengendalian kehilangan air yang layak dijadikan prioritas oleh PDAM TKR.

Ruang lingkup wilayah penelitian pada Wilayah Pelayanan I, II dan III PDAM TKR. Skema metodologi penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.

(4)

Gambar 1. Skema metodologi penelitian

2.1 Kebutuhan Data

Data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder, seperti pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Kebutuhan data penelitian

No Kebutuhan Data Teknik Pengambilan

Data/Sumber Data Manfaat Data Sekunder

1 Pengumpulan data teknis dan operasional PDAM TKR: Neraca air, data meter pelanggan, data jaringan

Pengambilan data di PDAM TKR

Mengetahui tingkat kehilangan air eksisting beserta sumber dan kendala yang didapatkan

(5)

No Kebutuhan Data Teknik Pengambilan

Data/Sumber Data Manfaat perpipaan, tekanan air di jaringan,

kapasitas IPA dan jumlah hasil produksi, dll

2 Pengumpulan data keuangan PDAM TKR: Nilai kehilangan air eksisting dari segi keuangan, Tarif rata-rata , tarif yang berlaku, laba, pendapatan, biaya operasional

Pengambilan data di PDAM TKR

Menyusun program pengendalian kehilangan air

3 Pengumpulan data sekunder lain yang terkait: program yang telah/sedang dilaksanakan untuk pengendalian kehilangan air, gambaran umum mengenai PDAM TKR.

Pengambilan data di PDAM TKR

Menyusun program pengendalian kehilangan air

Data primer

1 Pemilihan prioritas program pengendalian kehilangan air:

prioritas pengendalian kehilangan air fisik, prioritas pengendalian kehilangan air non fisik

Penyebaran

kuesioner ANP dan DDPA kepada responden yang terpilih

Mengetahui prioritas alternatif pengendalian kehilangan air di PDAM TKR dan menggambarkan kekuatan keterkaitan dan

pengaruh antar kriteria, dalam hal ini adalah aspek teknik

operasional, pelayanan, keuangan dan SDM.

2.2 Teknik Pengumpulan Data 2.2.1 Data Primer

• Kuesioner Analytical Network Process (ANP) untuk menentukan prioritas alternatif program pengendalian kehilangan air di PDAM TKR.

• Wawancara dilakukan kepada pegawai PDAM TKR pada bagian Transmisi dan Distribusi yang melakukan perhitungan Neraca Air di PDAM tersebut, hal ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting program pengendalian kehilangan air dari aspek teknis operasional dan sumber daya manusia.

2.2.2 Data Sekunder

Pengambilan data sekunder didapatkan dari studi literatur, hasil penelitian terdahulu dan data yang diperoleh langsung dari PDAM TKR.

2.3 Analisis Kondisi Eksisting Nilai Kehilangan Air PDAM TKR

Neraca air yang merupakan data sekunder dari PDAM TKR dianalisis untuk mengetahui kondisi eksisting nilai kehilangan air dan kondisi permasalahan dalam membuat neraca air yang dihadapi PDAM tersebut.

Hasil analisa kondisi eksisting kehilangan air kemudian dijadikan gambaran dalam penyebaran kuesioner ANP.

2.4 Perancangan Alternatif

Perancangan alternatif berdasarkan pada hasil kajian literatur pendahulu, panduan yang dibuat oleh BPPSPAM, analisa neraca air PDAM TKR tahun 2017 dan evaluasi kondisi eksisting program/strategi yang saat ini telah dijalankan di wilayah pelayanan PDAM TKR. Alternatif dalam pengendalian kehilangan air digolongkan dalam penanganan kehilangan air komersil dan kehilangan air fisik. Adapun alternatif- alternatif strategi pengendalian kehilangan air yang diajukan adalah seperti berikut : Peningkatan akurasi meter pelanggan dilakukan dengan cara menyurvei dan pengkalibrasian Water Meter (WM) secara berkala serta penggantian WM tua secara, optimalisasi ketelitian pembacaan meter dan penanganan data tagihan, meminimalkan konsumsi tak resmi, pengendalian kebocoran aktif, manajemen asset dan mengupdate

(6)

inventarisasi jaringan perpipaan, optimalisasi pengelolaan/manajemen tekanan, dan pengendalian air yang terbuang dari reservoir.

2.5 Studi Analytical Network Process (ANP)

Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Penentuan kriteria pemilihan kriteria dalam penelitian ini didasarkan pada kajian penelitian- penelitian terdahulu dan kriteria yang digunakan oleh Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) dalam evaluasi tingkat kinerja penyelenggaraan Siste m Penyediaan Air Minum ( SPAM) oleh PDAM. Kriteria yang terpilih pada penelitian ini adalah kriteria keuangan, pelayanan/sosio-ekonomi, teknis operasional, sumber daya manusia, lingkungan dan kesehatan masyarakat. Penentuan jumlah sampel pada kuesioner ANP berbeda-beda, metode yang digunakan adalah purposive sampling. Responden dalam penelitian ini terdiri dari :

• Responden dari unsur PDAM TKR, khususnya bagian Transmisi & Distribusi dan wilayah pelayanan I, II dan III serta cabang Teluk Naga sebagai pengelola dan pelaksana kegiatan pengendalian kehilangan air.

• Responden dari pengajar pelatihan pengendalian kehilangan air yang terpilih dari hasil pelatihan oleh ciptakarya yaitu program Centre of Excellence (CoE) dalam Bimbingan Teknis (BIMTEK) pengendalian air tak berekening. Para pengajar yang terpilih merupakan pegawai PDAM dari hasil pelatihan tersebut, pada penelitian ini pengajar yang dijadikan sebagai responden berasal dari PDAM TKR dan PDAM Tirta Raharja Kab. Bandung.

• Responden dari konsultan yang memahami permasalahan kehilangan air.

• Responden dari BPPSPAM sebagai bagian dari pemerintah yang memiliki tugas dalam membantu menyelenggarakan SPAM yang dilaksanakan oleh PDAM.

• Responden dari Perpamsi sebagai wadah perhimpunan PAM dengan salah satu perannya adalah memberikan solusi terbaik untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

• Responden dari akademisi, yaitu dosen Institut Teknologi Bandung dan Universitas Trisakti.

2. Penentuan Sub-Kriteria (Kuesioner I dan Kuesioner II)

Pemilihan sub kriteria dalam penelitian ini dipilih oleh responden melalui kuesioner dan diskusi.

Kuesioner berupa daftar sub kriteria dari kajian penelitian terdahulu yang kemudian akan dipilih oleh responden. Responden dalam kuesioner awal penentuan sub kriteria antara lain, pengambil keputusan (stakeholders) di Bagian Transmisi & Distribusi PDAM TKR konsultan sebagai praktisi dan akademisi yang memahami kondisi dan permasalahan kehilangan air yang dihadapi PDAM.

3. Penentuan hubungan keterkaitan antar sub-kriteria diperoleh melalui kuesioner keterkaitan antar 29 sub kriteria yang telah ditentukan.

Hasil kuesioner diintegrasi dari keseluruhan kelompok responden sejumlah 22 responden dan menggunakan Persamaan 1 untuk menentukan hubungan keterkaitan

𝑄 = 𝑁

2………..Persamaan 1 4. Konstruksi model jaringan (ANP) berdasarkan hasil pada langkah 1, II dan III.

5. Kuesioner perbandingan berpasangan (Kuesioner III) untuk mengetahui skala kepentingan alternatif pengendalian kehilangan air. Jenis kelompok responden memiliki kesamaan dengan dua tahap kuesioner sebelumnya.

6. Pengolahan data dengan Software Superdecision 2.6.0 untuk menguji konsistensi matrik perbandingan berpasangan hingga memenuhi CR ≤ 10%, dihitung bobot kriteriam dan sintesis alternatif.

2

.6 Analisis Finansial terhadap 3 (tiga) Prioritas Teratas Alternatif

Analisis finansial berfungsi untuk mengetahui pendapatan dan tingkat profitabilitas yang dapat didapatkan dari alternatif-alternatif program tersebut dengan melakukan simulasi sebuah skenario yaitu penurunan tingkat kehilangan air hingga 20%. Pada skenario tersebut juga terdapat simulasi dari 3 kondisi yaitu penanganan kehilangan air fisik, kehilangan air komersil dan kombinasi keduanya sehingga secara keseluruhan dalam penelitian ini terdapat 3 macam simulasi analisis keuangan. Tahapan dalam analisis finansial pada tiap-tiap skenario adalah sebagai berikut :

(7)

1. Menghitung volume yang bisa diselamatkan dari program yang akan diimplementasikan melalui neraca air.

2. Menentukan pos-pos pengeluaran; mencakup biaya investasi, operasional, pemeliharaan, penyusutan, pajak dan pinjaman.

3. Menentukan pos-pos pemasukan; tarif, pendapatan dan laba.

4. Menentukan tingkat profitabilitas program dengan:

• Index Profitabilitas, dengan menggunakan Persamaan 2.

𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑙𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑠 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘

𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑙𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑠 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 ………Persamaan 2

Net Present Value (NPV), dengan menggunakan Persamaan 3.

𝑁𝑃𝑉 = ∑𝑡𝑛= 0 (𝐶)𝑡

(1+𝑖)𝑡− ∑𝑡𝑛= 0 (𝐶0)𝑡

(1+𝑖)𝑡………...…Persamaan 3

Return on Investment (ROI), dengan menggunakan Persamaan 4.

𝑅𝑂𝐼 = 𝑃𝑒𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘𝑎𝑛

𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖 𝑥 100 % ……….……Persamaan 4

Payback Period, dengan menggunakan Persamaan 5.

𝑃𝑃 = (𝑛 − 1) + [𝐶𝑓 − ∑1𝑛 𝐴𝑛] (1

𝐴𝑛) ………..……Persamaan 5

Profit Margin, dengan menggunakan Persamaan 6.

𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ

𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑥 100 % ……….Persamaan 6

2.7 Metode Pemeringkatan (Ranking)

Dengan beberapa kriteria yang dijadikan pertimbangan dalam analisis finansial dengan skenario penurunan hingga 20% serta sifat proyek yang berbeda maka digunakan metode pemeringkatan (ranking) dengan memberikan skor pada tiap kriteria dalam analisis finansial untuk memperoleh program yang paling layak dipilih.

3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Evaluasi Kondisi EKsisting Program Pengendalian Kehilangan Air dan Neraca Air Wilayah Pelayanan I, II dan III PDAM TKR

Wilayah pelayanan I, II dan III memiliki pelanggan pada tahun 2017 sejumlah ± 97.783 SL. Kondisi air tak berekening di wilayah pelayanan I, II dan III menurut neraca air tahun 2017 paling besar diakibatkan oleh kehilangan air fisik kemudian kehilangan air non fisik dan konsumsi resmi tak berekening. Analisis neraca air dan kondisi eksisting program kehilangan air di Wilayah Pelayanan I, II dan III PDAM TKR tahun 2017 adalah seperti berikut :

1. Volume input sistem, yaitu perhitungan volume air yang memasuki sistem distribusi dari produksi (Instalasi Pengolahan Air) dengan dipasang meter. Volume input sistem wilayah pelayanan I, II dan III PDAM TKR sebesar 49.658.364 m3/tahun.

2. Konsumsi berekening bermeter, data ini merupakan jumlah air yang dapat terjual dan menjadi rekening di wilayah pelayanan I, II dan III. Pembacaan dilakukan setiap tanggal 1 hingga tanggal 20 tiap bulannya.

Konsumsi resmi berekening bermeter pada wilayah pelayanan I, II dan III selama tahun 2017 sebesar 32.627.726 m3/tahun. Air yang didistribusikan melalui tangki, baik yang dijual maupun tangki bantuan menggunakan alat ukur water meter dan berekening.

(8)

3. Konsumsi berekening tak bermeter adalah pemakaian atau penggunaan air yang dikonsumsi pelanggan resmi tanpa bermeter. Pada PDAM TKR terutama wilayah I, II dan III tidak terdapat pemakaian air yang tak bermeter dan berekening.

4. Kehilangan air di wilayah pelayanan I, II dan III sebesar 13.677.238 m3/tahun yang terdiri dari konsumsi resmi tak berekening, kehilangan air non fisik dan kehilangan air fisik.

5. Kehilangan air non fisik sebesar 4.576.377 m3/tahun, terdiri dari: Konsumsi tak resmi dikenal sebagai sambungan liar atau pencurian air.

6. Konsumsi tak resmi pada wilayah pelayanan I, II dan III sebesar 2.810.500 m3/tahun yaitu sambungan liar tidak diketahui, meter air yang rusak, diperlambat atau di-bypass.

7. air yang diperkirakan tidak terhitung karena ketidakakuratan meter dan kesalahan penanganan data adalah 1.765.877 m3/tahun.

8. Kehilangan air fisik merupakan air yang dihitung keluar dari perpipaan distribusi sebelum digunakan oleh pelanggan, jumlah kehilangan air fisik di wilayah pelayanan I, II dan III adalah 9.100.861 m3/tahun yang terdiri kebocoran terlaporkan dan tak terlaporkan. Kebocoran terlaporkan terdiri dari kebocoran pada pipa distribusi, serta pada pipa dinas yang dilaporkan baik oleh pelanggan/masyarakat atau yang ditemukan petugas. Kebocoran tak terlaporkan adalah kebocoran yang harus dilakukan pendeteksian, merupakan kebocoran yang sulit dideteksi. Perhitungan ini dapat dihitung secara matematis dengan adanya data konsumsi resmi dan kehilangan komersial yang diperkirakan. Panjang pipa di wilayah pelayanan I, II dan III memiliki total panjang 7.454,7 km dengan tekanan rata-rata 0,6 m, 24 jam pelayanan dalam 7 hari per minggu. Kondisi jaringan perpipaan di wilayah pelayanan ini terutama JDU merupakan perpipaan yang dibangun sejak lama. Pipa terdiri dari ACP, FGRP, PVC, ST dengan diameter 150-1000 mm.

3.2 Identifikasi Hubungan Ketergantungan Antar Kriteria

Dalam mengidentifikasi hubungan ketergantungan antar kriteria ditentukan hubungan inner dependence (keterkaitan dalam satu kriteria) dan hubungan outer dependence (keterkaitan antar kriteria) (Adzillah, dkk., 2016). Penentuan sub- kriteria dipilih oleh 30 responden melalui kuesioner I – Penentuan Sub Kriteria dan diskusi. Kriteria aspek keuangan memiliki subkriteria yaitu biaya investasi minimal, biaya OM minimal, meningkatkan pendapatan, periode manfaat dari program yang maksimal. Subkriteria pada aspek pelayanan terdiri dari cakupan pelayanan teknis maksimal, pertumbuhan pelanggan terus terjadi, waktu terjadi gangguan kebocoran minimal, meningkatkan kualitas air pelanggan, tingkat penyelesaian pengaduan dalam waktu singkat dan frekuensi terjadinya gangguan kebocoran minimal. Pada aspek teknis operasional terdapat tekanan air pada sambungan pelanggan sesuai dengan tekanan minimum yang ditentukan, jam operasi pelayanan 24 jam, durasi perbaikan kebocoran pipa dengan waktu minimal, keakurasian WM, frekuensi kebocoran pipa minimal, efisiensi produksi. Sub kriteria pada aspek SDM terdiri dari kesiapan SDM, tersedianya struktur organisasi/tim kerja, kerjasama dengan pihak lain dan komitmen dari tingkat manajerial. Pada kriteria aspek lingkungan terdapat sub kriteria tingkat kebocoran minimal, aliran minimum di malam hari, pelestarian air secara maksimal, mengurangi energi yang dibutuhkan, kehilangan air yang tidak diketahui minimal. Pada aspek kesehatan masyarakat terdapat komplain pelanggan minimal berkaitan dengan kualitas air dan dilaksanakannya pengetesan kualitas air terjadwal.

Tahapan selanjutnya adalah menentukan hubungan ketergantungan antar kriteria dengan menggunakan penyebaran Kuesioner II – Keterkaitan Antar Sub-kriteria. Dalam mengidentifikasi hubungan ketergantungan antar kriteria ditentukan hubungan inner dependence (keterkaitan dalam satu kriteria) dan hubungan outer dependence (keterkaitan antar kriteria). Penentuan hubungan saling ketergantungan dilakukan dengan metode voting melalui kuesioner terhadap adanya ketergantungan antar setiap sub- kriteria. Analisis DDPA keseluruhan responden merupakan rekapitulasi hasil perhitungan dari beberapa kelompok responden yaitu kelompok akademisi, konsultan, BPPSPAM, Perpamsi, pengajar NRW dan Pegawai PDAM TKR. Total responden (N) pada kuesioner II adalah 22 responden, sehingga nilai Q (N/2)

= 11) dengan arti bahwa nilai sub kriteria lebih dari atau sama dengan Q dianggap memiliki keterkaitan.

Penempatan sub kriteria ke dalam 4 kuadran DDPA, berdasarkan hasil dari keseluruhan responden yang dilihat pada Gambar 2.

(9)

Gambar 2. Kluster sub kriteria dari keseluruhan responden

Berdasarkan Gambar 2, hasil dependence dan driving power di plot ke dalam empat kuadran. Sub kriteria yang terdapat pada kuadran III yaitu Linkage nantinya akan menjadi sub kriteria pada kuesioner ANP yaitu kuesioner perbandingan berpasangan untuk menganalisis prioritas kriteria dan sub kriteria dengan metode ANP. Sub kriteria pada Linkage (kluster 3) harus dikaji dengan hati-hati karena interaksinya dapat memberikan dampak dan umpan balik terhadap sistem. Hubungan antar sub kriteria tidak stabil, sehingga setiap perlakukan pada sub kriteria pada kluster ini akan memberikan dampak terhadap sub kriteria lainnya. Hasil dari identifikasi hubungan ketergantungan antar kriteria ini adalah kriteria yang memiliki keterkaitan yang tinggi, sehingga dianggap untuk dijadikan parameter untuk pemilihan program pengendalian kehilangan air. Sub kriteria yang termasuk ke dalam kluster 3 adalah Tersedianya struktur organisasi/tim kerja (S2), Meningkatkan pendapatan (K3), Periode manfaat dari program yang maksimal (K4), Cakupan pelayanan teknis maksimal (P1), Kesiapan SDM/peningkatan kualitas SDM (S1), Komitmen dari tingkat manajerial (low-high) (S4), Tingkat aliran kebocoran minimal (L1). Adapun konstruksi model jaringan yang terbentuk dari hasil analisa DDPA dan kemudian dimasukkan ke dalam software Superdecision 2.6.0 adalah seperti pada Gambar 3.

Gambar 3. Konstruksi jaringan ANP menggunakan Superdecision 2.6.0

K1 K2

K3 K4

P1

P2 P3

P4 P5

T1 T2 T3

T4T5 T6

T7

T8 T9T10 S2S1

S3

S4

S5 L1

L2

L3 L4

L5 M2 M1 P6

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

Driving Power

Dependency KLUSTER IV :

Independen KLUSTER III :

Linkage

KLUSTER I :

Autonomous KLUSTER II :

Dependen

(10)

3.3 Penilaian Kriteria dan Sub Kriteria

Kriteria pelayanan merupakan prioritas utama dalam penentuan alternatif pengendalian kehilangan air.

Aspek berikutnya yang dipertimbangkan secara berturut-turut adalah aspek keuangan, SDM dan lingkungan. Nilai CR sebesar 0,09583 (9,5%) menunjukkan hasil perhitungan cukup konsisten karena ≤ 10%, dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 1. Prioritas kriteria pengendalian kehilangan air

Kriteria Bobot Cr

Aspek Keuangan 0,22

0,09583

Aspek Lingkungan 0,07

Aspek Pelayanan 0,61

Aspek SDM 0,10

Penilaian sub kriteria berdasarkan pada keseluruhan kelompok responden menunjukkan bahwa kriteria pelayanan yaitu cakupan pelayanan teknis optimal dengan bobot 0,23 merupakan indikator utama yang harus diperhatikan dalam menentukan pemilihan strategi pengendalian kehilangan air karena PDAM merupakan perusahaan daerah yang menyediakan air minum dan air bersih untuk masyarakat. Bobot sub kriteria keseluruhan kelompok responden dapat dilihat pada Gambar 4.

3.4 Sintesis Alternatif Pengendalian Kehilangan Air

Prioritas alternatif pengendalian kehilangan air di wilayah pelayanan I, II dan III di PDAM TKR adalah peningkatan akurasi meter pelanggan dengan bobot tertinggi yaitu 0,331. Implementasi peningkatan akurasi meter pelanggan dapat memperkecil kecurangan yang terjadi pada wm pelanggan sehingga air yang tidak tercatat nantinya dapat berubah menjadi rekening dan menghasilkan pendapatan bagi PDAM, sehingga dapat juga mengoptimalkan cakupan pelayanan teknis. Dengan mempertimbangkan seluruh kriteria dan sub kriteria, maka dapat diketahui urutan prioritas program yang paling baik menurut para ahli diimplementasikan di PDAM TKR tepatnya wilayah pelayanan I, II dan III pada Tabel 3.

Gambar 4. Bobot sub kriteria keseluruhan responden Tabel 3. Urutan prioritas alternatif program pengendalian kehilangan air

Prioritas Alternatif program Bobot Jenis

kehilangan air

1 Peningkatan akurasi meter pelanggan 0,331 Komersil

2 Pengendalian kebocoran aktif 0,219 Fisik

0.22

0.084

0.21 0.23

0.13

0.083

0.04

0.00 0.05 0.10 0.15 0.20 0.25

Meningkatkan

pendapatan Periode manfaat dari program yang

optimal

Tingkat aliran

kebocoran minimal Cakupan pelayanan teknis

optimal

Kesiapan SDM Komitmen dari tingkat manajerial

(low-high)

Tersedianya susunan organisasi/Tim

Kerja

Bobot

Subkriteria

(11)

Prioritas Alternatif program Bobot Jenis

kehilangan air 3 Optimalisasi ketelitian pembacaan meter dan penanganan

data tagihan 0,211 Komersil

4 Meminimalisasi konsumsi tak resmi 0,113 Komersil

5 Manajemen aset dan mengupdate inventarisasi jaringan

perpipaan 0,065 Fisik

6 Optimalisasi manajemen tekanan 0,038 Fisik

7 Pengendalian air yang terbuang dari reservoir 0,024 Fisik

Dari hasil penelitian sebelumnya terlihat perbedaan alternatif pengendalian kehilangan prioritas, seperti pada (El-Ahmady dan Sembiring, 2014) dan (Zyoud dkk., 2016), hal ini dapat disebabkan karena ruang lingkup wilayah studi penelitian yang berbeda. (El-Ahmady dan Sembiring, 2014) melakukan studi dengan contoh permasalahan di PDAM Indonesia dan diolah menggunakan metode AHP sedangkan studi yang dilakukan (Zyoud dkk., 2016) merupakan permasalahan yang terjadi di negara berkembang menggunakan metode Fuzzy AHP dan Fuzzy TOPSIS.

Metode selanjutnya adalah melakukan analisis finansial pada 3 (tiga) besar program pengendalian kehilangan air yang menjadi prioritas dan dilakukan pemeringkatan sehingga dapat diketahui strategi pengendalian kehilangan air yang tepat dan ekonomis untuk diimplementasikan di PDAM TKR. Harga satuan yang digunakan dalam perhitungan ini bersumber dari penelitian sebelumnya (El-Ahmady & Sembiring, 2014; Sya’bani, 2013). Hasil rekapitulasi analisis finansial dapat dilihat pada Tabel 4. Tahapan berikutnya, hasil dari analisis finansial dilakukan pemeringkatan dan didapatkan hasil seperti pada Tabel 5.

Oleh karena itu, dari data tersebut di atas dapat diketahui bahwa program pengendalian kehilangan air yang terpilih adalah kombinasi antara pengendalian kehilangan air komersil dan fisik. Pada urutan kedua terdapat pengendalian kehilangan air fisik dan kemudian urutan terakhir adalah pengendalian air komersil.

Pengendalian kehilangan air fisik yang dimaksud adalah pengendalian kebocoran aktif sedangkan pengendalian komersil adalah peningkatan akurasi meter pelanggan dan optimalisasi ketelitian pembacaan meter dan data.

Tabel 2. Rekapitulasi hasil perhitungan analisis finansial program pengendalian kehilangan air

Parameter Komersil Fisik Kombinasi

Volume terselamatkan (m3) 1.412.702 7.280.689 8.693.390

Target penurunan (%) 20% 20% 20%

Total Cost (Rp.) 26.278.659.304 57.438.241.074 67.042.178.798 Total revenue (Rp.) 17.919.172.886 97.117.471.938 115.036.644.824 NPV (RP.) -7.158.552.140 32.562.957.837 37.289.275.145

IP 0,7 1,77 1,67

ROI 44 64 59

Payback period > 5 tahun 1,6 tahun 1,5 tahun

Tabel 3. Hasil pemeringkatan program pengendalian kehilangan air berdasarkan analisis finansial Program Volume

terselamatkan Total Biaya NPV IP Payback period Total Nilai Peringkat

Komersil 3 1 1 1 1 7 3

Fisik 2 2 2 3 2 11 2

Kombinasi 1 3 3 2 3 12 1

(12)

4. Kesimpulan

Presentase kehilangan air eksisting di PDAM TKR menurut data neraca air tahun 2017 (data sekunder) adalah 14,84% dengan besaran nilai yaitu 25.463.797 m3/tahun, sedangkan presentase kehilangan air Wilayah Pelayanan I, II dan III pada tahun 2017 adalah 34,30% dengan besaran 17.030.638 m3/tahun. Strategi atau program untuk mengendalikan kehilangan air komersil di PDAM TKR yang saat ini sudah dilakukan adalah penggantian WM pelanggan yang memiliki umur teknis 5 (lima) tahun keatas, WM macet dan rusak, WM korosif, dan pembacaan meter menggunakan sistem android namun masih belum terintegrasi). Strategi atau program untuk mengendalikan kehilangan air fisik di PDAM TKR yang saat ini sudah dilakukan adalah contact center yang optimal, kualitas dan kecepatan perbaikan sudah diupayakan semaksimal mungkin, pemeliharaan pipa, susur jaringan, pembuatan DMA namun belum beroperasi dengan baik.

Alternatif-alternatif program yang terpilih untuk dikaji pada penelitian ini adalah peningkatan akurasi meter pelanggan, optimalisasi ketelitian pembacaan meter dan penanganan data tagihan, meminimalkan konsumsi resmi, pengendalian kebocoran aktif, manajemen aset dan mengupdate inventarisasi jaringan perpipaan, optimalisasi manajemen tekanan, dan pengendalian air yang terbuang dari reservoir. Program-program tersebut merupakan hasil kajian literatur, penelitian sebelumnya dan BPPSPAM. Kriteria yang dipertimbangkan dalam pemilihan strategi kehilangan air adalah keuangan, pelayanan, lingkungan dan SDM. Prioritas kriteria yang paling mempengaruhi dalam pengambilan keputusan pemilihan strategi pengendalian kehilangan air adalah kriteria keuangan. Sub kriteria yang paling mempengaruhi pada pemilihan strategi pengendalian kehilangan air adalah meningkatkan pendapatan dari kriteria keuangan.

Alternatif program pengendalian kehilangan air yang paling prioritas berdasarkan sintesis menggunakan metode ANP dengan bantuan software superdecision 2.6.0 adalah peningkatan akurasi meter pelanggan.

Pengendalian kebocoran aktif menjadi program dengan urutan kedua, kemudian terdapat optimalisasi ketelitian pembacaan meter dan penanganan data tagihan pada urutan ketiga. Urutan ke empat dan seterusnya secara berturut-turut, yaitu meminimalisasi konsumsi tak resmi, manajemen aset dan mengupdate inventarisasi jaringan perpipaan, optimalisasi manajemen tekanan dan pengendalian air yang terbuang dari reservoir.

Daftar Pustaka

Adzillah, W. N., Sembiring, E., & Handajani, M. (2016). Pemilihan alternatif pengolahan limbah cair domestik dengan menggunakan metode Dependence and Driving Power (DDPA) dan Analytic Network Process (ANP) (Studi Kasus:

Kota Depok). Jurnal Tehnik Lingkungan, 22(2), 82–91. https://doi.org/10.5614/j.tl.2016.22.2.9

Berg, C. Van Den. (2015). Drivers of non-revenue water : A cross-national analysis *. Utilities Policy, 36, 71–78.

https://doi.org/10.1016/j.jup.2015.07.005

Budiarti, S., & Widodo, A. (2013). Pengambilan keputusan multi-kriteria menggunakan metode anp ( analytic network process ) pada evaluasi supplier ( Studi Kasus Permata Mart , Lampung Timur ). 288–291.

Cambrainha, G. M., & Fontana, M. E. (2018). A multi-criteria decision making approach to balance water supply-demand strategies in water supply systems. Production, 28. https://doi.org/10.1590/0103-6513.20170062

Choi, Y. J., Ahn, J. C., Im, H. T., & Koo, A. (2014). Best management practices for water loss control in Seoul. Procedia Engineering, 89(C), 1585–1593. https://doi.org/10.1016/j.proeng.2014.11.460

De Souza, E. V., & Costa Da Silva, M. A. (2014). Management system for improving the efficiency of use water systems water supply. Procedia Engineering, 70, 458–466. https://doi.org/10.1016/j.proeng.2014.02.051

Dewi, K. H., Koosdaryani, & Muttaqien, A. Y. (2015). Analisis kehilangan air pada pipa jaringan distribusi air bersih PDAM Kecamatan Baki , Kabupaten Sukoharjo. E-Jurnal Matriks Teknik Sipil, 9(1), 16 hal.

Dini Harlini, Indra Syahrul Fuad, Reni Andayani, W. (2016). Perhitungan Non Revenue Water (NRW) dan tingkat kepuasan pelanggan pada PDAM Lematang Enim Unit Pelayanan Pendopo Kabupaten Pali. Jurnal Desiminasi Teknologi, 4(1), 7 hal.

El-Ahmady, I. I., & Sembiring, E. (2014). Pemilihan program pengendalian kehilangan air peningkatan pendapatan PDAM. Jurnal Teknik Lingkungan, 20 Oktober 2014, 142–151.

(13)

Farley, M., Wyeth, G., Ghazali, Z. B. M., Istandar, A., & Sigh, S. (2008). The Manager’s Non-Revenue Water Handbook. A Guide to Understanding Water Losses, Ranhill Utilities Bernhad and USAID, Malaysia.

Fontana, M. E., & Morais, D. C. (2016). Decision model to control water losses in distribution networks. Producao, 26(4), 688–697. https://doi.org/10.1590/0103-6513.201815

Heston, Y. P., & Pasawati, A. (2016). Analisis faktor penyebab kehilangan air PDAM. Temu Ilmiah IPLBI 2016, 1, 6 hal.

Iriani, Y., & Herawan, T. (2012). Pemilihan supplier bahan baku benang dengan menggunakan Metode Analytic Network Process ( ANP) ( Studi Kasus Home Industry Nedy ). Simposium Nasional, ISSN 1412-9612: 85-90.

https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/3911/I12_TI.pdf;sequence=1

Molinos-Senante, M., Gómez, T., Caballero, R., Hernández-Sancho, F., & Sala-Garrido, R. (2015). Assessment of wastewater treatment alternatives for small communities: An analytic network process approach. Science of the Total Environment, 532, 676–687. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2015.06.059

Mutikanga, H. E., Sharma, S. K., & Vairavamoorthy, K. (2011). Multi-criteria Decision Analysis: A Strategic Planning Tool for Water Loss Management. Water Resources Management, 25(14), 3947–3969. https://doi.org/10.1007/s11269-011- 9896-9

Saparina . (2017). Penurunan Kehilangan Air di Sistem Distribusi Air Minum PDAM Kota Malang. Disertasi. Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Sya’bani, M. R. S. (2013). Penerapan jaringan distribusi sistem district meter area dalam optimalisasi penurunan kehilangan air ditinjau dari aspek teknis dan finansial (Studi Kasus : wilayah layanan IPA Bengkuring PDAM Tirta Kencana Kota Samarinda Kalimantan Timur).

Zyoud, S. H., Kaufmann, L. G., Shaheen, H., Samhan, S., & Fuchs-Hanusch, D. (2016). A framework for water loss management in developing countries under fuzzy environment: Integration of Fuzzy AHP with Fuzzy TOPSIS.

Expert Systems with Applications, 61, 86–105. https://doi.org/10.1016/j.eswa.2016.05.016

Referensi

Dokumen terkait