SEMINAR NASIONAL
PENGEMBANGAN AGRIBISNIS 2018
”Farmpreneurship: Solusi Menumbuhkan Generasi Petani Milenial dan Menyejahterakan Keluarga Petani”
PROSIDING
DENPASAR, 14 SEPTEMBER 2018
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS UDAYANA
Prosiding Seminar Nasional
Pengembangan Agribisnis
”Farmpreneurship: Solusi Menumbuhkan Generasi Petani Milenial dan Menyejahterakan Keluarga Petani”
Program Studi Agribisnis
Fakultas Pertanian Universitas Udayana Denpasar – Bali
Telp : (0361) 255344
e-mail :[email protected]
Pelindung : Prof. Dr. Ir. I Wayan Windia, SU.
Penanggung Jawab : Dr. Ir. I Dewa Putu Oka Suardi, M.Si.
Pembina : Prof. Dr. Ir. Ketut Budi Susrusa, MS.
Prof. Dr. Ir. Dwi Putra Darmawan, MP.
Prof. Ir. IGAA. Ambarawati, M.Ec., Ph.D.
Prof. Dr. Ir. I Gde Pitana, M.Sc.
Prof. Dr. Ir. I Made Antara, MS.
Ketua Panitia : Dr. Gede Mekse Korri Arisena, SP., M.Agb.
Sekretaris : Dr. Widhianthini, SP., M.Si.
Bendahara : Ida Ayu Listia Dewi, SP., M.Agb.
Reviewer : AAA. Wulandira S. Dj, SP., MA.
Ida Ayu Listia Dewi, SP., M.Agb.
Dr. Widhianthini, SP., M.Si.
Putu Udayani Wijayanti, SP., M.Agb.
Ni Luh Prima Kemala Dewi, SP., M.Agb.
Editor : I Gede Bagus Dera Setiawan, SP., M.Agb.
Cover : I Made Sukewijaya, SP., M.Sc.
Layout : I Made Sukewijaya, SP., M.Sc.
ISBN : 978-602-294-308-2
Cetakan : Pertama
Dicetak di Denpasar, Bali, Indonesia
KATA PENGANTAR
Prosiding ini merupakan dokumentasi dari paparan dan gagasan dari pembicara kunci (keynote speaker), pembicara utama dan karya ilmiah dari para peneliti dan diskusi yang mengiringinya pada Seminar Nasional Pengembangan Agribisnis 2018, dengan tema
”Farmpreneurship: Solusi Menumbuhkan Generasi Petani Milenial dan Menyejahterakan Keluarga Petani”.
Keberlanjutan pertanian sangat menarik untuk dibahas dan didiskusikan. Tujuan kami melaksanakan Seminar Nasional Pengembangan Agribisnis 2018, didasarkan pada fenomena menurunnya jumlah dan kesejahteraan petani di Indonesia.
Seminar Nasional Pengembangan Agribisnis 2018 merupakan ajang tukar menukar informasi hasil penelitian serta diseminasi informasi perihal perkembangan tentang Pemberdayaan Masyarakat, Pengembangan Bisnis, Manajemen Produksi Pertanian On-Farm, Ekonomi Pedesaan dan Pembangunan Pertanian serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Penerbitan prosiding ini diharapkan bermanfaat dan dapat dijadikan acuan dalam pengembangan penelitian terkait dengan kedaulatan pembangunan pertanian. Dewan editor mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian prosiding ini.
Denpasar, 14 September 2018
Editor
DAFTAR ISI EKONOMI PEDESAAN
Efisiensi Usahatani Anggota Simantri Lahan Kering Dan Lahan Basah di
KabupatenGianyar ……….
Ni Luh Prima Kemala Dewi, Ida Ayu Listia Dewi
1
Penyerapan Tenaga Kerja Usahatani Anggota Simantri Lahan Basah dan Kering Di Gianyar……….
Putu Udayani Wijayanti, Ni Luh Prima Kemala Dewi
9
Determinasi Efisiensi Teknis Penggunaan Faktor Produksi pada Usahatani Padi Lahan Irigasi Kabupaten Lombok Barat………..
Hernawati,I Made Anggayuda Pramadya Sudantha
17
Analisis Posisi Indonesia dalam Ekspor ImporTeh ………..
Istis Baroh dan Lina Purwanti Ningsih
31
Kajian Ekonomi Usaha Tani Tumpang Sari Kedelai dan Jagung di Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat……….
Irma Mardian, Awaludin Hipi, Darwis, Nurjahratullailah, dan Eka Widiastuti
38
Keragaan Usaha Tani Varietas Unggul Bawang Merah di Lahan Kering Iklim Kering Kabupaten Bima ……….
Irma Mardian, Muji Rahayu, dan Eka Widiastuti
47
Kajian Pengembangan Tanaman Flacortia Inermis Roxb………...
Joice Noviana Pelima
54
Implementasi Teknologi Jajar Legowo Super di Kabupaten Bima………
Yuliana Susanti, Sabar Untung dan Hiryana Windiyani
60
Faktor–Faktor Penyebab Kearifan Lokal Maneke di Ambang Kepunahan di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara………..
Jane Sulinda Tambas, Kliwon Hidayat, Charles Kepel
68
Dinamika Ketahanan Pangan Rumah Tangga: Kasus di Perdesaan Agroekosistem Sawah Berbasis Padi………..
Tri Bastuti Purwantini
81
Tipologi Petani dan Penguatan Kelembagaan………...
Herlina Tarigan
92
Sistem Agribisnis Usahatani Padi Sawah (Kasus Pada Ekowisata Subak Sembung Desa Peguyangan Kecamatan Denpasar Utara)………..
Gede Mekse Korri Arisena, Ni Luh Prima Kemala Dewi 106 Tingkat Perkembangan Wilayah Propinsi Bali: Kajian Indeks Diversitas Entropi di Kabupaten Bangli dan Kabupaten Karangasem………
Widhianthini, Anak Agung Gede Purantara
116
Analisis Kelayakan Usahatani Kopi di Kabupaten Ende (Kajian pada Desa Niowula dan Randhoria)………..
Imaculata Fatima
126
Dampak Aktifitas Penambangan Terhadap Masyarakat Sekitar Waduk Bili- Bili di Sungai Jeneberang………
Ahmad Rifqi Asrib, Heru Winarno, Taufiq Natsri
140
Tingkat Adaptasi Petani Lokal Terhadap Penerapan Teknologi dari Petani Transmigran pada Usahatani Sawi Putih (Brassica Junceal.) di Kecamatan Betayau Kabupaten Tana Tidung………..
M Erwan Suriaatmaja, Syamad Ramayana
151
Faktor yang Berpengaruh Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja pada Usahatani Cabe Merah di Kabupaten Karangasem, Bali………
Wayan Widyantara
158
Profitabilitas dan Respon Petani Cabai Terhadap Fluktuasi Harga Cabai……
Wayan Widyantara, AA Wulandira S. Dj.
163
Model Dinamika Pemasaran Komoditi Sayuran Dataran Tinggi Dalam Upaya Meningkatkan Pendapatan Petani Di Kabupaten Buleleng………
Gede Mekse Korri Arisena, Dwi Putra Darmawan, Ni Wayan Febriana Utami, I Gde Kajeng Baskara
167
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketidakberhasilan SIMANTRI dalam Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan di Kabupaten Bangli……….
Luh Putu Kirana Pratiwi, Nyoman Yudiarini
176
Analisis Ketahanan Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri) di Kabupaten
Gianyar……….
Luh Putu Kirana Pratiwi
192
Pemanfaatan Salep Antiluka Ekstrak Kunyit dan Limbah Kulit Bawang Merah Sebagai Pertolongan Pertama Untuk Mencegah Infeksi pada Masyarakat Pasca Bencana di Desa Penyabangan, Kecamatan Gerokgak,
Kabupaten Buleleng……….
Gede Mekse Korri Arisena, Dwi Putra Darmawan, Made Ary Sarasmita, Ni Wayan Febriana Utami, I Gde Kajeng Baskara
201
MANAJEMEN PRODUKSI PERTANIAN ON-FARM
Potensi Buah Mahkota Dewa dan Kulit Jeruk Purut sebagai Insektisida Nabati terhadap hama Crocidolomia pavonana F. (Lepidoptera: Crambidae)……….
Muhammad Sayuthi, Hasnah, Alfian Rusdy, Dwima
208
Upaya Memproduksi Buah Jeruk Siam di Luar Musim dan Peningkatan Kualitas Buah Melalui Aplikasi Kalium Nitrat dan Pupuk Agrodyke…………
N. K. Alit Astiari, Luh Kartini, dan Putu Anom Sulistiawati
219
Kajian Keragaan Agronomis dan Produktivitas Beberapa Varietas Unggul Baru Kedelai di Lahan Sawah Beriklim Kering………..
Nani Herawati, Ai Rosah A,Tantawizal, Yuliana Susanti, Awaludin Hipi
228
Aplikasi Jenis dan Konsentrasi Pestisida Organik Terhadap Pengendalian Hama Penting Tanaman Brokoli………
Christina.Leta Salaki, Vivi Bernadeth Montong
240
Efektivitas Pupuk Hayati Penambat Nitrogen dan Pelarut Fosfat pada Tanaman Padi di Kecamatan Puyung Kabupaten Lombok Tengah NTB……..
Fitria Zulhaedar dan Titin Sugianti
248
Biostatistik Sidat Perak Danau Poso………..
Martho Harry Melumpi1, Yunober Mberato, Daniel Limbong, Falerianus Dosi
258
Tanggap Tanaman Kacang Hijau dengan Penambahan Kompos dan Penyiangan Di Tanah Inceptisol Narmada, Lombok Barat–NTB ……….
Eka Widiastuti
269
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Perbandingan Pendapatan Padi dan Pisang Klutuk di Lahan Sawah Desa
Puhu Gianyar………
I Dewa Gede Agung, I Wayan Widyantara
279
Persepsi Petani Terhadap Usahatani Pisang Klutuk di Lahan Sawah Desa Buahan Gianyar ………
I Wayan Sudarta, I Dewa Gede Agung
286
Partisipasi Masyarakat Dalam Pengembangan Agrowisata Menunjang Pariwisata Berkelanjutan di Kintamani………
IM. Sarjana dan IK Surya Diarta
292
Pengaruh Karakteristik Petani Terhadap Tingkat Adopsi Dalam Usaha Tani Padi Metode SRI (System of Rice Intensification) di Kota Tarakan………..
Sekar Inten Mulyani, Hendris
306
Konsep Penyuluhan untuk Pembangunan Pertanian Perkotaan di Kawasan
Sungai Palu………...
Wildani Pingkan Suripurna Hamzens
313
Strategi Capacity Building Lembaga Masyarakat Desa Hutan Konservasi (LMDHK “Wono Mulyo”) dalam Program Social Forestry pada Taman
Nasional Meru Betiri………
Diah Puspaningrum, Ati Kusmiati
327
Struktur dan Jaringan Kelembagaan Pertanian dalam Proses Mendukung Kemandirian Petani pada Agribisnis Komoditas Padi (Studi Kasus di Desa Pontang Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember)………..
Diah Puspaningrum, Ati Kusmiati, Sofia
339
Faktor-Faktor Penentu Performa Kelompok Tani dan Pengaruhnya pada Penerapan Inovasi Pertanian: Pembelajaran dari Pulau Lombok……….
Nurul Hilmiati
352
Persepsi Petani terhadap TIK untuk Mencari Informasi Pertanian: Kasus Kabupaten Lampung Selatan……….
Sumaryo, Kordiyana Koiyim Rangga
362
Persepsi Petani terhadap Penetapan Subak sebagai Warisan Budaya Dunia (Kasus Subak Wangaya Betan Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan)……
Putu Fajar Kartika Lestari
369
Pengetahuan Penyuluh Pertanian dan Implementasi Penyuluhan Teknologi Jajar Legowo 2: 1 di Daerah Istimewa Yogyakarta………...
Rahima Kaliky
379
Aspek Kognitif, Afektif dan Konatif Penyuluh Pertanian terhadap Teknologi Jajar Legowo 2: 1 dalam Budidaya Padi Sawah di Daerah Istimewa
Yogyakarta………...
Rahima Kaliky, Suparjana, Endang Wisnu dan Nur Hidayat
388
Analisis Persepsi Petani Terhadap Upaya Penguatan Subak untuk Berperan
Ganda………
I N.G. Ustriyana, I W. Budiasa, I G.A. Lies Anggreni 396
PENGEMBANGAN BISNIS
Manfaat Pemasaran Bahan Olah Karet Terorganisir di Sumatera Selatan……
Yanter Hutapea dan Yohanes Amirullah
405
Potensi Pengembangan Tanaman Talas Rawa Raksasa (Cyrtosperma merkusii (Hassk.) Schott) Melalui Sistem Agroforestri pada Lahan Rawa di Kabupaten
Kepulauan Sangihe………..
Semuel Paulus Ratag, Adrian Paulus Pangemanan, Winda Mercedes Mingkid
418
Pengaruh Jenis Kandang Terhadap Indeks Prestasi, Efisiensi Pakan, Konversi Pakan, dan Tingkat Mortalitas Ayam Broiler Pada Skala Usaha Peternakan
Rakyat………...
Roni Maulana Yusup, Neng Teti Rusmayanti, Sauland Sinaga
427
Digitalisasi Keuangan Pada Supply Chain Agribisnis Padi di Malang Raya,
Jawa Timur, Indonesia………
Agustina Shinta, Destyana Pratiwi, Novi Haryati
434
Analisis Transformasi Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) Menjadi Lembaga Keuangan Mandiri Pedesaan……….
Herlina Tarigan dan Sahat Pasaribu
444
Analisis Nilai Tambah pada Agroindustri Sirup Buah Pala di Kecamatan Padang Selatan Kota Padang………..
Dwi Evaliza, Cipta Budiman, Etika Annisa
459
Pengembangan Perbibitan Ayam Lokal Kub Skala Kecil Model Inti-Plasma di Provinsi Nusa Tenggara Barat………
Mardiana, Totok Blegoh Julianto dan Nurul Hilmiati
471
Strategi Pengembangan Pemasaran Tanaman Anggrek (Studi Kasus PT.
Bunga Indah Malino, Makassar, Sulawesi Selatan)………..
Muh. Hatta Jamil, A. Nixia Tenriawaru, Rusli M. Rukka, Rahmawaty A. Nadja, Muh. Arif Indra Jaya,SP.
480
Analisis Kelayakan Finansial dan Manajemen Pemasaran Usaha Ternak Kambing Perah di Kabupaten Lampung Timur………..
Wan Abbas Zakaria, Erwanto, Teguh Endaryanto, Lidya Sari Mas Indah, Shinta Tantriadisti
491
Analisis Kelayakan dan Model Pengembangan Usaha Kerupuk Ikan dengan Pendekatan Entreprenuerial Marketing ……….
Lili Winarti, Sri Herlina, Rokhman Permadi
505
Kajian Potensi Subak Kerdung untuk Pengembangan Ekowisata di Kota
Denpasar………
A.A.Ayu Wulandira Sawitri Djelantik*, I Made Sudarma
519
MODEL DINAMIKA PEMASARAN KOMODITI SAYURAN DATARAN TINGGIDALAM UPAYA MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI
DI KABUPATEN BULELENG
Gede Mekse Korri Arisena, Dwi Putra Darmawan, Ni Wayan Febriana Utami Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, Bali, Indonesia
E-mail:[email protected],[email protected][email protected]
I Gde Kajeng Baskara
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Udayana, Bali, Indonesia E-mail:[email protected]
ABSTRAK
Sebagian besar lokasi usahatani sayuran dataran tinggi berada di daerah dengan tofografi pegunungan, sarana transportasi dan sumberdaya ekonomi yang terbatas. Terdapatnya jarak secara spasial yang cukup besar antara lokasi usahatani (Bedugul) dengan konsumen (Denpasar), menyebabkan bertambah kompleknya permasalahan pemasaran dan bertambah banyaknya lembaga pemasaran yang ikut berpartisipasi dalam saluran pemasaran yang tercipta.Upaya petani untuk meningkatkan produksi sayuran tidak akan bermanfaat apabila aspek pemasaran tidak diperhatikan secara serius. Pemasaran merupakan bagian yang menjadi titik rawan dalam sistem sgribisnis, karena masalah pemasaran sangat berkaitan dengan tingkat harga yang diterima petani. Metode yang digunakan adalah metode bertahap yang pada akhirnya tahapan tersebut digunakan untuk menciptakan model. Hasil akhir pada penelitian ini adalah model dinamika pemasaran komoditi sayuran dataran tinggi.
Kata Kunci : Informasi Pasar, Lembaga Pemasaran, Komunikasi Pemasaran, Kesehjatraan Petani
PENDAHULUAN
Sebagian besar lokasi usahatani sayuran dataran tinggi berada di daerah dengan bentuk topografi pegunungan dimana sarana transportasi dan sumberdaya ekonomi pada umumnya terbatas.
Disamping itu ukuran usahatani sayuran dataran tinggi umumnya kecil dan mutu yang belum standar, sehingga menyebabkan pada proses pemasarannya memberikan peluang munculnya perantara/lembaga pemasaran yang melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran.
Terdapatnya jarak yang secara spasial saling berjauhan diantara lokasi usahatani (Bedugul) dengan konsumen (Denpasar) yang menyebabkan bertambah rumitnya permasalahan pemasaran dan bertambah banyaknya lembaga pemasaran yang ikut berpartisipasi dalam saluran pemasaran yang tercipta. Semakin banyaknya lembaga pemasaran yang berkecimpung dalam saluran pemasaran sayuran maka dapat menyebabkan hubungan kerjasama informal diantara pedagang perantara dengan petani.
Petani sayuran cenderung memilih saluran pemasaran yang tradisional melalui tengkulak, walaupun menerima bagian harga yang lebih kecil dibandingkan dengan jalur formal. Opsi terhadap kelembagaan ini sering dikaitkan dengan kuatnya ikatan antara pedagang sayuran dengan petani yang terbentuk secara historis dengan menekankan pada unsur kekerabatan. Ketimpangan dalam
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, lahan, modal, dan akses pasar antar pelaku agribisnis menyebabkan struktur kelembagaan kemitraan usaha pada komoditas sayuran yang rapuh.
Petani sebagai produsen tidak memiliki kekuatan untuk menentukan harga jual sesuai dengan mutu, sehingga mereka berada dalam posisi yang lemah pada saat penentuan harga. Hal ini terjadi karena ketidakseimbangan antara produktivitas dengan pemasaran. Upaya petani untuk meningkatkan produksi sayuran tidak akan bermanfaat apabila aspek pemasaran tidak diperhatikan secara serius. Pemasaran merupakan bagian yang menjadi titik rawan dalam sistem agribisnis, karena masalah pemasaran sangat berkaitan dengan tingkat harga yang diterima petani.
METODE
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani sayuran yang berusahatani pada sektor pertanian holtikultura di Kabupaten Buleleng. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 50 petani.
Roscoe (1975) dalam Sekaran (2006) memberikan acuan umum untuk menentukan ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebanyakan penelitian. Pengumpulan data dalakukan di Kecamatan Sukasada dengan menggunakan metode accidental sampling. Selain petani di ambil pula lembaga - lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran sayuran, dengan menggunakan pengambilan contoh bola salju (snowballs sampling). Dalam hal ini sampel awal adalah petani dan sampel berikutnya, adalah lembaga pemasaran yang dipilih oleh petani sampel.
Data yang diperoleh dianalisis secara bertahap. Dalam penelitian ini dilakukan sebanyak enam tahapan, sehingga pada akhirnya tercipta sebuah model dinamika pemasaran komoditi sayuran dataran tinggi. Tahapan analisis secara lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut.
Tahapan pertama adalah analisis spasial berupa pemetaan kawasan usahatani sayuran dataran tinggi. Pemetaan dilakukan dengan menggunakan peta citra bersumber dari Google dan tutupan lahan berupa kebun sayur dilakukan dengan ground thruth check di lapangan. Kemudian akan dihasilkan peta sebaran komoditas sayuran yang berada di wilayah Kabupaten Buleleng.
Tahapan kedua adalah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam pemasarkan komoditi sayuran dataran tinggi. Tujuan dua dianalisis dengan analisis tabulasi prekuensi dan silang, melalui pemberian skor dari keterangan-keterangan yang bersifat kualitatif dari hasil wawancara mendalam kepada responden.
Tahapan ketiga menganalisis jaringan komunikasi petani dalam memasarkan komoditi sayuran dataran tinggi di Kabupaten Buleleng.Tahapan keempat menganalisis ekonomi kelembagaan komoditi sayuran dataran tinggi di Kabupaten Buleleng. Tujuan empat dianalisis menggunakan analisis kelembagaan yang dilakukan secara deskriptif kualitatif. Analisis kelembagaan difokuskan pada pola, aturan main (rule of the game) yang dijalankan serta pola interaksi antar lembaga yang bermitra.Tahapan kelima menganalisis saluran pemasaran komoditi sayuran dataran tinggi di Kabupaten Buleleng. Tahapan keenam adalah membangun model dinamika pemasaran komoditi sayuran dataran tinggi. Pada tujuan enam dianalisis secara deskriptif kualitatif berpatokan pada hasil analisis tahap satu, dua, tiga, empat dan lima.
PEMBAHASAN
Sebagian besar petani sayuran dataran tinggi di Kabupaten Buleleng menasarkan produk sayuran ke pedagang pengepul. Pemasaran ke pengepul disebabkan karena rendahnya biaya transportasi untuk mengangkut sayaran dari petani ke pedagang. Petani membebankan biaya pemasaran kepada pedagang pengepul, karena pengepullah yang menjemput hasil panen sayuran yang dihasilkan petani. Pedagang pengepul dalam system pembayaran menggunakan system pembayaran tunai, sedangkan supllayer membayar secara angsuran. Dalam hal system pembayaran petani mengharapkan respon dari pembeli untuk segera memberikan sejumbah uang sebagai alat penukar sayuran yang mereka produksi. Rendahnya biaya transportasi bagi petani disebabgan transaksi jual beli dilakukan di kebun atau di rumah petani.
Petani memasarkan sayuran yang dihasilkan hanya ke pengepul dan supplayer, maka dalam system penentuan harga dapat dilihat mana pihak yang dominan (penentu harga) serta pihak penerima harga. Dalam siatem pemasaran sayuran petani lebih memilih memasarkan produknya melalui sarana komunikasi handphone, karena petani ingin melepaskan ikatan ikatan social yang terjadi dengan pedagang langsung bertransaksi secara langsung. Dengan kata lain petani lebih menginginkan pola komunikasi dalam bertransaksi dengan pedagang, dimana status social tidak berperan penting.
Jaringan komunikasi mengenai pemasaran sayuran penting untuk digambarkan. Hal ini disebabkan oleh pemasaran sayuran sangat beragam. Salah satu cara memahami jaringan komunikasi pada pemasaran sayuran dataran tinggi adalah dengan mengamati hubungan sosial yang terjadi akibat dilakukannya proses komunikasi interpersonal. Interaksi tentunya diawali dengan kontak yang mengarah pada kecenderungan untuk berbagi informasi dengan individu lain dan perwujudan interaksi akan mengarah kepada siapa berhubungan kepada siapa. Petani akan membentuk jaringan komunikasi dalam berbagi informasi tentang pemasaran sayuran.
Petani menjual sayurnya kepada pedagang pengumpul, tengkulak dan ada pula yang menjual langsung ke pada konsumen. Terjadi penyebaran arus informasi pada semua individu petani sayuran dalam suatu system pemasaran. Terkadang komunikasi petani yang satu dengan petani lainnya tidak terhubung, hal ini menggambarkan bahwa tingkat individualitas petani sayuran menjual sayurnya masih sangat tinggi. Penjualan sayur juga masih didominasi oleh keberadaan pedagang pengumpul/tengkulak.
Gambar 1–Pola Jaringan Komunikasi Petani Sayuran
Petani sebagai individu tentunya memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain dalam hal keterlibatannya dalam jaringan komunikasi. Faktor internal dan eksternal dikaitkan dengan jaringan komunikasi yang terdiri dari derajat keterhubungan, derajat integrasi dan derajat keterbukaan. Hal ini berarti semakin muda petani maka keikutsertaan dalam jaringan komunikasi cenderung semakin tinggi.
Makin tinggi pendidikan yang pernah ditempuh petani sayuran maka makin banyak pengetahuan tentang teknologi dan ilmu sehingga diharapkan dapat meningkatkan dari segi afektif dan kognitifnya. Apabalia jenjang pendidikan yang ditempuh oleh petani sayuran tinggi maka kecenderungan untuk ikut serta dalam jaringan komunikasi juga tinggi. Semakin kecil lahan usahatani sayuran maka semakin terintegrasi petani karena semakin kecil lahan maka intensitas pengolahan lahan semakin intensif dan mereka akan berusaha sebaik mungkin menggunakan lahan yang ada untuk mendapatkan hasil yang maksimal caranya adalah dengan lebih aktif berkomunikasi dengan petani lain. Semakin banyak pengalaman bertaninya maka semakin terbuka petani tersebut untuk memberikan pengalaman kepada petani lain dan semakin terbuka pula mereka untuk mendapatkan informasi. Karakteristik petani mempunyai pengaruh terhadap jaringan komunikasi dalam proses adopsi inovasi.
Semakin banyak petani menerima terpaan informasi dari media massa maka akan semakin besar kemungkinan mereka untuk berkomunikasi dan ikut serta dalam jaringan komunikasi karena informasi yang mereka terima dari media massa akan mereka bicarakan untuk mendapatkan sudut pandang nyang sama. Kepemilikan sarana media massa maka akan semakin tinggi pula keterhubungannya dengan individu lain kerena informasi yang didapat dari media akan dibicarakan oleh sesama petani.
Pengaruh yang diberikan oleh keikutsertaan petani dalam jaringan komunkasi hanya menambah pengetahuan petani dalam hal harga, mutu dan pembelian saja tetapi tidak mengubah tindakan petani dalam pemasaran. Petani kurang berkomunikasi dalam hal pemasaran karena ada hal-hal tertentu yang tidak dibicarakan dengan petani lain terutama dalam hal penjualan.
Persaingan untuk mendapatkan pembeli atau kesempatan agar produk dapat diterima pengepul/supplier. Sebagai tujuan utama penjualan menyebabkan mereka kurang berkomunikasi antar satu dengan yang lain. Penyebab lainnya adalah lemahnya kemampuan petani dalam posisi
Petani 2 Petani 3
Petani 1 Petani 4 Petani 5 Petani 6
Pengepul
SUPPLIER
tawar menawar. Mereka hanya dapat menerima harga yang ditawarkan pembeli dan secara umum mereka kurang aktif dalam mencari pangsa pasar baru.
Dalam hal ekonomi kelembagaan informal tidak ditemui kelembagaan informal yang masuk ke dalam sistem pemasaran sayuran dataran tinggi di Kabupaten Buleleng. Untuk melakukan pemasaran sayuran beberapa petani menjalin kemitraan dengan baik dengan pedagang pengepul/supplier. Kemitraan diantara ke dua belah pihak relatif dapat lebih melembaga karena keduanya saling membutuhkan. Aturan-aturan yang mengatur mekanisme kemitraan tersebut juga terbentuk berdasarkan atas kepentingan ke duanya. Dalam hubungan kemitraan antara petani dengan pedagang pengepul/supplier terdapat perbedaan jangkauan antara pengepul kecil, sedang/menengah, dan pengepul besar. Pada pengepul kecil jangkauan kemitraan dalam wilayah dusun-dusun terdekat, sedang pada pengepul menengah jangkauan kemitraan dengan petani produsen dapat mencapai desa- desa terdekat, sedang pada pengepul besar jangkauan kemitraan dapat mencapai kecamatan terdekat.
Jaminan kemitraan dengan petani produsen adalah kepercayaan. Keuntungan bagi mitra/pedagang di dalam jaringan kemitraan ini adalah kontinuitas pasokan. Sedang keuntungan bagi petani produsen adalah jaminan pemasaran dan kemudahan untuk mendapatkan pinjaman baik untuk keperluan ekonomi rumahtangga maupun untuk keperluan budidaya sayuran.
Pemasaran sayur yang banyak dipilih oleh para petani sayuran dataran tinggi di Kabupaten Buleleng adalah pola pemasaran tidak langsung atau melalui perantara (middleman/Pedagang Pengepul), dan sedikit yang menjual langsung kepada pengecer atau konsumen akhir. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya modal kerja dan tidak adanya akses ke pasar.
Modal kerja yang dibutuhkan termasuk biaya angkut dari lokasi kebun ke pasar yang membutuhkan pasokan, biaya restribusi pasar, bongkar muat sayuran, sewa lapak, dan biaya- biaya non formal, seperti pembayaran keamanan di pasar. Ketidakmampuan petani sayuran dataran tinggi melakukan akses terhadap pasar yang membutuhkan pasokan disebabkan karena kurangnya informasi pasar yang dapat diperoleh. Adakalanya harga sayuran dari produsen (petani) jauh lebih rendah dari harga jual yang sebenarnya. Hal tersebut disebabkan oleh terjadinya kelebihan produksi atau keterlambatan pengiriman produk ke pasar.
Harga beberapa produk sayuran selalu mengalami mengalami fluktuasi yang terjadi diluar kendali petani. Fluktuasi harga sayuran pada umumnya lebih tinggi dibanding buah dan palawija dengan kata lain ketidakseimbangan antara volume pasokan dan kebutuhankonsumen lebih sering terjadi pada sayuran. Harga sayuran tergolong sangat fluktuatif dengan rentang tingkat harga yang sangat lebar, apalagi setelah dikaitkan dengan future trading. Pada waktu tertentu, seperti musim panen dan hujan harganya bisa sangat rendah namun pada saat yang lain bisa sangat tinggi. Harga yang sangat fluktuatif secara teoritis akan menyulitkan prediksi bisnis, baik perhitungan laba rugi maupun manajemen resiko.
Margin pemasaran sayuran seringkali sangat besar, apabila semakin besar margin pemasaran maka harga yang diterima oleh produsen adalah semakin kecil dan mengindikasikan bahwa system pemasaran yang tidak efisien atau tidak terjadi keterpaduan pasar dan mengindikasikan rendahnya balas jasa atau bagian harga yang diterima oleh petani. Penyebab tidak efisiennya pemasaran sayuran adalah karena rendahnya tingkat balas jasa yang diterima
oleh petani atau bagian harga yang diterima oleh petani. Selain itu lemahnya posisi tawar yang rendah akibat over supply yang sering terjadi pada panen raya sayuran sehingga menyebabkan rendahnya harga yang diterima petani sayuran di Kabupaten Buleleng.
Hakekat dari suatu jaringan komunikasi adalah hubungan yang bersifat homofili yakni kecenderungan petani untuk melakukan hubungan atau kontak sosial dengan orang–orang yang memiliki atribut sama (petani) atau yang lebih tinggi sedikit dari posisi dirinya (Pengepul/supplayer). Tetapi dapat juga terjadi antar orang –orang yang memiliki atribut yang tidak sama (petani–pasar induk/wisata).
Komunikasi merupakan salah satu bagian yang penting dalam pemasaran sayuran.
Dengan komunikasi produk yang ada di suatu daerah dapat disampaikan ke daerah lain ataupun dengan komunikasi produsen dalam hal ini adalah petani sayuran dapat berhubungan dengan konsumennya. Komunikasi juga berperan penting dalam menghubungkan antara satu petani dengan petani lainnya. Dalam melakukan usahataninya terjadi interaksi antara satu petani dengan petani lain.
Sebagai anggota masyarakat dan tentu akan melibatkan proses berbagi informasi tentang suatu objek antara petani yang diajak berinteraksi salah satunya adalah berbagi informasi tentang pemasaran yang sekaligus membentuk jaringan komunikasi di antara petani sayuran. Jaringan komunikasi penting untuk dikembangkan dalam usahatani dan pemasaran sayuran karena dapat memberikan informasi kepada petani tentang harga jual, mutu dan bentuk produk yang diinginkan konsumen dan tujuan pemasaran yang lebih menguntungkan.
Untuk meningkatkan posisi tawar petani, koperasi atau kelompoktani diharapkan untuk meningkatkan perannya. Oleh karena factor biaya transportasi merupakan pertimbangan mayoritas petani dalam memasarkan produk sayurannya, maka koperasi/kelompoktani harus meningkatkan pelayanan transportasi untuk mengangkut produk sayuran yang dihasilkan. Untuk meningkatkan posisi tawar petani juga diperlukan pengembangan kelembagaan yang bermuatan local. Usaha ini dapat dimulai dengan mengidentifikasi kelembagaan potensial di setiap desa atau wilayah.
Berdasarkan kondisi pada pemasaran sayuran dataran tinggi di Kabupaten Buleleng, maka terdapat dua keterkaitan yang harus dibangun dalam rangka mendorong terciptanya sistem pemasaran komoditi sayuran, yaitu keterkaitan fungsional atau kaitan vertikal yang bersifat hirarkis antar pelaku agribisnis, yaitu petani, kelembagaan dan pedagang output. Untuk mendorong terciptanya keterkaitan fungsional tersebut pemerintah tidak harus mengubah atau memperkenalkan bentuk kelembagaan baru, tetapi dapat dengan melakukan pembenahan kelembagaan yang belum berfungsi dengan baik di dalam masyarakat. Hal ini disebabkan karena di dalam kelembagaan tersebut secara umum sudah diperhitungkan pula masalah pemerataan dan aspek keberlanjutan usaha bagi pihak-pihak yang bermitra.
Gambar 2 - Model Dinamika Pemasaran Komoditi Sayuran Dataran Tinggi JARINGAN KOMUNIKASI
Pemerintah harus menyediakan Informasi pasar secara digital agar mudah diakses oleh petani. Informasi tentang pasar merupakan faktor yang menentukan jenis sayuran apa yang diproduksi, di mana, mengapa, bagaimana dan untuk siapa sayuran dijual dengan keuntungan terbaik. Oleh sebab itu informasi pasar sayuran yang tepat dapat mengurangi resiko usaha sehingga pedagang dapat beroperasi dengan margin pemasaran yang rendah dan memberikan keuntungan bagi pedagang itu sendiri, dan petani sebagai produsen.
Informasi pasar juga mencakup saluran pemasaran, agar produsen dan pedagang yang terlibat dalam saluran pemasaran sayuran dan tempat kegiatan berlangsung dapat diketahui diketahui. Di samping itu, pemerintah secara digital juga harus menginpormasikan aturan-aturan yang berlaku dalam sistem saluran pemasaran sayuran. Sehingga diharapkan produksi sayuran yang dihasilkan tidak mengalami hambatan dalam hal perluasan jaringan pemasaran.
KESIMPULAN
Terkadang komunikasi petani yang satu dengan petani lainnya tidak terhubung, hal ini menggambarkan bahwa tingkat individualitas petani sayuran menjual sayurnya masih sangat
PETANI PETANI
PENGEPUL SUPPLAYER
R PASAR
1. KOPERASI TANI 2. KELOMPOK TANI 3. SUBAK ABIAN 4.SIMANTRI MEMASARKAN SAYURAN
PEMERINTAH
1. Melakukan Pembenahan Kelembagaan Yang Belum Berfungsi Dengan Baik Di Dalam Masyarakat.
2. Menyediakan Informasi Pasar Secara Digital Agar Mudah Diakses Oleh Pelaku Pasar.
PENDAPATAN PETANI MENINGKAT
tinggi. Penjualan sayur juga masih didominasi oleh keberadaan pedagang pengumpul/tengkulak.
Dalam hubungan kemitraan antara petani dengan pedagang pengepul/supplier terdapat perbedaan jangkauan antara pengepul kecil, sedang/menengah, dan pengepul besar. Pada pengepul kecil jangkauan kemitraan dalam wilayah dusun-dusun terdekat, sedang pada pengepul menengah jangkauan kemitraan dengan petani produsen dapat mencapai desa-desa terdekat, sedang pada pengepul besar jangkauan kemitraan dapat mencapai kecamatan terdekat.
Margin pemasaran sayuran seringkali sangat besar, apabila semakin besar margin pemasaran maka harga yang diterima oleh produsen adalah semakin kecil dan mengindikasikan bahwa system pemasaran yang tidak efisien atau tidak terjadi keterpaduan pasar dan mengindikasikan rendahnya balas jasa atau bagian harga yang diterima oleh petani. Untuk meningkatkan posisi tawar petani, koperasi atau kelompoktani diharapkan untuk meningkatkan perannya. Oleh karena factor biaya transportasi merupakan pertimbangan mayoritas petani dalam memasarkan produk sayurannya, maka koperasi/kelompoktani harus meningkatkan pelayanan transportasi untuk mengangkut produk sayuran yang dihasilkan. Pemerintah harus menyediakan Informasi pasar secara digital agar mudah diakses oleh petani. Informasi tentang pasar merupakan faktor yang menentukan jenis sayuran apa yang diproduksi, di mana, mengapa, bagaimana dan untuk siapa sayuran dijual dengan keuntungan terbaik.
DAFTAR PUSTAKA
Ansori,M.2004. Jaringan Pemasaran Sayur-Mayur (Kasus Pemasaran Sayur-Mayur Di Pasar Cibinong, Bogor). Makalah Individu Pengantar Ke Falsafah Sains (PPS 702) Program Pascasarjana/ S3, Institut Pertanian Bogor
Boyd, Walter, Larreche 2000. Manajemen Pemasaran Statu Pendekatan Strategis dengan Orientasi Global. Jakarta: Erlangga.
Bulkis.2015. Analisis Jaringan Komunikasi Petani Tanaman Sayuran (Kasus Petani Sayuran Di Desa Egon, Kecamatan Waigette, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur).
Jurnal Matematika, Saint, dan Teknologi. Volume 16. Nomor 2. September 2015. 28-42.
Ellyta. 2017. Jaringan Komunikasi Petani Dalam Pemasaran Lidah Buaya Di Kalimantan Barat.
Jurnal ZIRAA’AH. Volume 42 Nomor 1. Pebruari 2017.30-39
Harmoko Dan Erik,D.2016. Akses Informasi Pertanian Melalui Media Komunikasi Pada Kelompok Tani Di Kabupaten Sambas Dan Kota Singkawang. Jurnal Komunikator. Vol 9.No1.Mei 2016.1-10
Mubyarto 1977. Pengantar Ekonomi Pertanian. Yogyakarta: Lembaga Penelitian pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan social.
Permana,A.S., Bintoro,M.H. dan Harris,N.2006. Analisis Jaringan Pemasaran Komoditas Sayuran (Kasus Petani Kecil Ciwidey, Bandung). Jurnal MPI Vol. 1 No. 2. September 2006. 71-83.
Prahasta, E. 2014. Sistem Informasi Geografis: Konsep-konsep Dasar (Perspektif Geodesi dan Geoinformatika). Penerbit Informatika. Bandung. 760 hal.
Rahim. A dan Diah Retno Dwi Hastuti. 2007. Ekonomika Pertanian. Penebar Swadaya. Depok.
Riasning, N.P. 2007. “Efisiensi Pemasaran Sayuran di Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan”
(Tesis). Program Studi Magister Agribisnis Program Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar.
Tukan, C.J.M., Yulianti, Roshetko, J.M., dan D. Darusman ---. “Pemasaran Kayu Dari Lahan Petani di Provinsi Lampung”.
Santoso,T.A. 2014. Efisiensi Pemasaran Beberapa Komoditas Sayuran Utama di Kabupaten Indramayu. Jurnal Agri Wiralodra. Volume 6 No. 2-September 2014.9-18.
Soekartawi. 2004. Agribisnis Teori dan Aplikasinya. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Swastha, B. Sudkodjo. I, 2001. Pengantar Bisnis Modern. Liberty Offset. Yogyakarta Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar.
Utami, D. 2013. “Jaringan Komunikasi Informasi Harga Dan Pemasaran Sayur”. Skripsi.
Departemen Sains Komunikasi Dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.
Wedastra, M.S. 1999. “Analisis Efisiensi Pemasaran Bawang Merah di Kabupaten Lombok Barat NTB” (Tesis) . Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Malang.