i
ii
iii
SHADOW TEACHER PROBLEMATICS IN SDN GADANG 2 BANJARMASIN
Imam Yuwono ([email protected]) Utomo ([email protected])
Agus Pratomo Andi Widodo ([email protected])
ABSTRACT
Inclusive education is an education service system that provides opportunities for all children to study together in a public school with attention to diversity and individual needs. Educational services for Special Needs Children are done by shadow teachers. But in the handling of inclusive schools many problems faced by shadow teachers. The purpose of this research is to know the problem of shadow teachers in handling the children with special needs in SDN Gadang 2 Banjarmasin.
The approach used in this research is qualitative approach with case study research type. Sources of data in this study are shadow teachers of grade 1, grade 2 and grade 3 SDN Gadang 2 Banjarmasin, and secondary data sources are documentation, observation. Data collection techniques in this study are interviews, observation, and documentation. Data analysis techniques use interactive analysis.
The results of the study indicate that (1) shadow teachers in grades 1, 2 and 3 already understand the meaning of inclusive education (2) shadow teachers do not perform their duties and roles well, such as the absence of education individual program (PPI) between regular teachers with special escort teachers in determining teaching materials, but there have been progress reports of the development of students with special needs at the end 0 semester. (3) Coordination of special escort teachers and regular teachers in dealing with special needs students is lacking, as shadow teachers are excluded from the identification and assessment process. The implementation of a flexible curriculum is not realized, because of the lack of knowledge of shadow teachers about the curriculum that suits the needs of learners.
Keywords: problematics, shadow teacher
PROBLEMATIKA GURU PENDAMPING KHUSUS DI SD N GADANG 2 BANJARMASIN
Imam Yuwono ([email protected]) Utomo ([email protected])
Agus Pratomo Andi Widodo ([email protected]) ABSTRAK
Pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak belajar bersama-sama di sekolah umum dengan memperhatikan keragaman dan kebutuhan individual. Layanan pendidikan bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus dilakukan oleh guru pendamping khusus.
Namun dalam penanganan di sekolah inklusif banyak problematika yang dihadapi guru pendamping khusus. Tujuan penelitian untuk mengetahui problematika guru pendamping khusus dalam menangani anak berkebutuhan khusus di SDN Gadang 2 Banjarmasin.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Sumber data dalam penelitian ini yaitu guru pendamping khusus kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 SDN Gadang 2 Banjarmasin, dan sumber data sekunder yaitu dokumentasi, catatan observasi.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif.
Hasil penelitian menunjukkan (1) guru pendamping khusus di kelas 1, 2 dan 3 sudah paham makna dari pendidikan inklusif (2) guru pendamping khusus tidak menjalankan tugas dan peran dengan baik, seperti tidak adanya pembuatan program pembelajaran individual (PPI) dan tidak adanya kerjasama antara guru reguler dengan guru pendamping khusus dalam menentukan materi ajar, namun sudah terdapat laporan progres perkembangan peserta didik berkebutuhan khusus setiap akhir semester. (3) Koordinasi guru pendamping khusus dan guru reguler dalam menangani peserta didik berkebutuhan khusus masih kurang, seperti guru pendamping khusus tidak dilibatkan dalam proses identifikasi dan asesmen.
Pelaksanaan kurikulum yang fleksibel tidak direalisasikan, karena minimnya pengetahuan guru pendamping khusus tentang kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Kata kunci: problematika, guru pendamping khusus
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... ... i
HALAMAN PENGESAHAN... ... ii
ABSTRAK ... iii
DAFTAR ISI ... 6
BAB I PENDAHULUAN ... A. Latar Belakang Masalah ... 8
B. Fokus Penelitian ... 8
C. Pertanyaan Penelitian ... 10
D. Tujuan Penelitian ... 12
E. Manfaat Penelitian ... 15
F. Definisi Operasional ... 17 BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 17
A. Tinjauan umum tentang Pend. Inklusif ... 17
1. Pengertian Pend. Inklusif ... 17
2. Tujuan Pend. Inklusif ... 18
3. Fungsi Pend. Inklusif ... 19
4. Manfaat Pend. Inklusif ... ... 20
B. Tinjauan umum tentang Pend. Inklusif bagi ABK ... 21
1. Pengertian ABK ... 36
2. Klasifikasi ABK ... 37
3. Faktor-faktor Timbulnya Kebutuhan Khusus ... 38
4. Hak dan Kewajiban ABK ... ... 38
C. Tinjauan umum tentang GPK ... 39
1. Pengertian GPK ... 39
2. Peran dan Tugas GPK ... 40
D. Problematika ... 42
1. Pengertian Problematika ... 42
2. Problematika GPK ... 43
E. Kerangka Berpikir ... 44
F. Penelitian yang Relevan ... 45
BAB III METODE PENELITIAN ... 46
A. Pendekatan Penelitian ... 47
B. Jenis Penelitian ... 50
C. Tempat Penelitian ... 51
D. Sumber Data ... 52
E. Metode Pengumpulan Data ... 52
F. Teknik Analisis Data ... 51
G. Kredibilitas dan Keabsahan Data ... 52
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 53
A. Hasil Penelitian ... 53
B. Pembahasan Data Penelitian ... 67
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 70
A. Kesimpulan . ... 70
B. Saran ... 71
DAFTAR PUSTAKA ... 72
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan inklusif menghargai keberagaman apapun perbedaannya.
Pendidikan inklusif berkeyakinan bahwa setiap individu dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Melalui pendidikan inklusif, anak berkebutuhan khusus dididik bersama–sama dengan anak pada umumnya pada tempat yang sama dengan pelayanan yang berbeda. Oleh karena itu, anak berkebutuhan khusus perlu diberi kesempatan dan peluang yang sama dengan anak pada umumnya untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah terdekat.
Pendidikan memegang peranan yang amat penting dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan kualitas sumber saya manusia. Pendidikan tanpa diskriminasi yaitu pendidikan yang merata dan berkualitas, untuk itu berbagai upaya perbaikan terus dilakukan baik kualitas maupun kuantitas, agar warga negara atau peserta didik memiliki kemampuan bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab IV pasal 5 dinyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama memperoleh pendidikan yang bermutu, warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan layanan khusus, warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus, warga Negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus, dan setiap warga negara berhak mendapatkan kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat. Hal ini menunjukkan bahwa warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan secara formal ataupun pendidikan non formal tanpa adanya pengecualian.
Pasal inilah yang memungkinkan terobosan bentuk pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus berupa penyelenggara pendidikan inklusif.
Secara lebih operasional, hal ini diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor Tahun tentang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus nomor 70 tahun 2009.
Pendidikan tanpa diskriminasi tentu saja perlu untuk anak berkebutuhan khusus, selain sarana agar anak berkebutuhan khusus tidak merasa kecil hati karena hanya berkumpul dengan mereka yang memiliki kelainan tentu juga dapat menjadi sarana saling menerima perbedaan. Sesuai dengan UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan warna dalam penyediaan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Pada penjelasan pasal 15 tentang pendidikan khusus disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik berkebutuhan khusus atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah1.
Pendidikan inklusif adalah penempatan anak berkelainan ringan, sedang dan berat secara penuh dikelas2. Hal ini menunjukan kelas regular merupakan tempat belajar yang relevan bagi anak-anak berkelainan, apapun jenis kelainannya. Adanya sistem pendidikan inklusif ini diharapkan anak berkelainan atau berkebutuhan khusus dapat dididik bersama-sama dengan anak normal lainnya.
Pendidikan inklusif sebagai sistem layanan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak belajar bersama-sama di sekolah umum dengan memperhatikan keragaman dan kebutuhan individual, sehinggga potensi anak dapat berkembang secara optimal. Saat pelaksanaannya, pendidikan inklusif yang memberikan pelayanan pendidikan kepada anak yang
1 Takdir, Mohammad Ilahi, Pendidikan Inklusif Konsep & Aplikasi, Ar-Ruzz Media, hlm.9.
2 Stueb dan Peck 1995 (dikuti Tarmansyah), Inklusif (Pendidikan Untuk Semua), Depdinkas, Jakarta,2007, hlm. 76
beragam di kelas regular dibutuhkan program pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan setiap anak. Namun sebagian besar sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusif belum memberikan pelayanan pendidikan dengan program pembelajaran yang dibutuhkan oleh anak berkebutuhan khusus3.
Sekolah penyelenggaraan pendidikan inklusif seyogyanya mempunyai pendidikan dan tenaga kependidikan yang memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi yang disyaratkan. Disamping kepala sekolah, wakil kepala sekolah sesuai dengan bidangnya, guru kelas, guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling, laboran, pustakawan, tenaga administrasi, tenaga kebersihan sekolah dan tenaga lainnya alangkah lebih baik apabila sekolah penyelenggara pendidikan inklusif mempunyai guru yang memiliki kualifikasi akademik dan kompotensi pendidikan khusus. Guru pendidikan khusus adalah guru yang memiliki kualifikasi akademik minimum diplomat empat (D-IV) atau sarjana (S1) latar belakang pendidikan tinggi dengan program khusus atau pendidikan luar biasa4.
Masalah yang sering dihadapi dalam pendidikan inklusif yaitu, guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar mengacu kepada kurikulum yang digunakan sekolah dan tidak menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus, latar belakang guru pendamping khusus tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan tinggi program khusus, guru pendamping khusus kurang memiliki keterampilan dalam menangani peserta didik berkebutuhan khusus, orang tua peserta didik berkebutuhan khusus belum dapat menerima sepenuhnya anaknya mengikuti pendidikan di sekolah regular, kepala sekolah dan pihak birokrasi belum memahami sepenuhnya visi, misi, tujuan dan tata pelaksanaan pendidikan inklusif5.
3 Rachmayana, Dadan, Diantara Pendidikan Luar Biasa Menuju Anak Masa Depan yang Inklusif, Luxima, Jakarta, 2013, hlm. 89
4 Kustawan, Dedy, Manajemen Pendidikan Inklusif, Luxima, Jakarta, 2013, hlm.73
5 Tarmansyah, Pelaksanaan Pendidikan di Sekolah Uji Coba Sistem Pendidikan Inklusif dalam Jurna Ilmiah Ilmu Pendidikan , 2009,1, hlm. 3
Sekolah penyelenggara inklusif yang berada di kota Banjarmasin hampir keseluruhan memiliki guru pendamping khusus sebagai pendamping peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif namun kenyataan di lapangan peneliti menemukan bahwa keberadaan guru pendamping khusus pada sekolah penyelenggara pendidikan inklusif di Kota Banjarmasin kurang terlaksana secara optimal, ketidakoptimalan pendidikan inklusif tersebut berupa kurangnya pengetahuan tentang tugas dan fungsi guru pendamping khusus, tidak adanya sosok guru pembimbing khusus untuk berkerjasama dengan guru pendamping khusus dalam menangani anak berkebutuhan khusus, kesesuaian kurikulum, kurangnya koordinasi antara guru pendamping khusus dan guru regular, selain itu latar belakang guru pendamping khusus yang belum memiliki kualifikasi akademik minimum.
Ketidakstrukturan pendidikan inklusif tersebut akan berakibat pada kinerja guru pendamping khusus dan peserta didik berkebutuhan khusus yang tidak tertangani secara optimal karena tidak sesuai dengan program pembelajaran yang dibutuhkan oleh anak berkebutuhan khusus.
Berdasarkan hasil pengamatan pada bulan Januari 2017, di SDN Gadang 2 Banjarmasin, terlihat beberapa peserta berkebutuhan khusus yang sedang menganggu teman-teman sekitarnya dan tidak didamping oleh guru pendamping khusus. Guru pendamping khusus terlihat membiarkan peserta didik berkebutuhan khusus bermain dengan teman sebaya walaupun anak bersifat mengganggu. Berdasarkan wawancara singkat peneliti dengan kepala sekolah diketahui terdapat tiga kelas yang teridentifikasi adanya anak berkebutuhan khusus yaitu, kelas I, kelas II, dan kelas III. Setiap kelas jumlah anak berkebutuhan khusus beragam dan tidak sebanding dengan jumlah guru pendamping khusus. Pendidikan guru pendamping khusus yang belum memiliki standar kualifikasi akademik minimum dengan latar belakang pendidikan tinggi program khusus atau pendidikan luar biasa juga menjadi masalah utama, hal ini tentu berdampak pada pemberian penanganan yang kurang optimal untuk peserta didik anak berkebutuhan khusus, dikarenakan
guru pendamping khusus kurang mengetahui tentang penanganan anak berkebutuhan khusus dan seting dalam pendidikan inklusif di sekolah.
Berdasarkan hasil studi lapangan di atas peneliti ingin mengidentifikasi lebih dalam tentang permasalah guru pendamping khusus dalam penanganan anak berkebutuhan khusus pada seting pendidikan inklusif. Lokasi penelitian yang dipilih adalah SDN Gadang 2 Banjarmasin. Sekolah tersebut merupakan sekolah inklusif yang baru disahkan selama satu tahun terakhir, sehingga belum dapat menjalankan sistem pendidikan inklusif yang sesuai dengan harapan.
Bertitik tolak dari masalah prolematika guru pendamping khusus dan cara penanganan peserta didik berkebutuhan khusus. Oleh karena itu perlu dikaji mengenai problematika guru pendamping khusus dalam menangani peserta didik berkebutuhan khusus di SDN Gadang 2 Banjarmasin.
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penelitian ini berfokus pada Problematika Guru Pendamping Khusus dalam Menangani Peserta Didik Berkebutuhan Khusus Kelas 1, Kelas II dan Kelas III di SDN Gadang 2 Banjarmasin.
C. Pertanyaan Peneliti
Berdasarkan fokus masalah diatas, maka peneliti akan membahas sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pengetahuan guru pendamping khusus tentang seting pendidikan inklusif di SDN Gadang 2 Banjarmasin?
2. Bagaimanakah pengetahuan guru pendamping khusus tentang peran dan tugas seorang guru pendamping khusus di SDN Gadang 2 Banjarmasin?
3. Bagaimanakah cara guru pendamping khusus berkoordinasi dengan guru regular dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran peserta didik berkebutuhan khusus di SDN Gadang 2 Banjarmasin?
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah diterangkan, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui problematika guru pendamping khusus dalam menangani anak berkebutuhan khusus di SDN Gadang 2 Banjarmasin meliputi:
1. Mendeskripsikan pengetahuan guru pendamping khusus mengenai seting pendidikan inklusif di SDN Gadang 2 Banjarmasin.
2. Mendeskripsikan pengetahuan guru pendamping khusus tentang peran dan tugas tugas seorang guru pendamping khusus di SDN Gadang 2 Banjarmasin.
3. Mendeskripsikan cara guru pendamping khusus berkoordinasi dengan guru regular dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran peserta didik berkebutuhan khusus di SDN Gadang 2 Banjarmasin.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Guru Pendamping Khusus
Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sarana memahami konsep kinerja guru pendamping khusus dalam memberikan layanan yang sesuai dalam seting pendidikan inklusif.
2. Bagi Guru
Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan kajian tentang pendidikan inklusif di SDN Gadang 2 Banjarmasin.
3. Bagi Kepala Sekolah
Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan kajian tentang pendidikan inklusif. Penelitian ini juga dapat digunakan untuk menetapkan kebijakan dalam memberikan pelayanan pendidikan inklusif.
4. Bagi Orang Tua Peserta Didik
Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam mendidik anak khususnya agar dapat memahami makna pendidikan inklusif dan menciptakan lingkungan tanpa diskriminasi disekolah.
5. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu evaluasi penyelenggaraan pendidkan inklusif yang selama ini telah berjalan, selain itu penelitian ini dapat dijadikan bahan refleksi untuk mengembalikan pemahaman tentang seting pendidikan inklusif yang sesuai.
F. Definisi Operasional
1. Pendidikan inklusif adalah istilah pendidikan yang tidak diskriminatif.
Selain itu, pendidikan inklusif merupakan pendidikan yang menghargai perbedaan anak dan memberikan layanan kepada setiap anak sesuai dengan kebutuhannya. Melalui pendidikan inklusif, peserta didik berkebutuhan khusus dididik bersama anak pada umumnya untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki peserta didik berkebutuhan khusus.
Pendidikan inklusif memiliki tujuan agar seluruh peserta didik memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya serta untuk mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif bagi semua anak.
2. Anak berkebutuhan khusus dapat dimaknai dengan anak-anak yang tergolong cacat atau yang menyandang ketunaan, dan juga anak potensial dan berbakat. Selain itu anak berkebutuhan khusus adalah mereka yang memiliki kebutuhan khusus sementara atau permanen sehingga membutuhkan pelayanan yang lebih intens. Sehingga anak berkebutuhan khusus dapat diartikan sebagain anak yang membutuhkan pendidikan yang sesuai dengan segala hambatan belajar dan kebutuhan masing-masing individu.
3. Guru pendamping khusus adalah guru khusus yang memiliki pengetahuan dan keahlian dalam bidang anak-anak berkebutuhan khusus yang membantu atau bekerjasama degan guru regular dalam menciptakan pembelajaran yang inklusif. Guru pendamping khusus selayaknya adalah mereka yang benar-benar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan
keahlian dalam membantu peserta didik berkebutuhan khusus. Guru pendamping khusus berperan membantu guru regular dalam menangani peserta didik berkebutuhan khusus dalam seting pendidika inklusif, hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan keterampilan guru-guru tersebut.
4. Problematika adalah istilah problema atau problematika yang artinya persoalan atau masalah. Problematika juga dapat diartikan sebagai permasalahan yang belum dapat dipecahkan. Maksud permasalahan disini adalah permasalahan guru pendamping khusus dalam menangani peserta didik berkebutuhan khusus, baik dari segi akademik, perilaku, dan sosial peserta didik berkebutuhan khusus.
BAB II KAJIAN TEORI
A. Tinjauan Umum Tentang Pendidikan Inklusif 1. Pengertian Pendidikan Inklusif
Pendidikan inklusif adalah sebuah konsep atau pendekatan pendidikan yang berusaha menjangkau semua individu tanpa terkecuali atau dengan kata lain pendidikan inklusif adalah :”Sistem pendidikan yang terbuka bagi semua individu serta mengakomodasi semua kebutuhan sesuai dengan kondisi masing-masing individu”. Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang menghargai perbedaan anak dan memberikan layanan kepada setiap anak sesuai dengan kebutuhannya. Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang tidak diskriminatif. Pendidikan yang memberikan layanan terhadap semua anak tanpa memandang fisik, mental, intelektual, sosial, emosi, ekonomi, jenis kelamin, suku, budaya, tempat tinggal, bahasa dan sebagainya. Semua anak belajar bersama-sama, baik di kelas/sekolah formal maupun non formal yang berada di tempat tinggalnya yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak6.
Pendidikan inklusif sebagai pendidikan yang memberikan layanan terbuka bagi siapa saja yang memiliki kegiatan untuk mengembangkan potensi-potensinya secara optimal. Pendidikan inklusif adalah penempatan anak berkelainan tingkat ringan, sedang, dan berat secara penuh dikelas reguler7. Hal ini menunjukkan bahwa kelas reguler merupakan tempat relevan bagi anak berkelainan, apa pun jenis kelainannya dan bagaimanapun gradasinya.
Pendidikan inklusif sistem layanan pendidikan mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani di sekolah-sekolah terdekat, dikelas
6 Ibid. Hlm.8
7 Stueb dan Peck 1995 (dikutip Ilahi, Muhammad Takdir), op. Cit. Hlm 27
11
reguler bersama-sama teman seusianya8. Melalui pendidikan inklusif, anak berkelainan dididik bersama anak pada umumnya untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Model pendidikan ini berupaya memberikan kesempatan belajar yang sama, dimana semua anak memiliki akses yang sama ke sumber-sumber belajar yang tersedia, dan sarana yang dibutuhkan dapat terpenuhi dengan baik. Sekolah reguler dengan orientasi inklusif merupakan alat paling efektif untuk memerangi sikap diskriminatif, menciptakan masyarakat yang ramah, membangun masyarakat yang inklusif dan mencapai “pendidikan bagi semua” (education for all).
Pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan pendidikan inklusif adalah sistem pendidikan yang terbuka bagi semua individu serta mengakomodasi semua kebutuhan sesuai dengan kondisi masing-masing individu. Oleh karena itu, pelayanan pendidikan inklusif yang sesuai dapat mendukung pemenuhan kebutuhan khusus anak sehingga dapat membangun keseimbangan dan kesetaraan dalam berbagai aspek kehidupan. Selain itu, pendidikan inklusif juga menjadi sarana agar terciptanya pendidikan tanpa diskriminasi sehingga anak berkebutuhan khusus tidak merasa terpinggirkan.
2. Tujuan Pendidikan Inklusif
Pendidikan inklusif bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial, atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Selain itu tujuan pendidikan inklusif yaitu mewujudkan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik9. Sehingga dapat ditarik kesimpulan tujuan pendidikan inklusif adalah agar semua anak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya
8 O’Neil 1995, ibid. Hlm. 27
9 Kustawan, Dedy, loc.cit. Hlm. 9
serta untuk mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif bagi semua anak.
3. Fungsi Pendidikan Inklusif
Fungsi pendidikan inklusif adalah untuk menjamin semua peserta didik mendapatkan kesempatan dan akses yang sama untuk memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya dan bermutu di berbagai jalur, jenis, dan jenjang pendidikan. Fungsi selanjutnya dari pendidikan inklusif adalah untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif bagi semua peserta didik untuk mengembangkan potensinya secara optimal10. Kesimpulan di atas dapat diartikan bahwa fungsi dari pendidikan inklusif yaitu semua anak mendapat kesempatan dan akses yang sama untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu dan sesuai dengan kebutuhannya, serta terciptanya lingkungan pendidikan yang kondusif bagi semua anak untuk mengembangkan potensinya secara optimal.
4. Manfaat Pendidikan Inklusif
a. Manfaat pendidikan inklusif bagi peserta didik
1) . Manfaat pendidikan inklusif bagi peserta didik berkebutuhan khusus
Manfaat pendidikan inklusif bagi peserta didik berkebutuhan khusus adalah memiliki rasa percaya diri dan memiliki kesempatan menyesuaikan diri serta memiliki kesiapan dalam menghadapi kehidupan yang nyata pada lingkungan pada umumnya. Peserta didik berkebutuhan khusus terhindar dari label atau sebutan yang tidak baik, memahami pelajaran disekolah dengan lebih baik dan mampu. Peserta didik berkebutuhan khusus akan lebih mandiri, dapat beradaptasi, aktif, dan dapat menghargai perbedaan, serta memperoleh kesempatan bersosialisasi dan berbagi dengan anak-anak pada umumnya
10.Ibid. hlm. 10
secara alamiah sehingga akan memberikan masukan sangat berarti dalam aspek kehidupannya.
2) . Manfaat pendidikan inklusif bagi peserta didik pada umumnya Manfaat pendidikan inklusif bagi peserta didik pada umumnya adalah dapat belajar mengenai keterbatasan dan kelebihan serta keunikan tertentu pada teman-temannya. Peserta didik pada umumnya akan dapat mengembangkan keterampilan sosial, berempati terhadap permasalahan peserta didik berkebutuhan khusus, dan membantu peserta didik yang berkebutuhan khusus apabila mendapatkan kesulitan saat belajar maupun bermain saat jam istirahat.
b. Manfaat pendidikan inklusif bagi guru
Manfaat pendidikan inklusif bagi guru adalah akan lebih tertantang untuk mengajar lebih baik dan ikut mengakomodasi semua peserta didik sehingga akan berupaya untuk meningkatkan wawasannya mengenai keberagaman karakteristik semua peserta didik. Guru akan lebih kreatif dan terampil mengajar dan mendidik, lebih mengenali kekuatan dan kelemahan peserta didiknya. Guru dapat meningkatkan kompetensinya dalam bidang pendidikan khusus. Guru lebih terbuka terhadap perbedaan atau keberagaman peserta didik, mampu mendidik peserta didik yang beragam, lebih terbiasa dan terlatih untuk mengatasi berbagai tantangan pembelajaran, sehingga guru mendapat kepuasan dalam bekerja dan pencapaian prestasi yang lebih tinggi.
c. Manfaat pendidikan inklusif bagi orang tua
Manfaat pendidikan inklusif bagi orang tua adalah merasa dihargai atau dapat meningkatkan penghargaan terhadap anak. Orang tua merasa senang ketika anaknya dapat bersosialisasi dengan baik tanpa ada diskriminasi dan akan lebih memahami cara memotivasi peningkatan belajar anaknya yang disesuaikan dengan kebutuhan khususnya. Orang tua mengetahui cara membimbing anaknya dengan lebih baik lagi, dapat meningkatkan interaksi dan keterlibatan dalam kegiatan belajar anaknya
serta mendapat kesempatan untuk sharing dengan pihak sekolah dan stakeholder lainnya dalam merencanakan pembelajaran untuk anaknya yang disesuaikan dengan kebutuhan khususnya, kekuatannya, kelemahannya, permasalahan dan hambatan lainnya, serta senang ketika anaknya memiliki keterampilan sosial yang baik.
d. Manfaat pendidikan inklusif bagi pemerintah dan pemerintah daerah Manfaat pendidikan inklusif bagi pemerintah dan pemerintah daerah adalah kebijakan pendidikan terlaksana berlandaskan pada azas demokrasi, berkeadilan dan tanpa diskriminasi karena dapat melaksanakan amanat Undang-Undang dan Peraturan Pemerintahan, Peraturan Menteri serta kebijakan-kebijakan sebagai menfestasi keinginan atau harapan Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga akan adanya nilai tambah kepercayaan warga negara/masyarakat kepada pemerintah, pemerintah daerah dan sekolah khususnya dalam bidang pendidikan.
Termasuk juga kepercayaan dunia (internasional) kepada pemerintah dan pemerintah daerah karena sungguh-sungguh dalam merealisasikan komitmen-komitmen internasional berkenaan dengan pendidikan untuk semua (Education For All) sehingga akan tumbuh nilai positif di mata duunia/internasional. Manfaat lainnya yaitu dapat mempercepat/akselerasi tuntasnya wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Peserta didik mendapatkan hak pendidikan yang sama dan mendapatkan pendidikan yang lebih luas.
e. Manfaat pendidikan inklusif bagi masyarakat
Manfaat pendidikan inklusif bagi masyarakat adalah untuk memaksimalkan potensi masyarakat dalam penyelenggraan pendidikan.
Masyarakat akan lebih sadar bahwa setiap peserta didik berkebutuhan khusus berhak memperoleh pendidikan seperti peserta didik pada umumnya. Masyarakat dapat menyumbangkan pemikiran, ide atatu gagasan untuk mengembangkan pendidikan yang lebih baik lagi dengan lebih terbuka dan penuh kesadaran.
f. Manfaat pendidikan inklusif bagi sekolah
Manfaat pendidikan inklusif bagi sekolah yaitu pencitraan sekolah meningkat, sekolah lebih terbuka, ramah dan tidak mendiskriminasi. Sekolah dapat meningkatkan mutu pendidikan secara kompherensif bagi semua peserta didik. Sekolah dapat meningkatkan akses bagi semua peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan yang baik11.
Penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan inklusif bermanfaat bagi peserta didik berkebutuhan khusus, peserta didik pada umumnya, pendidik dan tenaga kependidikan, orang tua, pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat dan sekolah. Semua pihak diharapkan memiliki sikap yang positif, ramah dan tidak mendiskriminasi.
5. Manajemen Pendidikan Inklusif di Sekolah Umum
Pelaksanaan pendidikan inklusif diperlukannya upaya adaptasi. Upaya adaptasi tetap mengacu pada Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa yang dimaksud standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam kerangka adaptasi yang mencakup hal-hal di bawah ini.
a. Standar Isi
Sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusif perlu: (1) melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah diadaptasi/modifikasi, agar dapat mengakomodasi semua peserta didik termasuk anak berkebutuhan khusus, (2) melaksanakan kurikulum berdasarkan prinsip perbaikan dan pengayaan layanan pembelajaran, pendayagunaan kondisi alam, pendayagunaan kondisi sosial dan budaya, serta keragaman peserta didik, (3) melaksanakan mata pelajaran program khusus yang dapat mengembangkan
11Ibid. Hlm 13.
keterampilan sosial dan nilai budaya serta menumbuhkan softskill yang akhirnya menciptakan lifeskill sesuai jenis kelainan anak berkebutuhan khusus, (4) melaksanakan program pengembangan diri dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler dalam pembentukan karakter peserta didik yang baik yang dapat diikuti oleh peserta didik berkebutuhan khusus dan kegiatan layanan konseling dan terapautik, (5) mengembangkan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) untuk mata pelajaran program khusus, dan (6) mengembangkan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) semua mata pelajaran untuk anak berkebutuhan khusus yang tidak menggunakan kurikulum standar (di bawah standar).
b. Standar Proses
Adaptasi dari standar proses dilakukan sekolah dengan: (1) melakukan adaptasi silabus yang sesuai dengan karakteristik peserta didik termasuk anak berkebutuhan khusus, sekolah melakukan adaptasi RPP yang mengakomodasi semua peserta didik termasuk anak berkebutuhan khusus, (2) menyusun Program Pembelajaran Individual (PPI) terhadap anak berkebutuhan khusus yang tidak menggunakan kurikulum standar, (3) pelaksanaan PPI dapat dilakukan di kelas bersama dengan pelaksanaan pembelajaran regular berlangsung atau dilaksanakan pada ruang khusus, (4) program khusus dan PPI dilakukan oleh guru pendamping khusus, dan (5) pemantauan adaptasi pembelajaran dilakukan oleh kepala Sekolah mencakup tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap penilaian hasil pembelajaran.
c. Standar Kompetensi Lulusan
Sekolah mengembangkan SKL untuk peserta didik berkebutuhan khusus yang tidak menggunakan kurikulum standar dengan memperhatikan potensi masing-masing peserta didik. SKL untuk peserta didik berkebutuhan khusus yang disertai kelainan intelektual (kurikulum tidak standar) lebih mengutamkan kompetensi yang berkaitan dengan kemandirian.
Peserta didik memperoleh pengalaman belajar melalui program pembiasaan untuk: (1) mencari informasi tentang lingkungan sekitar, (2) menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, (3) menunjukkan kemampuan melakukan kegiatan seni dan budaya secara sederhana, (4) menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, dan bugar, berbudaya, menghargai perbedaan, (5) bekerjasama dalam kelompok, tolong menolong, menjaga diri sendiri dalam lingkungan keluarga dan teman sebaya dengan menghargai perbedaan antar sesama peserta didik, (6) menunjukkan rasa keingintahuan dan menyadari potensi yang dimiliki atas dasar keragaman peserta masing- masing peserta didik, (7) menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-masing peserta didik, dan (8) mendorong peningkatan kemandirian sesuai dengan potensi dan perkembangannya.
d. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Penyelenggaraan sekolah inklusif perlu memiliki guru pembimbing khusus (GPK), yang berlatar belakang S1 PLB dan atau guru yang telah mengikuti Diklat Pendidikan Inklusif. Guru pembimbing khusus bertugas bukan sebagai guru kelas, guru mata pelajaran dan guru konseling, melainkan melaksanakan tugas sebagai guru khusus yang berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran anak berkebutuhan khusus.
Guru pembimbing khusus melaksanakan tatap muka pembelajaran minimal 6 jam/minggu, selebihnya bertugas sebagai pembimbingan khusus. Kepala sekolah melaksanakan monitoring dan evaluasi terhadap tugas-tugas guru pembimbing khusus. Guru kelas dan guru mata pelajaran pada sekolah penyelenggara pendidikan inklusif melaksanakan tugas layanan terhadap anak berkebutuhan khusus dalam proses pembelajaran dan penilaian dengan menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif. Guru Pembina ekstrakurikuler melaksanakan tugas pelayanan terhadap anak berkebutuhaan khusus dalam proses kegiatan ekstrakurikuler.
Pemerintah mengangkat guru pembimbing khusus yang memenuhi standar untuk ditempatkan pada Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif.
e. Standar Sarana dan Prasarana
Bangunan Sekolah memiliki aksesibilitas (kemudahan) bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang mudah, aman, dan nyaman serta dilengkapi pengarah jalan (guiding block) bagi peserta didik berkebutuhan khusus tunanetra, akses jalan (ramp) bagi siswa berkebutuhan khusus tunadaksa ringan. Bangunan Sekolah terhindar dari gangguan kebisingan dan getaran serta memiliki penghawaan dan pencahayaan yang baik. Bangunan Sekolah memiliki tanda peringatan bahaya, pintu keluar darurat, dan jalur evakuasi yang dilengkapi penunjuk arah jika terjadi bencana kebakaran dan/atau bencana lainnya. Peringatan bunyi (tunanetra) maupun peringatan lampu (untuk tunarungu), atau peringatan bunyi dan lampu untuk semua peserta didik. Sekolah memiliki ruang khusus/ ruang sumber. Sekolah memiliki media, alat khusus yang diperlukan dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus.
f. Standar Pengelolaan
Sekolah memilki surat izin/surat keterangan lain sebagai Penyelenggara Pendidikan Inklusif dari Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota terhadap penyelenggaran sekolah inklusif.
Rumusan visi dan misi telah mengakomodasi semua peserta didik termasuk peserta didik dengan kebutuhan khusus. Rumusan tujuan satuan pendidikan mengakomodasi semua peserta didik termasuk peserta didik berkebutuhan khusus. Rencana kerja jangka menengah (empat tahunan) dan rencana kerja tahunan yang memuat perencanaan untuk peserta didik dengan kebutuhan khusus. Sekolah memiliki satuan tugas/koordinator/manajer/ nama lain yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan pendidikan inklusif. Sekolah melaksanakan
kegiatan pembelajaran kurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler yang mengakomodasi peserta didik berkebutuhan khusus.
Sekolah melaksanakan program peningkatan kompetensi guru terhadap peningkatan layanan peserta didik berkebutuhan khusus.
Sekolah mengelola program sarana dan prasarana pembelajaran khusus. Sekolah melaksanakan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat dan membangun kemitraan dengan lembaga/institusi/profesi lain yang relevan dalam layanan pembelajaran peserta didik berkebutuhan khusus.
Sekolah melaksanakan kegiatan evaluasi diri kinerja impelementasi pendidikan inklusif. Sekolah melaksanakan program evaluasi kinerja guru pembimbing khusus.
g. Standar Pembiayaan
Sekolah memiliki anggaran khusus untuk impelentasi pendidikan inklusif atau sekolah menyertakan pendidikan inklusif dalam anggaran sekolah. Sekolah membayar gaji, insentif, transport, dan tunjangan lain bagi guru pembimbing khusus pada tahun berjalan. Sekolah membayar gaji, insentif, transport, dan tunjangan lain bagi manajer/satgas/nama lain yang bertugas mengelola pendidikan inklusif pada tahun berjalan.
Sekolah mengalokasikan dana untuk kegiatan kepeserta didikan termasuk peserta didik berkebutuhan khusus. Sekolah memiliki program beasiswa untuk semua peserta didik miskin dan berkebutuhan khusus. Adanya dana alokasi khusus dari APBD bagi sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif.
h. Standar Penilaian Pendidikan
Guru menginformasikan rancangan dan kriteria penilaian peserta didik berkebutuhan khusus kepada orang tua/wali pada semester yang berjalan. Guru melakukan penilaian pembelajaran untuk peserta didik berkebutuhan khusus yang tidak disertai gangguan intelektual menggunakan standar penilaian pada umumnya. Guru melakukan penilaian pembelajaran untuk peserta didik berkebutuhan khusus yang disertai gangguan intelektual (IQ di bawah rata-rata) menggunakan
standar penilaian khusus/berdasarkan pada masing-masing peserta didik. Guru mengadapatasi prosedur/media penilaian untuk peserta didik berkebutuhan khusus.
Sekolah menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk peserta didik berkebutuhan khusus sama dengan peserta didik lain setiap mata pelajaran dengan memperhatikan: (1) karakteristik dan kemampuan peserta didik, (2) karakteristik mata pelajaran, dan (3) kondisi Sekolah. Ketercapaian KKM untuk peserta didik berkebutuhan khusus yang menggunakan kurikulum di bawah standar diukur atas dasar kemajuan masing-masing peserta didik dan bukan atas dasar rata-rata kelas. Sekolah menentukan terhadap peserta didik berkebutuhan khusus yang menggunakan kurikulum di bawah standar tidak mengenal tinggal kelas. Sekolah melaporkan hasil penilaian setiap akhir semester kepada orangtua/wali peserta didik dalam bentuk buku laporan hasil belajar peserta didik. Jika peserta didik menggunakan kurikulum tidak standar/ di bawah standar, maka laporan hasil belajar dilengkapi dengan deskripsi/naratif. Sekolah menyerahkan ijazah kepada setiap peserta didik (termasuk peserta didik berkebutuhan khusus) yang telah lulus, sedangkan peserta didik berkebutuhan khusus yang tidak mengikuti ujian nasional tidak perlu dinyatakan lulus dan diberikan surat tanda tamat belajar dari satuan pendidikan yang bersangkutan. Sekolah menyelenggarakan ujian sekolah seluruh mata pelajaran untuk peserta didik berkebutuhan khusus yang menggunakan kurikulum di bawah standar. Sekolah menentukan kelulusan peserta didik berkebutuhan khusus yang menggunakan kurikulum standar sesuai kriteria kelulusan. Sekolah tidak mengikutsertakan peserta didik berkebutuhan khusus yang menggunakan kurikulum di bawah standar dalam ujian nasional12.
12 Hasyim, Yahya, Pendidikan Inklusif di SMKN 2 Malang dalam Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan, 2013,2, hlm. 112-121
6. Implementasi Pendidikan Inklusif
a. Kurikulum Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa dijelaskan bahwa satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang mengakomodasi kebutuhan dan kemampuan peserta didik sesuai dengan bakat, minta dan potensinya.
Kemudian dijelaskan pula bahwa pembelajaran perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik beljar peserta didik. Begitu pula dengan penilaian, dijelaskan bahwa penilaian hasil belajar mengacu pada kurikulum yang bersangkutan.
Bagi peserta didik yang mengikuti pembelajaran berdasarkan kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan standar nasional pendidikan dan di atas standard nasional pendidikan wajib mengikuti ujian nasional.
Bagi peserta didik yang mengikuti pembelajaran berdasarkan kurikulum yang dikembangkan di bawah standar nasional pendidikan mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan.
Bagi peserta didik yang menyelesaikan pendidikan dan lulus ujian sesuai dengan standar pendidikan nasional mendapatkan ijazah yang blankonya dikeluarkan oleh pemerintah. Bagi peserta didik yang memiliki kelainan yang menyelesaikan pendidikan berdasarkan kurikulum yang dikembangkan oleh satuan pendidikan dibawah standard nasional pendidikan mendapatkan surat tanda tamat belajar (STTB) yang blankonya dikeluarkan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. Peserta didik yang memperoleh surat tanda tamat belajar dapat melanjutkan pendidikan pada satuan atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi pada satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan inklusif atau satuan pendidikan khusus.
1) Identifikasi dan Asesmen
Setiap guru harus mengetahui latar belakang dan kebutuhan masing-masing peserta didik agar dapat memberikan pelayanan dan bantuannya dengan tepat. Setiap guru harus memiliki kemampuan mengidentifikasi peserta didik atau calon peserta didik untuk mengetahui kondisi semua peserta didik dan lebih fokus lagi mengetahui ada tidaknya peserta didik berkebutuhan khusus yang perlu mendapatkan layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhannya. Untuk mencermati lebih jauh tentang latar belakang, potensi, dan kondisi khusus pada peserta didik, sekolah/guru perlu mengadakan asesmen.
Identifikasi merupakan suatu kegiatan atau upaya yang digunakan untuk menemukan anak berkebutuhan khusus sesuai dengan jenis kelainannya atau sesuai dengan hambatan/gangguannya. Tujuannya yaitu untuk membantu memecahkan permasalahan yag dihadapi anak berkebutuhan khusus supaya perkembangan yang dicapai sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Cara mengidentifikasi dapat dilakukan oleh guru masing-masing anak bersama-sama dengan guru yang lain. Caranya yaitu: melalui pengamatan (observasi) yaitu pengamatan partisipatif atau non pastisipati, wawancara pada anak yang bersangkutan, pendampingnya atau orang tuanya, dan melalui dokumentasi, yakni dokumen yang berupa dokumen hasil pemeriksaan psikologis (jika ada), surat keterangan dokter, psikiater atau ahli lainnya. Alat identifikasinya yaitu lembar cek list atau panduan pengamatan, panduan wawancara atau angket dan tes achievement baik formal maupun non formal.
Asesmen adalah suatu proses pengumpulan informasi tentang perkembangan peserta didik engan mempergunakan alat dan teknik yang sesuai untuk membuat keputusan pendidikan berkenaan dengan penempatan dan program bagi peserta didik tersebut. Melalui asesmen dapat diketahui kemampuan apa yang sudah dimilikinya, apa yang belum atau kelemahannya dan apa yang menjadi kebutuhan peserta didik, sehingga dapat dirancang program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Tujuan utama asesmen adalah untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan program pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK).
Asesmen dilakukan untuk lima keperluan, yaitu: penyaringan (screening), pengalihtanganan (referral), klasifikasi (classification), perencanaan pembelajaran (instructional planning), dan pemantauan kemajuan belajar peserta didik (monitoring pupil progress).
Asesmen yang dipergunakan dalam konteks pendidikan khusus mempunyai makna yang khusus. Pada dasarnya asesmen dalam pendidikan khusus bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki peserta didik sebagai baseline sebelum pembelajaran dimulai.
Berdaasrkan hasil asesmen, dapat dirancang program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik yang dituangkan dalam program pembelajaran individual (PPI).
Asesmen dapat digolongkan menjadi dua yaitu asesmen yang bersifat formal dan informal. Asesmen yang bersifat formal menggunakan instrument yang telah dibakukan mislanya untuk mengetahui ketajaman penglihatan menggunakan Snellen Chart, untuk mengetahui ketajaman pendengaran menggunakan audiometer, dan untuk mengetahui kecerdasan menggunakan tes intelegensi.
Asesmen yang bersifat informal dilakukan untuk melihat fungsi dari potensi yang masih ada dan hambatan belajar yang diakibatkan oleh kelainan yang dimilikinya dengan mnggunakan instrument yang dibuat oleh guru. Misalnya pedoman observasi, pedoman wawancara, pedoman analisis contoh pekerjaan peserta didik.
2) Pengembangan kurikulum Fleksibel
Prinsip pendidikan yang disesuaikan pada satuan pendidikan umum dan satuan pendidikan kejuruan seting pendidikan inklusif menyebabkan adanya tuntutan dan penyesuaian yang besar terhadap guru di sekolah tersebut. Untuk mengimplementasikannya maka di
satuan pendidikan umum atau satuan pendidikan kejuruan perlu menyusun kurikulum yang flkesibel yaitu adanya penyesuaian- penyesuaian pada komponen kurikulum seperti pada tujuan, isi atau materi, proses dan evaluasi atau penilaian. Pengembangan kurikulum untuk peserta didik berkebutuhan khusus dikenal dengan adanya model eskalasi (ditingkatkan), duplikasi (sama/meniru/menggandakan), modifikasi (mengubah untuk disesuaikan), substitusi (mengganti) dan omisi (menghilangkan).
Kurikulum fleksibel adalah kurikulum yang mengakomodasi peserta didik dengan berbagai latar belakang kemampuan dengan cara eskalasi, duplikasi, modifikasi, omisi dan substitusi. Tuntutan dan penyesuaian tersebut adalah: (a) Merancang pembelajaran yang sama untuk semua peserta didik menjadi merancang pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan semua peserta didik, (b) Mengajarkan materi yang sama kepada peserta didik di kelas menjadi mengajar setiap anak sesuai dengan kebutuhan individualnya dalam seting kelas, (c) Merancang dan melaksanakan penilaian yang sama untuk peserta didik di kelas menjadi merancang dan melaksanakan penilaian yang sesuai dengan kebutuhan individualnya.
Secara umum semua peserta didik yang bersekolah di setiap satuan pendidikan ada yang menggunakan kurikulum standar, kurikulum di atas standar, dan kurikulum di bawah standar. Dikaitkan dengan IQ peserta didik yang mempunyai IQ Scala Wechlers di atas 70 sampai kurang dari 130, peserta didik yang menggunakan kurikulum di atas standard adalah untuk peserta didik yang mempunyai IQ di atas 130, dan peserta didik yang menggunakan kurikulum di bawah standar yaitu untuk peserta didik yang mempunyai IQ 70 ke bawah.
Peserta didik dapat belajar dengan baik jika mereka kreatif, aktif dan kegiatannya berdasarkan pada pengalaman peserta didik. Guru yang mengetahui dan memahami keadaan ini dapat dengan mudah
memasukannya ke dalam perencanaan pembelajaran (RPP). Pada seting pendidikan inklusif perencanaan pembelajaran yang kreatif dan aktif berdasarkan pengalaman, kondisi dan kemampuan peserta didik bukanlah tambahan tetapi diperlukan oleh semua peserta didik termasuk peserta didik berkebutuhan khusus. Kurikulum yang bersifat inklusif yakni mengakomodasi anak dengan berbagai latar belakang dan kemampuan, maka kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) akan lebih peka mempertimbangkan keberagaman anak agar pemebelajarannya relevan dengan kemampuan dan kebutuhan anak.
Ruang lingkup kurikulum sekolah umum atau sekolah kejuruan penyelenggara pendidikan inklusif adalah kurikulum sekolah umum atau kejuruan yang dalam hal-hal tertentu dilakukan penyesuaian dan modifikasi tersebut meliputi penyesuaian dan modifikasi cara, media, materi, dan penilaian pembelajaran.
Telah diuraikan di atas bahwa kurikulum yang digunakan di sekolah penyelenggara inklusif adalah kurikulum yang disesuaikan (fleksibilitas kurikulum) dengan kebutuhan setiap peserta didik yang meliputi standar kompetensi lulusan dan standar isi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar).
Karakteristik satuan pendidikan yang melakukan fleksibilitas kurikulum antara lain :
a) Memiliki kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang mengakomodasi kebutuhan semua peserta didik termasuk peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK).
b) Memiliki KTSP yang lebih peka dalam mempertimbangkan keberagaman peserta didik agar pembelajarannya relevan dengan kemampuan dan kebutuhan peserta didik.
c) Melaksanakan asesmen yaitu proses pengumpulan informasi tentang seorang peserta didik yang akan
digunakan untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang berhubungan dengan peserta didik.
d) Selain memiliki rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), satuan pendidikan memiliki program pembelajaran individual (PPI) yang disusun sesuai dengan kebutuhan peserta didik dengan bobot materi berbeda dari kelompok dalam kelas dan dilaksanakan dalam seting klasikal.
e) Merancang atau membuat bahan ajar atau materi pendidikan yang sensitif gander dan tidak mempromosikan peran gander yang mendiskriminasi.
f) Guru mampu menggunakan berbagai pendekatan mengajar yang sesuai dengan kebutuhan semua peserta didik termasuk peserta didik berkebutuhan khusus.
g) Menjamin tersedianya fasilitas, kurikulum, buku dan pengajaran yang sesuai baik untuk peserta didik laki-laki maupun perempuan.
h) Melakukan penyesuaian-penyesuaian materi, cara dan waktu dalam penilaian hasil belajar.
i) Memiliki pengembang kurikulum yang kompherensif, antara lain beranggotakan guru pembimbing khusus, guru sekolah umum, kepala sekolah, orang tua, dan ahli yang berkaitan dengan kebutuhan khusus peserta didik.
j) Menyelenggarakan program khusus bagi peserta didik yang mempunyai kebutuhan khusus, termasuk peserta didik yang berkesulitan belajar atau peserta didik yang memiliki potendsi kecerdasan dan bakat istimewa (PKBI).
k) Bekerjasama dengan pusat sumber (resource center) untuk meningkatkan kemampuan guru dalam memahami keberagaman peserta didik, identifikasi dan asesmen, PPI, penguasaan program khusus (orientasi dan mobilitas untuk peserta didik tunanetra, bina komunikasi persepsi bunyi dan irama, bina diri untuk anak tunagrahita ringan dan sedang,
bina diri dan bina gerak untuk peserta didik tunadaksa, bina pribadi dan bina sosial untuk peserta didik tunalaras) dan teknis pendampingan khusus bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
l) Menyediakan sarana dan prasarana khusus yang sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik (contoh untuk peserta didik tunanetra : riglet dan pen, serta mesin tuk Braille).
m) Orang tua peserta didik terlibat dalam penyusunan dan dalam pembelajaran peserta didik yang diimplementasikan dalam berbagai bentuk kegiatan.
n) Di samping menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk peserta didik pada umumnya, sekolah/guru menentukan juga KKM berdasarkan baseline untuk peserta didik berkebutuhan khusus yang low function dan high function.
3) Kegiatan Pembelajaran Seting Pendidikan Inklusif
Pembelajaran seting pendidikan inklusif mempertimbangkan prinsip-prinsip pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik belajar peserta didik. Proses pembelajaran harus disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap peserta didik (metode, media, dan sumber belajar). Proses pembelajaran guru harus mampu mengajar setiap peseta didik berkebutuhan khusus sesuai dengan kebutuhan individualnya dalam seting kelas. Kegiatan pembelajaran seting pendidikan inklusif antara lain menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM).
a) Guru memahami keberagaman karakteristik dan kompetensi peserta didik.
b) Peserta didik dan Guru belajar bersama secara aktif, inovatif, kreatif dengan penuh ceria dan bahagia.
c) Tujuan pembelajaran disusun secara simpel dan diwujudkan secara efektif dan efesien.
d) Tugas-tugas diberikan lebih praktis, dan memanfaatkan lingkungan sosial dan alam sekitar.
e) Peserta didik berani dilatih berani bertanya dan mengemukakan pendapat dengan kata-kata sendiri.
f) Kelas memajang hasil pekerjaan peserta didik dan alat bantu pegajaran.
g) Peserta didik dapat menunjukan perasaan dan mengutarakan pendapat mereka secara bebas di kelas.
h) Penilaian dilakukan variatif dan berkesinambungan dan jadi umpan balik pada peserta didik.
Kegiatan pembelajaran seting pendidikan inklusif antara lain dengan merancang lingkungan yang ramah terhadap peserta didik.
Lingkungan pembelajaran yang ramah terhadap peserta didik sebagai berikut: Peserta didik dan guru belajar bersama sebagai suatu komunitas belajar. Menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran.
Mendorong partisipasi aktif peserta didik dalam belajar. Guru memahami dan memanfaatkan media pembelajaran adaptif. Guru memiliki minat untuk memberikan layanan pendidikan yang terbaik.
Upaya memahami seting kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus maka guru sekolah penyelenggara pendidikan inklusif harus membaca dan mempelajari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 1 Tahun 2008 tentang Standar Proses Pendidikan Khusus Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita, Tunadaksa, dan Tunalaras13. B. Tinjauan Umum Tentang Pendidikan Inklusif Bagi ABK
1. Pengertian anak berkebutuhan khusus
Setiap anak dikaruniai kemampuan yang berbeda satu dengan yang lainnya untuk tumbuh dan berkembang. Semua anak berhak
13 Kustawan, Dedy, loc. cit. Hlm 66.
memperoleh pendidikan yang berkualitas. Untuk itu, pemerhati pendidikan memberikan kesempatan kepada individu berkebutuhan khusus untuk mendapatkan haknya. Anak berkebutuhan khusus dapat dimaknai dengan anak-anak yang tergolong cacat atau yang menyandang ketunaan, dan juga anak potensial dan berbakat14. Istilah anak berkebutuhan khusus berkembang seiring dengan munculnya paradigma baru pendidikan inklusif.
Anak berkebutuhan khusus dapat diartikan anakyang memerlukan pendidikan yang sesuai kebutuhan individu. Kaitan antara sistem pendidikan inklusif dengan anak berkebutuhan khusus setidaknya memberikan gambaran untuk dapat melihat sisi menarik dari keterbatasan setiap anak yang sering mendapatkan tindakan diskriminatif dari lingkungannya, lebih menekankan keunikan semua anak daripada mengungkit-ungkit perbedaan dan tidak diperlakukan overprotektive yang bisa menimbulkan tekanan mental yang berpengaruh pada kepercayaan diri dan motivasi15. Selain itu, menghindari penekanan ketidakmampuan dengan mengesampingkan pencapaian masing-masing dan menciptakan lingkungan yang yaman dimana anakberkebutuhan khususikut serta dalam kegiatan belajar dengan anak pada umumnya, karena hal ini akan membangun kesan positif.
2. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus
Konsep anak berkebutuhan khusus dapat dikategorikan dalam duakelompok, yaitu anak berkebutuhan khusus bersifat sementara (temporer) dan anak berkebutuhan khusus yang bersifat menetap (permanen). Pada dasarnya dalam pendidikan inklusif setiap anak dipandang memiliki karakter dan kebutuhan khusus yang berbeda, baik menetap ataupunsementara. Kebutuhan menetap adalah kebutuhan yang tidak mungkin hilang, sedangkan kebutuhan sementara adalah kebutuhan yang sifatnya sementara.
14Mulyono. 2003 (dikutip oleh) Ilahi, Muhammad Takdir, loc.cit. Hlm. 137
15Ibid. Hlm.138-139
Anak berkebutuhan khusus yang bersifat sementara adalah anak yang memiliki hambatan belajar dan hambatan perkembangan disebabkan oleh faktor-faktor ekternal, misalnya anak yang mengalami gangguan emosi karena frustasi. Hambatan belajar dan perkembangan pada anak berkebutuhan khusus ini masih bisa dilakukan penyembuhan asalkan orangtua dan orang-orang terdekatnya mampu memberikan terapi penyembuhan yang bisa mengembalikan kondisi kejiwaan menjadi normal kembali. Sementara anak berkebutuhan khusus yang bersifat menetap adalah anak yang memiliki hambatan belajar dan perkembangan akibat langsung karena kecacatan atau bawaan sejak lahir16. Karakteristik dan berkebutuhan pembelajaran anak berkebutuhan khusus tersebut misalnya terdapat pada anak tunanetra, tunadaksa, tunarungu, tunagrahita, lamban belajar, anak berbakat, anak berkesulitan belajar, anak yang mengalami gangguan kamunikasi, tunalaras atau gangguan emosi dan perilaku.
Terkait dengan anak berkebutuhan khusus yang bersifat sementara dan menetap juga terdapat masalah-masalah perilaku psikososial, berkesulitan belajar, ataupun dengan gangguan pemusatan perhatian atau hiperaktif. Selain itu terdapat pula anak dengan tingkat intelegensi, seperti anak tunagrahita,giftedatau berbakat. Jenis-jenis anak berkebutuhan khusus ini membutuhkan layanan pendidikan inklusif yang secara konsisten dengan penuh perhatian sehingga mengatasi segala hambatan belajar dan perkembangan jiwa.
3. Faktor-Faktor Timbulnya Kebutuhan Khusus
Terdapat tiga faktor yang dapat di identifikasi tentang sebab timbulnyakebutuhan khusus pada seorang anak yaitu, faktor internal, faktor eksternal dan kombinasi internal dan eksternal:
a. Faktor internal adalah kondisi yang dimiliki oleh anak yang bersangkutan.Sebagai contoh seorang anak memiliki kebutuhan khusus dalam belajar karena ia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, atau
16Hurlock. 1995, ibid.,Hlm. 137
mengalami kesulitan untuk bergerak. Keadaan seperti itu berada pada diri anak yang bersangkutan secara internal.
b. Faktor eksternal adalah sesuatu yang berada diluar diri anak yang mengakibatkanmenjadi memiliki hambatan perkembangan dan hambatan belajar, sehingga mereka memiliki kebutuhan layanan khusus dalam pendidikan.
c. Kombinasi faktor internal dan eksternal dapat menyebabkan terjadinyakebutuhan khusus pada seorang anak. Kebutuhan khusus yang disebabkan oleh faktor internal sekaligus eksternal diperkirakan anak akan memiliki kebutuhan yang lebih kompleks.
4. Hak dan Kewajiban Anak Berkebutuhan Khusus
Hak setiap anak berkebutuhan khusus yang memiliki kelainan fisik,emosional, mental dan sosial, dan memiliki potensi kecerdasan atau bakat istimewa berhak mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan jenjang pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya17. Jadi setiap anak berkebutuhan khusus berhak mendapatkan haknya dalam pendidikan. Hak peserta didik tersebut adalah sebagai berikut, a.
Mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama, b. Memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, kecerdasan, dan kebutuhan khususnya, c. Memperoleh bantuan fasilitas belajar, beasiswa, atau bantuan lain sesuai dengan persyaratan atau ketentuan yang berlaku,d.
Diterima disekolah umum dan kejuruan, e. Pindah kejenjang atau satuan pendidikan yang lebih tinggi, f. Mendapatkan layanan pembelajaran dan penilaian hasil belajar yang disesuaikan dengan kemampuannya, g.
Memperoleh jaminan hukum yang sama seperti anak pada umumnya.
Kewajiban anak berkebutuhan khusus dalam rangka menjaga norma-norma pendidikan, melalui bimbingan, keteladanan, dan pembiasaan setiap anak berkebutuhan khusus berkewajiban yaitu, a.
17Ibid. Hlm. 37
Menjalankan ibadah sesuai agama yang dianutnya, b. Mengikuti proses pembelajaran dengan menjunjung tinggi nilai-nilai etika, norma dan peraturan yang berlaku sesuai dengan kemampuannya.
Jadi, pendidikan inklusif adalah pendidikan yang berisfat tidak adanya perbedaan anak, tidak membedakan jenis kelamin, suku, kelas sosial, mampu atau tidak mampu, karena pada dasarnya anak berkebutuhan khusus maupun pada umumnya mempunyai hak dan kewajiban mendapatkan pendidikan disekolah.
C. Tinjauan Umum Tentang Guru Pendamping Khusus 1. Pengertian Guru Pendamping Khusus
Guru pendamping khusus atau sering dikenal dengan istilah shadow teacher adalah seorang pendamping di bidang pendidikan pra- sekolah (pendidikan usia dini) dan sekolah dasar yang bekerja secara langsung dengan seorang anak berkebutuhan khusus selama masa tahun- tahun pra-sekolah dan sekolah dasar. Salah satu kriteria utama guru pendamping khusus memahami karakteristik dan keberagaman dari peserta didik dengan kondisi kekhususan dan bagaimana menanganinya dengan baik dan benar.Pada dasarnya tidak semua peserta didik berkebutuhan khusus memerlukan guru pendamping khusus.Namun bagi peserta didik berkebutuhan khusus tertentu guru pendamping ini sangat penting. Guru pendamping khusus berperan membantu tugas guru kelas atau guru mata pelajaran dengan mendampingi peserta didik berkebutuhan khusus saat kegiatan pembelajaran18.
Istilah guru pendamping adalah guru yang memiliki pengetahuan dan keahlian dalam bidang anak berkebutuhan khusus yang membantu atau bekerjasama dengan guru sekolah regular dalam menciptakan pembelajaran yang inklusif..Sehingga guru pendamping khusus seyogyanya sangat diperlukan untuk membantu dalam penanganan pada peserta didik berkebutuhan khusus
18Yuwono, Joko 2007, Ibid. Hlm.79