• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Significance of Intellectual Capital reporting to Financial Performance in Telecommunication Companies

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of Significance of Intellectual Capital reporting to Financial Performance in Telecommunication Companies"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Indonesian Accounting Literacy Journal Vol. 03, No. 02, March 2023, pp. 195 – 203

©Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Bandung

Pentingnya Pengungkapan Intellectual Capital Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Telekomunikasi

Significance of Intellectual Capital reporting to Financial Performance in Telecommunication Companies

Tanti Hafni Arifah Mustofa

Program Studi D-4 Akuntansi, Politeknik Negeri Bandung E-mail: [email protected]

Jouzar Farouq Ishak

Jurusan Akuntansi, Politeknik Negeri Bandung E-mail: [email protected]

Arwan Gunawan

Jurusan Akuntansi, Politeknik Negeri Bandung E-mail: [email protected]

Abstract: Intellectual capital (IC) is a unique resource related to knowledge and can create added value for the company. IC management as an added value for the company has an influence on financial performance. This research aims to evaluate the influence of IC toward financial performance of telecommunications companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2014-2020. Multiple linear regression analysis and partial also simultaneous hypothesis testing were used to determine the relationship between variables. The results showed a positive relationship between IC and financial performance as measured by ROA, ROE, and EP.

Keywords: Intellectual Capital, financial performance, Return on Assets, Return on Equity, Employee Productivity,

1. Pendahuluan

Pertumbuhan dan keberhasilan bisnis dapat menggunakan penciptaan nilai (value creation) sebagai indikatornya. Sumber daya milik perusahaan merupakan salah satu indikator dalam penciptaan nilai. Dibutuhkan suatu sumber daya yang unik agar tidak dapat ditiru dan menjadi identitas khusus perusahaan sehingga dapat tercipta keunggulan kompetitif. Intellectual capital (IC) adalah suatu aset perusahaan yang berhubungan dengan pengetahuan dan dapat menciptakan value added untuk perusahaan. Keberhasilan bisnis bergantung kepada pemanfaatan pengetahuan (knowledge). Pengetahuan merupakan salah satu bentuk intangible assets dan telah menjadi sumber daya baru dalam kinerja keuangan dan keunggulan bersaing perusahaan. IC menjadi hal penting dalam penciptaan laba yang berkelanjutan untuk perusahaan.

IC diklasifikasikan menjadi human capital (HC), structural capital (SC) dan customer capital (CC) (Madition & et al., 2011). Bontis et. al, (1999) mengemukakan bahwa HC merupakan individual knowledge stock perusahaan yang direpresentasi dengan pengetahuan, keahlian, dan kompetensi karyawan. SC mencakup seluruh non-human storehouse of knowledge seperti budaya, strategi, database, dan teknologi informasi. CC merupakan knowledge yang berkaitan dengan saluran pemasaran dan

(2)

Tanti Hafni Arifah Mustofa, Jouzar Farouq Ishak, Arwan Gunawan

terhadap kinerja perusahaan dapat diketahui. Kinerja perusahaan diungkapkan dalam berbagai macam rasio keuangan.

Pemilihan industri telekomunikasi sebagai sampel didasari dengan pernyataan Firer dan Stainbank (2003) yang menyatakan bahwa industri telekomunikasi termasuk industri high knowledge dengan persentase sebesar 63%. Ditambah dengan kebutuhan terhadap telekomunikasi yang terus bertumbuh menyebabkan industri ini berkembang dengan cepat. Dengan bertambahnya kebutuhan akan telekomunikasi, pelanggan perusahaan akan meningkat dan dapat berdampak baik pada laba perusahaan.

Walau kebutuhan akan telekomunikasi terus bertambah, pada kenyataannya kinerja keuangan perusahaan telekomunikasi juga tidak selalu bertumbuh seiring dengan bertambahnya kebutuhan masyarakat akan telekomunikasi. Dalam kurun waktu 7 tahun terakhir (2014-2020), perusahaan telekomunikasi di Indonesia yang terdaftar di BEI masih memperlihatkan terjadinya penurunan laba perusahaan dari tahun ke tahun. Penurunan laba ini tentunya berdampak kepada penurunan kinerja keuangan perusahaan.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan kinerja keuangan, seperti;

kemampuan pengelolaan karyawan perusahaan masih kurang hingga menyebabkan kontribusi terhadap kepentingan perusahaan tidak maksimal (HC), pun dapat disebabkan karena kurang optimalnya rutinitas, prosedur, sistem dan database perusahaan (SC), serta masih belum terjalin hubungan baik antara perusahaan dengan pemasok, pelanggan dan pemerintah (CC).

2. Kajian Pustaka 2.1. Kinerja Keuangan

Penilaian kinerja keuangan dilakukan sebagai pemenuhan kewajiban terhadap stakeholder serta pencapaian tujuan perusahaan. Tolak ukur yang digunakan dalam penilaian kinerja keuangan dapat dinilai dengan dua komponen, yaitu komponen keuangan maupun komponen non-keuangan.

Pada analisis ini, pengukuran kinerja keuangan yang digunakan adalah ROA, ROE, dan EP. Ketiga rasio dalam analisis ini dinilai telah mampu untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan dalam pemanfaatan aspek IC.

2.2. Intellectual Capital

Memperoleh laba yang maksimal adalah tujuan utama pembentukan sebuah perusahaan.

Dalam mencapai hal tersebut, perusahaan akan mengefektifkan pengelolaan sumber daya. Apabila memiliki sumber daya yang banyak, akan lebih banyak pula laba yang diperoleh perusahaan, karena perusahaan yang memiliki modal kuat lebih leluasa untuk mengembangkan usahanya dari pada perusahaan yang kekurangan modal.

Dalam pelaksanaannya, modal yang kuat bukan satu-satunya faktor yang penting dalam pembentukkan laba. Sebuah perusahaan bisa saja memiliki modal yang kuat tapi tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk mengelola sumber daya tersebut sehingga hasil yang diperoleh menjadi kurang masimal. Konsep pengukuran IC dengan metode VAIC (Value Added Intellectual Coefficient) menekankan pada adanya nilai tambah yang diperoleh ketika perusahaan memiliki modal pengetahuan disamping ekuitasnya. Nilai tambah yang diperoleh dipengaruhi oleh efisiensi dari penggunaan modal manusia, modal struktural, dan total ekuitas.

Konsep ini membagi nilai tambah yang dihasilkan ilmu pengetahuan menjadi tiga komponen pembentuk, yaitu Value Added of Capital Employed (VACA), Value Added Human Capital (VAHU), dan Structural Capital Value Added (STVA).

(3)

Tanti Hafni Arifah Mustofa, Jouzar Farouq Ishak, Arwan Gunawan

2.3. Value Added of Capital Employed (VACA)

Hal penting dalam pembentukan laba adalah bagaimana perusahaan memaksimalkan penggunaan sumber daya yang ada untuk menciptakan return. Hubungan antara nilai tambah dan total ekuitas ditunjukkan oleh indikator VACA. Pengelolaan modal yang baik tentu akan berpengaruh pada peningkatkan laba perusahaan.

H2: VACA memiliki pengaruh terhadap kinerja keuangan.

2.4. Value Added Human Capital (VAHU)

VAHU memperlihatkan besaran nilai tambah dihasilkan dari dana yang digunakan untuk tenaga kerja. Semakin tinggi nilai VAHU, menunjukkan bahwa perusahaan memiliki sumber daya manusia yang bermutu serta memiliki pengetahuan tinggi hingga dapat memberikan hasil yang maksimal atas jumlah investasi pada modal manusia. Maka dari itu kualitas sumber daya manusia merupakan hal penting dalam proses pembentukan laba.

H3: VAHU memiliki pengaruh terhadap ROA, ROE, dan EP.

2.5. Structural Capital Value Added (STVA)

Selain kualitas sumber daya manusia, modal struktural sebagai pendukung sumber daya manusia juga penting. Jika sistem dan prosedur perusahaan buruk, nilai tambah yang diperoleh pun tidak maksimal meski perusahaan telah memiliki individu dengan tingkat intelektualitas yang tinggi.

STVA memperlihatkan kontribusi SC dalam penciptaan nilai. Nilai tambah yang diproleh dari sistem dan prosedur perusahaan yang baik ini dapat menunjang pembentukan laba perusahaan.

H4: STVA berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

3. Metode Penelitian

Dengan tujuan untuk membuktikan terdapat hubungan kausalitas antara VAIC terhadap kinerja keuangan, serta sebagai pengujian hipotesis mengenai pengaruh IC terhadap kinerja keuangan, digunakan penelitian deskriptif verifikatif bersifat kausalitas merupakan jenis penelitian yang digunakan. Sementara berdasarkan metodenya, dikategorikan sebagai penelitian kuantitatif.

Kriteria dari pengambilan sampel penelitian yang dilakukan secara purposive sampling adalah sebagai berikut:

a. Annual report dipublikasi secara berkelanjutan dari tahun 2014 sampai tahun 2020.

b. Annual report memiliki data-data komplet mengenai hal-hal yang dibutuhkan 4. Hasil dan Pembahasan

4.1. Statistik Deskriptif

(4)

Tanti Hafni Arifah Mustofa, Jouzar Farouq Ishak, Arwan Gunawan

Tabel. 1 Hasil uji statistik deskriptif IC

No. Kode Perusahaan

Tahun

2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 1 EXCL 1.7528 4.9250 3.1860 2.9171 -0.1683 4.5166 3.9435 2 FREN -0.0536 -1.0289 -1.9354 -2.2555 -2.6967 -0.5668 -3.2814 3 ISAT 1.8431 3.1040 3.9412 4.0690 0.6764 4.3220 2.7980 4 TLKM 5.5066 4.7844 5.0561 5.4295 4.9751 5.4217 5.2206 Maksimum 5.5066 4.9250 5.0561 5.4295 4.9751 5.4217 5.2206 Minimum -0.0536 -1.0289 -1.9354 -2.2555 -2.6967 -0.5668 -3.2814 Mean 2.2622 2.9461 2.5620 2.5400 0.6966 3.4234 2.1702

Berdasarkan perhitungan yang didapat, digunakan klasifikasi VAIC oleh Ulum yang mengklasifikasikan hasil perhitungan Intellectual Capital dengan metode VAIC kepada 4 kategori yang didasarkan pada perolehan VAIC setiap perusahaan, yaitu:

1. Top Performers, skor VAIC di atas 3

2. Good Performers, skor VAIC antara 2,00 sampai 2,99 3. Common Performers, skor VAIC antara 1,5 sampai 1,99 4. Bad Performers, skor VAIC di bawah 1,5.

Dari hasil perhitungan VAIC, nilai rata-rata VAIC perusahaan pada periode penelitian secara keseluruhan adalah 2,371504. Artinya berdasarkan klasifikasi VAIC oleh Ulum, secara keseluruhan perusahaan pada sektor telekomunikasi selama periode penelitian dikategorikan sebagai Good Performers.

Secara individual, perusahaan yang dikategorikan sebagai Top Performers adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. dengan rata-rata nilai VAIC selama periode penelitian sebesar 5,1991 dan PT XL Axiata Tbk. dengan rata-rata nilai VAIC sebesar 3,0104. PT Indosat Tbk dikategorikan sebagai Good Performers dengan rata-rata nilai VAIC sebesar 2,9648. Sementara PT Smartfren Telecom Tbk dikategorikan sebagai Bad Performers dengan rata-rata nilai VAIC sebesar -1,6883.

4.2. Analisis Regresi

(5)

Tanti Hafni Arifah Mustofa, Jouzar Farouq Ishak, Arwan Gunawan

Tabel. 2 Analisis regresi

4.3. Uji F

Model 1: Variabel Dependen “Return on Assets”

Tabel. 3 Uji F terhadap Model ROA

STVA, VACA, dan VAHU berpengaruh terhadap ROA secara simultan.

Model 2: Variabel Dependen “Return on Equity”

Tabel. 4 Uji F terhadap Model ROE

STVA, VACA, dan VAHU berpengaruh terhadap ROE secara simultan.

Model 3: Variabel Dependen “Employee productivity”

Model

Unstandardized Coefficients

B Std. Error

1. ROA (Constant) -.051 .011

VACA .123 .082

VAHU .016 .008

STVA .006 .008

2. ROE (Constant) VACA VAHU STVA

-.160 .399 .033 .014

.023 .171 .017 .016 3. EP (Constant)

VACA VAHU STVA

-606954835.456 999398853.654 222730444.480 64080402.603

118502611.696 900032655.976 87332799.363 84665263.745

Model

Sum of

Squares df

Mean

Square F Sig.

1 Regression .134 3 .045 34.831 .000b

Residual .031 24 .001

Total .165 27

a. Dependent Variable: ROA

b. Predictors: (Constant), STVA, VACA, VAHU

Model

Sum of

Squares df

Mean

Square F Sig.

1 Regression .885 3 .295 52.283 .000b

Residual .135 24 .006

Total 1.020 27

a. Dependent Variable: ROE

b. Predictors: (Constant), STVA, VACA, VAHU

(6)

Tanti Hafni Arifah Mustofa, Jouzar Farouq Ishak, Arwan Gunawan

Tabel. 5 Uji F terhadap Model EP

STVA, VACA, dan VAHU berpengaruh terhadap EP secara simultan.

4.4. Uji t

Model 1: Variabel Dependen “Return on Assets”

Tabel. 6 Uji t terhadap Model ROA

• VACA tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA secara parsial.

• VAHU tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA secara parsial.

• STVA tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA secara parsial.

Model 2: Variabel Dependen “Return on Equity”

Tabel. 7 Uji t terhadap Model ROE

• VACA berpengaruh signifikan terhadap ROE secara parsial.

• VAHU tidak berpengaruh signifikan terhadap ROE secara parsial.

• STVA tidak berpengaruh signifikan terhadap ROE secara parsial.

Model 3: Variabel Dependen “Employee productivity”

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 1791208679353287

7000.000 3 59706955978442

91600.000 38.373 .000b Residual 3734281778627025

900.000 24 15559507410945 9424.000 Total 2164636857215990

0000.000 27

a. Dependent Variable: EP

b. Predictors: (Constant), STVA, VACA, VAHU

Model

Standardized Coefficients

t Sig.

Beta

1 (Constant) -4.763 .000

VACA .395 1.503 .146

VAHU .531 1.999 .057

STVA .076 .831 .414

a. Dependent Variable: ROA

Model

Standardized Coefficients

t Sig.

Beta

1 (Constant) -7.088 .000

VACA .516 2.329 .029

VAHU .439 1.960 .062

STVA .065 .848 .405

(7)

Tanti Hafni Arifah Mustofa, Jouzar Farouq Ishak, Arwan Gunawan

Tabel. 8 Uji t terhadap Model EP

• VACA tidak berpengaruh signifikan terhadap EP secara parsial.

• VAHU berpengaruh signifikan terhadap EP secara parsial.

• STVA tidak berpengaruh signifikan terhadap EP secara parsial.

4.5. Hasil Penelitian

• Pengaruh VACA terhadap Kinerja Keuangan

Pada satu model Return on Equity, VACA menunjukkan pengaruh signifikan secara parsial. Hal ini menunjukan bahwa VACA berperan dalam peningkatan nilai perusahaan.

VACA dapat diartikan sebagai penilaian kemampuan pengelolaan perusahaan terhadap sumber daya yang berasal dari ekuitas. Ukuran VACA akan semakin meningkat apabila perusahaan dapat memperoleh nilai tambah maksimal dari modal yang dimiliki. Sementara ROE menghitung berapa banyak laba yang dihasilkan dana investasi para pemegang saham. Keduanya saling berhubungan karena sama-sama berkaitan dengan modal yang diinvestasikan kepada perusahaan untuk penciptaan nilai.

• Pengaruh VAHU terhadap Kinerja Keuangan

Terdapat pengaruh parsial yang signifikan antara VAHU terhadap Employee Productivity.

Nilai VAHU secara tidak langsung memperlihatkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki suatu perusahaan. EP menilai produktivitas karyawan atas beban karyawan yang dikeluarkan perusahaan. Dalam perhitungan IC, Pulic (2000) menyebutkan bahwa beban karyawan bukanlah beban namun sebagai entitas untuk menciptakan nilai.

• Pengaruh STVA terhadap Kinerja Keuangan

Tidak terdapat pengaruh secara parsial antara STVA terhadap kinerja keuangan.

STVA tidak memiliki pengaruh langsung terhadap kinerja keuangan karena komponen-komponen dari STVA itu sendiri tidak dapat dihitung oleh rasio keuangan. Hal ini juga disebabkan karena komponen-komponen pada STVA tidak disajikan dalam laporan keuangan. Pernyataan ini didukung oleh PSAK nomor 19 yang menyebutkan bahwa pengungkapan informasi mengenai IC bersifat sukarela.

Hal ini dikarenakan baik dari cara pengidentifikasian maupun dari segi pengukuran, pengungkapan IC belum diatur dalam PSAK Nomor 19.

Komponen modal intelektual, terutama sumber daya manusia memegang peranan yang besar dalam upaya penciptaan nilai perusahaan, namun modal struktural yang merupakan faktor

Model

Standardized Coefficients

t Sig.

Beta

1 (Constant) -5.122 .000

VACA .280 1.110 .278

VAHU .651 2.550 .018

STVA .066 .757 .456

(8)

Tanti Hafni Arifah Mustofa, Jouzar Farouq Ishak, Arwan Gunawan

menunjukkan bahwa dibandingkan modal struktural, investasi pada modal manusia lebih memperlihatkan pengaruh langsung. Akan tetapi dengan dukungan dari modal struktural yang baik, modal manusia dapat menciptakan nilai bagi perusahaan secara maksimal.

Apabila modal manusia telah bekerja dengan maksimal, maka perusahaan dapat mengelola sumber daya yang lain dengan baik. Besar atau kecilnya ekuitas milik perusahaan tidak menjamin bahwa perolehan laba akan sebanding atau bahkan lebih besar dari modal yang dimiliki, kemampuan pengelolaan ekuitas iutlah yang lebih berpengaruh.

Kualitas sumber daya manusia secara tidak langsung tercermin pada nilai modal manusia perusahaan. Upaya untuk penciptaan nilai perusahaan dapat dilakukan dengan memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Kompetensi, inovasi, dan pengetahun yang baik memperlihatkan sumber daya manusia berkualitas. Lingkungan kerja yang nyaman dan kondusif dapay memengaruhi peningkatan intelektualitas modal manusia. Inovasi dan motivasi dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan didorong oleh tingkat kepuasan dan loyalitas karyawan terhadap perusahaan.

Pentingnya suatu sumber daya yang berkualitas tak menjadikan modal tidak penting bagi perusahaan. Perusahaan tetaplah membutuhkan modal, namun akan sangat disayangkan apabila perusahaan bisa memperoleh banyak modal tetapi tidak dapat memaksimalkan penggunaannya untuk menciptakan nilai lebih. Maka penting bagi perusahaan untuk melakukan penigkatan intelektualitas agar nantinya dapat menghasilkan keuntungan yang sebanding dengan modal.

Dengan menerapkan upaya-upaya yang telah diuraikan, perusahaan telekomunikasi dapat memiliki nilai tersendiri dan menciptakan karakteristik yang unik agar dapat bersaing dengan perusahaan lain. Ketatnya persaingan bisnis akibat perkembangan pada sektor ekonomi mengharuskan perusahaan membangun keunggulan kompetitif sehingga mampu bersaing di pasar.

5. Kesimpulan dan Saran

Atas hasil pengujian dan uraian, dapat ditarik konklusi sebagai berikut:

1. Secara simultan IC berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja keuangan.

2. VACA memiliki pengaruh signifikan secara parsial terhadap ROE.

3. Secara parsial variabel VAHU memiliki pengaruh yang signifikan terhadap EP.

4. STVA tidak menunjukkan adanya pengaruh yang parsial terhadap kinerja keuangan.

Adapun anjuran berdasarkan hasil pengujian adalah sebagai berikut.

Bagi peneliti selanjutnya:

1. Penelitian selanjutnya dapat menambahkan kembali variabel lain selain kinerja keuangan dan modal intelektual sehingga dapat membuka jawaban yang lebih luas lagi mengenai faktor-faktor yang memengaruhi penciptaan nilai perusahaan.

2. Penelitian serupa dapat dilakukan di bidang atau sektor industri lain sehingga dapat memperluas cakupan penelitian dan dapat membandingkan kembali ciri khas industri lainnya dengan industri telekomunikasi mengenai modal intelektualnya.

Bagi perusahaan:

1. Perusahaan memperbaiki kinerja keuangan perusahaan dengan mempertimbangkan pentingnya penerapan intellectual capital.

2. Perusahaan dapat meningkatkan pengelolaan aset tak berwujud, karena aset tak berwujud memiliki nilai kepentingan yang sepadan dengan aset berwujud. Apabila dikelola dengan

(9)

Tanti Hafni Arifah Mustofa, Jouzar Farouq Ishak, Arwan Gunawan

Bibliography

Bontis, N. (1999). Managing organizational knowledge by diagnosing intellectual capital: framing and advancing the state of the field. International Journal of Technology Management, Vol. 18, 2.

Firer, S. R., & Stainbank, L. (2003). Testing the relationship between intellectual capital and a company's performance: Evidence from South Africa.

Madition, D., & et al. (2011). The impact of intellectual Capital on firms’ market value and financial performance. Journal of Intellectual Capital, Vol. 12 No. 1, 132-151.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menguji pengaruh investasi dalam aktiva tetap dan modal kerja terhadap profitabilitas pada

2013.. HUBUNGAN ANTARA INTELLECTUAL CAPITAL DENGAN KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN PERBANKAN DAN ASURANSI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE TAHUN 2010.. ARIF

Teori ini mempertegas bahwa perusahaan yang memperoleh legitimasi dari masyarakat luas dapat memberikan keuntungan ekonomi yang dapat diperoleh dari ISO 14001 antara lain

Bobot setiap aspek modal manusia didasarkan pada gagasan bahwa pendidikan dan pelatihan merupakan aspek penting bagi para pengusaha yang terkait dengan pengetahuan,

"The Effect of Profitability, Liquidity, and Solvency on the Value of Health Companies Listed On the Indonesia Stock Exchange", Indonesian Vocational Research Journal, 2022 Publication

Penelitian ini dikhususkan pada sektor perbankan di Indonesia dengan menggunakan indikator modal intelektual oleh Pulic 1998 yaitu Human Capital Efficiency, Structural Capital

From the results obtained, the variable that really influences financial performance is the capital structure variable, which means that companies with high value tend to produce high

Tujuan riset ini ialah menganalisis pengaruh leverage, likuiditas dan ukuran perusahaan terhadap kinerja keuangan dimoderasi oleh good corporate governance pada perusahaan asuransi