Secara umum kewirausahaan diartikan sebagai suatu sikap, semangat dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang bernilai tinggi dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Kedua, kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (the ability to create the new and Different) (Drucker, 1959). Pertama, kemampuan menciptakan sesuatu yang baru (to create new and differential) melalui pemikiran kreatif dan tindakan inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Kreativitas mengacu pada kemampuan berpikir baru dan berbeda atau memikirkan hal baru (Teodore Levit) Sedangkan penerapan kreativitas dilakukan dalam bentuk inovasi. Seorang wirausaha paling sedikit mempunyai 12 (dua belas) ciri, yaitu (1) motif berprestasi, (2) selalu mempunyai cara pandang, (3) daya kreatif yang tinggi, (4) mempunyai perilaku inovatif yang tinggi, (5) mempunyai dedikasi dalam bekerja, (6 ) ) mempunyai etos kerja dan tanggung jawab, (7) mandiri atau tidak bergantung pada orang lain, (8) berani menghadapi resiko, (9) selalu mencari peluang, (10) memiliki jiwa kepemimpinan, (11) memiliki kemampuan manajerial dan (12) memiliki keterampilan pribadi. Ciri-ciri wirausahawan yang mempunyai motif berprestasi menurut Suryana (2003) adalah (1) berkeinginan untuk mengatasi kesulitan dan permasalahan yang timbul pada dirinya, (2) selalu membutuhkan umpan balik segera untuk melihat keberhasilan atau kegagalannya (3) mempunyai tanggung jawab. tanggung jawab pribadi yang tinggi, (4) berani menghadapi risiko dengan penuh perhitungan, (5) menyukai tantangan dan melihat tantangan secara seimbang.
Untuk mencapai masa depan yang optimis, seorang wirausaha harus mempunyai kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dari apa yang telah ada (ability to create the new and Different). Oleh karena itu, dalam menghadapi masa depan tersebut, seorang wirausaha harus mampu memperhitungkan risiko yang timbul serta secara cerdas dan tabah menghadapi tantangan yang timbul dari pilihan yang diambilnya. Mempunyai kreativitas yang tinggi berarti mempunyai kemampuan berpikir baru dan berbeda (new Things and Think Different).
Zimmerer dalam Suryana (2003) menyatakan bahwa ide kreatif sering kali muncul ketika seorang wirausaha melihat sesuatu yang lama dan memikirkan sesuatu yang baru dan berbeda. Jiwa kewirausahaan yang ada dalam diri setiap orang tumbuh karena beberapa hal (1) setiap orang pasti mempunyai tujuan, impian dan harapan untuk meningkatkan kualitas hidupnya, (2) setiap orang mempunyai intuisi untuk bekerja dan berusaha, (3) setiap orang mempunyai daya imajinasi yang dapat digunakan untuk berpikir kreatif, (4) setiap orang mempunyai kemampuan mempelajari sesuatu yang belum dikuasainya. Oleh karena itu, seorang wirausaha yang berdedikasi terhadap pekerjaannya tidak akan membiarkan usahanya berjalan begitu saja, namun akan selalu berpikir dan berusaha agar usahanya dapat berkembang dan memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan yang lain.
Mandiri atau tidak bergantung pada orang lain akan mendorong kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Melalui kemandirian dalam berpikir kreatif dan bertindak inovatif, seorang wirausaha dapat menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup. Oleh karena itu, seorang wirausaha harus mempunyai kemampuan kreatif untuk mengembangkan ide dan pemikirannya, terutama untuk menciptakan peluang usaha bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain.
Selalu mencari peluang artinya seorang wirausaha yang berjiwa wirausaha harus menyikapi secara positif peluang yang ada dalam kaitannya dengan pencapaian keuntungan bagi usahanya (organisasi bisnis) atau memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat (organisasi nirlaba). Hal inilah yang mendasari mengapa seorang wirausaha dengan jiwa kepemimpinan akan menggunakan kreatifitas dan kemampuan berinovasinya untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih cepat dipasarkan dan berbeda dengan pesaingnya. Seorang wirausaha yang berjiwa kepemimpinan selalu ingin mencari peluang, terbuka terhadap kritik dan mempertimbangkan saran dalam melakukan perbaikan.
Seorang wirausaha yang memiliki kemampuan kepemimpinan akan mampu menggunakan pengaruh tanpa kekuasaan dan lebih mengutamakan strategi mediator dan negosiator dibandingkan cara diktator.
Penerapan Sifat – Sifat Wirausahawan
Penerapan Pengukuran Kinerja
Membuat Keputusan
Sedangkan pengambil risiko adalah orang-orang yang menyukai tantangan dan melihat tantangan sebagai peluang. Tipe orang seperti ini lebih menyukai kehidupan yang dinamis dan penuh gejolak sehingga mereka akan merasa puas jika mampu mengatasi tantangan dan tidak akan patah semangat jika gagal. Jika seorang penghindar risiko memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang menarik, ia mungkin berubah menjadi pengambil risiko dan memutuskan untuk menjadi seorang wirausaha.
Perlu dipahami bahwa mengambil suatu keputusan pada hakikatnya adalah memilih suatu alternatif penyelesaian (solving) suatu permasalahan, yang masing-masing mempunyai unsur risiko dan manfaat yang berbeda-beda serta mempunyai ketidakpastian. Setelah seseorang mengambil keputusan untuk menjadi seorang wirausaha, tantangan selanjutnya yang harus dihadapi adalah mengambil keputusan di bidang yang dipilihnya. Yang terpenting (1) menentukan tempat usaha/barang atau jasa yang akan diproduksi, (2) menentukan lokasi usaha, (3) menentukan besar kecilnya usaha dan sumber permodalan, (4) menentukan kelompok sasaran. untuk dilayani dan strategi untuk memenangkan persaingan, (5) menentukan kriteria yang harus dipenuhi pegawai untuk dapat direkrut serta cara memotivasi dan mengendalikannya. Pada perusahaan perorangan yang kecil, pengambilan keputusan sepenuhnya dilakukan oleh pemilik (kesatuan komando) dan pada organisasi/perusahaan yang cukup besar, sebagian pengambilan keputusan dapat didelegasikan.
Pada prinsipnya seorang wirausahawan dapat mengambil keputusan dengan orientasi pendekatan yang berbeda-beda, yaitu (1) lebih fokus pada pendekatan rasional (berdasarkan ilmu pengetahuan khususnya manajemen), (2) lebih fokus pada pendekatan naluri atau naluri (termasuk melalui doa dan meminta). petunjuk dari Allah SWT), dan (3) menitik beratkan pada perpaduan pendekatan rasional dan naluri (kombinasi ilmu dan doa). Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa kombinasi pendekatan rasio dan naluri paling umum digunakan ketika mengambil keputusan oleh para pengusaha (juga di Indonesia). Alasannya karena lebih praktis dan cepat yang menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan seorang wirausaha yaitu keberanian dan kecepatan dalam mengambil keputusan, sehingga tidak minder dalam meraih dan memanfaatkan peluang dibandingkan para pesaingnya.
Tahapan proses pengambilan keputusan berdasarkan pendekatan rasional adalah: Tahap 1, merumuskan masalah secara jelas dengan memikirkan tujuan yang ingin dicapai; Tahap 2, pencarian dan pengembangan alternatif atau kemungkinan pemecahan masalah yang akan dipilih; Tahap 3, pemilihan alternatif yang paling sesuai dan/atau alternatif yang dinilai sangat memuaskan, dan Tahap 4, finalisasi alternatif yang dipilih dan penyusunan langkah-langkah implementasi. Tahapan proses pengambilan keputusan selalu menggunakan pendekatan rasional dan naluriah, dengan menyeimbangkan bobot sesuai dengan sifat permasalahan yang kita hadapi. Pada dasarnya permasalahan yang dihadapi seseorang ketika harus mengambil suatu keputusan terdiri dari 3 (tiga) ciri, yaitu (1) permasalahan yang keadaannya cukup jelas dan agak pasti, (2) permasalahan yang mengandung beberapa variasi perkembangan, namun polanya cukup jelas dan (3) permasalahan yang keadaannya tidak jelas dan variasi perkembangannya juga sangat tidak menentu.
Jika masalah yang kita hadapi dapat dijelaskan secara matematis, maka hubungan mempunyai peranan yang lebih besar dalam menyelesaikan masalah tersebut. Namun pendekatan yang lebih naluriah juga dapat dipelajari melalui proses learning-by-doing, yang dikembangkan dengan mengandalkan refleksi atau latihan mental, meminta nasehat orang bijak. Jika Anda harus mengambil keputusan sebagai wirausaha, alternatif mana yang akan Anda pilih?
Simpulan
Instrumen Penugasan dan Kunci Jawaban
Analisis SWOT digunakan untuk mengetahui tujuan perusahaan yang berkaitan dengan posisi perusahaan sebagai dasar pencapaian posisi yang diinginkan.