SIKAP BAHASA MASYARAKAT PERKOTAAN DI KATIMANTAN-)
Sugiyono
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Pos-el: sh.sugiy ono@ gruail.com
Wisnu Sasangka
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Pos-el: [email protected]
Inti Sari
Makalah ini mendeskripsikan sikap masyarakat perkotaan di emPat kota provinsi di Kalimantan terhadap bahasa Indonisia, bahasa daeiah, danbahasa asing. Metode yAng digunakan adalah metode kuantitatif yang mengaitkan ciri sosial responden dengan penda'pat terhadap sejumlah parameter sikap bahasa. Hasilnya diketahu bahwa Indeks sikap bahasa masyarakat Kalimantan ierhadap bahaia Indonesia secara umum tidak setinggi indeks sikap mereka terhadap bahasa daerah ipalagi sikap terhadap bahasa asing. Berdasarkan hasil pembandingan indeks, sikap masyarakat Kilimantan terhadap bahasa asing tampaknya masih lebih positif dibandingkan dengan sikapnya terhadap bahasa Indonesia dan sikapnya terhadap bahasa daerah. Sementara itu, sikap masyaiakat Kalimantan terhadap bahasa Indonesia lebih rendah daripada sikapnya terhadap bahasa daerah apalagi sikapnya terhadap bahasa asing'
Kata kunci: sikap bahasa, pemertahanan bahasa, loyalitas bahasa, antipati bahasa
Abstract
This paper describes urban society's nttitude in four cities in Borneo on lndonesian, local language, and foreign language. The method used is qunlitatiae method tlmt relntes respondent socinl clmrncteristics to 'opinlon
oni nimber of langunge nttitude parnmeters. Tlrc result slnzos tlnt Borneo society language attitude index on lndonesia generitly is not as high as tlrcir attitude index on local lnngunge ftnreouer on foreign lnnguage. Based on result of index compnrison, Borneo society's attitude on foreign language seenxs more poJitiri tl.rononlndonesian andlocallangunge, Mennwhile,Borneo society's onlndonesianislower tlun on local language moreoaet on foreign lnngunge.
Keywords: language nttitude,language maintenance,lnngungeloyalty,language antipatlry
1.
PendahuluanSikap terhadap
bahasamerupakan hal
yang penting yang harus dipertimbangkan da- lam perencanaan bahasa. Jikatidak,
Perenca-naan bahasa yang menempatkan bahasa Indo- nesia sebagai bahasa yang unggul dari bahasa daerah dan bahasa
yang dominan di
antara bahasa-bahasa daerahtidak
akan dapat ter-wujud.
Akibatnya, perencanaanuntuk
mema-jukan
bahasa Indonesia sebagai bahasailmu
pengetahuan hanya merupakan angan-angan belaka.Arah
pengembangan bahasa sebagai- mana diinginkan oleh para perencana bahasa, seperti pembakuan dan pemodernan bahasa Indonesia menjadi sia-sia.)
Naskah masuk tanggal 25 Agustus 2014. Editor: Drs. Edi Setiyanto. Edrt | 22-25 September 2014.99
Di
antara upaya perencanaan bahasa na-sional-selain
peningkatanmutu
bahasa dan penggunaannya serta pemantapan sistem ba-hasa-hal yang tidak kalah penting
adalah peningkatan kepedulian masyarakat terhadapbahasa Indonesia. Kepedulian berkaitan
dengan sikap bahasa yangditunjukkan
oleh penuturnya, yaitu loyal (language loyalty) atau- kah antipati (language antipatlry). Penutur yangloyal
terhadap suatu bahasa akan melakukan pemertahanan bahasa dengan berbagai cara, sedangkanpenutur yang antipati
terhadap suatu bahasa akan membiarkan bahasanya ter- geser,bahkan punah. Sikap
bahasa sangatbergantung pada
aspekmartabat
(prestige) yang melekat pada bahasa tersebut. Makin ber- martabat suatu bahasa, makintinggi
loyalitaspenutur
terhadapnya.Masyarakat Indonesia yang
heterogen menyebabkan munculnya sikapyang
(1) sa- ngat bangga terhadap bahasa asing, (2) sangat bangga terhadap bahasa daeratu dan (3) sangat bangga terhadap bahasa Indonesia. Kebang- gaan terhadap bahasa asing yang berlebihan dapat menurunkan wibawa bahasa Indonesia, sedangkan kebanggaan terhadap bahasa dae- rah yang juga berlebihan dapat menimbulkan chaooinisme dan disintegrasi bangsa. Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada sikap bahasa masyarakatKalimantan
terhadapketiga
ba- hasa yang adadi
Indonesia. Sikap masyarakat tersebutakan digunakan
sebagaiformulasi
kebijakan perencanaan bahasa yang diambil.Penelitian
ini
bertujuan mengukur sikap bahasa masyarakatKalimantan,
khususnyayang tinggal di kota
besar terhadap bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing.Tujuan itu diperinci ke dalam tujuan yang lebih operasional, yaitu
untuk
mengetahui (1) sebe- rapa positifkah sikap masyarakat di empatwi-
layahini
terhadap bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing; (2) ciri sosial penutur apa yang mempengaruhi sikap bahasaitu,
(3) Iatar kebahasaan apayar.g mempengaruhi si-kap
bahasa,dan
(4) adakahpola
hubunganantara sikap terhadap bahasa yang satu dan sikap terhadap bahasa yang lain.
Hasil kajian yang dapat dipertanggungja- wabkan kebenarannya berdasarkan
hasil
ob- servasi dan penelitian yang memadai dan dida- sarkan pada dataempiris
menjadi dasar pe- nentu arah perencanaan bahasa. Oleh karenaitu,
kajianini
akan menjadi sumbangan yang sangatberarti
dalam perencanaan bahasadi
Indonesia secara luas.Penelitian tentang sikap bahasa, yang di- mulai sekitar tahun 1950-aru pada awalnya ba- nyak dilakukan oleh para ahli psikologi sosial daripada ahli sosiolinguitik. Ahli sosiolinguistik pertama yang
melakiikan penelitian
tentang sikap bahasa adalah Hoenigswald dengan ma- kalah yang berjudul"A
Proposal for the Studyof Folk Linguistics" (dalam Suhardi:
40).Hoenigswald menyarankan masyarakat agar tidak hanya tertarik pada (a) apa yarrg terjadi, (b) bagaimana orang memberikan tanggapan terhadap apa yang terjadi, dan (c) apa penda- pat orang tentang apa yang terjadi.
Pendapat Hoenigswald tersebut membuka
cakrawala berpikir para ahli sosiolinguisik
tentang pentingnya sikap masyarakat terhadap bahasa.
Untuk itu,
mereka menjadikan maka- lah itu sebagai dorongan untuk melakukan danmengembangkan penelitian tentang sikap
bahasa. Penelitian Hoenigswald tersebutdi-
kembangkan oleh Lambert dan kawan-kawan yang memperkenalkan metode samaran ter-banding
(matched guise). Lambertpun
diang- gap telah memberi inspirasi peneliti lainuntuk
mengukur penelitian tentang sikap bahasa.Penelitian Lambert dianggap lebih jelas da- lam mengukur sikap bahasa responden karena bersilat kuantitatif, yaitu menggunakan hitung- an angka atau statistik sehingga hasilnya dapat
dilihat
melalui angka-angka. Peneliti sikap ba- hasajuga
dapatdilakukan
dengan mengem- bangkan penelitian yang bersifat kualitatif, se-perti yang dilakukan oleh Ferguson dan Nader.
Linguis
di
Indonesia yang meneliti sikap bahasa, beberapadi
antaranya, ialah Kridalak-100
Widyapanua, Volume 42, Nomor 2, Desember 2014sana/
Halim,
Gunarwan, Oetomo,Muhadjir, Moeliono,
dan Suhardi. Kridalaksana (1974) mencatat ada kecenderungan orang Indonesia memakai bahasa asing, terutama bahasa Ing- gris.Hal itu
mencerminkan sikap yangtidak
menghargai bahasa nasional kita.Halim
(1978) melihat sikap bahasapenutur
Indonesia dari sudut kebijakan pengembangan bahasa nasio- nal yang berhubungan dengan masalah pem- binaan dan pengembangan bahasa Indonesia.Selanjutnya,
Halim
menjelaskan bahwa pem- binaan bahasa Indoensia dimaksudkanuntuk
meningkatkanmutu
komponenkognitif
dankomponen afektif. Komponen kognitif
me- nyangkut kesadaran dan pengetahuan menge-nai
keadaan kebahasaandi
Indonesia yang meliputi bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing sesuai dengan fungsi serta kedu- dukan masing-masing. Komponen afektif ber-hubungan
dengannilai
kebanggaan karena memiliki bahasa nasional sebagai lambang ke- bulatan tekad dan semangat kebangsaan In- donesiajika
sebagai sarana penyatuan berba- gai masyarakat yang berbeda-beda latar bela-kang
kebahasaan,kebudayaan, dan
kesu- kuannya.Gunarwan
(1983)membuktikan
adanya sikap positif dari kalangan mahasiswa terhadap bahasa Indonesia baku.Hal itu
dianggap se-bagai sikap yang menggembirakan
karena sikap tersebut akan berpengaruh terhadap si- kap masyarakat yang lain terhadap pengguna- an bahasa Indonesia baku. Peneliti lain, Oeto-mo
(1987), mengkaji sikap masyarakat Jawa terhadap bahasa yang dipakai oleh orang Cina dan sebaliknya. Hasilnya menggambarkan ada-nya
stereotipetnik
padatiap-tiap
kelompok etnis tersebut dalam pamakaian bahasanya.Muhadjir
(1,987)meneliti fungsi
pemakaian dialek Jakarta pada masyarakat Jakarta. Ha- silnya menunjukkan bahwamakin
akrab hu- bungan antarpartisipan, makin cenderung ke pemakaian dialek Jakarta. Sebaliknya, makin berjarak hubungary makin cenderung ke pema- kaian bahasa Indonesia. Faktor situasi berpe-ngaruh pada pemakaian, Makin formal situasi pembicaraan, semakin pemakaian cenderung menggunakan bahasa Indonesia.
Makin
tidak formal situasi pembicaraary semakin pemakai-an
cenderung menggunakandialek lakarta,
bahasa daerah, dan bahasa campuran.
Sejalan dengan pendapat peneliti sebelum-
nya Moeliono
(1988) menguraikan sikap ba- hasayang bertalian
dengan usaha pengem- bangan dan pembinaan bahasa menjadi enam bagian, yaitu (1) sikap yang meremehkan mutu bahasa sejajar dengan sikap bahasa, (2) sikap yang suka menerobosn (3) sikap tuna hargadiri,
(4) sikap menjauhidisiplin,
(5) sikap engganmemikul
tanggung jawab, dan (6) sikap suka melatah mengambilalih diksi dan
gaya ba- hasa. Dalam penjelasan selanjutnya, sikap ba- hasa masyarakat terhadap bahasanya dapat bersifat positif dan negatif. Sikap positif tecer- min dalam bentuk menyetujui, menyukai, men-dukung, atau reaksi lain,
sementara sikap negatif berniJai sebaliknya.Suhardi (1996) meneliti sikap para maha- siswa dan sarjana
di
Jakarta terhadap pema-kaian
bahasamereka sehari-hari. Dari
326 responden yang ditelitinya disimpulkan bahwa pemakaian bahasa sehari-hari mereka sedikit banyak ditentukan oleh bahasaibu
mereka.Sugiyono dan
S.S.T.Wisnu
Sasangka (2009) juga telah melakukan penelitian terha- dap sikap bahasa masyarakat Indonesiadi
(1)Jakarta, (2) Bandung, (3) Surabaya, (4) Denpa- sar, (5) Makassar, dan (6) Medan. Hasilnya me-
nunjukkan bahwa
masyarakatIndonesia di
enamwilayah
tersebuttidak
meletakkan ba- hasa Indonesia sebagai pilihan pertama, mere- kajustru
meletakkan bahasa daerahdi
atas bahasa Indonesia dan bahasa asing. Jika adamasyarakat yang
banggaterhadap
bahasa Indonesia, kebanggaanitu
masih lebih rendah daripada kebanggaan terhadap bahasa daerah.Sementara
itu,
dugaansikap
masyarakatdi
enam wilayah tersebut sangat
tinggi
terhadapbahasa asing ternyata tidak terbukti. Sikap ma- syarakat yang sangat
tinggi
terhadap bahasaSikap Bahasa Masyarakat Perkotaan di Kalimantan L01
asing, terutama bahasa Inggris, ternyata dila-
tari
oleh keperluanuntuk
meningkatkan wa- wasan pengetahuan yangingin
diraih.2. Teori
Sikap bahasa dapat didefinisikan dari dua sudut pandang,
yaitu
behavioris (behaaiourist aieta) dan mentalis (mentalist aiew). Dari sudut pandang behavioris sikap bahasa diamati me-lalui
respons terhadap bahasa tertentu, teruta- ma pada penggunaan dalam interaksi yang se-sungguhnya.
Dari sudut
pandang mentalis, sikap bahasa dianggap sebagai keadaan mental internal (internal mental state) yang menyebab-kan
terbentuknya suatu sikap. Sikap adalah variabel gabungan antara stimulus yang meme-ngaruhi dan
responsterhadapnya
(Fasold, 1984:1,47).Crystal
(1997:215) mendefinisikan sikap bahasa sebagai perasaan yangdimiliki
sese-orang terhadap bahasanya dan bahasa orang
lain.
Selebihnya, Edwards (1994:97-98)
me-nyatakan bahwa konsep
sikap (yurg
berasal dari psikologi social) merupakan disposisi un-tuk
bertindak suka atautidak
suka terhadap suatu objekyangbiasanya meliputi tiga elemery yaitu perasaan (elemen afektif), pemikiran (ele- men kognitif), dan predisposisi untuk bertindak (elemen perilaku).Definisi tentang sikap bahasa di atas mem- perlihatkan bahwa yang menjadi objek respons adalah bahasa. Pada kenyataarurya sikap yang diamati tidak hanya terhadap objek bahasa, te- tapi juga terhadap penutur yang lain dan situasi penggunaarnya.Hal
itu
sejalan dengan Knops danvan Hout
(1998:1,-2) yang menyatakan bahwa sikap bahasa merupakan sikap terhadap bahasa, varian bahasa, dan perilaku bahasa.Elemen yang membentuk sikap
tidak
ha- nya terbatas pada tiga elemen yang diusulkan oleh Edwards. Elemen itu dapat diperluas men-jadi
empat komponeryyaitu
(1) kemampuan berbahasa, berkaitan dengan kemampuan atau kemahiranberbahasa yangdimiliki
atau diakui oleh responden; (2)impresi
atau kesan, ber-kaitan dengan penilaian terhadap bahasa dan fakta kebahasaan yang ada
di
lingkungan res-ponden; (3)
penggunaan bahasa,berkaitan
dengan penggunaan bahasadi
ranah-ranah tertentu dengan tujuan dan frekuensi yang ter- tentu pula; dan (4) transmisi bahasa, berkaitan dengan keinginan dan tindakan responden un- tuk menyebarluaskan dan mengajarkan bahasa kepada oranglain
dengan berbagaimotif
dan tujuan.Dalam
kaitan
dengan kebijakan bahasa, sikap bahasa lebih menentukan dan memenga-ruhi
efektivitas kebijakan yang diambil. Sikap bahasa pula yang mgnentukan apakah bahasa yang digunakan suafu masyarakat lebih baik atau lebihburuk
daripada bahasa yang lain:3.
MetodologiPenelitian
ini
merupakan penelitian kuan-titatif
yang mengaitkanciri
sosial responden dengan pendapat atau justifikasinya terhadap sejumlah parameter sikap bahasa. Sikap terha- dap ketiga jenis bahasa/ yaitu bahasa Indonesia, bahasa daeraku dan bahasa asing harusdilihat
sebagai satu kesatuan dengan asumsi bahwa sikap bahasa seseorang terhadap bahasa ter- tentu bisa jadi berkorelasi positif atau berkore- lasi negatif dengan sikap bahasa orang
itu
ter- hadap bahasa yang lain.Ciri sosial responden yang ditetapkan ada- lah jenis kelamiry kelompok pendidikan, status perkawinary ciri etnisitas pasangan/ orang tua, kekuasaan, mobilitas, dan tempat tinggal. Se- mua responden juga diperhitungkan latar keba- hasaannya,
seperti
bahasapertama
(bahasa pertama respondery pasangan, dan orang tua) bahasa lain yang paling dikuasai, dan frekuensi kontak dengan penutur bahasa lain.Parameter yang digunakan
untuk
meng- ukur sikap adalah kemampuary impresi, peng- gunaary dan transmisi, baik secara vertikal ke generasilain
maupun secara horizontal ke se- sama generasi. Sikap seseorang terhadap suatu bahasadinyatakan baik apabila orang itu
memiliki derajat kemampuary impresi, penggu-1,02
Widyapanua, Volume 42, Nomor 2, Desember 2014naan/ dan transmisi yang juga baik. Keempat parameter
itu
dikaitkan dengan ketiga bahasa yang diteliti.Teknik percontohan yang digunakan da- lam penelitian ini adalah teknik acak bertujuan.
Dalam setiap kota besar yang
dipilih
sebagai lapangan penelitian dijaring data berkisar 250 sampai dengan 300 orang. Dari empat kota be- sardi Kalimantan
(Pontianak, Banjarmasin, Palangkaraya, dan Samarinda) diperoleh data sebanyak 1.130 kuesioner.Data penelitian
ini
dijaring dengan meng- gunakan kuesioneryang
menggunakanciri
sosial seperti jenis kelamiry usia, status perka-
winan, tingkat pendidikan,
pekerjaan, dantingkat
mobilitas sebagai variabel penelitian.Kuesioner disebarkan
di
empat kota besardi
Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, dan Samarinda. Komposisi data yangterkumpul
adalah sebagai berikut.Tabel 1. : Komposisi Responden menurut
Kelompok
Usia dan)enis Kelamin
Ienis Kelamin
Total Laki-Laki Perempuan Kelompok
Usia
< 25 tahun 238 296 534
25 - 50 tahun 253 256 509
> 50 tahun 44 28 72
Total 53s 580 1115
Data yang terkumpul diolah secara kuan-
titatif
dengan analisis statistika inferensional.Hasil kuesioner dikuantifikasi dengan mengon- versi setiap jawaban responden ke bentuk for- mat indeks dengan rentang angka 0 sampai 1.
Uji beda dilakukan dengan uji T-Test dan Ano-
va
yangdilengkapi
denganuji
Post Hoc.Uji
hubungan hasil pengukuran dilakukan dengan analisis korelasibifariat
Pearson Product Mo- ment (PPM). Semua analisis statistikitu
dilaku- kan dengan menggunakan program SIISS versi 15.0.Uji validasi
menrrnjukkan bahwa instru- men mempunyai daya beda yang sangat baik (p=0,00) dengan ratajrata skala terendah 2,97dan skala tertinggi 3,67. Dalam
uji
reliabilitasyang
dilaksanakan denganteknik uji
ganda(test and retest) diperoleh hasil yang membuk- tikan bahwa hasil
uji
coba pertama berkorelasipositif
denganhasil uji
cobakedua
(R=0,75;p=0,00). Perbandingan hasil
uji
coba pertama dan hasil uji,coba kedua menunjukkan bahwa kedua tes cobaitu
menghasilkan data yang sa-ma
(p=0,26) dengan reratanilai uji
coba per- tama 3,4'L dan reratanilai uji
coba kedua 3,34.4.
TemuanSikap bahasa masyarakat Indonesia atas bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing dideskripsikan dengan melihat ada tidak-
nya
perbedaanindeks sikap
bahasa antara kelompok sosial yang satu dan kelompok sosial yang lain. Deskripsi sikap bahasa juga memper- lihatkan apakah latar kebahasaan seorang penu-tur
menentukantinggi
atau rendahnya sikap bahasa seseorang dan apakah latar bahasaitu
membedakan sikap bahasa seseorang penutur.
Tabel 4:
]ulat Indeks
Sikap terhadapBahasa Indonesia,
Indeks Sikap BI
lntleks Sikap BD
Indeks Sikap BA
Minimum 0,1t2 0,128 0,154
Maksimum 0,368 0,386 0,407
Rerata 0,241 0,270 0,281
Tabel 2: Komposisi Responden
Tingkat Pendidikan
dan ]enismenurut Kelamin
Tabel 3: Komposisi Responden Bahasa Pertama dan Bahasa
menurut Kedua
Ienis Kelamin
Total Laki-Laki Perempuan Tingkat
Pendidikan
pendidikan
menenqah 204 209 413
pendidikan tineei 333 369 702
Total 537 578 1115
Bahasa Kedua
Total bahasa
lndonesia bahasa daerah
bahasa
Bahasa Pertama
bahasa
Indonesia 88 29"1 173 552
bahasa daerah 109 267 "184 s60
bahasa asine I 1 1 3
Total 198 559 358 1115
Sikap Bahasa Masyarakat Perkotaan di Kalimantan 103
Secara umum indeks sikap bahasalnasya- rakat terhadap bahasa Indonesia tidak setinggi
indeks sikap masyarakat terhadap
bahasa daerah apalagi sikap terhadap bahasa asing.Akan tetapi, irideks ketiga sikap
itu
termasuk dalam kategori cukuppositif.
Pembandingan indeks sikap terhadap bahasa Indonesia (0,241)dan indeks sikap terhadap
bahasa daerah (0,270) menunjukkan perbedaanyang
signi- fikan (p= 0,00). Pembandinganindeks sikap ter- hadap bahasa Indonesiaitu
dengan indeks si- kap terhadap bahasa asing (0,281) menunjuk- kan perbedaan yang signifikan (p= 0,00). Perbe- daan yangjuga signifikan ditemukan
dalam pembandingan indeks sikap terhadap bahasa Indonesia dan sikap terhadap bahasa asing (p = Q00). Berdasarkan hasil pembandingan indeksitu,
sikap masyarakat terhadap bahasa asing tampaknya masihlebih positif
dibandingkan dengan sikap terhadap bahasa Indonesia dan sikap terhadap bahasa daerah. Sementara itu, sikap terhadap bahasa Indonesia lebih rendah daripada sikap terhadap bahasa daerah, apa- lagi sikap terhadap bahasa asing. Pembanding- an sikap terhadap bahasa Indonesia dan ba- hasa daerahini menyodorkan fakta
bahwa anggapanbanyak orang yang
menyatakan bahwa orang lebih bersikap positif terhadap ba- hasaIndonesia daripada terhadap
bahasa daerah adalah tidak benar. Akan tetapi, faktor apayang
melatarbelakangisikap ini
masihperlu dikaji
lebihlanjut
dengan menganalisisfaktor
sosialpenutur
danfaktor
kebahasaan penutur secara lebih terperinci.4.L Sikap Bahasa
menurut
Faktor Sosial 4.L.1Sikap
Bahasa menurut]enis Kelamin
Penutur
Sikap anggota masyarakat laki-laki,
terhadap bahasa Indonesia berbeda pada level sangat signifikan dengan sikap masyarakat pe- rempuan terhadap bahasa Indonesia (p=0,001).
Indeks sikap masyarakat
laki-laki
(0,35) lebih rendah dibandingkan dengan sikap masyara- katlaki-laki
terhadap bahasa Indonesia (0,36).Pola perbedaan
ini
menunjukkan bahwa kaum perempuan lebih bersikap positif terhadap ba- hasa Indonesia daripada kaumlakilakinya.
Sementara dalam analisis sikap terhadap bahasa daerah,
diperoleh hasil
bahwa jeniskelamin tidak membedakan sikap
mereka (p=0,21,9).Indeks sikap terhadap
bahasa daerah mereka,baik
kaumtaki-laki
maupun kaum perempuan berkisar 0,45 dan 0,46. Akantetapi, jika dilihat per komponen,
pemban- dingan indeks sikap menunjukkan signifikansi yang baik pada semua komponen. Komponen kemampuan berbahasa menunjukkan perbe- daan yangcukup si$nifikan
(p=0,061); kom- ponen impresi terhadeip bahasa daerah menun-jukkan
perbedaan yangsignifikan
(p=9,030);komponen manfaat dan penggunaan bahasa daerah menunjukkan perbedaan yang sangat signffikan (p=0,002), dan komponen transmisi menunjukkan perbedaan yang
cukup
signifi-kan
(p=0,066). Jadi,walaupun
secara umum sikap terhadap bahasa daerah kaumlaki-laki
dan kaum perempuantidak
berbeda (kedua- duanya berada pada levelpositif)
perbedaan sikap dengan derajat signifikansi yang berva- riasi tampak pada analisis komponen per kom- ponen sikap, baik pada komponen kemampu- ary manfaat, penggunaan, impresis, dan pewa- risan.Perbedaan sikap masyarakat laki-laki dan masyarakat perempuan terhadap bahasa asing berada pada level cukup signifikan (p=0,11,4).
Meskipun pada derajat signifikansi yang ren- datu data sebaran indeks menunjukkan bahwa sikap kaum laki-laki terhadap bahasa asing le-
bih tinggi
(0,48) dibandingkan dengan sikap kaum perempuan (0,47).Secara umum rerata indeks sikap terhadap bahasa asing adaiah 0,48, rerata indeks sikap terhadap bahasa daerah 0,45, dan rerata indeks sikap terhadap bahasa Indonesia adalah 0,35.
Perbedaan yang amat menonjol tampak pada
indeks sikap terhadap
bahasa daerah. Jika indeks sikap terhadap bahasa Indonesia antara laki-laki dan perempuan berhimpit atau nyaris104
WidyapafWa, Volume 42, Nomor 2, Desember 2014berhimpit di
satutitik
(demikian pula indeks sikap terhadap bahasa asing) indeks sikap ter- hadap bahasa daerahterpisah
secara nyata.Hal
itu
berarti bahwa indeks sikap kaum laki- laki terhadap bahasa daerah jauh lebih rendah daripada indeks sikap kaum perempuan.Benar bahwa urusan penguasaan bahasa daerah banyak menjadi tanggung jawab para
ibu
danitu
sebabnya sikap kaum perempuan terhadap bahasa daerahjauh
lebihpositif
di-bandingkan sikap kaum laki-laki.
Besar ke- mungkinan bahwaini
juga ada kaitannya de- ngan sikap yangdikaitkan
dengan ranah pe- kerjaan.4.L.2 Sikap Bahasa menurut Kelompok Umur Pengujian statistik atas indeks sikap ber- bahasa masyarakat yang distratakan atas ke-
lompok umur-kurang dari
25 tahun, antara 25 dan 50 tahun, sertalebih dari
50tahun-
menunjukkan signifikansi yang beragam. Per- bedaan mereka atas
sikap terhadap
bahasa Indonesiamenunjukkan
derajatsignifikansi
yang sangat tinggi (p = 0,001), sementara sikap mereka terhadap bahasa daerahtidak
signifi- kan (p=0,326), dansikap terhadap bahasa asing cukup signifikan (p = 0,127).Analisis sikap bahasa terhadap bahasa In- donesia, komponen demi komponery menun- jukkan bahwa kelima komponen mempunyai signifikansi yang cukup tinggi. Kelompok usia penutur membedakan indeks impresinya terha- dap bahasa Indonesia
(p
= 0,050). Dalam hal ini tampak bahwa indeks impresi penutur yang berusia kurang dari 25 tahun (0,40) lebih besardibandingkan indeks impresi
mereka yang usianya antara 25 sampai 50 tahun (0,39). Im- presi kelompok usia yang ketiga (0,39) tidak me-nunjukkan pola
perbedaan yang jelas, tetapi cenderung sama dengan impresi kelompok usia kedua.Dalam hal penggunaan bahasa Indonesia, ketiga kelompok usia
itu
mengunakan bahasa Indonesia dengan intensitas yang sangat ber- beda (p = 0,000).Generasi paling muda adalahgenerasi yang paling tinggi indeks penggunaan bahasa Indonesianya (0,42),
diikuti
oleh gene- rasi tertua (0,41), kemudian kegenerasi kedua yang berusia antara 25 sampai dengan 50 ta-hun
(0,40). Akan tetapi, ujipost hoc menunjuk- kan bahwa hanya ada dua kelompok usia yang mempunyai indeks yang harus dibedakan se- cara signifikan, yaitu penggunaan bahasa Indo- nesia oleh generasi termuda yang lebih besar daripada penggunaan bahasa Indonesia gene- rasi kedua atau generasi pertama.Signifikansi perbedaan indeks pengguna- an bahasa Indonesia
itu
tampaknya juga ber- laku untuk perbedaariindeks kemampuan, in- dekstransmisi, dan iirdeks
manfaat bahasa Indonesia bagi mereka. Pola perbedaan yang ternyata hanya dua kelompok dengan batasan usia 25 tahury juga berlaku dalam pola perbe- daan ketiga indeks itu. Rerata indeks yang ber- bedadari
rentang indeks satu komponen de- ngan komponen yang lain.Perbeda4n yang umumnya sangat signifi-
kan
dalam sikap terhadap bahasa Indonesiatidak tampak dalam sikap
terhadap bahasa daerah dan sikap terhadap bahasa asing. Sikap terhadap bahasa daerah bahkantidak
menun- jukkan adanya perbedaan yang signifikan (p = 0,326). Beda signifikan hanya ditemukan pada perbedaan indeks komponen kemampuan ber- bahasa daerah (p = 0,000) dan indeks kompo- nen manfaat bahasa daerah (p=0,004).4.1.3 Sikap Bahasa menurut Tingkat Pendidikan Variabel tingkat pendidikan membedakan sikap bahasa seseorang terhadap bahasa Indo- nesia (p=0,020). Signifikansi
ini
didukung olehkemaknawian variabel tingkat pendidikan
dalam komponen sikap seperti kemampuan ber-
, bahasa Indonesia (p=0,007), manfaat bahasa
Indonesia
(p=0,000),dan transmisi
bahasa Indonesia (p=0,000).Akan
tetapi, siginifikansiini
tidak berlakuuntuk
komponen sikap yangberupa impresi terhadap
bahasa Indonesia (p=0,1,46) dan komponen penggunaan bahasa Indonesia (p=0,627).Sikap Bahasa Masyarakat Perkotaan di Kalimantan 105
Dalam
hal
sikap bahasa secaraumum
si- kap terhadap bahasa Indonesia penutur yang berpendidikan dasar (0,36) cenderung sama de- ngan sikap penutur yang berpendidikan mene- ngah (0,35), tetapi keduanya lebih tinggi diban- dingkan dengan sikap penutur yang berpendi- dikantinggi
(0,35).Variabel tingkat pendidikan secara umum
tidak
membedakansikap
bahasa seseorang terhadap daerah (p=0,269). Ketaksignifikanan sepertiitu
juga ditemukan dalam analisis sta-tistik
terhadap komponen manfaat (p=0,404) dan komponen transmisi (p=0,396). Perbedaan yang signifikan hanya ditemukan pada analisiskomponen kemampuan
berbahasa daerah (p=0,000),impresi terhadap
bahasa daerah (p=0,096), dan komponen penggunaan bahasa daerah (p=0,009).Variabel tingkat pendidikan secara
signi
fikan membedakan sikap bahasa seseorang ter- hadap bahasa asing (p=0,000). Signifikansiitu
juga ditemukan dalam analisis statistik terha- dap komponen kemampuan berbahasa asing (p=0,000), komponen impresi terhadap bahasa asing (p=0,081), komponen penggunaan ba- hasa asing (p=0,005), komponen manfaat baha- sa (p=0,000), dan komponen transmisi bahasa asing (p=0,000). Secara umum dapat dikatakan bahwa ada konsistensi sikap masyarakat terha- dap bahasa asing.Jika dibandingkan secara vertikal, indeks sikap masyarakat terhadap bahasa Indonesia cenderung berhimpit pada satu
titik.
Demikian juga indeks mereka terhadap bahasa daerah.Akan
tetapi, secara horizontal tampak bahwa antaratitik
indeks sikap terhadap bahasa Indo- nesia, indeks sikap terhadap bahasa daerah, dan indeks sikap terhadap bahasa asing berge- rak menuju ke atas. Artinya, sikap masyarakatyang dikelompokkan atas pendidikan ini
menunjukkan gejala rendahnya sikap terhadap bahasa Indonesia, bahkan lebih rendah daripa- da sikap mereka terhadap bahasa daerah.
Si
kap mereka terhadap bahasa asing menduduki tempat yang paling tinggi.
4.L.4 Sikap Bahasa menurut Status Perkawinan Variabel status perkawinan mempunyai pengaruh yang besar terhadap sikap seseorang terhadap bahasa Indonesia.
Ada
perbedaan indeks sikap yang sangat signifikan antara si- kap seseorang yang belumkawin
atau sudah tidak kawin dan mereka yang masih dalam sta- tus kawin (p = 0,000). Signifikansi yang serupajuga didapati dalam
analisis komponen ke-mampuan
berbahasaIndonesia (p=
0,000), komponen impresi terhadap bahasa Indonesia(p =
0,020), komponen manfaat bahasa Indo- nesia (p = 0,0L3), da4 komponen transmisi ba- hasa Indonesia (p = p,000).4.1.5
Sikap
Bahasamenurut
Etnis Pasangan Etnis pasangan membedakan sikap sese- orang terhadap bahasa Indonesia. Analisis in- deks sikap menunjukkan perbedaan yang sa-ngat signifikan antara sikap mereka yang pa- sangannya satu etnis, berbeda etnis, atau belum berpasangan (p=0,010). Perbedaan serupa juga ditemukan pada pembandingan indeks sikap terhadap bahasa asing (p =0,003), tetapi tidak pada pembandingan
indeks sikap
terhadap bahasa daerah (p=0,702).Dalam sikap terhadap bahasa Indonesia, perbedaan
indeks sikap berlaku mengikuti
pola: (S = B) < BP. Artinya, sikap bahasa mereka
yang
sudah berpasangan,baik yang
seetnis maupun beda etnis, adalah sama, tetapi kedua- duanya lebih rendah daripada sikap merekayang belum
berpasanganterhadap
bahasa Indonesia. Pola perbedaan sikapitu
ditemukan pula dalam analisis terhadap komponen sikappenggunaan
bahasa,manfaat
bahasa, dan transmisi bahasa.Dalam hal sikap terhadap bahasa daerah tidak ada perbedaanyang berarti. Sikapmereka terhadap bahasa daerah, baik mereka yang su- dah berpasangan maupun yang belum sama saja dengan rerata indeks sekitar 0,45. Perbe- daan yang signifikan hanya ditemukan pada indeks komponen penggunaan bahasa,
yaitu
bahwa mereka yang pasangannya satu etnis106
Widyapanua, Volume 42, Nomor 2, Desember 2014justru lebih rendah sikapnya dibandingkan me- reka yang pasangannya beda etnis atau bah-
kan belum
berpasangan. Dengan demikian,indeks
penggunaan bahasa daerah mereka yang pasangannya seetnis (0,48) cenderung le-bih
rendah daripada mereka yang pasangan- nyatidak
seetnis (0,50).Perbedaan sikap bahasa seseorang terha- dap bahasa asing juga dipengaruhi oleh etnisi- tas pasangannya. Sikap mereka terhadap ba- hasa asing masyarakat yang pasangannya satu etnis (0,48)-dan mereka yang belum berpasang-
an-lebih positif dibandingkan
dengan sikap mereka yang beda etnis pasangannya (0,47).Pola beda seperti
ini
berlaku juga untuk semua komponen sikap.Pembandingan secara
vertikal
indeks se- tiap kelompok masyarakat tidak menunjukkan perbedaan yang menonjol, kecuali pada sikap terhadap bahasa asing. Halitu
ditunjukan oleh kecenderungan berhimpitnyatitik-titik
pada si- kap terhadap bahasa Indonesia, sikap terhadap bahasa daeratu dan juga sikap terhadap bahasa asing.4.1,.6 Sikap menurut Homogenitas Lingkungan
Variabel
homogenitaslingkungan tidak
mempunyai pengaruh pada sikap seseorang terhadap bahasa Indonesia (P=0,4L6) dan jugasikap terhadap
bahasaasing
(p=0,978). Va-riabel ini
hanya berpengaruh secara sangat signifikan pada sikap seseorang terhadap ba- hasa daerah (p=0,000). Signifikansi pengaruh variabelini
atas sikap seseorang terhadap ba- hasa daerahdidukung
oleh signifikannya va- riabelini
pada semua komponen (p< 0,009).4.1.7
Sikap
Bahasamenurut Tingkat
Kuasa Variabeltingkat
kekuasaantidak
punya pengaruh yang signifikan terhadap sikap ba- hasa Indonesia (p = 0,234). Demikian juga ter-hadap sikap terhadap
bahasadaerah
(p=0,306). Akan tetapi, variabel ini mempunyai pe-
ngaruh
terhadap sikap berbahasa asing(p
= 0,024). Signifikansi pengaruh variabel tingkat kuasa didukung juga signifikasi pengaruh va-riabel
itu
pada semua komponen sikap terha- dap bahasa asing. Variabel tingkat kuasa mem- punyai pengaruh yang cukup signifikan pada komponen penggunaan bahasa (p:0,1.44) da;',komponen
in'rpresi bahasaasing
(p=0,076).Variabel itu mempunyai pengaruh yang signifi-
kan
dalam komponen manfaat bahasa asing (p=0,50), tetapi sangat signifikan pada kompo- nen penggunaan bahasa asing (p=0,003) dan komponen transmisi bahasa asing (p=0,003) 4.2 Sikap Bahasa menurut Latar Kebahasaan 4.2.1 Sikap Bahasa menurut Bahasa Pertama Variabel bahasa pertama seseorang ticlak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap sikapnya terhadap bahasa Indonesia (p=0,346) dan jugatidak
signifikan terhadap sikap sese-orang terhadap bahasa asing (p=0,572). Akan tetapi, variabel
ini
mempunyai pengaruh yang sangat signifikan pada sikap mereka terhadap bahasadaerah
(p=0,010).Pengaruh
sangat signifikanitu
ditemukan juga pada komponen sikap terhadap bahasa daerah seperti kompo- nen kemampuan bahasa daaerah (p=0,000),komponen impresi
terhadap bahasa daerah (p=0,025), komponen manfaat bahasa daerah (p=0,000), dan komponen transmisi bahasa dae-rah
(p=0,000). Pola beda yangterjadi
adalahbahwa
(BI=BA)> BD.Artinya, sikap
bahasa mereka yang berbahasa pertama bahasa Indo- nesia atau bahasa asing lebihpositif
terhadap bahasa daerahdaripada
sikap mereka yang bahasa pertama bahasa daerahitu
sendiri.4.2.2
Sikap
Bahasamenurut
Latar Bahasa KeduaVariabel bahasa kedua seseorang mempu- nyai pengaruh yang tampak nyata pada sikap mereka terhadap bahasa Indonesia (p:0,007) dan juga sikap mereka terhadap bahasa asing (p=0,000). Sikap mereka terhadap bahasa dae- rah tidak dipengaruhi oleh bahasa kedua yang mereka kuasai (p=0,488).
Signifikansi pengaruh variabel
bahasa kedua dalam sikap terhadap bahasa Indonesia juga tampak nyata dalam komponen kemam-Sikap Bahasa Masyarakat Perkotaan di Kalimantan 1'07
puan
berbahasaIndonesia
(p=0,000),kom- ponen impresi terhadap
bahasa Indonesia (p=0,004), dan komponen penggunaan bahasa Indonesia (p=0,003). Pengaruh variabelitu
ha- nya cukup signifikan pada komponen manfaat bahasa Indonesia, tetapi bahkantidak
signifi- kan pada transmisi bahasa Indonesia (p=0,248).Signifikansi pengaruh variabel
bahasa kedua dalam sikap terhadap bahasa asing juga tampak nyata dalam setiap komponen sikapitu
(p=0,000). Artinya, sangat meyakinkan bah- wa bahasa kedua yang dikuasai seseorang, baik berupa bahasa Indonesia, bahasa daerah, mau- pun bahasa asing, memengaruhi sikap mereka terhadap bahasa itu secara total. Pola beda yang ditemukan adalah BD> [
BK] > BA. Dengan kata lain, mereka yang memiliki bahasa kedua bahasa daerah memunyai sikap yang palingpositif
terhadap bahasa asing.4.2.3 Sikap Bahasa menurut Bahasa Pasangan Variabel bahasa pasangan
tidak
mempu- nyai pengaruh yang signifikan atas sikap sese-orang terhadap bahasa Indonesia (p=0,765).
Pengaruh yang sangat
signifikan
ditemukan padasikap
mereka terhadap bahasa daerah (p=0,000) dan juga sikap mereka terhadap ba- hasa asing (p=0,000). Signifikansi pengaruh ter- hadap sikap bahasa daerah juga didukung oleh sangat signifikannya variabelini
pada setiap komponen sikap terhadap bahasa daerah (p <0,003). Dalam hal
ini
pola perbedaan yang di- bentuk adalah (BI=BA) > BD yang berarti bah-wa
sikap bahasa mereka yang pasangan yang berbahasaibu
bahasa Indonesia atau bahasa asing lebih positif terhadap bahasa daerah di- bandingkan dengan sikap bahasa mereka yangpasangannya berbahasa pertama
bahasa daerah.Signifikansi variabel
bahasa kedua atas sikap seseorang terhadap bahasa asingdidu-
kung pula sgnifikansi variabelitu
dalam ham-pir
setiap komponen sikap terhadap bahasa asing (p = 0,000), kecuali komponen pengguna- an bahasa (p=0,306). Pola perbedaan yang di-bentuk adalah BD > BI> BA. Artinya, sikap pa-
ling
positif terhadap bahasa asing terdapat pa-da
merekayang
berpasangan dengan sese- orang yang berbahasaibu
bahasa daerah di-ikuti
oleh mereka yang berpasangan dengan seseorang yang berbahasaibu
bahasa Indone- sia, baru mereka yang berpasangan dengan se- seorang yang berbahasa ibu bahasa asing pada posisi terakhir.4.2.4 Sikap Bahasa
menurut
Bahasa Orang TuaVariabel bahasa pertama ayah tidak mem-
punyai
pengaruhyang signifikan
atas sikap seseorang terhadap b.ahasa Indonesia (p=0,993) dan juga atas sikap seseorang terhadap bahasa asing (p=0,191). Pengaruh yang signifikan ha- nya ditemukan pada sikap seseorang terhadap bahasa daerah (p=0,032).Akan
tetapi, signifi- kansiitu
hanyadidukung
oleh signifikannya pengaruh variabel bahasa pertama ayah dalam komponen manfaat bahasa daerah (p=0,039) dan komponen kemampuan berbahasa daerah (p=0,001). Pola beda yang ditemukan adalah (BI = BA)>BD. Artinya/ seseorangyangbahasa pertama ayahnya bahasa Indonesia atau ba- hasa asing memiliki sikap yang jauh lebih baik terhadap bahasa daerah dibandingkan dengan sikap mereka yang bahasa pertama ayahnya bahasa daerah.Tidak seperti signifikansi variabel bahasa
pertama
ayah,variabel
bahasa pertamaibu
mempunyai pengaruh yang sangat signifikan atas sikap terhadap bahasa daerah (p=0,012)dan sikap
seseorang terhadap bahasa asing (p=0,000), tetapitidak
mempunyai pengaruh samasekali
atassikap
seseorang terhadap bahasa Indonesia.'Signifikansi
variabel bahasa pertama ibuatas sikap seseorang terhadap bahasa daerah didukung oleh signifikannya pengaruh variabel
itu
padakomponen
kemampuan berbahasa daerah (p=0,017), komponen penggunaan dan komponen transmisi bahasa daerah (p=0,033), serta komponen manfaat (p=0,001). PoIa beda108
Widyapanua, Volume 42, Nomor 2, Desember 2014yang diperoleh adalah sama dengan pola beda variabel pertama ayah,
yaitu
(BI=BA) > BD.Signifikansi variabel ini atas sikap seseorang terhadap bahasa asing didukung signifikannya pengaruh variabel
ini
pada komponen penggu- naan bahasa (p=0,087) dan komponen impresi terhadap bahasa asing, manfaat, dan transmisi bahasa asing (p < 0,002). Dalam perbedaan in- deks sikapitu
berlaku pola (BI=BA) < BD.4.2.5
Sikap
Bahasamenurut Mobilitas
Variabel mobilitas seseorang mempunyai pengaruhyang
sangatsignifikan
atas sikap seseorang terhadap bahasa daerah (p=0,004) dan juga sikap seseorang terhadap bahasa asing (p=0,000), tetapi tidak pada sikap seseorang ter- hadap bahasa Indonesia (p=0,67 6). Signifikansi pengaruhvariabel mobilitas didukung
pula signifikansi variabel itu pada semua komponensikap, baik sikap terhadap
bahasa daerah (p<0,041) maupun sikap terhadap bahasa asing (p<0,005).Untuk
sikap terhadap bahasa daerah ber-laku pola
beda (P=TP=SS)>S.Artinya,
sikap mereka yang tidak pernah pergi ke luar daerah, pernah satu atau duakali,
atau sangat sering bepergian keluar daerah lebihtinggi
daripada sikap mereka yang hanya sering keluar daerah itu. Untuk sikap terhadap bahasa asing berlaku pola (TP=P)>S>SS. Dalam hal ini berarti bahwa sikap mereka yangtidak
pernah atau pernah sesekali adalah yangpaling tinggi
dan sikaporang yang
sangatsering
bepergiankeluar
daerah adalah yang paling kecil. Dengan kata lairy semakin sering seseorang mendatangi dae- rah etnis lairy semakin negatif sikapnya terha- dap bahasa asing.
4.3 Korelasi Sikap terhadap Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, dan Bahasa Asing
Sikap bahasa seseorang terhadap bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing
mempunyai
korelasi yangumumnya
sangatsignifikan.
Sikap terhadap bahasa Indonesia berkorelasipositif
dengan sikap terhadap ba-hasa daerah dengan kekuatan 0,284 (p=0,01), tetapi berkorelasi negatif dengan sikap terhadap bahasa asing dengan kekuatan -0,1.62 (p=0,01).
Sementara
itu,
sikap terhadap bahasa daerah berkorelasipositif
dengan sikap terhadap ba- hasa asing dengan kekuatan 0,074 (p=0,05).Hal itu
berarti semakin baik sikap bahasa seseorang terhadap bahasa Indonesia akan se-makin baik pula sikap bahasa seseorang terha- dap bahasa daerahnya, tetapi semakin negatif sikapnya terhadap bahasa Inggris. Akan tetapi, semakin baik sikap seseorang terhadap bahasa asing, semakin baik pyla sikap orang
itu
terha- dap bahasa daerah. i5.
SimpulanSecara
umum penelitian ini
mengonfir- masi temuan penelitian sebelumnya (Sugiyono dkk, 2009), yaitu bahwa sikap terhadap bahasa asing menempati posisi yang paling tinggi, se- dangkan sikap terhadap bahasa Indonesia me- nempati posisi paling rendah. Jikadilihat
dari derajat kepositifan sikap masyarakat,baik
si-kap
terhadap bahasa daerah, bahasa Indone- sia, maupun sikap terhadap bahasa asing, ma- syarakat mempunyai sikap yang positif.Sikap masyarakat terhadap bahasa asing jauh
lebih tinggi
dibandingkan dengan sikap terhadap bahasa daerah, apalagi sikap terha- dap bahasa Indonesia.Indeks sikap bahasa ma- syarakat Kalimantan terhadap bahasa Indone- sia secaraumum tidak setinggi indeks sikap me- reka terhadap bahasa daerah apalagi sikap ter- hadap bahasa asing. Berdasarkanhasil
pem- bandingan indeks, sikap masyarakat Kaliman-tan
terhadap bahasa asing tampaknya masih lebih positif dibandingkan dengan sikapnya ter- hadap bahasa Indonesia dan sikapnya terha- dap bahasa daerah. Sementara itu, sikap masya-rakat
Kalimantan terhadap bahasa Indonesia lebih rendah daripada sikapnya terhadap ba- hasa daerah apalagi sikapnya terhadap bahasa asing.Sikap Bahasa Masyarakat Perkotaan di Kalimantan L09
DAFTAR PUSTAKA
Coulmas, Florian. 1997.
The Handbookof
Sociolinguistics.Cambridge: Blackwell
Publishers Inc.Eastmary Carol M.1983. Language Planning: An lntroduction. San Francisco:
Chandler &
Sharp Publishers, Inc.
Fasold, R. 1987. The Sociolinguistics of Society.
Oxford, UK: Blackwell.
Ferguson, Charle
A.
"Language Development".
Dalam Fishman et al. Language Problemsin
Deaeloping Nations.New York:
Wiley, L968. Malaysia.Fishman, ]oshua
A.
(ed.). 1974. Adaances in Language Planning. The Hague: Mouton,Gunarwan, Asim.
1983."Reaksi Subjektif
terhadap BIB dan NB: Sebuah Pengkajian
Sikap Bahasa." Kertas kerja yafig disampaikan dalam Kongres
Bahasa IndonesiaIV di
Jakarta.Halim, Amran.
1972. "Language Planningin Modern Norway." Dalam Haugen,
TheEcology of Language. Hauge: Mouton.
Holmes, Janet.
2001,.An lntroduction
to Sociolinguistics. Second Edition. England:Longman.
Knops,
U.
and vanHout,
R. 1988. "Language Attitudes in the Dutch Language Area:An
Introduction"
dalam U. Knops and R. vanHout
(Ed.) Language attitudesin
the Dutch langunge area.Dordrecht,
Netherlands:Foris Publications.
Kridalaksana, Harimurti. 1980. E ungsi dan Sikap Bahssa. Ende: Nusa Indah.
Moeliono,
Anton M.
1985. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Ancangan Alternatif didnlam Perencanann Bahasa.
Jakarta:Djambatan.
Richards,
I. C., Platt,
J.and Platt, H.
1992.Longman Dictionary of Language Teaching and Applied Linguistics. Edisi kedua. Essex,
UK: Longman P,lrblishers.
Sugiyono
dan S.S.T.Wisnu
Sasangka. 2009."Sikap Bahasa Masyarakat
Jakarta,Bandung, Surabaya, Denpasar, Makassar,
dan Medan".
Laporan Penelitian, BPPT dan Depdiknas, Jakarta.-.
201,0."Sikap
Bahasa MasyarakatKalimantan".
Laporan Penelitian, BPPT dan Depdiknas, ]akarta.-.
20L2. Sikap Masyarakat lndonesia terhadnp Bnhasanyn. Yogyakarta: Elmatera Publising.Suhardi,
Basuki. 1996. Sikap Bnhnsa. Depok:Fakultas Sastra Universitas Indonesia.