- 73 - H
ukum tentunya tidak bekerjadalam ruang yang hampa, itulah sebabnya dalam realitas, hukum merupakan faktor pengintegrasi dalam bermasyarakat. Hukum sebagai instrumen pengatur atau kontrol sosial, tentu harus menjalani proses yang panjang dan melibatkan berbagai perbedaan aktifitas yang ada dalam masyarakat.
Sebagaimana yang seringkali kita dengar bahwa Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. Pluralnya masyarakat Indonesai tentu memengaruhi pembuatan hukum yang akan di berlakukan.
Munculnya slogan pluralisme hukum tentu didasarkan pada adanya beberapa faktor, yakni faktor historis bangsa Indonesia yang memiliki keragaman suku, bahasa, budaya, dan ras. Pluralisme hukum diberlakukan agar terciptanya masyarakat yang rukun dan dapat menyesuaikan penyelesaian masalah berdasarkan aliran hukum yang berlaku di masyarakat itu sendiri.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Indonesia menganut sistem hukum civil law, yang dalam hal ini Satjipto Rahardjo berpendapat dalam bukunya bahwa di dunia ini kita tidak jumpai satu sistem hukum saja, melainkan lebih dari satu.
Adapun sistem hukum yang
Sistem Hukum Pada Masyarakat Pluralis
Latipah Nasution
*ISSN: 2338 4638 Volume 1 Nomor 8b (2017)
dimaksud meliputi unsur-unsur seperti: struktur, kategori dan konsep. Dari perbedaan unsur tersebutlah mengakibatkan perbedaan dalam sistem hukum (Rahardjo, 2000: 235).
Hukum Islam sangat dekat dengan sosio-antropologis bangsa Indonesia, sehingga kehadirannya dapat dengan mudah diterima oleh
masyarakat luas. Keakraban dengan sosio-antropologis hukum Islam dengan masyarakat membuat masyarakat memberlakukan syariat Islam di berbagai wilayah Indonesia (Rambe, 233: 2014). Hal ini dapat kita lihat seperti dibentuknya Kanun Syariah yang merupakan implementasi hukum-hukum Islam di dalamnya.
- 74 -
Tak hanya hukum Islam, Indonesia yang kaya akan keanekaragamannya baik dalam bentuk budaya, kepercayaan dan lain-lain, dapat mempengaruhi pemberlakuan sistem hukum tersebut.
Hukum adat di Indonesia juga dipandang sebagai salah satu sumber pemberlakuan sistem hukum nasional, karena hukum adat merupakan perwujudan asli dari masyarakat Indonesia. Implementasi hukum adat di masyarakat terkadang tidak sejalan dengan amanat konstitusi. Pasalnya kerapkali ada suatu budaya yang dilihat melanggar hukum pidana akan tetapi tidak bagi masyarakat tertentu, inilah yang
disebut budaya hukum.
Terlepas dari pemberlakuan hukum di masyarakat, maka dalam pembentukannya tidak diperkenankan melanggar Konstitusi UUD 1945, hukum harus tetap dalam koridor konstitusi. Hal inipun dipertegas kembali dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 11 tahun 2012 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Secara garis besar amanat dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2012 menginstruksikan kepada lembaga legislasi untuk membentuk peraturan perundangan-undangan yang tidak keluar dari aturan-aturan yang telah ditetapkan, sebagaimana yang diatur
dalam undang-undang tersebut. Tentunya tak asing bagi kita akan stufenbau theory yang menyatakan bahwa hukum yang tingkatnya lebih rendah harus berdasar pada hukum yang lebih tinggi dan bersumber pada norma yang disebut Grundnorms yakni Pancasila.
Seperti teori yang disampaikan oleh Laurance M Friedman dalam bukunya “The Legal System a Social Science Perpective” menyebutkan bahwa sistem hukum terdiri atas struktur, substansi dan kultur atau budaya hukum masyarakat itu sendiri. Dari ketiga komponen tersebut jika telah terbangun maka tentu akan sangat mendukung berjalannya sistem hukum dalam suatu masyarakat. Struktur itu sendiri ditinjau dari lembaga penegak hukum, substansi dilihat dari undang-undang atau aturan hukum yang diberlakukan, dan kultur adalah nilai-nilai atau kebiasan yang berkaitan dengan
aturan atau norma yang berlaku di masyarakat itu sendiri (Yunus, 2012: 6).
Negara hukum Indonesia bukan hanya negara yang bekerja sebagai perwujudan hukum formal belaka, namun lebih dari itu negara Indonesia harus mampu mewujudkan moral yang terkandung dalam konstitusinya (moral design). Sebagaimana yang dikatakan oleh Robin M. William “moral, nilai atau kebudayaan merupakan blue print of behaviour dari tingkah laku warga masyarakat” (Maladi, 55: 2010). []
Pustaka Acuan:
*Penulis adalah Peneliti pada Pusat Studi Konstitusi dan Legislasi Nasional (Poskolegnas) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Maladi, Yanis. “Eksistensi Hukum Adat Pasca Amandemen,” dalam Jurnal Mimbar Hukum, Vol. 22, Nomor 3, Oktober (2010).
Rahardjo, Satjipto. Ilmu Hukum, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1991).
Rambe, Mara Sutan. “Proses Akomodasi Hukum Islam Ke Dalam Hukum Pidana Nasional, dalam Jurnal Cita Hukum, Vol. 2 No. 2 Desember (2015).
Yunus, Nur Rohim. Restorasi Budaya Hukum Masyarakat Indonesia, (Bogor: Jurisprudence Press, 2012).
‘Adalah; Buletin Hukum dan Keadilan merupakan berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Pusat Studi Konstitusi dan Legislasi Nasional (POSKO-LEGNAS), Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penasehat: Prof. Dr. H. Abdul Ghani Abdullah, SH., Prof. Dr. H. A Salman Maggalatung, SH., MH. Pemimpin Redaktur: Indra Rahmat- ullah, Tim Redaktur: Nur Rohim Yunus, Fathuddin, Mara Sutan Rambe, Muhammad Ishar Helmi, Erwin Hikmatiar. Penyunting: Indah Furba, Hasin Abdullah. Setting & Layout: Siti Anisaul Kamilah.