• Tidak ada hasil yang ditemukan

sistem pembagian warisan dalam perspektif - Repository UMJ

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "sistem pembagian warisan dalam perspektif - Repository UMJ"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Fokus dan Subfokus Penelian

Hal ini bertujuan agar pembahasan tetap fokus dan juga menyamakan persepsi terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, sehingga pembaca tidak melakukan kesalahan atau kesulitan dalam memahami fokus dan sub fokus dalam penelitian ini. Fokus penelitian ini berfokus pada sistem pembagian warisan dari sudut pandang hukum adat dan hukum Islam di Desa Dolulolong, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, NTT.

Perumusan Masalah

Pelaksanaan undang-undang pusaka Islam dan hukum adat di kampung Dolulolong tidak dilaksanakan mengikut peraturan dalam al-Quran dan hadis.

Manfaat Penelitian

Sistematika Penulisan

TINJAUAN PUSTAKA

Hukum Waris Islam

Secara umum kelompok warisan dalam Islam dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) kelompok masing-masing. Jika ahli waris (laki-laki dan perempuan) berjumlah 25 orang, maka yang berhak mendapat bagian hanyalah 5 orang, yaitu : .. a) Suami atau istri b) Anak laki-laki c) Anak perempuan d) Ayah.

Hukum Waris Adat

Penelitian ini mengenai sistem pembagian warisan dari sudut pandang hukum adat dan hukum Islam di Kedang desa Dolulolong kecamatan Omesuri kabupaten Lembata. Kegiatan yang dilakukan peneliti adalah melakukan wawancara dan dokumentasi kepada kepala desa, kepala adat, tokoh adat, tokoh agama dan ahli waris mengenai sistem pembagian warisan dalam perspektif hukum Islam dan hukum adat di desa Dolulolong. Adanya budaya tradisional yang unik di Desa Dolulolong menarik perhatian peneliti untuk mengkaji sistem pembagian warisan ditinjau dari hukum adat dan hukum Islam di Desa Dolulolong Kecamatan Omesuri Kabupaten Lembata.

Sistem kekerabatan hukum adat desa Dolulolong merupakan sistem pewarisan yang mengambil keturunan dari pihak ayah (melalui garis ayah) yaitu anak. Proses pembagian warisan adat Desa Dolulolong juga dilakukan atau diturunkan berdasarkan diskusi antar keluarga di Desa Dolulolong. Dari yang peneliti lakukan dengan judul “Sistem Pembagian Warisan Dilihat dari Hukum Adat dan Hukum Islam di Desa Dolulolong Kecamatan Omesuri Kabupaten Lembata” Berdasarkan data yang diperoleh peneliti melalui wawancara dan dokumentasi.

Perbedaan pertimbangan hukum menurut hukum Islam dan hukum adat terletak pada tradisi sistem waris di desa Dolulolong. Hukum waris adat di Desa Dolulolong adalah pembagian harta warisan kepada ahli waris (Ana’ Ana Abe meker dan ana’ ana abe) yang berarti anak sulung dan saudara laki-laki. Di Desa Dolulolong, hukum adat waris tidak tercatat dan sudah menjadi tradisi atau adat istiadat warga setempat.

Hasil Penelitian yang Relevan

METODOLOGI PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian yang dilakukan peneliti berada di Desa Dolulolong, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Latar Penelitian

Kebudayaan Kedang yang ada sekitar abad ke 18 mempunyai hukum adat yang mengatur kelangsungan hidup masyarakat adat Dolulolong, mengatur masyarakat asli, sehingga lahirlah hukum adat Dolulolong yang menjadi landasan dan prinsip-prinsip adat Dolulolong. masyarakat.

Metode dan Prosedur Penelitian

Berdasarkan pengertian fenomenologi, mengkaji data untuk menemukan makna hal-hal yang mendasar dan hakiki dari fenomenologi, realitas atau pengalaman yang dialami oleh objek penelitian, sehingga peneliti mencoba mengkaji suatu permasalahan yang terjadi di Desa Dolulolong Kecamatan Omesuri. mengenai sistem pembagian warisan dari sudut pandang hukum adat, dan hukum Islam. Dengan pendekatan ini peneliti lebih cenderung untuk menyelidiki informasi di lapangan atau hukum-hukum yang ada di masyarakat Distrik Omesuri. Kemudian peneliti melakukan klarifikasi data atau informasi tersebut, mulai dari penggalian informasi, pengorganisasian informasi, pengujian informasi, dan kemudian membandingkan kedua data informasi tersebut di lapangan sesuai dengan kebutuhan data peneliti mengenai sistem pembagian warisan dalam perspektif hukum adat dan Islam. hukum di lapangan. Desa Dolulolong, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata.

Data dan Sumber Penelitian

Peraturan perundang-undangan misalnya UU No 1 Tahun 1974, Inpres No 1 Tahun 1991 dan hukum adat yang masih hidup di Desa Dolulolong Kecamatan Omesuri Kabupaten Lembata. Daftar atau berita acara resmi dalam pembuatan suatu peraturan perundang-undangan, misalnya perubahan rancangan peraturan perundang-undangan dan/atau peraturan daerah.58. Sedangkan bahan hukum sekunder adalah segala publikasi yang berkaitan dengan hukum yang bersifat dokumen tidak resmi, yang terdiri atas: (a).

Fiqih Islam yang membahas tentang pembagian warisan, buku teks yang membahas masalah-masalah hukum, termasuk tesis, tesis dan risalah hukum, (b). Penerapan hukum sekunder adalah memberikan petunjuk kepada peneliti untuk mengambil langkah-langkah, baik dalam hal menciptakan latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan penerapan peneliti, kerangka berpikir dan konseptual bahkan menentukan metode untuk mengumpulkan dan menganalisis bahan hukum yang akan dibuat sebagai hasil penelitian. Bagi pengacara, bahan hukum sekunder dapat menjadi pedoman mental dalam mempersiapkan argumentasi yang akan disampaikan di pengadilan dan memberikan pendapat hukum.60.

Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data

Dalam penelitian observasi tidak sekedar melihat saja, tetapi juga memerlukan kegiatan menyerap, mengamati, menafsirkan dan akhirnya menuliskan.63. Dengan menggunakan metode observasi, peneliti dapat langsung melihat, mendalami, mencatat data-data yang diperoleh di desa Dolulolong kemudian mengorganisasikannya secara sistematis. Maka metode observasi ini digunakan untuk memperoleh data terkait dengan kondisi obyektif mengenai sistem pembagian warisan dari sudut pandang adat dan hukum Islam di Kedang, Desa Dolulolong, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Dengan menggunakan metode wawancara, peneliti dapat memperoleh data dengan cara mengkomunikasikan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang disusun secara sistematis kepada para responden, baik kepada tokoh adat, tokoh agama (Jou Lebe) maupun tokoh masyarakat di Kedang mengenai sistem pembagian warisan berdasarkan hukum adat dan hukum Islam. di Desa Dolulolong, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Dalam upaya pengumpulan data melalui dokumentasi, peneliti menggali berbagai macam dokumen, antara lain buku, majalah, surat kabar, notulensi rapat, peraturan, dokumen berupa gambar seperti foto, sketsa, film, dan sumber informasi lainnya. 66 Dengan menggunakan metode dokumentasi, peneliti dapat mendokumentasikan, peneliti dapat mendokumentasikan surat-surat, peraturan, data warisan pada rumah adat di desa Dolulolong.

Teknik Analisis Data

Data yang terkumpul dan diorganisasikan ke dalam kategori-kategori kemudian dideskripsikan sesuai dengan metode analisis yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan dengan menggunakan proses berpikir yang menyimpang dari fakta-fakta peristiwa yang terjadi di Desa Dolulolong yaitu sistem pembagian warisan dalam perspektif hukum adat dan Islam. hukum, maka ditariklah generalisasi-generalisasi yang bersifat umum. Sedangkan proses berpikir deduktif ini digunakan untuk membahas serangkaian data tentang sistem pembagian warisan dari sudut pandang hukum adat dan hukum Islam, setelah itu dibuat hipotesis di dalamnya serta status dampak hukum dari sistem pembagian warisan tersebut. perspektif hukum adat dan hukum Islam di desa Kedang Dolulong kecamatan Omesuri ingin Kabupaten Lembata Nusa Tenggara Timur.

Validitas Data

Filosofi ini mengakar kuat dan menjadi nilai yang selalu dipegang teguh oleh masyarakat adat Desa Dolulolong. Berdasarkan data yang diperoleh sebagaimana dijelaskan oleh kepala adat di Desa Dolulolong. Ketentuan adat Desa Dolulolong yang dimaksud dilaksanakan dan diserahkan kepada kepala adat untuk menentukan bagian ahli waris yang diterima dan ketentuan lain dalam pembagian harta warisan.

Musyawarah keluarga, proses pembagian harta warisan adat di desa Dolulolong, juga dilakukan atau diserahkan berdasarkan musyawarah masing-masing keluarga di desa Dolulolong. Pelaksanaan pembagian warisan adat di Desa Dolulolong Kabupaten Lembata dengan menggunakan sistem adat istiadat yang diwariskan secara turun temurun dilakukan oleh masyarakat adat setempat.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Demografi

Budaya

Kondisi Sosial

Kondisi Ekonomi

Temuan Penelitian

  • Pengertian Umum Hukum Waris di Desa Dolulolong
  • Corak Hukum Adat di Desa Dolulolong
  • Sistem Pembagian Harta Waris Adat di Desa Dolulolong

Pada dasarnya hukum waris adat Desa Dolulolong mengatur tentang sebab-sebab timbulnya hak waris akibat hubungan perkawinan.87. Keadaan tersebut disebabkan oleh beberapa hal yang melatarbelakangi sistem hukum waris Desa Dolulolong, sehingga hanya keturunan laki-laki yang berhak mewarisi harta warisan sedangkan anak perempuan tidak mendapatkannya sama sekali. Masyarakat adat Desa Dolulolong menganut sistem perkawinan adat eksogami, yaitu sistem perkawinan yang hanya memperbolehkan seseorang menikah di luar keluarga atau marganya.

Pada prinsipnya sistem pewarisan adat Desa Dolulolong mengenai waktu pembagian harta warisan tidak menentukan kapan harta warisan dapat dan boleh dibagikan. Hak anak perempuan sebagai ahli waris di Desa Dolulolong. Hukum adat pewarisan di desa Dolulolong berkaitan dengan sistem kekerabatan pihak ayah, akibatnya hak dan kedudukan anak perempuan sebagai ahli waris utama tidak diutamakan, keturunan laki-laki merupakan ahli waris yang diutamakan karena dianggap mampu mengasuh dan diutamakan. bertanggung jawab atas sebagian besar warisan orangtuanya. Hukum adat desa Dolulolong dalam pembagian suksesi waris yang lazim adalah adanya ketentuan khusus bagi anak bungsu atau ana’deing yaitu mempunyai hak waris atas rumah warisan orang tuanya, tetapi rumah tersebut nantinya akan berfungsi sebagai milik kerabat atau sebagai tempat kembalinya semua ahli waris, ada yang ada. Yang harus diperhatikan dalam pembagian harta warisan, bila yang meninggal dunia dan harta warisan itu perlu dibagi, adalah memisahkan terlebih dahulu harta-harta rumah orang yang meninggal itu.

Pada umumnya masyarakat adat suku Leuwerung tidak menganggap adat ini sebagai bagian atau bagian dari hukum adat suku Leuwerung, namun pada hakikatnya sudah menjadi tradisi atau adat istiadat, dan sebagian besar masyarakat adat desa Dolulolong melaksanakannya. prakteknya anak bungsu mendapatkan rumah ketika kedua orang tuanya meninggal.

Pembahasan Temuan Penelitian

Lalu ada rujukan lain dari sumber adat.Warisan adalah perpindahan harta warisan, baik ahli waris itu masih hidup atau sudah meninggal, yang dibagikan atau diwariskan kepada keluarga atau keturunannya, terutama kepada anak sulung (ana'meker) berdasarkan kaidah. berlaku di Desa Dolulolong. Dalam hal ini mengenai penentuan bagian ahli waris atas harta warisan yang ditinggalkan pewaris ketika ia masih hidup. Namun pada dasarnya, menurut keterangan kepala adat, masalah pembagian harta warisan sering kali diselesaikan dalam setiap keluarga, kecuali harta warisan yang bersifat turun-temurun, kadang-kadang diselesaikan dengan cara adat untuk menyelesaikannya.

Menurut adat ini, warisan hanya berupa tanah dan seluruh kekayaan alam yang ada di dalamnya. Dalam pewarisan, dimana harta warisan adalah tanah warisan, seluruhnya jatuh ke tangan suami. Masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi dalam pelaksanaan pembagian warisan di kalangan masyarakat adat desa Dolulolong yang mempunyai aset warisan berupa tanah dan seluruh kekayaan alam diatasnya (tanaman dan hasil hutan) yang dapat diwariskan.

Dalam hukum pusaka Islam, apabila seseorang meninggal dunia, yang paling berhak mewarisi harta tersebut ialah ahli waris ashab al-furud (mereka yang bahagiannya ditentukan dalam al-Quran dan Hadis).

KESIMPULAN DAN SARAN

Referensi

Dokumen terkait

GALIH RANDU KELING NIM. KAJIAN YURIDIS PEMBAGIAN HARTA WARISAN BAGI ANAK DI LUAR PERKAWINAN BERDASARKAN HUKUM WARIS ADAT DI DESA KALIWIRO KECAMATAN KALIWIRO KABUPATEN

Kedudukan Anak Angkat Dalam Pembagian Harta Warisan Apabila Ada Anak Kandung Dan Apabila Tidak Ada Anak Kandung Menurut Hukum Waris Adat Di Kecamatan. Susukan

Dalam hal untuk menghitung legitieme portie harus diperhatikan para ahli waris yang menjadi ahli waris karena kematian tetapi bukan legitimaris (ahli waris

Sebagai mana yang terjadi pada masyarakat Desa Mesjid lama kecamatan talawi yang masyarakat Islam di desa ini yang melakukan pembagian harta waris yang tidak

“Tinjauan Fiqh Mawaris Terhadap Pembagian Waris Adat (Studi Kasus di Desa Sindangjawa Kecamatan Kadugede Kabupaten Kuningan)” langsung kepada kepala desa, tokoh

Pembagian harta waris PNS muslim dengan sistem hierarki dalam peraturan perundang- undangan menunjukan tidak ada memberikan jaminan bagi para ahli waris untuk melaksanakan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem hukum kewarisan Islam, Adat dan Perdata memiliki beberapa perbedaan yaitu bagian yang didapatkan para ahli waris berbeda satu

Ustadz: Bahwa didalam budaya adat suku Leuwerung itu memang hukum adat tentang pembagian harta warisan hanya sebagian kecil saja yang sesuai dengan syariat Islam