• Tidak ada hasil yang ditemukan

skrining fitokimia dan uji aktivitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "skrining fitokimia dan uji aktivitas"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

Uji aktivitas antioksidan ekstrak kulit durian diperoleh nilai IC50 sebesar 57,5487 belum memenuhi standar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi senyawa metabolit sekunder dan derajat aktivitas antioksidan ekstrak kulit durian (Durio zibethinus murr). Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak kulit durian mengandung senyawa kimia alkaloid, terpenoid dan saponin yang memiliki aktivitas antioksidan.

Screening Fitokimia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol pada Kulit Durian (Durio zibethinus muur) “Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Industri Politeknik Medan.

Gambar 1. Buah Durian  ...............................................................................
Gambar 1. Buah Durian ...............................................................................

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang
  • Perumusan Masalah
  • Tujuan
  • Manfaat

Bagaimana komposisi senyawa metabolit sekunder dan derajat aktivitas antioksidan ekstrak etanol kulit durian (Duriozibethinus murr). Untuk mengetahui komposisi kimia senyawa metabolit sekunder dan derajat aktivitas antioksidan ekstrak kulit durian (Durio zibethinus murr).

TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

Ekstraksi

Maserasi Maserasi merupakan proses ekstraksi sederhana dengan cara merendam dalam pelarut sambil sesekali diaduk pada suhu kamar. Perkolasi, Perkolasi adalah proses penyaringan simplisia dengan pelarut segar hingga terjadi filtrasi sempurna, yang umumnya dilakukan pada suhu kamar. Refluks adalah proses penyaringan simplisia dengan menggunakan alat pada suhu titik didihnya, waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin terbalik. Pencernaan, destruksi merupakan suatu proses filtrasi dengan pengadukan secara kontinyu pada suhu yang lebih tinggi dari suhu ruangan, yang biasanya dilakukan pada suhu ruangan 40-50 ˚C Soxletation, Soxhletation merupakan proses filtrasi yang selalu menggunakan pelarut baru, dilakukan dengan menggunakan soxlet alat, sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan pelarut yang relatif konstan dengan adanya pendinginan terbalik. Infus, Infus merupakan suatu proses filtrasi yang menggunakan pelarut air pada suhu 90˚C selama 15 menit. Dekoktasi, Dekoktasi merupakan suatu proses filtrasi yang menggunakan air sebagai pelarut pada suhu 90˚C selama 30 menit (Irma, 2009).

Pelarut yang digunakan dalam maserasi ini adalah Etanol. Etanol merupakan sejenis cairan yang mudah menguap dengan aroma khas, mudah terbakar tanpa asap dengan nyala api berwarna biru yang terkadang tidak terlihat dalam cahaya biasa. Gugus hidroksil dapat berpartisipasi dalam ikatan hidrogen, menjadikannya cair dan lebih sulit menguap dibandingkan senyawa organik lain dengan massa molekul yang sama (Brady, 1999). Etanol, yang nama lain etanol, etil, alkohol, adalah cairan bening, tidak berwarna, mudah mengalir, mudah menguap, mudah terbakar, higroskopis, berbau khas alkohol dan rasa terbakar, mudah terbakar dengan nyala api berwarna biru tanpa asap.

Campuran etanol dan air akan membentuk azetrop dengan perbandingan sekitar 89 mol% etanol dengan 11 mol% air. Rasio ini juga dapat dinyatakan sebagai 96% etanol berdasarkan volume dan 4% air berdasarkan volume pada tekanan normal dan T=351. Komposisi azeotropik ini sangat bergantung pada suhu dan tekanan dan menghilang pada suhu di bawah 303 K (Gunawan dan Roeswati, 2004).

Skrining Fitokimia

Analisis fitokimia merupakan bagian dari ilmu farmakologi yang mempelajari cara atau cara menganalisis kandungan kimia pada tumbuhan atau hewan secara keseluruhan atau bagiannya, termasuk cara mengisolasi atau memisahkannya. Pemeriksaan golongan flavonoid dapat dilakukan dengan menggunakan uji warna yaitu fitokimia untuk mengetahui keberadaan senyawa golongan flavonoid dan pengujian keberadaan senyawa polifenol. Pengujian keberadaan senyawa flavonoid dalam sampel menggunakan uji Wilstatter, uji Bate-Smith dan pengujian dengan NaOH 10%, sedangkan pengujian keberadaan senyawa polifenol dilakukan dengan penambahan larutan FeCL3. adalah sebagai berikut (Achmad, 1996).

Pemeriksaan golongan flavonoid dapat dilakukan dengan menggunakan uji warna yaitu fitokimia untuk mengetahui adanya senyawa flavonoid dan uji adanya senyawa polifenol.Untuk adanya senyawa flavonoid pada sampel dilakukan uji Wilstatter, Bate Smith tes, dll. digunakan. Sedangkan uji keberadaan senyawa polifenol dilakukan dengan larutan penambahan FeCL3, uji lengkapnya sebagai berikut (Achmad, 1986). Tanin merupakan senyawa yang umum ditemukan pada tumbuhan berpembuluh, mempunyai gugus fenolik, mempunyai rasa yang sepat dan mampu membuat kulit menjadi kecoklatan karena kemampuannya dalam mengikat silang protein. Bila bereaksi dengan protein, ia membentuk kopolimer stabil yang tidak larut. dalam air Tanin secara kimia dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu tanin interkondensasi dan tanin terhidrolisis.

Saponin adalah glikosida triterpen dan sterol yang telah ditemukan di lebih dari 90 genera tumbuhan. Glikosida merupakan kompleks gula pereduksi (glikon) dan non-gula (aglikon). Banyak saponin yang mempunyai hingga 5 unit gula dan komponen umumnya adalah asam glukuronat. Kehadiran saponin pada tanaman ditunjukkan dengan pembentukan busa selama ekstraksi tanaman atau konsentrasi ekstrak (Harbone, 1987). Menurut Sangi dkk, 2008, uji saponin dilakukan dengan memasukkan 1 gram ekstrak sampel daun ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan air suling hingga seluruh jumlahnya. Alkaloid dapat ditemukan pada biji, daun, ranting dan kulit tanaman. Kadar alkaloid dari tumbuhan bisa mencapai 10-15%. Kebanyakan alkaloid beracun, namun ada pula yang sangat berguna dalam pengobatan. Alkaloid merupakan senyawa tidak berwarna, seringkali aktif secara optis, sebagian besar berbentuk kristal, namun hanya sedikit yang berbentuk cair, misalnya nikotin pada suhu kamar (Harbone, 1987).

Metabolit Sekunder

Alkaloid umumnya berbentuk kristal tidak berwarna, ada pula yang berbentuk cair, seperti koniin, nikotin,. Kebanyakan alkaloid tidak larut atau sedikit larut dalam air, tetapi bereaksi dengan asam membentuk garam yang larut dalam air. Alkaloid bebas biasanya larut dalam eter atau kloroform atau pelarut nonpolar lainnya, sebagian besar berbentuk kristal, meskipun ada juga yang amorf dan hanya sedikit yang berbentuk cair pada suhu kamar.Garam alkaloid berbentuk kristal.

Isolasi bahan alam berbeda dengan metode umum isolasi makromolekul biologis karena ukurannya lebih kecil dan secara kimia lebih beragam dibandingkan protein, asam nukleat, dan polisakarida, yang relatif homogen. Jadi teknik insulasi benar-benar diperhatikan. Golongan senyawa metabolit sekunder antara lain terpenoid, fenilpropanoid, flavonoid dan alkaloid (Dewatisari, 2016). Antioksidan juga dapat didefinisikan sebagai senyawa yang bila dalam konsentrasi rendah bersama dengan substrat yang dapat teroksidasi, dapat menunda atau menghambat oksidasi senyawa tersebut (Richard, 2016). Berdasarkan mekanisme kerjanya, antioksidan digolongkan menjadi dua kategori, yaitu antioksidan preventif dan antioksidan pemutus rantai. Antioksidan preventif bekerja dengan cara menghambat pembentukan spesies oksigen reaktif (ROS), seperti enzim katalase, peroksidase, superoksida dismutase, dan transferin. .

Antioksidan pemecah rantai adalah senyawa yang memerangkap radikal oksigen kemudian memutus rantai reaksi radikal, seperti vitamin C, vitamin E, asam urat, bilirubin, polifenol, dll. Jalur pertama adalah jalur transfer atom hidrogen melalui mekanisme radikal oksigen, yaitu menangkap hidrogen dari antioksidan untuk membentuk kompleks antioksidan radikal yang stabil. Antioksidan dalam tubuh terbagi menjadi tiga golongan, yaitu antioksidan primer yang bekerja dengan cara mencegah terbentuknya radikal bebas baru dan mengubah radikal bebas menjadi molekul yang tidak berbahaya, antioksidan sekunder yang bekerja dengan cara menangkap radikal bebas dan mencegah terbentuknya reaksi berantai, dan tersier. antioksidan antioksidan yang berguna untuk memperbaiki kerusakan biomolekuler akibat radikal bebas (Silalahi, 2006).

DPPH ( Difenil pikrilhidrazil)

Bahan dan Alat penelitian Bahan

Metode Penelitian

Prosedur Kerja

  • Pengambilan sampel
  • Preparasi sampel
  • EkstraksiSampel
  • Skrining Fitokimia
  • Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH (Difenil pikrilhidrazil)

Kulit buah durian diperoleh dari sisa kulit Durian Pelawi yang terdapat di daerah Setia Budi. Campuran reaksi disaring, beberapa tetes pereaksi Dragendrof ditambahkan ke dalam filtrat yang diperoleh.Terbentuknya endapan berwarna oranye-merah menunjukkan adanya senyawa alkaloid. Beberapa tetes HCl pekat ditambahkan pada sejumlah sampel ekstrak kulit durian.Terbentuknya warna merah menunjukkan adanya senyawa flavonoid.

Uji steroid dilakukan dengan menggunakan reaksi Lieberman-Burchard, 2 ml cuka anhidrat dan 2 ml H2SO4 pekat ditambahkan ke dalam 5 ml ekstrak sampel. Sebanyak 0,2 gram ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan akuades dan diaduk hingga homogen. Campuran dipanaskan dalam penangas air dan disaring. Filtrat yang diperoleh dengan beberapa tetes besi klorida (FeCl3) membentuk larutan berwarna hijau tua yang menunjukkan adanya tanin.

Prinsip metode ini adalah penangkapan elektron bebas dari senyawa donor. Tujuan metode ini adalah menentukan parameter konsentrasi yang setara dengan penyediaan 50%. Aktivitas antioksidan ekstrak sampel kulit durian dinyatakan dengan nilai IC50 (konsentrasi hambat), Nilai IC50 menggambarkan konsentrasi senyawa uji yang mampu menangkap radikal sebesar 50%, semakin rendah nilai IC50 maka semakin efektif senyawa uji tersebut. sebagai pemulung radikal bebas (Widuri, 2016.

Pembuatan Larutan Induk DPPH

Pembuatan Larutan Blanko dan Penentuan panjang Gelombang Optimum

Pembuatan Larutan Uji Ekstrak etanol kulit durian

Sebanyak 0,1 ml larutan induk dipipet lalu dimasukkan ke dalam labu takar 10,0 ml dan ditambahkan etanol pa hingga diperoleh konsentrasi 10 mg/L; Pipet sejumlah 0,2 ml larutan induk lalu masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml, tambahkan 9,8 etanol pa.a. hingga diperoleh konsentrasi 20 mg/L; Pipet sejumlah 0,4 ml larutan induk lalu pindahkan ke dalam labu ukur 10,0 ml, tambahkan 9,6 etanol pa.a. hingga diperoleh konsentrasi 40 mg/L; Pipet sejumlah 0,8 ml larutan induk lalu pindahkan ke dalam labu ukur 10,0 ml, tambahkan 9,2 etanol pa.a. hingga diperoleh konsentrasi 80 mg/L; Sebanyak 1 mL larutan induk dipipet lalu dimasukkan ke dalam labu takar 10,0 mL, kemudian ditambahkan 9 mL etanol pa hingga diperoleh konsentrasi 100 mg/L; Pipet sebanyak 1,5 ml larutan induk lalu pindahkan ke dalam labu takar 10,0 ml, tambahkan 8,5 ml etanol pa hingga diperoleh konsentrasi 150 mg/L; Masing-masing konsentrasi sebanyak 3 ml kemudian dipipet ke dalam tabung reaksi. Masing-masing tabung reaksi ditambahkan 2 ml DPPH kemudian diinkubasi selama 30 menit pada suhu 37°C. Kemudian dilakukan pengukuran serapan pada panjang gelombang maksimum DPPH yang diperoleh dengan mengukur serapan maksimum dengan spektrofotometer.

Operating Time

Tujuan inkubasi adalah untuk mempercepat reaksi antara radikal DPPH dengan sampel yang berperan sebagai antioksidan yang ditandai dengan perubahan warna dari ungu menjadi kuning (Williams, 2013). Larutan uji diinkubasi pada suhu 37˚C selama pengukuran waktu stabilitas, dan suhu tersebut merupakan suhu yang dikondisikan agar reaksi antara radikal DPPH dengan komponen metabolit sekunder berlangsung lebih cepat dan optimal. Perbandingan kestabilan DPPH dari sampel yang diinkubasi pada suhu 37˚C dan pada suhu kamar menunjukkan bahwa absorbansi stabil pada suhu 37˚C (Williams, 2013).

Pembuatan Larutan Vitamin C sebagai Pembanding

  • Analisa Data
    • Penentuan Nilai IC 50 ( inhibitory Concentration)
  • Simpulan
  • Saran

Tambahkan 2 ml DPPH ke dalam masing-masing tabung, kocok hingga homogen lalu inkubasi selama 30 menit pada suhu 37°C. Parameter yang biasa digunakan untuk menginterpretasikan hasil pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH adalah nilai konsentrasi efisien (EC50) disebut juga nilai IC50, yaitu konsentrasi yang menyebabkan hilangnya aktivitas DPPH sebesar 50%. Data tentang persen penghambatan pengujian yang dilakukan diperlukan. Konsentrasi sampel dan persen penghambatan yang diperoleh masing-masing diplot pada sumbu X dan Y dalam persamaan regresi linier.

Persamaan ini digunakan untuk menentukan nilai IC50 setiap sampel yang dinyatakan dengan nilai y sebesar 50 dan nilai x yang akan diperoleh sebagai nilai IC50 (Nurjannah, 2011). Kulit durian (Durio zibethinus murr) mengandung senyawa kimia alkaloid, terpenoid dan saponin yang memiliki aktivitas antioksidan. Dan hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol kulit durian diperoleh nilai IC50. Skrining fitokimia dan uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol buah terong belanda, Universitas Sumatera Utara.

Skrining Fitokimia dan Identifikasi Metabolit Sekunder Senyawa Carpain pada Ekstrak Metanol Daun Carica pubescenlennedan dan K.Kochdengan LC/MS.UIN Malang. 60, 1-4Mardoni, dkk, 2007, Perbandingan Metode Kromatografi Gas dan Berat Jenis untuk Penentuan Kadar Etanol pada Minuman Anggur, 30 Oktober 2007. 2013. Penerapan Metode Rancangan Jaringan Sederhana untuk Penentuan Komposisi Pelarut Etanol-Air dalam Proses Ekstraksi Daun Pepaya (. CaricaPapaya) dengan respon terhadap aktivitas larva dan nyamuk Aedes Aegypti.

Dan Rahmawati, C.P Skrining Fitokimia dan Identifikasi Kandungan Utama Ekstrak Metanol Kulit Durian (Durio Zibethinus Murr.

Gambar 3  Spektro  DPPH ( konsentrasi 100 mg/ L.
Gambar 3 Spektro DPPH ( konsentrasi 100 mg/ L.

Uji DPPH dengan Pembanding Asam Askorbat pada Kulit Durian Secara

Spektrofotometri

Gambar

Gambar 1. Buah Durian  ...............................................................................
Gambar 1.Buah Durian  Sumber :Dokumen Pribadi  2.1.1 Kulit Durian
Gambar 2. Reaksi DPPH dan Antioksidan (Triastantini, 2016)
Gambar 3  Spektro  DPPH ( konsentrasi 100 mg/ L.
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa aktivitas antioksidan dari ekstrak daun katuk adalah sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 32,04 ppm, sedangkan aktivitas antioksidan

Hasil uji aktivitas sitotoksik diketahui ekstrak n-heksan memiliki potensi sitotoksisitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak etil asetat dan metanol dengan nilai IC50