Di Kecamatan 28 Purwoasri Metro Utara terdapat kelompok masyarakat yang mengembangkan sapi perah Lembu Poang yang menjadi obyek penelitian. Saat ini hanya ada 4 orang yang bertahan dan masih mengembangkan sapi perah di Kecamatan 28 Purwoasri Metro Utara yaitu : Bpk. Supriyono, Bpk. Suwondo, Mr. Gimun dan Mr. Sersan. Perbedaan yang penulis teliti dengan penelitian ini adalah pembahasan pengaruh pemberian sapi perah terhadap peningkatan perekonomian di Kecamatan 28 Purwoasri Metro Utara.
46 Wawancara dengan Bpk. Supriyono, Bpk. Suwondo, Mr. Gimun dan Mr. Sarji, peternakan sapi perah di Kelurahan 28 Purwoasri Metro Utara. 50 Wawancara dengan Bpk. Supriyono, Bpk. Suwondo, Mr. Gimun dan Mr. Sarji, Peternakan Sapi Perah di Kelurahan 28 Purwoasri Metro Utara. Sekitar tahun 2003, Pemkot bersama Dinas Peternakan memberikan bantuan sapi bunting untuk dipelihara menjadi sapi perah bagi masyarakat Kelurahan 28 Purwoasri Metro Utara.
53Onderhoud met mnr. Supriyono, mnr. Suwondo, mnr. Gimun en mnr. Sarji, melkbeesplaas in Kelurahan 28 Purwoasri Metro Utara.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pertanyaan Penelitian
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian Relavan
LANDASAN TEORI
- Pertumbuhan Ekonomi
- Pengertian Pertumbuhan Ekonomi
- Program Peningkatan Ekonomi
- Faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Ekonomi
- Program Bantuan Pemerintah
- Pengertian Bantuan Pemerintah
- Jenis Bantuan Pemerintah
- Tujuan Bantuan Pemerintah
- Ekonomi Keluarga
- Pengertian Ekonomi Keluarga
- Indikator Peningkatan Ekonomi Keluarga
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
Sebuah teori pertumbuhan ekonomi yang lengkap harus menjelaskan apa yang terjadi pada PDB total dan apa yang terjadi pada populasi. Pertumbuhan ekonomi merupakan proses perubahan perekonomian negara dalam kurun waktu tertentu menuju kondisi perekonomian yang lebih baik. Dalam jangka pendek, pengangguran bisa menjadi lebih serius, yaitu ketika terjadi penurunan ekonomi atau pertumbuhan yang lambat.
Pertumbuhan ekonomi di suatu negara berarti juga terjadi peningkatan pendapatan masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di suatu wilayah. Kelebihan sumber daya alam yang melimpah akan memudahkan masyarakat untuk menggunakan sumber daya alam secara efisien dan menguntungkan. Serta efisiensi penggunaan sumber daya alam yang tersedia dapat dengan cepat meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada jumlah sumber daya manusia, tetapi menekankan pada efisiensinya. Tanpa perbaikan teknologi, produktivitas modal dan sumber daya alam tidak akan berubah secara signifikan. Menurut McKinnon dan Shaw, kondisi tersebut tidak mendorong pertumbuhan ekonomi, melainkan menghambat tercapainya pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan diperlukan agar masyarakat dapat merasakan dampak positif yang ditimbulkan dari peningkatan kesejahteraan yang dilakukan oleh pemerintah, antara lain melalui penguatan dan penambahan infrastruktur fisik dan sosial.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Wilayah
- Gambaran Masyarakat di Kelurahan 28 Purwoasri Metro Utara 29
Berdirinya Kelompok Peternakan Sapi Perah Lembu Poang berawal dari keinginan Bapak. Mozes Herman selaku Wali Kota Metro dan Dinas Peternakan Metro menyelenggarakan program yang ingin menguji ternak sapi perah di daerah panas, karena biasanya . Pada tahun 2003, pemerintah dan dinas peternakan memberikan bantuan kepada 5 orang warga yaitu Bpk Supriyono, Bpk Gimun, Bpk Manto, Bpk Jon dan Bpk Suwodo dimana masing-masing orang mendapatkan 2 ekor sapi. Orang yang menerima bantuan sapi pada saat itu adalah Bpk. Supriyono, Bpk. Manto, Pak. Tugisar, Bpk. Sudarmanji, Bpk. Giman, Mr. Tugisar, Bpk. Sarjiman dan Bpk. Tio.
Yang menerima bantuan adalah warga yang menawarkan diri dan siap beternak sapi. Dengan hasil musyawarah anggota kelompok, maka dibentuklah kelompok yang disebut, Kelompok Peternak Perah Lembu Poang yang beranggotakan anggota masyarakat yang mendapat bantuan dari sapi perah tersebut. Dari data Dinas Peternakan Oktober 2018 tercatat ada 9 orang yang masih memiliki sapi perah kelompok Lembu Poang yaitu Bpk. Supriyono, Bpk. Gimun, Mr. Giman, Mr. Tugisar, Bpk. Sarjiman, Pak Kuat, Pak Manto, Pak Suwondo dan Pak Mursiono 44 Namun pada tahap ini jumlahnya sudah berkurang menjadi hanya 4 orang yang masih memiliki sapi perah yaitu Pak Supriyono, Pak Suwondo, Pak Gimun, Pak. dan Tuan. Sarjiman, dan yang lainnya yaitu Bpk. Gimun, Mr. Giman, Mr. Tugisar, Bpk. Kuat dan mr. Manto, tidak lagi memiliki sapi perah karena ada yang mati, dijual dan banyak yang tidak mampu. untuk merawat mereka karena mereka sudah cukup tua.
Setiap kandang sapi pemeliharaan berisi kurang lebih 8-10 ekor sapi, untuk pakan ternak diberikan khusus agar sapi perah menghasilkan susu yang maksimal, pemilik menyediakan pakan hijauan seperti pohon jagung dan pohon tebu, untuk pohon jagung biasanya petani yang membudidayakan sendiri, namun jika belum panen mereka beli dari petani lain. Untuk minum, sapi harus diberi air yang cukup seperti halnya memberi makan minum pada pagi dan sore hari. Kebersihan kandang harus selalu diperhatikan, oleh karena itu kandang dibersihkan setiap hari pada pagi dan sore hari, karena kebersihan kandang juga mempengaruhi kesehatan sapi perah yang sedang tumbuh yaitu kebersihan kandang. kandang dan ternak. selalu diawasi dan diperhatikan.
Hambatan pemeliharaan yang dialami peternak saat ini adalah peternak merawat sendiri sapi perahnya karena tidak mempekerjakan tenaga untuk membantu proses pemeliharaan rata-rata usia peternak cukup tinggi yang dirasa menguras tenaga, apalagi Dalam sehari, para petani melakukan proses pemerahan hanya sekali dalam sehari.
Bantuan Sapi Perah di Kelurahan 28 Purwoasri Metro Utara
Sapi perah yang dipelihara saat ini rata-rata berumur 10-15 tahun, dari sapi yang diternakan menghasilkan 6-7 liter susu sapi per hari yang dijual dengan harga Rp 8.000.000 hingga Rp 10.000/liter. Pada pagi hari sekitar pukul 05.30 WIB dan sore hari pada pukul 04-30 WIB, setelah kandang dibersihkan, sapi perah kemudian dimandikan dan diberi minum serta pakan dan sapi diperah. Hasil pemerahan sapi kemudian dikumpulkan dalam ember khusus No. Tahun Pengembangan Nama Penerima.
Berbeda dengan sebelumnya, pemasaran susu sapi murni di kota metropolitan cukup sulit karena peminatnya belum banyak dan tempat-tempat seperti kafe atau toko yang menjual produk susu sapi murni belum menjamur seperti sekarang. Hal ini berbeda dengan saat ini, banyak yang memesan susu sapi murni untuk dikonsumsi atau dijual kembali hingga para peternak tidak dapat memenuhi semua permintaan. Contoh yang sudah biasa adalah kafe Susu Bejos di Jl.
Karena kurangnya peralatan yang dimiliki, para peternak memilih untuk menjual produk susu sapi murni karena produk lain seperti keju atau yogurt tidak tersedia, karena keterbatasan alat dan biaya, produk susu hanya dijual di pasar. bentuk susu murni. Rata-rata petani memiliki semua pesanannya masing-masing, tidak jarang petani tidak dapat memenuhi permintaan karena volume produksi yang berkurang, sebelumnya petani bisa mendapatkan hingga 15 liter per hari, namun kini hanya 6-7 liter per hari. Untuk biaya pengolahan dan pakan, biasanya peternak memberikan sekitar Rp 750.000. Di sisi lain, mengumpulkan dan mengeringkan kotoran sapi juga memungkinkan petani mendapatkan keuntungan nilai ekonomi, dimana kotoran sapi tersebut dapat digunakan sebagai pupuk untuk tanaman mereka sendiri, setelah itu sisanya dapat dijual kepada petani lain.
Peningkatan Ekonomi Pasca Bantuan Sapi Perah di Kelurahan
Sebelum mendapatkan bantuan sapi perah, masyarakat yang tinggal di Kelurahan 28 Purwoasri Metro Utara adalah petani dan buruh tani, namun sejak mendapat bantuan sapi perah dari Pemkot Metro, masyarakat yang tinggal di Kecamatan 28 Purwoasri Metro Utara sekarang menjadi Bapak Supriono , Pak Suwondo, Pak Gimun dan Pak Sarjiman kini bisa menambah penghasilan dengan menjual susu dari sapi perah tersebut. Kini keadaan pendidikan masyarakat Kelurahan 28 Purwoasri Metro Utara membaik, masyarakat yang semula hanya tamat SMA, kini lebih mementingkan pendidikan dan memasuki pendidikan tinggi dengan bantuan sapi perah. dari Pak Supriono, Pak Suwondo, Pak Gimun dan Pak Sarjiman sekarang bisa melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Masyarakat Kecamatan Purwoasri Metro Utara 28 yang sebelum mendapatkan bantuan sapi perah dari pemerintah Kota Metro bekerja sebagai petani dan buruh tani, yang hanya bergantung pada hasil panen, banyak masyarakat yang masih memiliki rumah di keadaan sederhana dan mungkin mereka masih belum layak.
Dengan bantuan sapi perah yang dipasok oleh pemerintah, Bpk. Supriono, Bpk. Suwondo, Mr. Gimun dan Mr. Rumah Sarjiman sekarang lebih bagus dan bisa dikatakan permanen. Pada awalnya tidak mudah bagi para peternak untuk memelihara sapi perah ini karena harus menanggung biaya tambahan untuk pakan dan pemeliharaan, sehingga memutuskan untuk tidak menjualnya ditambah dengan hasil panen yang fluktuatif dari tahun 2004-2018 pada akhirnya, apa yang terjadi? tersisa hari ini 4 orang yang masih memiliki sapi perah yaitu Bpk. Supriyono, Bpk. Suwondo, Mr. Gimun dan Mr. Srjiman, keempat orang ini masih memiliki usaha pemerahan susu di Kecamatan 28 Purwoasri Metro Utara. Dengan bantuan pemerintah kota dan Dinas Peternakan Kota Metro yang sangat mempengaruhi perekonomian masyarakat Kelurahan 28 Purwoasri Metro Utara.
Masyarakat merasa sangat terbantu dengan adanya program bantuan sapi perah, dimana mereka dapat menambah penghasilan. Sebelum mendapatkan bantuan sapi perah, masyarakat yang tinggal di Kecamatan 28 Purwoasri Metro Utara adalah petani dan buruh tani, namun sejak mendapat bantuan dari pemerintah kota Metro, kini masyarakat dapat menambah penghasilan dengan menjual susu dari peternakan sapi perah tersebut. sapi.. Dari segi pendidikan masyarakat Kelurahan 28 Purwoasri Metro Utara sekarang sudah semakin baik. Masyarakat yang awalnya hanya lulusan SMA, kini lebih mementingkan pendidikan dan akses ke pendidikan tinggi dengan bantuan sapi perah ini. .
Peternak di Kecamatan 28 Purwoasri hendaknya berkonsultasi dengan Dinas Peternakan untuk mendidik masyarakat dan pemuda di sekitarnya agar mau dan mampu memelihara sapi perah agar bisa lebih berkembang lagi.
PENUTUP
Kesimpulan
Kepemilikan barang-barang berharga juga dapat dijadikan tolak ukur peningkatan ekonomi, keterbatasan yang dimiliki oleh masyarakat yang hanya berprofesi sebagai petani dan buruh tani, masyarakat tidak dapat membeli barang-barang yang nilainya cukup tinggi, seperti kendaraan bermotor. Namun, saat ini masyarakat di Kecamatan 28 Purwoasri Metro Utara yang sudah mendapatkan bantuan sapi perah kini sudah bisa membeli kendaraan. Dulu mereka hanya membeli sepeda, sekarang mereka bisa membeli sepeda motor bahkan mobil.
Saran
Eva Ervani, „'Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia'‟, e-Jurnal, Volume.VII, no. Remaja (12-16 tahun)", e-Magazine, volume 2, no. 2 tahun 2016.