• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI MAHFUD.pdf - IAIN Repository

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "SKRIPSI MAHFUD.pdf - IAIN Repository"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

PertanyaanPenelitian

TujuanDanManfaatPenelitian

PenelitianRelevan

Tahun 2016 berjudul “Perhitungan Pernikahan Weton Adat Jawa Dalam Perspektif Maslahah di Desa Bibrik Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun”. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa skripsi penulis yang berjudul “Perhitungan Nikah Weton Menurut Adat Jawa Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus Desa Astomulyo Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah)” belum pernah diteliti sebelumnya.

LANDASAN TEORI

  • PengertianPerkawinan
  • Dasar Hukum Perkawinan
  • Rukun Dan Syarat Perkawinan
  • Tujuan Perkawinan
  • Perhitungan WetonPerkawinan
    • Pengertian Perhitungan Weton
    • Fungsi Dan Kegunaan Weton
    • Perhitungan Weton Perkawinan

Sedangkan menurut hukum Islam, perkawinan adalah akad yang ditentukan oleh syara' untuk memungkinkan laki-laki dan perempuan bersenang-senang dan menghalalkan kesenangan antara perempuan dan laki-laki. Bagi orang yang sudah mempunyai kemauan dan kemampuan untuk menikah dan takut akan berbuat zina jika tidak menikah, maka hukum kawin wajib hukumnya atas orang tersebut. Orang yang sudah memiliki kemampuan dan kesanggupan untuk menikah, tetapi jika tidak menikah tidak takut melakukan zina, maka hukum melangsungkan pernikahan bagi orang tersebut adalah khitan.

Cukuplah seorang yang mampu menikah memiliki kemampuan untuk mengendalikan dirinya sehingga dia tidak membiarkan dirinya berzinah jika dia belum menikah. Sighat akad nikah, yaitu ijab yang diberikan oleh wali atau wakilnya dari pihak pihak perempuan, dan dijawab oleh calon mempelai laki-laki. Menurut orang Jawa, perhitungan pernikahan weton sendiri adalah menghitung hari lahir antara mempelai laki-laki dengan hari lahir mempelai perempuan, perhitungan ini tidak menentukan apakah calon mempelai diterima atau tidak, tetapi hal ini lebih dipahami sebagai ramalan nasib yang akan datang. dari kedua mempelai. .

Jika perhitungannya menentukan kesialan bagi kedua mempelai, maka batallah perkawinan itu karena mereka takut akan keimanannya jika tetap melaksanakan perkawinan itu.

METODE PENELITIAN

Sumber Data

Sumber data adalah subjek darimana data itu diperoleh.28 Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa sumber data berarti tempat peneliti akan memperoleh dan mengumpulkan informasi berupa data-data yang diperlukan untuk penelitiannya. Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan, data primer dapat dikumpulkan langsung melalui observasi atau wawancara dan diperoleh langsung dari sumber pertama yaitu perilaku anggota masyarakat melalui penelitian. Bapak Khusnan, Ibu Katinah, Bapak Suroso dan Ibu Katiyah sebagai warga yang masih mempercayai adat perkawinan weton Jawa.

Dan sebagian masyarakat Desa Astromulyo, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah yang beretnis Jawa tradisional masih mempercayai perhitungan weton. Sumber data sekunder adalah bahan atau data yang melengkapi sumber data primer. Data sekunder diperoleh dari sumber pustaka berupa buku atau dokumen yang berkaitan dengan penelitian ini antara lain jurnal penelitian pernikahan weton dan dokumen lainnya.

TeknikPengumpulan Data

Perhitungan weton untuk perkawinan saat ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat di desa Astomulyo. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya masyarakat yang berniat menikahkan anaknya meminta kepada orang yang dianggap dapat menghitung weton anaknya. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Khusnan dan Ibu Katinah sebagai orang yang masih percaya dengan perhitungan weton, mereka melakukan perhitungan weton ini melalui kerabatnya di Jawa. Berdasarkan wawancara dengan Bpk. Suroso sebagai orang yang percaya dengan perhitungan weton mengatakan bahwa perhitungan weton.

Dia menambahkan, dia bahkan tidak mengetahui undang-undang apakah diperbolehkan menggunakan perhitungan weton dalam undang-undang. Ia mengatakan, kepercayaan pada perhitungan weton hanyalah sebuah tradisi ketika akan menikah. Berdasarkan wawancara dengan Pak Supoda, sebagai warga yang menggunakan weton, beliau mengatakan bahwa beliau tetap menggunakan weton pada saat akan melangsungkan pernikahan anaknya, beliau berpendapat bahwa perhitungan weton merupakan pengaman untuk masa depan.

Perkawinan dengan menggunakan perhitungan weton yang merupakan adat istiadat turun temurun yang dilakukan oleh nenek moyang masih dilakukan oleh masyarakat Desa Astomulyo Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah yang diyakini sebagai salah satu cara untuk melestarikan tradisi adat Jawa.

TeknikAnalisa Data

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Sejarah Berdirinya Desa Astomulyo

Kampung Astomulyo dibuka oleh Jawatan Transmigrasi pada tahun 1954, ketika peserta transmigrasi tiba hampir bersamaan dengan penebangan hutan untuk kemungkinan pemukiman penduduk transmigrasi, terjadi gotong royong dan gotong royong antar anggota anggota transmigrasi untuk mempercepat proses pembukaan hutan yang masih alami.hutan. Selain itu, pihak dinas transmigrasi membentuk 6 (enam) kelompok anggota transmigrasi yang masing-masing kelompok di bawah bimbingan ketua kelompok. Jumlah anggota transmigrasi pada saat itu terdiri dari 300 kepala keluarga (KK) yang umumnya berasal dari Provinsi Jawa Timur antara lain dari Blitar, Tulung Agung, Trenggalek, Nganjuk, Kediri, dan seterusnya dari provinsi Jawa Tengah seperti Solo, dan .

Dari hasil musyawarah akhirnya disepakati bahwa nama kota/desa harus diambil sebagai ASTOMULYO, yang berasal dari kata ASTO = Tangan dan MULYO = Mulia. Oleh karena itu Astomulyo dapat diartikan sebagai Tangan Mulia. Dari keadaan Pra Desa/Kampung akhirnya disahkan pada tanggal 15 November 1954 menjadi Desa/Kampung Astomulyo yang dipimpin oleh seorang Kepala Desa/Kampung dan dibantu oleh seorang karik, 6 (enam) orang kabayan, kamitua , jogoboyo serta berbagai RT dan perangkat Desa/desa lainnya.

Visi dan Misi Desa Astomulyo

Mewujudkan pemerintahan desa yang bersih, amanah dan transparan serta bertujuan untuk mengoptimalkan pelayanan masyarakat.

Kondisi Geografis Desa Astomulyo

Dengan tingkat pendidikan yang rendah, masyarakat desa Astomulyo masih mempercayai kepercayaan nenek moyang mereka, seperti halnya dalam hal pernikahan, ada tradisi yang masih dipatuhi dan dipercaya yaitu dengan menggunakan perhitungan weton sebelum pernikahan. . Tentang hukum boleh atau tidaknya menggunakan perhitungan weton dalam Islam, Pak Suroso sama sekali tidak tahu. Ia menjelaskan, perhitungan weton ini wajib dilakukan keluarganya saat menikah karena untuk melindungi masa depannya.

Ia menambahkan, tidak mengetahui apakah menggunakan perhitungan weton itu boleh atau tidak menurut Islam, ia mengatakan jika tidak boleh maka akan berpikir ulang ketika akan menjodohkan anaknya besok. 43 Wawancara dengan Bpk. Muhroji pada tanggal 29 November 2018 perhitungan weton merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang mereka, sehingga ketika mereka menikah harus menghitung weton terlebih dahulu. Mbah Panggih mengatakan bahwa perhitungan weton hanyalah warisan nenek moyang kita untuk dijaga atau dijaga rumah tangganya, bukan warisan akidah Islam.

Sedangkan adat menghitung pernikahan weton merupakan adat yang diwariskan secara turun temurun masyarakat Jawa, yang jika dilakukan akan membuat tenteram saat akan menikah. Dilihat dari syarat-syarat yang dapat dijadikan hukum adat, maka perhitungan nikah weton urf termasuk yang tidak diterima akal sehat dan tidak mensyaratkan. Sedangkan perhitungan perkawinan weton yang terjadi di desa Astomulyo termasuk urf yang diterima secara umum oleh masyarakat dan termasuk dalam urf yang sudah berlaku pada saat itu, bukan urf yang muncul belakangan, karena urf harus telah ada sebelum terciptanya suatu undang-undang.

Kondisi Masyarakat Astomulyo

Perhitungan Weton Perkawinan Menurut Adat Jawa

Menurut Pak Khusnan, menghitung weton merupakan tradisi keluarga yang selalu dilakukan ketika beliau akan menikahkan anaknya, namun Pak Khusnan berpendapat bahwa menghitung weton bukanlah syarat utama untuk mengawinkan anaknya, melainkan adil. sebuah harapan. Maka ketika hasil perhitungan weton anaknya tidak baik atau buruk bagi masa depannya, Pak Khusnan tetap melangsungkan perkawinan dengan alasan perhitungan weton bukan syarat utama dalam perkawinan dan hasil itu tidak diketahui. jika itu akan terjadi di masa depannya. Pada tanggal 18 Oktober 2018, Pak Suroso menikahkan anaknya dengan menggunakan syarat menghitung weton, beliau meminta bantuan kepada seseorang yang dianggap mampu menghitung weton untuk anaknya yang berada di desa Astomulyo.

Menurut Pak Jumangi, sebagai masyarakat yang masih percaya dengan perhitungan weton, beliau menjelaskan bahwa nikah weton adalah wajib ketika mereka menikahkan anak-anaknya. Dikatakannya, perhitungan weton juga merupakan syarat yang harus dipenuhi dan dipatuhi. Jumanga tidak menikah atau dibatalkan. Berdasarkan wawancara selanjutnya dengan Bpk. Ia mengiyakan kepada Syehkodin sebagai warga dengan menggunakan perhitungan weton. Selain itu, hasil wawancara dengan Bapak. Ia menjelaskan kepada Muhroji yang juga orang yang menggunakan perhitungan weton dalam perkawinan, bahwa weton adalah soal hari lahir dan untuk menghitung pasaran seperti pahing, mon, upah, kliwon, legi dan mendapatkan hasil untuk masa depan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Mbah Panggih sebagai orang yang dianggap dapat menghitung perhitungan weton, beliau mengatakan bahwa weton nikah adalah perhitungan tanggal lahir calon suami/istri dan dianggap pasaran. sebagai mis. pound, gaji, kliwon, pahing, legi.

Analisis Perhitungan Weton Perkawinan Menurut Adat Jawa Dalam

Urf umum adalah urf yang pernah dikenal dan dipraktikkan oleh orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat di seluruh negeri. Sedangkan urf khusus adalah adat yang dikenal dan tersebar hanya di wilayah dan masyarakat tertentu di tanah air. Dilihat dari teori di atas maka perhitungan perkawinan weton yang terjadi pada masyarakat desa Astomulyo termasuk dalam urf fasid dan hukan urf sahih karena adat yang terjadi bertentangan dengan ajaran Islam dan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ajaran Islam karena mereka memprediksi masa depan di mana manusia tidak ada.

Urf itu mengandungi faedah dan boleh diterima dengan akal, syarat ini adalah sesuatu yang mutlak ada dalam urf yang sah sehingga dapat diterima oleh masyarakat umum. Sebaliknya, jika urf itu mendatangkan mudarat dan tidak boleh diterima secara logik, maka urf tersebut tidak boleh dibenarkan dalam Islam. Urf yang digunakan sebagai asas untuk menggubal undang-undang yang berlaku pada masa itu, bukan Urf yang muncul kemudian.

Syarat ini sebenarnya menguatkan terwujudnya urf yang sah, kerana apabila urf itu bertentangan dengan nas atau bertentangan dengan prinsip syara'. Akan tetapi, perhitungan Weton adalah urf yang bercanggah dengan dalil syara’ yang ada atau bercanggah dengan prinsip tertentu dan tidak boleh diterima sebagai dalil untuk menetapkan hukum, kerana perhitungan Weton meramalkan sesuatu yang tidak pasti akan berlaku pada masa hadapan, lantas menyebabkan berlakunya penyembahan berhala atau bersekutu dengannya. Allah SWT untuk masyarakat yang beriman. Dalam syariat Islam, pengiraan weton bertentangan dengan ajaran agama kerana meramal masa depan adalah penyembahan berhala kerana hanya Allah yang mengetahui masa hadapan.

Referensi

Dokumen terkait

2, May 2022 Printed in Indonesia Pages: 331-352 STUDENT'S ATTACHMENT TO SOCIAL MEDIA AND THE CHALLENGES OF MODERATE ISLAMIC EDUCATION Implementation During the Covid-19 Pandemic