Judul Skripsi : Penggunaan Teknik Pembelajaran Kooperatif Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa XI. kelas di SMA Negeri 14 Gowa. Menggunakan teknik pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan hasil belajar fisika siswa XI. kelas di SMA Negeri 14 Gowa Skripsi. Penulis panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta memberikan kekuatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Penggunaan Teknik Pembelajaran Kooperatif untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika” untuk Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 14 Gowa”.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di bidang pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran dengan judul “Penerapan Teknik Pembelajaran Kooperatif Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI SMA Negeri 14 Gowa Untuk Meningkatkan ".
Rumusan Masalah
Tujuan
Manfaat Penelitian
Dapat menumbuhkan semangat kerjasama antar siswa, meningkatkan motivasi dan minat siswa terhadap fisika, serta meningkatkan hasil belajar siswa. Sebagai tambahan pengetahuan bagi peneliti, teknik kolaboratif dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Kajian Pustaka
- Teori Belajar Yang Melandasi Teknik Pembelajaran Kolaboratif Dalam perkembangannya, pembelajaran PBL dilandasi oleh teori belajar Dalam perkembangannya, pembelajaran PBL dilandasi oleh teori belajar
- Pengertian Pembelajaran Kolaboratif
- Hasil Belajar
- Teori Belajar Yang Mendukung
- Pengertian hasil belajar
Dalam proses pembelajaran, teori konstruktivisme juga menekankan bahwa peran guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Dalam model PBL digunakan teori pembelajaran kooperatif, karena dalam proses pembelajaran siswa bekerja dalam kelompok dan bekerja sama dalam mencari solusi. Sifat ingin tahu ini menuntut guru untuk menjadi fasilitator dan motivator untuk membantu siswa mengeksplorasi dan membangun pengetahuannya.
Evaluasi yang dilakukan bersifat edukatif, artinya evaluasi dilakukan untuk kepentingan dan kemajuan pendidikan peserta didik, evaluasi bersifat mendidik dan memotivasi peserta didik untuk giat belajar.
Kerangka Pikir
Menurut Dimyati dan Mudjiono yang mengatakan bahwa “hasil belajar merupakan hasil interaksi tindakan belajar dan tindakan mengajar”. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil penilaian dalam bentuk teks dan diberikan kepada siswa pada akhir proses pembelajaran.
Jenis dan Desain Penelitian
Populasi
Sampel
Variabel Penelitian
Definisi Operasional Variabel
Prosedur Penelitian
Buatlah kesepakatan dengan guru fisika tentang materi yang akan diselidiki dan waktu penelitian.
Instrumen Penelitian
Penilaian pada tes instrumen adalah satu poin untuk setiap jawaban yang benar dan nol untuk jawaban yang salah.
Teknik Analisis Data
Pada bab ini akan dibahas hasil penelitian dan penerapan teknik pemecahan masalah berpasangan untuk penerapan teknik pembelajaran kooperatif guna meningkatkan hasil belajar siswa. Data dan informasi yang diolah adalah tes teknik pembelajaran kooperatif fisika yang diperoleh dari kelas penelitian dengan memberikan posttest berupa tes tertulis berupa pilihan ganda sebanyak dua puluh lima soal.
Hasil Penelitian 1. Analisis Deskriptif
Nilai posttest menunjukkan rata-rata nilai siswa pada kelas Nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 22 dari nilai ideal 25 dan nilai terendah 8 dari kemungkinan nilai 0. Kategori nilai hasil tes Teknik Pembelajaran Kolaboratif untuk siswa kelas XI SMA Negeri 14 Gowa saat dilakukan postal test dengan jumlah sampel 35 siswa dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Dari grafik di atas terlihat adanya perbedaan nilai tes Teknik Pembelajaran Kolaboratif Fisika siswa Kelas XI IPA 3 SMA Negeri 14 Gowa pada saat dilakukan post test. Berdasarkan grafik persentase di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar fisika siswa kelas XI IPA 3 SMA Negeri 14 Gowa secara umum. Setelah diberi perlakuan dengan model pembelajaran Kolaboratif, maka metode pembelajaran peer tutoring dapat dikategorikan cukup atau sedang.
Hal ini ditunjukkan dengan tercapainya skor hasil belajar sebesar 22,86% yang berada pada rentang 11-15. Tabel diatas menunjukkan terdapat 65,72% siswa yang berada pada kategori tuntas dan 34,28% siswa yang berada pada kategori belum tuntas apabila memenuhi standar KKM yang ditetapkan di SMA Negeri 14 Gowa.
Pembahasan
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penerapan model kolaboratif dalam pembelajaran fisika pada siswa kelas XI IPA 3 SMA Negeri 14 Gowa. Karena penelitian ini merupakan penelitian dengan desain studi kasus One-Shot, maka peneliti harus memberikan treatment terlebih dahulu kepada siswa, kemudian melakukan post-test. Dalam penelitian ini penerapannya dikonsentrasikan pada aspek kognitif hasil belajar untuk mengetahui pencapaian KKM.
Setelah instrumen diberikan kepada siswa, hasil belajar siswa dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan analisis deskriptif hasil belajar fisika siswa kelas 100. Berdasarkan persentase kumulatif nilai belajar fisika aspek kognitif menunjukkan bahwa terdapat 34,28% atau 12 siswa yang memperoleh nilai kurang dari 70 dan terdapat 65,72% atau 12 siswa yang memperoleh nilai kurang dari 70 dan terdapat 65,72% atau 23 siswa yang mendapat nilai ≥70.
Hal ini menunjukkan terdapat 65,72% atau 23 siswa yang telah mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) klasikal. Dengan menerapkan teknik Collaborative Learning, siswa dilatih untuk bekerja sama menyelesaikan permasalahan fisika dan secara tidak langsung bertukar pendapat dengan pasangannya masing-masing. Selain itu guru juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam setiap tahapan pembelajaran yang mempengaruhi aktivitas siswa.
Pendidik berperan membimbing siswa dalam mengungkapkan gagasannya dan membangun konsep siswa melalui pembelajaran serta mendorong siswa agar lebih aktif dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Nanik Sulistyawati dan Darmiyati Zuchdi Proses pembelajaran IPS yang berlangsung di SMP Negeri 2 Kalijambe Sragen Universitas Negeri Yogyakarta dengan pembelajaran teknik kooperatif mudah diserap oleh anak-anak dan lebih berkesan. Menariknya, terdapat peningkatan hasil belajar melalui penerapan teknik pembelajaran kooperatif dalam hasil belajar.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
- Mengajukan gagasan penyelesaian masalah gerak dalam kehidupan sehari-hari dengan menerapkan metode ilmiah, konsep energi, usaha (kerja), dan hukum kekekalan energi
8 Sebuah gaya sebesar 60 N membuat sebuah benda bergerak sejauh 20 meter, usaha yang dilakukan oleh gaya tersebut pada benda tersebut. 13 Seorang anak menarik sebuah benda bermassa 2 kg dengan gaya 80 N dengan seutas tali dan membentuk sudut 600 terhadap horizontal seperti terlihat pada gambar. Benda ditarik vertikal ke atas dengan gaya 25N selama 2s (g=10 m/s2), sehingga energi kinetik benda ketika menyentuh tanah adalah...joule.
Siswa 17 Sebuah gaya konstan bekerja pada benda diam bermassa 5 kg, sehingga benda tersebut bergerak dengan kecepatan 2 m/s. Jika kedua benda mula-mula diam kemudian mengalami gaya yang sama, maka perbandingan energi kinetik benda A dan B pada akhir waktu pemberian gaya adalah. Energi potensial sebuah bola logam bila usaha yang dilakukan oleh berat bola tersebut tepat 8 joule.
24 Sebuah benda bermassa 3 kg dilempar vertikal ke atas dengan kecepatan awal 20 m/s ke tempat yang percepatan gravitasinya 10 m/s2. PENYAJIAN DATA PASCA UJIAN HASIL UJI TEKNIK PEMBELAJARAN KOOPERATIF SISWA XI. Analisis Statistik Deskriptif KELAS SMA 14 GOWA.
- KOMPETENSI INTI
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
- KOMPETENSI DASAR
- MateriPembelajaran Usaha dan Energi
- Metode Pembelajaran
- Kegiatan Pembelajaran Pertemuan Pertama
Menunjukkan perilaku ilmiah (rasa ingin tahu; objektif; jujur; teliti; akurat; rajin; cermat; bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif dan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud penerapan sikap dalam melakukan percobaan, melaporkan, dan berdiskusi. Menganalisis konsep energi, usaha, hubungan usaha dan perubahan energi, hukum kekekalan energi, dan penerapannya dalam kejadian sehari-hari. Saran gagasan pemecahan masalah gerak dalam kehidupan sehari-hari dengan menerapkan metode ilmiah, konsep energi, usaha (usaha) dan hukum kekekalan energi.
Guru mengajak siswa untuk bersyukur bahwa usaha dan tenaga sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengembangkan suatu kegiatan. Melalui demonstrasi dan tanya jawab guru menjelaskan pengertian usaha dan kaitannya dengan energi serta usaha positif, usaha negatif dan usaha nol dalam kehidupan sehari-hari. Setelah melakukan percobaan, guru meminta siswa mencatat hasil percobaan di LKS 01 mengenai usaha yang dilakukan kemudian berdiskusi dengan anggota kelompok masing-masing.
Guru secara selektif meminta perwakilan kelompok untuk meyakinkan hasil pekerjaannya di depan kelas dengan mempresentasikan hasil percobaannya, mempertimbangkan gagasan kepada siswa lain dan seluruh siswa di kelas, sedangkan kelompok lain menanggapi materi presentasi dari teman sekelasnya dan kemudian guru menanggapi jawaban siswa. Menganalisis konsep energi, usaha, hubungan usaha dengan perubahan energi, dan hukum kekekalan energi untuk menyelesaikan permasalahan gerak dalam kejadian sehari-hari.
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) 1
Tentukan terlebih dahulu lintasan meja dari posisi awal sampai posisi akhir dengan mengukur jarak 1 meter dan 2 meter dengan penggaris sebagai berikut. Kedua siswa tersebut mendorong sebuah meja secara bersamaan, siswa 1 melakukan gaya dorong pada sebuah meja sehingga bergeser 1 meter. Kemudian mintalah siswa yang lain untuk mendorong meja sejauh 2 meter bersama-sama dengan siswa pertama.
USAHA DAN ENERGI
PETA KONSEP
U SAHA
Dalam istilah sehari-hari, keduanya dianggap usaha, terlepas dari apakah benda tersebut bergerak atau diam. Usaha yang dilakukan oleh suatu gaya didefinisikan sebagai hasil kali komponen gaya yang sejajar dengan perpindahan dan besar perpindahan. Berdasarkan persamaan (4.1), besarnya usaha yang dilakukan suatu gaya ditentukan oleh besar kecilnya sudut antara arah gaya dan perpindahan benda.
Perhatikan Gambar 4.1 (b), gaya yang bekerja membentuk sudut α terhadap perpindahannya, maka usaha yang dilakukan gaya tersebut dapat diperoleh sebagai berikut. Misalnya mobil melaju di jalan lurus, jalan berkelok-kelok, menikung, dan menanjak. Karena usaha merupakan besaran skalar, maka usaha yang dilakukan oleh beberapa gaya yang mempunyai titik jangkar yang sama adalah jumlah aljabar usaha yang dilakukan oleh masing-masing gaya.
Jika suatu gaya konstan (tetap besar dan arahnya) bekerja pada benda, maka grafik antara gaya F dan perpindahan s dapat ditunjukkan pada Gambar 4.5. Usaha bernilai positif jika luas daerah yang diarsir berada di atas sumbu s, dan bernilai negatif jika luas daerah yang diarsir berada di bawah sumbu s.
E NERGI
- Energi Potensial
- Energi Kinetik
- Energi Mekanik
Secara umum energi kinetik suatu benda bermassa m dan bergerak dengan kecepatan v diberikan oleh persamaan berikut. Energi kinetik terbesar terjadi bila energi potensialnya paling kecil, begitu pula sebaliknya, karena jumlah energi kinetik dan energi potensial (disebut energi mekanik) harus tetap.
PERCIKAN FISIKA
Hubungan Usaha dan Energi
Jika gaya yang bekerja pada balok adalah konstan, maka persamaan yang tepat adalah sebagai berikut. Secara fisis, hubungan ini berarti usaha yang dilakukan suatu gaya sama dengan perubahan energi kinetik benda.
Penerapan Hukum Kekekalan Energi
Refleksi
Sebuah bola bermassa 0,2 kg bergerak pada bidang datar seperti terlihat pada gambar di bawah ini, gerak bola dimulai di titik A dan berakhir di titik B.
DOKUMENTASI
PELAKSANAAN PENELITIAN SMA NEGERI 14 GOWA
- Penggunaan LKPD seBagai pedoman belajar bagi peserta didik
- PERSETUJUAN JUDUL
- SURAT KETERANGAN PERBAIKAN F.3 BERITA ACARA UJIAN PROPOSAL
- SURAT IZIN PENELITIAN BKPMD
- SURAT IZIN PENELITIAN DINAS PENDIDIKAN F.7 SURAT KETERANGAN VALIDASI
- SURAT PENELITIAN DARI SEKOLAH F.9 KARTU KONTROL PENELITIAN
- KARTU KONTROL BIMBINGAN SKRIPSI
Penggunaan bahasa yang benar sesuai EYD dan menggunakan arahan/petunjuk yang jelas sehingga tidak menimbulkan penafsiran ganda. Kontekstual, artinya ilustrasi/gambar yang diterbitkan berdasarkan konteks wilayah/tempat/lingkungan siswa dan sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.