PENGARUH KONSENTRASI PUPUK CAIR ORGANIK NASI BASI DAN AB MIX TERHADAP PERTUMBUHAN DAN
HASIL TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa L.) PADA HIDROPONIK RAKIT APUNG
SKRIPSI
OLEH
PUTI TASYA AMELLIA SUDARTO NIM. 1810212031
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG 2025
PENGARUH KONSENTRASI PUPUK CAIR ORGANIK NASI BASI DAN AB MIX TERHADAP PERTUMBUHAN DAN
HASIL TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa L.) PADA HIDROPONIK RAKIT APUNG
OLEH
PUTI TASYA AMELLIA SUDARTO NIM. 1810212031
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pertanian
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG 2025
PERNYATAAN ORISINILITAS SKRIPSI
Dengan ini dinyatakan bahwa skripsi berjudul “Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik Cair Nasi Basi dan AB mix Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.) Pada Hidroponik Rakit Apung" adalah benar karya saya dengan arahan dari pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Padang, 10 Januari 2025
Puti Tasya Amellia Sudarto NIM. 1810212031
Skripsi ini telah diuji dan dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Sarjana Fakultas Pertanian Universitas Andalas, pada tanggal 10 Januari 2025.
No NAMA TANDA TANGAN JABATAN
1. Dr. Armansyah, SP. MP Ketua
2. Fitri Ekawati, S.P., M.P. Sekretaris
3. Dr. Nurwanita Ekasari Putri, SP.M.Si Anggota
4. Dr. Dini Hervani, SP. MSi Anggota
5. Ir. Muhsanati, MS
Anggota
Sesungguhnya sesuda kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila engkau telah selesai dengan suatu pekerjaan, segeralah engkau kerjakan dengan sungguh
sungguh urusan lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya engkau berharap”
(QS. Al Insyirah: 6-8) Alhamdullilahirobbil’alamin…
Puji beserta syukur atas ke hadirat Allah Subhanahu wa ta’aala atas rahmat, nikmat dan karunia yang diberikan-Nya hingga saat ini. Shalawat beriringkan salam semoga selalu tersampaikan kepada baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam sebagai suri tauladan bagi umat manusia. Tanpa bantuan Allah, mungkin saya tidak akan sekuat ini dan tidak akan sanggup untuk menyelesaikan kuliah ini hingga akhir.
Skripsi ini saya persembahkan kepada kedua orang tua tercinta, Bunda Helen dan Ayah Toto Sudarto selalu memberikan dukungan moril dan materil, meski berbeda pulau seringkali menanyakan kabar saya. Kata – kata tentu tidaklah cukup untuk menggambarkan rasa syukur saya atas kasih dan sayang yang mereka berikan pada saya sampai detik ini. Teruntuk keluarga besar yang telah membantu saya sampai berhasil menyelesaikan skripsi hingga selesai Tak lupa saya ucapkan juga terima kasih untuk Onchi yang telah tenang di atas sana, Michi dan Moco yang membuat saya terhibur selama di rumah.
Teruntuk kedua dosen pembimbing tercinta Ibu Dr. Dini Hervani, SP. MSi dan Ibu Ir. Muhsanati, MS yang telah membimbing selama proses pembuatan skripsi. Terima kasih juga saya ucapkan sebesar – besarnya kepada Bapak Dr.
Aprizal Zainal, SP. MSi karena telah membantu menyadarkan saya untuk melanjutkan pendidikan. Saya juga mengucapkan terima kasih banyak kepada pihak Hidroponik 55 dan Bang Brian yang telah membantu dalam menyediakan tempat penelitian sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
Terima kasih saya ucapkan kepada Amel, Abel, Ayu, dan Rivo yang menjadi kawan curhat. Skripsi ini tentu tidak akan terbentuk tanpa bantuan dari kawan – kawan hebat dan rekan seperjuangan awal kuliah, terutama kepada Ainy, Agi, Tata, Tiwai yang telah menemani masa sulit perkuliahan. Terima kasih kepada Chika dan Yumna yang mau direpotkan saya selama proses pembuatan skripsi.
Terima kasih juga saya ucapkan pada kawan KKN yang telah memberikan kenangan bahagia selama perkuliahan.
Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kehidupan saya selama berkuliah di Universitas Andalas.
BIODATA
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 26 Maret 2000 yang merupakan anak tunggal dari pasangan Bapak Toto Sudarto dan Ibu Helen. Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SD Negeri 02 CIPONDOH (2012). Penulis melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMPIT ASY-SYUKRIYYAH (2015) dan melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA Negeri 7 TANGERANG (2018). Pada tahun 2018 penulis diterima pada Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).
Selama menempuh pendidikan di Universitas Andalas, penulis mengikuti berbagai tingkat pelatihan untuk menambah wawasan dan pengalaman seperti Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) dan Islamic Study Orientation (ISO). Penulis juga pernah bergabung dalam UKM0Fakultas Unit Kegiatan Seni (UKS) dan Himpunan Mahasiswa Agroteknologi Andalas (HIMAgroTA), penulis juga mengikuti beberapa kepanitian ditingkat Fakultas maupun Jurusan. Selain itu penulis menjalankan magang di Dinas Pertanian dan Pangan Kota Bukitinggi pada Juli 2020, dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Saga, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten pada tahun 2021.
Padang, 10 Januari 2025
P.T.A.S
viii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah SWT atas Rahmat-Nya yang memberi hikmah dan manfaat bagi seluruh umat manusia, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik Cair Nasi Basi dan AB Mix Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.) pada Hidroponik Rakit Apung’’. Tujuan penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pertanian program S1 Fakultas Pertanian Jurusan Agroteknologi Universitas Andalas.
Pada proses penyusunan penulis menyampaikan rasa hormat dan terimakasih kepada Ibu Dr. Dini Hervani, SP., MSi selaku Dosen Pembimbing 1 dan Ibu Ir. Muhsanati, MS selaku Dosen Pembimbing 2 yang telah banyak meluangkan waktu serta memberikan bimbingan dan pengarahan sampai terselesaikan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis juga para pembaca.
Padang, 16 Januari 2025
P.T.A.S
ix
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR………... viii
DAFTAR ISI…...……….. ix
DAFTAR TABEL………... xi
DAFTAR GAMBAR………... xii
DAFTAR LAMPIRAN………... xii
ABSTRAK…………...………... xiv
ABSTRACT………….………... xv
BAB I. PENDAHULUAN……….... 1
A. Latar Belakang………...… 1
B. Rumusan Masalah………...…... 4
C. Tujuan Penelitian………...… 4
D. Manfaat Penelitian………... 4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA………..…... 5
A. Tanaman Pakcoy……… 5
B. Sistem Hidroponik………. 7
C. AB mix………...… 8
D. Pupuk Organik Cair………... 9
BAB III. METODE PENELITIAN……… 11
A. Tempat dan Waktu ……… 11
B. Alat dan Bahan.………. 11
C. Rancangan Percobaan……… 11
D. Pelaksanaan Penelitian……….. 12
E. Variabel Pengamatan………. 14
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN……… 1
A. Tinggi Tanaman………. 15
B. Jumlah Daun……….. 17
C. Lebar Daun….……….….. 19
D. Panjang Akar…...……….. 20
x
E. Berat Segar per Tanaman………... 22
F. Berat Kering per Tanaman………. 24
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN……….. 27
A. Kesimpulan……… 27
B. Saran………...………... 27
DAFTAR PUSTAKA………..………… 28
LAMPIRAN……… 32
xi
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Tinggi tanaman pakcoy pada berbagai konsentrasi POC nasi
dan AB mix umur 4 MS ……… 15
2. Jumlah daun tanaman pakcoy pada berbagai konsentrasi
POC nasi dan AB mix umur 4 MST ……….… 17 3. Lebar daun tanaman pakcoy pada berbagai konsentrasi POC
nasi dan AB mix umur 4 MST ……….… 19 4. Panjang akar tanaman pakcoy pada berbagai konsentrasi
POC nasi dan AB mix umur 4 MST ……….…….. 21 5. Berat segar tanaman pakcoy pada berbagai konsentrasi POC
nasi dan AB mix umur 4 MST ……….….. 22 6. Perbandingan hasil panen tanaman pakcoy dengan sistem
hidroponik rakit apung ……….………. 23 7. Berat kering tanaman pakcoy pada berbagai konsentrasi
POC nasi dan AB mix umur 4 MST ……….….. 25
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Laju pertumbuhan tinggi tanaman pakcoy pada konsentrasi
POC nasi dan AB mix umur 1 MST – 4 MST ……… 16 2. Laju pertumbuhan jumlah daun tanaman pakcoy pada
konsentrasi POC nasi dan AB mix umur 1 MST – 4 MST … 18 3. Laju pertumbuhan lebar daun tanaman pakcoy pada
konsentrasi POC nasi dan AB mix umur 1 MST – 4 MST … 20 4. Perbandingan hasil panen tanaman pakcoy dengan sistem
hidroponik rakit apung………...
23
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Jadwal kegiatan penelitian tanaman pakcoy dari bulan
Januari – Maret 2023...……… 33
2. Petak percobaan di lapangan berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) ……….……... 34
3. Pembuatan tahapan POC……….…... 35
4. Tata letak tanaman pada satu satuan percobaan …….….…... 38
5. Tabel sidik ragam ………..……..….. 39
6. Dokumentasi penelitian ………. 42
7. Data analisis pupuk organik cair nasi ………... 43
xiv
PENGARUH KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR NASI BASI DAN AB MIX TERHADAP PERTUMBUHAN DAN
HASIL TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa L.) PADA HIDROPONIK RAKIT APUNG
Abstrak
Pakcoy merupakan tanaman sayuran dengan nilai komersil tinggi dan diminati oleh masyarakat. Luas lahan pertanian yang terus mengalami penurunan sehingga sistem tanam hidroponik efisien untuk dikembangkan di wilayah – wilayah sempit. Hidroponik sistem rakit apung merupakan metode hidroponik dengan biaya murah dan bahan yang mudah didapatkan. AB mix adalah nutrisi yang umum digunakan oleh pembudidaya dalam sistem hidroponik. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap AB mix, maka diusahakan untuk mensubstitusi dengan Pupuk Organik Cair (POC) nasi terbuat dari nasi basi yang dapat diolah menjadi pupuk organik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi POC nasi dan AB mix, serta mendapatkan konsentrasi POC nasi dan AB mix terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy. Penelitian telah dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 taraf perlakuan, yaitu AB mix 10 ml/L air, POC 50 ml/L air + AB mix 8 ml/L air, POC 100 ml/L air + AB mix 6 ml/L air, POC 150 ml/L air + AB mix 4 ml/L air, POC 200 ml/L air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian AB mix 10/L air menghasilkan tanaman pakcoy dengan tinggi tanaman, jumlah dan lebar daun, panjang akar, berat segar dan berat kering tanaman paling baik jika dibandingkan perlakuan lainnya.
Kata kunci: Pakcoy, AB mix, POC nasi, Hidroponik, Rakit apung.
xv
THE EFFECT OF LIQUID ORGANIC FERTILIZER CONCENTRATION OF STAINLESS RICE AND AB MIX ON
THE GROWTH AND YIELD OF PAKCOY (Brassica rapa L.) ON FLOATING RAFT HYDROPONICS
Abstract
Pak choy is a high-value vegetable crop widely favored by consumers. As agricultural land continues to decline, hydroponic farming systems offer an efficient solution for cultivation in limited spaces. The floating raft hydroponic system is a cost-effective method using easily accessible materials. AB mix is a commonly used nutrient solution in hydroponic farming. Substituting AB mix with fermented rice-based POC is necessary to reduce dependency on AB mix. This study aimed to evaluate the effect of different concentrations of fermented rice-based POC and AB mix on the growth and yield of pak choy and to identify the optimal concentration for these parameters. The experiment was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) with five treatments: AB mix at 10 ml/L, POC at 50 ml/L + AB mix at 8 ml/L, POC at 100 ml/L + AB mix at 6 ml/L, POC at 150 ml/L + AB mix at 4 ml/L, and POC at 200 ml/L. Results indicated that AB mix at 10 ml/L produced the best plant height, number and width of leaves, root length, fresh weight, and dry weight of pak choy compared to other treatments.
Keywords: Pakcoy, AB mix, POC, Hydroponic, Floating Raft.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sayuran merupakan salah satu komoditas hortikultura yang berperan penting dalam pemenuhan gizi, sehingga memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Menurut data dari BPS, (2017) hampir seluruh penduduk Indonesia (97,29%) mengkonsumsi sayuran. Tanaman pakcoy termasuk kelompok sawi – sawian yang memiliki nilai komersil tinggi dan cukup digemari oleh banyak kalangan masyarakat. Data BPS, (2023) menyebutkan bahwa terjadi peningkatan produktivitas sawi dari tahun 2019 sebanyak 6.527.228 kwintal, pada tahun 2020 sebanyak 6.674.730 kwintal, pada tahun 2021 sebanyak 7.274.670 kwintal, dan pada tahun 2022 sebanyak 7.606.082 kwintal.
Peningkatan produksi menunjukkan kebutuhan masyarakat akan tanaman jenis sawi – sawian yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Pakcoy (Brassica rapa L.) merupakan jenis sayuran daun atau dikenal sebagai sawi huma, masyarakat menyukai pakcoy karena memiliki tulang daun tebal sehingga renyah saat dikonsumsi (Herwibowo dan Budiana, 2014). Batang dan daunnya lebih lebar dari sawi hijau biasa, membuat sawi jenis ini lebih sering digunakan masyarakat dalam berbagai menu masakan. Hal ini memberikan prospek bisnis cukup cerah bagi para petani sawi pakcoy (Yuliani, 2015). Kandungan nutrisi yang terdapat pada 100 g sawi pakcoy yaitu protein 1,8 g, energi sebanyak 15 kal, serat sebanyak 0,6 g, kandungan karbohidrat 2,5 g, lemak 0,2 g, kalium 225 mg, fosfor 31 mg, dan air 92,4 g yang merupakan kandungan yang penting bagi tubuh (Purba, 2017).
Kebutuhan terhadap tanaman pakcoy tidak seiring dengan pemanfaatan lahan pertanian. BPS, (2023) menyebutkan bahwa pada wilayah Sumatera Barat terjadi penyempitan luas lahan sebesar 41,12% dari tahun 2020 - 2022, tahun 2020 luas lahan sebesar 3.837 ha, pada tahun 2021 sebesar 3.149 ha dan pada tahun 2022 sebesar 3.711 ha. Penyempitan lahan pertanian disebabkan oleh alih fungsi lahan untuk pembangunan gedung – gedung, infrastruktur jalan, serta pembangunan lain yang banyak terjadi terutama di wilayah perkotaan. Salah satu solusi permasalahan yang ada ialah budidaya hidroponik.
2
Sistem hidroponik merupakan cara budidaya tanaman dengan memanfaatkan air yang membawa nutrisi tanaman yang diserap sebagai penunjang tumbuh tanaman (Rakhman et al., 2015). Sistem hidroponik dapat mengatasi permasalahan lahan pertanian yang semakin sempit. Karena metode ini dapat diterapkan di perkotaan, atap perkantoran, dan lahan sempit lainnya. Menurut Sarido (2017), budidaya tanaman dengan cara hidroponik relatif bersih, tanaman terjaga dari air hujan, media tanam yang digunakan steril dan memiliki hasil tanam dengan produktivitas lebih tinggi. Beberapa teknik sistem hidroponik yang umum digunakan adalah sistem sumbu, sistem NFT, sistem aeroponik, sistem Ebb & Flow, sistem hidroponik rakit apung, dan sistem drip.
Hidroponik rakit apung merupakan salah satu cara bercocok tanam hidroponik yang mudah dilakukan. Sistem fertigasi rakit apung atau Floating Raft System adalah teknik menanam tanaman pada suatu rakit berupa panel tanam yang dapat mengapung di atas permukaan larutan nutrisi dengan akar menjuntai ke dalam air (Nurrohman et al., 2014). Sistem hidroponik rakit apung memiliki beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan sistem hidroponik lain yaitu perangkat lebih sederhana, perawatan pada instalasi yang lebih mudah, dan operasional yang sederhana. Hal ini menyebabkan sistem hidroponik rakit apung ramah bagi pemula dan banyak diterapkan oleh orang yang baru mencoba hidroponik. Nutrisi diserap oleh tanaman melalui air yang dialirkan pada sistem hidroponik, sehingga perlu memperhatikan konsentrasi pupuk atau nutrisi yang diberikan pada tanaman dengan sistem hidroponik.
Pemberian konsentrasi pupuk yang tepat dapat mempengaruhi kualitas dan hasil dari suatu tanaman. Makin tinggi konsentrasi pada suatu larutan, maka akan semakin pekat juga kandungan garam mineral dalam larutan tersebut. Ion – ion yang terkandung dalam larutan nutrisi mempengaruhi kepekatan nutrisi tersebut (Wijaya, 2010).
Menurut Rosmarkam dari Yuswono, (2002) sayuran sehat ditentukan oleh kualitas pupuk yang digunakan, hal ini karena pupuk adalah material yang ditambahkan untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Umumnya nutrisi AB mix dan pupuk organik cair digunakan sebagai nutrisi dasar dalam budidaya hidroponik. Nutrisi hidroponik
3
umum diberikan dalam bentuk larutan yang terbuat dari stok A Mix dan B Mix yang didalamnya banyak mengandung makro dan mikro mineral (Samanhudi, 2010). AB mix merupakan nutrisi dasar yang digunakan untuk tanaman hidroponik.
Konsentrasi AB mix 10 ml/L air dianjurkan oleh (BPTP, 2016).
Penggunaan pupuk organik cair (POC) pada budidaya sayuran mulai banyak digunakan karena dapat menekan pemakaian pupuk anorganik. POC adalah pupuk organik cair yang berasal dari larutan dari hasil pembusukan bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, limbah agro industri, kotoran hewan, dan kotoran manusia yang memiliki kandungan lebih dari satu unsur hara (Tanti et al., 2019).
Salah satu bahan yang dapat diolah menjadi pupuk organik cair adalah nasi basi.
Menurut Purwanto et al., (2018) nasi basi mengandung unsur hara N 0,7%, P2O5
0,4%, K2O 0,25%, kadar air 62%, bahan organik 21%, CaO 0,4%, dan rasio C/N 20-25.
Penelitian aplikasi POC nasi basi terhadap beberapa tanaman telah dilakukan sebelumnya, antara lain aplikasi terhadap tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.) (Elsita, 2018), tanaman Kacang hijau (Vigna radiata L.) (Purwanto et al., 2018), tanaman Selada merah (Lactuca sativa var. crispa) (Ria et al., 2021), dan tanaman Cabai (Capsicum anum L.) (Julita et al., 2013).
Berdasarkan penelitian oleh Setiawan et al., (2020), pada tanaman pakcoy dengan perlakuan POC nasi memberikan hasil lebih baik pada tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, dan lebar daun bila dibandingkan POC berbahan lain seperti bonggol pisang, sayur – sayuran, dan kulit pisang. Penelitian oleh Fajeriana et al., (2021) menyatakan bahwa pemberian POC nasi 200 g + 1 liter air memberikan hasil pertumbuhan terbaik bagi tanaman sawi (Brassica juncea L.)
Berdasarkan uraian di atas, untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil tanaman dengan system hidroponik rakit apung yang baik maka diperlukan penelitian tentang pemberian konsentrasi kombinasi pupuk organik cair (POC) nasi basi dan AB Mix yang tepat.
Untuk itu telah dilakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Konsentrasi Pupuk Oganik Cair Nasi Basi dan AB Mix Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.) pada Hidroponik Rakit Apung.’’
4
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh berbagai konsentrasi POC nasi basi dan AB mix terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy dengan sistem hidroponik rakit apung?
2. Berapa konsentrasi POC nasi basi dan AB mix yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy dengan sistem hidroponik rakit apung?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi POC nasi basi dan AB mix terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy dengan sistem hidroponik rakit apung
2. Mendapatkan konsentrasi POC nasi basi dan AB mix terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy dengan sistem hidroponik rakit apung
D. Manfaat Penelitian
1. Sebagai informasi dan ilmu pengetahuan mengenai pengaruh pemberian POC nasi basi dan AB mix terhadap pertumbuhan tanaman pakcoy dengan sistem hidroponik rakit apung
2. Pupuk Organik Cair berbahan nasi basi sebagai salah satu alternatif murah nutrisi hidroponik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tanaman Pakcoy
Tanaman pakcoy termasuk dalam Famili Brassicaceae, Genus Brassica, dan Spesies Brassica rapa L. Pakcoy merupakan tanaman jenis sayur – sayuran yang termasuk dalam keluarga Brassicaceae. Tanaman pakcoy berasal dari dataran China dan telah dibudidayakan sejak abad ke-5, berpusat di daerah China Selatan dan Taiwan. Sayuran ini merupakan introduksi baru di Jepang dan masih sekeluarga dengan Chinese vegetable. Pada masa ini, pakcoy dikembangkan secara luas di beberapa negara seperti Filipina, Thailand, dan Indonesia (Rukmana, 1994)
Pakcoy merupakan salah satu sayuran penting di Asia, khususnya di wilayah China. Daun pakcoy bertangkai, berbentuk oval, berwarna hijau tua, dan mengkilat.
Tidak membentuk kepala, tumbuh agak tegak atau setengah mendatar, tersusun membentuk spiral rapat, melekat pada batang yang tertekan. Tanaman pakcoy berakar tunggang dengan bulu akar yang menyebar ke segala arah di bagian tanaman tersebut. Perakarannya cukup pendek yaitu mulai dari 5 – 15 cm, akar tanaman ini dapat tumbuh subur pada keadaan tanah yang memiliki unsur hara yang cukup, bertekstur gembur, dan daya serap yang baik terhadap air (Subrata et al., 2017).
Menurut Rukmana, (1994), batang tanaman pakcoy merupakan batang semu karena tidak terlalu kelihatan dengan pelepah daun yang tersusun rapi berhimpitan dan saling menempel. Wibowo et al., (2013) menyatakan bahwa daun tanaman pakcoy memiliki ukuran lebar bila dibandingkan dengan sawi hijau biasa, hal ini membuat tanaman pakcoy lebih digemari dan banyak digunakan pada berbagai masakan. Pakcoy memiliki daun bertangkai dan mengkilap dengan bentuk bulat berwarna hijau tua. Daun tanaman umumnya tumbuh mendatar dan menempel pada batang. Tangkai daun berwarna putih kehijauan, tebal dan berdaging, dan tanaman ini memiliki tinggi sekitar 14 – 35 cm. Tanaman golongan sawi – sawian memiliki bentuk daun lonjong tanpa bulu. Tangkai tanaman sedikit pipih dan berliku (Wananto, 2017).
6
Bunga tanaman pakcoy tersusun rapi dalam tangkai yang cukup panjang, cabangnya banyak dengan tipe kuntum yang terdiri dari 4 helai kelopak bunga dan 4 mahkota bunga berwarna kuning. Bunga ini juga memiliki 4 helai benang sari dan 1 buah putik (Pranata, 2018). Buah pada tanaman pakcoy termasuk tipe buah polong dengan bentuk memanjang dan memiliki rongga, terdapat 2 – 8 butir pada setiap buah (polong). Pakcoy memiliki biji berbentuk bulat dan cukup kecil dengan warna coklat kehitaman (Hermiza et al., 2018)
Menurut Suhardianto, (2011), pakcoy yang termasuk komoditi sayuran daun yang memiliki kandungan vitamin dan mineral tinggi. Pakcoy kaya akan vitamin A sehingga dapat mengatasi penyakit akibat kekurangan vitamin A seperti rabun ayam (xerophthalmia). Pakcoy dapat menghilangkan rasa gatal pada penderita batuk, dikonsumsi dengan tujuan untuk menyembuhkan sakit kepala, bahan pembersih darah, memperbaiki fungsi ginjal, dan memperlancar sistem pencernaan. Biji tanaman ini dapat digunakan sebagai minyak dan menambah cita rasa makanan (Fahrudin, 2009). Tanaman pakcoy memiliki kandungan betakaroten yang dapat mencegah penyakit katarak. Selain itu, terdapat juga gizi lain dalam tanaman ini seperti protein, lemak nabati, karbohidrat, serat, kalsium, magnesium, sodium, vitamin A, dan vitamin C (Ansori et al., 2021).
Tanaman pakcoy mempunyai kecocokan dengan kondisi lingkungan di Indonesia. Pakcoy dapat ditanam mulai dari ketinggian 5 m sampai dengan 1200 m di atas permukaan laut, namun tanaman pakcoy dapat tumbuh optimal pada daerah dengan ketinggian 100 meter – 500 meter di atas permukaan laut. Tanaman pakcoy tumbuh baik pada tanah dengan kriteria seperti gembur, banyak mengandung humus, subur, serta drainase yang lancar. Tanah yang bagus memiliki derajat kemasaman (pH) antara 6 sampai 7 (Yuliani, 2015).
Tanaman pakcoy tidak terlalu sulit untuk dibudidayakan dan memiliki waktu budidaya yang pendek, yakni sekitar 25 – 45 hari. Berdasarkan penelitian oleh Andriyani (2019), tanaman pakcoy kurang peka terhadap suhu sehingga dapat ditanam pada daerah dataran rendah maupun tinggi. Pakcoy dapat ditanam sepanjang tahun, baik musim kemarau hingga musim penghujan. Menurut Wahyudi (2010), pakcoy memiliki daya adaptasi luas sehingga potensi produksinya cukup
7
tinggi, perawatan tanaman tidak terlalu sulit bila dibandingkan dengan tanaman lain, hal ini menyebabkan pakcoy banyak diminati.
Daerah asal tanaman pakcoy adalah wilayah beriklim dingin (subtropik).
Walaupun demikian untuk wilayah Indonesia yang termasuk daerah beriklim panas (tropik), tanaman jenis sawi – sawian dapat beradaptasi sehingga tumbuh baik di dataran rendah sampai tinggi dengan ketinggian mencapai ± 1.100 dpl, suhu udara 15,6 – 21,1 °C, dan kelembaban udara (RH) sebesar 70 – 90% dengan penyinaran cahaya matahari penuh. Tanah yang cocok untuk tanaman pakcoy adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur serta drainase yang baik. Misalnya tanah lempung berpasir atau lempung berliar. Derajat keasamaan (pH) tanah berkisar antara 5,5 – 6,5, rentang pH ini adalah pH optimum untuk pertumbuhan tanaman (Haryanto et al., 2006).
Tanaman pakcoy yang dapat beradaptasi di dataran rendah maupun tinggi serta harga jual tinggi yang stabil, membuat tanaman ini menjadi salah satu jenis tanaman sayur yang banyak dibudidayakan secara hidroponik. Penelitian oleh Yulianti, (2017), menunjukkan bahwa umur panen pakcoy dengan menggunakan sistem hidroponik lebih cepat bila dibandingkan dengan metode konvensional.
Selanjutnya penelitian oleh Rizal (2017), diperoleh bahwa pemberian nutrisi AB mix meningkatkan pertumbuhan tanaman pakcoy yaitu pada rata – rata tinggi tanaman, jumlah daun, dan berat basah tanaman.
B. Sistem Hidroponik Rakit Apung
Hidroponik adalah sistem budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam. Tanaman dapat tumbuh baik jika berada pada media yang mengandung unsur, mineral, dan memiliki kondisi unggul (Alviani, 2015).
Hidroponik berasal dari bahasa yunani yaitu hydrophonos, yang terdiri dari dua unsur yaitu hydro yang berarti air dan phonos yang berarti daya, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa air merupakan komponen utama dalam hidroponik, diperlukan juga nutrisi untuk mendapatkan hasil budidaya maksimal. Tanah umum digunakan sebagai media tanam dalam budidaya tanaman, namun seiring perkembangan teknologi terdapat juga penerapan metode budidaya lain tanpa memanfaatkan tanah sebagai media tanam, salah satunya hidroponik.
8
Teknologi yang berkembang pesat juga turut memberikan peran penting pada perkembangan sistem tanam hidroponik, hal ini dapat dilihat pada banyaknya penggunaan kerikil sintetis dan bola – bola nutrisi sebagai media tanam (Utama et al., 2006). Hidroponik memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan menjadi sistem pertanian terbarukan di masa depan, hal ini disebabkan usaha hidroponik dapat diterapkan di manapun seperti lahan sempit perkotaan, gang kecil, desa, dan tempat lainnya. Permasalahan lain yang umum terjadi di lahan pertanian konvensional seperti keterbatasan air, hama dan penyakit, hasil panen yang berbeda satu sama lain. Hal – hal ini dapat diperbaiki dengan sistem pertanian hidroponik. (Sarido et al., 2017).
Salah satu sistem tanam hidroponik yang mudah diterapkan adalah sistem rakit apung (Floating Raft). Pada sistem ini, tanaman diletakkan pada baki atau wadah yang terapung dan diatur sedemikian rupa agar akar tanaman dapat terendam di dalam air berisi nutrisi. Hidroponik rakit apung mengatur agar tanaman mengapung tepat dia atas larutan nutrisi, umumnya dengan wadah berbahan styrofoam. Akar tanaman yang terus terendam larutan nutrisi dapat menyebabkan akar rentan busuk, sehingga perlu adanya penambahan oksigen terlarut untuk mencegah hal tersebut. Oksigen dapat dialirkan menggunakan aerator (Hendra, 2016).
C. AB mix
Nutrisi merupakan faktor pembatas utama yang harus selalu tersedia dalam budidaya dengan sistem hidroponik (Téllez et al., 2012). Nutrisi hidroponik harus mengandung unsur hara makro dan mikro, untuk memenuhi kebutuhan tanaman seperti tanaman yang ditanam di tanah. Jenis nutrisi yang umum digunakan oleh pembudidaya dalam sistem hidroponik adalah nutrisi AB mix. Nutrisi ini terdiri dari 2 stok yaitu stok A dan stok B, pada penggunaannya diawali dengan melarutkan masing – masing stok sesuai petunjuk yang tertera di kemasan produk. Kedua stok nutrisi ini memiliki kandungan yang berbeda dan akan mengendap apabila disatukan, oleh karena itu nutrisi harus dilarutkan terlebih dahulu sebelum diberikan pada tanaman (Lught et al., 2020). Nutrisi AB mix yang banyak digunakan oleh petani hidroponik memiliki harga yang cukup mahal, sehingga hal ini membuat
9
banyak petani berusaha mencari alternatif nutrisi lain dengan harga yang lebih murah bila dibandingkan nutrisi AB mix. Pupuk Organik Cair (POC) nasi dapat menjadi alternatif untuk nutrisi hidroponik.
D. Pupuk Organik Cair
Pupuk Organik Cair adalah pembuatan pupuk organik berbentuk cair maupun padat dengan bahan baku yaitu mikroorganisme, glukosa, dan karbohidrat.
Bahan untuk fermentasi larutan POC bisa didapatkan dari lingkungan sekitar seperti hasil kebun atau panen, limbah rumah tangga, maupun hasil pertanian. Karbohidrat sebagai sumber nutrisi untuk mikroorganisme didapatkan dari limbah organik seperti gandum, singkong, air cucian beras, dan lainnya. Glukosa dapat diperoleh dari air kelapa dan gula. Sedangkan sumber mikroorganisme berasal dari kulit buah busuk, nasi basi, terasi, dan keong (Selviana, 2019).
Mikroorganisme perombak bahan organik (biodikomposer) adalah mikroorganisme pengurai serat, lignin, dan senyawa organik lain yang mengandung nitrogen dan karbon dari sisa bahan organik (jaringan tumbuhan dan hewan) yang telah mati. Umumnya mikroba perombak bahan organik terdiri dari atas Trichoderma reesi, T. harzianum, T. koningii, Phanerochaeta crysosposium, Cellulomonas, Pseidomonas, Thermospora, Aspergillus niger, A. terreus, Penicillium dan Streptomyces. Jamur atau cendawan perombak bahan organik memiliki kemampuan lebih baik bila dibandingkan dengan bakteri dalam mengurai sisa – sisa tanaman (hemiselulosa, selulosa, dan lignin). Mikroba yang dapat mendegradasi selulosa juga mampu mendegradasi hemiselulosa (Akso, 2018).
Pupuk organik cair termasuk jenis pupuk organik yang lebih mudah diserap tanaman karena unsur yang terkandung di dalamnya sudah terurai terlebih dahulu.
Pemakaian pupuk organik cair menjadi alternatif untuk menunjang kebutuhan unsur hara tanaman. Dalam larutan POC terdapat unsur hara makro, mikro, dan mikroorganisme yang berfungsi sebagai perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan, dan agen pengendali hama dan penyakit tanaman sehingga baik digunakan sebagai dekomposer, pupuk hayati dan pestisida organik. Beberapa faktor yang menentukan kualitas POC seperti media fermentasi, kadar bahan baku
10
atau substrat, bentuk dan sifat mikroorganisme aktif selama proses fermentasi, pH, temperatur, lama fermentasi, dan rasio C/N larutan Mol (Seni et al., 2013).
Pupuk organik cair adalah pupuk yang bahan dasarnya berasal dari hewan atau tumbuhan yang sudah mengalami fermentasi berupa cairan dan kandungan bahan kimia di dalamnya maksimum 5%. Pada dasarnya pupuk organik cair lebih baik dibandingkan dengan pupuk organik padat. Hal ini disebabkan penggunaan pupuk organik cair memiliki beberapa kelebihan yaitu pengaplikasiannya lebih mudah, unsur hara yang terdapat di dalam pupuk cair mudah diserap tanaman, mengandung mikroorganisme yang banyak, mengatasi defesiensi hara, tidak bermasalah dalam pencucian hara, mampu menyediakan hara secara cepat, proses pembuatannya memerlukan waktu yang lebih cepat, serta penerapannya mudah dilakukan yakni tinggal di semprotkan ke tanaman. Ciri fisik pupuk cair yang baik adalah berwarna kuning kecoklatan, pH netral, tidak berbau, dan memiliki kandungan unsur hara tinggi (Fitria, 2008).
Pada pembuatan pupuk organik umumnya melalui proses penguraian.
Penguraian suatu senyawa ditentukan oleh susunan bahan, dimana pada umumnya senyawa organik mempunyai sifat yang cepat diuraikan, sedangkan senyawa anorganik mempunyai sifat sukar diuraikan. Penguraian bahan organik akan berlangsung melalui proses yang sudah dikenal, yang secara keseluruhan disebut dengan proses fermentasi. Bahan organik tersebut pada tahap awal akan diubah menjadi senyawa yang lebih sederhana seperti gula, gliserol, asam lemak dan asam amino. Selanjutnya akan dilanjutkan dengan proses lain baik secara aerobik maupun anaerob (Fitria, 2008)
Pupuk Organik Cair nasi yang terbuat dari nasi basi adalah bahan baku yang mudah didapatkan, hal ini dikarenakan nasi basi tidak digunakan dan dibuang begitu saja. Mikroorganisme yang terkandung di dalam POC nasi adalah Azobacter yang berfungsi sebagai dekomposer. Pupuk cair ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang bisa langsung diaplikasikan pada tanaman (Julita et al., 2013)
BAB III METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu
Penelitian berlokasi di Kebun Hidroponik 55 Jln. Sungai Balang Cupak Tangah, Kec. Pauh, Kota Padang. Penelitian dilakukan pada bulan Januari - Maret 2023. Jadwal penelitian dapat dilihat pada Lampiran 1.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah wadah penyemaian berbahan dasar plastik, rockwool, wadah styrofoam dengan ukuran 60 x 40 x 15 cm, TDS meter, pH meter, plastik bening, saringan santan, ember, tusuk gigi, penggaris, timbangan digital, netpot ukuran diameter 5 cm, dan alat tulis. Bahan yang digunakan meliputi benih pakcoy varietas Nauli F1, air, nasi basi, gula merah, dan nutrisi AB mix.
C. Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 taraf perlakuan. Perlakuan tersebut diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 20 satuan percobaan (Lampiran 2). Setiap satuan percobaan terdiri dari 6 tanaman, sehingga terdapat 120 tanaman dan dilakukan pengamatan yang dapat dilihat pada Lampiran 4. Perlakuan yang diberikan adalah beberapa konsentrasi POC nasi dan nutrisi AB mix, sebagai berikut:
- AB mix 10 ml/L air (kontrol) (K0)
- POC nasi 50 ml/L air + AB mix 8 ml/L air (K1) - POC nasi 100 ml/L air + AB mix 6 ml/L air (K2) - POC nasi 150 ml/L air + AB mix 4 ml/L air (K3) - POC nasi 200 ml/L air (K4)
Data penelitian ini dianalisis menggunakan uji F dengan taraf 5%. Jika uji F hitung lebih besar dari F tabel 5%, maka dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DNMRT) taraf 5%.
12
D. Pelaksanaan Penelitian 1. Pembuatan POC nasi
Nasi basi dimasukkan ke dalam wadah tertutup dan disimpan di tempat yang tidak terkena cahaya matahari sampai tumbuh jamur berwarna oranye kekuningan.
Kemudian dicampur dengan larutan gula merah dan disimpan dalam botol tertutup, difermentasi sampai mengeluarkan aroma tapai. Larutan disaring dan siap digunakan. Proses pembuatan POC nasi dengan bahan yang sama dilakukan sebanyak 4 kali dengan perlakuan setiap tahapan dapat dilihat pada Lampiran 3.
2. Persiapan Hidroponik Sistem Rakit Apung
Pembuatan hidroponik sistem rakit apung yaitu dibuat dari wadah styrofoam berukuran 60 x 40 x 15 cm, kemudian dibuat lubang pada tutup wadah berjumlah 6 buah berdiameter 5 cm dan jarak antar lubang tanam 10 cm. Wadah styrofoam dilapisi menggunakan plastik bening untuk mencegah kebocoran, disiapkan juga atap naungan yang terbuat dari plastik UV guna melindungi tanaman dari hujan serta mencegah penguapan berlebih pada tanaman.
3. Penyemaian Benih
Benih disemai pada media rockwool yang sudah dipotong berbentuk dadu ukuran sekitar 3 x 3 cm dan dimasukkan kedalam wadah persemaian benih.
Kemudian rockwool dibasahi air secukupnya agar benih dapat berkecambah, dibuat lubang tanam pada bagian tengah rockwool mengunakan tusuk gigi sedalam 2 mm.
Benih pakchoy dimasukkan kedalam lubang tanam tersebut diletakkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Setiap hari dilakukan pengecekan untuk memastikan media rockwool tetap dalam kondisi lembab.
4. Persiapan larutan AB mix
Larutan hara AB mix dibuat dari konsentrasi A dan konsentrasi B sebanyak masing – masing 5 ml dan dicampur ke dalam air 1 L. Perbandingan nutrisi A dan nutrisi B yaitu 1:1. Larutan ini akan diencerkan dan pemberian larutan disesuaikan dengan perlakuan yang dilakukan.
5. Penanaman
Setelah 1 minggu penyemaian, maka bibit tanaman pakcoy dipindahkan ke wadah hidroponik sesuai dengan denah plot penelitian. Penanaman dilakukan dengan cara bibit dimasukkan ke dalam netpot. Setiap netpot diisi satu bibit
13
tanaman pakcoy dan diletakkan dalam lubang tanam yang telah dipersiapkan.
Kriteria bibit siap tanam yaitu telah memiliki daun berjumlah 4 – 5 helai (Sarido, 2017).
6. Perlakuan
Larutan nutrisi POC nasi dan larutan AB mix diberikan pada setiap wadah hidroponik dengan dilakukan pengenceran sesuai perlakuan dalam air sebanyak 7,5 liter. Larutan diaduk setiap 2 hari sekali untuk mencegah kekeruhan dan penggantian air nutrisi dilakukan setiap 7 hari sekali untuk menjaga kualitas dan ketersediaan hara dengan konsentrasi sama sesuai perlakuan yang ada.
7. Pemeliharaan
Penyulaman dilakukan pada tanaman yang mati, layu, atau tidak menunjukkan tanda pertumbuhan 3 – 7 hari setelah tanam. Tanaman diambil dari bibit cadangan yang disediakan sebelumnya yang berasal dari jenis dan umur yang sama. Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman dilakukan dengan menyemprot tanaman menggunakan pestisida nabati atau pencucian pada tanaman tersebut.
Pestisida nabati yang digunakan adalah pestisida nabati bawang putih yang dibuat dari bawang putih, air dan sabun cuci piring. Pembuatan pestisida dilakukan dengan menghaluskan 4 umbi bawang putih tanpa kulit luar, lalu dicampurkan dengan 500 ml air dan didiamkan selama 6 jam. Setelah itu, ditambahkan 5 ml sabun cuci piring. Kemudian larutan bawang putih disaring mengunakan kain halus.
Pestisida nabati bawang putih dilarutkan dengan air sebanyak 2,5 liter, disemprotkan pada tanaman seminggu sekali guna mencegah serangan hama.
8. Panen
Panen dilakukan dengan cara mencabut dari bagian akar tanaman dalam netpot. Tanaman pakcoy yang telah siap panen dapat dilihat melalui ciri fisik yaitu bentuk daun oval membulat, memiliki warna daun yang hijau, lebar daun antara 13 – 15 cm, panjang daun lebih dari 17 cm.
14
E. Variabel Pengamatan a. Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur mulai dari dasar pangkal batang hingga ujung daun tertinggi menggunakan penggaris. Pengukuran dilakukan setiap minggunya pada tanaman pakcoy berumur 1 MST – 4 MST.
b. Jumlah Daun (helai)
Daun yang dapat dihitung merupakan daun yang telah terbuka secara sempurna. Pengamatan dilakukan pada tanaman pakcoy yang berumur 1 MST – 4 MST
c. Lebar Daun (cm)
Daun terlebar diukur menggunakan penggaris, diletakkan secara tegak lurus mengikuti ibu tulang daun dan diukur mulai dari bagian terlebar daun. Pengukuran ini dilakukan pada tanaman pakcoy yang berumur 1 MST – 4 MST.
d. Panjang Akar (cm)
Akar tanaman diukur menggunakan penggaris pada saat tanaman telah panen. Pengukuran akar tanaman dimulai dari pangkal akar tanaman atau tempat munculnya akar hingga ujung akar terpanjang.
e. Berat Segar per Tanaman (g)
Pengukuran berat segar tanaman dilakukan pada akhir pengamatan.
Pengukuran dilakukan dengan menimbang berat keseluruhan tanaman yaitu berat batang, daun, dan akar menggunakan timbangan digital.
f. Berat Kering per Tanaman (g)
Pengukuran berat kering tanaman dilakukan pada akhir pengamatan.
Pengukuran dilakukan dengan menimbang tanaman yang telah dikeringkan menggunakan oven pada temperatur 70ºC selama 48 jam. Tanaman kemudian ditimbang dengan timbangan digital.
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A.
Tinggi TanamanHasil analisis ragam (Lampiran 5.1) menunjukkan bahwa pemberian beberapa kombinasi konsentrasi POC nasi basi dan AB mix memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap tinggi tanaman pakcoy. Data pengamatan tinggi tanaman pakcoy dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Tinggi tanaman pakcoy pada berbagai kombinasi konsentrasi POC nasi basi dan AB mix umur 4 MST.
Kombinasi POC nasi dan AB mix (ml/L) Tinggi tanaman (cm)
AB mix 10 ml/L air 18,40 a
POC nasi 50 ml/L air + AB mix 8 ml/L air 15,28 b POC nasi 100 ml/L air + AB mix 6 ml/L air 14,83 b POC nasi 150 ml/L air + AB mix 4 ml/L air 13,00 bc
POC nasi 200 ml/L air 10,55 c
KK = 11,56%
Keterangan : angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata menurut uji DNMRT pada taraf nyata 5%.
Hasil uji DNMRT 5% menunjukkan perbedaan perlakuan data terhadap tinggi tanaman pakcoy. Pertumbuhan tanaman pakcoy tertinggi dapat terlihat dari perlakuan AB mix 10 ml/L air yaitu sebesar 18,40 cm dan perlakuan POC nasi 200 ml/L air menghasilkan tinggi tanaman terendah yaitu 10,55 cm dengan selisih sebesar 7,85 cm. Kombinasi POC nasi 50 ml/L air + AB mix 8 ml/L air menunjukkan tinggi tanaman sebesar 15,28 cm. Pada perlakuan kombinasi POC nasi 100 ml/L air + AB mix 6 ml/L air menghasilkan tinggi sebesar 14,83 cm dan perlakuan kombinasi POC nasi 150 ml/L air + AB mix 4 ml/L air menunjukkan hasil sebesar 13,00 cm.
Pemberian POC nasi 200 ml/L air menunjukkan tinggi tanaman paling rendah bila dibandingkan dengan perlakuan lain. Hal ini disebabkan perlakuan POC belum dapat memenuhi kebutuhan nutrisi dan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman pakcoy. Berdasarkan literatur oleh Lingga, (2011) menyatakan bahwa kandungan nitrogen dan fosfat dalam formula nutrisi dapat mempengaruhi tinggi pada tanaman yang ada. POC nasi basi mengandung unsur N sebesar 7,71%, P sebesar 17,61%, K sebesar 9,45%, dan pH sebesar 3,1 (Lampiran 7). Pemberian AB
16
mix 10 ml/L air menunjukan hasil tertinggi bila dibandingkan dengan rata – rata tinggi tanaman. Perlakuan AB mix 10 ml/L air terbukti dapat memenuhi kebutuhan tanaman dikarenakan kandungan fosfat, nitrogen, dan fosfor yang tinggi dalam AB mix. Stok A mix mengandung unsur N dalam bentuk NO3- dan NH4+, unsur P dalam bentuk H2PO4-, HPO4- atau PO43-, unsur K dalam bentuk K+ dan unsur Ca dalam bentuk Ca2+, sedangkan stok B Mix mengandung unsur Mg dalam bentuk Mg2+, unsur S dalam bentuk SO4- dan unsur mikro dalam bentuk FeSO4 (Ariananda, 2020).
Selain pemberian nutrisi, faktor luar juga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Menurut Sitompul dan Guritno, (1995), tinggi tanaman dipengaruhi oleh suhu, kelembaban, intensitas cahaya, dan CO2
yang diterima tanaman. Meskipun terdapat pengacakan terhadap letak tanaman pakcoy, namun intensitas cahaya yang diterima setiap tanaman memberikan dampak baik terhadap tinggi tanaman. Menurut Yustiningsih, (2019) efisiensi penyerapan cahaya matahari oleh daun dapat menghasilkan perubahan morfologi dan fisiologi berbeda pada tanaman. Lebih lanjut oleh Peri et al., (2009) bahwa struktur anatomi dan morfologi daun merupakan salah satu mekanisme adaptasi yang dilakukan tumbuhan terhadap intensitas cahaya yang berbeda.
Laju pertumbuhan tinggi tanaman pakcoy pada kombinasi konsentrasi POC nasi dan AB mix umur 1 MST hingga 4 MST dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Laju pertumbuhan tinggi tanaman pakcoy pada kombinasi konsentrasi POC nasi dan AB mix umur 1 MST hingga 4 MST.
17
B. Jumlah Daun
Hasil analisis ragam (Lampiran 5.2) menunjukkan bahwa pemberian beberapa kombinasi konsentrasi POC nasi dan AB mix memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap jumlah daun tanaman pakcoy. Data pengamatan jumlah daun tanaman pakcoy dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Jumlah daun tanaman pakcoy pada berbagai kombinasi konsentrasi POC nasi basi dan AB mix pada umur 4 MST.
Kombinasi POC nasi dan AB mix (ml/L) Jumlah daun (helai)
AB mix 10 ml/L air 18,91 a
POC nasi 50 ml/L air + AB mix 8 ml/L air 15,09 b POC nasi 100 ml/L air + AB mix 6 ml/L air 12,12 c POC nasi 150 ml/L air + AB mix 4 ml/L air 11,25 c
POC nasi 200 ml/L air 6,83 d
KK = 11,35%
Keterangan : angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata menurut uji DNMRT pada taraf nyata 5%.
Berdasarkan Tabel 3, terlihat bahwa pemberian kombinasi konsentrasi POC nasi basi dan AB mix berpengaruh terhadap jumlah daun tanaman pakcoy.
Pemberian AB mix 10 ml/L air menunjukkan jumlah daun terbanyak yaitu 18,91 helai. Pada pemberian perlakuan POC nasi 200 ml/L air menghasilkan jumlah daun terkecil yaitu 6,83 helai, selisih antara jumlah helai daun tertinggi dengan jumlah helai daun terendah yakni 12,08 helai. Perlakuan lain berupa kombinasi POC nasi + AB mix menunjukkan hasil beragam, mulai dari 11,25 helai – 15,09 helai pada tanaman pakcoy.
Perlakuan POC nasi 200 ml/L air menunjukkan jumlah daun lebih sedikit bila dibandingkan perlakuan lain dengan campuran AB mix. POC nasi basi tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman pakcoy. Pupuk yang diberikan harus memiliki kandungan nitrogen (N) tinggi, sedangkan kandungan N pada POC hanya sebesar 7,71% (Lampiran 7). Kandungan unsur hara dalam satu set nutrisi hidroponik AB mix terdiri dari 2 bagian (kantong A dan kantong B) antara lain NO3 9,90%; NH4 0,48%; P205 4,83%; K20 16,50%; MgO 2,83%; CaO 11,48%; SO3 3.81%; B 0.013%; Mn 0,025%; Zn 0,015 %; Cu 0,002%; Mo 0,003%; Fe 0,037%
(Nurawalia, 2022).
18
Nitrogen membantu tanaman dalam membentuk klorofil sehingga memaksimalkan kemampuan tanaman untuk berfotosintesis. Fotosintesis dapat mendorong proses pembelahan serta pemanjangan sel yang berguna untuk membentuk daun baru.
Laju pertumbuhan jumlah daun tanaman pakcoy pada kombinasi konsentrasi POC nasi dan AB mix umur 1 MST hingga 4 MST dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Laju pertumbuhan jumlah daun tanaman pakcoy pada kombinasi konsentrasi POC nasi dan AB mix umur 1 MST hingga 4 MST.
Peningkatan jumlah daun setiap minggu pada Gambar 2 menunjukkan bahwa kombinasi konsentrasi POC nasi dan AB mix berpengaruh pada tanaman pakcoy. Pemberian AB mix 10 ml/L air menunjukkan jumlah daun terbanyak, sejalan dengan peningkatan tinggi tanaman pakcoy (Tabel 1). Hal ini sesuai dengan pernyataan Hartus, (2006) bahwa jumlah daun tanaman meningkat seiring dengan bertambahnya tinggi pada tanaman. Menurut Gardner et al., (1991) translokasi hasil asimilat pada fase pertumbuhan sebagian besar digunakan untuk perkembangan dan pembentukan organ vegetatif seperti batang, daun, dan akar.
C. Lebar Daun
Hasil analisis ragam (Lampiran 4.3) menunjukkan bahwa pemberian beberapa kombinasi konsentrasi POC nasi dan AB mix memberikan pengaruh
19
berbeda nyata terhadap lebar daun tanaman pakcoy. Data pengamatan jumlah daun tanaman pakcoy dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Lebar daun tanaman pakcoy pada berbagai kombinasi konsentrasi POC nasi basi dan AB mix pada umur 4 MST.
Kombinasi POC nasi dan AB mix (ml/L) Lebar daun (cm)
AB mix 10 ml/L air 6,87 a
POC nasi 50 ml/L air + AB mix 8 ml/L air 5,97 b POC nasi 100 ml/L air + AB mix 6 ml/L air 5,75 bc POC nasi 150 ml/L air + AB mix 4 ml/L air 5,05 c
POC nasi 200 ml/L air 3,98 d
KK = 10,23%
Keterangan : angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata menurut uji DNMRT pada taraf nyata 5%.
Hasil uji DNMRT 5% menunjukkan keragaman data terhadap lebar daun tanaman pakcoy. Perlakuan AB mix 10 ml/L air menunjukkan daun terlebar yaitu 6,87 cm, sementara perlakuan POC nasi 200 ml/L air menunjukkan daun paling kecil yakni sebesar 3,98 cm. selisih antara jumlah daun paling lebar dan paling kecil yaitu 2,98 cm. Perlakuan pada tanaman pakcoy lain dengan pemberian kombinasi AB mix dan POC nasi menghasilkan lebar daun antara 5,05 cm – 5,97 cm. Jumlah lebar daun terkecil muncul pada perlakuan POC nasi 200 ml/L air bila dibandingkan dengan perlakuan kombinasi AB mix dan POC nasi. Jumlah daun terlebar terlihat pada perlakuan AB mix 10 ml/L air.
AB mix memberikan respon positif terhadap pertumbuhan tanaman pakcoy. Rendahnya unsur hara N, P, dan K dalam POC nasi mempengaruhi lebar daun pada tanaman pakcoy. AB mix mengandung unsur hara nitrogen lebih banyak sehingga dapat mempercepat pertumbuhan dan perkembangan daun tanaman pakcoy. Gardner et al., (1991) menyebutkan bahwa defisiensi N dapat menyebabkan pengurangan luas daun terutama pada daun – daun yang terletak di posisi bawah yang rentan mengalami penuaan. Tanaman akan mencapai pertumbuhan dan perkembangan optimal apabila ketersediaan unsur hara, air, dan mineral telah terpenuhi (Wibowo et al., 2017).
20
Laju pertumbuhan lebar tanaman pakcoy pada kombinasi konsentrasi POC nasi dan AB mix umur 1 MST hingga 4 MST dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Laju pertumbuhan lebar daun tanaman pakcoy pada kombinasi konsentrasi POC nasi dan AB mix umur 1 MST hingga 4 MST.
Berdasarkan Gambar 3, terlihat peningkatan lebar daun tanaman pakcoy dari umur 1 MST sampai 4 MST. Pertambahan lebar daun dengan jumlah signifikan terjadi pada 2 MST karena akar tanaman pakcoy mampu menyerap unsur hara dengan baik sampai waktu panen tiba. Pada umur 2 MST, tanaman masih berada dalam masa vegetatif sehingga kebutuhan akan unsur hara sangat diperlukan untuk menopang laju pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Menurut Sarido, (2017) perbedaan lebar daun disebabkan oleh tinggi dan rendahnya kandungan unsur hara yang diberikan pada tanaman. Banyaknya unsur hara yang diberikan bisa menyebabkan tanaman mengalami keracunan.
D. Panjang Akar
Hasil analisis ragam (Lampiran 5.4) menunjukkan bahwa pemberian berbagai kombinasi konsentrasi POC nasi dan AB mix memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap pengamatan panjang akar tanaman pakcoy. Data pengamatan panjang akar tanaman pakcoy dapat dilihat pada Tabel 4.
21
Tabel 4. Panjang akar tanaman pakcoy pada berbagai kombinasi konsentrasi POC nasi dan AB mix pada umur 4 MST.
Kombinasi POC nasi dan AB mix (ml/L) Panjang Akar (cm)
AB mix 10 ml/L air 20,84 a
POC nasi 50 ml/L air + AB mix 8 ml/L air 13,21 b POC nasi 100 ml/L air + AB mix 6 ml/L air 15,90 ab POC nasi 150 ml/L air + AB mix 4 ml/L air 14,81 b
POC nasi 200 ml/L air 11,43 b
KK = 23,25%
Keterangan : angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata menurut uji DNMRT pada taraf nyata 5%.
Hasil uji DNMRT 5% menunjukkan keragaman data terhadap panjang akar tanaman pakcoy. Akar terpanjang dapat terlihat dari perlakuan AB mix 10 ml/L air yaitu sebesar 20,84 cm dan perlakuan POC nasi 200 ml/L air menghasilkan akar terpendek yaitu 11,43 cm, selisih antara akar terpanjang dan terpendek yaitu sebesar 9,41 cm. Kombinasi POC nasi 50 ml/L air + AB mix 8 ml/L air menunjukkan panjang akar yaitu 13,21 cm. Pada perlakuan kombinasi POC nasi 100 ml/L air + AB mix 6 ml/L air menghasilkan panjang akar sebesar 15,90 cm dan perlakuan kombinasi POC nasi 150 ml/L air + AB mix 4 ml/L air menghasilkan panjang akar yaitu 14,81 cm.
AB mix 10 ml/L air menghasilkan akar terpanjang yaitu 20,84 cm. Nutrisi AB mix dapat memenuhi kebutuhan unsur hara makro dan mikro pada tanaman pakcoy. Menurut Subhan et al., (2009) penambahan pupuk N, P, dan K meningkatkan diameter batang, panjang akar, bobot buah, dan tinggi tanaman.
Yulia, (2022) menyatakan bahwa apabila unsur N tersedia dalam jumlah banyak, maka akan terbentuk protein dalam jumlah banyak sehingga tanaman dapat bertumbuh lebih baik lagi. Perlakuan POC nasi 200 ml/L air menunjukkan akar paling pendek bila dibandingkan dengan perlakuan kombinasi AB mix + POC nasi.
POC nasi tidak dapat memenuhi kebutuhan unsur hara pada tanaman pakcoy.
Pemanjangan akar yang dilakukan oleh tanaman bertujuan untuk mencari lebih banyak nutrisi dan air guna meningkatkan pertumbuhan serta perkembangan tanaman. Sapito, (2013) menyebutkan bahwa unsur hara N sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses pertumbuhan tanaman seperti perpanjangan sel dan pembelahan sel yang mempengaruhi pertumbuhan panjang akar.
22
Perkembangan tanaman dapat dilihat saat mengukur panjang akar, sehingga dapat diketahui sejauh apa usaha tanaman tersebut dalam mencari unsur hara untuk kelangsungan hidup (Sitompul, 1995). Priambodo et al., (2014) menyebutkan bahwa tanaman dengan akar panjang memiliki kelangsungan hidup relatif lebih baik bila dibandingkan tanaman dengan akar pendek. Tanaman dapat memberikan hasil terbaik serta maksimal bila memperhatikan pertumbuhan organ – organ tanaman seperti akar, daun, dan batang secara seimbang selama pembentukan tanaman.
E. Berat Segar per Tanaman
Hasil analisis ragam (Lampiran 5.5) menunjukkan bahwa pemberian berbagai kombinasi konsentrasi POC nasi dan AB mix memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pengamatan berat basah tanaman pakcoy. Data pengamatan berat segar tanaman pakcoy dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Berat segar tanaman pakcoy pada berbagai kombinasi konsentrasi POC nasi dan AB mix saat umur 4 MST.
Kombinasi POC nasi dan AB mix (ml/L) Berat Basah (gram)
AB mix 10 ml/L air 98,66 a
POC nasi 50 + AB mix 8 ml/L air 55,34 b
POC nasi 100 + AB mix 6 ml/L air 38,50 c
POC nasi 150 + AB mix 4 ml/L air 30,33 cd
POC nasi 200 ml/L air 15,71 d
KK = 22,32%
Keterangan : angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata menurut uji DNMRT pada taraf nyata 5%.
Berdasarkan hasil pengamatan berat segar tanaman pakcoy yang dilakukan pada minggu ke 4 terlihat perbedaan rata – rata bobot tanaman setiap perlakuan.
Permberian AB mix 10 ml/L air memberikan berat segar yang paling besar yaitu 98,66 gram dan POC nasi 200 ml/L air menunjukkan berat segar yang paling ringan yaitu sebesar 15,71 gram. Perlakuan lain menggunakan kombinasi nutrisi AB mix dan POC nasi menunjukkan rata – rata berat segar mulai dari 30,33 gram – 55,34 gram.
POC nasi 200 ml/L air memberikan rata – rata berat segar paling ringan bila dibandingkan dengan perlakuan K1, K2, K3, dan K4. Hal ini disebabkan POC nasi
23
belum dapat memenuhi kebutuhan tanaman pakcoy. Kurangnya kandungan N, P, dan K di dalam POC nasi membuat tanaman pakcoy tidak dapat mencapai berat optimal, berat segar tanaman dipengaruhi oleh kemampuan tanaman dalam menyerap air dan unsur hara. Menurut Erawan, (2013) unsur N memiliki peranan penting dalam fase vegetatif tanaman, nitrogen merupakan unsur hara esensial untuk pembelahan dan perpanjangan sel, sehingga unsur N merupakan penyusunan protoplasma yang terdapat dalam jaringan seperti titik tumbuh.
Berat segar dari tanaman dapat meningkat apabila terjadi perkembangan pada bagian lain tanaman tersebut. Perlakuan AB mix 10 ml/L air menunjukkan berat segar tanaman paling besar dibandingkan dengan perlakuan lain, besarnya berat segar seiring dengan pertambahan jumlah daun dan panjang akar, ditunjukkan oleh Tabel 2 dan Tabel 4 diatas. Anggara (2017) menyebutkan bahwa ukuran daun yang besar dan jumlah helai daun yang banyak menandakan optimalnya sintesis unsur hara dan peningkatan bahan kering yang lebih banyak. Jumlah daun tanaman yang bertambah secara otomatis meningkatkan berat tanaman tersebut, karena daun merupakan organ yang banyak mengandung air dan dapat meningkatkan kadar air tanaman (Polii, 2009).
Gambar 4. Perbandingan hasil panen tanaman pakcoy dengan sistem hidroponik rakit apung.
Keterangan: a (AB mix 10 ml/L air); b (POC nasi 50 ml/L air + AB mix 8 ml/L air);
c (POC nasi 100 ml/L air + AB mix 6 ml/L air); d (POC nasi 150 ml/L air + AB mix 4 ml/L air); e (POC nasi 200 ml/L air)
Berat segar tanaman umumnya terdiri dari 70% - 90% air, karena air merupakan komponen penting yang menunjang kehidupan pada tanaman (Sari, 2015). Pengukuran berat segar pada tanaman pakcoy dilakukan pada pagi hari, guna mencegah terjadinya penguapan akibat cuaca panas, suhu, dan sinar matahari berlebih. Penelitian oleh Lahadassy (2007), untuk mencapai bobot segar tanaman yang optimal, dibutuhkan banyak energi dan unsur hara agar peningkatan jumlah maupun ukuran sel dapat optimal serta memungkinkan adanya peningkatan
a b c d e
24
kandungan air tanaman yang optimal pula, sebagian besar bobot segar tanaman berasal dari kandungan air.
F. Berat Kering per Tanaman
Hasil analisis ragam (Lampiran 5.6) menunjukkan bahwa pemberian pemberian beberapa kombinasi konsentrasi POC nasi dan AB mix memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap pengamatan berat kering tanaman pakcoy. Data pengamatan berat kering tanaman pakcoy dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Berat kering tanaman pakcoy pada berbagai kombinasi konsentrasi POC nasi dan AB mix saat umur 4 MST.
Kombinasi POC nasi dan AB mix (ml/L) Berat Kering (gram)
AB mix 10 ml/L air 8,91 a
POC nasi 50 + AB mix 8 ml/L air 5,75 b
POC nasi 100 + AB mix 6 ml/L air 2,92 c
POC nasi 150 + AB mix 4 ml/L air 2,66 c
POC nasi 200 ml/L air 0,25 d
KK = 25,93%
Keterangan : angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata menurut uji DNMRT pada taraf nyata 5%.
Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan nyata pada setiap perlakuan tanaman pakcoy. Berat kering yang paling besar ditunjukkan oleh perlakuan AB mix 10 ml/L air yaitu 8,91 g, sementara berat kering paling kecil dihasilkan oleh perlakuan POC nasi 200 ml/L air. Perlakuan kombinasi antara AB mix dan POC nasi menunjukkan hasil rata – rata sebesar 2,66 g – 5,75 g.
Perlakuan POC nasi 200 ml/L air memberikan hasil berat kering paling kecil bila dibandingkan dengan perlakuan lain. Hal ini disebabkan nutrisi tanaman tidak dapat terpenuhi dan mempengaruhi proses fotosintesis yang terjadi pada tanaman.
Fotosintesis tidak dapat menghasilkan energi yang cukup untuk mendukung perkembangan sel, sehingga perkembangan pada berat, tinggi, dan lebar daun terganggu. Hasil rendah pada pemberian POC nasi 200 ml/L air juga didukung oleh jumlah rata – rata panjang tanaman hingga berat basah tanaman. Hal ini juga didukung oleh Gardner et al., (1991) bahwa rendahnya penyerapan unsur hara dapat mempengaruhi laju fotosintesis dan kandungan protein sehingga perkembangan tanaman menjadi terhambat. Proses ini berakibat pada rendahnya hasil berat segar
25
tanaman yang berbanding lurus dengan hasil berat kering tanaman. Garnisia, (2009) menyebutkan nutrisi yang diberikan pada tanaman harus berada dalam komposisi tepat. Perubahan yang terjadi baik kekurangan atau kelebihan akan mengakibatkan ternganggunya pertumbuhan tanaman dan hasil produksi menjadi tidak maksimal.
Pemberian perlakuan AB mix 10 ml/L air menunjukkan hasil berat kering terbesar, sejalan dengan hasil yang ditunjukkan pada pengukuran tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, panjang akar, dan berat segar yang mengalami peningkatan setiap minggunya sesuai Tabel 1 hingga Tabel 5. Hal ini menunjukkan bahwa nutrisi AB mix memiliki unsur hara makro dan mikro dalam jumlah cukup untuk diserap oleh tanaman pakcoy. Peningkatan pada bagian lain organ tanaman, mendorong pertambahan berat segar tanaman yang mempengaruhi berat kering tanaman. Penelitian oleh Fitri et al., (2021) menyatakan bahwa bobot kering tanaman ditentukan oleh bobot kering masing – masing organ penyusun tanaman tersebut. Pertumbuhan akar, batang, dan daun harus berlangsung secara seimbang untuk membentuk tanaman. Sejalan dengan penelitian oleh (Prayudyaningsih, 2008) bahwa bobot kering suatu tanaman menunjukkan bahwa proses fotosintesis yang terjadi selama pertumbuhan, telah berlangsung dengan baik dan efisien karena meningkatnya berat kering tanaman tersebut.
Pertumbuhan suatu tanaman dapat diketahui salah satunya dengan mengukur biomassa tanaman melalui parameter pengamatan bobot kering.
Dilakukan dengan mengeringkan tanaman menggunakan oven agar tanaman menjadi kering mutlak. Berat kering pada tanaman menunjukkan akumulasi senyawa organik yang berhasil disintesis oleh tanaman dari senyawa anorganik, seperti air, mineral, dan karbiondioksida. Unsur hara akan diserap oleh akar sehingga dapat mendukung pertambahan bobot kering tanaman (Cahyanda et al., 2022). Lebih lanjut Moerhasrianto, (2011) menyebutkan bahwa data berat kering tanaman didukung oleh data volume akar, yang menunjukkan bahwa tanaman dengan volume akar paling tinggi yang mengakibatkan berat kering semakin tinggi.
Hal ini disebabkan oleh penyerapan unsur hara dengan baik sehingga mendorong metabolisme tanaman berjalan secara maksimal
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh hasil bahwa pemberian AB mix 10 ml/L air menghasilkan tanaman pakcoy dengan tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, panjang akar, berat segar, dan berat kering tanaman paling maksimal dibandingkan dengan pemberian konsentrasi kombinasi POC nasi dan AB mix.
Pemberian konsentrasi kombinasi POC nasi dengan AB mix yang menunjukkan hasil terbaik terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman pakcoy adalah konsentrasi kombinasi POC Nasi 50 ml/L air + AB mix 8 ml/L air.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah disimpulkan di atas, dapat disarankan pada tanaman pakcoy dengan sistem hidroponik rakit apung untuk menggunakan kombinasi AB mix dan POC jenis lain agar ketergantungan pada AB mix bisa dikurangi.
DAFTAR PUSTAKA
Akso, D. (2018). Pengaruh Lama Fermentasi dan Bahan Asal yang Berbeda Terhadap Kandungan Pupuk Cair Mol (Mikroorganisme Lokal). Skripsi. Pekanbaru:
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Alviani, P. (2015). Bertanam Hidroponik untuk Pemula. Jakarta: Bibit Publisher.
Andriyani, D. (2019). Pengaruh Konsentrasi Nutrisi Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Pakcoy (Brassica rapa L.) dengan Hidroponik Sistem Wick.
Skripsi. Universitas Jember
Anggraini, K., Yuliadhi, K. A., & Widaningsih, D. (2018). Pengaruh Populasi Kutu Daun pada Tanaman Cabai Besar (Capsicum annuum L.) terhadap Hasil Panen.
Jurnal Agroekoteknologi Tropika, 7(1): 113 – 121.
Ariananda, B., T. Nopsagiarti dan M. Mashadi. 2020. Pengaruh Pemberian berbagai Konsentrasi Larutan Nutrisi AB mix terhadap Pertumbuhan dan Produksi Selada (Lactuca sativa L.) Hidroponik Sistem Floating. Jurnal Pengembangan Ilmu Pertanian, 9(2): 185 – 195.
Ansori, I., Nafi’ah, H. H., & Dadi, N. (2021). Pengaruh Pemberian Biochar dan Pupuk Hayati terhadap Pertumbuhan dan Hasil Pakcoy. Jurnal Agroteknologi dan Sains, 5(2): 394-408.
BPS. (2023). Statistika Hortikultura 2022. Direktorat Statistik Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan.
BPS. (2017). Konsumsi Buah dan Sayur Susenas Maret 2016: dalam Rangka Hari Gizi Nasional Badan Pusat Statistik: 25 Januari 2017.
BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian). 2016. Hidroponik Sayuran di Perkotaan. Jakarta: Kementerian Pertanian.
Cahyanda, R. Q., Agustin, H., & Fauzi, A. R. (2022). Pengaruh Metode Penanaman Hidroponik dan Konvensional Terhadap Pertumbuhan Tanaman Selada Romaine dan Pakcoy. Jurnal Bioindustri. 4(2): 109–119.
Elsita, E. (2018). Respon Pertumbuhan Sawi Sendok (Brassica rapa L.) dengan Pemberian Pupuk Organik Cair Mikro Organisme Lokal (MOL) Nasi Basi.
Skripsi. Universitas Katolik Widya Mandala Madiun.
Fahrudin, F. (2009). Budidaya Caisim (Brassica juncea L.) Menggunakan Ekstrak Teh dan Pupuk Kascing. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
Fajeriana, N., Ali, A., & Manda D., P. (2021). Pemanfaatan Nasi Basi Menjadi Pupuk Cair untuk Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) dengan Teknik Hidroponik Rakit Apung. Jurnal Galung Tropika. 10(3): 397-409 Fitri, R., Sukawati, N., Afra, H. A., & Pevria, R. (2021). Respon Pertumbuhan
Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.) dengan Pemberian Beberapa Konsentrasi