PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Bagaimana bentuk konstruksi sosial pendidikan anak autis dalam kelompok belajar anak berkebutuhan khusus di kota makassar. Apa akibat sosial dari konstruksi sosial anak autis dalam kelompok belajar anak berkebutuhan khusus di Kota Makassar.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Defenisi Operasional
Penelitian yang dilakukan Vina pada tahun 2011 berjudul Pengaruh Terapi ABA Terhadap Interaksi Sosial Anak Autis di SLB Autis Prananda Bandung. Hal ini dikarenakan anak autis pada umumnya seringkali mempunyai kelainan perkembangan sosial yang dapat menyebabkan anak menjadi menarik diri (dengan cara menarik diri). Pada umumnya anak autis sering mengalami gangguan perkembangan sosial sehingga menyebabkan anak menjadi menarik diri (withdrawal).
Kemampuan anak pada kelompok pasif lebih tinggi dibandingkan anak autis pada kelompok terkendali. Pada tahap ini kemampuan komunikasi anak autis sudah lebih baik karena meliputi gerak tubuh, suara, dan gambar. Lokasi penelitian ini berada di Jalan Lagaligo, tepatnya tempat berkumpulnya kelompok pendidikan anak autis di kota Makassar.
Berdasarkan observasi diperoleh data yang memperkuat kemampuan komunikasi anak autis dalam interaksi sosial di Kelompok Bermain Cinta Anak Fort Rotterdam. Hasil observasi terkait pencarian data kemampuan komunikasi anak autis dalam interaksi sosial sebenarnya fokus pada kemampuan orang tua dalam memahami anak autis. Hal ini menunjukkan bahwa responden merupakan pihak yang cukup rasional dalam memberikan pendidikan kepada anak autis di kelompok bermain anak Fort Rotterdam Kota Makassar.
KAJIAN PUSTAKA
Kajian Toeri
- Penelitian Terdahulu
- Anak Berkebutuhan Khusus
- Konstruksi Sosial
- Pendidikan Inklusi
- Interaksi Sosial
- Konsep Realita
- Komunikasi Anak Autis
Informan Penelitian
Fokus Penelitian
Instrument Penelitian
Jenis dan Sumber Data
Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data tersebut diperoleh.Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua sumber data masing-masing. Sumber data primer, yaitu data yang dikumpulkan langsung oleh peneliti (atau stafnya) dari sumber pertama. Sumber data sekunder yaitu data yang dikumpulkan langsung oleh peneliti sebagai penunjang sumber pertama.
Tehnik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini wawancara yang digunakan adalah wawancara tatap muka sehingga informasi dapat diperoleh langsung dari sumber terdekat subjek. Teknik metode dokumentasi ini diawali dengan pengumpulan, pemilihan dan kategorisasi dokumen sesuai dengan tujuan penelitian, kemudian diawali dengan penjelasan, pencatatan dan interpretasi, serta keterkaitannya dengan fenomena lain guna memperkuat status data. .
Tehnik Analisis Data
- Keabsahan Data
Dengan metode wawancara ini penulis dapat memperoleh data baik lisan maupun tulisan tentang komunikasi anak autis dalam interaksi sosial. Melihat hasil interpretasi tersebut memberikan bukti empiris bahwa untuk membangun keterampilan interaksi dan komunikasi anak autis, tutor dan orang tua mampu memberikan perhatian dan arahan khusus kepada anak autis. Hal ini dikarenakan tidak semua anak autis mampu menerima arahan yang diberikan oleh guru tutor, sehingga guru pendamping diharapkan mampu berperan aktif dalam proses interaksi dan komunikasi anak autis baik secara verbal maupun non verbal.
Berdasarkan berbagai implementasi dan hasil penelitian, konstruksi sosial anak autis yang berlangsung di kelompok bermain anak Fort Rotterdam adalah mampu bersosialisasi dengan lingkungan dan memberikan respon positif bila dirangsang oleh guru dan orang tua, sehingga terjadi interaksi dan komunikasi. lebih baik, lebih baik dari sebelumnya. Bentuk dan implikasi konstruk pendidikan sosial pada anak autis dapat dilihat pada proses internalisasi dan peningkatan kemampuan anak dalam berkomunikasi dan kemampuan menggunakan kata-kata untuk menyampaikan pesan atau informasi. Konstruk pendidikan sosial pada anak dapat membantu anak autis yang mengalami kesulitan berbicara/berbicara, dan sering mengekspresikan dirinya melalui perilaku.
Dalam upaya memahami dan mengatasi permasalahan anak autis di sekolah, tidak mungkin melihat permasalahan tersebut secara terpisah dan dalam ruang. Dari hasil penelitian mengenai konstruksi sosial pendidikan anak autis (studi kasus kelompok belajar anak penyandang disabilitas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. Diharapkan kepada konselor dan orang tua anak autis untuk lebih memberikan bimbingan dan perhatian terhadap anak autis. anak dalam melakukan interaksi sosial dengan benar sehingga kemampuan komunikasinya meningkat.
Dapat membantu peneliti selanjutnya untuk menambah pengetahuan dan informasi tentang Konstruksi Sosial Pendidikan Anak Autis (Studi Kasus Kelompok Belajar Anak Autis di Kota Makassar) dan membantu penelitian lebih lanjut yang relevan.
GAMBARAN DAN HISTORIS LOKASI
Kota Makassar
Ford Rotterdam
Salah satunya adalah kelompok pecinta anak autis, kelompok ini didirikan atas inisiatif para ibu-ibu yang mempunyai anak autis, yang mengadakan silaturahmi dan berdiskusi mengenai permasalahan penanganan anak autis berdasarkan pengalaman masing-masing keluarga. HR tidak bisa berkomunikasi setelah membaca karena HR masih kesulitan memahami bahasa tulisan setelah membaca. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada TPK mengenai kemampuan komunikasi HR dalam interaksi sosial, diketahui bahwa kemampuan verbal HR belum dapat memahami komunikasi dua arah dan baru memahami komunikasi satu arah.
Berdasarkan hasil wawancara dengan IR selaku guru mengenai interaksi sosial positif pada anak, AM biasanya selalu menyapa orang yang ditemuinya, bentuk sapaan berupa memanggil nama, AM terkadang hanya menirukan panggilan, AM tidak pernah memperhatikan. sumber suara, respon AM saat berinteraksi juga sangat buruk. Ketika anak meminta maaf, kata maaf biasanya diulang-ulang, HR juga tidak mampu mengikuti percakapan sederhana. Hal ini juga didukung dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sitti Nur Khotimah yang berjudul Upaya Penanganan Gangguan Interaksi Sosial Pada Anak Autis, diperoleh hasil bahwa penanganan masalah interaksi sosial anak autis pada kelompok anak permainan cinta dilakukan dengan pengobatan dini yaitu latihan salam, senam, makan, bermain bersama, kegiatan berenang, terapi musik dan kegiatan lain yang lebih kompleks dan terpadu pengobatannya antara lain terapi okupasi, terapi bicara, metode lovaas, metode driil, metode matahari terbit, dan satu per satu. metode. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa PB termasuk dalam kelompok anak autis pasif karena merupakan tipe anak autis yang tidak berinteraksi secara spontan, namun tidak menolak upaya interaksi dari pihak lain.
Perkembangan anak autis dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu cara anak berinteraksi, cara berkomunikasi, alasan anak berkomunikasi dan tingkat pemahaman anak. Pemerintah harus turut serta mendukung program pembinaan sosial bagi komunitas anak autis dengan menyediakan sarana dan prasarana pendukung program tersebut.
BENTUK KONTRUKSI PENDIDIKAN SOSIAL
Hasil Penelitian
Sebaliknya, jika perilaku anak tidak suka menyendiri atau menyendiri dan interaksi anak dengan orang lain normal-normal saja, maka anak tersebut tidak termasuk anak autis. Menurut Lumbantobing (Pamuji), anak autis mengalami gangguan perkembangan fungsi otak meliputi bidang sosial dan afektif, komunikasi verbal dan nonverbal, imajinasi, kelenturan, minat, kognisi dan perhatian. Pemahaman ini menunjukkan bahwa anak autis mengalami gangguan perkembangan otak. fungsi yang mencakup domain sosial dan afektif, serta kognisi dan perhatian.
Anak autis pada kelompok ini sangat terputus dalam berinteraksi dengan orang lain, anak autis biasanya merasa tidak nyaman dan marah. Anak autis yang termasuk dalam kelompok jauh sangat sulit menirukan gerakan-gerakan yang bermakna seperti melambai, mengangguk, dan sebagainya. Ketiga, kelompok aktif tapi aneh adalah kelompok anak autis yang mungkin mendekati orang lain, mencoba bertanya atau bertanya, namun bukan untuk bersenang-senang atau untuk tujuan interaksi sosial timbal balik.
Kemampuan anak autis dalam mendekati orang lain biasanya bersifat fisik, sangat terikat dengan orang lain, meskipun orang tersebut tidak. Anak autis dapat berinteraksi dengan orang yang sudah lama dikenalnya, namun anak autis akan kesulitan berinteraksi dengan orang yang baru dikenalnya. Anak autis dapat berinteraksi dalam waktu yang cukup lama dan dapat menggunakan bentuk komunikasi tertentu bahkan dalam situasi khusus.
Keterampilan komunikasi yang baik akan membantu anak autis dalam memahami dan menyampaikan informasi, menanyakan hal yang disukainya, serta menyampaikan dan mengungkapkan keinginannya. Kebanyakan anak autis yang dapat berbicara hanya menggunakan kalimat-kalimat pendek dengan kosakata yang sederhana, namun kosakatanya terbatas dan ucapannya sulit dipahami. Berdasarkan uraian di atas, peneliti mengumpulkan data dengan cara mengamati subjek selama berada dalam kelompok dan melakukan wawancara dengan konselor khusus yaitu orang tua anak, sehingga dapat diperoleh data tentang keterampilan komunikasi anak autis dalam interaksi sosial dengan orang lain. dalam grup. kelompok khusus anak autis di Kota Makassar.
Pembahasan Hasil Penelitian
ASLHA (America Speech Language Hearing Association) menyatakan bahwa komponen tuturan ada tiga, yaitu 1) artikulasi, 2) bunyi, 3) kefasihan Pernyataan tersebut tentu saja sejalan dengan hasil penelitian tentang SDM dimana SDM mempunyai kemampuan mengartikulasikan dan berbicara dengan lancar walaupun suara yang keluar masih terkesan pecah-pecah. Ekspresi wajah merupakan perilaku nonverbal utama yang mengungkapkan keadaan emosi seseorang.Pernyataan tersebut tentu tidak sesuai dengan hasil penelitian, dimana AS belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan ekspresi wajah. Perilaku tentunya mempengaruhi cara orang berinteraksi secara sosial, pengertian perilaku itu sendiri adalah segala sesuatu yang dilakukan, diucapkan, dilihat, dirasakan, didengar dari seseorang, atau yang dilakukan sendiri. Sesuai dengan pernyataan hasil penelitian dimana HR tidak mengalami gangguan pendengaran. Namun jika dipanggil tidak menjawab, padahal MH salah pun tidak mampu berinisiatif meminta maaf karena MH belum bisa membedakan benar dan salah, perilaku MH dalam mengikuti percakapan cenderung pasif atau kadang hanya diam. .
Pernyataan tersebut tentu tidak sesuai dengan hasil penelitian, dimana HR belum memiliki kemampuan dalam mengekspresikan ekspresi wajah. Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil penelitian, dimana HR, AM dan PB cenderung datar ketika berkomunikasi. PB mampu berbicara namun tidak dapat menggunakan ucapannya untuk berkomunikasi, sehingga dari hasil penelitian diketahui bahwa PB lebih banyak menunjukkan komunikasi verbal melalui sentuhan dan gerakan tubuh.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi PB berada pada tahap kedua yaitu tahap pemohon karena PB sadar bahwa perilakunya dapat mempengaruhi orang lain, misalnya jika menginginkan sesuatu PB akan menarik tangannya dan mengarah pada apa yang diinginkannya. Hal ini sedikit berbeda dengan pengembangan interaksi yang dilakukan oleh HR. , dimana HR lebih aktif dibandingkan dua rekannya PB dan AM. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa HR sering kali menyentuh orang-orang tertentu dalam bentuk sapaan, hal ini membuktikan bahwa bentuk interaksi yang terjadi pada setiap anak berbeda-beda, seperti yang terjadi pada HR, AM dan PB, meskipun ketiganya yang menunjukkan kemampuan verbal yang berbeda.
IMPLIKASI SOSIAL KONTRUKSI SOSIAL ANAK AUTIS
Interpretasi Hasil Penelitian
Cara Kerja Teori
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran
Dari penelitian yang dilakukan di Fort Rotterdam Kota Makassar mengenai konstruksi sosial komunitas anak autis, dapat diambil beberapa kesimpulan: Penulis bersekolah di SDN 017 Sabbang Kabupaten Luwu Utara pada tahun 2001 sampai dengan tahun 2007, tahun yang sama penulis pensiun melanjutkan pendidikannya. menempuh pendidikan di SMP Negeri 2 Sabbang Kabupaten Luwu Utara dan tamat pada tahun 2010, setelah itu penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Sabbang Kabupaten Luwu Utara pada tahun 2010 dan pada tahun 2013 pada tahun yang sama, penulis melanjutkan pendidikan pada jenjang sarjana ( S1) jurusan pendidikan sosiologi kampus Universitas Muhammadiyah Makassar.