Oleh
Tim Pengajar Hk. Pidana Erna Dewi
Diah GM.
M. Farid
Curriculum Vitae
Nama : Dr. Erna Dewi, S.H., M.H.
NIP : 196107151985032003(131474966)
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Jabatan : Lektor Kepala
Gol/Pangkat : IV b / Pembina Tingkat I
Pekerjaan : Dosen pada FH Unila masa kerja 30 tahun.
Pengasuh mk di FH Unila
Hukum Pidana
Hukum Acara Pidana
Delik Tertentu dalam KUHP
Hukum dan Kriminalistik
Hukum dan Kriminologi
Hukum Pidana Internasional (S1) dan HAM (S2)
Politik Hukum Pidana
Sistem Peradilan Pidana (S1) dan (S2)
Hk. Penitensier dan Pemasyarakatan
Studi Lembaga Penegak Hukum
Metodologi Penelitian Hukum.
Hukum Pidana
Hukum Pidana, selain mengatur tertib dan tatanan, ia juga
dimaksudkan sebagai desain masa depan masyarakat yang
melahirkannya.
Dari konstruksi berpikir semacam itu, Hukum Pidana tak
mendapatkan hak immunitas
(kebal thd. perubahan).
Hukum Pidana
Peranan para ahli Hukum Pidana kian dibutuhkan untuk mengamati setiap
perkembangan yang terjadi di masyarakat.
Hukum pidana, baik sebagai ilmu
(pengetahuan hukum pidana) maupun sebagai instrumen (perundang-
undangan hukum pidana) tetap terjaga sebagai pengawal kehidupan
masyarakat.
Hukum Pidana
Menjadi penting untuk mengawal dan menjaga dinamika Hukum Pidana agar tidak tertinggal oleh laju kereta
perubahan masy.
Hukum acapkali tidak bisa diterapkan, bukan hanya lantaran ketidakbecusan aparat, tapi juga karena instrumen
hukum itu sendiri yang tak mampu
menjawab tantangan perubahan zaman.
Hukum Pidana
Hukum tidak lagi membawa rasa keadilan masyarakat, tapi malah memuat ketidakadilan.
Ada banyak fenomena baru di masyarakat yang menyeruak di
bilik-bilik penegakan hukum yang
nyaris tak terjangkau hukum-hukum klasik yang sudah jamak di ranah
publik.
Hukum Pidana
Kejahatan transnasional/lintas batas (trans- national crime/cross-border crimes) yang
tidak lagi mengenal tapal batas teritorial dan sistem hukum, kejahatan di dunia maya,
terorisme, illegal logging, illegal mining, illegal fishing, kejahatan pencucian uang, serta kejahatan kerah putih yang baru – semua merupakan fenomena terkini yang membawa tantangan baru dan memiliki implikasi ke semua sektor kehidupan.
Hukum Pidana
Pendekatan-pendekatan konvensional untuk menangani kejahatan-kejahatan baru ini
sudah ketinggalan zaman. Selain modus-
modus operandi baru dalam kejahatan, juga ketidakberdayaan hukum di depan teknologi yang sophisticated, kemampuan finansial
organisasi dan pelaku kejahatan yang tak
terkira, prinsip zero-sum-game, dengan aktor berlatar multietnis kebangsaan, serta metode yang tak terdefinisikan.
Hukum Pidana
Semua itu membuat aparat
hukum tidak hanya kehilangan kemampuan untuk
mengantisipasinya, tapi acapkali kehilangan akal untuk
menanganinya.
Kejahatan seperti ini datang
tanpa wajah dan pergi pun tanpa
punggung.
Hukum Pidana
Perbuatan-perbuatan jahat yang tak terjangkau penegak dan instrumen hukum itu senantiasa
membawa dampak yang begitu masif dan dahsyat pada semua sendi kehidupan.
Ironisnya, saat itu aparat penegak hukum dengan pengetahuan konvensional yang
dimilikinya tidak mendukung dalam penegakan hukum. Kejahatan transnasional pun lalu lalang tanpa terendus.
Hukum Pidana
Perkembangan hukum pidana memasuki abad ke-21 menghadapi tuntutan
masyarakat internasional yang mendesak dalam menghadapi kejahatan
transnasional (transnational crime) atau kejahatan transnasional terorganisasi
(transnational organized crime (TOC)
serta kejahatan internasional
(international crime).
Hukum Pidana
Di samping kejahatan nasional (national
crime) di masing-masing negara di dunia.
Tuntutan masyarakat tersebut antara lain telah diwujudkan dalam berbagai konvensi internasional yang khusus
ditujukan untuk pencegahan dan pemberantasan kejahatan lintas batas/internasional
(transnational/international) tertentu spt:
Hukum Pidana
tindak pidana korupsi
tindak pidana pencucian uang
(money laundering) atas tp korupsi dll.
perdagangan perempuan dan anak (trafficking in women and child), dan
penyelundupan imigran atau senjata
api.
Hukum Pidana
Tuntutan masyarakat internasional yang diwujudkan dalam berbagai konvensi
internasional tersebut berdampak terhadap perkembangan tuntutan
keilmuan yang mau tidak mau harus disesuaikan dengan perkembangan konvensi tersebut; dalam hal hukum pidana dan kriminologi, maka
penyesuaian konsep, teori, dan analisis keilmuan merupakan suatu keharusan.
Hukum Pidana
Dalam masyarakat global dewasa ini tidak lagi harus berkutat dengan
pendirian bahwa sistem hukum pidana (Indonesia) adalah bersifat supreme
dan all embraces acts untuk seluruh
tipe dan modus operandi kejahatan,
baik kejahatan transnasional maupun
kejahatan internasional.
Hukum Pidana
Jika masih ada di kalangan akademisi yang berpendapat seperti itu, maka
ybs berkata dalam ruang hampa dan
bermimpi di abad ke-18, juga adalah
mereka yang menutup mata terhadap
perkembangan kemajuan peradaban
dan ketidakadaban yang berkembang
dalam masyarakat dunia.
Hukum Pidana
Ucapan Von Savigny beberapa abad yang lampau sudah memberi sinyal terutama bagi kalangan
akademisi, bahwa sifat dan karakteristik masyarakat itu terletak pada perkembangannya bukan kepada
sikap statis-tertutup dan inklusif karena bertentangan dengan proses hukum alam yang normal. Begitu pula dengan fenomena sosial tersebut seharusnya dikritisi sebagai feed-back terhadap setiap pendapat/doktrin atau asas-asas hukum yang sudah sekian abad
menjadi semacam dogma hukum di kalangan akademisi hukum.
Hukum Pidana
Pembentukan Peraturan Hukum Pidana yang ada
di masyarakat didasarkan atas nilai, norma,
sanksi, dan peraturan
tertulis.
Pengertian Nilai
Nilai: ukuran yang disadari atau tidak disadari oleh suatu masyarakat untuk
menetapkan suatu kebenaran, kebaikan, dll.
Nilai itu mempengaruhi tingkah laku orang di masyarakat
Ukuran-ukuran sesuatu disebut nilai
misalnya kejujuran, kesetiaan, kesucian, kegunaan, keindahan, kehormatan,
kesusilaan, dsb.
Pengertian Nilai
Nilai lebih abstrak daripada norma.
Sistem nilai (value system) di antara suatu bangsa/masyarakat/golongan
tidak sama. Oleh karena itu, nilai dan
norma yang berlaku di suatu bangsa
tidak selalu berlaku di bangsa lain.
Pengertian Norma/kaidah
Anggapan seseorang harus
berbuat atau tidak harus berbuat.
Anggapan atau asumsi yang
berada di masyarakat yang sedikit
atau banyak mengikat perbuatan
seseorang di dalam masyarakat
Pengertian Norma/kaidah
Anggapan ini memberi petunjuk kepada seseorang harus berbuat atau tidak harus berbuat sesuatu.
Jenis norma: Norma kesopanan,
norma kesusilaan, norma agama
dan norma hukum.
Pengertian Norma/kaidah
Setiap anggota masyarakat menghendaki norma yang ada di harus dipatuhi, akan tetapi tidak semua anggota masyarakat bertindak selaras dengan norma yang
berlaku. Tidak setiap orang bisa dan mau mematuhi norma.
Agar norma yang ada dipatuhi, maka masyarakat mengadakan sanksi atau penguat atas keberadaan norma.
Pengertian Norma/kaidah
Sebagian dari norma merupakan norma hukum, yaitu masyarakat melalui alat-alat perlengkap-annya dapat memaksakan
keberlakuan norma kepada orang yang tidak mau mematuhi norma.
Norma hukum menjadi aturan hukum, jika berbentuk suatu rumusan tertentu.
Aturan hukum yang dirumuskan secara tertulis disebut peraturan, misalnya peraturan Hukum Pidana.
Definisi HP: Perbuatan dan pidana
Aturan hukum, yang mengikatkan kepada suatu perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu suatu akibat berupa pidana (Edmund Mezger)
Definisi terkandung dua hal pokok, yaitu:
Perbuatan yang memenuhi syarat-syarat
tertentu: Perbuatan yang dilakukan oleh orang yang memungkinkan adanya penjatuhan pidana.
Bisa disebut perbuatan jahat (verbrechen atau crime) atau perbuatan dilarang
Pidana
Makna harfiah kata pidana: derita atau nestapa
Arti pidana adalah penderitaan yang sengaja dijatuhkan kepada orang yang melakukan
perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu.
Pidana dapat berupa pidana, tindakan tata tertib atau reaksi (adat).
Jenis-jenis pidana diatur dalam Pasal 10 KUHP.
Pengertian Hukum Pidana
Jenis HP: HP materiil, HP formil, hk. pelaksanaan
pidana.
Fungsi HP: Umum dan
khusus; Primer, sekunder,
dan subsidier.
Pengertian Hukum Pidana
IHP dan Kriminologi:
Normatif dan Faktual.
Sumber HP: KUHP & Perat.
Hk. pidana di luar KUHP
Pembagian HP: Umum dan
khusus
Jenis Hukum Pidana
Hukum pidana materiil atau HP substantif: KUHP
Hukum pidana formil/hukum acara pidana: KUHAP
Hukum pelaksanaan pidana:
Hukum Pemasyarakatan.
Jenis Hukum Pidana
Pasal 10 KUHP mengatur jenis pidana pokok dan pidana tambahan (stelsel
pidana) adalah:
Pidana pokok: pidana mati, pidana
penjara, pidana kurungan, dan pidana denda.
Pidana tambahan: pencabutan hak-hak tertentu, perampasan barang-barang
tertentu, dan pengumuman putusan hakim.
Hukum Pidana Materiil
Hukum Pidana yang memuat aturan-aturan yang
menetapkan atau merumuskan perbuatan-perbuatan yang
dapat dipidana, syarat-syarat
penjatuhan pidana, dan aturan
pidana
Hukum Pidana Formil
Hukum pidana yang mengatur (memberikan kewenangan
kepada) negara melalui alat- alat perlengkapan negara
untuk melaksanakan hak yang diberikan oleh perundang-
undangan untuk menjatuhkan
pidana.
Hukum Pelaksanaan Pidana
Hukum pidana yang mengatur
pelaksanaan keputusan pengadilan
(vonnis) yang telah berkekuatan tetap (inkracht van gewijsde) yang meliputi:
Pemidanaan/penjatuhan pidana/pemberian pidana/straftoemeting/sentencing/veroerde ling.
Pembebasan (vrijspraak)
Pelepasan dari segala tuntutan pidana (ontslaag van alle rechtsvervolging).
Fungsi Hukum Pidana
Fungsi hukum pidana secara umum dapat dibedakan ialah:
Fungsi umum adalah mengatur hidup
kemasyarakatan atau menyelenggarakan tata kehidupan dalam masyarakat. Fungsi ini sama dengan fungsi hukum pada umumnya.
Fungsi khusus adalah melindungi kepentingan hukum dari perbuatan yang hendak
memperkosa/melanggarnya dengan sanksi pidana yang sifatnya lebih tajam bila dibandingkan dengan sanksi pidana yang terdapat pada cabang hukum yang lain.
Fungsi Hukum Pidana Umum
Sanksi hukum pidana mempunyai
pengaruh preventif (pencegahan) terhadap timbulnya pelanggaran-pelanggaran norma hukum.
Menurut Sudarto (1990: 12) bahwa
pencantuman sanksi pidana dalam hukum pidana mempunyai pengaruh preventif
(pencegahan) terhadap terjadinya
pelanggaran-pelanggaran norma hukum.
Fungsi Hukum Pidana Umum
Pengaruh ini tidak hanya ada bila sanksi pidana itu benar-benar diterapkan
terhadap pelanggaran yang konkrit (kriminologis), akan tetapi sudah ada
karena telah tercantum dalam peraturan hukum pidana (normatif). Ajaran ini
diadopsi dari pendapat Johann Anselm von Feurbach, yaitu Theorie des Psychischen Zwanges atau ajaran paksaan psikis.
Fungsi Hukum Pidana Umum
Adanya ancaman pidana terhadap orang yang melakukan tindak pidana, maka
negara berusaha mempengaruhi jiwa si
calon pelaku/pembuat untuk tidak berbuat.
Si calon pembuat akan dipengaruhi atau ditekan jiwa dan motifnya untuk tidak
berbuat kejahatan. Si calon pembuat
mengetahui bahwa perbuatan yang akan dilakukannya mengakibatkan pemidanaan terhadap dirinya.
Fungsi Hukum Pidana Khusus
Fungsi primer, yaitu Hukum pidana berfungsi
sebagai sarana dalam penanggulangan kejahatan atau sarana kontrol sosial atau pengendalian
masyarakat (as a tool for social engineering).
Melalui fungsi ini hukum pidana mendapatkan dimensi moral dalam melindungi
masyarakat/orang dari kejahatan dan penjahat serta melindungi warga masyarakat dari campur tangan penguasa yang menggunakan pidana
sebagai sarana secara tidak benar.
Fungsi Hukum Pidana Khusus
Fungsi sekunder, yaitu Pengaturan tentang kontrol sosial yang dilaksanakan secara
spontan atau dibuat negara dengan alat perlengkapannya.
Fungsi subsidier, yaitu Usaha melindungi masyarakat dari kejahatan hendaknya
digunakan upaya-upaya lain terlebih dahulu.
Bila upaya ini dipandang kurang memadai, maka digunakanlah hukum pidana (Ultimum Remedium).
Tiga Masalah Pokok dalam Hukum Pidana
Tindak pidana (perbuatan, orang, kriminalisasi,
dekriminalisasi, depenalisasi, dll.)
Pertanggungjawaban pidana
(PJP) (subjek hk: orang & badan hukum)
Pidana dan pemidanaan.
Prof. Sudarto, S.H.
Istilah ”hukuman” atau ”pidana”
berasal dan kata straf. Istilah “pidana”
lebih baik daripada “hukuman”,
contohnya digunakan “Hukum Pidana”
bukan “Hukum Hukuman”.
Pidana (punishment) dan tindakan
(treatment) merupakan sanksi pidana
sebagai konsekuensi dianutnya double
track system.
Prof. Sudarto, S.H.
Istilah ”penghukuman” berasal dari kata dasar ”hukum”, sehingga dapat diartikan sebagai ”menetapkan hukum” atau
”memutuskan tentang hukumnya”
(berechten).
Penghukuman dalam perkara pidana
disinonimkan dengan “pemidanaan” atau
“pemberian penjatuhan pidana” oleh Hakim. “Penghukuman” mempunyai makna sama dengan sentence atau verordeling.
Definisi Pidana
Sudarto: Penderitaan yang
sengaja dibebankan pada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu.
Roeslan Saleh: reaksi atas delik,
dan ini berujud suatu nestapa yang
dengan sengaja ditimpakan negara
pada pembuat delik.
Definisi Pidana
Black’s Law Dictionary: Punishment adalah anyfine, penalty or
confinement inflicted upon a person by authority or the law and the
judgement and sentence of a court, for some crime or offence committed by him, or for his omission of duty
enjoyed by law.
Definisi Pidana
Alf Ross, pidana adalah reaksi sosial yang:
terjadinya berhubungan dengan adanya pelanggaran terhadap aturan hukum;
dijatuhkan dan dilaksanakan oleh orang- orang yang berkuasa sehubungan dengan tertib hukum yang dilanggar;
mengandung penderitaan, paling tidak konsekuensi lain yang tidak
menyenangkan;
menyatakan pencelaan terhadap si pelanggar.
Definisi Pidana
Sir Rupert Cross: Pengenaan penderitaan oleh negara kepada
seseorang yang telah dipidana karena suatu kejahatan.
Muladi dan Barda Nawawi Arief (1992 : 2), pidana itu pada hakekatnya
merupakan suatu pengenaan
penderitaan atau nestapa atau akibat-
akibat lain yang tidak menyenangkan;
Definisi Pidana Sir Rupert Cross
Pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang
mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang);
Pidana itu dikenakan pada seseorang
yang telah melakukan tindak pidana
menurut undang-undang.
Hakekat Pidana
Pengenaan derita atau nestapa sebagai wujud pencelaan sehubungan terjadinya tindak pidana berdasarkan hukum yang berlaku.
Seiring dengan perkembangan ilmu hukum pidana, menurut Sudarto (1992 : 62) terlebih lagi setelah munculnya sanksi pidana berupa tindakan, sebagai akibat dari pengaruh aliran modern, maka
pengertian pidana sebagai pengenaan pidana denda harus ditinjau kembali.
Tujuan Pidana
Alf Ross: Pidana ditujukan pada pengenaan
penderitaan terhadap orang yang bersangkutan H.L. Packer:
Untuk mencegah terjadinya kejahatan atau perbuatan yang tidak dikehendaki atau
perbuatan yang salah.
Untuk mengenakan penderitaan atau
pembalasan yang layak kepada si pelanggar.
Tujuan Pidana
Sudarto membedakan secara tradisional tentang tujuan dari pidana dan tindakan.
Pidana adalah pembalasan (pengimbalan) terhadap kesalahan si pembuat, sedangkan tindakan adalah untuk perlindungan
masyarakat dan untuk pembinaan atau perawatan si pembuat.
Menurut Hulsman, hakekat pidana adalah
“menyeru-kan untuk tertib”, (tot de order
roepen) karena pidana mempunyai dua tujuan utama, yakni untuk mem-pengaruhi tingkah laku dan penyelesaian konflik.
Tujuan Pidana
G.P. Hoefnagels melihat sanksi pidana secara empiris bahwa
pidana merupakan suatu proses waktu, yaitu sejak penahanan
dan pengusutan terdakwa oleh polisi sampai kepada vonis
hakim.
Tujuan Pidana
Menurut Richard D. Schwart dan Jerome H.
Skolnick, sanksi pidana dimaksudkan untuk:
Mencegah terjadinya pengulangan tindak pidana;
Mencegah orang melakukan perbuatan yang sama seperti yang dilakukan terpidana;
Menyediakan saluran untuk mewujudkan motif‑motif balas dendam.
Tujuan Pidana
Di samping mengemukakan adanya empat teori mengenai dasar pembenaran pidana
(teori retribution, deterrence, incapatitation, dan rehabilitation), John Kaplan menyebutkan pula adanya dasar pembenaran pidana yang lain, yaitu:
Untuk menghindari balas dendam;
Adanya pengaruh yang bersifat mendidik; dan
Mempunyai fungsi memelihara perdamaian.
Tujuan Pidana
G. Peter Hoefnagels
berpendapat, bahwa tujuan pidana adalah untuk:
Penyelesalan konflik;
Mempengaruhi para pelanggar dan orang‑orang lain ke arah
perbuatan yang kurang lebih
sesuai dengan hukum.
Tujuan Pidana
Sejalan dengan pendapat di atas, secara tegas H.L.
Packer (1978: 17) menyatakan, bahwa ada dua dan hanya dua tujuan akhir yang hendak dicapai dari pemidanaan, yaitu (1) memberikan pembalasan
berupa penderitaan terhadap pelaku kejahatan dan (2) untuk pencegahan kejahatan.Memang mungkin dibedakan sejumlah tujuan spesifik, tetapi pada
akhirnya semua itu hanyalah cara‑cara pertengahan yang termasuk ke dalam salah satu tujuan tersebut.
Teori Pemidanaan
Teori pemidanaan, pada umumnya dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok teori, yaitu:
teori pembalasan (retributive), dan
teori tujuan (utilitarian).
Selain itu terdapat pula teori ketiga, yaitu teori gabungan atau teori
integratif.
Teori Retributif
Pidana dijatuhkan semata‑mata karena orang telah melakukan kejahatan.
Pidana dijatuhkan sebagai
pembalasan terhadap orang yang melakukan kejahatan.
Jadi, dasar pembenarannya adalah
kejahatan itu sendiri.
Teori Retributif
Johanes Andenaes: Yang menjadi tujuan utama teori retributif, yaitu untuk memuaskan tuntutan
keadilan (to satisfy the claims of Justice).
Sedangkan pengaruh‑pengaruh
lain yang menguntungkan hanya
merupakan tujuan yang sekunder.
Teori Retributif
Tuntutan keadilan yang bersifat absolut ini antara lain dikemukakan oleh Immanuel
Kant. Ia memandang pidana sebagai
Kategorische lmperatief. Yang berarti,
seorang harus dipidana oleh hakim karena ia telah melakukan kejahatan.
Pidana bukan merupakan alat yang
digunakan untuk mencapai suatu tujuan, melainkan semata-mata mencerminkan keadilan.
Teori Retributif
Hegel berpendapat bahwa pidana merupakan
keharusan logis sebagai konsekuensi dari adanya kejahatan karena kejahatan merupakan
pengingkaran terhadap ketertiban hukum negara yang merupakan perwujudan cita‑susila, maka
pidana merupakan pengingkaran terhadap pengingkaran.
Teori Hegel ini terkenal dengan sebutan quasi mathematic, yang berbunyi wrong being (crime) is the negation of right, and punishment is the negation of that negation
Tentangan thd Teori Retributif
Konsep retributif ini, menurut J.E.
Sahetapy (1982: 199) bahwa
kecenderungan untuk membalas pada
prinsipnya merupakan gejala sosial yang normal, akan tetapi manusia bukan
binatang karena ia mempunyai pikiran dan perasaan. Manusia mempunyai
persepsi dan jangkauan penglihatan yang
jauh ke depan.
Ciri Teori Retributif
Menurut Karl O. Christiansen sebagai berikut:
Tujuan pidana semata‑mata untuk pembalasan.
Pembalasan merupakan tujuan utama tanpa mengandung sarana‑sarana
untuk tujuan lain, misalnya
kesejahteraan rakyat.
Ciri Teori Retributif
Kesalahan merupakan satu‑satunya syarat bagi adanya pidana.
Pidana harus disesuaikan dengan kesalahan pembuat;
Pidana melihat ke belakang; ia merupakan pencelaan yang murni dan tujuannya tidak untuk memperbaiki, mendidik atau
memasyarakatkan kembali pelanggar.
Teori Utilitarian
Pidana bukanlah untuk
memuaskan tuntutan absolut dari keadilan.
Pembalasan itu sendiri tidak mempunyai nilai, tapi hanya sarana untuk melindungi
kepentingan masyarakat.
Teori Utilitarian
Pidana bukanlah sekadar untuk melakukan pembalasan atau
pengimbalan kepada orang yang telah melakukan kejahatan, tetapi
mempunyai tujuan‑tujuan tertentu
yang bermanfaat. Oleh karena itulah
teori ini sering disebut sebagai teori
tujuan (utilitarian theory).
Teori Utilitarian
Pada teori utilitarian ini, pidana dijatuhkan bukan karena orang telah melakukan kejahatan,
melainkan agar orang jangan melakukan kejahatan. Tujuan
pidana adalah untuk pencegahan
kejahatan (prevensi).
Pencegahan Kejahatan
Mengenai pencegahan kejahatan
(prevensi) ini, dapat dibedakan antara
prevensi spesial (special deterrence) dan prevensi general (general deterrence).
Prevensi spesial, pengaruh pidana ditujukan terhadap terpidana.
Pencegahan yang ingin dicapai oleh pidana dengan mempengaruhi tidak berbuat jahat.
Prevensi General
Prevensi general pengaruh pidana ditujukan terhadap masyarakat
pada umumnya.
Pencegahan kejahatan yang ingin dicapai oleh pidana dengan
mempengaruhi tingkah laku
anggota masyarakat pada umumnya
agar tidak melakukan kejahatan.
Prevensi General
Johannes Andenaes mengemukakan tiga bentuk pengaruh dalam
prevensi general, yaitu:
Pengaruh pencegahan.
Pengaruh untuk memperkuat larangan‑larangan moral;
Pengaruh untuk mendorong
kebiasaan berbuat patuh pada
hukum.
Daya Untuk Mengamankan
Selain prevensi spesial dan prevensi general, Van Bemmelen memasukkan pula ke dalam teori ini “daya untuk
mengamankan”. Merupakan kenyataan, khususnya pidana pencabutan/perampas-an
kemerdekaan, lebih mengamankan
masyarakat terhadap kejahatan selama
penjahat tersebut berada di penjara.
Karakteristik Teori Utilitarian
Tujuan pidana adalah pencegahan;
Pencegahan bukanlah tujuan akhir, tetapi merupakan sarana untuk
mencapai tujuan yang lebih tinggi, yaitu kesejahteraan masyarakat;
Hanya orang yang dapat
dipersalahkan yang dapat dipidana;
Karakteristik Teori Utilitarian
Pidana harus ditetapkan berdasarkan
tujuannya sebagai alat pencegahan kejahatan;
Pidana berorientasi ke depan; pidana dapat mengandung unsur pencelaan, tetapi baik unsur pencelaan maupun unsur pembalasan
tidak dapat diterima jika tidak dapat membantu pencegahan kejahatan untuk kepentingan
kesejahteraan masyarakat.
Teori Integratif
Beranjak dari ketidakpuasan
prinsip‑prinsip retributif ataupun
utilitarian, maka teori integratif
berusaha menggabungkan kedua
prinsip teori tersebut, sehingga
seringkali teori ini disebut aliran
integratif.
Teori Integratif
Penulis yang pertama kali menganjurkan teori ini adalah Pellegrino Rossi (1787‑
1848). Sekalipun ia menganggap
pembalasan sebagai asas dari pidana dan bahwa berat pidana tidak boleh melampaui suatu pembalasan yang adil, namun dia
berpendirian, bahwa pidana mempunyai berbagai pengaruh, antara lain perbaikan suatu yang rusak dalam masyarakat dan prevensi general.
Teori Integratif
Teori ini menganjurkan adanya kemungkinan untuk mengadakan artikulasi terhadap teori pemidanaan yang mengintegrasikan beberapa fungsi sekaligus, yaitu bersifat retributif dan mempunyai sifat utilitarian, misalnya
pencegahan dan rehabilitasi, yang kesemuanya harus dilihat sebagai sasaran-sasaran yang
harus dicapai oleh suatu rencana pemidanaan.
Teori Integratif
Pidana dan pemidanaan terdiri dari proses kegiatan terhadap
pelaku tindak pidana, yang dengan suatu cara tertentu diharapkan
untuk dapat mengasimilasikan
kembali narapidana ke dalam
masyarakat.
Teori Integratif
Seiring dengan itu masyarakat menuntut agar individu tersebut diperlakukan
dengan suatu yang juga dapat memuaskan permintaan atau kebutuhan pembalasan.
Lebih lanjut hal tersebut diharapkan dapat menunjang tujuan yang bermanfaat, yang dalam hal ini harus ditentukan secara
kasuistis. Hal inilah yang sering
menimbulkan anggapan pidana sebagi seni (punishment as an art).
Aliran-aliran
dalam Ilmu Hukum Pidana
Aliran klasik
Aliran modern
Aliran neoklasik
Aliran perlindungan
masyarakat
Aliran Klasik (Classical School)
Aliran Klasik muncul sebagai reaksi terhadap
ancien regime yang arbitrair pada abad ke-18 di Prancis dan Inggris, pada saat itu banyak terjadi:
ketidakpastian hukum,
ketidaksamaan dalam keberlakuan hukum, dan
ketidakadilan.
Aliran klasik terutama menghendaki hukum pidana yang tersusun secara sistematis dan
menitikberatkan kepada perbuatan. Tidak kepada pelaku tindak pidana.
Aliran Klasik (Classical School)
Hukum pidana yang dikehendaki adalah hukum pidana perbuatan (daadstrafrecht), perumusan undang-undang dan melawan hukum pidana.
Perbuatan ini diartikan secara abstrak dan
dilihat secara yuridis belaka terlepas dari orang yang melakukannya.
Jadi, aliran ini ingin mengobjektifkan hukum pidana dari sifat-sifat pribadi si pelaku.
Aliran Klasik (Classical School)
Tokoh aliran ini antara lain, Cesare Beccaria
yang lahir di ltalia pada tanggal 15 Maret 1738, dia menulis sebuah essay yang sangat terkenal, yakni Dei delliti a dele pene (1764) dan
diterbitkan untuk pertama kali di lnggris pada tahun 1767 dengan judul On Crimes and
Punishment. Tulisan ini memberikan sumbangan yang sangat besar dalam pembaharuan peradilan pidana dan semangat utama Beccaria yang
dikatakan sebagai tema aliran Klasik adalah
doktrin pidana harus sesuai dengan kejahatan (let the punishment should fit the crime).
Aliran Klasik (Classical School)
Sedangkan filsafat yang mempengaruhi Beccaria secara kuat ialah mengenai
“kebebasan kehendak”. Beccaria menyakini konsep kontrak sosial itu yang merasa bahwa individu menyerahkan kebebasan atau
kemerdekaan yang secukupnya kepada negara, agar masyarakat tersebut dapat hidup dengan aman dan mencegah orang dari melakukan
kejahatan.
Aliran Klasik (Classical School)
Tokoh lainnya, Jeremy Bentham (1748-1823), seorang filosof Inggris yang diklasifikasikan sebagai penganut utilitarian hedonist. Salah satu teorinya yang sangat penting dinamakan felisific calculus. Teori ini
menyatakan bahwa manusia merupakan makhluk
rasional yang akan memilih secara sadar kesenangan dan menghindari kesusahan. Oleh sebab itu, suatu
pidana harus ditetapkan atau diberikan kepada setiap kejahatan, sedemikian rupa sehingga kesusahan akan terasa lebih berat daripada kesenangan yang
ditimbulkan oleh kejahatan.
Aliran Klasik (Classical School)
Hukum pidana yang dikehendaki disini adalah hukum pidana perbuatan (daadstrafrecht). Perbuatan di sini diartikan secara abstrak dan dilihat secara yuridis
semata, terlepas dari pelakunya. Aliran klasik ini pada awal timbulnya, dalam hal pidana dan pemidanaan
sangat membatasi hakim dalam menetapkan jenis dan beratnya pidana. Pidana ditetapkan secara pasti
(definite sentence). Peranan hakim dalam
menentukan kesalahan sangat dikurangi dan pidana yang ditentukan dalam UU tidak mengenai
pemberatan dan peringanan pidana.
Aliran Klasik
Perbuatan
Asas legalitas
Asas kesalahan
Asas pengimbalan/pembalasan
Tokohnya: Jeremy Bentham,
Cesare Beccaria, Montesquieu, dan
Jean Jacques Rousseau.
Aliran Klasik
Definisi hukum dari kejahatan (legal definition of crime);
Pidana harus sesuai dengan kejahatannya (let the punishment fit the crime);
Doktrin kebebasan kehendak (doctrine of free will);
Pidana mati untuk beberapa tindak pidana (death penalty for some offenses);
Tidak ada riset empiris (no empirical research);
Pidana yang ditentukan secara pasti (definite sentence).
Aliran Modern
Aliran Modern menghendaki hakim mempunyai keleluasaan/kebebasan dalam menentukan:
Jenis pidana (strafsoort);
Berat ringannya pidana (strafmaat);
Cara menjalankan pidana (strafmodaliteit/
strafmodus).
Tokohnya: Lombrosso, Ferry, Lacassagne, Gramatica, Ancel.
Aliran Modern
Menolak definisi hukum dengan pelaku tindak pidana (rejected legal definition);
Pidana harus sesuai dengan pelaku tindak pidana (let the punishment fit the criminal);
Doktrin determinisme (doctrine of determinism);
Penghapusan pidana mati (abolition of the death penalty);
Riset empiris (empirical research: use of the inductive method);
Pidana yang tidak ditentukan secara pasti (indeterminisme sentence).
Aliran Neoklasik
Pelaku
Indeterminisme, dan
Kesaksian ahli.
Aliran Neoklasik
Modifikasi (perubahan) dari doktrin kebebasan kehendak (doctrine of free will) yang dapat dipengaruhi oleh
patologi, ketidakmampuan, penyakit jiwa, dan keadaan-keadaan lain;
Diterimanya keberlakuan keadaan- keadaan yang meringankan
(mitigating-circumstances), baik
fisikal, lingkungan maupun mental.
Aliran Neoklasik
Modifikasi dari doktrin pertanggungjawaban pidana untuk menetapkan peringanan pidana dengan pertanggungjawaban sebagian di dalam
kasus-kasus tertentu seperti penyakit jiwa (gila), di bawah umur, dan keadaan-keadaan lain yang dapat mempengaruhi pengetahuan dan kehendak
seseorang pada saat terjadinya kejahatan.
Masuknya kesaksian ahli (expert testimony) untuk menentukan derajat pertanggungjawaban.
Asas-asas Hukum Pidana
Waktu: Asas legalitas (Nullum
delictum, nulla poena, sine praevia lege poenali)
Tempat: Asas-asas teritorial,
personal, perlindungan, universal
Locus delicti dan tempus delict.
Asas ubikuitas: Omni-present
(everywhere at the same time).
Asas-asas Hukum Pidana
Ruang berlakunya hukum pidana
merupakan bagian integral dari sistem pemidanaan karena keseluruhan aturan (umum dan khusus) untuk dapat
dipidananya seseorang terkait erat dengan asas-asas ruang berlakunya hukum pidana, yaitu menurut waktu (asas legalitas) dan
menurut tempat (asas-asas teritorial, nasional aktif (personal), nasional pasif
(perlindungan kepentingan nasional), dan universal).
Asas-asas Hukum Pidana
Pada dasarnya, asas-asas ruang berlakunya hukum pidana antara KUHP dan Konsep tidak jauh berbeda. Namun ada juga perbedaan dan perkembangannya, yaitu:
Di samping mengatur ruang berlakunya hukum pidana
menurut waktu dan tempat, Konsep juga mengatur tentang waktu terjadinya tindak pidana (tempus delicti; time of
act; time of commission of an offence; time of
perpetration of a crime) dan tempat terjadinya tindak
pidana (locus delicti; place of act; place of commission of an offence; place of perpetration of a crime). Kedua hal ini tidak diatur dalam KUHP.
Asas-asas Hukum Pidana
Mengenai ruang berlakunya hukum pidana
menurut waktu, konsep tetap mempertahankan asas legalitas formal seperti KUHP, akan tetapi diperluas ke asas legalitas materiil.
Mengenai ruang berlakunya hukum pidana menurut tempat pada awalnya (Konsep 2002) tidak jauh berbeda dengan KUHP. Namun
dalam perkembangan terakhir (Konsep 2008) mengalami perubahan.
Perubahan yang dilakukan Konsep meliputi:
Asas Teritorial: Diperluas dengan asas extra-teritorial untuk
menjaring tindak pidana di bidang
teknologi informasi (cyber crime).
Asas Personal: Penyederhanaan
pengaturan yang sebelumnya terkesan
digabung dalam asas perlindungan, yaitu pada prinsipnya tindak pidana apapun
yang dilakukan oleh WNI di luar Indonesia, hukum pidana Indonesia berlaku baginya, kecuali tindak pidana ringan. Ketentuan ini menerapkan prinsip equality before the law.
Asas Perlindungan: Dalam KUHP asas ini digabung dengan asas universal dan kepentingan nasional yang dilindungi
juga bersifat limitatif/enumeratif rigid.
Dalam Konsep 2008 diatur terpisah dari asas universal dan kepentingan nasional tidak dirumuskan secara
limitatif, tetapi secara limitatif terbuka.
Asas Universal: Perumusan kepentingan internasional/universal/global yang
dilindungi tidak dengan cara disebutkan kejahatan internasional tertentu secara limitatif. Perumusan secara terbuka
untuk menampung perkembangan
kesepakatan internasional.
Ruang berlakunya hukum pidana
menurut waktu dan tempat dlm kuhp
Berlakunya Undang-Undang Pidana menurut Waktu: Asas Legalitas
Syarat pertama untuk menindak suatu perbuatan yang tercela (jahat), yaitu adanya suatu
ketentuan dalam UU Pidana yang merumuskan perbuatan yang tercela itu yang disertai suatu sanksi. Asas legalitas mensyaratkan terikatnya hakim pada UU. Demikian pula Hukum Acara Pidana agar dijalankan menurut cara yang telah diatur dalam UU.
Dalam Asas Legalitas Terkandung 3 (tiga) Prinsip
Menurut Moeljatno
Tidak ada perbuatan yang dilarang dan
diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang.
Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi (kias)
Aturan hukum pidana tidak berlaku surut.
Ada 6 (enam) Aspek dalam Asas Legalitas
tidak dapat dipidana kecuali berdasarkan ketentuan pidana menurut UU;
tidak ada penerapan UU pidana secara analogi;
tidak dapat dipidana hanya berdasarkan kebiasaan;
tidak ada kekuatan surut dari ketentuan pidana;
tidak ada pidana lain kecuali yang ditentukan UU;
penuntutan pidana hanya menurut cara yang ditentukan UU.
Asas legalitas diperkenalkan pertama kali oleh seorang sarjana Jerman, Johann Anselm von Feuerbach dalam bukunya Lehrbuch des peinlichen Recht (1801) yang dirumuskan dalam bahasa Latin Nullum delictum, nulla poena, sine praevia lege poenali (tiada delik, tiada pidana, tanpa peraturan lebih dahulu).
Asas legalitas (principle of legality) di KUHP diatur dalam Pasal 1 Ayat (1) KUHP: Tiada suatu perbuatan dapat
dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam per- UU-an yang telah ada sebelum perbuatan dilakukan.
Perumusan asas legalitas oleh Feuerbach ini berkaitan dengan pandangannya yang dinamakan teori paksaan psikis (theory des psychischen Zwanges). Moeljatno
menyebutnya vom psychologischen Zwanges. Sedangkan, Bambang Poernomo menyebutnya General-preventions
theorie des psychologischen Zwanges.
Berdasarkan Pasal 1 Ayat (1) KUHP di atas dapat dirinci:
Suatu tindak pidana harus dirumuskan atau disebutkan dalam per-UU-an Hukum Pidana;
Per-UU-an Hukum Pidana ini harus ada sebelum terjadinya tindak pidana atau tidak boleh berlaku surut (retro aktif).
Suatu tindak pidana harus dirumuskan
atau disebutkan dalam per-UU-an Hukum Pidana
Ketentuan ini menimbulkan 2 (dua) konsekuensi:
Perbuatan seseorang yang tidak tercantum dalam UU tidak dapat dipidana. Hukum yang tidak
tertulis tidak berkekuatan untuk diterapkan.
Adanya larangan menggunakan analogi untuk membuat suatu perbuatan menjadi suatu tindak
pidana. Larangan ini berfungsi mencegah tindakan sewenang-wenang dari pengadilan/ penguasa.
Analogi, artinya memperluas berlakunya suatu
peraturan. Analogi tidak sama dengan penafsiran (interpretasi). Macam-macam penafsiran:
Penafsiran secara ekstensif (memperluas);
Penafsiran secara teleologis (sosiologis);
Penafsiran menurut tata bahasa (gramatikal);
Penafsiran secara sistematis;
Penafsiran menurut sejarah terbentuknya peraturan (historis);
Penafsiran otentik (Bab IX Buku I KUHP).
Per-UU-an Hukum Pidana ini harus ada sebelum terjadinya tindak pidana atau tidak boleh berlaku surut (retro aktif)
Hukum Pidana tidak boleh berlaku retro aktif (mundur/surut) karena:
Menjamin kebebasan individu terhadap kesewenang- wenangan penguasa/pengadilan;
Pidana dipandang sebagai paksaan psikologis
(psychologische dwang), artinya penguasa berusaha mempengaruhi jiwa si calon pembuat (tindak pidana) untuk tidak berbuat karena adanya ancaman pidana
terhadap orang yang melakukan tindak pidana. Teori ini disebut teori paksaan psikis (Theorie des psychischen
Zwanges) dari Johann Anselm von Feuerbach.
Ketentuan tidak boleh berlaku surut dapat diterobos atau dikesampingkan oleh pembentuk UU. Hal ini berlaku asas Lex posterior derogat legi priori
(apabila ada dua ketentuan yang sama tingkatannya, maka peraturan yang ditetapkan kemudian
mendesak/ mengesampingkan peraturan terdahulu).
Pengecualian larangan berlaku surut diatur dalam Pasal 1 Ayat (2) KUHP: Jika sesudah perbuatan
dilakukan ada perubahan dalam perundang-
undangan, maka dipakai aturan yang paling ringan bagi terdakwa.
Bila ada perubahan, maka timbul hukum transitoir (transisi/peralihan), artinya
hukum yang harus diterapkan bila ada perubahan dalam per-UU-an. Hukum transitoir juga disebut hukum peralihan karena mengatur peralihan dari hukum yang lama ke hukum yang baru. Bila ada perubahan per-UU-an, maka pengaturan di masing-masing negara berbeda, misalnya:
Hukum Pidana di Inggris: Ketentuan yang diterapkan adalah peraturan yang masih
berlaku pada saat delik dilakukan;
Hukum Pidana di Swedia: Peraturan baru.
KUHP Indonesia: Berdiri di tengah-
tengah. Dasarnya adalah lex temporis delicti, akan tetapi bila peraturan yang baru lebih meringankan terdakwa, maka peraturan yang baru inilah yang berlaku.
Berlakunya UU Pidana menurut Tempat
Wilayah suatu negara meliputi daratan, perairan laut teritorial, dan udara yang ada di atas wilayah negara itu.
Tempat terjadinya tindak pidana (locus
delicti): Untuk menuntut seorang pelakutindak pidana, maka harus pasti tentang
waktu dan tempat terjadinya tindakpidana.
Waktu: Untuk menentukan suatu UU itu dapat diterapkan atau tidak.
Tempat:
Untuk menetapkan UU Pidana
Indonesia dapat diberlakukan atau tidak
Pengadilan yang berkompeten untuk
mengadili orang yang melakukan tindak
pidana (kompetensi relatif).
Untuk menetapkan locus delicti ada 3 (tiga) teori:
Teori perbuatan materiil (jasmaniah): Tempat tindak pidana (locus delicti) ditentukan oleh
adanya perbuatan jasmaniah yang dilakukan oleh si pembuat dalam mewujudkan tindak pidana itu.
Teori instrumen (alat): Tempat tindak pidana
ialah tempat bekerjanya alat yang dipakai oleh si pembuat.
Teori akibat: Locus delicti adalah tempat terjadinya akibat di dalam delik itu.
Asas Ubikuitas
Asas ini lebih berperan dalam
menanggulangi masalah jurisdiksi yang
ditimbulkan oleh internet, misalnya Cyber Crime (Tindak Pidana Mayantara) karena sistem hukum dan jurisdiksi
nasional/teritorial mempunyai
keterbatasan sehingga tidak mudah
menjangkau pelaku tindak pidana di ruang maya/cyber yang tidak terbatas.
Untuk menghadapi kejahatan tanpa batas wilayah itu dapat digunakan asas universal atau prinsip Ubikuitas (The Principle of Ubiquity) atau Omnipresent
(everywhere at the same time). Secara harfiah ubikuitas artinya ada atau hadir di mana-mana.
Prinsip Ubikuitas adalah prinsip yang menyatakan bahwa delik-delik yang dilakukan atau terjadi
sebagian di wilayah teritorial negara dan sebagian di luar teritorial negara harus dapat dibawa ke dalam jurisdiksi setiap negara yang terkait.
Asas Teritorial
Asas ini diatur dalam Pasal 2 KUHP:
Aturan pidana dalam UU Indonesia berlaku bagi
setiap orang yang melakukan sesuatu tindak pidana di wilayah Indonesia.
Setiap orang, baik WNI maupun WNA yang
melakukan tindak pidana di wilayah Indonesia. Asas ini menyangkut tempat terjadinya delik. Namun
dalam melakukan tindak pidana orang tidak perlu berada di wilayah Indonesia, misalnya tindak pidana yang dilakukan di atas kapal Indonesia. (Periksa:
Pasal 3 KUHP).
Asas Personal (Nasional Aktif)
Asas ini mengatakan: Peraturan hukum pidana Indonesia berlaku bagi setiap WNI yang
melakukan tindak pidana, baik di dalam maupun di luar negeri. Seolah-olah hukum pidana
mengikuti WNI.
Bila kejahatan dilakukan di dalam negeri tidak menimbulkan persoalan, tetapi bila dilakukan di luar negeri, maka dalam Pasal 5 KUHP
disebutkan kejahatannya meliputi:
Kejahatan terhadap keamanan negara,
martabat presiden, penghasutan, penyebaran surat penghasutan, membuat tidak cakap untuk dinas militer, bigami, dan perampokan;
Perbuatan yang dilakukan merupakan
kejahatan yang diatur dalam per-UU-an pidana Indonesia, demikian pula di negara lain tempat tindak pidana dilakukan itu diancam dengan
pidana.
Asas Perlindungan (Nasional Pasif)
Peraturan hukum pidana Indonesia berlaku terhadap tindak pidana yang menyerang
kepentingan hukum negara Indonesia, baik dilakukan oleh WNI maupun WNA yang
dilakukan di luar Indonesia.
Bentuk-bentuk kejahatan diatur dalam Pasal 4 sub 1, 2, 3, Pasal 7 dan Pasal 8 KUHP.
Asas Universal
Peraturan Hukum Pidana Indonesia
berlaku terhadap WNI atau WNA, baik dilakukan di dalam atau di luar negeri.
Asas ini menyangkut penyelenggaraan hukum dunia atau ketertiban hukum dunia. Tindak pidana yang dimaksud
diatur dalam Pasal 4 sub 2 dan 4 KUHP.
Kepentingan yang dilindungi adalah
kepentingan internasional.
Dalam Pasal 9 diatur pengecualian yang diatur dalam Pasal 2, 5, 7, dan 8. Khususnya berkaitan dengan Pasal 2 menyangkut perkecualian yang diakui dalam Hukum Internasional, seperti:
Kepala Negara asing;
Duta/duta besar atau perwakilan negara asing;
Anak Buah Kapal perang asing.
Mereka ini mendapatkan exterritorialitas atau immunitas (kekebalan).
Tindak Pidana (TP)
Istilah: Delik, strafbaarfeit,
perbuatan pidana/peristiwa pidana.
Unsur TP: Monistis dan dualistis;
Perbuatan dan orang.
Rumusan TP: Barangsiapa diikuti perbuatan (larangan, tidak
dikehendaki atau perintah).
Tindak Pidana
Jenis TP: Kejahatan dan pelanggaran (perbedaan: kualitatif dan kuantitatif).
Pembagian TP: Formil; Materiil;
Omisi; Aduan.
Subjek TP dalam KUHP: Manusia;
Subjek TP dalam RKUHP : manusia
dan korporasi.
Syarat Pemidanaan
A. Perbuatan
1. memenuhi rumusan UU 2. bersifat melawan hukum
(SMH)
(tidak ada alasan pembenar)
Syarat Pemidanaan
B. Orang
3. Kesalahan/Pertanggungjawaban Pidana (PJP)
a. kemampuan bertanggung jawab b. dolus atau culpa
(tidak ada alasan pemaaf)
Perbuatan
Istilah: TAT-HANDLUNG, HANDELING, GEDRAGING.
Perbuatan: Kata kerja yang melarang atau memerintahkan; Melakukan atau tidak melakukan.
RKUHP: Asas legalitas formil dan asas legalitas materiil.
Kriteria: Nilai-nilai Pancasila.
Hubungan Sebab-Akibat (Causaliteit, Causalitat)
Penentu delik materiil (akibat).
Teori ekivalensi: Tiap syarat itu sebab yang nilainya sama, bila
satu syarat tidak ada, maka akibatnya akan lain pula;
Conditio sine qua non.
Hubungan Sebab-Akibat (Causaliteit, Causalitat)
Teori Individualisasi: P ost factum (in concreto).
Teori Generalisasi/ adekuat:
Ante factum (in abstracto).
Sifat Melawan Hukum (SMH) (wederrechtelijk)
Pengertian: Perbuatan yang masuk dalam rumusan delik
dalam undang-undang (KUHP).
Pembagian: SMH Formil
(tertulis/UU); SMH Materiil
(perbuatan tercela di masy.)
Sifat Melawan Hukum (SMH) (wederrechtelijk)
SMH materiil dalam
fungsi/segi negatif: Petugas KB.
SMH materiil dalam
fungsi/segi positif: Kumpul
kebo.
Kesalahan
(Pertanggungjawaban Pidana)
Syarat pemidanaan: Kesalahan.
Unsur kesalahan: Kemampuan bertanggung jawab (KBJ),
kesengajaan (dolus) atau
kealpaan (culpa), dan tidak ada
alasan pemaaf.
PJP
Tidak mampu bertanggung jawab:
Pasal 44 KUHP (cacat jiwa krn pertumbuhan/penyakit)
RKUHP: Tidak harus ada asas
kesalahan (strict liability, vicarious liability dan rechterlijk/ judicial
pardon).
Kemampuan Bertanggung Jawab
Kriteria KBJ: Mampu
mengetahui atau menyadari perbuatannya ber-SMH.
Tidak mampu: Pasal 44 KUHP.
Tidak mampu sebagian:
Kleptomanie, pyromanie,
claustropobie, dll.
Kurang mampu: Mabok.
RKUHP: Gangguan jiwa, penyakit jiwa atau
retardasi mental dijatuhi
tindakan.
Kesengajaan (Dolus)
Arti: Menghendaki dan mengetahui
(willens en wettens) perbuatan yangdilakukan.
Teori Kesengajaan: Teori kehendak
(wilstheorie) dan teori pengetahuan atau
membayangkan (voorstellings theorie).
Dolus
Bentuk/tingkat kesengajaan:
Maksud/tujuan, kepastian dan kemungkinan.
Kesesatan: Fakta atau hukum.
KEALPAAN
(Culpa, Schuld, Negligence)
Kriteria: Alpa, teledor,
sembrono, kurang hati-hati, kurang menduga-duga,
kurang memperkirakan.
Pembagian kealpaan:
Disadari dan tidak disadari.
ALASAN PENGHAPUS PIDANA (Straf- Uitsluitings-Gronden = SUG)
Pengertian APP: Alasan yang
memungkinkan orang yang melakukan tindak pidana, tidak dipidana.
Pembagian APP:
Alasan pembenar (rechtsvaardigings- grond/faits justificatifs)
Alasan pemaaf (schuilduitsluitings- grond/faits d’exuce)
ALASAN PENGHAPUS PIDANA
(Straf-Uitsluitings-Grond = SUG)
Alasan pembenar dan alasan pemaaf tidak diatur dalam KUHP.
Yang diatur adalah alasan-alasan yang menghapuskan pidana.
Alasan pembenar: Alasan yang menghapuskan sifat melawan hukum dari perbuatan, sehingga perbuatan yang dilakukan oleh si pelaku tindak pidana menjadi perbuatan yang patut dan benar (tidak merupakan perbuatan yang melawan hukum), yaitu:
Pasal 48: Daya paksa (overmacht) jenis keadaan darurat (nood toestand)
Pasal 49 Ayat (1): melaksanakan pembelaan terpaksa (noodweer)
Pasal 50: melaksanak