• Tidak ada hasil yang ditemukan

SLIDE HUKUM PIDANA terori kuliah hukm pidana powerpoint presentasi fakltas hukum mata kulia pengantar sejarah hukum pidana

N/A
N/A
yuyu yuyu

Academic year: 2025

Membagikan "SLIDE HUKUM PIDANA terori kuliah hukm pidana powerpoint presentasi fakltas hukum mata kulia pengantar sejarah hukum pidana"

Copied!
194
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh

Tim Pengajar Hk. Pidana Erna Dewi

Diah GM.

M. Farid

(2)

Curriculum Vitae

Nama : Dr. Erna Dewi, S.H., M.H.

NIP : 196107151985032003(131474966)

Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Jabatan : Lektor Kepala

Gol/Pangkat : IV b / Pembina Tingkat I

Pekerjaan : Dosen pada FH Unila masa kerja 30 tahun.

(3)

Pengasuh mk di FH Unila

Hukum Pidana

Hukum Acara Pidana

Delik Tertentu dalam KUHP

Hukum dan Kriminalistik

Hukum dan Kriminologi

Hukum Pidana Internasional (S1) dan HAM (S2)

Politik Hukum Pidana

Sistem Peradilan Pidana (S1) dan (S2)

Hk. Penitensier dan Pemasyarakatan

Studi Lembaga Penegak Hukum

Metodologi Penelitian Hukum.

(4)
(5)

Hukum Pidana

 Hukum Pidana, selain mengatur tertib dan tatanan, ia juga

dimaksudkan sebagai desain masa depan masyarakat yang

melahirkannya.

 Dari konstruksi berpikir semacam itu, Hukum Pidana tak

mendapatkan hak immunitas

(kebal thd. perubahan).

(6)

Hukum Pidana

 Peranan para ahli Hukum Pidana kian dibutuhkan untuk mengamati setiap

perkembangan yang terjadi di masyarakat.

 Hukum pidana, baik sebagai ilmu

(pengetahuan hukum pidana) maupun sebagai instrumen (perundang-

undangan hukum pidana) tetap terjaga sebagai pengawal kehidupan

masyarakat.

(7)

Hukum Pidana

Menjadi penting untuk mengawal dan menjaga dinamika Hukum Pidana agar tidak tertinggal oleh laju kereta

perubahan masy.

Hukum acapkali tidak bisa diterapkan, bukan hanya lantaran ketidakbecusan aparat, tapi juga karena instrumen

hukum itu sendiri yang tak mampu

menjawab tantangan perubahan zaman.

(8)

Hukum Pidana

 Hukum tidak lagi membawa rasa keadilan masyarakat, tapi malah memuat ketidakadilan.

 Ada banyak fenomena baru di masyarakat yang menyeruak di

bilik-bilik penegakan hukum yang

nyaris tak terjangkau hukum-hukum klasik yang sudah jamak di ranah

publik.

(9)

Hukum Pidana

Kejahatan transnasional/lintas batas (trans- national crime/cross-border crimes) yang

tidak lagi mengenal tapal batas teritorial dan sistem hukum, kejahatan di dunia maya,

terorisme, illegal logging, illegal mining, illegal fishing, kejahatan pencucian uang, serta kejahatan kerah putih yang baru – semua merupakan fenomena terkini yang membawa tantangan baru dan memiliki implikasi ke semua sektor kehidupan.

(10)

Hukum Pidana

Pendekatan-pendekatan konvensional untuk menangani kejahatan-kejahatan baru ini

sudah ketinggalan zaman. Selain modus-

modus operandi baru dalam kejahatan, juga ketidakberdayaan hukum di depan teknologi yang sophisticated, kemampuan finansial

organisasi dan pelaku kejahatan yang tak

terkira, prinsip zero-sum-game, dengan aktor berlatar multietnis kebangsaan, serta metode yang tak terdefinisikan.

(11)

Hukum Pidana

 Semua itu membuat aparat

hukum tidak hanya kehilangan kemampuan untuk

mengantisipasinya, tapi acapkali kehilangan akal untuk

menanganinya.

 Kejahatan seperti ini datang

tanpa wajah dan pergi pun tanpa

punggung.

(12)

Hukum Pidana

Perbuatan-perbuatan jahat yang tak terjangkau penegak dan instrumen hukum itu senantiasa

membawa dampak yang begitu masif dan dahsyat pada semua sendi kehidupan.

Ironisnya, saat itu aparat penegak hukum dengan pengetahuan konvensional yang

dimilikinya tidak mendukung dalam penegakan hukum. Kejahatan transnasional pun lalu lalang tanpa terendus.

(13)

Hukum Pidana

Perkembangan hukum pidana memasuki abad ke-21 menghadapi tuntutan

masyarakat internasional yang mendesak dalam menghadapi kejahatan

transnasional (transnational crime) atau kejahatan transnasional terorganisasi

(transnational organized crime (TOC)

serta kejahatan internasional

(international crime).

(14)

Hukum Pidana

Di samping kejahatan nasional (national

crime) di masing-masing negara di dunia.

Tuntutan masyarakat tersebut antara lain telah diwujudkan dalam berbagai konvensi internasional yang khusus

ditujukan untuk pencegahan dan pemberantasan kejahatan lintas batas/internasional

(transnational/international) tertentu spt:

(15)

Hukum Pidana

 tindak pidana korupsi

 tindak pidana pencucian uang

(money laundering) atas tp korupsi dll.

 perdagangan perempuan dan anak (trafficking in women and child), dan

 penyelundupan imigran atau senjata

api.

(16)

Hukum Pidana

Tuntutan masyarakat internasional yang diwujudkan dalam berbagai konvensi

internasional tersebut berdampak terhadap perkembangan tuntutan

keilmuan yang mau tidak mau harus disesuaikan dengan perkembangan konvensi tersebut; dalam hal hukum pidana dan kriminologi, maka

penyesuaian konsep, teori, dan analisis keilmuan merupakan suatu keharusan.

(17)

Hukum Pidana

 Dalam masyarakat global dewasa ini tidak lagi harus berkutat dengan

pendirian bahwa sistem hukum pidana (Indonesia) adalah bersifat supreme

dan all embraces acts untuk seluruh

tipe dan modus operandi kejahatan,

baik kejahatan transnasional maupun

kejahatan internasional.

(18)

Hukum Pidana

 Jika masih ada di kalangan akademisi yang berpendapat seperti itu, maka

ybs berkata dalam ruang hampa dan

bermimpi di abad ke-18, juga adalah

mereka yang menutup mata terhadap

perkembangan kemajuan peradaban

dan ketidakadaban yang berkembang

dalam masyarakat dunia.

(19)

Hukum Pidana

Ucapan Von Savigny beberapa abad yang lampau sudah memberi sinyal terutama bagi kalangan

akademisi, bahwa sifat dan karakteristik masyarakat itu terletak pada perkembangannya bukan kepada

sikap statis-tertutup dan inklusif karena bertentangan dengan proses hukum alam yang normal. Begitu pula dengan fenomena sosial tersebut seharusnya dikritisi sebagai feed-back terhadap setiap pendapat/doktrin atau asas-asas hukum yang sudah sekian abad

menjadi semacam dogma hukum di kalangan akademisi hukum.

(20)

Hukum Pidana

Pembentukan Peraturan Hukum Pidana yang ada

di masyarakat didasarkan atas nilai, norma,

sanksi, dan peraturan

tertulis.

(21)

Pengertian Nilai

Nilai: ukuran yang disadari atau tidak disadari oleh suatu masyarakat untuk

menetapkan suatu kebenaran, kebaikan, dll.

Nilai itu mempengaruhi tingkah laku orang di masyarakat

Ukuran-ukuran sesuatu disebut nilai

misalnya kejujuran, kesetiaan, kesucian, kegunaan, keindahan, kehormatan,

kesusilaan, dsb.

(22)

Pengertian Nilai

 Nilai lebih abstrak daripada norma.

 Sistem nilai (value system) di antara suatu bangsa/masyarakat/golongan

tidak sama. Oleh karena itu, nilai dan

norma yang berlaku di suatu bangsa

tidak selalu berlaku di bangsa lain.

(23)

Pengertian Norma/kaidah

 Anggapan seseorang harus

berbuat atau tidak harus berbuat.

 Anggapan atau asumsi yang

berada di masyarakat yang sedikit

atau banyak mengikat perbuatan

seseorang di dalam masyarakat

(24)

Pengertian Norma/kaidah

 Anggapan ini memberi petunjuk kepada seseorang harus berbuat atau tidak harus berbuat sesuatu.

 Jenis norma: Norma kesopanan,

norma kesusilaan, norma agama

dan norma hukum.

(25)

Pengertian Norma/kaidah

Setiap anggota masyarakat menghendaki norma yang ada di harus dipatuhi, akan tetapi tidak semua anggota masyarakat bertindak selaras dengan norma yang

berlaku. Tidak setiap orang bisa dan mau mematuhi norma.

Agar norma yang ada dipatuhi, maka masyarakat mengadakan sanksi atau penguat atas keberadaan norma.

(26)

Pengertian Norma/kaidah

Sebagian dari norma merupakan norma hukum, yaitu masyarakat melalui alat-alat perlengkap-annya dapat memaksakan

keberlakuan norma kepada orang yang tidak mau mematuhi norma.

Norma hukum menjadi aturan hukum, jika berbentuk suatu rumusan tertentu.

Aturan hukum yang dirumuskan secara tertulis disebut peraturan, misalnya peraturan Hukum Pidana.

(27)

Definisi HP: Perbuatan dan pidana

Aturan hukum, yang mengikatkan kepada suatu perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu suatu akibat berupa pidana (Edmund Mezger)

Definisi terkandung dua hal pokok, yaitu:

Perbuatan yang memenuhi syarat-syarat

tertentu: Perbuatan yang dilakukan oleh orang yang memungkinkan adanya penjatuhan pidana.

Bisa disebut perbuatan jahat (verbrechen atau crime) atau perbuatan dilarang

(28)

Pidana

Makna harfiah kata pidana: derita atau nestapa

Arti pidana adalah penderitaan yang sengaja dijatuhkan kepada orang yang melakukan

perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu.

Pidana dapat berupa pidana, tindakan tata tertib atau reaksi (adat).

Jenis-jenis pidana diatur dalam Pasal 10 KUHP.

(29)

Pengertian Hukum Pidana

 Jenis HP: HP materiil, HP formil, hk. pelaksanaan

pidana.

 Fungsi HP: Umum dan

khusus; Primer, sekunder,

dan subsidier.

(30)

Pengertian Hukum Pidana

 IHP dan Kriminologi:

Normatif dan Faktual.

 Sumber HP: KUHP & Perat.

Hk. pidana di luar KUHP

 Pembagian HP: Umum dan

khusus

(31)

Jenis Hukum Pidana

 Hukum pidana materiil atau HP substantif: KUHP

 Hukum pidana formil/hukum acara pidana: KUHAP

 Hukum pelaksanaan pidana:

Hukum Pemasyarakatan.

(32)

Jenis Hukum Pidana

Pasal 10 KUHP mengatur jenis pidana pokok dan pidana tambahan (stelsel

pidana) adalah:

Pidana pokok: pidana mati, pidana

penjara, pidana kurungan, dan pidana denda.

Pidana tambahan: pencabutan hak-hak tertentu, perampasan barang-barang

tertentu, dan pengumuman putusan hakim.

(33)

Hukum Pidana Materiil

 Hukum Pidana yang memuat aturan-aturan yang

menetapkan atau merumuskan perbuatan-perbuatan yang

dapat dipidana, syarat-syarat

penjatuhan pidana, dan aturan

pidana

(34)

Hukum Pidana Formil

 Hukum pidana yang mengatur (memberikan kewenangan

kepada) negara melalui alat- alat perlengkapan negara

untuk melaksanakan hak yang diberikan oleh perundang-

undangan untuk menjatuhkan

pidana.

(35)

Hukum Pelaksanaan Pidana

Hukum pidana yang mengatur

pelaksanaan keputusan pengadilan

(vonnis) yang telah berkekuatan tetap (inkracht van gewijsde) yang meliputi:

Pemidanaan/penjatuhan pidana/pemberian pidana/straftoemeting/sentencing/veroerde ling.

Pembebasan (vrijspraak)

Pelepasan dari segala tuntutan pidana (ontslaag van alle rechtsvervolging).

(36)

Fungsi Hukum Pidana

Fungsi hukum pidana secara umum dapat dibedakan ialah:

Fungsi umum adalah mengatur hidup

kemasyarakatan atau menyelenggarakan tata kehidupan dalam masyarakat. Fungsi ini sama dengan fungsi hukum pada umumnya.

Fungsi khusus adalah melindungi kepentingan hukum dari perbuatan yang hendak

memperkosa/melanggarnya dengan sanksi pidana yang sifatnya lebih tajam bila dibandingkan dengan sanksi pidana yang terdapat pada cabang hukum yang lain.

(37)

Fungsi Hukum Pidana Umum

Sanksi hukum pidana mempunyai

pengaruh preventif (pencegahan) terhadap timbulnya pelanggaran-pelanggaran norma hukum.

Menurut Sudarto (1990: 12) bahwa

pencantuman sanksi pidana dalam hukum pidana mempunyai pengaruh preventif

(pencegahan) terhadap terjadinya

pelanggaran-pelanggaran norma hukum.

(38)

Fungsi Hukum Pidana Umum

Pengaruh ini tidak hanya ada bila sanksi pidana itu benar-benar diterapkan

terhadap pelanggaran yang konkrit (kriminologis), akan tetapi sudah ada

karena telah tercantum dalam peraturan hukum pidana (normatif). Ajaran ini

diadopsi dari pendapat Johann Anselm von Feurbach, yaitu Theorie des Psychischen Zwanges atau ajaran paksaan psikis.

(39)

Fungsi Hukum Pidana Umum

Adanya ancaman pidana terhadap orang yang melakukan tindak pidana, maka

negara berusaha mempengaruhi jiwa si

calon pelaku/pembuat untuk tidak berbuat.

Si calon pembuat akan dipengaruhi atau ditekan jiwa dan motifnya untuk tidak

berbuat kejahatan. Si calon pembuat

mengetahui bahwa perbuatan yang akan dilakukannya mengakibatkan pemidanaan terhadap dirinya.

(40)

Fungsi Hukum Pidana Khusus

Fungsi primer, yaitu Hukum pidana berfungsi

sebagai sarana dalam penanggulangan kejahatan atau sarana kontrol sosial atau pengendalian

masyarakat (as a tool for social engineering).

Melalui fungsi ini hukum pidana mendapatkan dimensi moral dalam melindungi

masyarakat/orang dari kejahatan dan penjahat serta melindungi warga masyarakat dari campur tangan penguasa yang menggunakan pidana

sebagai sarana secara tidak benar.

(41)

Fungsi Hukum Pidana Khusus

Fungsi sekunder, yaitu Pengaturan tentang kontrol sosial yang dilaksanakan secara

spontan atau dibuat negara dengan alat perlengkapannya.

 Fungsi subsidier, yaitu Usaha melindungi masyarakat dari kejahatan hendaknya

digunakan upaya-upaya lain terlebih dahulu.

Bila upaya ini dipandang kurang memadai, maka digunakanlah hukum pidana (Ultimum Remedium).

(42)
(43)

Tiga Masalah Pokok dalam Hukum Pidana

 Tindak pidana (perbuatan, orang, kriminalisasi,

dekriminalisasi, depenalisasi, dll.)

 Pertanggungjawaban pidana

(PJP) (subjek hk: orang & badan hukum)

 Pidana dan pemidanaan.

(44)

Prof. Sudarto, S.H.

 Istilah ”hukuman” atau ”pidana”

berasal dan kata straf. Istilah “pidana”

lebih baik daripada “hukuman”,

contohnya digunakan “Hukum Pidana”

bukan “Hukum Hukuman”.

 Pidana (punishment) dan tindakan

(treatment) merupakan sanksi pidana

sebagai konsekuensi dianutnya double

track system.

(45)

Prof. Sudarto, S.H.

Istilah ”penghukuman” berasal dari kata dasar ”hukum”, sehingga dapat diartikan sebagai ”menetapkan hukum” atau

”memutuskan tentang hukumnya”

(berechten).

Penghukuman dalam perkara pidana

disinonimkan dengan “pemidanaan” atau

“pemberian penjatuhan pidana” oleh Hakim. “Penghukuman” mempunyai makna sama dengan sentence atau verordeling.

(46)

Definisi Pidana

 Sudarto: Penderitaan yang

sengaja dibebankan pada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu.

 Roeslan Saleh: reaksi atas delik,

dan ini berujud suatu nestapa yang

dengan sengaja ditimpakan negara

pada pembuat delik.

(47)

Definisi Pidana

 Black’s Law Dictionary: Punishment adalah anyfine, penalty or

confinement inflicted upon a person by authority or the law and the

judgement and sentence of a court, for some crime or offence committed by him, or for his omission of duty

enjoyed by law.

(48)

Definisi Pidana

Alf Ross, pidana adalah reaksi sosial yang:

terjadinya berhubungan dengan adanya pelanggaran terhadap aturan hukum;

dijatuhkan dan dilaksanakan oleh orang- orang yang berkuasa sehubungan dengan tertib hukum yang dilanggar;

mengandung penderitaan, paling tidak konsekuensi lain yang tidak

menyenangkan;

menyatakan pencelaan terhadap si pelanggar.

(49)

Definisi Pidana

 Sir Rupert Cross: Pengenaan penderitaan oleh negara kepada

seseorang yang telah dipidana karena suatu kejahatan.

 Muladi dan Barda Nawawi Arief (1992 : 2), pidana itu pada hakekatnya

merupakan suatu pengenaan

penderitaan atau nestapa atau akibat-

akibat lain yang tidak menyenangkan;

(50)

Definisi Pidana Sir Rupert Cross

 Pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang

mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang);

 Pidana itu dikenakan pada seseorang

yang telah melakukan tindak pidana

menurut undang-undang.

(51)

Hakekat Pidana

Pengenaan derita atau nestapa sebagai wujud pencelaan sehubungan terjadinya tindak pidana berdasarkan hukum yang berlaku.

Seiring dengan perkembangan ilmu hukum pidana, menurut Sudarto (1992 : 62) terlebih lagi setelah munculnya sanksi pidana berupa tindakan, sebagai akibat dari pengaruh aliran modern, maka

pengertian pidana sebagai pengenaan pidana denda harus ditinjau kembali.

(52)

Tujuan Pidana

Alf Ross: Pidana ditujukan pada pengenaan

penderitaan terhadap orang yang bersangkutan H.L. Packer:

Untuk mencegah terjadinya kejahatan atau perbuatan yang tidak dikehendaki atau

perbuatan yang salah.

Untuk mengenakan penderitaan atau

pembalasan yang layak kepada si pelanggar.

(53)

Tujuan Pidana

Sudarto membedakan secara tradisional tentang tujuan dari pidana dan tindakan.

Pidana adalah pembalasan (pengimbalan) terhadap kesalahan si pembuat, sedangkan tindakan adalah untuk perlindungan

masyarakat dan untuk pembinaan atau perawatan si pembuat.

Menurut Hulsman, hakekat pidana adalah

“menyeru-kan untuk tertib”, (tot de order

roepen) karena pidana mempunyai dua tujuan utama, yakni untuk mem-pengaruhi tingkah laku dan penyelesaian konflik.

(54)

Tujuan Pidana

 G.P. Hoefnagels melihat sanksi pidana secara empiris bahwa

pidana merupakan suatu proses waktu, yaitu sejak penahanan

dan pengusutan terdakwa oleh polisi sampai kepada vonis

hakim.

(55)

Tujuan Pidana

Menurut Richard D. Schwart dan Jerome H.

Skolnick, sanksi pidana dimaksudkan untuk:

Mencegah terjadinya pengulangan tindak pidana;

Mencegah orang melakukan perbuatan yang sama seperti yang dilakukan terpidana;

Menyediakan saluran untuk mewujudkan motif‑motif balas dendam.

(56)

Tujuan Pidana

Di samping mengemukakan adanya empat teori mengenai dasar pembenaran pidana

(teori retribution, deterrence, incapatitation, dan rehabilitation), John Kaplan menyebutkan pula adanya dasar pembenaran pidana yang lain, yaitu:

Untuk menghindari balas dendam;

Adanya pengaruh yang bersifat mendidik; dan

Mempunyai fungsi memelihara perdamaian.

(57)

Tujuan Pidana

G. Peter Hoefnagels

berpendapat, bahwa tujuan pidana adalah untuk:

 Penyelesalan konflik;

 Mempengaruhi para pelanggar dan orang‑orang lain ke arah

perbuatan yang kurang lebih

sesuai dengan hukum.

(58)

Tujuan Pidana

Sejalan dengan pendapat di atas, secara tegas H.L.

Packer (1978: 17) menyatakan, bahwa ada dua dan hanya dua tujuan akhir yang hendak dicapai dari pemidanaan, yaitu (1) memberikan pembalasan

berupa penderitaan terhadap pelaku kejahatan dan (2) untuk pencegahan kejahatan.Memang mungkin dibedakan sejumlah tujuan spesifik, tetapi pada

akhirnya semua itu hanyalah cara‑cara pertengahan yang termasuk ke dalam salah satu tujuan tersebut.

(59)

Teori Pemidanaan

 Teori pemidanaan, pada umumnya dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok teori, yaitu:

 teori pembalasan (retributive), dan

 teori tujuan (utilitarian).

 Selain itu terdapat pula teori ketiga, yaitu teori gabungan atau teori

integratif.

(60)

Teori Retributif

 Pidana dijatuhkan semata‑mata karena orang telah melakukan kejahatan.

 Pidana dijatuhkan sebagai

pembalasan terhadap orang yang melakukan kejahatan.

 Jadi, dasar pembenarannya adalah

kejahatan itu sendiri.

(61)

Teori Retributif

 Johanes Andenaes: Yang menjadi tujuan utama teori retributif, yaitu untuk memuaskan tuntutan

keadilan (to satisfy the claims of Justice).

 Sedangkan pengaruh‑pengaruh

lain yang menguntungkan hanya

merupakan tujuan yang sekunder.

(62)

Teori Retributif

Tuntutan keadilan yang bersifat absolut ini antara lain dikemukakan oleh Immanuel

Kant. Ia memandang pidana sebagai

Kategorische lmperatief. Yang berarti,

seorang harus dipidana oleh hakim karena ia telah melakukan kejahatan.

Pidana bukan merupakan alat yang

digunakan untuk mencapai suatu tujuan, melainkan semata-mata mencerminkan keadilan.

(63)

Teori Retributif

Hegel berpendapat bahwa pidana merupakan

keharusan logis sebagai konsekuensi dari adanya kejahatan karena kejahatan merupakan

pengingkaran terhadap ketertiban hukum negara yang merupakan perwujudan cita‑susila, maka

pidana merupakan pengingkaran terhadap pengingkaran.

Teori Hegel ini terkenal dengan sebutan quasi mathematic, yang berbunyi wrong being (crime) is the negation of right, and punishment is the negation of that negation

(64)

Tentangan thd Teori Retributif

Konsep retributif ini, menurut J.E.

Sahetapy (1982: 199) bahwa

kecenderungan untuk membalas pada

prinsipnya merupakan gejala sosial yang normal, akan tetapi manusia bukan

binatang karena ia mempunyai pikiran dan perasaan. Manusia mempunyai

persepsi dan jangkauan penglihatan yang

jauh ke depan.

(65)

Ciri Teori Retributif

Menurut Karl O. Christiansen sebagai berikut:

 Tujuan pidana semata‑mata untuk pembalasan.

 Pembalasan merupakan tujuan utama tanpa mengandung sarana‑sarana

untuk tujuan lain, misalnya

kesejahteraan rakyat.

(66)

Ciri Teori Retributif

Kesalahan merupakan satu‑satunya syarat bagi adanya pidana.

Pidana harus disesuaikan dengan kesalahan pembuat;

Pidana melihat ke belakang; ia merupakan pencelaan yang murni dan tujuannya tidak untuk memperbaiki, mendidik atau

memasyarakatkan kembali pelanggar.

(67)

Teori Utilitarian

 Pidana bukanlah untuk

memuaskan tuntutan absolut dari keadilan.

 Pembalasan itu sendiri tidak mempunyai nilai, tapi hanya sarana untuk melindungi

kepentingan masyarakat.

(68)

Teori Utilitarian

 Pidana bukanlah sekadar untuk melakukan pembalasan atau

pengimbalan kepada orang yang telah melakukan kejahatan, tetapi

mempunyai tujuan‑tujuan tertentu

yang bermanfaat. Oleh karena itulah

teori ini sering disebut sebagai teori

tujuan (utilitarian theory).

(69)

Teori Utilitarian

 Pada teori utilitarian ini, pidana dijatuhkan bukan karena orang telah melakukan kejahatan,

melainkan agar orang jangan melakukan kejahatan. Tujuan

pidana adalah untuk pencegahan

kejahatan (prevensi).

(70)

Pencegahan Kejahatan

Mengenai pencegahan kejahatan

(prevensi) ini, dapat dibedakan antara

prevensi spesial (special deterrence) dan prevensi general (general deterrence).

Prevensi spesial, pengaruh pidana ditujukan terhadap terpidana.

Pencegahan yang ingin dicapai oleh pidana dengan mempengaruhi tidak berbuat jahat.

(71)

Prevensi General

 Prevensi general pengaruh pidana ditujukan terhadap masyarakat

pada umumnya.

 Pencegahan kejahatan yang ingin dicapai oleh pidana dengan

mempengaruhi tingkah laku

anggota masyarakat pada umumnya

agar tidak melakukan kejahatan.

(72)

Prevensi General

Johannes Andenaes mengemukakan tiga bentuk pengaruh dalam

prevensi general, yaitu:

 Pengaruh pencegahan.

 Pengaruh untuk memperkuat larangan‑larangan moral;

 Pengaruh untuk mendorong

kebiasaan berbuat patuh pada

hukum.

(73)

Daya Untuk Mengamankan

 Selain prevensi spesial dan prevensi general, Van Bemmelen memasukkan pula ke dalam teori ini “daya untuk

mengamankan”. Merupakan kenyataan, khususnya pidana pencabutan/perampas-an

kemerdekaan, lebih mengamankan

masyarakat terhadap kejahatan selama

penjahat tersebut berada di penjara.

(74)

Karakteristik Teori Utilitarian

 Tujuan pidana adalah pencegahan;

 Pencegahan bukanlah tujuan akhir, tetapi merupakan sarana untuk

mencapai tujuan yang lebih tinggi, yaitu kesejahteraan masyarakat;

 Hanya orang yang dapat

dipersalahkan yang dapat dipidana;

(75)

Karakteristik Teori Utilitarian

Pidana harus ditetapkan berdasarkan

tujuannya sebagai alat pencegahan kejahatan;

Pidana berorientasi ke depan; pidana dapat mengandung unsur pencelaan, tetapi baik unsur pencelaan maupun unsur pembalasan

tidak dapat diterima jika tidak dapat membantu pencegahan kejahatan untuk kepentingan

kesejahteraan masyarakat.

(76)

Teori Integratif

 Beranjak dari ketidakpuasan

prinsip‑prinsip retributif ataupun

utilitarian, maka teori integratif

berusaha menggabungkan kedua

prinsip teori tersebut, sehingga

seringkali teori ini disebut aliran

integratif.

(77)

Teori Integratif

Penulis yang pertama kali menganjurkan teori ini adalah Pellegrino Rossi (1787‑

1848). Sekalipun ia menganggap

pembalasan sebagai asas dari pidana dan bahwa berat pidana tidak boleh melampaui suatu pembalasan yang adil, namun dia

berpendirian, bahwa pidana mempunyai berbagai pengaruh, antara lain perbaikan suatu yang rusak dalam masyarakat dan prevensi general.

(78)

Teori Integratif

Teori ini menganjurkan adanya kemungkinan untuk mengadakan artikulasi terhadap teori pemidanaan yang mengintegrasikan beberapa fungsi sekaligus, yaitu bersifat retributif dan mempunyai sifat utilitarian, misalnya

pencegahan dan rehabilitasi, yang kesemuanya harus dilihat sebagai sasaran-sasaran yang

harus dicapai oleh suatu rencana pemidanaan.

(79)

Teori Integratif

 Pidana dan pemidanaan terdiri dari proses kegiatan terhadap

pelaku tindak pidana, yang dengan suatu cara tertentu diharapkan

untuk dapat mengasimilasikan

kembali narapidana ke dalam

masyarakat.

(80)

Teori Integratif

Seiring dengan itu masyarakat menuntut agar individu tersebut diperlakukan

dengan suatu yang juga dapat memuaskan permintaan atau kebutuhan pembalasan.

Lebih lanjut hal tersebut diharapkan dapat menunjang tujuan yang bermanfaat, yang dalam hal ini harus ditentukan secara

kasuistis. Hal inilah yang sering

menimbulkan anggapan pidana sebagi seni (punishment as an art).

(81)
(82)

Aliran-aliran

dalam Ilmu Hukum Pidana

 Aliran klasik

 Aliran modern

 Aliran neoklasik

 Aliran perlindungan

masyarakat

(83)

Aliran Klasik (Classical School)

Aliran Klasik muncul sebagai reaksi terhadap

ancien regime yang arbitrair pada abad ke-18 di Prancis dan Inggris, pada saat itu banyak terjadi:

ketidakpastian hukum,

ketidaksamaan dalam keberlakuan hukum, dan

ketidakadilan.

Aliran klasik terutama menghendaki hukum pidana yang tersusun secara sistematis dan

menitikberatkan kepada perbuatan. Tidak kepada pelaku tindak pidana.

(84)

Aliran Klasik (Classical School)

Hukum pidana yang dikehendaki adalah hukum pidana perbuatan (daadstrafrecht), perumusan undang-undang dan melawan hukum pidana.

Perbuatan ini diartikan secara abstrak dan

dilihat secara yuridis belaka terlepas dari orang yang melakukannya.

Jadi, aliran ini ingin mengobjektifkan hukum pidana dari sifat-sifat pribadi si pelaku.

(85)

Aliran Klasik (Classical School)

Tokoh aliran ini antara lain, Cesare Beccaria

yang lahir di ltalia pada tanggal 15 Maret 1738, dia menulis sebuah essay yang sangat terkenal, yakni Dei delliti a dele pene (1764) dan

diterbitkan untuk pertama kali di lnggris pada tahun 1767 dengan judul On Crimes and

Punishment. Tulisan ini memberikan sumbangan yang sangat besar dalam pembaharuan peradilan pidana dan semangat utama Beccaria yang

dikatakan sebagai tema aliran Klasik adalah

doktrin pidana harus sesuai dengan kejahatan (let the punishment should fit the crime).

(86)

Aliran Klasik (Classical School)

Sedangkan filsafat yang mempengaruhi Beccaria secara kuat ialah mengenai

“kebebasan kehendak”. Beccaria menyakini konsep kontrak sosial itu yang merasa bahwa individu menyerahkan kebebasan atau

kemerdekaan yang secukupnya kepada negara, agar masyarakat tersebut dapat hidup dengan aman dan mencegah orang dari melakukan

kejahatan.

(87)

Aliran Klasik (Classical School)

Tokoh lainnya, Jeremy Bentham (1748-1823), seorang filosof Inggris yang diklasifikasikan sebagai penganut utilitarian hedonist. Salah satu teorinya yang sangat penting dinamakan felisific calculus. Teori ini

menyatakan bahwa manusia merupakan makhluk

rasional yang akan memilih secara sadar kesenangan dan menghindari kesusahan. Oleh sebab itu, suatu

pidana harus ditetapkan atau diberikan kepada setiap kejahatan, sedemikian rupa sehingga kesusahan akan terasa lebih berat daripada kesenangan yang

ditimbulkan oleh kejahatan.

(88)

Aliran Klasik (Classical School)

Hukum pidana yang dikehendaki disini adalah hukum pidana perbuatan (daadstrafrecht). Perbuatan di sini diartikan secara abstrak dan dilihat secara yuridis

semata, terlepas dari pelakunya. Aliran klasik ini pada awal timbulnya, dalam hal pidana dan pemidanaan

sangat membatasi hakim dalam menetapkan jenis dan beratnya pidana. Pidana ditetapkan secara pasti

(definite sentence). Peranan hakim dalam

menentukan kesalahan sangat dikurangi dan pidana yang ditentukan dalam UU tidak mengenai

pemberatan dan peringanan pidana.

(89)

Aliran Klasik

 Perbuatan

 Asas legalitas

 Asas kesalahan

 Asas pengimbalan/pembalasan

 Tokohnya: Jeremy Bentham,

Cesare Beccaria, Montesquieu, dan

Jean Jacques Rousseau.

(90)

Aliran Klasik

Definisi hukum dari kejahatan (legal definition of crime);

Pidana harus sesuai dengan kejahatannya (let the punishment fit the crime);

Doktrin kebebasan kehendak (doctrine of free will);

Pidana mati untuk beberapa tindak pidana (death penalty for some offenses);

Tidak ada riset empiris (no empirical research);

Pidana yang ditentukan secara pasti (definite sentence).

(91)

Aliran Modern

Aliran Modern menghendaki hakim mempunyai keleluasaan/kebebasan dalam menentukan:

Jenis pidana (strafsoort);

Berat ringannya pidana (strafmaat);

Cara menjalankan pidana (strafmodaliteit/

strafmodus).

Tokohnya: Lombrosso, Ferry, Lacassagne, Gramatica, Ancel.

(92)

Aliran Modern

Menolak definisi hukum dengan pelaku tindak pidana (rejected legal definition);

Pidana harus sesuai dengan pelaku tindak pidana (let the punishment fit the criminal);

Doktrin determinisme (doctrine of determinism);

Penghapusan pidana mati (abolition of the death penalty);

Riset empiris (empirical research: use of the inductive method);

Pidana yang tidak ditentukan secara pasti (indeterminisme sentence).

(93)

Aliran Neoklasik

 Pelaku

 Indeterminisme, dan

 Kesaksian ahli.

(94)

Aliran Neoklasik

 Modifikasi (perubahan) dari doktrin kebebasan kehendak (doctrine of free will) yang dapat dipengaruhi oleh

patologi, ketidakmampuan, penyakit jiwa, dan keadaan-keadaan lain;

 Diterimanya keberlakuan keadaan- keadaan yang meringankan

(mitigating-circumstances), baik

fisikal, lingkungan maupun mental.

(95)

Aliran Neoklasik

Modifikasi dari doktrin pertanggungjawaban pidana untuk menetapkan peringanan pidana dengan pertanggungjawaban sebagian di dalam

kasus-kasus tertentu seperti penyakit jiwa (gila), di bawah umur, dan keadaan-keadaan lain yang dapat mempengaruhi pengetahuan dan kehendak

seseorang pada saat terjadinya kejahatan.

Masuknya kesaksian ahli (expert testimony) untuk menentukan derajat pertanggungjawaban.

(96)
(97)

Asas-asas Hukum Pidana

 Waktu: Asas legalitas (Nullum

delictum, nulla poena, sine praevia lege poenali)

 Tempat: Asas-asas teritorial,

personal, perlindungan, universal

 Locus delicti dan tempus delict.

 Asas ubikuitas: Omni-present

(everywhere at the same time).

(98)

Asas-asas Hukum Pidana

Ruang berlakunya hukum pidana

merupakan bagian integral dari sistem pemidanaan karena keseluruhan aturan (umum dan khusus) untuk dapat

dipidananya seseorang terkait erat dengan asas-asas ruang berlakunya hukum pidana, yaitu menurut waktu (asas legalitas) dan

menurut tempat (asas-asas teritorial, nasional aktif (personal), nasional pasif

(perlindungan kepentingan nasional), dan universal).

(99)

Asas-asas Hukum Pidana

Pada dasarnya, asas-asas ruang berlakunya hukum pidana antara KUHP dan Konsep tidak jauh berbeda. Namun ada juga perbedaan dan perkembangannya, yaitu:

Di samping mengatur ruang berlakunya hukum pidana

menurut waktu dan tempat, Konsep juga mengatur tentang waktu terjadinya tindak pidana (tempus delicti; time of

act; time of commission of an offence; time of

perpetration of a crime) dan tempat terjadinya tindak

pidana (locus delicti; place of act; place of commission of an offence; place of perpetration of a crime). Kedua hal ini tidak diatur dalam KUHP.

(100)

Asas-asas Hukum Pidana

Mengenai ruang berlakunya hukum pidana

menurut waktu, konsep tetap mempertahankan asas legalitas formal seperti KUHP, akan tetapi diperluas ke asas legalitas materiil.

Mengenai ruang berlakunya hukum pidana menurut tempat pada awalnya (Konsep 2002) tidak jauh berbeda dengan KUHP. Namun

dalam perkembangan terakhir (Konsep 2008) mengalami perubahan.

(101)

 Perubahan yang dilakukan Konsep meliputi:

 Asas Teritorial: Diperluas dengan asas extra-teritorial untuk

menjaring tindak pidana di bidang

teknologi informasi (cyber crime).

(102)

Asas Personal: Penyederhanaan

pengaturan yang sebelumnya terkesan

digabung dalam asas perlindungan, yaitu pada prinsipnya tindak pidana apapun

yang dilakukan oleh WNI di luar Indonesia, hukum pidana Indonesia berlaku baginya, kecuali tindak pidana ringan. Ketentuan ini menerapkan prinsip equality before the law.

(103)

 Asas Perlindungan: Dalam KUHP asas ini digabung dengan asas universal dan kepentingan nasional yang dilindungi

juga bersifat limitatif/enumeratif rigid.

Dalam Konsep 2008 diatur terpisah dari asas universal dan kepentingan nasional tidak dirumuskan secara

limitatif, tetapi secara limitatif terbuka.

(104)

Asas Universal: Perumusan kepentingan internasional/universal/global yang

dilindungi tidak dengan cara disebutkan kejahatan internasional tertentu secara limitatif. Perumusan secara terbuka

untuk menampung perkembangan

kesepakatan internasional.

(105)

Ruang berlakunya hukum pidana

menurut waktu dan tempat dlm kuhp

Berlakunya Undang-Undang Pidana menurut Waktu: Asas Legalitas

Syarat pertama untuk menindak suatu perbuatan yang tercela (jahat), yaitu adanya suatu

ketentuan dalam UU Pidana yang merumuskan perbuatan yang tercela itu yang disertai suatu sanksi. Asas legalitas mensyaratkan terikatnya hakim pada UU. Demikian pula Hukum Acara Pidana agar dijalankan menurut cara yang telah diatur dalam UU.

(106)

Dalam Asas Legalitas Terkandung 3 (tiga) Prinsip

Menurut Moeljatno

Tidak ada perbuatan yang dilarang dan

diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang.

Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi (kias)

Aturan hukum pidana tidak berlaku surut.

(107)

Ada 6 (enam) Aspek dalam Asas Legalitas

tidak dapat dipidana kecuali berdasarkan ketentuan pidana menurut UU;

tidak ada penerapan UU pidana secara analogi;

tidak dapat dipidana hanya berdasarkan kebiasaan;

tidak ada kekuatan surut dari ketentuan pidana;

tidak ada pidana lain kecuali yang ditentukan UU;

penuntutan pidana hanya menurut cara yang ditentukan UU.

(108)

Asas legalitas diperkenalkan pertama kali oleh seorang sarjana Jerman, Johann Anselm von Feuerbach dalam bukunya Lehrbuch des peinlichen Recht (1801) yang dirumuskan dalam bahasa Latin Nullum delictum, nulla poena, sine praevia lege poenali (tiada delik, tiada pidana, tanpa peraturan lebih dahulu).

Asas legalitas (principle of legality) di KUHP diatur dalam Pasal 1 Ayat (1) KUHP: Tiada suatu perbuatan dapat

dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam per- UU-an yang telah ada sebelum perbuatan dilakukan.

(109)

Perumusan asas legalitas oleh Feuerbach ini berkaitan dengan pandangannya yang dinamakan teori paksaan psikis (theory des psychischen Zwanges). Moeljatno

menyebutnya vom psychologischen Zwanges. Sedangkan, Bambang Poernomo menyebutnya General-preventions

theorie des psychologischen Zwanges.

Berdasarkan Pasal 1 Ayat (1) KUHP di atas dapat dirinci:

Suatu tindak pidana harus dirumuskan atau disebutkan dalam per-UU-an Hukum Pidana;

Per-UU-an Hukum Pidana ini harus ada sebelum terjadinya tindak pidana atau tidak boleh berlaku surut (retro aktif).

(110)

Suatu tindak pidana harus dirumuskan

atau disebutkan dalam per-UU-an Hukum Pidana

Ketentuan ini menimbulkan 2 (dua) konsekuensi:

Perbuatan seseorang yang tidak tercantum dalam UU tidak dapat dipidana. Hukum yang tidak

tertulis tidak berkekuatan untuk diterapkan.

Adanya larangan menggunakan analogi untuk membuat suatu perbuatan menjadi suatu tindak

pidana. Larangan ini berfungsi mencegah tindakan sewenang-wenang dari pengadilan/ penguasa.

(111)

Analogi, artinya memperluas berlakunya suatu

peraturan. Analogi tidak sama dengan penafsiran (interpretasi). Macam-macam penafsiran:

Penafsiran secara ekstensif (memperluas);

Penafsiran secara teleologis (sosiologis);

Penafsiran menurut tata bahasa (gramatikal);

Penafsiran secara sistematis;

Penafsiran menurut sejarah terbentuknya peraturan (historis);

Penafsiran otentik (Bab IX Buku I KUHP).

(112)

Per-UU-an Hukum Pidana ini harus ada sebelum terjadinya tindak pidana atau tidak boleh berlaku surut (retro aktif)

Hukum Pidana tidak boleh berlaku retro aktif (mundur/surut) karena:

Menjamin kebebasan individu terhadap kesewenang- wenangan penguasa/pengadilan;

Pidana dipandang sebagai paksaan psikologis

(psychologische dwang), artinya penguasa berusaha mempengaruhi jiwa si calon pembuat (tindak pidana) untuk tidak berbuat karena adanya ancaman pidana

terhadap orang yang melakukan tindak pidana. Teori ini disebut teori paksaan psikis (Theorie des psychischen

Zwanges) dari Johann Anselm von Feuerbach.

(113)

Ketentuan tidak boleh berlaku surut dapat diterobos atau dikesampingkan oleh pembentuk UU. Hal ini berlaku asas Lex posterior derogat legi priori

(apabila ada dua ketentuan yang sama tingkatannya, maka peraturan yang ditetapkan kemudian

mendesak/ mengesampingkan peraturan terdahulu).

Pengecualian larangan berlaku surut diatur dalam Pasal 1 Ayat (2) KUHP: Jika sesudah perbuatan

dilakukan ada perubahan dalam perundang-

undangan, maka dipakai aturan yang paling ringan bagi terdakwa.

(114)

Bila ada perubahan, maka timbul hukum transitoir (transisi/peralihan), artinya

hukum yang harus diterapkan bila ada perubahan dalam per-UU-an. Hukum transitoir juga disebut hukum peralihan karena mengatur peralihan dari hukum yang lama ke hukum yang baru. Bila ada perubahan per-UU-an, maka pengaturan di masing-masing negara berbeda, misalnya:

(115)

Hukum Pidana di Inggris: Ketentuan yang diterapkan adalah peraturan yang masih

berlaku pada saat delik dilakukan;

Hukum Pidana di Swedia: Peraturan baru.

KUHP Indonesia: Berdiri di tengah-

tengah. Dasarnya adalah lex temporis delicti, akan tetapi bila peraturan yang baru lebih meringankan terdakwa, maka peraturan yang baru inilah yang berlaku.

(116)

Berlakunya UU Pidana menurut Tempat

Wilayah suatu negara meliputi daratan, perairan laut teritorial, dan udara yang ada di atas wilayah negara itu.

Tempat terjadinya tindak pidana (locus

delicti): Untuk menuntut seorang pelaku

tindak pidana, maka harus pasti tentang

waktu dan tempat terjadinya tindak

pidana.

(117)

Waktu: Untuk menentukan suatu UU itu dapat diterapkan atau tidak.

Tempat:

Untuk menetapkan UU Pidana

Indonesia dapat diberlakukan atau tidak

Pengadilan yang berkompeten untuk

mengadili orang yang melakukan tindak

pidana (kompetensi relatif).

(118)

Untuk menetapkan locus delicti ada 3 (tiga) teori:

Teori perbuatan materiil (jasmaniah): Tempat tindak pidana (locus delicti) ditentukan oleh

adanya perbuatan jasmaniah yang dilakukan oleh si pembuat dalam mewujudkan tindak pidana itu.

Teori instrumen (alat): Tempat tindak pidana

ialah tempat bekerjanya alat yang dipakai oleh si pembuat.

Teori akibat: Locus delicti adalah tempat terjadinya akibat di dalam delik itu.

(119)

Asas Ubikuitas

Asas ini lebih berperan dalam

menanggulangi masalah jurisdiksi yang

ditimbulkan oleh internet, misalnya Cyber Crime (Tindak Pidana Mayantara) karena sistem hukum dan jurisdiksi

nasional/teritorial mempunyai

keterbatasan sehingga tidak mudah

menjangkau pelaku tindak pidana di ruang maya/cyber yang tidak terbatas.

(120)

Untuk menghadapi kejahatan tanpa batas wilayah itu dapat digunakan asas universal atau prinsip Ubikuitas (The Principle of Ubiquity) atau Omnipresent

(everywhere at the same time). Secara harfiah ubikuitas artinya ada atau hadir di mana-mana.

 Prinsip Ubikuitas adalah prinsip yang menyatakan bahwa delik-delik yang dilakukan atau terjadi

sebagian di wilayah teritorial negara dan sebagian di luar teritorial negara harus dapat dibawa ke dalam jurisdiksi setiap negara yang terkait.

(121)

Asas Teritorial

Asas ini diatur dalam Pasal 2 KUHP:

Aturan pidana dalam UU Indonesia berlaku bagi

setiap orang yang melakukan sesuatu tindak pidana di wilayah Indonesia.

Setiap orang, baik WNI maupun WNA yang

melakukan tindak pidana di wilayah Indonesia. Asas ini menyangkut tempat terjadinya delik. Namun

dalam melakukan tindak pidana orang tidak perlu berada di wilayah Indonesia, misalnya tindak pidana yang dilakukan di atas kapal Indonesia. (Periksa:

Pasal 3 KUHP).

(122)

Asas Personal (Nasional Aktif)

Asas ini mengatakan: Peraturan hukum pidana Indonesia berlaku bagi setiap WNI yang

melakukan tindak pidana, baik di dalam maupun di luar negeri. Seolah-olah hukum pidana

mengikuti WNI.

Bila kejahatan dilakukan di dalam negeri tidak menimbulkan persoalan, tetapi bila dilakukan di luar negeri, maka dalam Pasal 5 KUHP

disebutkan kejahatannya meliputi:

(123)

Kejahatan terhadap keamanan negara,

martabat presiden, penghasutan, penyebaran surat penghasutan, membuat tidak cakap untuk dinas militer, bigami, dan perampokan;

Perbuatan yang dilakukan merupakan

kejahatan yang diatur dalam per-UU-an pidana Indonesia, demikian pula di negara lain tempat tindak pidana dilakukan itu diancam dengan

pidana.

(124)

Asas Perlindungan (Nasional Pasif)

Peraturan hukum pidana Indonesia berlaku terhadap tindak pidana yang menyerang

kepentingan hukum negara Indonesia, baik dilakukan oleh WNI maupun WNA yang

dilakukan di luar Indonesia.

Bentuk-bentuk kejahatan diatur dalam Pasal 4 sub 1, 2, 3, Pasal 7 dan Pasal 8 KUHP.

(125)

Asas Universal

Peraturan Hukum Pidana Indonesia

berlaku terhadap WNI atau WNA, baik dilakukan di dalam atau di luar negeri.

Asas ini menyangkut penyelenggaraan hukum dunia atau ketertiban hukum dunia. Tindak pidana yang dimaksud

diatur dalam Pasal 4 sub 2 dan 4 KUHP.

Kepentingan yang dilindungi adalah

kepentingan internasional.

(126)

Dalam Pasal 9 diatur pengecualian yang diatur dalam Pasal 2, 5, 7, dan 8. Khususnya berkaitan dengan Pasal 2 menyangkut perkecualian yang diakui dalam Hukum Internasional, seperti:

Kepala Negara asing;

Duta/duta besar atau perwakilan negara asing;

Anak Buah Kapal perang asing.

Mereka ini mendapatkan exterritorialitas atau immunitas (kekebalan).

(127)

Tindak Pidana (TP)

 Istilah: Delik, strafbaarfeit,

perbuatan pidana/peristiwa pidana.

 Unsur TP: Monistis dan dualistis;

Perbuatan dan orang.

 Rumusan TP: Barangsiapa diikuti perbuatan (larangan, tidak

dikehendaki atau perintah).

(128)

Tindak Pidana

 Jenis TP: Kejahatan dan pelanggaran (perbedaan: kualitatif dan kuantitatif).

 Pembagian TP: Formil; Materiil;

Omisi; Aduan.

 Subjek TP dalam KUHP: Manusia;

 Subjek TP dalam RKUHP : manusia

dan korporasi.

(129)

Syarat Pemidanaan

A. Perbuatan

1. memenuhi rumusan UU 2. bersifat melawan hukum

(SMH)

(tidak ada alasan pembenar)

(130)

Syarat Pemidanaan

B. Orang

3. Kesalahan/Pertanggungjawaban Pidana (PJP)

a. kemampuan bertanggung jawab b. dolus atau culpa

(tidak ada alasan pemaaf)

(131)

Perbuatan

Istilah: TAT-HANDLUNG, HANDELING, GEDRAGING.

Perbuatan: Kata kerja yang melarang atau memerintahkan; Melakukan atau tidak melakukan.

RKUHP: Asas legalitas formil dan asas legalitas materiil.

Kriteria: Nilai-nilai Pancasila.

(132)

Hubungan Sebab-Akibat (Causaliteit, Causalitat)

 Penentu delik materiil (akibat).

 Teori ekivalensi: Tiap syarat itu sebab yang nilainya sama, bila

satu syarat tidak ada, maka akibatnya akan lain pula;

Conditio sine qua non.

(133)

Hubungan Sebab-Akibat (Causaliteit, Causalitat)

 Teori Individualisasi: P ost factum (in concreto).

 Teori Generalisasi/ adekuat:

Ante factum (in abstracto).

(134)

Sifat Melawan Hukum (SMH) (wederrechtelijk)

 Pengertian: Perbuatan yang masuk dalam rumusan delik

dalam undang-undang (KUHP).

 Pembagian: SMH Formil

(tertulis/UU); SMH Materiil

(perbuatan tercela di masy.)

(135)

Sifat Melawan Hukum (SMH) (wederrechtelijk)

 SMH materiil dalam

fungsi/segi negatif: Petugas KB.

 SMH materiil dalam

fungsi/segi positif: Kumpul

kebo.

(136)

Kesalahan

(Pertanggungjawaban Pidana)

 Syarat pemidanaan: Kesalahan.

 Unsur kesalahan: Kemampuan bertanggung jawab (KBJ),

kesengajaan (dolus) atau

kealpaan (culpa), dan tidak ada

alasan pemaaf.

(137)

PJP

 Tidak mampu bertanggung jawab:

Pasal 44 KUHP (cacat jiwa krn pertumbuhan/penyakit)

 RKUHP: Tidak harus ada asas

kesalahan (strict liability, vicarious liability dan rechterlijk/ judicial

pardon).

(138)

Kemampuan Bertanggung Jawab

 Kriteria KBJ: Mampu

mengetahui atau menyadari perbuatannya ber-SMH.

 Tidak mampu: Pasal 44 KUHP.

 Tidak mampu sebagian:

Kleptomanie, pyromanie,

claustropobie, dll.

(139)

 Kurang mampu: Mabok.

 RKUHP: Gangguan jiwa, penyakit jiwa atau

retardasi mental dijatuhi

tindakan.

(140)

Kesengajaan (Dolus)

Arti: Menghendaki dan mengetahui

(willens en wettens) perbuatan yang

dilakukan.

Teori Kesengajaan: Teori kehendak

(wilstheorie) dan teori pengetahuan atau

membayangkan (voorstellings theorie).

(141)

Dolus

 Bentuk/tingkat kesengajaan:

Maksud/tujuan, kepastian dan kemungkinan.

 Kesesatan: Fakta atau hukum.

(142)

KEALPAAN

(Culpa, Schuld, Negligence)

 Kriteria: Alpa, teledor,

sembrono, kurang hati-hati, kurang menduga-duga,

kurang memperkirakan.

 Pembagian kealpaan:

Disadari dan tidak disadari.

(143)

ALASAN PENGHAPUS PIDANA (Straf- Uitsluitings-Gronden = SUG)

Pengertian APP: Alasan yang

memungkinkan orang yang melakukan tindak pidana, tidak dipidana.

Pembagian APP:

Alasan pembenar (rechtsvaardigings- grond/faits justificatifs)

Alasan pemaaf (schuilduitsluitings- grond/faits d’exuce)

(144)

ALASAN PENGHAPUS PIDANA

(Straf-Uitsluitings-Grond = SUG)

Alasan pembenar dan alasan pemaaf tidak diatur dalam KUHP.

Yang diatur adalah alasan-alasan yang menghapuskan pidana.

Alasan pembenar: Alasan yang menghapuskan sifat melawan hukum dari perbuatan, sehingga perbuatan yang dilakukan oleh si pelaku tindak pidana menjadi perbuatan yang patut dan benar (tidak merupakan perbuatan yang melawan hukum), yaitu:

Pasal 48: Daya paksa (overmacht) jenis keadaan darurat (nood toestand)

Pasal 49 Ayat (1): melaksanakan pembelaan terpaksa (noodweer)

Pasal 50: melaksanak

Referensi

Dokumen terkait