Penanggungan (Borgtocht)
LASTUTI ABUBAKAR
TRI HANDAYANI
PENANGGUNGA N ( Pasal 1820)
Salah satu perjanjian bernama dalam KUHPerdata
kesanggupan Penanggung untuk menanggung utang Debitur
Apabila debitur tidak memenuhi
perikatannya
Sifat Accessoir ( 1821)
Tidak ada penanggungan apabila tidak ada
perikatan pokok
Penanggungan dapat diadakan walau perikatan
dapat dibatalkan akibat sanggahan terhadap debitur ( belum dewasa)
LA
Apa yang ditanggung oleh Penanggung? (1822)
o penanggung tidak dapat mengikatkan diri dalam perjanjian atau syarat-syarat yang lebih berat daripada perikatan yang dibuat oleh debitur
o Dapat untuk sebagian utang atau mengurangi syarat-syarat
o Apabila penanggungan dibuat melebihi utang atau syarat-syarat yang lebih berat , maka penaggungan tetap sah hanya
untuk apa yang telah ditentukan dalam
utang pokok.
Bagaimana hubungan hukum Penanggung dengan debitur? (1823)
Penanggung dapat manjadi penanggung tanpa diminta
oleh debitur.
Penanggung dapat menjadi penanggung tanpa diketahui
oleh debitur
Penanggung dapat menjadi penanggung untuk seorang penanggung debitur utama
dalam praktik selalu ada kepentingan diantara penanggung dengan debitur
Perjanjian penanggungan harus dinyatakan secara tegas,
tidak dapat dipersangkakan dan tidak dapat diperluas melebihi syarat pada saat
diadakan.
Penanggungan yang melebihi utang pokok (1825)
• Termasuk segala akibat utangnya, bahkan biaya- biaya gugatan yang diajukan terhadap debitur utama dan segala biaya yang dikeluarkan (bunga, biaya, ongkos dan kewajiban lain)
• Harus diperjanjikan sebelumnya
• Perikatan –perikatan penanggung beralih kepada para ahli warisnya.
Syarat Seorang Penanggung
• Cakap mengikatkan diri untuk memenuhi perjanjian dan bertempat tinggal di Indonesia (1827)
• Apabila penanggung diterima oleh kreditur secara sukarela atau berdasarkan keputusan hakim ternyata menjadi tidak mampu (1829) :
• harus diangkat penanggung baru
• Namun tidak berlaku, apabila kreditur yang meminta diadakan penanggung ( ditunjuk oleh kreditur)
• Apabila seseorang (debitur) berdasarkan UU
atau keputusan hakim diwajibkan memberikan
seorang penanggung dan tidak berhasil, dapat
memberikan jaminan kebendaan (gadai dan
hipotik)-1830
Akibat Penanggungan dan Hak Istimewa Penanggung (1831- 1834)
Penanggung tidak wajib membayar sebelum harta debitur disita atau dijual untuk melunasi utangnya (hak istimewa penanggung)
Penanggung tidak dapat menuntut barang debitur apabila :
Hak istimewa dilepaskan dan berjanji akan Bersama –sama debitur secara tanggung menanggung, debitur pailit, diperintahkan oleh hakim
Kreditur tidak wajib menyita atau menjual barang debitur , kecuali penanggung mengajukan permohonan pada waktu pertama kali dituntut di muka hakim
dalam praktik hak istimewa diperjanjikan dalam perjanjian penanggungan.
LA
• masing-masing penanggung terikat untuk seluruh utang debitur
• dapat meminta pemisahan utangnya saat pertama dituntut di pengadilan agar kreditur membagi piutangnya dan mengurangi masing-masing bagian penanggung utang yang terikat secara sah
• Apabila ada penanggung yang tak mampu, maka penanggung wajib membayar utang yang tak mampu menurut imbangan bagiannya, kecuali ketidakmampuan terjadi setelah pemisahan utang.
• apabila kreditur yang secara sukarela membagi utangnya, tidak dapat menarik kembali pemisahan,sekalipun ada penanggung yang tidak mampu.
Beberapa Orang Penanggung (1836-
1838)
Akibat Penanggungan antara Debitur dan Penanggung
1
• Menuntut pembayaran dari debitur sekalipun dibuat tanpa sepengatahuan debitur.
• Terhadap utang pokok dan biaya, yang disampaikan saat pemberitahuan kepada debitur dalam waktu yang patut.(1839)
2
• Subrogasi terjadi demi hukum, dengan segala haknya terhadap debitur semula (1840)
3
• Apabila ada beberapa debitur terhadap 1 utang, Penanggung dapat menuntut kembali semua yang telah dbayar dari masing2 debitur
• penanggung yang telah membayar utangnya sekali, tidak dapat menuntut debitur yang membayar kedua kalinya, jika tidak diberitahukan , namun tidak mengurangi hak untuk menuntut kembali dr kreditur.
• penanggung yang telah membayar tanpa digugat, tidak dapat menuntut kembali apabila debitur mempunyai alasan untuk menuntut pembatalan utangnya, namun penanggung dapat menuntut kreditur
LA
Hak Penanggung (1843)
menuntut ganti rugi atau dibebaskan dari perikatannya bahkan sebelum membayar
utangnya, apabila : digugat di muka hakim untuk membayar; debitur membebaskan dari penanggungan pada waktu tertentu; utangnya sudah dapat ditagih karena lewatnya jangka waktu yang telah ditetapkan untuk membayar ; lewat jangka waktu 10 tahun jika perikatan pokok tidak mengatur jangka waktu untuk pengakhiran.
Penanggung yang telah melunasi utangnya, dapat menuntut penanggung-penanggung lainya untuk masing-masing bagian
LA
Hapusnya Penanggungan
sebab yang sama dengan berakhirnya perikatan lainnya (1845)
Percampuran utang antara debitur dan penanggung, namun tidak menggugurkan tuntutan hukum kreditur pada penanggung dari penanggung (1846)
penaggung dapat menggunakan segala tangkisan yang dapat dipakai oleh debitur dan mengenai utang yang ditanggungnya.
Dibebaskan dari kewajiban akibat kesalahan kreditur (1848)
Kreditur sukarela menerima barang tak bergerak atau barang lain sebagai pembayaran utang pokok, sekalipun barang tsb harus diserakan oleh kreditur kepada orang lain berdasarkan putusan hakim
penundaan pembayaran tidak membebaskan penanggung, namun penanggung dapat memaksa debitur membayar utang atau membebaskan penanggung dari tanggungannya.
LA
Penggolongan Lembaga Jaminan dan Hak-hak yang memberikan jaminan
Lastuti Abubakar
Tri Handayani
Dalam rangka mewujudkan kemandirian ekonomi,
negara harus memberikan perhatian terhadap dunia usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah serta koperasi yang sering kesulitan mendapatkan akses permodalan dalam bentuk kredit, pembiayaan, atau pembiayaan
berdasarkan prinsip syariah dari lembaga keuangan dan di luar lembaga keuangan karena terbatasnya jaminan
Melahirkan
UU No. 1 Tahun 2016 Tentang Penjamin
Penjaminan adalah kegiatan pemberian jaminan oleh Penjamin atas pemenuhan kewajiban finansial Terjamin kepada Penerima Jaminan.
Tujuan dari adanya usaha penjaminan oleh suatu Lembaga Penjamin:
1. menunjang kebijakan pemerintah, terutama dalam rangka mendorong kemandirian usaha dan pemberdayaan dunia usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah serta koperasi dalam perekonomian nasional;
2. meningkatkan akses bagi dunia usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah serta koperasi dan usaha prospektif lainnya kepada sumber pembiayaan;
3. mendorong pertumbuhan pembiayaan dan terciptanya iklim usaha yang kondusif bagi peningkatan sektor ekonomi
strategis;
4. meningkatkan kemampuan produksi nasional yang berdaya saing tinggi dan yang memiliki keunggulan untuk ekspor;
5. mendukung pertumbuhan perekonomian nasional; dan 6. meningkatkan tingkat inklusivitas keuangan nasional.
Bentuk Usaha Penjaminan
penjaminan Kredit, Pembiayaan, atau Pembiayaan Berdasarkan Prinsip Syariah yang diberikan oleh
lembaga keuangan;
penjaminan pinjaman yang disalurkan oleh koperasi simpan
pinjam atau koperasi yang mempunyai unit usaha simpan
pinjam kepada anggotanya
Penjaminan Kredit dan/atau pinjaman program kemitraan
yang disalurkan oleh badan usaha milik negara dalam rangka
program kemitraan dan bina lingkungan.
Selain bentuk usaha diatas, Perusahaan Penjaminan dapat melakukan:
1. penjaminan atas surat utang;
2. penjaminan pembelian barang secara angsuran;
3. penjaminan transaksi dagang;
4. penjaminan pengadaan barang dan/atau jasa (surety bond);
5. penjaminan bank garansi (kontra bank garansi);
6. penjaminan surat kredit berdokumen dalam negeri;
7. penjaminan letter of credit;
8. penjaminan kepabeanan (customs bond);
9. penjaminan cukai;
10. pemberian jasa konsultasi manajemen terkait dengan kegiatan usaha Penjaminan; dan 11. kegiatan usaha lainnya setelah mendapat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan.
PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2 /POJK.05/20172017 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA LEMBAGA PENJAMIN