DAFTAR ISI
BAB I... 1
KETENTUAN UMUM PELAKSANAAN PEKERJAAN...1
PASAL 1... 1
PENDAHULUAN... 1
PASAL 2... 1
NAMA DAN LOKASI PEKERJAAN...1
PASAL 3... 1
PAPAN NAMA PROYEK...1
PASAL 4...2
RUANG LINGKUP PEKERJAAN...2
PASAL 5... 2
PENANGGUNG JAWAB TEKNIS PELAKSANAAN KEGIATAN...2
PASAL 6... 2
GAMBAR – GAMBAR KERJA DAN SYARAT-SYARAT TEKNIS...2
PASAL 7... 3
PEMASTIAN MUTU (QUALITY ASSURANCE)...3
PASAL 8...5
PENANGGUNG JAWAB PELAKSANAAN...5
PASAL 9...5
TANGGUNG JAWAB ATAS PEKERJAAN YANG CACAT...5
PASAL 10... 6
FASILITAS LAPANGAN...6
PASAL 11... 6
PERALATAN KELENGKAPAN KERJA...6
PASAL 12... 7
PENJAGAAN DAN KEAMANAN... 7
PASAL 13... 8
PENGAWASAN... 8
PASAL 14... 9
KEAMANAN, KESELAMATAN DAN KESEJAHTERAAN...9
PASAL 15... 9
CONTOH – CONTOH MATERIAL... 9
PASAL 16... 10
PERLINDUNGAN TERHADAP CUACA...10
JADWAL PELAKSANAAN... 10
PASAL 18... 11
METODE KERJA... 11
PASAL 19... 11
PEMBERITAHUAN UNTUK MEMULAI PEKERJAAN...11
PASAL 20... 11
RAPAT - RAPAT... 11
PASAL 21... 12
PRESTASI KEMAJUAN PEKERJAAN...12
PASAL 22... 12
PENYELESAIAN PEKERJAAN...12
PASAL 23... 12
LAPORAN-LAPORAN... 12
PASAL 24... 13
SHOP DRAWING...13
PASAL 25... 13
AS BUILT DRAWING... 13
BAB II...14
SPESIFIKASI TEKNIS... 14
A. STUKTUR BANGUNAN...14
A.1 KETENTUAN UMUM :...14
A.2 STANDARD RUJUKAN :... 14
PASAL 1... 15
STUKTUR BETON... 15
1.1 KETENTUAN BAHAN... 15
PASAL 2... 22
PEKERJAAN PONDASI...22
1.1 PEKERJAAN TANAH UNTUK GALIAN PONDASI...22
1.2 PEKERJAAN URUGAN PASIR PADAT...24
1.3 PEKERJAAN URUGAN DAN PEMADATAN...26
1.3.1 Lingkup Pekerjaan... 26
1.3.2 Persyaratan Bahan...26
1.3.3 Syarat-Syarat Pelaksanaan...27
PASAL 4... 28
DINDING PASANGAN BATU BATA... 28
4.1 UMUM...28
4.2 STANDARD :... 29
4.5 PERSIAPAN :... 29
4.6 PELAKSANAAN :... 29
PASAL 5... 30
PLESTERAN DAN BENANGAN... 30
5.1 UMUM :...30
5.2 STANDARD :... 30
5.3 MATERIAL :...30
5.4 ALAT KERJA :...30
5.5 PERSIAPAN :...31
5.6 PELAKSANAAN :...31
PASAL 6... 32
PEKERJAAN LANTAI...32
1.1 UMUM :... 32
1.2 MATERIAL... 32
1.3 ALAT KERJA :...32
1.4 PERSIAPAN :...32
1.5 PELAKSANAAN :...33
1.6 PERLINDUNGAN DAN PEMBERSIHAN...34
PASAL 7... 34
PEKERJAAN PINTU DAN JENDELA...34
7.1 UMUM...34
7.2 MATERIAL... 34
7.3 ALAT KERJA... 34
7.4 PERSIAPAN... 35
7.5 PELAKSANAAN...35
PASAL 8... 36
PEKERJAAN KACA...36
8.1 UMUM...36
8.2 MATERIAL... 36
8.3 ALAT KERJA... 36
8.4 PERSIAPAN... 36
8.5 PELAKSANAAN...37
PASAL 9... 37
PEKERJAAN PENGGANTUNG DAN PENGUNCI...37
9.1 UMUM...37
9.2 MATERIAL... 38
9.3 ALAT KERJA... 38
9.4 PERSIAPAN... 38
9.6 PENGUJIAN... 39
PASAL 10... 39
PEKERJAAN PENGECATAN... 39
10.1 UMUM...39
10.2 MATERIAL... 40
10.3 ALAT KERJA... 40
10.4 PERSIAPAN... 40
10.5 PELAKSANAAN...41
BAB I
KETENTUAN UMUM PELAKSANAAN PEKERJAAN PASAL 1.
PENDAHULUAN
a. Penyedia Jasa Konstruksi bertanggungjawab dalam menepati semua ketentuan yang tercantum dalam Dokumen Kontrak dan Gambar-gambar Pelaksanaan.
b. Penyedia Jasa Konstruksi wajib memeriksa kebenaran dari ukuran-ukuran keseluruhan maupun bagian-bagiannya dan segera memberitahukan Konsultan Pengawas tentang setiap perbedaan yang ditemukan di dalam pelaksanaan.
Penyedia Jasa Konstruksi baru diijinkan membetulkan kesalahan gambar dan melaksanakannya setelah ada persetujuan tertulis dari Pemberi Tugas/Konsultan Pengawas.
c. Pengambilan ukuran-ukuran yang keliru dalam pelaksanaan di dalam hal apapun menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa Konstruksi. Oleh karena itu sebelumnya kepadanya diwajibkan mengadakan pemeriksaan menyeluruh terhadap semua gambar-gambar yang ada & kondisi lapangan.
PASAL 2.
NAMA DAN LOKASI PEKERJAAN
Nama Pekerjaan Perencanaan Rehab Rumah Jabatan Sekretaris DPRD Lokasi pekerjaan di Kecamatan Tanah Grogot
PASAL 3.
PAPAN NAMA PROYEK
Papan nama proyek diletakkan pada tempat yang mudah dilihat umum. Papan nama proyek memuat :
1) Nama Proyek
2) Direksi Teknis/Lapangan 3) Lokasi Proyek
4) Jumlah Biaya (Kontrak) 5) Nama Pelaksana (Penyedia)
6) Masa pelaksanaan proyek bulan, tanggal dan tahun
PASAL 4
RUANG LINGKUP PEKERJAAN
Ruang Iingkup pekerjaan sesuai dengan yang terdapat pada daftar kuantitas (form rencana anggaran biaya), meliputi :
1) Pekerjaan persiapan 2) Pekerjaan Pasangan Bata;
3) Pekerjaan Beton;
4) Pengadaan Gazebo;
5) Pekerjaan Pintu dan Jendela;
6) Pekerjaan Lantai SPC Flooring.
PASAL 5.
PENANGGUNG JAWAB TEKNIS PELAKSANAAN KEGIATAN
a. Penyedia wajib menetapkan dan menempatkan seorang Kepala Pelaksana, yang cakap untuk memimpin dan bertanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan pekerjaan, Penetapan ini harus dikuatkan dengan surat pengangkatan resmi dari Penyedia ditujukan kepada Direksi Teknis/Lapangan.
b. Selain Kepala Pelaksana Penyedia harus menempatkan tenaga ahli yang diperlukan sesuai dengan Iingkup pekerjaan.
c. Selain pelaksanaan, Penyedia diwajibkan pula memberitahu secara tertulis kepada Direksi Teknis/Lapangan. Susunan Organisasi Lapangan lengkap dengan nama dan jabatannya masing-masing.
d. Bila dikemudian hari menurut team Direksi Teknis/Lapangan, Pelaksana kurang mampu melaksanakan tugasnya, maka Penyedia akan diberitahu secara tertulis untuk mengganti pelaksananya.
e. Dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah dikeluarkannya surat pemberitahuan, Penyedia sudah harus menunjuk pelaksana pengganti sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
PASAL 6.
GAMBAR – GAMBAR KERJA DAN SYARAT-SYARAT TEKNIS
a. Penyedia wajib meneliti semua Gambar dan RKS termasuk tambahan dan
(Aanwijzing).
b. Bilamana ada ketidaksesuaian antara Gambar dan RKS, maka yang mengikat adalah RKS. Bilamana suatu gambar tidak cocok dengan gambar yang lain, maka harus berkonsultasi dengan Direksi Teknis/Lapangan untuk dikoordinasikan dengan Konsultan Perencana.
c. Tidak dibenarkan untuk menarik keuntungan dari kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan pada gambar atau perbedaan ketentuan antara gambar rencana dan spesifikasi teknis. Apabila temyata terdapat kesalahan, kekurangan, perbedaan dan hal-hal lain yang meragukan, Penyedia harus mengajukannya kepada Direksi Teknis/Lapangan secara tertulis, dan Direksi Teknis/Lapangan akan mengoreksi atau menjelaskan gambar-gambar tersebut untuk kelengkapan yang telah disebutkan dalam spesifikasi teknis. Koreksi akibat penyimpangan keadaan lapangan terhadap gambar rencana akan ditentukan oleh Direksi Teknis/Lapangan dan disampaikan secara tertulis kepada Penyedia.
d. Paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum pelaksanaan Pekerjaan, Penyedia harus menyerahkan gambar kerja (shop drawing) kepada pihak Direksi Teknis/Lapangan sebanyak 3 (tiga) rangkap, termasuk perhitungan¬perhitungan yang berhubungan dengan gambar tersebut.
e. Gambar kerja untuk semua pekerjaan harus senantiasa disimpan di lapangan.
Gambar-gambar tersebut harus berada dalam kondisi baik, dapat dibaca dan merupakan hasil revisi terkahir. Penyedia juga harus menyiapkan gambar-gambar yang menunjukan perbedaan antara gambar rencana dan gambar kerja. Semua biaya untuk itu menjadi tanggungjawab Penyedia.
PASAL 7.
PEMASTIAN MUTU (QUALITY ASSURANCE) a. PERSYARATAN UMUM
Penyedia jasa konstruksi harus menyusun Program Mutu yang harus disetujui oleh Pemberi Tugas dan/atau Konsultan Pengawas. Program Pemastian Mutu yang mencakup pengaturan Penyedia Jasa Konstruksi atas hal-hal sebagai berikut : 1) Struktur organisasi proyek, tingkat wewenang dan tanggung jawab Penyedia
Jasa Konstruksi, serta jalur komunikasi internal dan eksternal yang telah ditentukan.
2) Memastikan bahwa pengaturan pemastian mutu untuk proyek tersebut akan diarsipkan, dilaksanakan serta diperiksa.
3) Memastikan bahwa ada hubungannya pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas di dalam organisasi serta pengendalian yang efektif atas hubungan tersebut dengan menggunakan dokumen yang tepat dan pendistribusian yang telah ditentukan.
4) Memastikan bahwa kegiatan perancangan (disain) dilaksanakan sesuai dengan prosedur perancangan yang tepat, termasuk pengenalan atas pengaturan yang tepat, dasar perancangan, peraturan dan standar perancangan, pengendalian atas perubahan rancangan serta verifikasi atas perancangan. Verifikasi atas rancangan harus dilakukan oleh individu atau kelomppok yang bukan pembuat rancangan tersebut.
5) Memastikan bahwa sistem Pemastian Mutu (QA) calon pemasok telah dibandingkan dengan persyaratan dalam pekerjaan persiapan ini.
Penyedia Jasa Konstruksi harus bekerja sesuai dengan Program Pemastian Mutu yang telah disetujui.
b. PERENCANAAN MUTU ( QUALITY PLANS )
1) Program Pemastian Mutu yang merupakan uraian menyeluruh tentang pengaturan manajemen tidak perlu merincikan tentang penerapan atau prosedur khusus yang terkait dengan barang, proses atau jasa yang khusus.
Namun sebelum pekerjaan dimulai, Penyedia Jasa Konstruksi wajib mempersiapkan serta memperoleh persetujuan dari Pemberi Tugas dan/atau Konsultan Pengawas atas Perencanaan Mutu pada setiap jenis operasi yang termasuk dalam Kontrak untuk bagian pekerjaan yang dicantuPengawasan di bawah ini.
2) Bagian-bagian pekerjaan yang memerlukan Perencanaan Mutu mencakup : a) Jadwal Rencana Kerja ( Program )
b) Pekerjaan Sementara
Daftar di atas tidak bersifat khusus. Penyedia Jasa Konstruksi harus mempersiapkan Perencanaan Mutu atas setiap aspek Pekerjaan yang diwajibkan oleh Konsultan Pengawas.
3) Setiap Perencanaan Mutu harus menguraikan tentang pemeriksaan, pengujian serta pengendalian proses yang harus dilakukan untuk menunjukan bahwa kontrak ditaati, termasuk butir-butir yang disebutkan dalam Kontrak yang memerlukan pemeriksaan atau keputusan oleh Konsultan Pengawas, prosedur pelaksanaan kegiatan, kriteria penerimaan serta pengangkatan petugas yang akan bertanggung jawab atas setiap kegiatan utama.
4) Penyedia Jasa Konstruksi harus menyerahkan dua buah salinan Perencanaan Mutu yang telah disetujui kepada Konsultan Pengawas. Konsultan Pengawas harus mempunyai akses bebas untuk memeriksa serta meninjau ulang ( review ) Perencanaan Pemastian Mutu milik Penyedia Jasa Konstruksi
5) Penyedia Jasa Konstruksi harus menyerahkan salinan catatan lengkap tentang Pemastian Mutu pada saat serah – terima. Dokumen tersebut harus dilengkapi dengan Perencanaan Pemastian Mutu yang lengkap, dokumen pemastian mutu pemasok dan catatan tentang pekerjaan, pemeriksaan
c. PENCATATAN
Penyedia Jasa Konstruksi harus menyusun dan memelihara catatan tentang semua hasil pengujian dan pemeriksaan pengendalian mutu yang dilaksanakan guna memperkuat pemenuhan syarat Kontrak.
d. PEMANTAUAN ATAS MUTU
Mutu pekerjaan yang dilaksanakan oleh Penyedia Jasa Konstruksi akan dipantau oleh Konsultan Pengawas.
PASAL 8
PENANGGUNG JAWAB PELAKSANAAN
a. Penyedia Jasa Konstruksi harus menempatkan seseorang penanggung jawab pelaksanaan seorang sarjana yang ahli dan berpengalaman minimal 3 (tiga) tahun dan harus selalu berada di lapangan yang bertindak sebagai wakil Penyedia Jasa Konstruksi dilapangan dan mempunyai kemampuan untuk memberikan keputusan - keputusan teknis dengan tanggung jawab penuh di lapangan untuk menerima segala instruksi dari Pemberi Tugas / Konsultan Pengawas. Semua langkah dan tindakannya oleh Pemberi Tugas / Konsultan Pengawas dianggap sebagai langkah dan tindakan Penyedia Jasa Konstruksi . b. Penanggung jawab harus terus menerus berada ditempat pekerjaan selama jam-
jam kerja dan saat diperlukan dalam pelaksanaan atau pada setiap saat yang dikehendaki Pemberi Tugas / Konsultan Pengawas.
c. Petunjuk dan perintah Pemberi Tugas / Konsultan Pengawas didalam pelaksanaan disampaikan langsung kepada Penyedia Jasa Konstruksi melalui penanggung jawab tersebut sebagai penanggung jawab dilapangan.
d. Penyedia Jasa Konstruksi diwajibkan pada setiap saat menjalankan disiplin dan tata tertib yang ketat terhadap semua buruh, pegawai, termasuk pengurus bahan-bahan yang berada dibawahnya. Siapapun diantaramereka yang tidak berwenang melanggar terhadap peraturan umum, mengganggu ataupun merusak ketertiban, berlaku tidak senonoh melakukan perbuatan yang merugikan pelaksanaan pembangunan, harus segera dikeluarkan dari tempat pekerjaan atas perintah Direksi/Konsultan Pengawas. Pada pengeluaran yang kedua berarti Penyedia Jasa Konstruksi lalai.
PASAL 9
TANGGUNG JAWAB ATAS PEKERJAAN YANG CACAT
a. Semua cacat-cacat akibat penyusutan atau kesalahan-kesalahan lain yang timbul
selama jangka waktu tanggung jawab dari Penyedia Jasa Konstruksi, yang disebabkan oleh penggunaan bahan-bahan yang tidak sesuai atau cara pengerjaan yang tidak sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan dalam RKS, menjadi tanggung jawab penuh dari Penyedia Jasa Konstruksi untuk mengadakan perbaikan sampai dianggap cukup oleh Pemberi Tugas / Konsultan Pengawasatas biaya Penyedia Jasa Konstruksi.
b. Pemberi Tugas / Konsultan Pengawas juga berhak untuk setiap saat minta kepada Penyedia Jasa Konstruksi untuk mengadakan perbaikan-perbaikan dengan biaya Penyedia Jasa Konstruksi atas semua pekerjaan yang cacat yang timbul selama masa pemeliharaan tersebut.
PASAL 10 FASILITAS LAPANGAN
a. Penyedia Jasa Konstruksi harus menyediakan atas biayanya sendiri fasilitas - fasilitas penunjang yang dibutuhkan yang harganya sudah tertera dalam harga penawaran RAB, dalam rangka pelaksaanaan dan penyelesaian proyek, seperti : 1) Kantor Penyedia Jasa Konstruksi
2) Ruangan-ruangannya lainnya seperti gudang bahan-bahan, tempat-tempat kerja, pos keamanan, kamar mandi WC/toilet dan lain-lain. Bangunan- bangunan yang disediakan harus kuat cukup luas sesuai dengan kebutuhan dan dilaksanakan sesuai dengan gambar bestek, bersih, dan lengkap dengan peralatannya dan harus dengan persetujuan Pemberi Tugas / Konsultan Pengawas
b. Penyedia Jasa Konstruksi harus menyediakan atas biayanya sendiri (selama proyek berlangsung), fasilitas-fasilitas pembantu untuk melaksanakan pekerjaan, seperti :
1) Nomor Telepon yang dapat di hubungi dan email
2) Listrik, Untuk melaksanakan pekerjaan, keamanan dan penerangan di dalam bangunan - bangunan sementara, halaman-halaman dan tempat-tempat pekerjaan yang dianggap perlu.
3) Air bersih, yang sesuai untuk kebutuhan, baik untuk pelaksanaan pekerjaan, air minum, kebersihan dan lain-lain.
c. Alat-alat P3K
Yang lengkap guna keperluan pertolongan pertama pada kecelakaan dan harus selalu berada ditempat pekerjaan.
PASAL 11
PERALATAN KELENGKAPAN KERJA
menyediakan atas biayanya sendiri seluruh kebutuhan peralatan dan perlengkapan kerja sesuai kebutuhan untuk menunjang pelaksanaan fisik dilapangan seperti :
1) Alat-alat ukur (Meteran, Waterpass dll) 2) Mobil pick up
3) Alat-alat dokumentasi (camera) 4) Peralatan tukang
5) Alat bantu lainnya yang diperlukan.
Di samping itu harus menyediakan juga:
1) Buku-buku laporan/harian
2) Buku petunjuk alat-alat yang akan dipakai
3) Rencana kerja dan menempatkan tenaga-tenaga lapangan yang bertanggung jawab penuh untuk memutuskan segala sesuatu di lapangan dan bertindak atas nama Penyedia Jasa Konstruksi dan sub Penyedia Jasa Konstruksi yang bersangkutan
Untuk peralatan milik Penyedia Jasa Konstruksi yang telah tersedia di lapangan, maka Penyedia Jasa Konstruksi Spesialis/Sub Penyedia Jasa Konstruksi / Konsultan Pengawas dapat menggunakan peralatan tersebut apabila sedang dalam keadaan tidak terpakai.
b. Penyedia Jasa Konstruksi wajib merawat/memelihara seluruh peralatan dengan sebaik -baiknya agar dapat dipergunakan pada saat diperlukan.
c. Pemberi Tugas/ Konsultan Pengawas berhak memberikan instruksi kepada Penyedia Jasa Konstruksi untuk melengkapi/ menambah jumlah peralatan bila dirasa peralatan yang tersedia kurang memadai dalam usaha mencapai target prestasi,
d. Apabila Penyedia Jasa Konstruksi tidak mengindahkan instruksi serupa, maka Penyedia Jasa Konstruksi dapat dikenakan penalti seperti yang tersebut didalam dokumen kontrak ini.
PASAL 12
PENJAGAAN DAN KEAMANAN
a. Penyedia Jasa Konstruksi wajib mengadakan penjagaan yang baik dan terus- menerus selama 24 jam dan bertanggung jawab atas keamanan selama berlangsungnya pekerjaan pembangunan, baik yang meliputi pekerjaan dalam penyelenggaraan, los-los kerja, gudang-gudang bahan, peralatan kerja mesin- mesin dan lain-lain. Apabila diperlukan, Penyedia Jasa Konstruksi harus membangun sarana-sarana penunjang yang dibutuhkan seperti pagar dan jalan proyek, menara jaga saluran pembuangan di areal proyek dan lain-lain.
b. Selama berlangsungnya pekerjaan, semua bahan-bahan, mesin-mesin dan
peralatan-peralatan harus tetap dirawat dengan baik dan diperbaiki setiap diperlukan.
c. Kehilangan dan kerusakan bahan-bahan, mesin-mesin dan peralatan-peralatan karena kelalaian penjaga/pemelihara menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa Konstruksi
PASAL 13 PENGAWASAN
a. Pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan dilakukan oleh Pemberi Tugas/
Konsultan Pengawas.
b. Pemberi Tugas/Konsultan Pengawas berhak pada setiap waktu yang dianggap perlu tanpa memberitahukan sebelumnya, untuk mengadakan inspeksi/pemeriksaan kepada Penyedia Jasa Konstruksi atau Sub Penyedia Jasa Konstruksi :
1) terhadap jenis pekerjaan yang dipersiapkan didalam atau diluar site.
2) terhadap gudang penyimpanan bahan-bahan.
3) terhadap pengolahan material maupun sumber-sumbernya
c. Bagian-bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan tapi luput dari Pengawasan adalah menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa Konstruksi, pekerjaan tersebut jika diperlukan harus segera dibuka sebagian atau seluruhnya untuk kepentingan pemeriksaan.
d. Jika diperlukan Pengawasan oleh Pemberi Tugas/Konsultan Pengawas diluar jam-jam kerja, maka segala biaya untuk itu menjadi beban Penyedia Jasa Konstruksi .
e. Ditempat pekerjaan, Pemberi Tugas/Konsultan Pengawas menempatkan petugas-petugas bagian Pengawasan. Jam kerja Direksi/ Konsultan Pengawas dari jam 08.00 s/d 17.00 waktu setempat.
f. Apabila Penyedia Jasa Konstruksi akan bekerja lembur dimana item pekerjaan tersebut diperlukan Pengawasan maka Penyedia Jasa Konstruksi harus memberitahukan satu hari sebelumnya dan biaya tersebut termasuk biaya lembur Pemberi Tugas/Konsultan Pengawas menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa Konstruksi. Atas dasar perhitungan untuk seorang Proyek Engineer dan 1 orang Pengawas, biaya lembur Direksi adalah Rp………,- (………) per jam per-orang. Perhitungan tersebut diatas berlaku untuk jam kerja lembur antara jam 17.00 s/d selesai pada hari kerja, dan pada hari-hari libur. Penyedia Jasa Konstruksi dikenakan tambahan sesuai ketentuan yang dikeluarkan oleh Depnaker.
PASAL 14
KEAMANAN, KESELAMATAN DAN KESEJAHTERAAN
a. Segala pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa Konstruksi wajib mengadakan segala yang diperlukan untuk menjamin keamanan, keselamatan, dan kesejahteraan manusia/ barang di proyek.
b. Penyedia Jasa Konstruksi juga wajib memenuhi segala peraturan tata tertib, koordinasi pemerintah ataupun pemerintah setempat.
c. Penyedia Jasa Konstruksi bertanggung jawab atas biaya, kerugian ataupun tuntutan ganti rugi (klaim) yang diakibatkan oleh adanya peristiwa yang mengakibatkan lukanya atau meninggalnya seseorang dalam melaksanakan pekerjaan pelaksanaan tersebut, bilamana hal itu disebabkan oleh kelalaian Penyedia Jasa Konstruksi.
d. Jika terjadi kecelakaan yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan ini, maka Penyedia Jasa Konstruksi diwajibkan untuk mengambil segala tindakan guna kepentingan dari korban/para korban, baik pegawainya ataupun pihak lain.
e. Penyedia Jasa Konstruksi wajib memenuhi peraturan-peraturan hukum mengenai perawatan dan tunjangan/ganti rugi bagi korban atau keluarganya,
f. Ditempat pekerjaan Penyedia Jasa Konstruksi harus menyediakan kotak P3K dengan isinya yang lengkap.
PASAL 15
CONTOH – CONTOH MATERIAL
a. Contoh-contoh material harus segera ditentukan dan diambil dengan cara pengambilan contoh menurut Acuan Normatif yang disetujui Direksi Teknis/Lapangan. Contoh-contoh harus menggambarkan secara nyata kualitas material yang akan dipakai pada pelaksanaan pekerjaan.
b. Contoh-contoh yang telah disetujui Direksi Teknis/Lapangan harus disimpan terpisah dan tidak tercampur atau terkotori yang dapat mengurangi kualitas material tersebut. Penawaran Penyedia harus sudah termasuk biaya yang diperlukan untuk pengujian material.
c. Jika dalam pelaksanaan pekerjaan barang/material yang disetujui sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan tidak tersedia di pasaran maka penyedia dapat mengajukan altematif barang/material dengan kualitas yang sama dengan spesifikasi yang ditentukan, dengan persetujuan Direksi Teknis/Lapangan.
PASAL 16
PERLINDUNGAN TERHADAP CUACA
Penyedia dengan tanggungan sendiri dan dengan diketahui Direksi Teknis/Lapangan harus mengusahakan langkah-Iangkah dan peralatan yang diperlukan untuk melindungi Pekerjaan dan bahan-bahan serta peralatan yang digunakan agar tidak rusak atau berkurang mutunya karena pengaruh cuaca.
PASAL 17
JADWAL PELAKSANAAN
a. Penyedia harus menyiapkan jadwal pelaksanaan secara detail dan harus diserahkan kepada Direksi Teknis/Lapangan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum pelaksanaan suatu tahapan Pekerjaan dimulai. Program kerja tersebut harus sudah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Direksi Teknis/Lapangan. Jadwal pelaksanaan tersebut harus mencakup :
1) Usulan waktu untuk pengadaan, pembuatan dan suplai berbagai bagian pekerjaan.
2) Usulan waktu untuk pengadaan dan pengangkutan bagian-bagian lain ke lapangan.
3) Usulan waktu dimulainya serta rencana selesainya setiap bagian Pekerjaan dan/atau pemasangan berbagai bagian Pekerjaan termasuk pengujiannya.
4) Usulan jumlah jam kerja bagi tenaga-tenaga yang disediakan oleh Penyedia.
5) Jumlah tenaga kerja yang dipakai pada setiap tahapan Pekerjaan dengan disertai latar belakang pendidikan, pengalaman serta penugasannya.
6) Jenis serta jumlah mesin-mesin dan peraJatan yang akan dipakai pada pelaksanaan Pekerjaan.
7) Cara pelaksanaan Pekerjaan.
b. Jadwal pelaksanaan tersebut antara lain dituangkan dalam bentuk Kurva-S beserta lampiran penjelasan.
c. Penyedia wajib memberikan salinan jadwal pelaksanaan yang telah disahkan oleh Direksi Teknis/Lapangan dalam 5 (lima) rangkap kepada Direksi Teknis/Lapangan, dan satu salinan harus ditempel di kantor lapangan (direksi keet) yang dilengkapi dengan grafik kemajuan pelaksanaan Pekerjaan.
d. Direksi Teknis/Lapangan akan menilai prestasi Pekerjaan Penyedia berdasarkan grafik rencana kerja dan kemajuan pelaksanaan pekerjaan tersebut.
PASAL 18 METODE KERJA
Sebelum pelaksanaan Pekerjaan penyedia harus mengajukan metode pelaksanaan Pekerjaan untuk disetujui oleh Direksi Teknis/Lapangan. Metode kerja sekurang- kurangnya berisi :
a. Metode pelaksanaan pekerjaan,
b. Untuk komponen pekerjaan tertentu harus dilengkapi dengan gambar yang menjelaskan pelaksanaannya.
c. Bahan/material yang akan digunakan d. Peralatan pendukung diantaranya :
e. Jumlah tenaga kerja yang akan digunakan
PASAL 19
PEMBERITAHUAN UNTUK MEMULAI PEKERJAAN
a. Penyedia diharuskan untuk memberikan penjelasan tertulis selengkapnya apabila Direksi Teknis/Lapangan memerlukan penjelasan tentang tempat-tempat asal mula material yang didatangkan untuk suatu tahap pekerjaan sebelum mulai pelaksanaan tahapan tersebut Dalam keadaan apapun, Penyedia tidak dibenarkan untuk memulai pekerjaan yang sifatnya permanen tanpa mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Direksi Teknis/Lapangan.
b. Pemberitahuan yang jelas dan lengkap harus terlebih dahulu disampaikan kepada Direksi Teknis/Lapangan sebelum memulai pekerjaan, agar Direksi Teknis/Lapangan mempunyai waktu yang cukup untuk mempertimbangkan persetujuannya.
c. Pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan yang menurut Direksi Teknis/Lapangan. penting, harus dihadiri dan diawasi langsung oleh Direksi Teknis/Lapangan atau wakilnya.
Untuk itu maka Penyedia harus menyampaikan permohonan ijin pelaksanaan (request) yang harus sudah diterima aleh Direksi Teknis/Lapangan selambat- Iambatnya 2 (dua) hari sebelum Pekerjaan dilaksanakan.
PASAL 20 RAPAT - RAPAT
a. Apabila dipandang perlu, Direksi Teknis/Lapangan dapat mengadakan rapat-rapat dengan mengundang Penyedia dan pihak-pihak tertentu yang berkaitan dengan pembahasan dan permasalahan pelaksanaan Pekerjaan. Semua hasil/risalah rapat merupakan ketentuan yang bersifat mengikat bagi Penyedia.
b. Keputusan rapat yang disepakati dituangkan dalam berita acara dan ditandatangani
oleh seluruh pihak yang berkepentingan.
PASAL 21
PRESTASI KEMAJUAN PEKERJAAN
a. Prestasi kemajuan pekerjaan ditentukan dengan jumlah prosentasi Pekerjaan yang telah diselesaikan Penyedia dan disetujui oleh Direksi Teknis/Lapangan. Prosentase Pekerjaan ini dihitung dengan membandingkan nilai volume pekerjaan yang telah diselesaikan terhadap nilai kontrak keseluruhan.
b. Pembayaran akan dilakukan sesuai dengan prestasi kemajuan pekerjaan berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam kontrak.
PASAL 22
PENYELESAIAN PEKERJAAN
a. Pekerjaan harus mencakup seluruh elemen yang diperlukan walaupun tidak diuraikan secara khusus dalam spesifikasi teknis dan gambar¬gambar, namun tetap diperlukan agar hasil pelaksanaan pekerjaan dapat berfungsi dengan baik secara keseluruhan sesuai dengan kontrak.
b. Penyedia harus menguji hasil pekerjaan setiap tahap dan/atau secara keseluruhan sesuai dengan ketentuan spesifikasi teknisnya. Apabila dari hasil pengujian terdapat bagian Pekerjaan yang tidak memenuhi syarat, Penyedia dengan biaya sendiri harus melaksanakan perbaikan sampai dengan hasil pengujian ulang berhasil dan dapat diterima oleh Direksi Teknis/Lapangan.
PASAL 23 LAPORAN-LAPORAN
Penyedia harus menyusun dan menyerahkan laporan pelaksanaan pekerjaan, yang terdiiri dari :
a. laporan harian yang berisi laporan yang mencatat seluruh rencana dan realisasi aktivitas pekerjaan harian. laporan harian berisi :
1) Tugas, penempatan dan jumlah tenaga kerja di lapangan;
2) Jenis dan kuantitas bahan di lapangan;
3) Jenis, jumlah, dan kondisi peralatan di lapangan;
4) Jenis dan kuantitas pekerjaan yang dilaksanakan;
5) Cuaca dan peristiwa alam lainnya yang mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan;
7) Kejadian insiden/kecelakaan atau penyakit akibat kerja, jika ada, dan tindak lanjutnya;
8) Catatan lain yang dianggap perlu.
b. laporan Mingguan, yang berisi terdiri dari rangkuman laporan harian dan berisi hasil kemajuan fisik pekerjaan mingguan, hasil inspeksi K3, mutu, dan Iingkungan termasuk tindak lanjutnya, serta catatan lain yang dianggap perlu.
c. laporan bulanan dibuat oleh Penyedia, terdiri dari rangkuman laporan mingguan dan berisi hasil kemajuan fisik pekerjaan bulanan,
d. Dokumentasi pelaksanaan pekerjaan minimal pada kondisi 0%, 25%, 50%, 75% dan 100% , atau sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan Direksi Teknis/Lapangan.
Dalam pembuatan dokumentasi harus berisi informasi mengenai jenis Pekerjaan, lokasi dan kondisi kemajuan pekerjaan.
PASAL 24 SHOP DRAWING
a. Penyedia wajib membuat shop drawing yang terdiri dari gambar kerja lengkap sesuai dengan kondisi lapangan untuk semua Pekerjaan serta detail khusus yang belum tercakup lengkap dalam gambar rencana atau yang diminta Direksi Teknis/Lapangan. Shop drawing ini harus jelas mencantuPengawasan dan menggambarkan semua data yang diperlukan.
b. Semua dokumen gambar harus dibuat dengan menggunakan software CAD.
c. Shop drawing harus disetujui dahulu oleh Direksi Teknis/Lapangan sebelum pelaksanaan Pekerjaan.
PASAL 25 AS BUILT DRAWING
a. Setelah Pekerjaan selesai Penyedia diharuskan menyerahkan As build drawing yang menunjukan gambar yang terpasang disertai perubahannya bila ada paling lambat 14 (empat betas) hari sebelum penyerahan akhir Pekerjaan.
b. Semua dokumen gambar harus dibuat dengan menggunakan software CAD.
c. Hal-hal yang tidak tercantum dalam peraturan ini akan ditentukan lebih lanjut dari pihak Direksi / pemberi tugas sebagaimana mestinya.
BAB II
SPESIFIKASI TEKNIS
A. STUKTUR BANGUNAN
A.1 KETENTUAN UMUM :
1. Apabila terjadi perubahan gambar sehubungan dengan pelaksanaan, sebelum pekerjaan dimulai harus mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas.
2. Proses mendapatkan persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas harus melalui mekanisme yang disepakati kedua belah pihak, misal dengan pengajuan proposal tertulis tentang alternatif yang diusulkan.
3. Apabila terjadi perbedaan ukuran dalam gambar maka Kontraktor Pelaksana harus menanyakan terlebih dahulu kepada Konsultan Pengawas. Ukuran yang tertulis menjadi acuan dibanding ukuran dalam sekala.
4. Apabila terjadi perbedaan antara RKS dan gambar kerja, maka Kontraktor Pelaksana segera harus melaporkannya kepada Konsultan Pengawas untuk mendapat penyelesaian.
5. Segala perubahan gambar yang disetujui Konsultan Pengawas dan berdampak kepada besarnya pembiayaan, harus diperhitungkan atas pekerjaan tambah kurang.
6. Kesalahan pelaksanaan yang berakibat pada penambahan biaya dan waktu pelaksanaan pekerjaan, maka seluruh biaya tersebut sepenuhnya menjadi tanggungan Kontraktor Pelaksana.
A.2 STANDARD RUJUKAN : 1. Rujukan Utama :
1) Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung (PPIUG) 1987
2) Tata cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002)
3) Tata cara Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung(SNI 03- 2847-2002), beserta seluruh acuan yang dirujuknya seperti :
a) SNI 03-1974-1990,Methode pengujian kuat tekan beton.
b) SNI 03-2458-1991,Methode pengujian pengambilan contoh untuk campuran beton segar.
c) SNI 03-2492-1991, Methode pembuatan dan perawatan benda ujidi laboratorium.
d) SNI 03-2834-1992,Tata cara pembuatan rencana campuran untuk beton normal.
e) SNI 03-4810-1998, Methode pembuatan dan perawatan benda uji di
g) Tata cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung (SNI 03- 1729-2002).
2. Acuan Tambahan :
Apabila ada hal-hal yang tidak termuat dalam SNI tetapi harus dikerjakan maka dapat dipakai Standard/ Peraturan/ Pedoman yang sebelum lahirnya SNI tersebut seperti SK SNI T-15-1991-03, bahkan bisa dari PBBI 1971 NI-2 selama tidak bertentangan dengan SNI atau standard lain yang banyak digunakan masyarakat konstruksi asal tidak bertentangan dengan SNI tersebut diatas, misal seperti ACI318-99, UBC 1977, AISC 1994, dan sebagainya atas persetujuan Konsultan Pengawas.
PASAL 1.
STUKTUR BETON
1.1 KETENTUAN BAHAN.
1. Pengujian Bahan :
a. Konsultan Pengawas berhak memerintahkan diadakannya pengujian pada setiap bahan yang akan digunakan pada pelaksanaan konstruksi beton ini, untuk menentukan apakah bahan yang dipakai mempunyai mutu sesuai dengan mutu yang telah ditetapkan.
b. Pengujian bahan dan beton harus dilakukan sesuai SNI 03-2847-2002 c. Tempat pengujian bahan dan beton harus dilakukan di Laboratorium
independent yang memenuhi syarat, dan mendapat persetujuan tertulis Konsultan Pengawas.
d. Laporan lengkap pengujian bahan dan pengujian beton harus selalu tersedia di lapangan (on site) untuk pemeriksaan selama pekerjaan berlangsung, dan tersimpan selama 2 (dua) tahun setelah selesainnya pekerjaan pembangunan.
2. Semen
a. Semen yang dipakai adalah semen Portland type satu, sesuai SNI 03- 2847, 2002.
b. Merek semen yang akan dipakai harus mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas. Untuk mendapat persetujuan, kontraktor harus dapat menunjukan sertifikat tentang semen yang diusulkan untuk dipakai. Sertifikat ini bisa diperoleh dari pabrik semen yang bersangkutan atau dari laboratorium yang berwenang.
c. Konsultan Pengawas berhak menolak semen yang dikirim ke Proyek, jika atas dasar pemeriksaan tidak memenuhi persyaratan.
d. Penyimpanan Semen harus memenuhi syarat:
(1) Terlindung dari pengaruh iklim dan kelembaban.
(2) Semen harus disimpan sedemikian rupa, sehingga semen yang datang
/ diproduksi lebih dulu terpakai lebih awal.
(3) Semen yang mempunyai gejala membatu / terkontaminasi bahan yang dapat merusak tidak boleh digunakan.
e. Pemakaian semen lebih dari satu merek tidak diijinkan, kecuali ada alasan khusus dan mendapat persetujuan tertulis Konsultan Pengawas.
3. Agregat :
a. Agregat untuk beton harus memenuhi syarat ASTM C 33
b. Agregat kasar dapat berasal langsung dari alam (agregat alam), atau agregat yang berasal dari batu pecah.
(a) Ukuran maximum nominal agregat kasar harus tidak melebihi:
(b) Seperlima (1/5) jarak terkecil sisi-sisi cetakan;
c. Sepertiga (1/3) ketebalan pelat lantai .
d. Penyimpanan agregat kasar dan halus harus terpisah agar memudahkan tugas Pengawasan, tidak terintrusi bahan yang dapat merusak/
menggangu.
e. Bahan yang telah terkontaminasi bahan yang merusak tidak dapat digunakan.
4. Air :
a. Air pencampur beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan yang dapat merusak beton, seperti: oli, asam, alkali, garam, bahan organik.
b. Kecuali air yang berasal dari PDAM, maka sebelum dipakai harus diuji kelayakannya, seperti yang ditentukan dalam SNI 03-2847-2002 PASAL 5.4
5. Bahan Tambahan :
a. Penggunaan bahan tambahan untuk pembuatan beton harus mendapat persetujuan tertulis Konsultan Pengawas.
b. Untuk keseluruhan pekerjaan, bahan tambahan yang digunakan harus mampu secara konsisten menghasilkan komposisi dan kinerja yang sama dengan yang dihasilkan oleh produk yang digunakan dalam menentukan komposisi beton diawal penentuan campuran.
6. Ketentuan Teknik Pelaksanaan Pekerjaan Beton.
Termasuk dalam lingkup pekerjaan ini adalah pekerjaan-pekerjaan yang menunjang terealisasinya pekerjaan struktur beton yaitu:
a. Persiapan;
b. Toleransi
c. Cetakan,pipa tertanam,dan siar pelaksanaan.
d. Penulangan;
e. Pelindung beton;
f. Campuran beton g. Pengecoran;
i. Evaluasi dan penerimaan mutu beton 7. Pekerjaan Persiapan.
a. Pengajuan rencana pelaksanaan.
Untuk mendapat persetujuan pelaksanaan suatu pekerjaan, Kontraktor Pelaksana harus menyampaikan usulannya terlebih dahulu mencakup gambar-gambar pelaksanaan, daftar personel, kelengkapan peralatan beserta kondisinya.
b. Keamanan Proyek
Kontraktor Pelaksana harus melengkapi Proyek dengan sistem pengamanan yang semestinya, harus atas persetujuan Konsultan Pengawas. Penempatan penangkal petir, pemakaian sabuk pengaman dsb, sesuai ketentuan ketenaga kerjaan yang berlaku.
c. Penentuan titik–titik tetap (uitset)
Untuk pelaksanaan pekerjaan ini Kontraktor Pelaksana harus mendapat persetujuan tertulis Konsultan Pengawas.
d. Perlindungan cuaca.
Perlu dipersiapkan atas kemungkinan adanya gangguan cuaca, lingkungan terhadap bahan, yang dapat mengganggu mutu beton.
8. Toleransi.
a. Dimensi
Untuk panjang sampai dengan 8 meter ± 10 mm Untuk panjang keseluruhan lebih 8 meter ± 15 mm b. Kedudukan (dari titik patokan)
Kedudukan kolom ± 10 mm
Kedudukan permukaan horizontal ± 10 mm Kedudukan permukaan vertical ± 10 mm c. Alignement vertical kolom per lantai ± 10 mm d. Penutup/selimut beton
Selimut beton tebal sampai dengan 40 mm ± 5 mm e. Dimensi kolom/balok
Ukuran sampai dengan 40 mm ± 5 mm Ukuran lebih besar 40 mm ± 10 mm f. Dan lain-lain
Apabila ada toleransi yang belum disebutkan akan ditetapkan kemudian atas persetujuan Konsultan Pengawas.
9. Cetakan, pipa tertanam , dan siar pelaksanaan.
1) Cetakan.
a. Cetakan harus mampu menghasilkan struktur akhir yang memenuhi bentuk, garis, dan dimensi komponen struktur seperti yang disyaratkan seperti dalam gambar.
b. Cetakan harus mantap, kaku dan kuat untuk mencegah kebocoran
mortar, perubahan posisi dan perubahan bentuk elemen struktur.
c. Pemasangan cetakan tidak boleh merusak struktur yang sudah terpasang sebelumnya.
d. Perencanaan cetakan harus mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut:
(1) Kecepatan dan methode pengecoran (2) Beban selama konstruksi
(3) Kemudahan dan kecepatan pembongkaran,
e. Khusus untuk urugan pasir dibawah lantai kerja plat lantai satu seperti yang dinyatakan dalam gambar rencana, pelaksanaannya diganti dengan menggunakan lembaran plastik setelah elevasi tanah dasar disesuaikan rencana dan dipadatkan.
f. Waktu pembongkaran cetakan harus berdasarkan analisa bahwa akibat pembongkaran ini tidak mengakibatkan kerusakan pada elemen struktur atau dapat mengurangi kemampuanya.
g. Sebelum dimulainya pekerjaan konstruksi, Kontraktor pelaksana harus membuat prosedur dan jadwal pelaksanaan pemasangan, pembongkaran cetakan, untuk mendapat persetujuan Konsultan Pengawas.
2) Saluran dan pipa yang ditanam dalam beton.
a. Bahan saluran dan pipa yang ditanam tidak boleh membahayakan beton dalam waktu umur struktur, misal seperti aluminium kecuali diambil tindakan pengamannya. Keberadaan saluran atau pipa tidak boleh dianggap mempunyai kekuatan secara struktural.
b. Saluran dan pipa yang dipasang tidak boleh menurunkan kekuatan struktur. Pipa atau saluran yang ditanam dalam kolom tidak boleh melebihi 4% luas penampang yang diperlukan untuk kekuatan atau untuk perlindungan terhadap korosi atau kebakaran.
c. Dimensi maksimum pipa/ saluran tidak boleh lebih besar dari 1/3 (sepertiga) tebal pelat, dinding, balok ataupun kolom, Pemasangannya tidak boleh berjarak sumbu ke sumbu kurang dari 3 (tiga) kali diameter/ lebar
3) Siar pelaksanaan.
a. Penempatan siar pelaksanaan harus dirancang sebelum pekerjaan pengecoran dilaksanakan, dengan pertimbangan tidak mengurangi kekuatan struktur. Perangkat untuk menyalurkan geser atau gaya lain melalui siar pelaksanaan harus melalui analisa sebagaimana mestinya.
b. Sebelum pengecoran, permukaan beton harus dibersihkan dari dari serpihan dan kotoran, dibasahi sampai jenuh dan dibebaskan dari
c. Siar pelaksanaan pada system pelat lantai harus ditempatkan dalam daerah sepertiga bentang tengah pelat dan balok. Siar pelaksanaan balok induk harus diletakan pada jarak minimum sebesar dua kali lebar balok yang memotongnya dari posisi muka perpotongan tsb.
d. Siar pelaksanaan tidak boleh ditempatkan pada struktur yang harus kedap air, seperti didaerah kamar mandi dan kamar kecil (KM/WC) atau pada pelat atap.
10. Pelindung beton.
1) Tahu beton
Tahu-tahu beton yang dipakai sebagai penahan tulangan sementara untuk mendapatkan tebal pelindung beton yang disyaratkan harus mempunyai mutu sama dengan betonnya sendiri.
2) Tebal pelindung beton ditetapkan sebagai berikut.
a) Poer = 100 mm b) Pelat = 25 mm c) Sloof = 40 mm d) Kolom = 40 mm e) Balok = 40 mm 11. Campuran beton
1. Rencana campuran (mix design)
Rencana campuran/ mix design harus dilakukan dengan methoda yang disetujui oleh Konsultan Pengawas sebelum keputusan komposisi ditetapkan, untuk mendapatkan beton dengan kelecakan dan konsistensi yang menjadikan beton mudah untuk dicor tanpa terjadi segregasi 2. Komposisi campuran
Komposisi campuran harus berdasarkan atas perbandingan berat.
3. Cara mencampur
Beton harus dicampur dengan menuangkan seluruh unsur pembentuknya kedalam satu wadah pengaduk, dengan proses pengadukan secara terus menerus selama sekurang-kurangnya 1,5 menit, setelah seluruh bahan dimasukkan.
4. Penambahan air.
Penambahan air pada beton yang sudah selesai proses pengadukannya tidak diijinkan.
12. Pengecoran.
1. Persetujuan tertulis pengecoran oleh Kontraktor Pelaksana harus sudah selesai paling lambat 24 jam sebelum waktu pelaksanaan.
Pengecoran tidak dapat dilaksanakan apabila tidak dihadiri oleh Konsultan Pengawas.
2. Sebelum pengecoran dimulai, cetakan harus dibasahi air atau bahan bahan lain untuk menghindari hilangnya air dalam campuran dan
sekaligus untuk mengantisipasi kemudahan pembukaan cetakan dan untuk memproleh kwalitas permukaan beton yang disyaratkan.
3. Selama pengecoran sampai dengan proses pengerasan selesai, beton harus tetap terlindungi oleh kemungkinan adanya gangguan external maupun internal (hujan, getaran, tumbukan dsb)
4. Adukan beton harus selesai dicorkan paling lambat sebelum waktu pengerasan (setting time) berakhir. Waktu setting time harus ditetapkan secara tertulis terlebih dahulu oleh Konsultan PENGAWASatas usul Kontraktor Pelaksana.
5. Pengecoran harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi segregasi. Penuangan beton harus sedekat mungkin. Tinggi jatuh bebas beton tidak boleh melampaui 1,5 m.
6. Pemberhentian pengecoran (siar pelaksanaan) sesuai rencana yang telah mendapat pesetujuan Konsultan Pengawas.
7. Tebal pengecoran harus mempertimbangkan adanya proses pemadatan, pengaruh panas hidrasi (dengan maximum beda panas tertinggi didalam beton dan dipermukaan sebesar 20 derajat Celsius).
8. Khusus pada pemberhentian pengecoran elemen vertikal misal kolom, sebelum dilakukan pengecoran sambungan berikutnya, bagian atas beton harus dikepras setebal minimal 50 mm, untuk mendapatkan mutu beton yang sesuai.
9. Selama proses pengecoran harus dijaga agar tidak terjadi perubahan letak penulangan, antisipasi terhadap hal ini harus diambil sebelum persetujuan pengecoran dikeluarkan.
13. Perawatan (curing).
1. Perawatan biasa.
Segera setelah pengecoran, beton harus dilindungi terhadap pengemerah dini, temperature terlalu panas, dan gangguan mekanis.
Beton harus berada dalam kondisi lembab terus menerus sekurang- kurangnya selama 7 hari setelah pengecoran selesai, kecuali menggunakan perawatan dipercepat.
2. Perawatan dipercepat/khusus.
a. Metode perawatan ini harus mendapat persetujuan tertulis pihak Konsultan Pengawas.
b. Perawatan dipercepat (misal dengan uap bertekanan tinggi) dapat dilaksanakan asal dengan perawatan ini beton yang dihasilkan sekurang-kurangnya mempunyai mutu sama dengan yang disyaratkan, baik kekuatan dalam jangka pendek, jangka panjang maupun yang menyangkut tingkat keawetannya.
c. Proses perawatan khusus dengan mengganti kehadiran air dengan
memenuhi syarat seperti pada perawatan yang dipercepat diatas yaitu beton yang dihasilkan minimum mutunya tidak lebih rendah.
d. Konsultan Pengawas dapat menambah jumlah benda uji dari jumlah yang disyaratkan untuk evaluasi mutu beton, untuk menjamin bahwa proses perawatan yang dilakukan memenuhi persyaratan.
e. Selama cuaca panas maka perhatian harus lebih diberikan sejak dimulainya proses, seperti perlindungan terhadap bahan dasar, cara produksi, serta penanganan pengecoran. Perlindungan yang merupakan bagian dari perawatan harus dapat mencegah temperature beton melebihi yang seharusnya, sehingga dapat memberi pengaruh negative pada mutu beton yang dihasilkan atau kemampuan layan komponen struktur.
14. Evaluasi dan Penerimaan Mutu Beton.
Evaluasi dan penerimaan Mutu Beton sesuai dengan SNI 03-2487-2002 (butir 7.6 : Evaluasi dan Penerimaan Mutu Beton, kecuali pasal 7.6.2) butir (1) diganti menjadi (diambilkan dari Peraturan Beton Indonesia 1971 /PBI 71 NI- 2) yaitu :
1) Frekwensi Pengambilan Benda Uji
Selama pelaksanaan mutu beton harus diperiksa secara kontinu dari hasil pemeriksaan benda uji. Untuk masing-masing mutu beton harus dibuat 1 (satu) benda uji setiap 1 truk mixer beton dengan volume 6 (enam) m3.
2) Hal-hal lain yang perlu diperhatikan.
a. Tenaga .
b. Tenaga pengujian /Teknisi lapangan yang memenuhi syarat kualifikasi, harus melakukan pengujian beton segar di lokasi konstruksi, menyiapkan contoh uji silinder yang diperlukan dan mencatat segala sesuatunya yang diperlukan seperti suhu beton segar pada saat menyiapkan contoh uji untuk pengujian tekan.
Pengujian di Laboratorium harus dilakukan oleh tenaga Teknisi yang memenuhi persyaratan atas persetujuan Konsultan Pengawas.
c. Laboratorium.
d. Semua benda uji harus dites sesuai persyaratan di Laboratorium Independen yang memenuhi kwalifikasi baik personel maupun peralatannya, atas persetujuan tertulis Konsultan Pengawas. Saat pengujian harus disaksikan oleh Konsultan Pengawas.
e. Pengujian tambahan.
f. Konsultan Pengawas berhak memerintahkan Kontraktor Pelaksana untuk melakukan pengujian tambahan apabila ada hal-hal yang meragukan. Pengujian ini harus sesuai ketentuan yang berlaku.
Pekerjaan ini meliputi : 1) Pelat
2) Dinding
3) Siar Dilatasi dan Siar Pelaksanaan 4) Bak Reservoir
2. Pelat.
Pelat yang dimaksud adalah pelat lantai tempat pemasangan gazebo. Mutu beton untuk pelat adalah fc’ = 14,5 MPa (K 175).
1. Kontra lendutan.
Seperti pada balok, antisipasi terhadap terjadinya lendutan harus diantisipasi sebelum pengecoran dilaksanakan.
PASAL 2.
PEKERJAAN PONDASI
1.1 PEKERJAAN TANAH UNTUK GALIAN PONDASI
2.2.1 Lingkup Pekerjaan
1. Tenaga Kerja, Bahan dan Alat
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan dan alat- alat bantu yang diperlukan untuk melaksanakan dan mengamankan pekerjaan ini dengan baik dan sesuai dengan spesifikasi ini.
2. Galian Tanah Pondasi
Pekerjaan ini meliputi galian tanah untuk Pile Cap, balok pondasi dan struktur lainnya yan terletak didalam atau di atas tanah, seperti tercantum di dalam gambar rencana atau sesuai dengan kebutuhan Kontraktor agar pekerjaannya dapat dilaksanakan dengan lancar, benar dan aman.
3. Pembersihan Akar Tanaman dan Bekas Akar Pohon
Akar tanaman dan bekas akar pohon yang terdapat di dalam tanah dapat membusuk dan menjadi material organik yang dapat mempengaruhi kekuatan tanah. Pada seluruh lokasi proyek dimana tanah berfungsi sebagai pendukung bangunan khususnya pendukung lantai terbawah, maka akar tanaman dan sisa akar pohon harus digali dan dibuang hingga bersih. Lubang bekas galian tersebut harus diisi dengan material urugan yang memenuhi syarat.
4. Pohon-pohon pada lahan proyek
Sebagian pohon pada proyek ini harus dipertahankan. Kontraktor wajib mempelajari hal ini dengan teliti sehingga tidak melakukan penebangan pohon tanpa koordinasi dengan Direksi /
dibangun dapat ditebang.
2.2.2 Syarat-Syarat Pelaksanaan 1. Level Galian
Galian tanah harus dilaksanakan sesuai dengan level yang tercantum di dalam gambar rencana. Kontraktor harus mengetahui dengan pasti hubungan antara level bangunan terhadap level muka tanah asli dan jika hal tersebut belum jelas harus segera didiskusikan hal ini dengan Konsultan Pengawas sebelum galian dilaksanakan.
Kesalahan yang dilakukan akibat hal ini menjadi tanggung jawab Kontraktor.
2. Jamerah Utilitas
Apabila ternyata terdapat pipa-pipa pembuangan, kabel listrik, telepon dan lain-lain, maka Kontraktor harus secepatnya memberitahukan hal ini kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan penyelesaian.
Kontraktor bertanggung jawab atas segala kerusakan akibat kelalaiannya dalam mengamankan jamerah utilitas ini. Jamerah utilitas aktif yang ditemukan di bawah tanah dan terletak di dalam lokasi pekerjaan harus dipindahkan ke suatu tempat yang disetujui oleh Konsultan Pengawas atas tanggungan Kontraktor.
3. Galian yang Tidak Sesuai
Jika galian dilakukan melebihi ke dalaman yang ditentukan, maka kontraktor harus mengisi / mengurug kembali galian tersebut dengan bahan urugan yang emenuhi syarat dan harus dipadatkan dengan cara yang memenuhi syarat, atau galian tersebut dapat diisi dengan material lain seperti adukan beton.
4. Urugan Kembali
Pengurugan Kembali bekas galian harus dilakukan sesuai dengan yang diisyaratkan pada bab mengenai urugan dan pemadatan.
Pekerjaan pengisian kembali ini hanya boleh dilakukan setelah diadakan pemeriksaan dan mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas .
5. Pemadatan Dasar Galian
Dasar galian harus rata / water pas dan bebas dari akar-akar tanaman atau bahan-bahan organis lainnya. Selanjutnya dasar galian harus dipadatkan sesuai dengan persyaratan yang berlaku.
6. Air Pada Galian
Kontraktor wajib mengantisipasi air yang terdapat pada dasar galian dan wajib menyediakan pompa air atau pompa lumpur dengan kapasitas yang memadai untuk menghindari genangan air dan lumpur pada dasar galian. Kontraktor harus merencanakan secara benar, kemana air tanah harus dialirkan, sehingga tidak terjadi
genangan air / banjir pada lokasi disekitar proyek. Di dalam lokasi galian harus dibuat drainase yang baik agar aliran air dapat dikendalikan selama pekerjaan berlangsung.
7. Struktur Pengaman Galian dan Pelindung Galian
Jika galian yang harus dibuat ternyata cukup dalam, maka kontraktor harus membuat pengaman galian sedemikian rupa hingga tidak terjadi kelongsoran pada tepi galian. Galian terbuka hanya diijinkan jika diperoleh kemimerah lebih besar 1:2 (Vertikal : Horisontal). Sisi galian harus dilindungi dengan adukan beton terpasang, maka galian tersebut harus dilindungi dengan material kedap air seperti lembaran terpal / kanvas sehingga sisi galian tersebut selalu terlindung dari hujan maupun sinar matahari.
8. Perlindungan Benda Yang Dijumpai
Kontraktor harus melindungi atau menyelamatkan benda-benda yang dilindungi selama pekerjaan galian terpasang. Kecuali disetujui untuk dipindahkan, benda-benda tersebut harus tetap pada tempatnya dan kerusakan yang terjadi akibat kelalaian kontraktor harus diperbaiki / diganti oleh kontraktor.
9. Urutan Galian Pada Level Berbeda
Jika ke dalaman galian berbeda satu dengan lainnya, maka galian harus dimulai dari bagian yang lebih dalam dahulu dan seterusnya.
1.2 PEKERJAAN URUGAN PASIR PADAT
1.2.1 Lingkup Pekerjaan
3. Tenaga Kerja, bahan, dan Alat
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan dan alat-alat bantu yang diperlukan untuk melaksanakan dan mengamankan pekerjaan ini dengan baik dan sesuai dengan spesifikasi.
4. Lokasi pekerjaan
Pekerjaan urugan pasir padat dilakukan di atas dasar galian tanah, di bawah lapisan lantai kerja dan digunakan untuk semua struktur beton yang berhubungan dengan tanah seperti Pile Cap, balok pondasi dan pekerjaan beton yang lain yang berhubungan langsung dengan tanah.
5. Pembersihan Akar Tanaman padat dan sisa Galian
Jika di bawah dasar galian dijumpai akar tanaman atau tanah organis, maka dasar galian tersebut harus dibersihkan dari hal tersebut di atas, dan bekas galian tersebut harus diisi dengan material urugan yang
1.2.2 Persyaratan Bahan
1. Bahan urugan Pasir Padat
Pasir yang digunakan harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan keras, bebas dari lumpur, tanah lempung dan organis. Bahan ini harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas.
2. Air Kerja
Air yang digunakan harus bersih dan tidak mengandung minyak, asam alkali dan bahan organis lainnya, serta dapat diminum. Sebelum digunakan air harus diperiksa dilaboratorium pemeriksaan bahan yang sah. Jika hasil uji ternyata tidak memenuhi syarat, maka kontraktor wajib mencari air kerja yang memenuhi syarat.
1.2.3 Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Tebal Pasir urug
Jika tidak tercantum dalam gambar kerja, maka di bawah lantai kerja harus diberi lapisan pasir urug tebal 10 cm padat atau sesuai gambar. Pemadatan harus dilaksanakan sehingga dapat menerima beban yang bekerja.
2. Cara Pemadatan
Pemadatan dilakukan dengan disiram air dan selanjutnya dipadat dengan alat pemadat yang disetujui konsultan Pengawas. Pemadatan dilakukan hingga mencapai tidak kurang dari 98% dari kepadatan optimum Laboratorium. Pemadatan harus dilakukan pada kondisi galian yang memadai agar dapat hasil kepadatan yang baik. Kondisi galian tersebut harus dipertahankan sampai pekerjaan pemadatan selesai dilakukan. Pemadatan harus diulang kembali jika keadaan tersebut di atas tidak memenuhi.
3. Air Pada Lokasi Pemadatan
Jika air tanah ternyata menggenangi lokasi pemadatan, maka Kontraktor wajib menyediakan Pompa dan dasar galian harus kering sebelum pasir urug diletakkan. Kontraktor harus membuat rencana yang benar, agar air tanah dapat dialirkan kelokasi yang lebih rendah dari dasar galian, misalnya dengan membuat sumpit pada tempat tertentu.
4. Tanah di sekitar pasir urug
Kontraktor harus menjaga agar tanah disekitar lokasi tedak tercampur dengan Pasir Urug. Jika pasir urug tersebut tercampur dengan tanah lainnya, maka Kontraktor wajib mengganti pasir urug tesebut dengan bahan lainnya yang bersih.
5. Persetujuan
Pekerjaan selanjutnya dapat dikerjakan, bilamana pekerjaan urugan tersebut sudah mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan
PENGAWAS .
1.3 PEKERJAAN URUGAN DAN PEMADATAN 1.3.1 Lingkup Pekerjaan
1. Tenaga Kerja, Bahan, dan Alat
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga Kerja, bahan-bahan dan alat-alat bantu yang diperlukan untuk melaksanakan dan mengamankan Pekerjaan ini dengan baik dan Sesuai dengan Spesifikasi.
2. Lokasi Pekerjaan
Pekerjaan ini pada Lokasi seperti yang tercantum pada gambar rencana, dengan elevasi seperti tertera pada di dalam peta kontur.
3. Pembersihan akar tanaman dan Sisa Galian
Jika Dijumpai akar tanaman atau tanah organis, maka lokasi tersebut harus dibersihkan dari hal tersebut di atas, dan bekas galian tersebut harus diisi dengan material urugan yang memenuhi syarat.
1.3.2 Persyaratan Bahan
1. Bahan Bekas Galian di Dalam Lokasi Proyek
Tanah bekas Galian dapat dipertimbangkan untuk digunakan jika memenuhi syarat untuk digunakan. Tanah Tersebut harus bebas dari lumpur dan bahan organis lainnya.
2. Bahan Urugan Dari Luar Lokasi Proyek
Jika tanah urug didatangkan dari luar, maka tanah urug tersebut harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a. memiliki koefisien permeabilitas dari 10-7 cm / detik
b. Mengandung minimal 20% partikel lanau dan lempung dan bebas tanah organis, kotoran dan batuan berukuran lebih dari 50 mm dan mengandung kurang dari 10% partikel gravel.
c. Mempunyai Indeks Plastis (PI) lebih dari 10%. Bahan yang mempunyai PI lebih dari 10% akan sulit dipadatkan.
d. Gumpalan gumpalan tanah harus digemburkan dan bahan tersebut harus dalam kondisi lepas agar mudah dipadatkan.
e. Secara umum bahan tersebut berupa sirtu / pasir batu yang sebelum mendatangkan harus sudah mendapat persetujuan konsultan Pengawas .
3. Bahan Urugan Yang tidak memenuhi Syarat
Semua bahan urugan yang tidak memadai harus dikeluarkan dari lokasi proyek dan diganti dengan bahan yang memenuhi Syarat.
1.3.3 Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Cara Pengurugan dan Pemadatan
Pengurugan harus dilakukan lapis demi lapis dengan tebal lapisan 20 cm dan pemadatan dilakukan sampai mencapai kepadatan Maximum pada kadar air optimum yang ditentukan di dalam gambar rencana. Pemadatan urugan dilakukan dengan memakai alat pemadat yang disetujui oleh Konsultan Pengawas . Jika tidak tercantum dalam gambar rencana, maka pemadatan harus dilakukan sampai mencapai derajat kepadatan 98%.
2. Pemasangan Patok
Pada lokasi urugan harus diberi patok-patok, ketinggian sesuai dengan ketinggian rencana. Untuk daerah-daerah dengan ketinggian tertentu, dibuat patok dengan warna tertentu pula.
3. System Drainase
Pada daerah yang basah, kontraktor harus membuat saluran sementara sedemikian rupa sehingga lokasi tersebut dapat dikeringkan.
Pengeringan dilakukan dengan bantuan pompa air. Sistem drainase yang direncanakan harus disetujui oleh Konsultan Pengawas . Dan sistem drainase tersebut harus selalu dijaga selama pekerjaan berlangsung agar dapat berfungsi secara efektif untuk menaggulangi air yang ada.
4. Kotoran dan Lumpur dan Bahan Organik
Lokasi yang akan diurug harus bebas dari lumpur atau kotoran, sampah dan material sejenis. Pengurugan tidak dapat dilakukan jika kotoran tersebut belum dikeluarkan dari lokasi pekerjaan.
5. Uji kepadatan optimum di Laboratorium
Uji kepadatan optimum harus mengikuti ketentuan ASTM. D-1557 atau AASHTO. Hasil uji ini digunakan untuk menentukan cara pemadatan lapangan. Uji yang dilakukan antara lain :
a. “Density of Soil inplace by Sand Cone method ASSHTO T.191”
b. “Density of Soil inplace by Driven Cylinder Method“ ASSTO T-.204.
c. “Density of Soil inplace by Rubber Ballon” ASSHTO T-205.
6. Kepadatan Lapisan dan Uji Lapangan
Untuk bahan yang sama, setiap lapis tanah yang sudah dipadatkan harus diuji di lapangan, yaitu 1 (satu) buah test untuk setiap 500 m2, yaitu dengan system Field Density Test. Jika urugan cukup tebal maka dengan hasil kepadatannya harus memenuhi ketentuan ketentuan sebagai berikut :
a. Untuk lapisan yang letaknya lebih dalam 50 cm dari permukaan rencana, maka berat jenis kering tanah padat lapangan harus
mencapai minimal 95% dari berat jenis kering laboratorium yang dihitung dengan Standart Proctor Test.
b. Untuk Lapisan 50 cm dari permukaan rencana kepadatannya harus minimal 98% dari Standart Proctor test
7. Toleransi Kerataan
Toleransi Pelaksanaan yang dapat diterima untuk penggalian dan pengurugan ± 50 mm terhadap Kerataan yang ditentukan.
8. Level akhir
Hasil test di lapangan harus tertulis dan diketahui oleh Konsultan Pengawas . Semua hasil-hasil pekerjaan harus diperiksa kembali terhadap patok- patok referensi untuk mengetahui sampai dimana kedudukan permukaan tanah tersebut.
9. Perlindungan Hasil Pemadatan.
Bagian permukaan yang telah dinyatakan padat harus dipertahankan, dijaga dan dilindungi agar jangan sampai rusak akibat pengaruh luar misalnya basah oleh air hujan, panas matahari dan sebagainya perlindungan dapat dilakukan dengan menutupi permukaan plastik.
Pekerjaan pengadaan dianggap cukup, setelah hasil test memenuhi syarat dan mendapat persetujuan tertulis dari konsultan Pengawas . 10. P e m a d a t a n kembali.
Setiap lapisan harus dikerjakan sesuai deangan kepadatan yang dibutuhkan dan diperiksa melalui pengujian lapangan yang memadai, sebelum memulai lapisan berikutnya, bilamana bahan tersebut tidak mencapai kepadatan yang dikehendaki, lapisan tersebut harus diulangi perkerjaanya atau diganti, dengan cara-cara pelaksanaan yang telah ditentukan, guna mendapatkan kepadatan yang telah dibutuhkan, jadwal pengujian harus diajukan oleh kontraktor kepada konsultan Pengawas.
PASAL 4.
DINDING PASANGAN BATU BATA 4.1 UMUM
4.1.1 Lingkup Pekerjaan :
a. Termasuk dalam lingkup pekerjaan ini penyediaan tenaga, bahan material, Peralatan, dan alat bantu lainnya sehingga dicapai hasil pekerjaan yang baik dan sempurna.
b. Meliputi pemasangan bagian dinding dan bagian lain dari bangunan yang dinyatakan dalam gambar menggunakan bahan pasangan Bata Merah (citicon)/setara.
4.1.2 Pekerjaan lain yang berhubungan : a. Pekerjaan Bagian Struktur b. Pekerjaan Plesteran 4.2 STANDARD :
1. Bata Merah memenuhi NI-10 2. Semen Portland memenuhi NI-8.
3. Pasir memenuhi NI-3 Pasal 14 ayat 2.
4. Air memenuhi PVBI-1982 Pasal 9.
4.3 MATERIAL :
1. Bata Merah atau yang setara, kualitas terbaik yang disetujui Konsultan Pengawas.
2. Bata Merah atau yang setara harus siku dan sama ukurannya. Mempunyai stanadrt SNI, dan ada test uji kekuatan dan mutu.
3. Spesi menggunakan Campuran 1 pc : 4 ps dan disetujui Konsultan Pengawas.
4. Pekerjaan plesteran menggunakan semen instan dan disetujui Konsultan Pengawas.
4.4 ALAT KERJA :
1) Kontraktor pelaksana harus menyediakan seluruh peralatan dan juga perlengkapan kerja untuk keperluan pekerja pelaksananya.
2) Selain peralatan kontraktor pelaksana juga harus menyediakan semua sarana yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan ini.
4.5 PERSIAPAN :
1. Spesi menggunakan Campuran 1 pc : 4 ps dan disetujui Konsultan Pengawas.
2. Pasangan Dinding biasa campuran 1 : 4 ps.
3. Setiap bukaan / lubang pada dinding harus diberi pengaku berupa balok dan kolom praktis.
4. Stek-stek untuk pasangan batu bata harus sudah disiapkan pada saat pembuatan kolom dan balok.
4.6 PELAKSANAAN :
Pasangan Dinding Bata Merah atau yang setara Pada Umumnya :
1. Pasangan dinding Bata Merah pada umumnya adalah pasangan dengan perekat (spesi) menggunakan Campuran 1 pc : 4ps dan disetujui Konsultan Pengawas .
2. Seluruh pekerjaan pasangan harus dibuat lurus baik secara vertikal maupun secara horisontal, sehingga menghasilkan bidang-bidang yang betul-betul rata.