• Tidak ada hasil yang ditemukan

Spiritual Leadership

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Spiritual Leadership"

Copied!
131
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Pengertian Kepemimpinan

Tenner dan Detoro (1993); Robbins (2002); Hasibuan (2007); Umar (2010) secara umum menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan yang dilakukan oleh pemimpin untuk mempengaruhi bawahan agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan. Ada enam hal penting dalam peningkatan kualitas yang harus dilakukan pemimpin (Tenner dan Detoro, 1993), yaitu: . 1). Visi (vision), yaitu kemampuan merumuskan pandangan atau gambaran yang tepat tentang masa depan sehubungan dengan keberadaan perusahaan.

Teori Kepemimpinan

  • Teori Great Man
  • Teori Sifat (Trait Theory)
  • Teori Perilaku (Behavioral Theory)
  • Kepemimpinan Partisipatif Teori
  • Model Kepemimpinan Kontingensi atau Situasional
  • Kepemimpinan Melayani (Servant Leadership)
  • Kepemimpinan Transaksional dan Transformasional Teori
  • Ringkasan

Blake dan Mouton mengemukakan bahwa manajemen tim dengan kepedulian yang tinggi terhadap karyawan dan produksi merupakan perilaku kepemimpinan yang paling efektif. Meskipun teori perilaku dapat membantu manajer mengembangkan perilaku kepemimpinan tertentu, teori tersebut hanya memberikan sedikit wawasan tentang kepemimpinan yang efektif dalam berbagai situasi. Memang benar, sebagian besar pakar saat ini menyimpulkan bahwa tidak ada satu pun gaya kepemimpinan yang cocok untuk setiap manajer dalam segala situasi.

Masing-masing teori kepemimpinan yang diuraikan di atas cenderung mengambil sudut pandang individu pemimpinnya.

Tabel 2.1. Dimensi Perilaku dalam Teori Kepemimpinan Perilaku.
Tabel 2.1. Dimensi Perilaku dalam Teori Kepemimpinan Perilaku.

SPIRITUAL LEADERSHIP

  • Pengertian Spiritual Leadership
  • Model Kepemimpinan Spiritualitas
  • Dimensi Spiritual Leadership
  • Calling
  • Membership

Dimensi spiritual kepemimpinan (Fry et al., 2011) dan proses pemenuhan kebutuhan spiritual untuk kesejahteraan spiritual ditunjukkan pada Gambar 2.3. Dimana kualitas kepemimpinan spiritual yang dikemukakan oleh Fry terdiri dari tiga dimensi yaitu: visi, cinta altruistik dan keyakinan/pengharapan. Fry menjelaskan, kualitas kepemimpinan spiritual dibentuk oleh tiga dimensi, yaitu: visi, cinta altruistik dan harapan/iman seperti terlihat pada Tabel 2.2.

Kepemimpinan spiritual berupaya memastikan bahwa ada harapan/keyakinan terhadap visi organisasi, mengarahkan pengikutnya untuk menatap masa depan.

KOMITMEN ORGANISASIONAL DAN KINERJA ORGANISASI

Komitmen Organisasional

  • Komponen Komitmen Organisasional
  • Faktor yang Berpengaruh pada Komitmen Organisasional

Meyer et al (1993) menyatakan bahwa OC merupakan keadaan psikologis yang penting bagi keputusan untuk melanjutkan keanggotaan dalam organisasi. OC adalah sikap yang penting untuk dipromosikan di antara karyawan untuk menghubungkan mereka dengan organisasi (Hackett & Lapierre, 2001). Ciri-ciri struktural tersebut berkaitan dengan formalisasi, ketergantungan sosial dan desentralisasi yang kesemuanya berkaitan dengan komitmen.

Pengalaman kerja berkaitan dengan kewajiban seperti komitmen sosial, keandalan organisasi, kepentingan pribadi dalam organisasi, gaji yang adil, dan norma kelompok mengenai kerja keras.

Kinerja Organisasi

  • Pengertian Kinerja Organisasi
  • Penilaian Kinerja Organisasi

2011) menemukan bahwa: (1) hubungan kepemimpinan spiritual terhadap panggilan dan keanggotaan bersifat positif dan signifikan, (2) panggilan dan keanggotaan memediasi sepenuhnya hubungan antara kepemimpinan spiritual dan komitmen organisasi. Peran mediasi vokasi dan keanggotaan dalam hubungan kepemimpinan spiritual dengan komitmen organisasi juga didukung oleh hasil penelitian Chen dkk. (2012); Bodla dan Ali (2012). Goreng dkk. (2011) penelitian menemukan bahwa: (1) hubungan kepemimpinan spiritual terhadap panggilan dan keanggotaan bersifat positif dan signifikan, (2) panggilan dan keanggotaan memediasi sepenuhnya hubungan antara kepemimpinan spiritual dan komitmen organisasi.

Penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian Torkamani et al (2015) yang menyatakan bahwa kepemimpinan spiritual merupakan prediktor penting komitmen organisasi.

CONTOH NASKAH PENELITIAN SPIRITUAL LEADERSHIP

Contoh NaskahLatar Belakang Masalah

Selain itu, penelitian Bodle dan Ali (2012) menunjukkan bahwa: (1) kepemimpinan spiritual yang terdiri dari: visi dan cinta altruistik berhubungan langsung dengan komitmen organisasi, (2) kepemimpinan spiritual mempengaruhi panggilan dan keanggotaan. Dari temuan penelitian dapat disimpulkan bahwa hubungan langsung antara kepemimpinan spiritual dan komitmen organisasi tidak signifikan. Oleh karena itu, penelitian ini akan menguji hubungan kepemimpinan spiritual terhadap komitmen organisasi melalui pekerjaan dan keanggotaan serta pengaruhnya terhadap kinerja organisasi.

Fry dkk mengungkapkan bagaimana model pengelolaan organisasi memasukkan aspek kepemimpinan spiritual dan komitmen organisasi serta pengaruhnya terhadap kinerja LPD.

Contoh Naskah Kerangka Pemikiran, Konseptual dan Hipotesis

Begitu pula dengan penelitian Fry dkk. (2011) menemukan bahwa: (1) hubungan antara kepemimpinan spiritual dengan panggilan dan keanggotaan bersifat positif dan signifikan, (2) panggilan dan keanggotaan memediasi sepenuhnya hubungan antara kepemimpinan spiritual dan komitmen organisasi (panggilan). dan keanggotaan sepenuhnya memediasi hubungan antara kepemimpinan spiritual dan komitmen organisasi). Terdapat tiga dimensi komitmen organisasi, yaitu komitmen afektif, komitmen kontinuitas, dan komitmen normatif (Meyer dan Allen 1991; Meyer et al., 2002). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bodla dan Ali (2012); Bodla dkk. (2013) menyatakan bahwa kepemimpinan spiritual yang terdiri dari visi dan cinta altruistik masing-masing berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi.

Hal ini sesuai dengan salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh Chen et al. (2012) yang menemukan bahwa panggilan sepenuhnya memediasi hubungan kepemimpinan spiritual yang dibentuk oleh visi, harapan/iman, dan cinta altruistik dengan komitmen organisasi. Jadi dapat dikatakan keanggotaan berperan sebagai mediator antara kepemimpinan spiritual dan komitmen organisasi. Hubungan antara kepemimpinan spiritual, keanggotaan dan komitmen organisasi juga dipelajari oleh Mansor et al. (2013) tentang industri minyak dan gas Malaysia.

Hal ini sesuai dengan salah satu temuan penelitian yang dilakukan oleh Chen et al. (2012) yang menemukan bahwa keanggotaan sepenuhnya memediasi hubungan kepemimpinan spiritual yang dibentuk oleh visi, harapan/keyakinan, dan cinta altruistik dengan komitmen organisasi. Salah satu temuan penelitian yang dilakukan oleh Irefin dan Mechanic, (2014) menemukan bahwa komitmen organisasi mempunyai hubungan yang tinggi dengan kinerja organisasi. Begitu pula dengan penelitian Shagoli dkk. (2011) bahwa komitmen organisasi membentuk konstruk produktivitas dan kinerja.

Penelitian Markow dan Klenke (2005); Goreng dkk (2011); Chen dkk. (2012) menemukan bahwa pengaruh panggilan terhadap komitmen organisasi adalah positif dan signifikan. Penelitian Fry dkk (2011); Mansor dkk (2013); Torkamani et al (2015) menemukan bahwa keanggotaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi.

Contoh Naskah Metode Penelitian

Berdasarkan kerangka konseptual penelitian, variabel dalam penelitian ini terdiri dari satu variabel eksogen dan empat variabel endogen. Variabel eksogen dalam penelitian ini adalah kepemimpinan spiritual (X), . 2) Variabel endogen merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain dalam model penelitian. Penelitian ini juga mengidentifikasi variabel endogen (mediasi) yang berada di antara variabel eksogen dan endogen.

Variabel yang dibentuk dalam penelitian ini adalah: kepemimpinan spiritual yang dibentuk oleh tiga indikator (visi, cinta altruistik dan iman/harapan), panggilan, keanggotaan, komitmen organisasi, kinerja organisasi. Variabel dalam penelitian ini dijabarkan ke dalam kuesioner, variabel operasionalnya didefinisikan sebagai berikut: Data sekunder dalam penelitian ini adalah jumlah LPD berdasarkan tingkat keberlanjutannya dan jumlah aset LPD.

Populasi dalam penelitian ini adalah pengurus Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Provinsi Bali yang terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara yang berjumlah 1422 orang (Tabel 1.1). Berdasarkan perhitungan tersebut, jumlah sampel dalam penelitian ini ada pada Tabel 4.1 dengan teknik random sampling. Berdasarkan hasil analisis reliabilitas, nilai Cronbach Alpha pada penelitian ini berada di atas 0,717 sehingga seluruh konstruk dinyatakan reliabel.

Selain itu, analisis statistik deskriptif juga digunakan dalam penelitian ini untuk menjelaskan tanggapan responden terhadap variabel penelitian antara lain: kepemimpinan spiritual, komitmen organisasi, dan kinerja organisasi. Teknik analisis inferensial digunakan untuk menguji model empiris dan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini.

Contoh Naskah Hasil Penelitian dan Pembahasan

Gambaran responden terhadap variabel kepemimpinan spiritual pada Tabel 5.4 menunjukkan bahwa rata-rata variabel kepemimpinan spiritual termasuk dalam kriteria kuat dengan mean (mean) sebesar 4,18. Seperti terlihat pada Tabel 5.5, bubble termasuk dalam kriteria kuat yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata (mean) sebesar 4,19. Gambaran responden terhadap variabel keanggotaan pada Tabel 5.6 menunjukkan bahwa keanggotaan LPD termasuk dalam kriteria kuat yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata (mean) sebesar 3,64.

Hasil analisis terkait model reflektif dan uji signifikansi extraneous loading disajikan pada Tabel 5.14 yang dikelompokkan dari konstruk yang mempunyai dimensi reflektif. Prosedur pengujian ketiga yang didasarkan pada prosedur Heterotrait-Monotrait Ratio (HTMT) yang dikembangkan oleh Henseler, Ringle dan Sarstedt (2015), disajikan pada Tabel 5.15. Untuk mendapatkan gambaran mengenai peran indikator-indikator yang mencerminkan konstruksi panggilan, Tabel 5.20 menyajikan persepsi responden dan perkiraan data responden.

Untuk mendapatkan gambaran mengenai peran indikator yang mencerminkan konstruk keanggotaan, Tabel 5.21 menyajikan persepsi responden dan perkiraan data responden. Berdasarkan Tabel 5.26 terlihat bahwa indikator tertinggi menurut persepsi pengelola usaha LPD adalah indikator tujuan sosial, berbeda dengan hasil estimasi berdasarkan data sampel. Dimensi ketiga yang digunakan penelitian ini untuk mencerminkan kinerja organisasi (Y2) adalah perspektif pelanggan yang disajikan pada Tabel 5.27 dengan tiga indikator.

Berdasarkan Tabel 5.27 diketahui bahwa menurut persepsi pengelola bisnis LPD, tingkat kepercayaan merupakan dimensi yang paling tinggi dibandingkan dengan indikator keluhan nasabah dan keragaman produk LPD. Berdasarkan Tabel 5.28 ditemukan bahwa indikator pelatihan pegawai dipersepsikan sebagai dimensi tertinggi menurut pengelola bisnis LPD, lain halnya berdasarkan data sampel estimasi. Hasil analisis R2 dan R2 yang disesuaikan disajikan pada Tabel 5.30, dimana terdapat empat variabel laten terikat yang mempunyai nilai R2.

Hasil analisis seperti pada Tabel 5.31 dengan rata-rata lebih dari 0,35 dapat disimpulkan bahwa terdapat indikasi yang sangat kuat terbentuknya pola hubungan mediasi dalam penelitian ini.

Tabel 5.4 juga memberikan informasi bahwa dimensi terkuat yang membentuk  variabel  spiritual leadership  adalah  dimensi vision  dengan rerata 4,30 berada pada  kriteria sangat kuat, disusul dimensi hope/faith dengan rerata 4,17 yang berkriteria kuat  dan
Tabel 5.4 juga memberikan informasi bahwa dimensi terkuat yang membentuk variabel spiritual leadership adalah dimensi vision dengan rerata 4,30 berada pada kriteria sangat kuat, disusul dimensi hope/faith dengan rerata 4,17 yang berkriteria kuat dan

Contoh Naskah Pembahasan

  • Kerangka Konseptual

Jeon (2012) mengembangkan model kepemimpinan spiritual dari Fry et al. (2011) untuk perusahaan di Korea, Bodla dan Ali (2012) untuk mengeksplorasi peran komponen kepemimpinan spiritual dalam industri perbankan di Pakistan, Mansor et al. (2013) untuk penelitian tentang kepemimpinan spiritual di sektor minyak dan gas di Malaysia. 2,097 (t-statistik > 1,96), sehingga hipotesis bahwa kepemimpinan spiritual berpengaruh positif terhadap vokasi terbukti secara empiris. Demikian pula kepemimpinan spiritual terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap keanggotaan yang ditunjukkan dengan t-statistik = 3,137 (t-statistik > 1,96) Hasil ini berarti semakin kuat kepemimpinan spiritual pengurus maka semakin kuat pula panggilan dan keanggotaannya. akan.

Tiga komponen yang membentuk kepemimpinan spiritual adalah visi, iman, dan cinta altruistik, konsep ideal, sementara perkiraan menunjukkan bahwa panggilan dan keanggotaan merupakan perluasan lebih lanjut dari konsep ideal yang diimplementasikan melalui panggilan dan keanggotaan (Fry et al., 2005; Fry dkk.al., 2011). Evaluasi terhadap konstruk yang mempunyai hubungan langsung dengan kinerja organisasi dengan demikian merupakan panggilan dan komitmen terhadap organisasi. Saad dkk (2015) telah membuktikan bahwa peran kepemimpinan spiritual dapat secara efektif menggerakkan organisasi mencapai kinerja terbaiknya, hal ini sejalan dengan bukti empiris yang diperoleh melalui penelitian ini.

Penelitian ini dibangun atas dasar kerangka kepemimpinan spiritual sebagaimana dimaksud oleh Fry dkk. (2011) dan beberapa dukungan penelitian empiris dari Bodla dan Ali (2012), Chen et al., (2012), Zavareh et al. (2013), Mansor dkk. (2013). Penelitian ini juga melakukan konstruk tunggal pada teori kepemimpinan spiritual dari Fry et al. (2011), sehingga dipetakan pada metodologi PLS SEM sebagai dimensi formatif. Afsar dkk. Penelitiannya (2016) lebih berfokus pada peran mediasi spiritualitas di tempat kerja, sedangkan Chen dan Li (2013) merumuskan vokasi dan keanggotaan sebagai mediator kepemimpinan spiritual.

Goreng dkk. (2005) dan Fry dkk. (2011), dan Chen dkk. (2012) membuktikan peran strategis kepemimpinan spiritual dalam mendorong komitmen organisasi. Saad dkk. (2015) membuktikan bahwa kepemimpinan spiritual memberikan kontribusi nyata dalam membangun komitmen organisasi untuk mendorong keberlangsungan daya tanggap dunia usaha dalam menyikapi persaingan pasar. Penelitian ini bahkan membuktikan adanya peran ganda komitmen organisasi sebagai mediator panggilan dan keanggotaan untuk menghasilkan kinerja organisasi.

Mansor Norudin, Ismail Ahmad Haziq, Alwi Mohd Afifie, Anwar Nurhani, 2013, Hubungan antara kepimpinan rohani dan komitmen organisasi dalam.

METODE PENELITIAN

Gambar

Tabel 2.1. Dimensi Perilaku dalam Teori Kepemimpinan Perilaku.
Tabel 5.4 juga memberikan informasi bahwa dimensi terkuat yang membentuk  variabel  spiritual leadership  adalah  dimensi vision  dengan rerata 4,30 berada pada  kriteria sangat kuat, disusul dimensi hope/faith dengan rerata 4,17 yang berkriteria kuat  dan
Tabel 5.7 juga memberikan informasi bahwa variabel komitmen organisasional  paling tinggi direfleksikan oleh komitmen afektif dengan nilai rerata sebesar 4,05,  disusul oleh komitmen normatif dengan nilai rerata sebesar 3,60 dan terakhir komitmen  kontinyu
Tabel 5.8  menunjukkan bahwa rerata variabel kinerja organisasi  termasuk  kriteria  kuat dengan  rerata (mean) diperoleh sebesar 3,99
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penilaian kinerja keuangan ialah suatu analisis dari indikator keuangan yang dapat digunakan dalam perencanaan dan pemantauan kinerja, khususnya manajemen kinerja, untuk memenuhi

As such, based on the results of the tracer study, out of 235 accounted graduates of the College of Arts & Sciences in various years across the programs, there are 105 alumni who are