1
SPORT DIPLOMACY KOREA SELATAN KE KOREA UTARA PADA OLIMPIADE MUSIM DINGIN 2018
Iin Wulandari1
1Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Andalas, Padang, Indonesia
SUBMISION TRACK ABSTRACT Recieved: 25 January 2022
Final Revision: 27 March 2022 Available Online: 28 June 2022
This paper aims to see the utilizations of South Korea’s sport diplomacy in purpose to improve the relations between North Korea. Prior to the 2018 Winter Olympics in South Korea, the relationship between the two countries were heating up due to the Korean nuclear crisis. Sports can be used to reduce tensions and improve relations between conflicting countries. This paper uses qualitative research methods with descriptive research types. By using the concept of sport diplomacy from Havard Mokleiv Nygard and Scott Gates who propose that sport diplomacy as a tool to improve relations between conflicting countries has four mechanisms, namely image-building, building a platform for dialogue, trust-building, and reconciliation, integration and anti-racism. South Korea utilizes sport diplomacy to North Korea at the 2018 Winter Olympics by using this mechanism to reduce tensions and to create peace through sports.
KEYWORD
South Korea, North Korea, sport diplomacy, olympics, peace
KATA KUNCI ABSTRAK
Korea Selatan, Korea Utara, Diplomasi Olahraga, Olimpiade, Perdamaian
Tulisan ini bertujuan untuk melihat pemanfaatan diplomasi olahraga Korea Selatan untuk memperbaiki hubungan dengan Korea Utara.
Sebelum pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2018 di Korea Selatan, hubungan kedua negara memanas akibat krisis nuklir Korea. Olahraga dapat digunakan untuk menurunkan ketegangan dan memperbaiki hubungan negara yang berkonflik. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan jenis penelitian deskriptif. Peneliti menggunakan konsep sport diplomacy dari Havard Mokleiv Nygard dan Scott Gates yang mengemukakan bahwa diplomasi olahraga sebagai alat untuk memperbaiki hubungan antara negara memiliki empat mekanisme yaitu image-building, building a platform for dialogue, trust-building dan reconciliation, integration dan anti-racism. Korea Selatan memanfaatkan diplomasi olahraga ke Korea Utara pada Olimpiade Musim Dingin 2018 dengan menggunakan mekanisme tersebut untuk menurunkan ketegangan dan menciptakan perdamaian dengan Korea Utara melalui olahraga.
CORRESPONDENCE Email : [email protected]
PENDAHULUAN
Olimpiade merupakan kompetisi olahraga yang diadakan empat tahun sekali dan merupakan ajang olahraga terbesar di
dunia. Menjadi tuan rumah ajang olahraga dapat dilihat sebagai sebuah upaya pencapaian kepentingan nasional suatu negara. Dengan menjadi tuan rumah
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 2 kompetisi olahraga internasional, negara
tuan rumah mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan image, status, dan ekonomi negara pada tingkat internasional, dan juga sebagai alat diplomasi untuk menyebarkan suatu pesan politik (Murray, 2016). Ketika olahraga memiliki fungsi tersebut, ini menandakan bahwa olahraga dan politik memiliki kaitan.
Pada tanggal 6 Juli 2011, Korea Selatan ditetapkan oleh International Olympic Comittee (IOC) menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2018 (IOC, 2021). Namun sebelum pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin PyeongChang 2018 terdapat keraguan dari masyarakat internasional karena memanasnya hubungan Korea Selatan dengan Korea Utara. Korea Utara telah melakukan tes nuklir sebanyak enam kali yaitu pada Oktober 2006 dengan kekuatan kurang dari 1 kiloton (kt) menjadi 4 kt pada Mei 2009, 10 kt pada Februari 2013, 6 kt pada Januari 2016, 10-20 kt pada September 2016, dan yang terbesar pada 3 September 2017 dengan estimasi ledakan dari 50-250 kt (Kim, 2018), Dari hasil uji coba senjata nuklir ini menunjukkan perkembangan kekuatan nuklir Korea Utara yang meningkat pesat pada beberapa tahun terakhir.
Aktivitas nuklir Korea Utara tersebut membuat Korea Selatan meningkatkan keamanan negaranya. Korea Selatan bersama Amerika Serikat mengembangkan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) yaitu sebuah sistem yang digunakan untuk mengatasi lintasan misil ketika diluncurkan pada lintasan yang tinggi. THAAD dapat mencapai jarak 200 km, dengan demikian sistem ini dapat mendeteksi dan mencegah misil Korea Utara yang sedang diluncurkan memasuki wilayah udara Korea Selatan (Sankaran & Fearey, 2017). Sistem THAAD mulai beroperasi di Korea Selatan pada Mei 2017. Selain pengembangan sistem tersebut, Korea Selatan juga melakukan pengembangan misil balistik jarak pendek dan melakukan beberapa kali uji coba sebagai respons uji coba senjata nuklir Korea Utara. Aktivitas nuklir Korea Utara membuat Korea Selatan membutuhkan kekuatan untuk melindungi negaranya.
Dari situasi pada saat itu dunia internasional berasumsi bahwa ketegangan akibat krisis nuklir ini akan terus berlanjut bahkan lebih buruk. PBB, Amerika Serikat, dan Korea Selatan memberlakukan beberapa sanksi ekonomi yang keras kepada Korea Utara pada tahun 2017 dengan maksud untuk menekan Korea
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 3 Utara (Chapell, 2019). China juga
menentang program nuklir Korea Utara bahwa percobaan nuklir Korea Utara adalah suatu hal yang salah dan bertentangan dengan keinginan komunitas internasional dan mendapat penolakan dari China (Wire, 2017). Namun dengan tekanan dari dunia internasional justru mendorong Korea Utara untuk mempercepat program nuklirnya.
Hal ini merupakan respon Korea Utara terhadap pertentangan yang diterima dari dunia internasional. Adanya perbedaan identitas yang dimiliki antara Amerika Serikat, China dan Korea Selatan membuat Korea Utara menganggap negara tersebut sebagai rival Adanya pandangan sebagai rival ini membuat Korea Utara merasa tidak aman dengan reaksi penolakan tersebut dan memilih untuk tetap melanjutkan program pengembangan senjata nuklir (Permata, 2018).
Ketegangan ini membuat masyarakat dunia merasa tidak aman dan mempertanyakan keamanan Korea Selatan sebagai tuan rumah olimpiade mengingat Korea Selatan berbatasan langsung dengan Korea Utara. Namun, pada 24 Juni 2017 Presiden Moon Jae In mengajak Korea Utara agar bisa ikut dan membentuk tim gabungan bersama Korea Selatan di Olimpiade Musim Dingin 2018 yang
dilaksanakan di kota PyeongChang (The Australian, 2018). Keputusan Presiden Korea Selatan ini menarik karena pada saat itu hubungan kedua negara masih memanas, namun Korea Selatan justru mengajak Korea Utara untuk bekerja sama melalui olahraga.
Setelah bergabungnya kedua negara dalam Olimpiade Musim Dingin PyeongChang 2018, dialog antara Korea Selatan dan Korea Utara kembali terjalin.
Mengikuti kerjasama Korea Utara dan Korea Selatan dalam olahraga menginisiasi perbaikan hubungan dengan Korea Utara seperti pengembalian jalur komunikasi saluran telepon (hotline) antara kedua negara yang kembali diaktifkan setelah dua tahun terputus (Sang-Hun, 2019).
Komunikasi radio ship-to-ship serta komunikasi militer dihubungkan antara kedua negara, aktivitas pertukaran budaya melalui konser musik, serta KTT inter- Korea. Setelah Olimpiade Musim Dingin 2018, perbaikan dan rekonsiliasi hubungan Korea Selatan dengan Korea Utara memperlihatkan hasil yang bagus meskipun setelah melewati beberapa dialog denuklirisasi, Korea Utara kembali mundur dan kesepakatan mengenai hal ini belum terjadi dan keadaan kembali pada situasi sebelumnya. Namun demikian, Korea Selatan telah berhasil menginisiasi
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 4 perbaikan hubungan dengan Korea Utara
dengan memanfaatkan ajang Olimpiade Musim Dingin 2018.
KERANGKA KONSEP
Diplomasi adalah sebuah alat untuk mencapai tujuan dari kebijakan luar negeri sebuah negara melalui proses negosiasi.
Diplomasi bertujuan untuk mencapai kesepakatan, kompromi dan penyelesaian masalah dengan mengubah kebijakan, tindakan, tujuan, dan sikap negara lain.
Pada masa ini diplomasi tidak hanya dilakukan oleh negara dalam bentuk diplomasi formal, namun diplomasi bisa dilakukan oleh aktor lainnya dalam hubungan internasional melalui interaksi informal. Sport diplomacy didefinisikan sebagai kegiatan perwakilan dan diplomatik yang dilakukan oleh aktor olahraga melalui event olahraga yang difasilitasi oleh negara untuk menarik perhatian, memberi informasi dan membentuk citra baik untuk mencapai tujuan kebijakan luar negeri suatu negara (Murray, 2016).
Menurut Stuart Murray dalam menjelaskan Sport diplomacy dibagi kepada dua kategori, yaitu sport diplomacy modern dan sport diplomacy tradional.
Sport diplomacy modern ketika adanya peranan aktor non-negara yaitu inter- governmental organizations (IGO),
multinational corporations (MNC), civil society, klub-klub olahraga dan individu yang berpengaruh dalam bidang olahraga seperti atlit ternama dalam kegiatan diplomasi olahraga. Negara dalam hal ini memiliki peran sebagai fasilitator.
Sementara itu Sport diplomacy secara tradisional digunakan oleh negara untuk menurunkan ketegangan, mediasi dan konsolidasi hubungan politik diantara negara yang memiliki konflik (Murray, 2016). Jadi sport diplomacy dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan konflik antar negara karena didalam ajang olahraga mempertemukan orang-orang yang berasal dari komunitas ataupun negara yang berbeda dan mendorong membuka kesempatan untuk berdialog yang dapat menjadi awal bagi proses perbaikan hubungan antar negara yang lebih mendalam.
Cara-cara dalam mencapai tujuan diplomasi ada tiga macam yaitu cara persuasi, kompromi dan ancaman dimana sport diplomacy merupakan proses diplomasi secara persuasi. Tujuan sport diplomacy sebagai alat untuk menurunkan ketegangan dan rekonsiliasi tersebut dapat dicapai melalui empat mekanisme yaitu (Nygard & Gates, 2013) :
1. Image-building
2. Building a platform for dialogue
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 5 3. Trust-building
4. Rekonsiliasi, integrasi dan anti- rasisme
METODE PENELITIAN
Pada tulisan ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan metode penulisan deskriptif, tulisan ini mencoba menjelaskan pemanfaatan sport diplomacy Korea Selatan ke Korea Utara pada Olimpiade Musim Dingin 2018. Penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu melalui penelitian yang telah terlebih dahulu pernah diteliti oleh peneliti sebelumnya. Analisis data dilakukan sesuai dengan konsep dan teori yang dipakai dan menjadikan data yang ada sebagai indikator untuk konsep yang digunakan dan peneliti akan melakukan analisa terhadap hubungan variabel-variabel yang diteliti.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada tanggal 9 Januari 2018 Korea Utara setuju dengan ajakan Korea Selatan untuk mengadakan pertemukan antara kedua negara dengan IOC membahas mengenai keikutsertaan Korea Utara dalam Olimpiade PyeongChang 2018 (Moon, 2018). Pada pembukaan Olimpiade PyeongChang 2018 Korea Selatan dan Korea Utara berbaris bersama pada upacara
pembukaan dengan memakai bendera Unifikasi Korea yang bergambarkan peta Semenanjung Korea serta pada cabang olahraga hoki wanita tim dari Korea Utara dan Korea Selatan bergabung dan bertanding sebagai sebuah tim perwakilan Korea (Rich, 2018).
Sebelumnya dalam kegiatan olahraga Korea Utara dan Korea Selatan telah beberapa kali berbaris bersama dalam pembukaan ajang olahraga internasional menggunakan bendera unifikasi, namun ini pertama kalinya kedua negara bertanding dengan sebuah tim gabungan dalam ajang olahraga multi-event seperti olimpiade. Tim olahraga gabungan Korea pernah dibentuk ketika World Table Tennis Championships dan Piala Dunia Under-20 pada tahun 1991.
Namun, semenjak aktivitas pengembangan nuklir Korea Utara pada tahun 2006 sampai tahun 2017 hal ini tidak lagi dilakukan oleh kedua negara dalam ajang olahraga internasional. Akibat dari meningkatnya aktivitas nuklir Korea Utara setelah itu, komunikasi politik antara kedua negara sangat rendah (Merkel, 2019). Dengan tidak adanya dialog dan memanasnya suasana hubungan kedua negara, kerjasama dalam olahraga juga tidak dapat dilakukan. Upaya Korea Selatan mengajak Korea Utara untuk bergabung dalam Olimpiade Musim Dingin 2018 merupakan upaya sport diplomacy
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 6 Korea Selatan yang bertujuan untuk
menyelesaikan permasalahan di Semenanjung Korea. Hal ini dijelaskan dalam white paper diplomacy Korea Selatan bahwa Olimpiade Musim Dingin 2018 merupakan upaya diplomasi dan dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk menyelesaikan isu nuklir dan mencapai perdamaian kedua Korea.
Pemanfaatan Sport diplomacy Korea Selatan ke Korea Utara pada Olimpiade Musim Dingin 2018 dijelaskan menggunakan konsep mekanisme sport diplomacy oleh Havard Mokleiv Nygard dan Scott Gates yaitu sebagai berikut:
1. Image-building
Menjadi tuan rumah acara olahraga dilihat oleh banyak negara sebagai satu kesempatan untuk mempromosikan beberapa isu atau agenda tertentu seperti meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kota penyelenggara, meningkatkan citra positif negara tuan rumah dan agenda lainnya. Pada penelitian ini, citra yang dibangun merupakan image-building yang ditujukan ke Korea Utara. Dalam penelitian ini, mekanisme image-building sport diplomacy Korea Selatan yang dianalisis yaitu citra yang diperoleh Korea Selatan yang berkaitan dengan hubungan Korea Selatan dan Korea Utara. Sebagaimana
tujuan dari sport diplomacy Korea Selatan ke Korea Utara pada Olimpiade Musim Dingin 2018 adalah untuk mengurangi ketegangan dan menyelesaikan permasalahan di Semenanjung Korea (Ministry of Foreign Affairs Republic of Korea, 2018). image-building yang dilakukan Korea Selatan berkontribusi terhadap tujuan tersebut. Image building Korea Selatan melalui pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2018 akan dijelaskan dibawah ini.
Citra Korea Selatan yang memimpin inisiasi perbaikan hubungan inter-Korea
Korea Selatan berhasil menyelenggarakan olimpiade ditengah memanasnya hubungan dengan Korea Utara akibat krisis nuklir pada tahun 2017.
Olimpiade Musim Dingin 2018 dilaksanakan dengan partisipasi Korea Utara dalam olimpiade sebagai salah satu negara peserta. Partisipasi Korea Utara merupakan salah satu practical proposal dari kebijakan Korea Selatan terhadap permasalahan di Semenanjung Korea. Hal ini terdapat dalam Berlin Initiative pada tahun 2018 bahwa Korea Selatan akan memastikan partisipasi Korea Utara dalam Olimpiade Musim Dingin 2018 (Ministry of Foreign Affairs Republic of Korea, 2018).
Korea Selatan sebagai pihak yang terkait
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 7 secara langsung terhadap perdamaian
Semenanjung Korea mengambil langkah pertama untuk merangkul Korea Utara dengan mengajak partisipasi Korea Utara.
Korea Selatan memiliki lima prinsip di dalam kebijakan terhadap Semenanjung Korea pada pemerintahan Moon Jae In, salah satunya yaitu Korea Selatan akan mengambil inisiatif dalam mempromosikan dan memimpin rekonsiliasi serta kerjasama antar Korea. Sehingga memastikan partisipasi Korea Utara pada Olimpiade Musim Dingin 2018 merupakan inisasi Korea Selatan untuk memperbaiki hubungan dengan Korea Utara, merupakan kesempatan untuk menyelesaikan isu nuklir Korea dan menciptakan perdamaian Semenanjung Korea (Ministry of Foreign Affairs Republic of Korea, 2018). Ditengah tingginya aktivitas nuklir Korea Utara pada tahun 2017 yang tidak hanya memberikan ancaman keamanan bagi Korea Selatan sebagai negara tetangga namun juga bagi dunia internasional. Disaat itulah Korea Selatan melakukan berbagai tindakan untuk menjamin partisipasi Korea Utara dalam olimpiade, baik dengan mencari dukungan dari dunia internasional serta melakukan ajakan yang ditujukan kepada Korea Utara.
Upaya Korea Selatan untuk menciptakan olimpiade yang damai dengan mengundang Korea Utara yang merupakan
negara yang telah lama bermusuhan dengan Korea Selatan didukung dan diapresiasi oleh IOC sebagai organisasi yang mengatur mengenai penyelenggaraan olimpiade dengan mengadopsi Olympic Truce pada Olimpiade Musim Dingin 2018 dengan salah satu tujuan agar olimpiade ini menjadi kesempatan untuk membuat atmosfir perdamaian di Semenanjung Korea (Olympic Truce, 2018).
Dalam pidato Moon Jae In di acara persiapan olimpiade pada 20 September 2017 menjelaskan bahwa Korea Selatan memiliki tujuan untuk menjadikan Olimpiade Musim Dingin 2018 sebagai sebuah olimpiade perdamaian dengan mendapatkan partisipasi Korea Utara (President Moon Jae-in, 2019).
The Republic of Korea and PyeongChang are going to embark on a difficult but meaningful challenge. That is to achieve a peace Olympic with North Korea participating in it. Tensions are high now but because of that, peace is all the more needed… it will become a great opportunity to send a message of reconciliation and peace to the world.
Korea Selatan menjadikan Olimpiade Musim Dingin 2018 sebagai turning point dalam usaha perbaikan
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 8 hubungan Korea Selatan-Korea Utara
dengan peluang kesempatan yang tersedia.
Dengan menjadi tuan rumah ajang olimpiade memberikan kesempatan bagi negara untuk menjadi pusat perhatian, untuk menunjukkan eksistensi dan membangun citra baik. Image-building Korea Selatan adalah untuk membentuk citra sebagai inisiator perbaikan hubungan inter-Korea dengan memastikan partisipasi Korea Utara. Dunia internasional memandang positif Korea Selatan sebagai inisiator perbaikan hubungan inter-Korea dan mendukung kesuksesan Korea Selatan dan Korea Utara dalam Olimpiade Musim Dingin 2018. Sebelumnya Korea Selatan telah melakukan berbagai kunjungan diplomatik, pertemuan bilateral, multilateral serta menyampaikannya dalam berbagai agenda internasional untuk mendukung partisipasi Korea Utara dalam olimpiade. Korea Selatan dalam pertemuan menteri luar negeri dengan ASEAN, pertemuan luar negeri dengan Majelis Umum PBB, pertemuan menteri luar negeri dengan ASEM serta sesi pertemuan dengan 90 perwakilan diplomatik di Korea Selatan (Ministry of Foreign Affairs Republic of Korea, 2018). Kegiatan diplomatik Korea Selatan yang dijelaskan merupakan upaya Korea Selatan untuk membentuk citra tersebut.
Setelah keberhasilan Korea Selatan memastikan kedua Korea mengikuti olimpiade, pada upacara penutupan Olimpiade Musim Dingin 2018 Presiden IOC Thomas Bach mengapresiasi Olimpiade Musim Dingin 2018 sebagai olimpiade perdamaian dimana perhelatan olahraga dapat mendorong perdamaian di Semenanjung Korea (Ministry of Foreign Affair of South Korea, 2019). Melalui pembentukan tim gabungan serta dengan berbaris bersama kedua negara menyampaikan pesan perdamaian melalui olahraga. IOC mengapresiasi Korea Selatan sebagai negara penyelenggara olimpiade yang berkontribusi bagi perdamaian dunia, serta mendukung Korea Selatan untuk memanfaatkan olimpiade sebagai kesempatan memperbaiki hubungan dengan Korea Utara.
Citra baik Korea Selatan sebagai inisiator perbaikan hubungan inter-Korea dengan keberhasilan melangsungkan olimpiade perdamaian telah diakui oleh dunia internasional. Selain dari IOC, negara-negara lain juga mengapresiasi usaha serta keberhasilan Korea Selatan dalam menginisiasi perbaikan serta dialog dengan Korea Utara setelah Olimpiade Musim Dingin 2018 seperti dari Tiongkok dan Rusia (Korea JoongAng Daily, 2019).
Setelah pelaksanaan olimpiade, Korea
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 9 Selatan membentuk komite persiapan KTT
inter-Korea dan melakukan kunjungan ke Korea Utara untuk membicarakan rencana dialog tersebut. Kepala Kantor Keamanan Nasional kepresidenan Korea Selatan Chung Eui-yong melakukan kunjungan ke Rusia dan Tiongkok untuk menyampaikan hasil pertemuannya dengan Kim Jong Un di Pyongyang. Pada 15 Maret 2018 Chung Eui-yong menyampaikan bahwa Rusia dan Tiongkok mengapresiasi usaha Korea Selatan dalam memperbaiki hubungan inter-Korea dan denuklirisasi Semenanjung Korea serta mendukung mood rekonsiliasi dan kerjasama yang terbentuk setelah olimpiade antara Korea Selatan dan Korea Utara.
Citra yang terbentuk setelah pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2018 ini memberikan atmosfir perdamaian sehingga berdampak positif terhadap hubungan Korea Selatan dan Korea Utara dengan keberhasilan Korea Selatan membawa partisipasi Korea Utara dalam olimpiade untuk menciptakan suasana perdamaian. Buktinya yaitu setelah pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2018 perbaikan hubungan serta dialog secara masif dilakukan oleh kedua negara.
Setelah Olimpiade Musim Dingin 2018 selesai kedua negara sepakat untuk melanjutkan perbaikan hubungan dan
dialog antara kedua negara Korea Selatan sebagai inisiator rekonsiliasi dan perdamaian di Semenanjung Korea menginginkan untuk melakukan dialog inter-Korea serta akan menjadi mediator bagi dialog denuklirisasi dengan Amerika Serikat (Korea JoongAng Daily, 2019).
2. Building a platform for dialogue Ajang olahraga memiliki kemampuan untuk memperkuat ikatan antara bangsa dan orang-orangnya, serta memberikan kesempatan pada kegiatan pertukaran dialog yang dapat dijadikan awal dari normalisasi hubungan politik yang lebih jauh lagi Inilah yang dimaksud dengan sport diplomacy membangun platform untuk dialog menurut Nygard dan Gates. Event olahraga digunakan sebagai promosi sebuah hubungan dan keberhasilan hal ini bergantung kepada peranan pemerintah dalam mengarahkan tujuan untuk membangun platform dialog ini. Jika image-building lebih kepada self- promotion, mekanisme ini memberikan fokus kepada hubungan antar negara, membangun mutual understanding dan rasa kebersamaan sehingga membangkitkan mood untuk kedua negara melakukan dialog.
Oleh karena itu mekanisme ini memiliki peran dalam perbaikan hubungan
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 10 negara yang berkonflik dengan
memberikan kesempatan untuk melakukan interaksi dan dialog. Dengan menginisiasi dialog antara kedua negara merupakan tujuan sport diplomacy sebagai cara untuk menurunkan ketegangan dan memperbaiki hubungan. Olympic Truce yang dikeluarkan Majelis PBB untuk penyelenggaraan olimpiade ini sejalan dengan tujuan dari mekanisme building a platform for dialogue. Olympic Truce mendorong usaha diplomatik untuk menyelesaikan konflik dan menciptakan perdamaian melalui olahraga. Sehingga Olympic Truce ini mendukung tujuan Korea Selatan untuk memanfaatkan momentum olimpiade sebagai kesempatan untuk membangun dialog diantara negara yang berkonflik, dalam hal ini Korea Selatan dengan Korea Utara (The International Olympic Committee, 2019).
Sebelum membahas mengenai kegiatan pertukaran dialog antara Korea Selatan dan Korea Utara selama pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2018, terdapat beberapa kebijakan dan kegiatan pendukung yang mungkin merupakan bukti bahwa Korea Selatan berusaha membangun mood perdamaian selama olimpiade berlangsung. Pertama, Korea Selatan menunda kegiatan latihan militer rutin bersama Amerika Serikat
hingga ajang olimpiade dan paralimpiade berakhir. Korea Selatan juga melakukan pengecualian selama olimpiade berlangsung terhadap sanksi yang diberikan kepada Korea Utara seperti sanksi pelarangan kapal Korea Utara memasuki teritorial Korea Selatan dan blacklist pelarangan beberapa petinggi Korea Utara memasuki daerah Korea Selatan (Korea Times, 2019). Dengan demikian partisipasi Korea Utara dalam kegiatan olimpiade di Korea Selatan dapat berjalan lancar tanpa halangan, dan sport diplomacy Korea Selatan dapat dilakukan ke Korea Utara selama olimpiade berlangsung.
Diterimanya tawaran oleh Korea Utara untuk bergabung dalam Olimpiade Musim Dingin 2018 membuka kembali komunikasi antara kedua negara dan menjadi awal dari sport diplomacy Korea Selatan ke Korea Utara. Dari diterimanya tawaran untuk berpartisipasi dalam olimpiade hingga sebelum pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2018 Korea Selatan dan Korea Utara telah melakukan pertemuan sebanyak tiga kali.
Dioptimalkannya interaksi, pertukaran dan kerjasama antara kedua negara pada kesempatan olimpiade ini menjadi langkah awal untuk rekonsiliasi hubungan kedua negara. Sebagaimana kebijakan Korea Selatan dibawah kepemimpinan Presiden
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 11 Moon Jae-In bertujuan untuk
mengembalikan pembicaraan mengenai hubungan Korea Selatan – Korea Utara ke meja dialog untuk menyelesaikan permasalahan di Semenanjung Korea (Ministry of Foreign Affair of South Korea, 2019).
Selain mengirimkan atlit serta tim pemandu sorak, Korea Utara juga mengirimkan pekerja seni serta atlit taekwondo untuk agenda penampilan di Korea Selatan serta delegasi yang terdiri dari pejabat tinggi pada pemerintah Korea Utara untuk menghadiri olimpiade di Korea Selatan. Disela-sela kegiatan olahraga pada Olimpiade Musim Dingin 2018 Korea Selatan dan Korea Utara melakukan agenda dialog dan pertemuan yang bertujuan untuk mengembalikan dialog denuklirisasi serta perbaikan hubungan kedua negara (Yonhap News Agency, 2019).
Delegasi yang terdiri dari pejabat negara Korea Utara yang datang terbagi jadi dua yaitu delegasi pada saat pembukaan olimpiade dan penutupan olimpiade dimana delegasi tersebut berada di Korea Selatan untuk tiga hari. Selain menghadiri upacara pembukaan dan penutupan, juga dilakukan serangkaian acara pertemuan lainnya.
Kegiatan pertemuan antara delegasi Korea Utara dengan Korea Selatan pada saat olimpiade merupakan mekanisme building
a platform for dialogue. Kegiatan tersebut yaitu:
a. Dialog Presiden Korea Selatan dengan delegasi dari Korea Utara di istana kepresidenan
Pertemuan dilakukan sehari setelah Presiden Moon Jae In dan delegasi Korea Selatan bertemu pada acara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2018 pada 9 Februari 2018. Pada tanggal 10 Februari 2018 pertemuan dilaksanakan di istana kepresidenan atau Blue House. Pertemuan dilakukan selama tiga jam secara tertutup, namun telah diketahui sebelumnya bahwa Presiden Moon Jae In sebelum pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2018 menyampaikan keinginan melanjutkan dialog inter-Korea untuk memperbaiki hubungan kedua negara. Sehingga dengan adanya pertemuan ini Korea Selatan berkesempatan untuk menyampaikan hal tersebut kepada delegasi Korea Utara.
Pertemuan ini dilakukan antara Presiden Moon Jae In dengan delegasi Korea Utara yang terdiri dari pejabat penting yaitu Kim Yo-Jung yang juga merupakan adik dari pemimpin Korea Utara, Kim Yong Nam yaitu Ketua Presidium Majelis Rakyat Agung, ketua Komite Olahraga Nasional Choe Hwi dan Ri Son-gwon Kepala Badan Negara yang bertanggung jawab atas urusan inter-Korea
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 12 Pada dialog ini juga disampaikan keinginan
yang sama dari pihak Korea Utara, dimana Kim Yo-Jung menyampaikan surat dari Kim Jong Un kepada Presiden Moon Jae In yang merupakan undangan agar Moon Jae In dapat berkunjung ke Pyongyang untuk membahas dialog inter-Korea (Yonhap News Agency, 2019).
b. Pertemuan Perdana Menteri Korea Selatan dengan Delegasi Korea Utara
Selama tiga hari delegasi Korea Utara berada di Korea Selatan untuk menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2018, Korea Selatan dan Korea Utara melakukan beberapa pertemuan. Setelah sebelumnya delegasi Korea Utara yang terdiri dari pejabat negara bertemu dengan Presiden Moon Jae In membahas mengenai keinginan untuk melanjutkan dialog inter-Korea, pada 11 Februari 2018 Perdana Menteri Korea Selatan melakukan pertemuan dengan delegasi Korea Utara. bertempat di hotel Grand Walkerhill, Seoul. Pertemuan ini berlangsung secara tertutup. Pada pertemuan Perdana Menteri Lee Nak-yon menyampaikan lebih lanjut mengenai kondisi untuk dilakukannya dialog antara pemimpin kedua negara pada pertemuan ini. Pada pertemuan ini membahas lebih lanjut keinginan kedua negara untuk
melakukan dialog inter-Korea setelah kegiatan olimpiade berakhir (Ministry of Unification, 2019).
c. Dialog Tertutup antara Korea Selatan dengan Delegasi Korea Utara untuk Upacara Penutupan Olimpiade Musim Dingin 2018 Korea Utara kembali mengirimkan pejabat negara untuk menghadiri upacara penutupan Olimpiade Musim Dingin 2018.
Delegasi Korea Utara berada di Korea Selatan selama tiga hari. Delegasi Korea Utara datang untuk menghadiri upacara penutupan serta untuk melakukan dialog dengan Korea Selatan. Pada 25 Februari 2018 delegasi Korea Utara yang terdiri dari 8 orang diantaranya yaitu Kim Yong-chol yang merupakan Wakil Ketua Partai Buruh Korea Utara yang juga bertanggung jawab mengenai hubungan inter-Korea dan Choe Kang-il diplomat Korea Utara untuk urusan Amerika Serikat. Dikirimkannya dua utusan yang mengurusi isu mengenai hubungan inter-Korea serta hubungan dengan Amerika Serikat menunjukkan bahwa Korea Utara memiliki keinginan untuk lebih serius membicarakan mengenai perbaikan hubungan inter-Korea dan dialog denuklirisasi dengan US yang sebelumnya telah dibilang akan diinisiasi oleh Korea Selatan (Yonhap News Agency, 2019).
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 13 Pertemuan pada tanggal 25 Februari
2018 dilaksanakan sebelum upacara penutupan Olimpiade Musim Dingin 2018 dimulai. Pertemuan dilaksanakan selama 1 jam di kota penyelenggara Olimpiade Musim Dingin 2018, PyeongChang dengan dihadiri oleh Presiden Moon Jae In serta Kepala Keamanan Nasional dan Kepala Badan Intelijen Nasional Korea Selatan.
Pertemuan bersifat sangat tertutup dan tempat pertemuan dibatasi dari akses media. Setelah pertemuan dengan Moon Jae In, setelah upacara penutupan juga dilakukan pertemuan lanjutan antara delegasi Korea Utara dengan Menteri dan Wakil Menteri Unifikasi serta kepala agensi mata-mata Korea Selatan (Yonhap News Agency, 2019). Selama tiga hari delegasi Korea Utara untuk menghadiri upacara penutupan Olimpiade Musim Dingin 2018 dilakukan kembali beberapa pertemuan dengan Korea Selatan. Yaitu pertemuan dengan Kepala Kemanan Nasional pada 26 Februari 2018, serta pertemuan dengan Menteri Unifikasi pada 27 Februari 2018.
Pertemuan yang dilakukan pada saat delegasi Korea Utara berada di Korea Selatan untuk upacara penutupan ini memperlihatkan komitmen kedua negara untuk memperbaiki hubungan inter-Korea serta denuklirisasi yang berkontribusi bagi perdamaian di Semenanjung Korea.
Dalam Olimpiade Musim Dingin 2018, kerjasama olahraga antara Korea Selatan dan Korea Utara pada ajang olahraga internasional kembali dilakukan.
Melalui bergabungnya kedua negara dalam olimpiade membangkitkan semangat olimpiade yaitu peace and unity, serta perbaikan hubungan Korea Selatan – Korea Utara sehingga kedua negara setuju untuk melanjutkan kerjasama tersebut setelah ajang olahraga berakhir. Atmosfir hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara yang terbentuk melalui pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2018 mendorong kedua negara untuk melanjutkan suasana hubungan baik dan melanjutkan kembali dialog dan komunikasi yang terputus pada tahun 2016 (Yonhap News Agency, 2019).
Korea Utara selain mengirimkan atlit, pemandu sorak, pelaku seni dan taekwondo juga mengirimkan petinggi negara untuk menghadiri Olimpiade Musim Dingin 2018. Delegasi ini juga didampingi oleh diplomat, pejabat dari Kementrian Luar Negeri, serta pejabat yang berhubungan dengan program nuklir Korea Utara. Hal ini menunjukkan adanya agenda politik dalam pengiriman delegasi Korea Utara ke Korea Selatan dalam ajang Olimpiade Musim Dingin 2018 sebagai momentum diplomatik. Ini bisa berarti bahwa Korea Utara menerima sinyal Korea
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 14 Selatan untuk meneruskan dialog Korea
Selatan – Korea Utara serta Amerika Serikat – Korea Utara dan menyelesaikan permasalahan di Semenanjung Korea.
Olimpiade Musim Dingin 2018 berhasil membuat platform dialog Korea Selatan dan Korea Utara. Mengikuti kerjasama Korea Utara dan Korea Selatan dalam Olimpiade Musim Dingin 2018 dilakukan perbaikan hubungan antara kedua negara serta yang paling utama yaitu dilanjutkannya dialog inter-Korea setelah penyelenggaraan olimpiade. KTT inter- Korea dilakukan kembali pada tahun 2018 setelah 11 tahun dimana KTT inter-Korea terakhir kali dilaksanakan pada tahun 2007.
Dialog KTT inter-Korea dilakukan sebanyak tiga kali pada tahun 2018 yaitu pada bulan April, Mei dan September 2018.
Dialog antara Korea Selatan dengan Korea Utara tersebut berfokus kepada penyelesaian permasalahan nuklir Korea Utara dan perdamaian di Semenanjung Korea yang menjadi tujuan dari kebijakan Moon Jae-In di Semenanjung Korea (The Korea Herald, 2019).
3. Trust-Building
Olahraga dapat digunakan untuk membangun kepercayaan sebagai sebuah proses untuk membangun perdamaian dilihat pada hubungan antar masyarakat.
Mekanisme ini adalah untuk menjamin perdamaian dengan melihat opini masyarakatnya yang terbentuk setelah ajang olahraga berlangsung. Sport diplomacy membuka kesempatan untuk berdialog dan mempunyai kekuatan untuk menyatukan individu dengan memberikan mutual affection melalui olahraga.
Mekanisme trust-building bertujuan untuk membangun kepercayaan dan sikap saling menghormati satu sama lain. Trust-building merupakan pendekatan yang mencoba mencapai perdamaian melalui interaksi individu dari komunitas yang berbeda.
Dalam mekanisme ini penyelenggaraan event olahraga dapat mendekatkan individu-individu dari negara yang berbeda dimana interaksi yang dilakukan melalui olahraga membentuk kepercayaan dan rasa saling memahami.
Trust-building dipahami sebagai pembentukan kepercayaan antara kedua negara melalui kegiatan interaksi dan pertukaran yang dilakukan antara people to people. Namun demikian, trust-building dalam mekanisme sport diplomacy ini diatur dan difasilitasi oleh negara.
Pemerintah Korea Selatan dengan Korea Utara melakukan kesepakatan untuk melakukan acara pertukaran dan acara gabungan yang mendorong interaksi masyarakat Korea Selatan dan Korea Utara
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 15 selama penyelenggaraan Olimpiade Musim
Dingin 2018. Dengan diadakannya acara pertukaran kebudayaan, pembentukan tim gabungan dan interaksi dalam olimpiade membentuk trust-building hubungan Korea Selatan dan Korea Utara.
a. Pertukaran Kebudayaan Melalui Pertunjukan Samjiyon Orchestra Korea Selatan mengundang tim kesenian Samjiyon Orchestra dari Korea Utara yang beranggotakan 140 orang untuk tampil dalam rangkaian acara seni Gangneung dan Seoul. Samjiyon Orchestra melakukan dua pertunjukan pada 8 Februari 2018 di Gangneung Arts Center dan 11 Februari 2018 di National Theater of Korea dimana penampilan ini ditonton oleh Presiden Korea Selatan serta delegasi petinggi negara dari Korea Utara termasuk Kim Yo-jung (Min-Sik, 2019).
Penampilan ini membawakan agu-lagu terkenal Korea Selatan serta musik klasik.
Di pertunjukan Seoul, terdapat penampilan spesial Samjiyon Orchestra bersama penyanyi Korea Selatan Seohyun SNSD menampilkan lagu yang memiliki pesan unifikasi yang berjudul “Let’s Meet Again”
dan “Our Wish.”. Dengan dibawakannya lagu ini oleh penyanyi Korea Selatan dan Korea Utara memiliki makna yang mendalam bagi kedua negara membuat acara pertukaran kebudayaan ini menjadi
acara untuk membentuk rasa saling memahami bagi masyarakat kedua negara.
b. Penampilan Taekwondo Gabungan Korea Selatan –Korea Utara
Agenda pertukaran budaya juga dilakukan dengan melalui penampilan taekwondo gabungan. Taekwondo merupakan seni bela diri yang berasal dari Korea dan juga merupakan olahraga nasional Korea sehingga menjadi kebanggaan bagi masyarakat Korea.
Sebanyak 30 atlit taekwondo diundang dari Korea Utara untuk tampil bersama dalam pertunjukan di Korea Selatan. 30 orang atlit taekwondo membentuk tim gabungan dengan atlit taekwondo Korea Selatan untuk melakukan pertunjukan pada rangkaian acara Olimpiade Musim Dingin 2018.
Pada 9 Februari 2018 tim gabungan taekwondo tampil pada acara pre-show upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2018 di Stadium Olimpiade PyeongChang T.im gabungan taekwondo Korea melakukan 4 kali pertunjukan dimana pertunjukan selanjutnya dilaksanakan 10 Februari 2018 di Gangwon Career Education Institute di Sokcho, 12 Februari 2018 di Seou City Hall dan 14 Februari 2018 di Stasiun TV MBC Sangam Hall (The Korea Herald, 2019).
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 16 c. Pembentukan Tim Gabungan
Serta Berbaris Bersama dengan Penggunaan Bendera Unifikasi Korea
Dalam Olimpiade Musim Dingin 2018, kerjasama olahraga antara Korea Selatan dan Korea Utara dijalin kembali.
Untuk pertama kalinya setelah 12 tahun, Korea Selatan dan Korea Utara berbaris bersama pada upacara pembukaan menggunakan bendera Unifikasi Korea.
Pada cabang olahraga hoki wanita Korea Selatan dan Korea Utara sepakat untuk membentuk tim gabungan yang bertanding atas nama Korea. Presiden Moon Jae In menyampaikan dengan hadirnya Korea Selatan dan Korea Utara dalam satu ajang olahraga yang sama, bertanding sebagai satu tim yang sama dan saling memberikan dukungan membentuk mutual inderstanding diantara masyarakat kedua negara termasuk kepada atlit perwakilan kedua negara (Sojung, 2019).
Rasa saling memahami yang terbentuk melalui pelaksanaan ajang olahraga Olimpiade Musim Dingin 2018 mendorong kedua negara untuk melanjutkan kerjasama olahraga.
Kerjasama Korea Selatan dan Korea Utara dalam olahraga dilanjutkan pada ajang Asian Games 2018 di Palembang dan Jakarta. Pada Asian Games 2018 kedua
negara bergabung dalam upacara pembukaan serta membentuk tim gabungan pada tiga cabang olahraga yakni cabang olahraga dayung, perahu naga dan basket dimana pada cabang perahu naga memperoleh medali emas bagi tim gabungan Korea. Kemenangan tim gabungan Korea pada Asian Games 2018 merupakan kemenangan dalam 27 tahun setelah kemenangan pada World Table Tennis Championship 1991 (BBC, 2019).
Hasil dari trust-building dapat dilihat dari opini publik kedua negara yang terbentuk setelah Olimpiade Musim Dingin 2018 berakhir. Dalam survei yang dilakukan media Korea Selatan, Korea Gallup menanyakan dua hal yang terkait mengenai kerjasama Korea Selatan dan Korea Utara dalam Olimpiade Musim Dingin 2018. Sebelum pelaksanaan olimpiade 53% koresponden menjawab bahwa bergabungnya kedua negara pada upacara pembukaan olimpiade merupakan peristiwa penting bagi Semenanjung Korea, setelah olimpiade angka ini naik menjadi 68% koresponden yang menjawab dengan positif. Opini publik Korea Selatan mengenai tim gabungan hoki wanita sebelum olimpiade dilaksanakan sebanyak 50% menjawab negatif dan 40% menjawab positif terhadap pembentukan tim gabungan Korea. Setelah olimpiade opini publik
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 17 berubah menjadi 50% yang menjawab
positif dan 36% menjawab negatif. Untuk survei ini dilakukan kepada 1.000 koresponden. Dari hasil survei yang dilakukan terhadap publik Korea Selatan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kepercayaan terhadap penggabungan Korea Selatan dengan Korea Utara dalam olahraga melalui pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2018 (Yoon & Chung, 2018).
Sementara itu survei juga dilakukan oleh TBS, saluran radio di Korea Selatan.
Survei dilakukan mengenai penerimaan masyarakat Korea Selatan terhadap KTT inter-Korea. Survei ini dilakukan pada 15 Februari 2018, pada saat Olimpiade Musim Dingin 2018 sedang berlangsung. Survei dilakukan terhadap 500 koresponden dari berbagai daerah di Korea Selatan. Hasilnya yaitu sebanyak 61,5% mendukung KTT inter-Korea dimana Presiden Korea Selatan Moon Jae In akan bertemu pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Sebanyak 31.2%
koresponden menolak ide dialog antara Korea Selatan dan Korea Utara dan mengatakan Korea Selatan harus memprioritaskan sanksi dan tekanan terhadap Korea Utara akibat program pengembangan senjata nuklir Korea Utara.
sementara itu 7,3% koresponden memilih netral. Dari survei ini terlihat bahwa opini masyarakat Korea Selatan terhadap
perbaikan hubungan dan dialog inter-Korea mengalami peningkatan setelah kedua negara bergabung dalam Olimpiade Musim Dingin 2018 (Yoon & Chung, 2018).
Dari beberapa survei yang dilakukan pada tahun 2018 menunjukkan bahwa pada masyarakat Korea Selatan kepercayaan terhadap hubungan Korea Selatan dan Korea Utara mengalami peningkatan setelah adanya interaksi dan kerjasama Korea Selatan dan Korea Utara pada ajang Olimpiade Musim Dingin 2018.
Melalui penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin 2018 terbentuk trust- building pada masyarakat, meningkatkan rasa percaya dan rasa saling memahami diantara kedua negara melalui interaksi dari individu pada kegiatan pertukaran kebudayaan dan olahraga.
4. Rekonsiliasi, Integrasi dan Anti- Rasisme
Mekanisme ini digunakan ketika olahraga dimanfaatkan untuk menciptakan perdamaian dalam satu negara melalui rekonsiliasi, integrasi dan anti-rasisme.
Sehingga dalam menjelaskan sport diplomacy yang digunakan sebagai alat pencapaian kebijakan luar negeri kurang tepat jika dijelaskan dengan mekanisme tersebut. Contoh dari sport diplomacy yang menggunakan mekanisme ini adalah yaitu
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 18 penggunaan olahraga rugby oleh Afrika
Selatan setelah masa apartheid yaitu sistem pemisahan ras oleh bangsa kulit putih pada awal abad ke-20 di Afrika Selatan. Rugby merupakan olahraga yang sering diasosiasikan dengan olahraga yang dimainkan oleh orang kulit putih. Afrika Selatan mengikuti Rugby World Cup merupakan sebuah usaha untuk memerangi rasisme. Afrika Selatan menjadi tuan rumah Rugby World Cup pada tahun 1995 memiliki tujuan untuk mempererat persatuan diantara sesama orang Afrika Selatan dan untuk mempromosikan anti- rasisme. Mekanisme ini digunakan ketika sport diplomacy dipakai untuk menangani isu di satu negara. Dengan memerangi rasisme, mempromosikan integrasi (persatuan) pada sesama warga negara untuk merekonsiliasi kelompok atau ras yang berkonflik melalui pelaksanaan ajang olahraga.
Namun mekanisme ini kurang cocok dipakai dalam menganalisis sport diplomacy Korea Selatan ke Korea Utara dalam Olimpiade Musim Dingin 2018.
Korea Selatan dan Korea Utara merupakan dua negara kesatuan, meskipun kedua negara berasal dari perpecahan satu bangsa namun sudah menjadi dua negara yang memiliki perbedaan konstitusi, pemerintahan dan ideologi. Tidak seperti
isu di Afrika Selatan yang merupakan konflik internal yang terdapat dalam satu negara antara beberapa kelompok tertentu, permasalahan Korea Selatan dan Korea Utara merupakan permasalahan antar negara. Meskipun keinginan unifikasi masih disebut-sebut hingga sekarang, namun hal itu akan sulit tercapai dengan perbedaan antara Korea Selatan dan Korea Utara sekarang. Sehingga yang diinginkan oleh Korea Selatan sekarang adalah negative peace yaitu keadaan tidak adanya violence. Korea Selatan menginginkan denuklirisasi Korea Utara untuk menciptakan perdamaian Korea. Bukan lagi menginginkan agar kedua negara mencapai positive peace yaitu dengan melakukan unifikasi menjadi satu negara kembali, dengan membentuk integrasi secara struktural.
Sport diplomacy Korea Selatan ke Korea Utara dilakukan dengan tiga mekanisme yaitu image-building, building a platform for dialogue dan trust-building.
Dengan menjamin partisipasi Korea Utara dalam Olimpiade Musim Dingin 2018, Korea Selatan memperoleh citra sebagai inisiator perbaikan hubungan inter Korea dengan keberhasilan menyelenggarakan olimpiade yang damai dengan menjamin partisipasi Korea Utara. Korea Selatan membangun dialog dengan Korea Utara
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 19 pada saat Olimpiade Musim Dingin 2018.
Korea Selatan memiliki tujuan untuk mengembalikan cara diplomasi dalam penyelesaian permasalahan kedua negara.
Penyelenggaraan olimpiade ini juga meningkatkan mutual understanding dan kepercayaan masyarakat bagi terciptanya perdamaian di Semenanjung Korea.
Berbagai usaha perbaikan hubungan dilakukan semenjak awal tahun 2018 mengikuti ajang olimpiade yang menjadi awal dari perbaikan hubungan Korea Selatan dan Korea Utara. Melalui pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2018 membuka kembali jalan penyelesaian permasalahan kedua negara kepada jalur diplomasi.
KESIMPULAN
Korea Selatan memanfaatkan ajang Olimpiade Musim Dingin 2018 sebagai kesempatan memperbaiki hubungan dan mengembalikan dialog inter-Korea sehingga permasalahan di Semenanjung Korea bisa diselesaikan kembali melalui cara diplomasi. Momentum olimpiade dimanfaatkan sebagai turning point bagi hubungan Korea Selatan dan Korea Utara yang masih memanas hingga sebelum olimpiade diadakan. Sport diplomacy dapat digunakan dengan tujuan untuk menurunkan ketegangan dan mendorong
rekonsiliasi maupun perdamaian melalui proses persuasif. Pembangunan citra Korea Selatan menjadi inisiator perbaikan hubungan inter-Korea melalui keberhasilan menjamin partisipasi Korea Utara didalam Olimpiade Musim Dingin 2018. Kedua negara melakukan dialog pada saat olimpiade berlangsung yaitu dialog presiden Korea Selatan dengan delegasi Korea Utara di istana kepresidenan, pertemuan Perdana Menteri Korea Selatan dengan delegasi Korea Utara dan dialog tertutup antara Korea Selatan dengan delegasi Korea Utara untuk upacara penutupan Olimpiade Musim Dingin 2018.
Terakhir Korea Selatan dan Korea Utara melakukan pertukaran kebudayaan melalui pertunjukan Samjiyon Orchestra, penampilan taekwondo gabungan dan pembentukan tim gabungan serta berbaris bersama dengan penggunaan bendera Unifikasi Korea dimana membentuk rasa saling memahami antara kedua masyarakat Korea dan kepercayaan masyarakat Korea Selatan terhadap hubungan Korea Selatan – Korea Utara.
DAFTAR PUSTAKA
BBC. (2019, Juni 24). Asian Games 2018:
Korea Bersatu raih emas pertama mereka dalam sejarah. Diambil kembali dari bbc.com:
https://www.bbc.com/indonesia/ola hraga-45318902
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 20 Chapell, B. (2019, Februari 7). South
Korea Tests Missile As President Speak Of Need To ‘Dominates’
North. Diambil kembali dari scribd.com:
https://www.scribd.com/article/352 093257/South-Korea-Tests-
Missile-As-President-Speaks-Of- Need-To-Dominate-North IOC. (2021, Maret 31). IOC elects
PyeongChang as the host city of 2018 Olympic Winter Games.
Diambil kembali dari olympics.com:
https://olympics.com/en/news/ioc- elects-pyeongchang-as-the-host- city-of-2018-olympic-winter-games Kim, L. (2018). South Korea’s Nuclear
Hedging. The Washington Quarterly 41:1, 116.
Korea JoongAng Daily. (2019, Juni 24).
Chinese, Russian leaders vow support for dialogue with N.
Korea: official. Diambil kembali dari en.yna.co.kr:
https://en.yna.co.kr/view/AEN2018 0227000900315?section=search Korea Times. (2019, Juni 24). Korea says
exemptions to N.K. sanctions temporary during Olympics.
Diambil kembali dari en.yna.co.kr:
https://en.yna.co.kr/view/AEN2018 0226000700320?section=search Merkel, U. (2019). Sport, Politics and
Reunification – A Comparative Analysis of Korea and Germany.
The International Journal of the History of Sport 26(3), 417.
Ministry of Foreign Affairs Republic of Korea. (2018). Diplomatic White Paper.
Ministry of Foreign Affair of South Korea.
(2019, Mei 8). 2018 PyeongChang Winter Olympics. Diambil kembali dari korea.net:
http://www.korea.net/AboutKorea/
Sports/2018-Pyeongchang-Winter- Olympics
Ministry of Unification. (2019, Juni 30).
Important Events from 2009 to Present. Diambil kembali dari unikorea.go.kr:
https://www.unikorea.go.kr/eng_un ikorea/relations/importantEvents/;js essionid=G+3310NQVqcUt7mIOe wAEmVE.unikorea11
Min-Sik, Y. (2019, Mei 23).
[PyeongChang 2018] North Korean Troupe Packs Something Extra for Seoul Performance.
Diambil kembali dari koreaherald.com:
http://nwww.koreaherald.com/view .php?ud=20180211000347&ACE_
SEARCH=1
Moon, A. (2018, Agustus 14). North Korea Decision on Olympics
Participation Seen as Last Minute:
South Korea Official. Diambil kembali dari reuters.com:
https://www.reuters.com/article/us- olympics-2018-northkorea/north- korea-decision-on-olympics- participation-seen-as-last-minute- south-korea-official-
idUSKBN1DE2TS
Murray, S. (2016). “Sport Diplomacy,”
The Sage Handbook of Diplomacy.
SAGE Publications.
Nygard, H. M., & Gates, S. (2013). Soft power at home and abroad: Sport diplomacy, politics and peace-
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 21 building. International Area
Studies Review 16 (3), 238-240.
Olympic Truce. (2018). Teks resolusi Olympic Truce Olimpiade PyeongChang.
Permata, I. M. (2018). Analisis
Konstruktivisme: Perilaku Korea Utara terhadap Denuklirisasi.
Andalas Journal of International Studies, Vol VII, No 2, 114.
President Moon Jae-in. (2019, Juni 14).
Remarks by President Moon Jae-in of the Republic of Korea at
PyeongChang 2018 at the Met:
Celebrating the Olympic Winter Games for Peace. Diambil kembali dari president.go.kr:
https://english1.president.go.kr/Bri efingSpeeches/Speeches/16 Rich, M. (2018, Agustus 14). Olympics
Open With Koreas Marching Together, Offering Hope for Peace.
Diambil kembali dari The New York Times:
https://www.nytimes.com/2018/02/
09/world/asia/olympics-opening- ceremony-north-korea.html Sang-Hun, C. (2019, Februari 28). North
Korea Reopens Border Hotline With South. Diambil kembali dari The New York Times:
https://www.nytimes.com/2018/01/
03/world/asia/north-korea-hotline- south.html
Sankaran, J., & Fearey, B. L. (2017).
Missile Defense and Strategic Stability: Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) in South Korea. Concemporary Security Policy, 8.
Sojung, Y. (2019, Juni 14). President Moon Gets Invitation From North Leader. Diambil kembali dari president.go.kr:
https://english1.president.go.kr/Pre sident/News/258
The Australian. (2018, Oktober 8). South Korea Invites Norh to Winter Olympics. Diambil kembali dari theaustralian.com:
https://www.theaustralian.com.au/s port/olympics/south-korea-invites- north-to-winter-olympics/news- story
The International Olympic Committee.
(2019, Maret 19). Olympic Truce.
Diambil kembali dari olympic.org:
https://www.olympic.org/olympic- truce#initiatives-for-peace
The Korea Herald. (2019, Mei 20). S.
Korea to Focus on Holding Further inter-Korean Talks fter Olympics.
Diambil kembali dari horeaherald.com:
http://nwww.koreaherald.com/view .php?ud=20180225000070
The Korea Herald. (2019, Mei 25). Two Koreas Showcase Joint Taekwondo Performance Ahead of Opening Ceremony. Diambil kembali dari koreaherald.com:
http://nwww.koreaherald.com/view .php?ud=20180209000930
Wire, C. (2017, September 4). Seoul steps up military response to North Korea’s nuclear test. Diambil kembali dari cw39.com:
https://cw39.com/news/nationworld /seoul-steps-up-military-response- to-north-koreas-nuclear-test/
Sriwijaya Journal of International Relations Vol 2 No 1, Juni 2022 22 Yonhap News Agency. (2019, Juni 30).
Moon holds rare meeting with N.
Korea’s head of state, leader’s sister. Diambil kembali dari en.yna.co.kr:
https://en.yna.co.kr/view/AEN2018 0210001453315?section=search Yonhap News Agency. (2019, Juni 30).
Moon meets N. Korean delegate in PyeongChang. Diambil kembali dari en.yna.co.kr:
https://en.yna.co.kr/view/AEN2018 0225004600315?section=search Yonhap News Agency. (2019, Juni 30).
Parliamentary speaker voices hopes for resolution of political conflict through sports. Diambil kembali dari en.yna.co.kr:
https://en.yna.co.kr/view/AEN2018 0213012200315?section=search Yoon, S.-W., & Chung, S. W. (2018).
Semantic Network Analysis of Legacy News Media Perception in South Korea: The Case of
PyeongChang 2018. Sustainability 4027, 19.