STANDARISASI MATERIAL
Pertemuan 4
DEFINISI STANDASRISASI MATERIAL
Standarisasi material adalah aturan yang dikeluarkan oleh asosiasi,
institusi suatu negara asosiasi, institusi suatu negara produsen material yang meliputi pengaturan cara penulisan, pengelompokan, pengkelasan , penserian suatu material.
Ada beragam jenis baja yang tersedia di pasaran. Ini mendorong perlu adanya standarisasi yang disusun oleh lembaga kredibel yang mencakup pengelompokan, seri, kelas, cara penulisan, dan sebagainya.
Setiap negara memiliki standardisasi masing-masing. Namun, secara internasional berlaku standar International Standard Organization (ISO).
Berikut ini 5 standar yang berlaku di andar yang berlaku di dunia:
STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI)
Ini adalah satu – satunya standar yang berlaku secara nasional di negara kita. SNI dirumuskan oleh Panitia Teknis dan ditetapkan oleh Panitia Teknis dan ditetapkan oleh Badan Stand leh Badan Standardisasi Nasional. SNI juga menerbit ardisasi Nasional. SNI juga menerbitkan standarisasi untuk baja yang menjadi acuan nasional.
Ada beberapa contoh standarisasi SNI pada baja karbon yang umumnya terdapat di pasaran, diantaranya :
SNI 07-0040-2006 (Kawat baja karbon rendah).
SNI 07-0053-2006 (Batang kawat baja karbon rendah).
SNI 07-2052-2002 (Baja karbon untuk tulang beton).
SNI 07-0601-2006 (baja karbon dalam bentuk plat)
JAPAN INSDUSTRIAL STANDARD (JIS)
JIS merupakan organisasi standar yang dibentuk oleh Pemerintah Jepang yang banyak bergerak di bidang perindustrian. Standardisasi yang disusun JIS diawasi oleh Japan I ng disusun JIS diawasi oleh Japan Industrial
ndustrial Standard Comitte (JISC) dan hasilnya dipublikasikan oleh Japan S oleh Japan Standard Asosiation (JSA).
Sama halnya dengan standarisasi AISI-SAE, standarisasi JIS juga mempunyai beberapa ketentuan, diantaranya :
1. Diawali dengan SS atau G dan diikuti dengan bilangan yang menunjukkan kekuatan tarik minimum minimum dalam kg/mm
2. Diawali dengan S dan diikuti dengan bilangan yang menunjukkan komposisi kimianya.
3. Untuk golongan Stainless Steel biasanya menggunakan grade dari ASTM dengan menggunakan kode huruf SUS diikuti dengan kode angka sesuai dengan AISI atau SAE.
CONTOH BAJA JIS
JIS G 5101 (Baja karbon cor).
JIS G 3201 (Baja karbon tempa).
JIS G 3102 (Baja karbon untuk konstruksi mesin).
JIS G 3101 (Baja karbon JIS G 3101 (Baja karbon untuk konstruksi biasa).
DEUTSCHES INSTITUT FUR NORMUNG (DIN)
Ini adalah organisasi standardisasi nasional Jerman. DIN terdaftar pada
Registered German Asosiation (RGA) yang berpusat di Berlin. Sudah ada ribuan standar yang disusun DIN, salah ribuan standar yang disusun DIN, salah
satunya DIN 476. DIN 476 sangat dikenal dan menjadi standar pertama yang dikeluarkan DIN.
• DIN 476 : ukuran kertas internasional (sekarang ISO 216 atau DIN EN ISO 216 )
• DIN 946 : Penentuan koefisien gesekan rakitan baut / mur dalam kondisi tertentu .
• DIN 1451 : jenis huruf yang digunakan oleh kereta api Jerman dan pada rambu lalu lintas
• DIN 4512 : Definisi kecepatan film , sekarang digantikan oleh ISO 5800 : 1987 , ISO 6 : 1993 dan ISO 2240 : . 2003
• DIN 31635 : transliterasi dari bahasa Arab
• DIN 72552 : nomor terminal listrik di mobil
AMERICAN IRON AND STEEL INSTITUTE (AISI)
AISI adalah lembaga khusus Amerika yang memb AISI adalah lembaga khusus Amerika yang membuat sta uat standar untuk komposisi baja. AISI juga ndar untuk komposisi baja. AISI juga mengatur bahwa 2 digit pertama adalah kode jenis baja (high carbon, high alloy, stainless steel, dan sebagainya) , serta 2 digit terakhir menyatakan kadar karbon dalam baja tersebut.
Standarisasi dengan sistem AISI merupakan tipe standarisasi dengan
berdasarkan pada darisasi dengan berdasarkan pada susunan susunan atau komposisi kimia yang ada dalam suatu baja. Ada beberapa ketentuan dalam Standarisasi baja berdasarkan AISI yaitu dinyatakan dengan 4 atau 5 angka:
a) Angka pertama menunjukkan jenis baja.
b) Angka kedua menunjukkan:
1) Kadar unsur paduan untuk baja paduan sederhana.
2) Modifikasi jenis baja paduan untuk baja paduan yang kompleks.
c) Dua angka atau tiga angka terakhir menunjukkan kadar karbon perseratus persen.
d) Bila terdapat huruf di depan angka maka huruf tersebut menunjukkan proses pembuatan bajanya.
Contoh standarisasi Baja karbon dengan AISI-SAE : SAE 1045,
berarti berarti :
Angka 1 : Baja Karbon
Angka 0 : Persentase Persentase bahan alloy bahan alloy (tidak ada)
Angka 45 : Kadar karbon (0.45% Karbon)
AMERICAN STANDARD TESTING AND MATERIAL
(ASTM)
Pada 1898, beberapa insinyur dan ilmuwan Amerika secara sukarela membentuk suatu komunitas untuk mengatasi persoalan material besi pada rel kereta api. Mereka kemudian menamai komunitas ini American Society for Testing and Material (ASTM). S and Material (ASTM). Sekarang ekarang , ASTM telah menjadi organisasi internasional yang telah men lah menyusun lebih dari 12 ribu standar.
Standard ASTM ada sekitar 12.000 standard yang dibuat dengan
pengkodean khusus.Penandaan biasanya terdiri dari awalan huruf dan nomor yang ditetapkan secara berurutan. Secara opsional diikuti dengan tanda pisah dan dua digit terakhir dari tahun di mana standar diadopsi.
Standard diawali dengan huruf yang menandakan pembagian jenis dengan subjek berikut: A = Besi dan dengan subjek berikut: A = Besi dan Baja B = Bahan Baja B = Bahan Logam Nonferrous C = Keramik, Beton, Logam
Nonferrous C = Keramik, Beton, dan Bahan Batu D = Bahan Lain-lain E = Miscellaneous Subjects F = Bahan untuk Aplikasi Tertentu G = Korosi,
Deteriorasi, dan Degradasi Bahan
STANDAR ISO
ISO adalah aturan yang menerapkan standar kualitas, keamanan, dan efisiensi produk. ISO adalah kependekan dari The International
Organization for Standard. Aturan yang ditetapkan ISO telah diimplementasikan ke lebih dari 160 negara.
STANDAR ISO 9001
Salah satu bisnis yang menggunakan ISO 9001 adalah industri manufaktur.
Industri tersebut menggunakannya karena untuk menjamin kualitas produk dan meminimalisir biaya. Setidaknya ada empat standar yang menjadi
dasar ISO 9001 yaitu:
Manufaktur ramah lingkungan
Standar keamanan
Spesifikasi fungsional dan dimensi
Efisiensi produk
Keunggulan dari penggunaan ISO adalah pemutakhiran secara berkala
sehingga mampu meminimalisir kesalahan. Jika pebisnis menggunakan ISO dalam produknya, konsumen pasti akan merasa puas.
STANDAR ISO/IEC 17025
Penggunaan ISO biasanya dilakukan oleh perusahaan yang membutuhkan laboratorium sebagai uji standar. Dari ISO tersebut akan terlihat
bagaimana laboratorium akan menunjukkan kinerja secara maksimal. ISO ini juga terbuka untuk kerja sama dengan berbagai laboratorium di seluruh mancanegara.
STANDAR ISO 28000
Jika pebisnis ingin aman dalam manajemen rantai pasokan, pemanfaatan ISO 28000 adalah pilihan yang tepat. Dengan standar ini, pebisnis dapat memahami apa saja ancaman yang akan timbul dan bagaimana cara mengatasinya. Ini tentu akan bermanfaat bagi bisnis ke depannya.
STANDAR ISO 50001
Berbisnis dalam bidang energi bukanlah sesuatu yang mudah. Ada
persyaratan tertentu dan juga ketat sehingga bisnis tersebut bisa menjadi aman, lancar, dan terkendali. Untuk menjamin bisnis energi menjadi aman, pemanfaatan ISO 50001 dapat menjadi solusi terkini.
Dalam ISO 50001 perusahaan akan diminta untuk penggunaan energi yang efisien, tujuan sesuai target sasaran dan tidak lupa untuk peningkatan
berkelanjutan.