http://jtsl.ub.ac.id 215
STATUS HARA N, P DAN K PADA TANAH SAWAH IRIGASI DI KAPANEWON PRAMBANAN, KABUPATEN SLEMAN,
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Nutrient Status of N, P and K on Irrigated Rice Fields in Prambanan Kapanewon, Sleman District, Special Region of Yogyakarta
Widya Wibawati, Djoko Mulyanto*, Ali Munawar
Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Jl. Padjadjaran, Condongcatur, Sleman, Yogyakarta 55283
*Penulis korespondensi: [email protected]
Abstrak
Perbedaan tingkat produktivitas padi sawah disebabkan oleh ketersediaan hara dan pengelolaan lahan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat kimia tanah khususnya unsur N, P, dan K pada tanah yang memiliki tingkat produktivitas padi yang berbeda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dan analisis Laboratorium. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive berdasarkan tingkat produktivitas lahan sawah dengan status sedang dan tinggi. Berdasarkan tingkat produktivitas lahan sawah terdapat 18 titik sampel yang dikompositkan menjadi 7 sampel dan dianalisis di Laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa sifat kimia pada daerah tingkat produktivitas tinggi memiliki rata- rata ketersediaan status hara N total sebesar 0,17% (rendah), P potensial 56,5 mg 100 g-1 (tinggi), K potensial 17 mg 100 g-1 (rendah), C organik sebesar 2,75% (sedang), Kapasitas Pertukaran Kation (KPK) 11,52 cmol(+)kg-1 (rendah). Daerah pada tingkat produktivitas sedang memiliki rata-rata hara N-total sebesar 0,23%
(sedang), P potensial 38,33 mg 100 g-1 (sedang), K potensial 72 mg 100 g-1 (sangat tinggi), C organik sebesar 3,23% (tinggi), KPK 33,06 cmol(+)kg-1 (tinggi) dan memiliki pH tanah masing-masing 6,1 (agak masam).
Tingkat produktivitas tinggi memiliki status kesuburan tanah rendah sampai sedang dan pada tingkat produktivitas sedang memiliki status kesuburan sedang sampai tinggi. Diduga faktor pengelolaan lahan sawah menjadi penyebab perbedaan tingkat produktivitas padi.
Kata kunci : produktivitas, sawah irigasi, status hara N, P dan K
Abstract
The difference in the productivity level of paddy is caused by nutrient availability and land management.
This study aims to determine the chemical properties of soil, especially elements of N, P, and K, in soils that have different levels of rice productivity. The methods used in this study are survey methods and laboratory analysis. Purposive sampling was conducted based on the productivity of medium and high-status rice fields. Based on the level of productivity of rice fields, there are 18 sample points, which are composite into 7 samples and analyzed in the laboratory. The results showed that several chemical properties in areas with high productivity levels had an average availability of total N nutrient status of 0.17% (low), potential P 56.5 mg 100 g-1 (high), potential K 17 mg 100 g-1 (low), organic C by 2.75% (medium), cation exchange capacity (CEC) 11.52 cmol(+)kg-1 (low) while in areas with medium productivity had an average total N nutrient of 0.23% (medium), potential P 38.33 mg 100 g-1 (medium), potential K 72 mg 100 g-1 (very high), organic C 3.23% (high), CEC 33.06 cmol(+)kg-1 (high) and has a soil pH of 6.1 (slightly acid) respectively.
High-productivity areas have low to medium soil fertility, while medium-productivity areas have medium to high soil fertility. Rice field management factors are suspected to cause differences in rice productivity levels.
Keywords: irrigated rice fields, nutrient status N, P and K, productivity
http://jtsl.ub.ac.id 216 Pendahuluan
Kapanewon Prambanan merupakan salah satu daerah Kabupaten Sleman yang menyumbang produksi padi dengan kondisi alam yang menunjang sebagai lahan pertanian meskipun hanya dengan luas lahan 4.093 ha dengan lahan pertanian yang digunakan sebagai lahan padi sawah sekitar 1.483 ha (36,23% dari luas lahan). Tingginya permintaan pasar akan kebutuhan pangan (beras) menuntut petani untuk meningkatkan hasil produksi lahan, sehingga Kabupaten Sleman meningkatkan angka produksi padi pada tahun 2020 sebesar 532,39 ribu ton GKG menjadi 556,53 ribu ton GKG pada tahun 2021 yang berarti mengalami kenaikan sebanyak 33.135 ton GKG (6,33%) (BPS, 2022).
Produktivitas padi di Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman selama tiga tahun terakhir (2019-2021) memiliki tingkat produktivitas yang berbeda mulai dari produktivitas sedang hingga produktivitas tinggi. Produktivitas padi tinggi terdapat pada Desa Sumberharjo, Madurejo dan Bokoharjo sebesar >6 t ha-1, sedangkan produktivitas sedang terdapat pada Desa Wukirharjo, Gayamharjo dan Sambiharjo dengan jumlah lebih dari 3,96-4 t ha-1.
Produktivitas merupakan kemampuan lahan dalam memproduksi hasil tanaman. Menurut Kusuma et al. (2023) lahan yang tidak produktif dan pengolahan yang kurang optimum akan menghasilkan hasil pertanian yang tidak sesuai dengan harapan. Produksi padi sawah yang diusahakan secara intensif mengalami pelandaian produksi, di mana peningkatan penambahan input tidak diikuti dengan peningkatan produksi (Jabri, 2013). Produktivitas padi di tingkat petani masih menunjukkan terjadi kesenjangan hasil yang cukup tinggi dibandingkan potensi yang dapat dicapai (Septiani, 2018). Perbedaan produktivitas diakibatkan karena adanya perbedaan dalam pengelolaan lahan sawah sehingga ketersediaan unsur hara di lahan sawah juga akan berbeda.
Banyak faktor yang mempengaruhi produktivitas padi, salah satunya dalam sistem pengelolaan lahan sawah (Damayanti, 2013). Peningkatan hasil produksi dan produktivitas tidak terlepas dari cara petani mengelola lahannya sehingga perbedaan dalam pengelolaan lahan dapat mempengaruhi tingkat produktivitas yang berbeda. Pengelolaan tanah sawah petani seperti pengaturan air, pemberian pupuk (organik atau anorganik), pemeliharaan dan penentuan pola tanam mempengaruhi tingkat produktivitas yang berbeda pula (Sirappa dan Wahid, 2012).
Produktivitas yang beragam diakibatkan karena petani hanya berfokus untuk hasil produksi padi tanpa mementingkan kesehatan lahan yang meliputi sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui status ketersediaan hara tanah sawah irigasi dan pengaruh pengelolaan lahan terhadap tingkat produktivitas padi yang berbeda, sehingga dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi para petani setempat serta dapat digunakan sebagai acuan dalam menyusun usulan pengelolaan lahan.
Bahan dan Metode
Penelitian dilaksanakan di Kapanewon Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelaksanaan analisis tanah dilakukan di laboratorium Biologi dan Lingkungan Tanah Program Studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Sleman, Yogyakarta.
Penelitian ini menggunakan metode survei dan analisis laboratorium. Bahan yang digunakan dalam pengambilan sampel tanah adalah sekop, kantong plastik dan kertas label. Pemilihan lokasi (Gambar 1) dilakukan secara purposive sampling dengan kriteria berdasarkan data Produktivitas Padi Sawah Kapanewon Prambanan 2019-2021 (Gambar 2) yaitu: (1) Kriteria produktivitas lahan sawah tinggi (Nilai rata-rata produktivitas tinggi).
(2) Kriteria produktivitas lahan sawah sedang (nilai rata-rata produktivitas sedang). Responden dalam penelitian berjumlah 18 responden sebagai pendukung data primer. Pengambilan titik sampel di masing-masing desa sebanyak 3 titik sub-sampel, sehingga didapatkan 18 sub-sampel tanah yang selanjutnya dikompositkan menjadi 7 sampel tanah.
Parameter utama yang diamati adalah: N-total, P, K (potensial) dan N, P, K (tersedia), C organik, pH dan KPK. Parameter pendukung: Jenis pupuk, varietas, pengairan, pengendalian hama dan penyakit tanaman dan pola tanam. Analisis data membandingkan dan mendeskripsikan sifat kimia tanah yang mengacu pada kriteria penilaian kimia tanah dan kesuburan menurut Pusat Penelitian Tanah, Bogor (1995).
Hasil dan Pembahasan
Secara geografis Kapanewon Prambanan merupakan daerah perbukitan dan merupakan area persawahan yang memiliki ketinggian mulai dari 100 sampai 499 m dari permukaan laut dan
http://jtsl.ub.ac.id 217 memiliki lahan padi sawah sekitar 1.483 ha.
Berdasarkan peta jenis tanah Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY (2021), jenis tanah pada lokasi penelitian termasuk jenis tanah Regosol dan Latosol. Jenis Tanah Latosol merupakan jenis tanah
yang dominan di Kapanewon Prambanan.
Berdasarkan produktivitas padi Kapanaewon Prambanan tahun 2019-2021, diperoleh 2 tingkat produktivitas, yaitu: produktivitas tinggi (>6 t ha-1) dan produktivitas sedang (<5 t ha-1).
Gambar 1. Peta lokasi titik sampel.
Gambar 2. Peta tingkat produktivitas.
http://jtsl.ub.ac.id 218 Daerah produktivitas tinggi memiliki katakteristik,
berupa: dataran rendah seluas 1.623,24 ha, memiliki ketersediaan air yang cukup, memiliki 2 jenis tanah yaitu regosol dan latosol, penanaman padi dilakukan serentak dan menggunakan pola tanam padi-padi-palawija serta masih banyak penggunaan pupuk kimia dan pestisida anorganik. Tingkat produktivitas sedang memiliki karakteristik, berupa:
dataran tinggi (tanah berombak hingga perbukitan) seluas 2.395,88 ha, memiliki ketersediaan air terbatas, pola tanam yang dilakukan padi-padi-bero
dan masih banyak penggunaan pupuk dari kotoran hewan.
Nitrogen tanah
Nitrogen dalam tanah dibutuhkan dalam jumlah yang tinggi dan sangat penting diperhatikan dibandingkan dengan unsur hara lainnya. Hasil analisis nitrogen total (N total) dan nitrogen tersedia (N tersedia) di lahan sawah dengan tingkat produktivitas tinggi dan tingkat produktivitas sedang (Tabel 1).
Tabel 1. Kandungan nitrogen tanah pada tingkat produktivitas padi yang berbeda.
Tingkat Produktivitas Lokasi Sampel N total (%) * N tersedia (ppm) Produktivitas Tinggi
Sumberharjo 0,19 (R) 93
Bokoharjo 0,16 (R) 37
Bokoharjo 1 0,1 (R) 74
Madurejo 0,23 (S) 44
Rerata 0,17 (R) 62
Produktivitas Sedang Wukirharjo 0,22 (S) 43
Sambirejo 0,31 (S) 140
Gayamharjo 0,17 (R) 92
Rerata 0,23 (S) 91,67
*) Keterangan : R = Rendah, S = Sedang.
Hasil analisis N-total lahan sawah dengan tingkat produktivitas tinggi memiliki rata-rata 0,17%
berharkat rendah, sedangkan lahan sawah dengan tingkat produktivitas sedang 0,23% berharkat sedang. Keadaan ini karena rendahnya hasil bahan organik yang terdapat pada sampel tanah. Menurut Suryani (2013) Nitrogen dalam tanah berasal dari bahan organik tanah, bahan organik halus, N tinggi, C/N rendah, bahan organik kasar, N rendah C/N tinggi. N-tersedia lahan sawah dengan tingkat produktivitas tinggi sebesar 62 ppm, sedangkan lahan sawah dengan tingkat produktivitas sedang sebesar 91,67 ppm. Menurut pernyataan Agustine (2020), serapan NH4+ berlangsung paling baik pada media netral dan akan berkurang seiring dengan menurunnya pH. Penyerapan N sebagai NH4+
terjadi konservasi energi, selanjutnya digunakan dalam proses metabolisme termasuk penyerapan ion dan pertumbuhan tanaman. Tingginya konsentrasi NH4+ mengindikasikan bahwa imobilisasi NH4+ belum berlangsung dengan cepat (Purwanto et al., 2007).
Fosfor tanah
Fosfor merupakan unsur makro esensial, jumlah hara yang dibutuhkan tanaman lebih kecil dibanding Nitrogen dan Kalium tetapi fosfor dianggap sumber kehidupan bagi tumbuhan. Hasil
analisis fosfor lahan sawah dengan tingkat produktivitas tinggi dan produktivitas sedang (Tabel 2). Hasil analisis P potensial daerah tingkat produktivitas tinggi sebesar 56,5 mg 100 g-1 kriteria tinggi dan P tersedia tanah sebesar 80,75 ppm dengan kriteria sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh pemberian pupuk P yang dilakukan petani dari hasil wawancara yakni memberikan pupuk P (SP-36) dalam 1 kali musim tanam sebesar 110-150 kg ha-1, total pemberian pupuk P terlampau tinggi diatas rekomendasi umum pemupukan yang mana dalam 1 kali musim tanam cukup diberikan pupuk P (SP-36) sebanyak 100 kg ha-1. Menurut Palembang et al. (2013) penambahan pupuk P yang digunakan petani dalam jumlah yang tinggi kedalam tanah sawah akan meningkatkan nilai P-tersedia dalam tanah. Daerah dengan tingkat produktivitas sedang kandungan rata-rata P potensial tanah sebesar 38,33 mg 100 g-1 dengan kriteria sedang dan kandungan P tersedia sebesar 152,33 ppm dengan kriteria sangat tinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh petani yang melakukan pembakaran jerami setelah pemanenan. Menurut Husnain (2010), persentase kehilangan unsur hara P saat pembakaran jerami sebesar 34-59%. Kandungan P tersedia di tanah sawah sangat tinggi disebabkan oleh adanya penggenangan yang dilakukan petani pada lahan sawah yang cukup lama. Menurut Prasetyo et al.
http://jtsl.ub.ac.id 219 (2006) saat penggenangan akan menambah jumlah
hara P tersedia karena adanya proses reduksi Fe3+ menjadi Fe2+ saat penggenangan berlangsung, sehingga ikatan Fe-P menjadi terlepas.
Tabel 2. Kandungan fosfor tanah pada tingkat produktivitas padi yang berbeda.
Tingkat Produktivitas Lokasi Sampel P2O5 potensial (mg 100 g-1) * P2O5 (ppm) * Produktivitas Tinggi
Sumberharjo 39 (S) 82 (ST)
Bokoharjo 56 (T) 71 (ST)
Bokoharjo 1 68 (ST) 89 (ST)
Madurejo 63 (ST) 81 (ST)
Rerata 56,5 (T) 80,75 (ST)
Produktivitas Sedang
Wukirharjo 37 (S) 84 (ST)
Sambirejo 34 (S) 137 (ST)
Gayamharjo 44 (T) 236 (ST)
Rerata 38,33 (S) 152,33 (ST)
*) Keterangan : S = Sedang, T= Tinggi, ST = Sangat Tinggi.
Kalium tanah
Kalium merupakan unsur hara makro ketiga yang dapat menjadi kendala apabila hasil panen diangkut secara terus-menerus dan tidak dikembalikan ke tanah. Hasil analisis kalium lahan sawah tingkat produktivitas tinggi dan produktivitas sedang (Tabel 3). Hasil analisis K potensial pada daerah tingkat produktivitas tinggi sebesar 17 mg 100 g-1 dengan status hara rendah, sedangkan kandungan K tersedia sebesar 145 ppm dengan status hara sedang. Hal ini karena unsur K yang tergolong mobile (mudah bergerak) sehingga mudah hilang dari tanah melalui pencucian, karena unsur K tidak ditahan kuat oleh permukaan koloid tanah dan masih adanya petani yang melakukan pembakaran
jerami. Menurut Husnain (2010), bahwa persentase kehilangan unsur hara K saat pembakaran jerami sebesar 36-47%. Daerah dengan tingkat produktivitas sedang memiliki kandungan K potensial 72 mg 100 g-1 dan K tersedia 264,33 ppm dengan kriteria sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh aktivitas penggenangan yang cukup lama oleh petani sehingga menyebabkan K. Menurut Mu’min et al. (2016), penggenangan pada lahan sawah pada dasarnya akan meningkatkan konsentrasi K dalam tanah. Biasanya Fe2+ dan NH4+ dibebaskan melalui berbagai proses dan pemindahan K+ terjadi dari kompleks pertukaran, sehingga konsentrasinya meningkat dalam larutan tanah dan menjadi lebih tersedia bagi tanaman padi.
Tabel 3. Kandungan kalium tanah pada tingkat produktivitas padi yang berbeda.
Tingkat Produktivitas Lokasi Sampel K2O potensial (mg 100 g-1) * K tersedia (ppm) * Produktivitas Tinggi
Sumberharjo 14 (R) 119 (S)
Bokoharjo 21 (R) 165 (S)
Bokoharjo1 12 (R) 126 (S)
Madurejo 21 (S) 170 (S)
Rerata 17 (R) 145 (S)
Produktivitas Sedang
Wukirharjo 63 (ST) 214 (ST)
Sambirejo 22 (S) 153 (S)
Gayamharjo 131 (ST) 426 (ST)
Rerata 72 (ST) 264,33 (ST)
*) Keterangan : R= Rendah, S= Sedang, ST= Sangat Tinggi Status kesuburan tanah
Berdasarkan penilaian status kesuburan tanah (Tabel 4), daerah Kapanewon Prambanan dengan produktivitas tinggi memiliki status kesuburan dari rendah ke sedang, sedangkan daerah dengan tingkat produktivitas sedang memiliki status kesuburan
sedang sampai tinggi. Banyaknya unsur hara dalam tanah tidak menjamin tanaman dapat tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi, tetapi tergantung dari hubungan air dan pengelolaan yang memungkinkan tanaman dapat mempergunakan unsur hara tersedia secara efisien.
http://jtsl.ub.ac.id 220 Tabel 4. Penilaian status kesuburan pada daerah tingkat produktivitas tinggi dan daerah produktivitas sedang.
Tingkat
Produktivitas Sampel KPK
(cmol(+)kg-1) KB
(%) P2O5 K2O C organik
(%) Status Kesuburan Produktivitas Tinggi
Sumberharjo 13, 71 (R) 92,71 (ST) 82 (ST) 119 (S) 2,4 (S) Sedang
Bokoharjo 15,92 (R) 87,44 (ST) 71 (ST) 165 (S) 2,2 (S) Sedang
Bokoharjo 1 4,32 (SR) 79,17 (ST) 89 (ST) 126 (S) 2,6 (S) Rendah
Madurejo 12,13 (R) 89,28 (ST) 81 (ST) 170 (S) 3,8 (T) Rendah
Rata-rata 11,52 (R) 87,15 (ST) 80,75 (ST) 145 (S) 2,75 (S) Sedang Produktivitas Sedang
Wukirharjo 35,73 (T) 94,40 (ST) 84 (ST) 214 (ST) 2,5 (S) Sedang
Sambirejo 31,24 (T) 95,52 (ST) 137 (ST) 153 (S) 3,9 (T) Tinggi
Gayamharjo 32,20 (T) 95,65 (ST) 236 (ST) 426 (ST) 3,3 (T) Tinggi
Rata-rata 33,06 (T) 95,19 (ST) 152,33 (ST) 264,33 (ST) 3,23 (T) Tinggi Keterangan: R= rendah, S= sedang, T= tinggi, ST= sangat tinggi. Sumber: PPT (1995). KPK = kapasitas pertukaran kation; KB = kejenuhan basa.
http://jtsl.ub.ac.id 221 Menurut Taufiq et al. (2018), produktivitas lahan
pertanian dapat ditentukan oleh 3 faktor, yaitu: (1) sistem pengelolaan tanah pada lahan pertanian, (2) hasil (produksi), dan (3) jenis tanah. Menurut Wiebe et al. (2003) salah satu faktor yang penting dalam peningkatan produktivitas lahan pertanian adalah pengelolaan tanah. Beberapa faktor yang
memengaruhi produktivitas lahan seperti kondisi pengairan, pemupukan, pemeliharaan dan pemilihan varietas padi serta pola tanam pada daerah penelitian. Berdasarkan data wawancara Petani di Kapanewon Prambanan (Tabel 5) banyak terdapat perbedaan dalam sistem pengelolaan lahan sawah petani.
Tabel 5. Pengelolaan lahan sawah petani di Kapanewon Prambanan.
Perlakuan Tingkat Produktivitas
Tinggi *) Sedang *)
Pola tanam Padi-padi-palawija Padi-padi-palawaija
Padi-padi-bero
Varietas IR-42 Inpari-32
Cigeulis
Pengairan Teknis Sumur Ladang/PAM
Pupuk (**) SP-36: 87 kg SP-36: 58 kg
Urea: 312 kg Urea: 303 kg
Phonska: 212 kg Phonska: 92 kg
KCl: 66 kg KCl: 106 kg
Kotoran hewan: 854 kg Bahan Organik (jerami dan kotoran hewan): 1.884kg
Pengendalian hama Pestisida kimia Pestisida Nabati
Keterangan: *) Hasil Wawancara Petani, **) Dosis pemupukan rata-rata per luasan lahan.
Pengelolaan lahan yang dilakukan secara optimal akan memberikan produktivitas yang lebih baik.
Beberapa faktor seperti kondisi pengairan, pemupukan, pemeliharaan dan pemilihan varietas padi pada daerah penelitian serta pola tanam.
Daerah penelitian produktivitas tinggi memiliki luasan lahan 0,94 ha dipengaruhi oleh faktor pengairan yang lebih tercukupi, potensi hasil varietas IR-42 dan Cigeulis 9-10,5 t ha-1 (Suprihatno et al., 2009) dan pemupukan kimia yang lebih dari cukup. Pemupukan kimia yang dilakukan secara terus-menerus dan tanpa rekomendasi pemupukan dari pemerintah akan menyebabkan kesehatan tanah menurun di masa yang akan mendatang (Kaya, 2014).
Daerah dengan tingkat produktivitas sedang memiliki luas penelitian 0,5 ha lebih banyak menggunakan pupuk kotoran hewan. Hal ini baik untuk kesehatan tanah di masa mendatang tetapi pada daerah tersebut terdapat faktor pembatas seperti penggunaan varietas yang standar dengan potensi hasil 8-9 t ha-1 serta adanya serangan hama dan penyakit pada tanaman seperti wereng batang coklat dan tungro (Balitbangtan, 2019). Menurut Maulana et al. (2017), hama dan penyakit merupakan organisme pengganggu yang menyebabkan gagal panen dan ketidakstabilan produksi tanaman. Selain itu ketersediaan air
kurang tercukupi yang dapat menyebabkan produktivitas sedang.
Kesimpulan
Tanah pada daerah dengan tingkat produktivitas tinggi memiliki status kesuburan rendah sampai sedang. Di daerah dengan tingkat produktivitas sedang memiliki status kesuburan sedang sampai tinggi. Faktor pengelolaan berperan penting dalam peningkatan produktivitas. Daerah yang memiliki tingkat produktivitas tinggi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti penggunaan varietas unggul IR-42 dan Cigeulis yang memiliki potensi hasil 9- 10,5 t ha-1, pola tanam padi-padi-palawija, penggunaan pupuk anorganik, pestisida sintetis dan irigasi. Daerah yang memiliki produktivitas sedang dipengaruhi oleh penggunaan varietas Inpari-32 yang memiliki potensi hasil 8,5 t ha-1 dan memiliki kerentanan terhadap hama dan penyakit, pola tanam padi-padi-palawija/padi-bero, penggunaan pestisida nabati dan keterbatasan irigasi.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Pos Pengamatan Sorogedug Stasiun Prambanan dalam penyediaan data pendukung penelitian ini.
http://jtsl.ub.ac.id 222 Daftar Pustaka
Agustine, L. 2020. Identifikasi status hara N lahan sawah pada daerah irigasi Kedunglimus Arca Kiri, di Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas.
Agroscript 2(1):10-20,
doi:10.36423/agroscript.v2i1.463.
Badan Pusat Statistik (BPS). 2022. Kabupaten Sleman dalam Angka 2022. BPS Kabupaten Sleman.
Balitbangtan. 2019. Deskripsi Varietas Unggul Padi.
Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementrian Pertanian. Jakarta.
Damayanti, L. 2013. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi, pendapatan dan kesempatan kerja pada usaha tani padi sawah di daerah irigasi Parigi Moutong. SEPA: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis 9(2): 249-259.
Husnain. 2010. Kehilangan Unsur Hara Akibat Pembakaran Jerami Padi dan Potensi Pencemaran Lingkungan. Balai Penelitian Tanah. Bogor.
Jabri, A.M. 2013. Teknologi uji tanah untuk penyusunan rekomendasi pemupukan berimbang tanaman padi sawah. Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian 6(1):11-22.
Kaya, E. 2014. Kajian tiga jenis pupuk opengaruh pupuk organik dan pupuk NPK terhadap pH dan K tersedia tanah serta serapan K, pertumbuhan, dan hasil padi sawah (Oryza sativa L). Buana Sains 14(2):113-122, doi:10.30598/a.v2i1.277.
Kusuma, G.A.I., Rosmawaty, dan Yusria, W.O. 2023.
Analisis persepsi petani terhadap perubahan penggunaan lahan perkebunan ke lahan padi sawah di Kelurahan Atula, Kecamatan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur. Jurnal Ilmiah Agribisnis 8(3):186-198, doi:10.37149/jia.v8i3.125.
Maulana, W., Suharto, dan Wagiyana. 2017. Respon beberapa varietas padi (Oryza sativa L.) terhadap serangan hama penggerek batang padi dan walang sangit (Leptocorisa acuta Thubn). Agrovigor 10(1):21- Mu’min, M.I., Joy, B. dan Yuniarti, A. 2016. Dinamika 27.
kalium tanah dan hasil padi sawah (Oryza sativa L.) akibat pemberian NPK majemuk dan penggenangan pada Fluvaquentic Epiaquepts. Soilrens14(1):11-15, doi:10.24198/soilrens.v14i1.9269.
Pelembang, J.N., Jamilah, dan Sarifuddin. 2013. Kajian sifat kimia tanah sawah dengan pola pertanman padi semangka di Desa Air Hitam Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batubara. Jurnal Online Agroekoteknologi 1(4):1154-1162.
PPT (Pusat Penelitian Tanah). 1995. Petunjuk Teknis Evaluasi Kesuburan Tanah. Laporan Teknis No. 14 Versi 1,0.1 REP II Project. CSAR, Bogor.
Prasetyo, T., Ruhaiman, B. dan Wardhana, S.A. 2006.
Pengaruh pengelolaan air terhadap konsentrasi besi (Fe) pada sawah bukaan baru. Jurnal Solum 3(3):8- 18.
Purwanto, Handayanto, E., Baon, J.B., Suparyogo, D.
dan Hairiah, K. 2007. Nitrifikasi potensial dan nitrogen mineral tanah nitrogen-mineral tanah pada sistem agroforestri kopi dengan berbagai spesies pohon penaung. Jurnal Pelita Perkebunan 23(1):35- 46.
Septiani, A., Suprapti, S. dan Rahayu, W. 2018. Analisis komparatif pendapatan usahatani padi sawah (Oryza sativa L.) dengan benih bersertifikat dan tidak bersertifikat di Kecamatan Kebakramat Kabupaten Karanganyar. Agrista 6(1):1-7.
Sirappa, M.P. dan Wahid. 2012. Kajian tiga jenis pupuk organik terhadap pertumbuhan dan hasil padi rawa di Desa Debowae, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru. Jurnal Sumberdaya Pertanian 8(2):95-102.
Suprihatno, B. 2009. Peta jalan perakitan pan pengembangan varietas unggul hibrida tipe baru menuju sistem produksi padi berkelanjutan.
Pengembangan Inovasi Pertanian 2(1):1-13.
Suryani, I. 2013. Pengaruh vegetasi terhadap kandungan nitrogen total pada berbagai kedalaman tanah pada areal kakao di Papalang, Kabupaten Mamuju. Jurnal Agrisistem 9(1):49-54.
Taufiq, A., Wijanarko, A. and Kristiono, A. 2018.
Nitrogen and phosphorus fertilization for groundnut in saline soil. Journal of Degraded and Mining Lands
Management 5(4):1307-1318,
doi:10.15243/jdmlm.2018.054.1307.
Wiebe, C., Lin, L. and J. Piesse, J. 2003. The impact of research-led agricultural productivity growth on poverty reduction in Africa, Asia and Latin America.
World Development 31(12):1959-1975, doi:10.1016/j.worlddev.2003.07.001.