STRATEGI KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINANDENGAN MENGUNAKAN KARTU
KENDALI SISWA DI SMANEGERI 3 LENGAYANG KABUPATEN
PESISIR SELATAN
JURNAL
INTAN OKTAVIA NPM: 12070085
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG 2017
Strategy Principal in Improving Discipline Students Full Card In SMA Negeri 3 Lengayang Kab. South Coastal 2016
ABSTRACT
This research is motivated by their principals in the system improve discipline against students SMA Negeri 3 Lengayang South Coastal District. The purpose of this research is: To improve the discipline of students at SMA Negeri 3 Lengayang Kab.
South coast. In accordance with the abovementioned issue, the problem of research formulated as follows: What alsan principals choose to use control cards students to improve discipline students in SMA Negeri 3 Lengayang Kab. Pesisir Selatan, What's included in the control cards of students at SMA Negeri 3 Lengyang South Coastal District. How is the process of using a control card students at SMA Negeri 3 Lengayang Kab. South coast. How the results of the control card use students in SMA Negeri 3 Lengyang Kab. South coast. What constraints or weakness of control cards of students who are used to improve discipline in SMA Negeri 3 Lengayang Kab. South coast.
The theor y used in this research that behaviorism, which was developed by Hamalik. This type of research is qualitative approach to the type of research descriptively. Adaput informant in the research is the principal, BK teachers, teachers, teachers and students SMAN 3 lengayang southern coastal districts. The technique of collecting data through observation, interviews and documents. The data analysis in this research used data, after the data are collected direkduksi, after data is grouped based on the case of an error then go to the presentation of data, after the data is presented final data is inferred or verification.
rom the research point out that: a control card students Reduces the case of students who often go out using the attributes form the constraint of success, improve discipline, constraints in the use of control cards students, obstacles for teachers, students, for teachers picket the average student smoked school environment 75 Often,, case did not go late to school during school hours Breaking grammar school terib 83 cases, Fighting school environment dirty Speechless 13 cases,, Revoke at the time of the lesson Breaking the rules given school 19 cases,, Breaking school rules does not make school without explanation 30 cases,, I often come to school late often chide in class 54 cases,, Lazy learning and often no homework or assignments that were told in school 11 cases of tardy for school,, 43,, unplug case of school or do not attend school without explanation totaled 27 cases, the overall amount to 355 cases,.
ABSTRAK
Intan Oktavia (12070085) : Strategi Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kedisiplinan Dengan Menggunakan Kartu Kendali Siswa Di SMA Negeri 3 Lengayang Kab. Pesisir Selatan 2016.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya sistim kepala sekolah dalam meningkatkan kedisiplinan terhadap siswa SMA Negeri 3 Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan. Tujuan dalam penelitian ini adalah: Untuk meningkatkan disiplin siswa di SMA Negeri 3 Lengayang Kab. Pesisir Selatan. Sesuai dengan pokok permasalahan di atas maka permasalahan penelitian di rumuskan sebagai berikut: Apa alsan kepala sekolah memilih menggunakan kartu kendali siswa untuk meningkatkan kedisiplinan siswa di SMA Negeri 3 Lengayang Kab. Pesisir Selatan, Apa saja isi dalam kartu kendali siswa di SMA Negeri 3 Lengyang Kabupaten Pesisir Selatan. Bagaimana proses menggunakan kartu kendali siswa di SMA Negeri 3 Lengayang Kab. Pesisir Selatan.
Bagaimana hasil penggunaan kartu kendali siswa di SMA Negeri 3 Lengyang Kab.
Pesisir Selatan. Apa kendala-kendala atau kelemahan kartu kendali siswa yang digunakan untuk meningkatkan kedisiplinan di SMA Negeri 3 Lengayang Kab. Pesisir Selatan.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu behaviorisme, yang di kembangkan oleh Hamalik. Jenis penelitian yang digunakan yaitu pendekatan penelitian kualitatif dengan tipe penelitian deskiptif. Adaput informan dalam penelitian adalah kepala sekolah, guru BK, guru, guru dan siswa/i SMAN 3 lengayang kabupaten pesisir selatan. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumen.
Analisis data dalam penelitian ini yaitu menggumpulkan data, setelah dikumpulkan data direkduksi, setelah data kelompokan berdasarkan kasus kesalahan kemudian masuk kepada penyajian data, setelah data disajikan terakhir data disimpulkan atau verifikasi.
Dari hasil penelitian menunjuk bahwa: kartu kendali siswa Mengurangi kasus siswa yang sering keluar masuk menggunakan atribut membentuk kendala keberhasilan, meningkatkan kedisiplinan, kendala dalam pengunaan kartu kendali siswa, kendala bagi guru yang mengajar, Siswa, bagi guru piket rata rata siswa merokok dilingkungan sekolah 75 kasus,, Sering terlambat masuk sekolah tidak masuk pada jam pelajaran Melanggar tata terib sekolah 83 kasus, , Berkelahi dilingkungan sekolah Berkata-kata kotor 13 kasus,, Cabut pada waktu pelajaran berlangsung Melanggar peraturan yang diberikan sekolah 19 kasus,, Melanggar peraturan sekolah Tidak masuk sekolah tanpa keterangan 30 kasus,, Sering datang terlambat sekolah Sering meribut di kelas 54 kasus,, Malas belajar dan sering tidak mengerjakan PR atau tugas yang disuruh disekolah 11 kasus,, Terlambat masuk sekolah 43 kasus,, cabut sekolah atau tidak masuk sekolah tampa keterangan berjumlah 27 kasus, secara keseluruhan berjumlah 355 kasus,.
PENDAHULUAN
Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, pemerintah telah berupaya menciptakan sumber daya manusia yang berpendidikan, beriman, bertaqwa, berbudi pekerti luhur dan memiliki pengetahuan dan kemampuan.
Salah satu indikator untuk menilai keberhasilan kegiatan dibidang pendidikan adalah peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan hasil belajar baik formal maupun non formal.
Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan ditingkat sekolah. Kepala sekolah penanggung jawab atas terlaksananya proses pendidikan di sekolah dalam mencapai tujuanya. Kepala sekolah adalah pemimpin yang mempunyai strategi yang sangat penting dalam meningkatkan mutu pendidikan sekolah (Wahjosumidjo 1995:366) kepala sekolah haru dapat mendayagunakan semua sumber untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah di tetapkan, sebagaimana tentang dalam Undang- undang Nomor. 20 tahun 2003 yaitu pendidikan nasional dalam
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, beraklak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab (Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional)
Dalam usaha pencapaian tujuan Pendidikan Nasional tersebut, maka kepala sekolah dituntut mampu menjalankan dengan baik, baik itu sebagai administrator maupun sebagai supervisor.
Sebagai administrator kepala sekolah bertanggung jawab dalam merencanakan, mengkordinasi dan melakukan pengamatan terhadap semua sumber yang ada, baik personil maupun materil Sedangkan sebagai superviosor kepala sekolah harus bisa menjalankan salah satu administrasi, yaitu dalam pengawasan
terhadap semua personil (Wahjosumidjo 1995:81). Tanggung jawab formal kepala sekolah dalam hal ini juga yaitu mengadakan pengendalian kehadiran para siswa, kebebasan mengemukakan pendapat, menghormati proses hak-hak seluruh siswa secara tepat dan penerapan disiplin. Artinya seorang siswa perlu memiliki sikap disiplin dengan melakukan latihan yang memperkuat dirinya sendiri untuk selalu terbiasa.
Perilaku disiplin pada diri siswa sangat diperlukan untuk membekali siswa pada kehidupan yang akan datang, sehingga perilaku disiplin merupakan hal yang penting dan perlu mendapatkan perhatian khusus guna menanamkan kedisiplinan pada siswa. Oleh karena itu perlu adanya pembiasaan perilaku disiplin bagi siswa melalui pemberlakuan tata tertib sekolah.
Tata tertib sekolah penting dalam mewujudkan budaya dan iklim sekolah yang kondusif melalui penciptaan kedisiplinan. Peraturan tata tertib sekolah akan mudah ditaati siswa apabila
dikomunikasikan kepada semua siswa secara merata. Pada sekolah yang menggunakan pendekatan demokratis, program sekolah disusun secara cermat.
Oleh karena itu pembuatan peraturan tata tertib perlu mengikutsertakan siswa, sehingga mudah dalam pelaksanaannya.
Secara umum peraturan tata tertib sekolah dapat dibedakan menjadi dua yaitu peraturan tata tertib yang berkaitan dengan pelaksanaan pengajaran di kelas dan peraturan tata tertib umum yang berlaku di luar kelas. Kedisiplinan merupakan faktor penting yang mendukung berlakunya tata tertib di sekolah (Suharsimi Arikunto, 1980:121).
Disiplin merupakan salah satu sarana bagi penanaman pendidikan karakter di sekolah. Disiplin yang perlu ditumbuhkan kepada peserta didik utamanya adalah disiplin diri. Pendisiplinan diri peserta didik bertujuan untuk membantu siswa menemukan diri, mengatasi, dan mencegah timbulnya permasalahan- permasalahan terkait kedisiplinan, berusaha menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi
kegiatan pembelajaran, sehingga mereka menaati segala peraturan yang ditetapkan (Mulyasa, 2011: 26). Peran guru sangat penting dalam upaya mendisiplinkan siswa yaitu melalui penegakkan tata tertib sekolah. Guru harus mampu meningkatkan standar perilaku dan membantu peserta didik mengembangkan pola perilakunya, serta melakssiswa an aturan sebagai alat menegakkan kedisiplinan.
Proses pembentukan disiplin pada diri siswa memerlukan proses belajar dari upaya orang tua maupun pendidik. Hal ini dapat dilakukan dengan melatih dan membiasakan diri pada siswa untuk selalu berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moral yang ada, serta melakukan kontrol dalam mengembangkan kebiasaan disiplin pada siswa
1. Apa alasan kepala sekolah memilih menggunakan kartu kendali siswa untuk meningkatkan kedisiplinan siswa di SMA Negeri 3 Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan
2. Bagaimana proses menggunakan kartu kendali siswa di SMA Negeri 3 Lengayang Kab. Pesisir Selatan
3. Apa saja isi dalam kartu kendali siswa di SMA Negeri 3 Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan.
4. Bagaimana hasil penggunaan kartu kendali siswa di SMA Negeri 3 Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan.
5. Bagaimana kartu kendali yang layak digunakan sebagai pengontrol kedisiplinan siswa SMA Negeri 3 Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individu maupun kelompok (Sukmadinata, 2010:60) penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut perspektif partisipan
(subjek penelitian) meliputi perasaan, keyakinan, ide-ide, pemikiran dan kegiatan dari partisipan, yang dikaji dari sudut pandang yang utuh secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa dengan melihat situasi nyata yang alamiah, terbuka dan tidak ada rekayasa. Adaput alasan menggunakan penelitian kualitatif yaitu peneliti berusaha untuk mendeskripsikan dan menganalisis kejadian-kejadian yang terjadi di lapangan.
Sedangkan tipe penelitian ini adalah deskriptif merupakan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan subjek yang diteliti secara tepat. Penelitian deskriptif juga merupakan penelitian dimana pengumpulankan data untuk mengetes pertanyaan penelitian atau hipotesis yang berkaitan dengan keadaan dan kejadian yang akan terjadi dan melaporkan keadaan objek atau subjek yang diteliti sesuai dengan apa adanya.
Dalam penelitian ini informan ditetapkan sesuai dengan karakteristik penelitian purposive sampling
(penunjukan) yaitu berdasarkan pertimbangan tertentu. Artinya hanya orang yang dianggap paling tahu tentang masalah yang dikaji. Penetapan subjek yaitu dengan tekni purposive sampling.
Teknik Purposive ini dilakukan dengan cara mengambil subjek didasarkan atas adanya tujuan tertentu. Moleong (2005:97)
Adapun kriteria informan penelitian ini antara lain, kepala sekolah, guru BK wali kelas dan siswa yang dipilih sebagai informasi. Dalam hal ini peneliti mengambil informan yaitu orang-orang dapat memberi informan dan data yang maksimal mengenai Strategi kepala sekolah dalam meningkatkan kedisiplinan dengan menggunakan kartu kendali siswa di SMA Negeri 3 Lengayang Kab. Pesisir Selatan.
Pada hakikatnya metode pengumpulan data dengan teknik tertentu yang disebut teknik pengumpulan data, secara logis dengan kerangka teoritis dan serta membuktikan secara empiris dengan pengumpulan data yang relevan. Teknik
pengumpulan data terdiri atas observasi, wawancara, dan dokumentasi
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian dilapangaan, sebelum aturan di pakai siswa-siswi sering terlambat datang sekolah, dan mereka sering cabut, absen, sering keluar masuk pas proses pembelajaran berlangsung, jadi kepala sekolah memberikan sanksi kepada siswa yang sering melanggar aturan- aturan dan siswi di dikenakan bobot poit, di SMA Negeri 3 Lengayang Kab. Pesisir Selatan tidak dapat mematuhi aturan- aturan sekolah yang telah di terapkan oleh kepala sekolah. Seperti yang di ungkapkan Bapak Saswin 50 tahun)
Dari hasil wawancara peneliti dengan kepala sekolah SMA Negeri 3 Lengayang sebelum tata tertib sekolah dijalankan dirapatkan terlebih dahulu oleh seluruh perangkat sekolah dan orang tua murid, untuk meningkatkan kedisiplinan siswa dibutuhkan partisipasi seluruh guru dan orang tua murid agar peraturan sekolah berjalan dengan maksimal.
Berikut hasil wawancara dengan bidang
kesiswaan Bapak oyon umur 40 tahun 24 rabu agustus 2016 mengungkapkan:
“Kartu kendali siswa yang digunakaan di SMAN3 lengayang ini untuk meningkat disiplin, sekolah membuat kartu kendali siswa keluar kelas, yang bisa izin keluar kelas hanya satu orang, waktu yang diberikan hanya lima menit, jika lewat dari waktu yang diberikan nanti ada sanksi dari guru piket. Bentuk sanksi bagi siswa yang melanggar peraturan tata tertib dalam penggunaan kartu kendali siswa Menyiram bunga, mencabut rumput, membersih WC sekolah apa lagi siswa sudah berulang-ulang melanggar tata tertib maka di panggil orang tua murid ke sekolah
Dari hasil wawancara di atas jelas bahwa pengunaan kartu kendali siswa digunakan pada saat keluar kelas saja.
Maka dari itu dengan adanya kartu kendali siswa tersebut maka akan terlihat bagaimana kedisiplinan siswa pada saat berada di sekolah. Adapun sanksinya bagi yang mengalangar peraturan yang terdapat dalam kartu kendali tersebut tersebut diantaranya siswa disuruh menyiram bunga, mencabut rumput, dan membersihkan WC sekolah. Kemudian apabila sebaliknya siswa melangar terus- menerus perturan yang ada pada kartu
kendali tersebut maka sanksi terberatnya adalah orang tua murid akan dipangil kesekolah.
Hasil wawancara dan observasi disekolah kedisiplinan sebelum diberlakukannya kartu kendali siswa dapat digolongkan sebagai berikut. Bila dilihat dari perolehan skor selama satu semester tahun ajaran 2015/2016, yang merokok dilingkungan sekolah kelas X berjumlah 55 kasus, kelas XI berjumlah 89 kasus, dan kelas XII berjumlah 105 kasus, secara keseluruhan siswa yang merokok dilingkungan sekolah berjumlah 249 kasus., Sering terlambat masuk sekolah tidak masuk pada jam pelajarn Melanggar tata terib sekolah kelas X ada 79 kasus , kelas XI ada 125 kasus, dan kelas XII berjumlah 85 kasus, secara keseluruhan kelas berjumlah 289 kasus, Berkelahi dilingkungan sekolah Berkata-kata kotor sekolah kelas X ada 45 kasus, kelas XI berjumlah 35 kasus, kelas XII berjumlah 23 kasus secara keseluruhan kelas berjumlah 103 kasus, Cabut pada waktu pelajaran berlangsung Melanggar
peraturan yang diberikan kelas X berjumlah 15 kasus , kelas XI berjumlah 40 kasus, dan kelas XII berjumlah 48 kasus, secara keseluruhan berjumlah 103 kasus, Melanggar peraturan sekolah Tidak masuk sekolah tanpa keterangan kelas X berjumlah 25 kasus, kelas XI berjumlah 29 kasus, dan kelas XII berjumlah 19 kasus, secara keseluruhan kelas 73 kasus, Sering datang terlambat sekolah Sering meribut di kelas, kelas X berjumlah 67 kasus , kelas XI berjumlah 46 kasus, dan kelas XII berjumlah 35 kasus, secara keseluruhan kelas berjumlah 148 kasus, Malas belajar dan sering tidak mengerjakan PR atau tugas yang disuruh disekolah sekolah kelas X berjumlah 15 kasus , kelas XI berjumlah 27 kasus, dan kelas XII berjumlah 18 kasus, secara keseluruhan kelas berjumlah 60 kasus, Terlambat masuk sekolah sekolah kelas X berjumlah 78 kasus, kelas XI berjumlah 74 kasus, kelas XII berjumlah 53 kasus, secara keseluruhan kelas berjumlah 205 kasus, Cabut sekolah atau tidak masuk sekolah tanpa keterangan kelas X berjumlah
43 orang kelas XI berjumlah 59 kasus, kelas XII berjumlah 48 kasus, secara keseluruhan berjumlah 150 kasus jadi kedisiplin siswa SMAN 3 lengayang sangat rendah.ini dibuktikan dari hasil data tabel yang diberikan oleh sekolah yang jumlah siswa yang melakukan kasus ringan berjumlah 702 kasus, kasus sedang berjumlah 678 kasus dan berat berjumlah 0 (tidak ada) kasus. Jadi dapat dilahat secara keseluruhan setelah data di tera dari 547 siswa yang melakukan kasus atau siswa yg tidak disiplin secara keseluruhan berjumlah 1380 kasus berdasarkan jumlah keseluruhan setiap permasalahan dijumlahkan ada seorang siswa mencapai 10 kali melakukan kasus yang sama serata kasus yang lainnya dan ada jaga yang lebih jadi, dari itulah dapat jumlah siswa yang melangar mencapai 1380 kasus selama satu semester, yang mana jumlah yang siswa yang ada di SMAN 3 lengayang berjumlah 547 siswa dari kelas X s/d kelas XII klau dilihat dari jumlah siswa yang ada di sekolah SMAN 3
lengayang kasus yang terjadi mencapai 1380 kasus.
Secara keseluruhan, berdasarkan hasil observasi dan wawancara disekolah pada pengisian kartu kendali kedisiplinan siswa diperoleh data sebagai berikut. Masih belum disiplin ini terbukti dari 678 kasus, siswa yang melakukan pelangaran sedang dan 702 kasus, yang melakukan pelangaran ringan jadi total kasus selama satu semester 1380 kasus, Berdasarkan hasil analisis data berarti siswa SMAN 3 lengayang tidak disiplin dalam menjalankan aturan sekolah.
dapat diperoleh data yaitu sebagai berikut: yang merokok dilingkungan sekolah kelas X 15 kasus, kelas XI berjumlah 27 kasus, kelas XII berjumlah 33 kasus, secara keseluruhan kelas berjumlah 75 kasus, Sering terlambat masuk sekolah tidak masuk pada jam pelajarn Melanggar tata terib sekolah kelas X berjumlah 23 kasus, kelas XI berjumlah 47 kasus, kelas XII berjumlah 13 kasus, secara keseluruhan kelas berjumlah 83 kasus, Berkelahi
dilingkungan sekolah Berkata-kata kotor kelas X berjumlah 3 kasus, kelas XI berjumlah 8 kasus, kelas XII berjumlah 2 kasus, secara keseluruhan kelas berjumlah 13 kasus, Cabut pada waktu pelajaran berlangsung Melanggar peraturan yang diberikan kelas X berjumlah 5 kasus, kelas XI berjumlah 9 kasus, kelas XII berjumlah 5 kasus, secara keseluruhan berjumlah 19 kasus, Melanggar peraturan sekolah Tidak masuk sekolah tanpa keterangan kelas X berjumlah 8 kasus, kelas XI berjumlah 17 kasus, kelas XII berjumlah 5 kasus, secara keseluruhan kelas berjumlah 30 kasus, Sering datang terlambat sekolah Sering meribut di kelas, kelas X berjumlah 33 kasus , kelas XI berjumlah 11 kasus, kelas XII berjumlah 10 kasus, secara keseluruhan kelas berjumlah 54 kasus, Malas belajar dan sering tidak mengerjakan PR atau tugas yang disuruh disekolah kelas X berjumlah 3 kasus, kelas XI berjumlah 5 kasus, kelas XII berjumlah 5 kasus, secara keseluruhan kelas berjumlah 11 kasus, Terlambat masuk sekolah sekolah kelas X berjumlah
24 kasus, kelas XI berjumlah 10 kasus, kelas XII berjumlah 9 kasus, secara keseluruhan kelas berjumlah 43 kasus, Cabut sekolah atau tidak masuk sekolah tanpa keterangan kelas X berjumlah 12 kasus , kelas XI berjumlah 9 kasus, kelas XII berjumlah 6 kasus, secara keseluruhan kelas berjumlah 27 kasus yang tidak disiplin berarti dapat disimpulkan bahwa mengunakan kartu kendali siwa dapat di gunakan sebagai alat untuk menegakan disiplin di SMA N 3 lengayang ini dibuktikan dengan hasil wawan cara dengan guru BK yang bernama Fani pada tanggal 28 oktober 2016. Yang mana data observasi yang pertama didapatkan sebelum diberlakukannya kartu kendali di bandingkan dengan data setelah diberlakukannya kartu kendali siswa pada tanggal 23 Agustus sampai dengan 28 Oktober 2016 (Mematahui tentang peraturan yang berlaku di sekolah), yang berjumlah secara keseluruhan pada data pertama 678 kasus yang melakukan pelangaran sedang dan 702 kasus yang melakukan pelangaran ringan jadi total
siswa yang melakukan pelangaran selama satu semester 1380 kasus siswa sedangkan setelah melakukan kartu kendali siswa yang melakukan pelangaran sedang berjumlah 164 kasus sedangkan yang melakukan pelangaran ringan berjumlah 191 kasus , secara keseluruhan siswa yang melakukan pelangaran berjumlah 355 kasus, jadi dapat simpulkan dari hasil diatas bahwa kartu kendali siswa berhasil untuk meninkatkan kedisiplin anak SMA N 3 lengayang kabupaten pesisir selatan ini dibuktikan dari perbandingan data wawan cara perta dengan hasil wawancara setelah diberlakukannya kartu kendali siswa, berarti terjadi perubahan yang meningkat sama siswa SMA N 3 lengayang ini berarti bahwa siswa sudah lebih mengetahui mengenai peraturan yang berlaku di sekolah.
Dari hasil penelitian yang dilakukan selama 3 bulan dari bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober 2016 mengunakan kartu kendali siswa membawa dampak yang baik pada siswa yang mana awalnya siswa banyak yang tidak disiplin dengan
peraturan sekolah yang telah ditetapkan, sekarang telah disiplin didalam melakukan peraturan sekolah mematuhui peraturan yang telah diterapkan disekolah ini dibuktikan dengan hasil penelitian
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa strategi kepala sekolah dalam meningkatkan kedisiplinan dengan menggunakan kartu kendali siswa di SMA Negeri 3 Lengayang Kab. Pesisir Selatan, untuk meningkatkan kedisiplinan siswa saat proses pembelajaran agar siswa yang sering keluar masuk kelas di saat proses pembelajaran dapat dikurangi.
Sebelum kartu kendali siswa dijalankan pihak sekolah mengadakan rapat dengan seluruh guru dan staf. TU dan orang tua murid untuk membuat peraturan dengan menggunakan kartu kendali siswa dan mengatur cara-cara mensosialisasikan kepada siswa, agar siswa tahu isi dari aturan yang dibuat supaya dapat mengurangi siswa yang sering keluar masuk kelas pada saat proses pembelajaran, mensosialisasikan kepada
siswa itu sagat penting sekali agar siswa tahu isi dari peraturan dengan menggunakan kartu kendali siswa, seperti Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori behaviorisme, behaviorisme adalah suatu studi tentang kelakuan manusia. Berkat pandangan dalam psikolgi dan naturalisme science maka timbul aliran baru ini. Jiwa atau sensai atau image tidak dapat diterangkan melalui jiwa itu sendiri karena sesungguhnya jiwa itu adalah respons- respons psikolgi (Hamalik, 2001:38) didalam behaviorisme masalah atau metter (zat) menempati kedudukan yang utama.
Jadi, melalui kelakuan segala sesuatu tentang jiwa dapat diterangkan. Melalui behaviorisme dapat di jelaskan kelakuan manusia secara seksama dan memberikan program pendidikan yang memuaskan.
Belajar ditafsirkan sebagai latihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, dengan memberikan rangsangan (stimulus) maka siswa akan merespons. Hubungan antara stimulus- respons ini akan menimbulkan kebiasaan-
kebiasaan otomatis pada belajar. Pada dasarnya kelakuan anak adalah terdiri atas respons-respons tertentu terhadap stimulus-stimulus tertentu. ( Hamalik, 2001:39)
Teori perilaku dan pembelajaran sosial menurut John (Sarangih,2003:451) perilaku moral remaja ditentukan oleh proses penguatan. Hukuman dari imitasi keanekarangaman dalam perilaku moral yang ditekankan. Apabila disiplin diharapkan mampu mendidik peserta didik untuk berperilaku sesuai dengan standar yang di tetapkan oleh dengan kelompok sosial, maka disiplin harus mempunyai unsur pokok dengan berbagai cara yang dilakukan dengan mendisiplinkan peserta didik. Apabila salah satu unsur yang hilang, menyebabkan sikap yang tidak meguntungkan pada peserta didik dan perilaku yang tidak akan sesuai dengan standar dan harapan sosial. Hurlock (Tjandrasa, 1999:84) menjelaskan pokok unsur disiplin, yaitu peraturan sebagai pedoman perilaku, konsisten dalam peraturan tersebut dengan cara yang
digunakan untuk mengajarkan dan memaksakannya, hukuman untuk pelanggaran peraturan, dan penghargaan untuk perilaku yang baik sejalan dengan peraturan yang berlaku.
1. Peraturan
Peraturan adalah pola yang ditetapkan untuk perilaku. Pola tersebut dapat ditetapkan oleh guru dan sebagainya, tujuannya adalah untuk membekali anak dengan pedoman perilaku yang disetujui bersama dalam kelompok, rumah, sekolah dalam situasi tertentu.
2. Hukuman
Hukuman menurut para ahli pendidikan dipandang mempunyai tiga peranan penting dalam membantu anak menjadi insan bermoral, fungsinya yaitu:
(a) Fungsi pertama adalah menghalangi, hukuman menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat.
(b) Hukuman mempunyai fungsi mendidik, yakni menyadarkan anak
bahwa setiap perbuatan itu mempunyai konsekuensi.
(c) Hukuman mempunyai fungsi memberi motivasi anak untuk menghindari kesalahan.
3. Penghargaan
Penghargaan yang diberikan orang tua kepada anak-anak sebenarnya tidak perlu selalu berupa materi, tetapi dapat juga berupa kata-kata, pujian, senyuman, tepukan punggung dan sebagainya.
4. Konsisten
Konsisten berarti keseragaman atau tingkat kestabilan, konsisten harus menjadi ciri semua aspek disiplin.
Harus ada konsisten dalam peraturan, hukuman dan juga penghargaan, supaya anak tidak bingung, kalau tidak konsisten anak tidak dapat tahu mana yang baik dan benar (boleh dilakukan) dan mana yang salah (tidak boleh dilakukan).
Faktor-faktor Disiplin
1 Kesadaran diri sebagai pemahaman diri bahwa disiplin dianggap penting bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya, selain itu kesadaran diri menjadi motif kuat terwujudnya disiplin.
2 Pengikutan dan ketaatan sebagai langkah penerapan dan praktik atas peraturan-peraturan yang mengatur perilaku individunya.
3 Alat pendidikan untuk mempengaruhi, mengubah, membina dan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau diajarkan.
4 Hukuman sebagai upaya menyadarkan, mengoreksi dan meluruskan yang salah sehingga orang kembali pada perilaku yang sesuai dengan harapan.
Selain itu ada beberapa faktor lain lagi yang dapat berpengaruh pada pembentukkan disiplin individu yaitu:
1. Teladan
Perbuatan dan tindakan kerap kali lebih besar pengaruhnya dibanding dengan kata-kata, jadi keteladanan sangat penting bagi perilaku disiplin siswa. Dalam disiplin di sekolah, semua insan yang ada didalamnya mengembangkan kepengikutan dan ketaatan yang lahir dari kesadaran dirinya sehingga terbentuk jiwa disiplin yang dapat menjadi contoh.
2. Lingkungan Berdisiplin
Seseorang dapat juga dipengaruhi oleh lingkungan, bila berada di lingkungan berdisplin, seseorang dapat terbawa oleh lingkungan tersebut. Peraturan-peraturan yang ditaati dan dipatuhi adalah yang berlaku dalam lingkungan tersebut, dengan tujuan menciptakan lingkungan kondusif bagi kegiatan dan proses pendidikan.
3. Latihan Disiplin
Disiplin dapat dicapai dan dibentuk melalui proses latihan dan kebiasaan, untuk membentuk suatu sikap hidup, perbuatan dan kebiasaan dalam mengikuti, menaati dan mematuhi peraturan yang berlaku.
Melakukan disiplin secara berulang-ulang dan membiasakannya dalam praktik-praktik kehidupan sehari-hari, maka disiplin akan terbentuk dalam diri seseorang.
Pembiasaan disiplin di sekolah, dengan aturan yang dirasakan sebagai sesuatu yang memang seharusnya dipatuhi secara sadar untuk kebaikan, bisa berkembang menjadi kebiasaan yang berpengaruh positif bagi kehidupan siswa di masa depan PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian, setelah diuraikan bab ke bab tentang strategi kepala sekolah dalam meningkatkan kedisiplinan dengan menggunakan kartu kendali siswa di SMA Negeri 3
Lengayang Kab. Pesisir Selatan dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Alasan kepala sekolah memilih kartu kendali siswa dapat meningkatkan kedisiplinan sebagai alat kontrol yang digunakan oleh guru untuk mengendalikan siswa yang keluar masuk kelas. Kartu kendali siswa ini terbagi 3 bagian 1. Sedang 2. Ringan 3. Berat, karena kartu kendali siswa yang digunakan di SMA Negeri 3 Lengayang ini untuk meningkat disiplin, sekolah membuat kartu kendali siswa keluar kelas, yang bisa izin keluar kelas hanya satu orang, waktu yang diberikan hanya lima menit, jika lewat dari waktu yang diberikan nanti ada sanksi dari guru piket. Bentuk sanksi bagi siswa yang melanggar peraturan tata tertib dalam penggunaan kartu kendali siswa menyiram bunga, mencabut rumput, membersih WC sekolah apa lagi siswa sudah berulang-ulang melanggar tata tertib maka di panggil orang tua murid ke sekolah”
2. Sebagai isi atau alat kontrol kartu kendali siswa yang digunakan oleh kepala sekolah dan guru untuk mengendalikan siswa yang keluar masuk kelas. Kartu Kendali Pelanggaran Siswa” Nama siswa : Kels: Jenis Pelajaran: Sanksi/Bobot poin:... Batako/... Koto baru...2016, Guru yang Menindak, Siswa yang melanggar
3. Dalam proses penelitian menggunakan kartu kendali siswa menunjukan bahwa peningkatan kedisiplinan berjalan dengan lancar dan mestinya di SMA Negeri 3 Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan. Sebelum meningkatkan kedisiplinan, kepala sekolah rapat terlebih dahulu dengan Staf TU, dan semua guru yang ada di SMA 3 Lengayang supaya guru-guru tahu bagaimana cara menerapkan kepada siswa menggunakan kartu kendali siswa di SMA Negeri 3 Lengayang
Kab. Pesisir Selatan, untuk meningkatkan kedisiplinan.Proses yang diikuti secara aktif oleh yang mensosialisasikan dan yang disosialisasikan. Pihak yang melaksanakan sosialisasi harus meluangkan waktu serta memiliki komitmen untuk melakukan transfer nilai dan norma, sedangkan pihak yang disialisasikan juga mesti terbuka, menerima dan bersedia menyesuaikan prilakunya dengan nilai dan norma tersebut. Tanpa strategi aktif keduanya, proses sosialisasi tidak akan berlangsung dengan baik.
4. Hasil penelitian menunjukan bahwa peningkatan kedisiplinan SMA Negeri 3 Lengayang Kab. Pesisir Sealatan berdampak positif dengan baik. Artinya, mengurangi kasus siswa keluar masuk menggunakan atribut meningkat keberhasilan kedisiplinan dan mengingkatkan hasil
belajar siswa di SMA Negeri 3 Lengayang Kab. Pesisir Selatan. Bila dilihat dari perolehan skor selama satu semester tahun ajaran 2015/2016, merokok dilingkungan sekolah 75 kasus, Sering terlambat masuk sekolah tidak masuk pada jam pelajarn Melanggar tata terib sekolah 83 kasus,, Berkelahi dilingkungan sekolah Berkata-kata kotor 13 kasus,, Cabut pada waktu pelajaran berlangsung Melanggar peraturan yang diberikan sekolah 19 kasus,, Melanggar peraturan sekolah Tidak masuk sekolah tanpa keterangan 30 kasus,, Sering datang terlambat sekolah Sering meribut di kelas 54 kasus,, Malas belajar dan sering tidak mengerjakan PR atau tugas yang disuruh disekolah 11 kasus,, Terlambat masuk sekolah 43 kasus , cabut sekolah atau tidak masuk sekolah tampa keterangan 27 kasus, yang mana secara keseluruhan anak
tidak disiplin adalah 355 kasus, jadi kedisiplin siswa SMAN 3 lengayang telah meningkat ini dibuktikan dari hasil data pertama dibandingkan dengan hasil penelitian, yang melakukan kasus ringan berjumlah 702 kasus,, kasus sedang berjumlah 678 siswa dan berat berjumlah 0 (tidak ada) kasus,. Jadi dapat dilahat secara keseluruhan setelah data di tera dari 547 siswa yang melakukan kasus atau siswa yang tidak disiplin secara keseluruhan berjumlah 1380 kasus, berdasarkan jumlah keseluruhan, dibandingkan dengan hasil data setelah memakai kartu kendali siswa diperoleh data yaitu berjumlah 355 kasus, dapat disimpulkan bahwa mengunakan kartu kendali siwa dapat di gunakan sebagai alat untuk menegakan disiplin di SMA N 3 lengayang ini dibuktikan dari hasil wawancara dengan guru BK yang bernama Fani pada tanggal 28 oktober
2016. Jadi dapat sisimpulkan kartu kendali siswa bagus digunakan untuk meningkatkan kedisiplinan siswa.
Kendala dalam menggunakan kartu kendali siswa dari pihak guru adalah kurangnya kompak menjalankan peraturan, tidak semua guru peduli dengan peraturan yang telah ditetapkan, yang kedua sulitnya menyadarkan siswa yang melanggar peraturan untuk taat kepada aturan, yang ketiga faktor lingkungan di sekolah tidak mendudukung. Dari pihak siswa kurangnya kesadaran dalam menengakan aturan, siswa yang melanggar adalah siswa yang selalu melanggar aturan
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S.2002. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Pratek.
Jakarta: PT Rineka Cipta
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2010.
Metode Penelitian Pendidikan.
Bandung: PT Remaja Posdakarya Sarbaini. 2001: Perencanaan pendidikan.
Bandung. Pustaka Setia
Wahjosumidjo 1995 kepemimpinan kepala sekolah . Jakarta. Rineka Cipta.