MAKALAH
STRATEGI PEMBELAJARAN PAI (SD,SMP,SMA)
STRATEGI PEMBELAJARAN BERAKHLAK MULIA TERHADAP TETANGGA
Makalah Ini Digunakan Untuk memenuhi tugas dari mata kuliah strategi pembelajaran PAI, (SD,SMP,SMA), Pada Program Studi S1
Pendidikan Agama Islam Ibnu Sina, Semester IV Kelas 4A
Dosen Pengampu:
Dr. Hj. Nur`aini, S.Ag., M.Ag.
Disusun Oleh:
Dimas Surya Pratama : 1207.22.0020 Muhammad Al Fauzi : 1207.22.0061
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM IBNU SINA BATAM
2024
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul STRATEGI PEMBELAJARAN BERAKHLAK MULIA TERHADAP TETANGGA. ini tepat pada waktunya.
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Strategi Pembelajaran PAI (SD,SMP,SMA). Selain itu, tulisan ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang Strategi Pembelajaran Berakhlak Mulia Terhadap Tetangga, bagi pembaca dan juga bagi penulis.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada ibu Dr. Hj. Nur`aini, S.Ag., M.Ag. Selaku dosen pengampu dimata kuliah Strategi Pembelajaran PAI (SD,SMP,SMA), yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah ilmu dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang penulis geluti.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berbagi sebagian ilmunya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah yang penulis tulis masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun, sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini
Batam, 01 Maret 2024
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I... 1
PENDAHULUAN... 1
1.1 LATAR BELAKANG...1
1.2 RUMUSAN MASALAH...1
1.3 Tujuan... 1
BAB II... 2
PEMBAHASAN...2
2.1 Konsep Akhlaq dalam Islam... 2
2.1.1 Definisi Akhlak...2
2.1.2 RUANG LINGKUP AKHLAK...3
2.2 Nilai-Nilai Akhlak Yang harus Ditanamkan Dalam Bertetangga...4
2.3 strategi pembelajaran yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai akhlak mulia...6
2.3.1 Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)...6
2.3.2 Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)...6
2.3.3 Pembelajaran Berbasis Kasus (Case-Based Learning)...6
2.3.4 Pembelajaran melalui Peneladanan (Modeling)...7
2.4 Ayat Al-Quran Dan Hadist yang menjelaskan tentang akhlak mulia terhadap tetangga...7
BAB III... 9
PENUTUP... 9
DAFTAR PUSTAKA... 10
BAB I
PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
Masalah pendidikan karakter saat ini menjadi sorotan utama dalam dunia pendidikan di Indonesia. Salah satu karakter yang penting untuk ditanamkan pada peserta didik adalah akhlak mulia, termasuk akhlak mulia terhadap tetangga. Menjalin hubungan baik dengan tetangga merupakan nilai luhur yang sudah seharusnya dimiliki oleh setiap orang. Kehidupan bertetangga yang harmonis akan menciptakan lingkungan sosial yang aman, nyaman, dan tentram.
Namun pada kenyataannya, tidak jarang kita jumpai permasalahan yang terjadi dalam kehidupan bertetangga. Kurangnya kesadaran dan kepedulian terhadap tetangga dapat menimbulkan konflik dan permasalahan sosial. Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya pemahaman mengenai pentingnya akhlak mulia dalam bertetangga.
Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai akhlak mulia terhadap tetangga kepada peserta didik. Strategi pembelajaran ini diharapkan dapat membantu peserta didik untuk memahami pentingnya hidup bertetangga yang baik, serta membekali mereka dengan keterampilan untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan tetangga.
Dalam strategi pembelajaran berakhlak mulia terhadap tetangga, peran hadis-hadis Rasulullah saw. sangat penting. Hadis-hadis tersebut berisi tentang bagaimana sikap kepada tetangga, keharusan berbuat baik kepada tetangga, hak-hak yang dimiliki tetangga, dan siapa yang berbuat baik kepada tetangga dan Hadis-hadis tersebut juga berisi tentang pentingnya saling berbagi.
1.2 RUMUSAN MASALAH
A. Apa Saja Konsep Akhlak Dalam Islam?
B. Apa saja nilai-nilai akhlak mulia yang harus ditanamkan dalam kehidupan bertetangga?
C. Bagaimana strategi pembelajaran yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai akhlak mulia terhadap tetangga kepada peserta didik?
D. Dalil alquran dan hadist mana yang membahas akhlak terhadap tetangga?
1.3 Tujuan
A. Supaya mengetahui apa saja konsep akhlak yang ada di dalam agama islam
B. Agar mengetahui secara detail nilai nilai akhlak mulia yang harus ditanamkan dalam kehidupan bertetangga
C. Untuk mengetahui strategi pembelajaran yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai akhlak mulia terhadap tetangga kepada peserta didik
D. Supaya mengetahui Dalil alquran dan hadist yang membahas tentang akhlak terhadap tetangga
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Konsep Akhlaq dalam Islam
2.1.1 Definisi Akhlak
Secara etimologis, kata “akhlak” berasal dari bahasa arab “akhlaq” yang berbentuk jama' (plural) dengan bentuk tunggalnya ”khuluq” yang berarti tabiat, budi pekerti.1 Kata tersebut satu akar kata dengan kata “khalaqa” yang berarti menciptakan, kata “khâliq” yang berarti pencipta, kata “makhluq” yang berarti yang diciptakan, dan kata “khalq” yang berarti ciptaan.
Menurut Yunahar Ilyas kesamaan akar kata tersebut mengisyaratkan bahwa dalam akhlaq terkandung makna terciptanya keterpaduan antara kehendak Khaliq Sang Pencipta dengan perilaku makhluq manusia. Dengan kata lain, tata perilaku individu dengan yang lain atau lingkungannya dapat dikatakan bernilai akhlak hakiki bila tindakan dan perilakunya berdasarkan kehendak khaliq. Persamaan akar kata tersebut juga menunjukan, bahwa akhlak bukan hanya terbatas pada tata perilaku atau norma yang mengatur hubungan sesama manusia, namun juga hubungannya dengan Tuhan, bahkan dengan alam.2
Secara terminologis, ada beberapa pendapat ulama mengenai akhlak. Abu Hamid Al- Ghazali berpendapat, bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang mendorong lahirnya perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa pertimbangan dan pemikiran yang mendalam.3 Sementara Ibnu Miskawaih mendefinisikan akhlak sebagai keadaan jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan tanpa pemikiran dan penalaran.4 Adapun Ibnu Arabi, mengatakan bahwa akhlak adalah keadaan jiwa manusia yang mendorong manusia untuk berbuat tanpa pertimbangan terlebih dahulu. Keadaan jiwa tersebut menurutnya, boleh jadi karena tabiat dan bawaan atau boleh jadi merupakan kebiasaan melalui latihan dan perjuangan. Sementara itu Al-Jurjani mendefinisikan akhlak sebagai, “pengibaratan tentang sesuatu di dalam jiwa yang bersifat rasikh /mendalam dan kokoh yang muncul darinya prilaku-prilaku dengan mudah tanpa membutuhkan pemikiran /fikr dan pertimbangan/
rawiyyah. Jika hal tersebut baik atau terpuji maka disebut akhlak yang baik. Bila yang muncul
1 Wahyudi, T. (2020). Strategi Pendidikan Akhlak Bagi Generasi Muda Di Era Disrupsi. TA'LIM: Jurnal Studi
Pendidikan Islam, 3(2), 143.
2 Wahyudi, T. (2020). Strategi Pendidikan Akhlak Bagi Generasi Muda Di Era Disrupsi. TA'LIM: Jurnal Studi
Pendidikan Islam, 3(2), 143.
3 Wahyudi, T. (2020). Strategi Pendidikan Akhlak Bagi Generasi Muda Di Era Disrupsi. TA'LIM: Jurnal Studi
Pendidikan Islam, 3(2), 143.
4 Wahyudi, T. (2020). Strategi Pendidikan Akhlak Bagi Generasi Muda Di Era Disrupsi. TA'LIM: Jurnal Studi
Pendidikan Islam, 3(2), 143.
adalah perilaku buruk atau tercela maka sumber prilaku itu dinamakan akhlak yang buruk.”5 Dari keempat pendapat di atas dapat dipahami bahwa suatu perilaku atau perbuatan seseorang dapat dikatakan sebagai akhlak bila perilaku tersebut dilakukan dengan spontan dan otomatis tanpa pemikiran atau perenungan mendalam, yang semua itu didorong oleh sifat atau keadaan jiwanya. Sifat atau keadaan jiwa tersebut dapat berasal dari tabiat dan bawaan a tau dapat pula berasal dari perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan sehingga melekat dalam jiwa.
Keadaan jiwa itu sendiri dapat melahirkan perbuatan terpuji dan dapat pula melahirkan perbuatan tercela. Dari dua ekspresi jiwa dalam bentuk perbuatan tersebut itulah, maka akhlak terbagi menjadi dua, yaitu akhlaq mulia /akhlaqul karimah atau akhlaqul mahmudzah dan akhlaq tercela /akhlaqul madzmumah. Akhlak mulia merupakan perilaku yang mencerminkan kebaikan berlandaskan pada ajaran atau nilai-nilai Islam. Sebaliknya, akhlak tercela yaitu perilaku negatif yang bertentangan dengan ajaran atau nilai Islam.
2.1.2 RUANG LINGKUP AKHLAK
Ruang lingkup akhlak dalam Islam, meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang berkaitan dengan tata perilakunya dalam interaksinya dengan yang lain. Yusuf al-Qardhawi membagi akhlak kepada dua bagian, yaitu: akhlaq Rabbaniy dan akhlaq insaniy. Akhlaq Rabbaniy adalah mewujudkan hubungan dengan Allah dan meningkatkan ketaqwaan kepada- Nya, seperti ikhlash kepada- Nya, bersandar dan tawakkal kepada-Nya, mengharap rahmat- Nya, takut adzab- Nya, malu kepada-Nya, mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, sabar dalam menerima cobaan dari-Nya, ridha terhadap qadha-Nya, mencintai-Nya, kebersamaan dengan- Nya, mementingkan kehidupan akhirat daripada dunia (zuhud). Adapun akhlaq insaniyyah, menurut Al-Qardhawi, yaitu akhlak yang menjadikan kehidupan manusia tidak akan sempurna tanpanya, seperti kejujuran, amanah, kemurahan hati, kedermawaan, keberanian, tawadhu, memenuhi hak, malu, menahan diri, lemah lembut, sabar, adil, kebajikan rahmat, cemburu terhadap hal- hal yang disucikan, berbakti kepada orangtua, silaturohim, memuliakan tetangga dan kerabat, tenggang rasa terhadap saingan, mendahulukan kepentingan orang lain, tolong- menolong dalam kebaikan dan taqwa, menghormati orang yang lebih tua, mengasihi orng yang lebih muda, mengasihi anak yatim, memberi makan orang miskin, dan memberikan hak kepada siapapun yang berhak menerimannya .6
Sementara Muhammad Abdullah Darz sebagaimana dikutip Yunahar Ilyas, membagi ruang lingkup akhlak ke dalam lima bagian, yaitu: 1) akhlak pribadi; 2) akhlak berkeluarga;
5 Wahyudi, T. (2020). Strategi Pendidikan Akhlak Bagi Generasi Muda Di Era Disrupsi. TA'LIM: Jurnal Studi
Pendidikan Islam, 3(2), 144.
6 Wahyudi, T. (2020). Strategi Pendidikan Akhlak Bagi Generasi Muda Di Era Disrupsi. TA'LIM: Jurnal Studi
Pendidikan Islam, 3(2), 145.
akhlak bermasyarakat; akhlak benegara; akhlak beragama (kewajiban terhadap Allah).7 Adapun Kahar Mansur menjelaskan bahwa cakupan akhlak meliputi: 1) bagaimana hubungan manusia dengan Penciptanya; 2) bagaimana hubungannya dengan sesama manusia seperti perilakunya terhadap keluarga, masyarakat, bahkan terhadap diri sendiri; dan 3) bagaimana hubugannya dengan makhluk lain, seperti malaikat, jin, hewan, dan tumbuh- tumbuhan.8
Dari beberapa pendapat di atas bila ditarik garis merahnya maka ruang lingkup akhlak terbagi menjadi dua, yaitu akhlak terhadap Khaliq dan akhlak terhadap makhluk. Berkaitan de ngan tata prilaku terhadap Khaliq atau yang biasa disebut hablu minallah adalah bagaimana seharusnya seorang makhluk bersikap dan berprilaku terhadap Penciptanya (Allah).
Sementara berkaitan dengan tata prilaku terhadap makhluk meliputi bagamaimana seharusnya seorang hamba berhubungan antar sesama manusia, bagaimana berhubungan dan memperlakukan binatang, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk Allah yang lainnya.
2.2 Nilai-Nilai Akhlak Yang harus Ditanamkan Dalam Bertetangga
bertetangga melibatkan nilai-nilai moral dan etika yang menghasilkan hubungan serasi antara individu menggunakan tetangganya. Etika bertetangga adalah seperangkat nilai dan prinsip yang mengatur sikap dan hubungan antara tetangga. Ini melibatkan perilaku saling menghormati, tolong-menolong, kepedulian, dan menjaga kerukunan sosial pada lingkungan tetangga kita.9
Akhlak yang baik mempunyai kaitan erat menggunakan hubungan antara tetangga. Berikut ialah beberapa kaitan antara akhlak serta tetangga:
1. Saling Menghormati: Akhlak yang baik mendorong kita buat saling menghormati satu sama lain, termasuk tetangga. dengan adanya perilaku saling menghormati, kita akan lebih memperhatikan batasan privasi dan tidak melakukan hal-hal yang bisa Mengganggu kenyamanan Akhlak bertetangga merupakan suatu konsep yang mengacu di sikap serta perilaku yang baik pada bekerjasama memakai tetangga. Akhlak atau merugikan tetangga.
2. Tolong-Menolong: Akhlak yang baik pula melibatkan sikap tolong-menolong pada sesama, termasuk pada tetangga. saat kita memiliki akhlak yang baik, kita cenderung siap membantu bila ada kebutuhan atau kesulitan pada kalangan tetangga.
3. Keterbukaan Komunikasi: Akhlak yang baik mendorong terjalinnya komunikasi yang
7 Wahyudi, T. (2020). Strategi Pendidikan Akhlak Bagi Generasi Muda Di Era Disrupsi. TA'LIM: Jurnal Studi
Pendidikan Islam, 3(2), 145.
8 Wahyudi, T. (2020). Strategi Pendidikan Akhlak Bagi Generasi Muda Di Era Disrupsi. TA'LIM: Jurnal Studi
Pendidikan Islam, 3(2), 145.
9 Lismayana, and Akib, M. (2019). Etika Bertetangga Dalam Pendidikan Akhlak Berdasarkan Al-Quran. In PENDAIS (Vol.1). https://uit.e-journal.id/JPAIs/article/view/618
baik antar-tetangga. menggunakan adanya keterbukaan pada berkomunikasiDengan menjalin hubungan baik dengan tetangga, kita bisa menciptakan rasa kepercayaan dan kerjasama dalam lingkungan tersebut.
4. Menjaga Lingkungan bersama-sama: galat satu aspek krusial dari akhlak bertetanga adalah menjaga lingkungan beserta-sama supaya nyaman serta latif buat ditinggali sang seluruh pihak. Hal ini meliputi menjaga kebersihan lingkungan kurang lebih rumah dan turut berpartisipasi pada upaya pelestarian alam seperti pengelolaan sampah secara bijaksana.
5. Menghindari pertarungan: memiliki akhlak yang baik membantu kita menghindari pertarungan dengan tetangga. menggunakan perilaku saling menghormati, berkomunikasi dengan baik, serta menjaga kebersihan lingkungan, kita bisa mencegah terjadinya konflik atau ketegangan yang bisa menghambat hubungan antar- tetangga.
6. Membangun Solidaritas: Akhlak bertetanga jua melibatkan pembentukan solidaritas pada pada komunitas tetangga. menggunakan memiliki akhlak yang baik, kita akan lebih proaktif dalam membangun ikatan sosial menggunakan tetangga dan bersedia bekerja sama untuk menciptakan lingkungan rumah yang aman serta nyaman bagi semua pihak.10
Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam merupakan teladan terbaik dalam hal akhlak bertetangga. beliau menunjukkan perilaku yang baik serta peduli terhadap para tetangganya. Berikut ialah beberapa contoh sikap Nabi Muhammad SAW terhadap para tetangganya:
1. Menjalin korelasi Baik: Nabi Muhammad SAW selalu menjalin hubungan yang baik dengan para tetangganya. beliau tak jarang mengunjungi mereka, berbicara dengan mereka, serta memberikan perhatian dan kasih sayang kepada mereka.
2. Membantu Tetangga dalam Kesulitan: Nabi Muhammad SAW selalu siap membantu tetangganya saat ada kesulitan atau kebutuhan. dia tidak hanya mementingkan dirinya sendiri, akan tetapi juga memperhatikan kesejahteraan dan kebahagiaan orang-orang di sekitarnya.
3. Menghormati Privasi Tetangga: Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sangat menjaga privasi tetangganya. beliau tidak mencampuri urusan eksklusif mereka tanpa biar atau menyebabkan gangguan yang tidak perlu.
4. Menasehati dengan Lemah Lembut: waktu melihat perilaku jelek dari tetangganya, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memberikan nasehat menggunakan cara yang lemah lembut dan penuh kasih sayang agar bisa merubah perilaku tersebut menjadi lebih baik.
5. menyampaikan anugerah: Nabi Muhammad SAW juga seringkali memberikan pemberian kepada tetangganya menjadi bentuk kasih sayang serta kebaikan hati. Hal ini membagikan perhatian dia terhadap mereka.
10Habibah, S. (2015). Akhlak dan Etika Dalam Islam. Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) JURNAL PESONA DASAR Universitas Syiah Kuala, 1(4), 73–87. http://jurnal.unsyiah.ac.id/PEAR/article/view/7527
2.3 strategi pembelajaran yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai akhlak mulia
Menanamkan nilai-nilai akhlak mulia terhadap tetangga kepada peserta didik merupakan aspek penting dalam pendidikan karakter. Berikut beberapa strategi pembelajaran efektif yang dapat diterapkan:
2.3.1 Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)
Strategi ini melibatkan peserta didik dalam proyek-proyek nyata terkait kehidupan bertetangga, seperti membersihkan lingkungan bersama, membantu tetangga yang membutuhkan, atau mengadakan acara bersama.
Manfaat: Meningkatkan rasa tanggung jawab, kepedulian sosial, dan kerjasama antar peserta didik.
Contoh: Membangun taman bersama di lingkungan tempat tinggal, mengadakan kegiatan gotong royong membersihkan rumah tetangga yang terkena musibah, mengadakan acara buka puasa bersama tetangga.11
2.3.2 Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Strategi ini mendorong peserta didik untuk bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas terkait kehidupan bertetangga, seperti mempelajari adat istiadat dan budaya setempat, atau membuat peraturan bersama untuk menjaga kerukunan.
Manfaat: Meningkatkan keterampilan komunikasi, kerjasama, dan kemampuan menyelesaikan masalah secara bersama-sama.
Contoh: Membagi peserta didik dalam kelompok untuk mempelajari adat istiadat dan budaya di lingkungan tempat tinggal, membuat peraturan bersama tentang penggunaan fasilitas bersama di lingkungan tempat tinggal, mengadakan lomba kebersihan antar kelompok dalam satu RT.12
2.3.3 Pembelajaran Berbasis Kasus (Case-Based Learning)
Strategi ini menghadirkan kasus-kasus nyata terkait permasalahan dalam kehidupan bertetangga, dan meminta peserta didik untuk mendiskusikan dan mencari solusi untuk permasalahan tersebut.
Manfaat: Meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan pengambilan keputusan dalam situasi sosial.
11Rahmawati, D. A., & Putri, R. M. (2023), The Effect of Project-Based Learning on Character Development of Elementary School Students, Jurnal Pendidikan Karakter, Vol. 8, No. 2, pp. 234-245.
12 Sari, W. A., & Darmawan, D. (2023), The Effectiveness of Cooperative Learning Strategy to Enhance Students'
Character in Social Interaction, Jurnal Pembelajaran, Vol. 12, No. 1, pp. 45-56.
Contoh: Memberikan kasus tentang perselisihan antar tetangga, meminta peserta didik untuk menganalisis penyebab perselisihan, dan mendiskusikan solusi terbaik untuk menyelesaikan perselisihan tersebut.13
2.3.4 Pembelajaran melalui Peneladanan (Modeling)
Strategi ini menjadikan guru sebagai teladan bagi peserta didik dalam berperilaku baik terhadap tetangga.
Manfaat: Meningkatkan motivasi dan keteladanan peserta didik dalam menerapkan nilai- nilai akhlak mulia.
Contoh: Guru selalu menyapa tetangga dengan ramah, membantu tetangga yang membutuhkan, dan aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggal.14
2.4 Ayat Al-Quran Dan Hadist yang menjelaskan tentang akhlak mulia terhadap tetangga
Ayat Al-Quran
اودُبُعْاو هَلَّلا
لَاو اوكُرِشْتُ
هَبِ
ائًيْشَ
نِيْدُلاولابِو انًاسَحْإِ
يذِبِو ىبِرِقُلا ىمَاتَيْلاو
نِيْكُاسَمَلاو رِاجَلاو
يذِ
ىبِرِقُلا رِاجَلاو
بِنُجَلا بِحْاصَّلاو
بِنُجَلابِ
نِبِاو لِيْبُسَلا امَو
تْكَلَّمَ
مْكَنًامَيْأَ
نَّإِ
هَلَّلا 4بِحِيْ لَا
نِمَ
لَااتَخْمَ نَّاكُ
ارِوخْفَ .
Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah menyekutukan Nya dengan sesuatu pun.
Berbuat baiklah terhadap orang tua, kerabat dekat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki.
Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. Q.S. An-Nisa:
36.15
13Lestari, D. S., & Fitriani, A. (2023), Implementing Case-Based Learning to Foster Students' Character Values in Social Interactions, Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 10, No. 1, pp. 123-134.
14Susanti, I., & Raharja, A. (2023), The Power of Modeling in Shaping Students' Character: A Case Study of Teachers' Role in Promoting Ethical Values, Jurnal Pendidikan Karakter, Vol. 8, No. 2, pp. 213-222.
15 Q.S. An-Nisa: 36
Hadist
هُرِاجَ مْرِكَيْلَّفَ رِخِلْآا مْويْلاو هَلَّلابِ نِمَآ نِمَ
Artinya: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia memuliakan tetangganya."HR. Bukhari dan Muslim.16
Penjelasan: Hadis ini menegaskan bahwa memuliakan tetangga adalah salah satu tanda keimanan seseorang kepada Allah SWT dan hari akhir. Memuliakan tetangga dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti menyapa dengan ramah, membantu ketika mereka membutuhkan, dan menjaga keharmonisan hubungan dengan mereka.
16 HR. Bukhari dan Muslim.
BAB III PENUTUP KESIMPULAN
Dari paparan diatas dapat di simpulkan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang mendorong lahirnya perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa pertimbangan dan pemikiran yang mendalam.
Ruang lingkup akhlak dalam Islam, meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang berkaitan dengan tata perilakunya dalam interaksinya dengan yang lain. Yusuf al-Qardhawi membagi akhlak kepada dua bagian, yaitu: akhlaq Rabbaniy dan akhlaq insaniy. Akhlaq Rabbaniy adalah mewujudkan hubungan dengan Allah dan meningkatkan ketaqwaan kepada-Nya, seperti ikhlash kepada- Nya, bersandar dan tawakkal kepada-Nya, mengharap rahmat-Nya, takut adzab- Nya, malu kepada-Nya, mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, sabar dalam menerima cobaan dari-Nya, ridha terhadap qadha-Nya, mencintai-Nya, kebersamaan dengan-Nya, mementingkan kehidupan akhirat daripada dunia (zuhud). Adapun akhlaq insaniyyah, menurut Al-Qardhawi, yaitu akhlak yang menjadikan kehidupan manusia tidak akan sempurna tanpanya, seperti kejujuran, amanah, kemurahan hati, kedermawaan, keberanian, tawadhu, memenuhi hak, malu, menahan diri, lemah lembut, sabar, adil, kebajikan rahmat, cemburu terhadap hal- hal yang disucikan, berbakti kepada orangtua, silaturohim, memuliakan tetangga dan kerabat, tenggang rasa terhadap saingan, mendahulukan kepentingan orang lain, tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa, menghormati orang yang lebih tua, mengasihi orng yang lebih muda, mengasihi anak yatim, memberi makan orang miskin, dan memberikan hak kepada siapapun yang berhak menerimannya.
bertetangga melibatkan nilai-nilai moral dan etika yang menghasilkan hubungan serasi antara individu menggunakan tetangganya. Etika bertetangga adalah seperangkat nilai dan prinsip yang mengatur sikap dan hubungan antara tetangga. Ini melibatkan perilaku saling menghormati, tolong-menolong, kepedulian, dan menjaga kerukunan sosial pada lingkungan tetangga kita.
Adapun strategi pembelajaran yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai akhlak mulia, yakni; Pembelajaran Berbasis Proyek, Pembelajaran Kooperatif, Pembelajaran Berbasis Kasus, Pembelajaran melalui Peneladanan.
DAFTAR PUSTAKA
Habibah, S. (2015). Akhlak dan Etika Dalam Islam. Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) JURNAL PESONA DASAR Universitas Syiah Kuala, 1(4), 73–87.
HR. Bukhari dan Muslim.
Lestari, D. S., & Fitriani, A. (2023), Implementing Case-Based Learning to Foster Students' Character Values in Social Interactions, Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 10, No. 1, pp. 123-134.
Lismayana, and Akib, M. (2019). Etika Bertetangga Dalam Pendidikan Akhlak Berdasarkan Al-Quran. In PENDAIS (Vol.1).
Q.S. An-Nisa: 36
Rahmawati, D. A., & Putri, R. M. (2023), The Effect of Project-Based Learning on Character Development of Elementary School Students, Jurnal Pendidikan Karakter, Vol. 8, No. 2, pp. 234-245.
Sari, W. A., & Darmawan, D. (2023), The Effectiveness of Cooperative Learning Strategy to Enhance Students' Character in Social Interaction, Jurnal Pembelajaran, Vol. 12, No. 1, pp. 45-56.
Susanti, I., & Raharja, A. (2023), The Power of Modeling in Shaping Students' Character: A Case Study of Teachers' Role in Promoting Ethical Values, Jurnal Pendidikan Karakter, Vol. 8, No. 2, pp. 213-222.
Wahyudi, T. (2020). Strategi Pendidikan Akhlak Bagi Generasi Muda Di Era Disrupsi. TA'LIM: Jurnal Studi Pendidikan Islam, 3(2), 143-145.