• Tidak ada hasil yang ditemukan

strategi pembelajaran dalam mengatasi - IAIN Repository

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "strategi pembelajaran dalam mengatasi - IAIN Repository"

Copied!
165
0
0

Teks penuh

Penelitian dalam tesis ini dilatarbelakangi oleh fenomena adanya indikasi penyimpangan siswa yang terjadi di SMPN 1 Sendang Agung Lampung Tengah. Fokus penelitian dalam tesis ini adalah: 1) apa saja bentuk-bentuk penyimpangan siswa di SMPN 1 Sendang Agung Lampung Tengah. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif lapangan yang bertempat di SMPN 1 Sendang Agung Lampung Tengah.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Siswa pada usia remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan dewasa yaitu antara 13 sampai 21 tahun 6 Setiap orang pernah mengalami masa remaja dalam hidupnya. Pada masa transisi, siswa pada masa remajanya bukan lagi anak-anak dan juga bukan orang dewasa. Mengingat masa remaja merupakan masa yang penting karena masa remaja memiliki makna jangka panjang bagi masa depannya. Oleh karena itu peneliti dapat melihat lebih dekat pada strategi yang digunakan untuk mengatasi penyimpangan siswa.

Pertanyaan Penelitian

Di sisi lain, karena lokasi penelitian merupakan lembaga pendidikan yang unggul, dan telah mengalami perkembangan yang cukup serta mampu bersaing dengan lembaga pendidikan yang sederajat, maka siswa dapat meraih prestasi yang baik dengan mengikuti Olimpiade yang diadakan oleh sekolah tersebut. Institusi, selain itu peneliti berupaya untuk mengetahui bagaimana strategi guru dalam mengatasi penyimpangan pada remaja, agar anak tidak lagi dicap menyimpang, karena anak yang dicap menyimpang juga mempengaruhi psikologi anak.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kajian dan strategi pembelajaran untuk mengatasi kecemasan siswa usia dini. Selain khazanah keilmuan dalam mutu pendidikan Islam khususnya mengenai strategi pembelajaran mengatasi gejolak di usia remaja awal peserta didik. Sebagai informasi bagi guru dan siswa serta masyarakat tentang pentingnya strategi guru untuk mencegah gejala remaja atau siswa dini agar mereka bisa lebih saleh dan berakhlak mulia.

Penelitian Terdahulu yang Relevan

Skripsi (Nina Unun Yulista) Program Pascasarjana (PPS) IAIN Bandar Lampung berjudul: Upaya Sekolah Mengatasi Kenakalan Remaja di SMP N 1 Bandar Lampung T.P. Skripsi ini menjelaskan tentang kenakalan remaja dan alternatif solusi upaya untuk mengurangi tingkat penyimpangan atau pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian siswa dengan melaksanakan program pembinaan keagamaan untuk mengatasi tingkat kenakalan siswa secara individu, dan penulis mengacu pada peran guru pendidikan agama Islam dalam ini. memerangi kenakalan remaja., khususnya dalam pengajaran tajwid Al-Qur'an, menahan BTA tambahan dan juga memberikan bimbingan dan penyuluhan. Namun, belum ada gambaran tentang bentuk-bentuk kenakalan yang terjadi di kalangan siswa. 12Nina Unun Yulista PPS IAIN Bandar Lampung, Upaya Sekolah Mengatasi Kenakalan Remaja Di SMP N 1 Bandar Lampung Tahun 2011.

Penyimpangan Peserta Didik di Usia Remaja 1. Pengertian Peserta Didik

  • Penyebab Penyimpangan Peserta Didik
  • Bentuk- Bentuk Penyimpangan Peserta Didik
  • Tugas Guru
  • Peran Guru

Penyimpangan siswa harus terlihat melalui tindakan atau perilaku yang bertentangan dengan hukum yang berlaku dan nilai atau norma sosial yang ada. Penyimpangan adalah penyimpangan yang dilakukan oleh mereka yang berusia antara 13-17 tahun ke atas dan belum menikah. Bentuk-bentuk penyimpangan pelajar muda yang melanggar Undang-Undang dan KUHP yaitu: Perjudian dalam segala bentuknya (pasal 554 KUHP), pencurian dengan kekerasan atau tanpa kekerasan (pasal 362-367 KUHP), penggelapan barang (pasal 372-377 KUHP), percobaan pembunuhan atau kematian orang, pembunuhan (pasal 338-345 KUHP), suka mengganggu ketertiban umum, ngebut di jalan raya (pasal 503-KUHP) ), perbuatan anti sosial: perbuatan yang merusak harta benda orang lain (pasal 489 KUHP), aborsi (pasal 346-348 KUHP), penipuan dan pemalsuan (pasal 378-395 KUHP), penganiayaan berat mengakibatkan kematian (Pasal 351-358 KUHP), pelanggaran kesusilaan melalui penjualan gambar porno, film porno, pemerkosaan (Pasal 533-547 KUHP). 32. Guru sebagai panutan dan panutan adalah panutan atau panutan bagi siswa dan setiap orang yang menganggapnya sebagai guru.

Strategi Pembelajaran dalam Mengatasi Penyimpangan Peserta Didik 1. Pengertian Strategi

  • Strategi Penanganan Terhadap Masalah Penyimpangan Peserta Didik Penyimpangan peserta didik apapun mempunyai akibat yang negatif Penyimpangan peserta didik apapun mempunyai akibat yang negatif
  • Mengatasi Penyimpangan Peserta Didik Melalui Pendekatan Teknik Teknik
  • Usaha Pembinaan Peserta Didik di Usia Remaja
  • Tindakan Preventif
  • Tindakan Represif
  • Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi

Menurut M. Arifin pencegahan penyimpangan siswa pada masa remaja dapat dibedakan menjadi pencegahan umum dan pencegahan khusus51. A. Apa yang siswa lihat, dengar, rasakan sejak kecil akan mempengaruhi perkembangan mentalnya. Kontrak adalah cara mengatur kondisi sehingga siswa menunjukkan perilaku yang diinginkan berdasarkan kontrak antara siswa dan guru.

Eliminasi adalah cara menghentikan penguatan perilaku yang sebelumnya diberikan penguatan. Out adalah teknik menyisihkan kesempatan bagi siswa untuk menerima penguatan positif. Kejenuhan adalah cara membuat siswa kesal terhadap suatu perilaku yang tidak diinginkan sehingga siswa tidak melakukannya lagi. Upaya pembinaan ini dilakukan agar anak tidak lagi melakukan penyimpangan dan kembali menjadi siswa yang baik dan bertanggung jawab.

Upaya pencegahan penyimpangan remaja melalui moralitas difokuskan pada pembinaan moral dan pembinaan kekuatan mental siswa. Masalah penyimpangan siswa merupakan bagian dari masalah sosial yang dihadapi masyarakat dan telah lama menjadi bahan pemikiran. Upaya tersebut antara lain kerjasama dengan orang tua yaitu pemanggilan wali, kunjungan ke rumah siswa.

Hubungan yang baik antara orang tua dan siswa akan membantu untuk mempromosikan siswa tersebut.

Jenis dan sifat Penelitian

Peneliti diharapkan mampu memahami fenomena yang terjadi kemudian menangkap makna dibalik gejala yang ada. Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan, dalam metode ini diperlukan langkah-langkah yang sistematis, perencanaan menurut konsep alam Sistematis artinya penelitian ini dilakukan menurut kerangka tertentu, dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks sehingga tujuan tercapai secara efektif dan efisien tercapai.Kegiatan penelitian selalu mengikuti metode yang telah ditetapkan dari awal sampai akhir, yaitu berupa prinsip-prinsip yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan.

Sumber Data

  • Sumber Data Tambahan (Sekunder)

Kemudian pendapat lain menjelaskan bahwa “berdasarkan sumber tertulis dapat dibedakan menjadi sumber dari buku dan jurnal ilmiah, sumber data dari arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi”. Data sekunder dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dengan tokoh masyarakat dan lingkungan sekitar SMPN 1 Sendang Agung Lampung Tengah. Dan materi atau sumber terkait strategi guru dalam mencegah kenakalan remaja di SMPN 1 Sendang Agung Lampung Tengah.

Metode Pengumpulan Data

  • Metode Observasi
  • Metode Wawancara ( Interview)
  • Metode Dokumentasi

Pengamatan ilmiah tidak dilakukan secara sembarangan dalam upaya mendekati situasi dan objek, tetapi semua pelaksanaannya dilakukan secara sistematis dan terencana. Dalam metode ini peneliti menggunakan teknik observasi langsung yaitu dengan mencatat dan mengamati secara langsung kegiatan yang berkaitan dengan penyimpangan remaja. Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dengan bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab.

Wawancara atau wawancara dapat diartikan sebagai suatu proses tanya jawab secara lisan antara dua orang atau lebih secara langsung maupun tidak langsung, yang berlangsung secara sistematik dan satu arah. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur dengan perencanaan, dimana peneliti menggunakan pedoman wawancara yang disusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan data. Wawancara terstruktur ini digunakan untuk mewawancarai guru dan siswa kelas VIII. Namun disini peneliti juga menggunakan metode wawancara tidak terstruktur yaitu wawancara bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang tersusun rapi 82.

Metode dokumentasi adalah metode penelitian yang membahas hal-hal atau variabel berupa catatan, transkrip, buku, agenda, entri, dll.83 Metode dokumentasi juga dapat diartikan sebagai metode pengumpulan data dengan menggunakan dokumen-dokumen yang ada, dokumen-dokumen di arti sempit, foto, peta dll. Untuk penelitian ini monografi SMPN 1 Sendang Agung, Lampung Tengah digunakan untuk memperoleh informasi tentang wilayah tempat penelitian termasuk sejarahnya.

Teknik Penjaminan Keabsahan Data

Menurut Patton, triangulasi dengan sumber berarti “membandingkan dan memeriksa tingkat kepercayaan informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif”. Sedangkan triangulasi dengan metode menurut Patton terdapat dua strategi yaitu (1) pengecekan derajat kepercayaan hasil penelitian dari beberapa teknik pengumpulan data dan (2) pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan menggunakan teknik yang sama. metode. Dengan teknik triangulasi dengan sumber, peneliti membandingkan hasil wawancara yang diperoleh dari masing-masing sumber atau informan penelitian sebagai pembanding untuk mengecek kebenaran informasi yang diperoleh. Selain itu peneliti juga melakukan pengecekan derajat kepercayaan melalui teknik triangulasi dengan metode yaitu dengan mengecek hasil teknik pengumpulan data yang berbeda yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi, sehingga derajat kepercayaan data dapat valid.

Teknik Analisis Data

Peneliti melakukan pencatatan data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, yaitu catatan lapangan yang berkaitan dengan pertanyaan atau tujuan penelitian. Proses analisis data diawali dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Langkah ini terkait erat dengan proses pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data mentah yang diperoleh dari hasil penelitian.

Bentuk penyajian data yang biasa digunakan dalam penelitian kualitatif adalah teks naratif yang merinci hasil penelitian. Proses pemilihan data akan difokuskan pada data yang mengarah pada pemecahan masalah, penemuan, pemaknaan, atau menjawab pertanyaan penelitian. Dalam pengertian ini, analisis data kualitatif adalah upaya yang berkelanjutan, berulang, dan berkesinambungan. Masalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi menjadi gambaran keberhasilan yang berurutan sebagai rangkaian kegiatan analisis yang saling mengikuti. dua hal lainnya selalu menjadi bagian dari lapangan.

Deskripsi Lokasi Penelitian

  • Sejarah Singkat Berdirinya SMPN 1 Sendang Agung, Lampung Tengah

Data siswa SMPN 1 Sendang Agung Lampung Tengah tahun ajaran 2018/2019 mencapai sebanyak 352 orang dengan rincian kelas VII sebanyak 32 orang, kelas VII b sebanyak 30 orang, kelas VII c sebanyak 30 orang orang, kelas VII d sebanyak 28 orang, kelas VII VIII a sebanyak 30 orang, kelas VIII b sebanyak 29 orang, kelas VIII c sebanyak 31 orang, kelas VIIId sebanyak 30 orang, kelas IX sebanyak 28 orang orang, kelas IX b sebanyak 26 orang, kelas IX c sebanyak 30 orang, kelas IX d sebanyak 28 orang.

  • Struktur Kepengurusan Guru SMPN 1 Sendang Agung, Lampung Tengah
    • Bentuk-bentuk Penyimpangan Peserta Didik Yang Terjadi di SMPN 1 Sendang Agung, Lampung Tengah
  • Faktor- Faktor yang Meyebabkan Munculnya Penyimpangan Peserta Didik di SMPN 1 Sendang Agung, Lampung Tengah
  • Strategi Pembelajaran dalam mengatasi Penyimpangan Peserta Didik di SMPN 1 Sendang Agung,Lampug Tengah
  • KESIMPULAN
  • SARAN

Bentuk-Bentuk Anomali Murid Yang Terjadi Di SMPN 1 Sendang Agung Lampung Tengah Sendang Agung Lampung Tengah. Beberapa bentuk penyimpangan siswa yang merupakan norma agama atau sosial adalah: Pelanggaran yang melanggar aturan agama yaitu miras. Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan adanya penyimpangan siswa SMPN 1 Sendang Agung Lampung Tengah.

Siswa yang melakukan pelanggaran akan mendapatkan hukuman sesuai dengan tingkatan perilaku yang dilakukan oleh siswa. Faktor-Faktor Penyebab Penyimpangan Siswa SMPN 1 Sendang Agung Lampung Tengah Siswa SMPN 1 Sendang Agung Lampung Tengah. Strategi Pembelajaran Mengatasi Kejanggalan Siswa di SMPN 1 Sendang Agung Lampung Tengah SMPN 1 Sendang Agung Lampung Tengah.

Tindakan preventif, yaitu segala tindakan yang ditujukan untuk mencegah timbulnya penyimpangan-penyimpangan murid yang akan timbul. Ada beberapa siswa di kantin, meskipun ada jam pelajaran saat itu. Berinteraksi dengan siswa secara otomatis memberlakukan tata tertib sekolah.108 Seperti yang disampaikan oleh Wakil Presiden Bidang Kemahasiswaan sebagai berikut.

Berdasarkan hasil penelitian tentang strategi pembelajaran dalam mengatasi penyimpangan siswa di SMPN 1 Sendang Agung Lampung Tengah dapat disimpulkan sebagai berikut. Bentuk penyimpangan siswa di SMPN 1 Sendang Agung Lampung Tengah adalah pelanggaran yang melanggar aturan hukum, pelanggaran yang melanggar norma agama/sosial, dan pelanggaran yang melanggar tata tertib sekolah. Willis, Pemuda dan Permasalahannya, (Bandung: Alfabet Masalah Pemuda dan Solusinya, (Bandung: Angkasa, 2013) Sudarwan Danim, Pengembangan Kesiswaan (Bintang, (Bandung 2000.

Referensi

Dokumen terkait

Dari penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Aktivitas guru dalam menerapkan model Problem Based Learning dengan strategi