PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Faktor apa saja yang menentukan strategi Pemerintah Kabupaten Bombana dalam pemulihan pertambangan bagi Pemegang Izin Usaha Pertambangan di Kabupaten Bombana?
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Pengelolaan Pertambangan
Fokus penelitian ini adalah strategi pemulihan pertambangan yang dilakukan pemerintah daerah terhadap pemegang izin pertambangan di wilayah Bombana. Faktor internal adalah kondisi internal pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kabupaten Bombana yang dapat mempengaruhi pengurusan janji para pemegang izin pertambangan (IUP). Tugas pokok Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bombana (Distamben) adalah membantu bupati dalam melaksanakan kewenangan otonomi daerah dalam pelaksanaan tugas desentralisasi dan dekonsentrasi bidang pertambangan.
Faktor-Faktor Penentu Strategi Pemerintah Kabupaten Bombana Dalam Reklamasi Tambang Bagi Pemegang Izin Usaha Pertambangan Dalam Reklamasi Tambang Pemegang Izin Usaha Pertambangan. Strategi Pemerintah Kabupaten Bombana dalam hal ini Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) merupakan arah dan sasaran gerak Distamben untuk mewujudkan pemulihan pertambangan bagi pemegang Izin Usaha Pertambangan. Kewenangan Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bombana untuk mewajibkan reklamasi bagi pemegang IUP merupakan peraturan perundang-undangan yang mewajibkan pemegang IUP untuk melakukan reklamasi dan pascatambang.
Hasil penelitian penulis menunjukkan bahwa kekuatan Distamben Kabupaten Bombana dalam mewajibkan daur ulang bagi pemegang IUP adalah adanya undang-undang dan peraturan pemerintah lainnya mengenai daur ulang dan pascatambang serta etos kerja yang sangat baik dari pegawai Sektor Pertambangan Umum. . Kepala Dinas Pengawasan Pertambangan mengungkapkan kelemahan Distamben Kabupaten Bombana dalam upaya mewajibkan pemegang IUP untuk melakukan kegiatan daur ulang seperti yang dikutip penulis sebagai berikut:. Kelemahan Distamben Kabupaten Bombana adalah belum menunjuk pejabat fungsional inspektur pertambangan yang mempunyai kewenangan mengawasi kegiatan reklamasi pemegang IUP yang dapat langsung menghentikan kegiatan pertambangan yang tidak sesuai peraturan perundang-undangan.
Beliau sewaktu-waktu turun langsung ke lapangan atas perintah pimpinan.” (Wawancara dengan FH, 15 Juli 2015) Dari petikan wawancara di atas diketahui kelemahan Distamben Kabupaten Bombana yang memerlukan pemulihan pascatambang. Pemegang IUP, adalah tidak mempunyai Inspektur Tambang yang fungsional. Berdasarkan hasil penelitian, penulis mengambil kesimpulan bahwa kelemahan Distamben Kabupaten Bombana dalam pemulihan pascatambang bagi pemegang IUP adalah pertama tidak memiliki inspektur pertambangan fungsional, yang kedua adalah buruknya pengawasan terhadap kegiatan daur ulang, ketiga kurangnya sumber daya aparat Distamben Kabupaten Bombana, keempat perkiraan dana jamrek yang tidak strategis, kelima yaitu tidak adanya koordinasi dengan instansi terkait dalam hal pengendalian dampak lingkungan dari kegiatan pertambangan melalui daur ulang Setelah menganalisis lingkungan eksternal, Anda akan mengetahui peluang apa saja yang dimiliki suatu organisasi, termasuk Distamben Kabupaten Bombana.
Tantangan lain bagi Distamben Bombana adalah terdapat sekitar 80 pemegang Izin Usaha Pertambangan yang tersebar di wilayah Kabupaten Bombana. SWOT dapat digunakan oleh organisasi manapun, termasuk organisasi pemerintah seperti Dinas Pertambangan Kabupaten Bombana (Distamben). Faktor Penentu Strategi Pemerintah Kabupaten Bombana dalam Reklamasi Tambang Bagi Pemegang Izin Usaha Pertambangan.
Konsep Reklamasi Tambang
Kerangka Pikir
Alasan dipilihnya lokasi tersebut karena Distamben merupakan SKPD yang bertanggung jawab atas pengelolaan tambang di Kabupaten Bombana. Kabupaten Bombana merupakan salah satu daerah Tingkat II di Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia, dengan ibu kota Rumbia, dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Bombana, Kabupaten Wakatobi, dan Kabupaten Kolaka Utara di Provinsi Sulawesi Tenggara pada tanggal 18 Desember 2003 yang merupakan hasil pemekaran Kabupaten Buton. Kabupaten Bombana dahulunya merupakan bagian dari Wilayah Pemerintahan Kabupaten Buton, namun pada tahun 2003 daerah ini resmi ditetapkan menjadi daerah otonom.
Pada tahun 2005 terdapat 67 desa dan 12 kelurahan di Kabupaten Bombana, dengan klasifikasi 28 desa/kelurahan atau 35,44 persen sebagai desa swadaya, 25 desa/kelurahan atau 31,65% sebagai desa swadaya, dan 26 desa/kelurahan termasuk kriteria desa mandiri. Di Kabupaten Bombana pada tahun 2005 terdapat 1 rumah sakit umum, kemudian 5 unit puskesmas yang tersebar di 5 kecamatan 7 kecamatan, 34 puskesmas kecamatan, 7 unit puskesmas keliling roda 4, 1 unit perahu. puskesmas keliling dan 1 Posyandu berjumlah 180 unit. Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bombana (Distamben) adalah Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bombana (Distamben) yang merupakan instansi teknis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bombana yang membawahi bidang pertambangan sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bombana Nomor 22 Tahun 2012 tentang Kedudukan. . tugas pokok, fungsi dan tata kerja Distamben Kabupaten Bombana.
Visi Distamben Kabupaten Bombana adalah : “mewujudkan pembangunan sektor pertambangan dan energi yang menghasilkan nilai tambah sebagai sumber kesejahteraan rakyat melalui pembangunan berkelanjutan, ramah lingkungan, adil, transparan, efisien dan bertanggung jawab”. Dalam upaya mewujudkan visi dan misi serta mengacu pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, Distamben Kabupaten Bombana telah merumuskan secara rinci beberapa kebijakan mengenai sasaran dan sasaran strategis yang ingin dicapai sebagai berikut. Hasil penelusuran media online Sultralive.com pada pemberitaan 12 Februari 2015 terungkap salah satu perusahaan tambang di Pulau Kabaena Kabupaten Bombana bernama PT.
Alamhariq diberhentikan sementara oleh Distamben Kabupaten Bombana melalui surat bernomor pada akhir Januari 2015 karena melakukan sejumlah pelanggaran fatal, mulai dari tidak membayar dana jaminan reklamasi. “Apalagi perusahaan ini sudah beberapa kali mendapat teguran dari pemerintah daerah atas pelanggarannya, termasuk perusahaan ini tidak punya gasing.” (Wawancara dengan ST, 24 Juli 2015) Kurangnya kepatuhan pemegang IUP di wilayah Bombana ditunjukkan dengan ditemukannya berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh salah satu pemegang IUP tersebut di atas. Tidak menutup kemungkinan masih ada pemegang IUP lain yang melakukan pelanggaran namun hal tersebut tidak diketahui Divisi Tamben mengingat jumlah pemegang IUP tidak sedikit dan tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Bombana.
Untuk itu Pemerintah Daerah Kabupaten Bombana dituntut keseriusan dalam pengelolaannya, mulai dari perencanaan strategis dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang ada di dalam organisasi pemerintah maupun di luar organisasi pemerintah, hingga dapat menentukan strategi yang tepat.
Fokus Penelitian
Deskripsi Fokus Penelitian
METODE PENELITIAN
- Jenis dan Tipe Penelitian
- Sumber Data
- Informan Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Pengabsahan Data
Kabupaten Bombana terletak di semenanjung tenggara Pulau Sulawesi, secara geografis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, memanjang dari utara ke selatan antara garis lintang selatan dan memanjang dari barat ke timur antara garis bujur timur. Kekuatan utama Distamben Bombana yang menuntut reklamasi bagi pemegang IUP adalah peraturan perundang-undangan mengenai pertambangan, termasuk reklamasi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Profil Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bombana
(3) Penyediaan data dan informasi potensi pertambangan dan energi yang akurat; (4) Mengembangkan ketentuan kebijakan dan meningkatkan pengelolaan pertambangan dan energi;
Faktor-Faktor dalam Penentuan Strategi Pemerintah Kabupaten Bombana
- Faktor Internal
- Faktor Eksternal
“Apabila pemegang IUP melanggar kewajiban pemulihan, kami dapat mengambil tindakan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.” Sebelumnya, Distamben dapat menghentikan sementara kegiatan pertambangan bagi pemegang IUP apabila telah memberikan sanksi administratif tertulis kepada pemegang IUP berupa teguran. wawancara SH, 14 Juli 2015). Distamben terkait kegiatan reklamasi yang dilakukan oleh. Pemegang IUP menjadi salah satu kelemahan Distamben, seperti yang diungkapkan informan berikut ini:.
“Kelemahan pemerintah daerah adalah penetapan dana reklamasi bagi pemegang IUP tidak dibarengi dengan kajian strategis sebelumnya, sehingga tidak heran jika banyak reklamasi yang tidak terlaksana dengan baik. Ketika dana royalti yang dibayarkan oleh pemegang IUP tidak ditentukan dengan perhitungan strategis, maka dikhawatirkan ketika pemerintah harus melakukan kegiatan reklamasi yang tidak sempat dilakukan oleh perusahaan tambang tersebut, maka dana royalti yang ada tidak mampu menutupinya. seluruh biaya kegiatan reklamasi. Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya menunjuk teknisi pertambangan yang berpengalaman untuk melakukan kajian strategis sebelum mengalokasikan dana jamrek kepada pemegang IUP.
BLH merupakan badan teknis yang diberi wewenang untuk mengendalikan dampak lingkungan hidup yang diakibatkan oleh kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh badan usaha, khususnya perusahaan pertambangan. Persoalan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup merupakan amanat dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Aspek pengendalian merupakan salah satu bidang penerapan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Keberadaan Dinas Lingkungan Hidup sebagai badan teknis yang berwenang memantau dampak lingkungan hidup yang timbul dari kegiatan dan usaha, termasuk perusahaan pertambangan, menjadi peluang bagi Distamben bekerja sama dengan BLH dalam mewujudkan janji pemulihan pemegang IUP. Kajian terhadap strategi terkini sebaiknya dilakukan Distamben untuk mencari penyebab ketidakpatuhan pemegang IUP dan membuat strategi baru untuk meminimalisir terjadinya pelanggaran oleh pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP). Sebagai satu-satunya instansi pemerintah yang berwenang melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan reklamasi lahan yang dilakukan oleh perusahaan pertambangan (pemegang IUP), tentu tidak mudah bagi Distamben untuk melakukan pembinaan dan pengawasan secara optimal terhadap kegiatan reklamasi lahan pemegang IUP.
Belum adanya koordinasi dengan instansi teknis yang mengendalikan dampak lingkungan akibat kegiatan/usaha pertambangan (BLH). Mandat hukum mengenai pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup 2. BLH) yang berwenang mengendalikan dampak lingkungan akibat kegiatan pertambangan 4. Kerjasama dengan BLH dalam kegiatan restorasi lahan pascatambang (reklamasi) dengan meminta kesediaan BLH untuk menyediakan bibit tanaman penutup tanah yang sesuai untuk IUP menyediakan wadah.
Adanya Badan Lingkungan Hidup (EBA) yang mempunyai kewenangan pengendalian dampak lingkungan akibat kegiatan pertambangan. Daur ulang pertambangan merupakan kewajiban Pemegang Izin Usaha Pertambangan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dari kegiatan pertambangan yang cenderung merusak lingkungan hidup.