1
STRATEGIC PLANNING MEMPERTAHANKAN OPINI WTP BPK RI MENUJU GOOD GOVERNANCE DI TNI AD
STRATEGIC PLANNING TO DEFEND THE WTP OPINION OF “BPK RI” FOR BUILDING GOOD GOVERNANCE IN INDONESIAN ARMED FORCES
Naryanto1, Joni Mahroza2, Murlim Mariadi3
Program Studi Strategi Pertahan Darat Universitas Pertahanan ([email protected], [email protected]) Abstrak
TNI AD mempunyai komitmen yang kuat untuk melaksanakan reformasi birokrasi, guna mendukung kebijakan pemerintah good governance. Namun terdapat sebuah fenomena TNI AD mendapatkan Opini WDP (Wajar Dengan Pengecualian) dari BPK RI pada 2013-2017, dan WTP namun dengan Penekanan Suatu Hal (PSH) pada 2018. Atas dasar pemikiran dan pertimbangan tersebut, peneliti berkeinginan untuk meneliti lebih lanjut dengan menggunakan metode kualitatif yang merupakan langkah dan cara dalam mencari, merumuskan, menggali data, menganalisis, membahas dan menyimpulkan masalah dalam penelitian. Hasil Penelitian menunjukkan perlu adanya Strategic Planning dalam bidang Kebijakan Pimpinan, organisasi, Personel, APIP. Tujuan dari Penelitian ini untuk Mendeskripsikan dan Menganalisis Strategic Planning TNI AD Mempertahankan Opini WTP BPK RI Menuju Good Governance. Langkah yang dapat dilaksanakan Kebijakan Pimpinan dalam mendorong Opini BPK RI diantaranya dengan mengadakan MoU dengan BPKP, Penyiapan Kasatker dalam menghadapi DIPA Satker Daerah Serta Revisi Regulasi yang tidak aplikatif yang kesemuanya berbasis akan teknologi. Dalam Aspek Organisasi, perlu Role Model Organisasi yang mendukung Opini WTP BPK RI antara lain Validasi, Pembentukan Badan Perencanaan Pusat, Disadaad (Dinas Pengadaan AD) dan UAKPB (Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Bararang) tingkat Satker dan Efisiensi Organisasi. Dalam segi personel diperlukan Sistem Perekrutan Berbasis Keilmuan, Pemeliharaan dan Peningkatan Kemampuan dengan Penataran dan
1 Universitas Pertahanan Prodi Strategi Pertahanan
2 Wakil Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan
3 Dekan Fakultas Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan
2 Pendidikan serta Jenajng Karier yang linier bagi Pejabat Perencanaan . Untuk bidang APIP, diperlukan adanya Pemeriksaan berbasis Teknologi serta Sinkronisasi Metode Pemeriksaan dengan BPK RI serta Peningkatan Kemampuan APIP terutama di wilayah. Kesimpulan dengan Strategic Planning dalam bidang Kebijakan Pimpinan, Organisasi, Personel dan APIP akan dapat mendorong Opini WTP BPK RI sehingga manajemen TNI AD menjadi lebih baik menuju Good Governance yang menjadi tuntutan Pemerintah.
Kata Kunci : Strategic Planning, Opini WTP BPK RI, Good Governance
Absract
TNI AD has the strong commitment to run the bureaucacy reformation. It runs for supporting the goverment policy of “good governance”. But there is a phenomenon that, TNI AD had the problem that BPK RI gave WDP (Reasonable with exceptions) opinionin 2013 – 2017. The WDP emphasized in one case (PSH) in 2018. It indicated that there was a strategic planning in TNI AD for defending WTP from BPK RI toward reaching Good Governance. This research uses qualitative approach in analyzing. The Data sources are from interviewess and research that were analized by qualitative analysis technique. The result of this research that is needed strategic planning in the leadership policy, organization, the members and APIP. This Research has aim to figure out Strategic Planning to solve Army administration problem. The efforts that held in leadership policy supporting BPK RI Opinion by having MOU with BPKP and enhancement Kasatker abilitiy in facing DIPA of regional SatKer. In an organization needs the organization form that supports WTP of BPK RI Opinion such as; Planning organization, planning coordinaton, and the organization of Satker.n In personal needs fresh graduation recruitment from STAN ang increasing the skills of planners. The strategic of APIP is examination based on technology and synchronization of the examination method with BPK RI and increasing the ability of APIP in regional. The summary is by strategic planningin the leadership policy, organization, personal or employment,and APIP will support the opnion of WTP BPK RI so that management of TNI AD will run better toward to Good Governance as like the goverment demand.
Key Words : Strategic Planning, WTP BPK RI Opinion, Good Governance
3 Pendahuluan
GOOD GOVERNANCE adalah suatu kondisi organisasi dimana terdapat tuntutan untuk melaksanakan suatu manajemen yang tertata dalam mencapai tujuan dan memberikan pelayanan yang terbaik. Dalam dokumen UNDP (United Nations Development Program) dijelaskan bahwa Prinsip Good Governance antara lain Transparan, yaitu adanya kebebasan aliran informasi dalam berbagai proses kelembagaan sehingga mudah diakses oleh mereka yang membutuhkan dan Akuntabel yang berarti semua kegiatan dapat dipertanggung jawabkan baik secara fisik maupun adminstrasi.
TNI AD adalah suatu alat negara bertugas melaksanakan kebijakan pertahanan negara yang dalam menjalankan tugasnya dituntut profesional. 4 Tuntutan Good Governance dimana merupakan suatu tolok ukur menuju Profesionalisme yang harus terus diusahakan untuk dapat mendukung
4 UU no 3 Pasal 10 Tahun 2002
pelaksanaan tugas Pokok yang diemban baik OMP (Operasi Militer Perang) maupun OMSP (Operasi Militer Selain Perang).5
Namun terdapat sebuah fenomena yang dapat menjadi kendala dalam upaya TNI untuk menuju Good Governance. Fenomena tersebut adalah adanya Opini BPK RI yang menyatakan bahwa Transparansi dan akuntabilitas TNI AD belum optimal dengan status Opini yang belum mencapai WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) yang merupakan indikator tertinggi terhadap Good Governance.
Berdasarkan Ketentuan BPK, terdapat beberapa Opini yang menjadim tolok ukur pelaksanaan Program dan anggaran dari Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang menandakan Kementerian/ Lembaga tersebut opini audit yang akan diterbitkan jika laporan keuangan dianggap memberikan informasi yang bebas dari salah saji material sampai dengan Disclaimer (Tidak menyatakan Pendapat jika jika
5 UU NO 34 Pasal 5 Tahun 2004
4 laporan keuangan mengandung
salah saji material, atau dengan kata lain laporan keuangan tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.6
Berdasarkan Data dan Fakta TNI AD pada tahun 2015 s.d 2017 memperolah opini WDP (Wajar dengan Pengecualian yang berarti opini audit yang diterbitkan jika sebagian besar informasi dalam laporan keuangan bebas dari salah saji material, kecuali untuk rekening atau item tertentu yang menjadi pengecualian. Dengan segenap upaya, Pada tahun 2018, TNI AD dapat meraih WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) tetapi dengan PSH (Penekanan terhadap suatu Hal).
Setelah dilaksanakan Penelitian dengan bersumber pada Dokumen BPK RI, terdapat enam masalah yang menyebabkan TNI AD belum meraih WTP murni.
Permasalahan tersebut adalah Pemanfaatan BMN (Barang Milik Negara) yang belum optimal, Permasalahan Belanja Perjalanan Dinas yang belum akuntabel,
6 UU No 15 tahun 2006 tentang BPK RI
Pengadaan Belanja Barang dan Modal yang belum sesuai ketentuan, Kekurangan Volume Kontrak pada pembangunan fisik, Barang yang tidak sesuai Kontrak pada proses pengadaan Barang dan Jasa serta Masih terdapatnya Program yang tidak selesai (Lintas Tahun) pada tahun anggaran berjalan padahal kegiatan tersebut dilaksanakan dengan anggaran tahunan (Non Jamak).7
Berdasarkan Data dan Fakta di atas perlu adanya suatu langkah yang strategis sehingga pada tahun mendatang TNI AD mendapatkan Opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Dalam implementasi langkah strategis atau yang lebih dikenal dengan Strategic Planning maka perlu diadakan pendalaman tentang aspek apa saja yang menjadikan standart BPK RI dalam memberikan opini. Dalam Undang Undang tentang BPK RI menyatakan bahwa pemeriksaan terhadap suatu Kementerian atau Lembaga meliputi tiga aspek yaitu kepatuhan suatu
7 Laporan Hasil Pemeriksaan No :
9c/HP/XIV/05/2018 atas kepatuhan terhadap Peraturan UU
5 entitas terhadap regulasi,
Akuntabilitas Laporan Keuangan (LK) dan Pengawasan yang dilakukan oleh Aparat Pemeriksa Internal Pemerintah (APIP)
Berdasarkan data awal tersebut maka Peneliti mencoba meneliti beberapa aspek yang kemungkinan berpengaruh terhadap peningkatan opini yang memberikan indikator tertinggi dimana tidak ada kesalahan administrasi yang dilakukan. Beberapa aspek tersebut antara lain Kebijakan, Organisasi, SDM/ Personel, dan APIP. Dengan meneliti empat empat aspek diatas diharapkan Opini WTP BPK RI dapat ditingkatkan menjadi WTP murni dan dipertahankan pada tahun mendatang.
Apabila permasalahan TNI AD terhadap Pemeriksaan Eksternal tersebut sudah memberikan hasil yang optimal maka akuntabilitas serta transparansi di dalam tubuh TNI AD sudah tidak perlu diragukan lagi. Indikator manajemen yang baik menuju Good Governance akan dapat diraih dengan adanya peningkatan dari beberapa aspek dengan
menggunakan beberapa strategic Planning yang dilaksanakan.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka Strategic Planning sangatlah penting dalam mempertahankan Opini WTP BPK RI menuju Good Governance, untuk itu Peneliti menemukan Rumusan permasalahan Bagaimana Strategic Planning mempertahankan Opini WTP BPK RI Aspek Kebijakan Pimpinan, Organisasi, Personel dan APIP.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif yang merupakan langkah dan cara dalam mencari, merumuskan, menggali data, menganalisis, membahas dan menyimpulkan masalah dalam penelitian. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis yaitu berdasarkan pengalaman dan pengamatan peneliti.
Pengumpulan data dilakukan dengan mengajukan serangkaian daftar pertanyaan terhadap informan dengan cara tanya jawab
6 sambil bertatap muka antara
pewawancara dengan responden atau orang yang akan diwawancarai.
Responden dipilih dengan memperhatikan keterkaitan tugas dan fungsi. Wawancara dilakukan terhadap narasumber yang mengerti tentang Perencanaan, Pengendalian dan pengawasan yang berhubungan langsung dengan Opini WTP BPK RI.
Bahkan Peneliti diberikan kesempatan untuk mengadakan wawancara dengan salah satu pimpinan BPK RI yang mempunyai wewenang untuk memberikan Opini kepada Kementerian/ Lembaga.
Dalam pengumpulan sampel dilakukan dengan menggunakan tehnik purposive sampling atau dipilih secara sengaja melalui pertimbangan teori yang digunakan serta keingintahuan peneliti akan karakteristik obyek penelitian.
Teori dan Metode
Teori Strategi Manajemen menurut Gary Dresler
Strategi menurut Dressler, Strategi Planning consists of Leading, Organizing, Staffing, Controlling.
Dalam Buku terjemahan Bahasa Indonesia, Dressler menjelaskan bahwa Strategic Planning diperlukan dalam memperoleh Suatu Tujuan (Goal). Faktor yang berpengaruh adalah bagaimana Kebijakan Pimpinan, Organisasi, Personel, Sistem Pengawasan. Dalam bukunya dijelaskan mengenai pengertian sebagai berikut:
1. Perencanaan. Menetapkan sasaran dan standart:
mengembangkan aturan dan Prosedur: mengembangkan rencna dan peramalan.
2. Pengorganisasian.
Memberikan tugas spesifik kepada setiap bawahan; membentuk departemen; mendelegasikan otoritas kepada bawahan;
menetapkan saluran otoritas dan komunukasi; mengkoordinasikan pekerjaan bawahan.
3. Penyusunan Staf.
Menentukan tipe orang yang harus anda pekerjakan; merekrut karyawan prospektif; memilih karyawan;
melatih dan mengembangkan karyawan.
7 4. Kepemimpinan. Meminta
Orang lain menyelesaikan pekerjaan;
menegakkan moral; memotivasi bawahan.
5. Pengendalian. Menetapkan standart seperti kuota penjualan, standart mutu atau tingkat produksi;
memeriksa bagaimana kinerja actual dibandingkan dengan standart standart ini; Mengambil korektif seusuai kebutuhan.
Sedangkan Strategi menurut Stoner berdasarkan buku Manajemen Jilid I membagi menjadi 1. Merencanakan berarti manajer memikirkan dengan matang terlebih dahulu sasaran dan tindakan serta tindakan mereka berdasarkan pada beberapa metode, rencana, logika dan bukan berdasarkan perasaan.
2. Mengorganisasikan adalah
Proses mengatur dan
mengalokasikan pekerjaan, wewenang dan sumber daya diantara anggota organisasi sehingga daoat mencapai sasaran organisasi.
3. Memimpin. Mengarahkan , Mempengaruhi dan memotivasi
karyawan untuk melaksanakan tugas penting.
4. Mengendalikan. Meyakinkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh anggota organisasi benar benar menggerakan organisasi kearah sasaran yang dirumuskan.
OPINI WTP BPK RI
Berdasarkan Undang no 15 tahun 2006, BPK RI adalah Lembaga negara yang bertugas untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, Dalam melaksanakan pemeriksanaan terhadap Kementerian/ Lembaga yang terdiri dari:
1. Wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion). Opini Wajar tanpa pengecualian (biasa disingkat WTP) adalah opini audit yang akan diterbitkan jika laporan keuangan dianggap memberikan informasi yang bebas dari salah saji material.
Jika laporan keuangan diberikan opini jenis ini, artinya auditor meyakini berdasarkan bukti-bukti audit yang dikumpulkan, perusahaan/pemerintah dianggap telah menyelenggarakan prinsip
8 akuntansi yang berlaku umum
dengan baik, dan kalaupun ada kesalahan, kesalahannya dianggap tidak material dan tidak berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan.
2. Opini WTP Dengan Paragraf Penjelasan (biasa disingkat WTP- DPP). Opini WTP-DPP dikeluarkan karena dalam keadaan tertentu auditor harus menambahkan suatu paragraf penjelasan dalam laporan audit, meskipun tidak mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian atas laporannya.
Ada beberapa keadaan yang menyebabkan ditambahkannya paragraf penjelasan. Keadaan itu, misalnya, adanya ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi, adanya keraguan tentang kelangsungan hidup lembaga pengelola keuangan.
Salain itu, bisa juga karena auditor setuju dengan suatu penyimpangan dari prinsip akuntansi yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan atau adanya penekanan atas suatu hal. Dan bisa
juga karena laporan audit yang melibatkan auditor lain
3. Wajar dengan pengecualian (qualified opinion)
Opini Wajar dengan pengecualian (biasa disingkat WDP) adalah opini audit yang diterbitkan jika sebagian besar informasi dalam laporan keuangan bebas dari salah saji material, kecuali untuk rekening atau item tertentu yang menjadi pengecualian. Sebagian akuntan memberikan julukan little adverse (ketidakwajaran yang kecil) terhadap opini jenis ini, untuk menunjukan adanya ketidakwajaran dalam item tertentu, namun demikian ketidakwajaran tersebut tidak mempengaruhi kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan.
4. Tidak wajar (adversed opinion)
Opini tidak wajar adalah opini audit yang diterbitkan jika laporan keuangan mengandung salah saji material, atau dengan kata lain laporan keuangan tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Jika laporan keuangan mendapatkan opini jenis ini, berarti
9 auditor meyakini laporan keuangan
perusahaan/ pemerintah diragukan kebenarannya, sehingga bisa menyesatkan pengguna laporan keuangan dalam pengambilan keputusan.
5. Tidak menyatakan pendapat (disclaimer of opinion)
Opini tidak menyatakan pendapat (TMP) oleh sebagian akuntan dianggap bukanlah sebuah opini, dengan asumsi jika auditor menolak memberikan pendapat artinya tidak ada opini yang diberikan. Opini jenis ini diberikan jika auditor tidak bisa meyakini apakah laporan keuangan wajar atau tidak. Opini ini bisa diterbitkan jika auditor menganggap ada ruang lingkup audit yang dibatasi oleh perusahaan /pemerintah yang diaudit, misalnya karena auditor tidak bisa memperoleh bukti-bukti yang dibutuhkan untuk bisa menyimpulkan dan menyatakan laporan sudah disajikan dengan wajar.
Good Governance
Lembaga Administrasi Negara (LAN) menyimpulkan ada sembilan aspek fundamental dalam perwujudan good governance, yaitu:
a. Partisipasi (Participation).
Partisipasi antara masyarakat khususnya orang tua terhadap anak- anak mereka dalam proses pendidikan sangatlah dibutuhkan.
Karena tanpa partisipasi orang tua, pendidik (guru) ataupun supervisor tidak akan mampu bisa mengatasinya. Apalagi melihat dunia sekarang yang semakin rusak yang mana akan membawa pengaruh terhadap anak-anak mereka jika tidak ada pengawasan dari orang tua mereka.
b. Penegakan hukum (Rule Of Law). Dalam pelaksanaan tidak mungkin dapat berjalan dengan kondusif apabila tidak ada sebuah hukum atau peraturan yang ditegakkan. Aturan-aturan itu berikut sanksinya guna meningkatkan komitmen dari semua pihak untuk mematuhinya. Aturan- aturan tersebut dibuat tidak dimaksudkan untuk mengekang kebebasan, melainkan untuk
10 menjaga keberlangsungan
pelaksanaan fungsi-fungsi pendidikan dengan seoptimal mungkin.
c. Transparansi (Transparancy).
Persoalan pada saat ini adalah kurangnya keterbukaan supervisor kepada para stafnya atas segala hal yang terjadi, dimana salah satu dapat menimbulkan percekcokan antara satu pihak dengan pihak yang lain, sebab manajemen yang kurang transparan. Apalagi harus lebih transparan di berbagai aspek baik dibidang kebijakan, baik di bidang keuangan ataupun bidang-bidang lainnya untuk memajukan kualitas dalam pendidikan.
d. Responsif (Responsiveness).
Salah satu untuk menuju cita good governance adalah responsif, yakni supervisor yang peka, tanggap terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di lembaga pendidikan, atasan juga harus bisa memahami kebutuhan masyarakatnya, jangan sampai supervisor menunggu staf- staf menyampaikan keinginan- keinginannya. Supervisor harus bisa menganalisa kebutuhan mereka,
sehingga bisa membuat suatu kebijakan yang strategis guna kepentingan kepentingan bersama.
e. Konsensus (Consensus Orientation). supervisor dalam melaksanakan tugas-tugasnya adalah pengambilan keputusan secara konsensus, di mana pengambilan keputusan dalam suatu lembaga harus melalui musyawarah dan semaksimal mungkin berdasarkan kesepakatan bersama (pencapaian mufakat). Dalam pengambilan keputusan harus dapat memuaskan semua pihak atau sebagian besar pihak juga dapat menarik komitmen komponen- komponen yang ada di lembaga.
Sehingga keputusan itu memiliki kekuatan dalam pengambilan keputusan.
f. Kesetaraan dan keadilan (Equity). Asas kesetaraan dan keadilan ini harus dijunjung tinggi oleh supervisor dan para staf-staf didalam perlakuannya, di mana dalam suatu lembaga pendidikan yang plural baik segi etnik, agama dan budaya akan selalu memicu segala permasalahan yang timbul.
11 Proses pengelolaan supervisor yang
baik itu harus memberikan peluang, jujur dan adil. Sehingga tidak ada seorang pun atau para staf yang teraniaya dan tidak memperoleh apa yang menjadi haknya.
g. Efektifitas dan efisien.
Efektifitas dan efisien disini berdaya guna dan berhasil guna, efektifitas diukur dengan parameter produk yang dapat menjangkau besarnya kepentingan dari berbagai kelompok. Sedangkan efisien dapat diukur dengan rasionalitasi untuk memenuhi kebutuhan yang ada di lembaga. Di mana efektifitas dan efisien dalam proses pendidikan, akan mampu memberikan kualitas yang memuaskan.
h. Akuntabilitas. Asas akuntabilitas berarti pertanggung jawaban supervisor terhadap staf- stafnya, sebab diberikan wewenang dari pemerintah untuk mengurus beberapa urusan dan kepentingan yang ada di lembaga. Setiap supervisor harus mempertanggung jawabkan atas semua kebijakan, perbuatan maupun netralitas sikap- sikap selama bertugas di lembaga.
i. Visi Strategi (Strategic Vision).
Visi strategi adalah pandangan- pandangan strategi untuk menghadapi masa yang akan datang, karena perubahan-perubahan yang akan datang mungkin menjadi perangkap bagi supervisor dalam membuat kebijakan-kebijakan.
Disinilah diperlukan strategi-strategi jitu untuk menangani perubahan yang ada.
Hasil dan Pembahasan
Strategic Planning TNI AD mempertahankan Opini WTP BPK RI menuju Good Governance Aspek Kebijakan Pimpinan
Dalam Organisasi TNI AD kebijakan Pimpinan menjadi sesuatu yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan tugas. Dengan latar belakang sejarah dan segala dinamika yang terjadi sampai saat ini, Kebijakan Pimpinan merupakan arah dan petunjuk bagi Komandan satuan bawahan dalam melaksanakan tugas yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mempengaruhi.
12 Hal ini sejalan dengan teori
Strategi 8 yaitu Meminta Orang Lain menyelesaikan pekerjaan, Menegakkan Moral dan Memotivasi Bawahan. Apabila Dianalisa maka Dressler lebih menekankan pada Pentingnya Pimpinan untuk dapat mempengaruhi anggota dalam melaksanakan tugas. Dressler belum membahas bagaimana kebijakan Pimpinan tidak hanya Faktor Internal tapi diperlukan juga Pimpinan yang melaksanakan koordinasi dan kerjasama dengan invididu maupun Organisasi lain agar mencapai tujuan.
Berdasarkan Hasil wawancara dengan Narasumber di beberapa Spaban di Mabesad dan BPK RI terdapat beberapa temuan yang menarik yang dapat melengkapi Teori Dreesler yang menyatakan bahwa kebijakan Pimpinan dapat optimal dilaksanakan apabila dapat mempengaruhi bawahan untuk melakasanakan tugas yang diberikan.
Dalam kebijakan bidang Internal tidak cukup dengan mempengaruhi bawahan tetapi
8 teori Strategi yang diutarakan oleh Gary Dressler,
kebijakan yang Inheren dengan kebijakan lainnya
Kebijakan Internal tersebut antara lain Perbaikan regulasi dan Sistem TNI AD merupakan prioritas utama dalam mendorong perbaikan Opini TNI AD. Selain itu dengan Dilatar belakangi oleh disahkannya PMK No. 143/PMK.05/2018 tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara di Lingkungan Kementerian Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia yang memberikan keleluasaan kepada Kasatker atau satuan bawah untuk merencanakan, melaksanakan dan membuat Program Kerja dan Anggaran merupakan tantangan bagi TNI AD untuk dapat membuat Laporan keuangan yang akuntabel.
Implikasinya adalah perlu seorang Kasatker yang memahami dengan baik Sistem Program dan Anggaran.
Kebijakan lain adalah Pimpinan perlu menyiapkan Kasatker dalam menghadapi PMK 143 tahun 2018 dalam pelaksanaan Dipa Satker Daerah sehingga Laporan Keuangan sebagai salah satu Indikator
13 pemeriksaan BPK RI dapat
akuntabel.
Strategi lain adalah ditambahkan adanya komunikasi dan kerjasama dengan Badan atau Instansi terkait untuk mendukung factor internal. Kerjasama dengan BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan)adalah Lembaga pemerintah non kementerian Indonesia yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan yang berupa Audit, Konsultasi, Asistensi, Evaluasi, Pemberantasan KKN serta Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan. Kerjasama dalam bentuk MoU (Memory Of Understanding) perlu dilaksanakan oleh antara pimpinan TNI AD dan Badan BPKP untuk memberikan konsultasi, Pengawalan terhadap program dan kegiatan dimulai dari Perencanaan samapai dengan Pengakhiran.
Terobosan lain adalah Kerjasama dengan BPKP perlu dalam pendampingan dalam pelaksanaan anggaran TNI AD
Hal tersebut harus diperkuat dengan memanfaatkan teknologi dalam pengawasan Penyerapan Program dan Anggaran.
Strategic Planning TNI AD mempertahankan Opini WTP BPK RI menuju Good Governance Aspek Organisasi.
Berdasarkan Perpres no 42 tahun 2019 tentang TNI, dijelaskan bahwa organisasi yang melaksanakan yang terdiri dari Eselon Pimpinan, eselon Pembantu Pimpinan yang terdiri dari Staf Mabes TNI AD yang melaksanakan fungsi Wasgiat terhadap Program dan Anggaran masing-masing bidang, Eselon Pelayanan dan Eselon Pelaksana yang terdiri dari Kodam yang merupakan Satuan Kerja dibawah Mabes TNI AD.
Dalam mendukung Opini WTP BPK RI, TNI AD memerlukan suatu terobosan untuk mendukung kinerja yang Optimal. Untuk itu diperlukan suatu Pembentukan, Validasi, dan Efisiensi Organisasi dalam menunjang hal tersebut.
14 Berdasarkan Teori strategi
manajemen 9 oleh dinyatakan tugas suatu organisasi adalah mengatur dan mengalokasikan pekerjaan, wewenang dan sumber daya diantara organisasi sehingga mereka dapat mencapai sasaran organisasi.
Dijelaskan sasaran yang berbeda memerlukan struktur yang berbeda pula, Sebuah organisasi yang bertujuan untuk mengembangkan perangkat lunak. Hubungan dan waktu adalah sentral untuk mengorganisasikan aktivitas.
Pengorganisasian menghasilkan struktur hubungan dalam suatu organisasi dan lewat hubungan terstruktur ini masa depan akan tercapai, Aspek lain dari hubungan tersebut adalah mencari orang baru untuk menggabungkan struktur hubungan.
Dikaitkan dengan Pentingnya Organisasi perlu adannya Validasi Organisasi menjadi efektif didukung dengan teknologi tinggi sehingga meningkatkan kinerja dalam menghadapi tugas pokok. TNI AD mempunyai anggaran yang
9 Stonner dengan dengan judul Manajemen Jilid 1 halaman 11
sebagian besar digunakan untuk belanja pegawai. Dalam Alokasi anggaran TA 2019, TNI AD menghabiskan 58 % Anggaran untuk belanja Pegawai sehingga Belanja modal dan belanja barang berkisar 42 %. Fenomena ini mengakibatkan Organisai TNI tidak efektif dan Efisien sehingga perlu diadakan pembenahan.
Selain Validasi, Diperlukan beberapa pembentukan Organisasi.
Pembentukan Badan Perencanaan yang terdiri dari Personel yang berasal dari Wasgiat untuk merencanakan TNI AD ke depan.
Dalam level Negara, Indonesia mempunyai Bappenas yang khusus melaksanakan Perencanaan secara nasional begitu juga dengan TNI AD memerlukan Badan Perencanaan seperti Bappenas. Dengan adanya Badan Perencanaan akan didapat suatu Konsep "Blue Print" TNI AD ke depan.
Pembentukan Dinas Pengadaan (Disadaad) yang berada di Bawah KSAD langsung bukan dibawah Wasgiat. Hal tersebut akan dapat menjawab pertanyaan BPK RI
15 tentang transparsi dan
profesionalitas TNI AD ke depan.
Dengan adanya Badan yang menangani masalah Pengadaan maka proses Pengadaan akan dapat berjalan dengan transparan dan akuntabel.
Selain itu perlu adanya Pembentukan UAKPB (Unit akuntasi Kuasa Pengguna Barang) tingkat Satuan Dengan adanya DIPA Satker Daerah berdasarkan PMK 143 Tahun 2018 maka perlu adanya Satker yang mempunyai untuk mengekseskusi DIPA Daerah merencanakan belanja barang dan modal sehingga terwujud Money Follow Program (Program didukung anggaran).
Peran UAKPNB sangatlah penting dalam penyusunan Rencana Kebutuhan (Renbut) yang akan dikumpulir di Tingkat UO sampai dengan Kementerian. Pada saat Pelaksanaan Unit ini akan melaksanakan pencatatan tentang perkembangan program dan kegiatan baik Satker maupun Subsatker.
Reorganisasi Pusku Kemhan menjadi Badan keuangan yang
melaksanakan Koordinator wasgiat dalam melaksanakan rekonsiliasi Perencanaan, Keuangan, dan logistic. Sebagai Unit Akuntansi di Kementerian Pertahanan maka perlu adanya Rekonsiliasi antara Pihak Perencanan, Keuangan dan Logistik tiap semester. Hal tersebut menyebabkan Laporan Keuangan terus mendapat temuan BPK RI.
Strategic Planning Mempertahankan Opini WTP BPK RI bidang Personel.
Aspek Personel adalah merupakan aspek yang paling dominan dalam pelaksanaan Strategic Planning. Pembentukan Organisasi haris didukung oleh Sumber daya yang unggul.
Siklus Personel dari Perekrutan kemudian diberikan Pendidikan serta pemberian karier yang linier akan membuat Perencanaan sebuah organisasi menjadi baik. Perekrutan yang melibatkan Sumber daya yang berbasil keilmuan akan membuat kemajuan yang begitu signifikan dalam tugas utamanya.
16 Langkah Pertama yang
diambil adalah Perekrutan Berbasis Keilmuan. Perlu adanya Perekrutan yang mengakomodir kalangan akademisi, serta Para Ahli. Untuk perekrutan Kader muda direkrut dari alumni Fresh Graduated STAN sehingga dapat meng up-grade kemampuan secara instans
Langkah selanjutnya aspek personel Perlunya Peningkatan kemampuan Personel dengan Bimtek, Sekolah, Personel. Ilmu tentang perencanaan terus berkembang sesuai dengan Perubahan jaman. Personel yang sudah berkecimpung dalam dunia Perencanaan Perlu diadakan pemeliharaan dan peningkatan kemampuan bidang Perencanaan sehingga selalu Up date terhadap Ilmu perencanaan. Dengan disahkan PMK 143 yang menekankan tentang DIPA Satker Daerah mengandung perubahan yang besar dalam mekanisme Perencanaan yang harus dipahami personel Perencanan.
Selain itu Perlunya Pemenuhan Personel Akuntansi dan Perencanaan Tingkat Satker.
Perencanaan Sesuai dengan permenhan No 31 tahun 2018 menyatakan bahwa Perencanaan yang akuntabel adalah Perencanaan yang bersifat Bottom UP atau dari bawah ke atas. Satuan bawah yang mengetahui apa yang dibutuhkan untuk kesiapan satuan. Eselon I akan menkompilasi Rencana Kebutuhan dari satuan bawah dan melaporkan Ke Kementerian Pertahanan untuk diajukan ke DPR.
Persoalan Personel adalah Menyiapkan Jenjang Karier yang linier sehingga Kualitas Produk Perencanaan menjadi lebih baik.
Dengan adanya Karier yang terstruktur dan berjenjang akan menjadikan Personel Perencanaan menghasilkan suatu Dokumen Perencanaan yang baik. Pejabat yang baru yang bukan dari Staf Perencanaan akan memerlukan waktu untuk belajar tentang Ilmu Perencanaan dan Hal tersbu dapat menghambat alur perencanaan yang ada dibandingkan Personel yang
memang sudah pernah
melaksanakan proses perencanaan
17 dari Level bawah ke atas secara
runtut.
Strategic Planning
mempertahankan Opini WTP BPK RI aspek APIP
Pada aspek keempat yaitu APIP (Aparat Pemeriksa Internal Pemerintah untuk lebih ditingkatkan.
Tujuan peneliti mengembangkan aspek APIP ini adalah bagaimana Proses Pemeriksaan di lingkungan dapat berjalan Optimal. Sebenarnya dapat dikategorikan bahwa Proses Pemeriksaan adalah sudah sebagai
“Deteksi Awal” sehingga dapat dieliminir sebelum pemeriksaan BPK RI melaksanakan tugasnya. Perlu adanya Peningkatan Peran, Metode Pemeriksaan, serta kerjasama dengan General Consulting lainnya.
Hal utama yang harus ditingkatkan adalah kemampuan Personel yang merupaka tulang punggung yang akan mengawaki pemeriksaan Internal.
Dihadapakan Dengan teori Dresseler tentang Controlling adalah Menetapkan standart seperti kuota penjualan, standart mutu atau
tingkat produksi; memeriksa bagaimana kinerja actual dibandingkan dengan standart standart ini; Mengambil korektif sesuai kebutuhan.
Dari Teori tsb maka sesuai dengan sesuai dengan Peran APIP yang menetapkan standart, memeriksa kinerja Satker dan mengambil korektif sesuai kebutuhan Organisasi TNI AD.
Dikaitkan dengan Aspek Controlling Perlu adanya. Program Pendampingan Current Audit, Pre Audit dan Post Audit. Itjenad selaku APIP dalam meningkatkan kualitas Pelaksanaan Program dan kegiatan melaksanakan Pemeriksaan sepanjang tahun. Diharapkan dengan pendampingan sepanjang tahun maka pelanggaran dan kesalahan dapat dihindari.
Hal tersebut ditekankan oleh Letkol Arm Joko Kabagum Irjenad
Selain itu Peran Itjenad tidak hanya sebagai Pemeriksa tetapi lebih meningkat menjadi Consulting dan Penjamin mutu. Itjenad yang mempunyai tugas sebagai aparat Pemeriksa Internal Pemerintah
18 (APIP) harus berupaya agar Program
Kerja dan Anggaran dapat berjalan dengan baik di jajaran Kotama/
Balakpus. Dalam mempertahankan Opini WTP BPK RI pada tahun mendatang, Fungsi Iitjenad meningkat menjadi Consulting (Konsultan).
Dalam hal peningkatan mutu Laporan Keuangan dan Kepatuhan terhadap UU, Itjenad dapat bekerjasama dengan BPKP untuk melaksanakan pengawalan dan pendampingan terhadap Program TNI AD. Proses pengawalan tersebut dimulai dari pada saat penentuan PPPA sehingga dari awal sudah didiskusikan untuk menghindari kesalahan
Adapun Faktor lain yang bisa dilakukan adalah Sistem Pengawasan Berbasis Teknologi.
Dalam melaksanakan fungsi Pengawasan harus meningkatkan Kualitas pengawasan dengan Pengawasan Berbasis Teknologi.
Sistem Pengawasan ini harus bersifat integral dan Komprehensif sebagai bahan Pimpinan dalam Pengambilan Keputusan.
Simpulan
Berdasarkan hasil analisa data di atas dan pembahasan serta pemecahan masalah melalui metode SWOT maka dapat ditarik suatu kesimpulan dari hasil penelitian sebagai berikut. Perlu adanya Suatu Strategic Planning yang dilaksanakan oleh TNI AD untuk mempertahankan Opini WTP BPK RI menuju Good Governance. Dalam mewujudkan Opini tersebut perlu adanya Optimalisasi dalam Kebijakan Pimpinan, Organisasi, Personel, Sistem Teknologi serta APIP.
Implementasi dari Strategic Planning ini harus dilaksanakan secara komprehensif dan Holistik sehingga dapat menimbulkan dampak yang positif bagi TNI AD.
a. Dalam Kebijakan Pimpinan perlunya Kebijakan Pimpinan berpedoman pada dokumen Perencanaan, Program Penyiapan Kasatker hadapi PMK 143 tahun 2018, Koordinasi dengan BPKP serta Perbaikan Regulasi
b. Sedangkan Pada Aspek Organisasi perlu adanya Validasi
19 Organisasi, Pembentukan Badan
Perencanaan dan Disadaad, Pembentukan UAKPB dan Reorganisasi Pusku Kemhan.
c. Dilihat dari aspek Personel Perlunya perekrutan berbasis keilmuan, peningkatan kemampuan melalui Bimtek, sekolah serta penyiapan karier yang linier.
d. Aspek APIP yang perlu diilaksanakan adalah Program pendampingan, Peran sebagai Consulting, metode aplikatif sesuai standart BPK RI, Kerjasama dengan BPKP dan menciptakan pengawasan berbasis teknologi.
Saran.
Berdasarkan uraian di atas dan dengan memperhatikan pokok permasalahan yang ada, maka Penulis menyarankan gagasan Inovatif sebagai berikut:
a. Kebijakan Pimpinan mengadakan Mou dengan BPKP sebagai Badan Konsultasi dalam Perencanaan angggaran sampai tingkat Satker. Adanya Pengesahan PMK tentang 143 tahun 2018 tentang Pengelolaan anggaran Kemhan dan
TNI yang menjelaskan pengeloaan TNI AD yang semula Dipa satker Pusat menjadi Dipa Kewenangan daerah. Hal ini berimpilikasi bahwa pengelolaan keuangan sudah berubah dari semula dikendalikan pusat atau eselon I diberikan kepada Satker. Satker yang semula hanya menerima dana sekarang berubah Tugasnya yaitu Perencanaan, Pelaksanaan anggaran dan Pencatatan dan pelaporan keuangan. Dalam waktu dekat UO TNI AD harus bekerja keras untuk memberikan pemahaman tentang tugas ini kepada Kasatker. Hal tersebut ke depan akan membawa perubahan positif bagi TNI AD karena Perencanaan, Pelaksanaan dan Pencatatan laporan dapat dimulai dari bawah. Dimulai dari awal tahun, Rencana kebutuhuhan satuan akan disusun berdasarkan kebutuhan satuan. Seorang Dansat akan mengetahui dengan rinci apa yang menjadi kebutuhan satuannya.
UO TNI AD sebagai eselon I akan menghimpun dan dilaporkan ke Kemhan untuk diajukan kepada Bappenas. Setelah anggaran turun
20 maka Dansat akan dapat
menyalurkan sesuai kebutuhan.
Sebelum PMK tahun 143 tahun 2018 diterbitkan saat penyusunan Rencana kebutuhan disusun langsung oleh UO. Para pemangku kebijakan mengetahui tetapi tidak akan mengerti tentang kebutuhan riil satuan. Akhirnya pada saat dibawa ke Kementerian dan Bappenas maka adalah rencana yang dibuat oleh eselon dan bukan satuan bawah.
Dengan adanya Mou dengan BPKP akan tercipta suatu komunikasi dan konsultasi dalam pengelolaan anggaran. Kemampuan APIP juga dapat meningkat dengan pesat dengan banyak belajar dari BPKP.
Diharapkan ke depan dengan adanya konsultasi dengan BPKP, APIP akan dapat melaksanakan Fungsi pengawasan dengan optimal.
b. Kebijakan Pimpinan dalam Meningkatkan kemampuan Kasatker dan Pejabat Perencanaan.
Dalam menunjang penerapan PMK 143 tahun 2018 perlu adanya Kebijakan pimpinan yang menyiapkan Personel pada setiap
Kasatker. Pejabat Kasatker, Pejabat Perencana dan Akuntasi perlu mendapat pengetahuan yang cukup dalam menghadapi DIPA Satker Daerah. Pendidikan tentang perencanaan harus dapat mengakomodir Satker di selurih Indonesia agar pelaksanaan DIPA Satker Daerah Dapat berjalan lancar.
Kurikulum Perencanaan perlu menjadi Kurikulum pokok pada jenjang Pendidikan Perwira sehingga Perwira dalam jenjang karier Pama sudah mempunyai pengetahuan bagaiamana sistem perencanaan di TNI AD
c. Penyusunan Organisasi yang mendukung Opini WTP BPK RI
Penyusunan Organisasi ini harus dapat menjawab tantangan dan Rekomendasi BPK RI yang termaktub dalam LHP BPK RI.
Organisasi yang dibentuk antara lain di tingkat Pusat terdapat Badan Koordinasi antara Perencanaan dan Akuntansi. Badan ini akan melaksanakan Rekonsiliasi dan Pencocokan akan data di Perencanaan maupun Pencatatan dan Pelaporan. Selain itu Perlu
21 dibuat Badan perencanaan yang
merupakan penjabaran dari Bappenas. Badan ini sangat penting dalam mengkaji apa yang menjadi kegiatan TNI AD ke depan baik jangka Panjang, menengah dan pendek. Di satuan setingkat Batalyon perlu adanya UAKPB yang terdiri dari Pa perencanaan dan Akuntasi sebagai bahan Bottom Up Komando atas.
d. Pengisian Personel di Unit Akuntasi Satker yang diisi oleh Fresh Graduated dari STAN
Unit akuntansi merupakan Badan yang sangat menentukan dalam menentukan LK UO. Dilatar belakangi sejarah Bangsa TNI sangat berperan dalam mengawal perjuangan bangsa. Perjuangan Bangsa dalam melawan penjajah lebih mengutamakan aspek tempur.
Aspek administrasi di Tentara saat itu masih belum menjadi unsur utama
Perkembangan kemajuan bangsa dan Ketertiban administrasi membuat semuanya direncanakan, disiapkan, dilaksanakan dan diakhiri dengan tahapan yang jelas dan
anggaran jelas. Tuntutan sebagai UO yang tertib adminsitrasi dalam proses reformasi birokrasi menjadi Tuntutan utama. Selain pelaksanaan kegiatan harus terlaksana dengan baik diimbangi dengan Pertanggung jawaban administrasi atau lebih dikenal dengan Laporan Keuangan UO. Tertib Administrasi harus dimulai dengan melaksanakan dengan Perencanaan dan Pelaksanaan yang sinkroin
e. Penerapan Pengawasan APIP berbasis Teknologi
Dengan perkembangan teknologi dan dislokasi satuan yang terebar perlu adanya pengawasan berbasisi teknologi. Pengawasan ini berbentuk suatu sistem yang mencakup dari Perencanan sampai dengan Pencatatan anggara. Dengan sistem One Touch Technologi maka Pimpinan akan dapat melihat secara Update perkembangan satker pada tahun anggaran berjalan. Dengan adanya teknologi tersebut pada akhir semester I akan dapat diketahui apa yang menjadi kurang dan belum dilaksanakan Kontrak.
22 f. Penyusunan Regulasi yang
Birokratis dan Tidak Aplikatif
Berdasarkan Rekomendasi BPK RI tentang Penyusunan Regulasi yang tidak Aplikatif . Regulasi yang terlalu Panjang harus dipotong prosedurnya tanoa mengurangi aspek pengawasa. Permasalahan yang ada dimana TNI AD menyusun sendiri aturan yang kadang tidak sinkron. Hal tsb menimbulkan celah temuan bagi BPK RI. Untuk Itu perlu adanaya suatu satgas yang membahsa masalah regulasi dari wasgiat masing masing.Output yang diharapkan adalah semua regulai akan aplikatif
Demikianlah Thesis tentang Strategic Planning dalam mempertahankan Opini WTP BPK RI menuju Good Governance. Namun demikian karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki, Peneliti yakin masih banyak yang belum tercantum dalam penulisan ini. Untuk itu Peneliti mengharapkan adanya masukan, kritik maupun saran dalam rangka lebih menyempurnakan tulisan ini, semoga bermanfaat, terima kasih
Demikianlah Karya Tulis Militer Ilmiah tentang Strategic Planning dalam mempertahankan Opini WTP BPK RI menuju Good Governance.
Namun demikian karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki, Peneliti yakin masih banyak yang belum tercantum dalam penulisan ini. Untuk itu Peneliti mengharapkan adanya masukan, kritik maupun saran dalam rangka lebih menyempurnakan tulisan ini, semoga bermanfaat, terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA A. Buku
Louis A.Allen. Management and organization, 1958, hlm. 110.
Harold Koontz dan Cyril O’Donnel.
Management Principal 1968, hlm. 120.
DRUCKER, PETER. Pengantar Manajeman Jakarta:
Erlangga,1982. hlm.
102.
23 Stoner, James. Function Of
Management. 1996, hlm. 85.
Miles, Matthew B. and A.
Michael Huberman.
Qualitative Data Analysis (terjemahan).
(Jakarta: UI Press, 2005). hlm. 30.
Sugiyono, 2013, Metodelogi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
(Bandung: Alfabeta).
hlm. 85
Dressler, Gary, Human.
Resource
Management Global Edition 12 e. hlm. 60.
B. Peraturan Perundang- Undangan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945dan
Perubahannya.
Cetakan Kelima.
Jakarta: Indonesia Tera, 2009. hlm. 40.
PERMENHAN NO 18 tahun 2018 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Negara.
hlm. 38.
Postur TNI AD No Postur TNI AD Peraturan Kasad Nomor
Perkasad/99.b/XII/2012 tanggal 9 Desember 2014 tentang Revisi II Postur TNI AD Tahun 2010-2029. hlm. 46.
Permenhan RI No. 16 tahun 2014 tentang Sistem Program dan anggaran.
hlm. 48.
Laporan Hasil Pemeriksaan atas kepatuhan terhadap Peraturan UU No : 9c/HP/XIV/05/2018 Sumber Bagan SPP Hanneg
no 31 tahun 2018 Perpang no 55 tahun 2015 tentang Organisasi, TNI
Pokok Pokok Kebijakan Kasad tahun 2019. hlm. 80.
24 Peraturan Kepala Staf
Angkatan Darat No.
12.B Tahun 2017 Rencana Strategis TNI AD Tahun 2015-2019.
hlm. 102.
Kebijakan Perencanaan Tahun 2020 No 17 tahun 2019 Tanggal 22 Mei 2019.
hlm. 89.
C. Tesis/Disertasi
Rifai, Sholeh. Pengelolaan Pembangunan Dan
Aset Hasil
Pembangunan Untuk Pencapaian Opini Yang Lebih Baik.
2015.hlm. 55.
Panijo. Peran APIP Dalam Percepatan
Pencapaian
WTP.2016.hlm 100-101
Sanjaya, Natta. Strategi pengelolaan Barang Milik Daerah Dalam Meraih Opini Badan
Pemeriksa Keuangan
Wajar Tanpa
Pengecualian Pada Pemerintah Daerah Provinsi Banten.2016.
hlm. 90.
Yasmin, Anifa. Perbandingan Kinerja Pemerintah Kabupaten / Kota Yang Memperoleh Opini WTP Dan Non WTP.
2017. hlm. 99-101
Setyawati, Heny Strategi Pencapaian Opini WTP pemerintah Kabupaten Bondowoso Dalam Penerapan Standar Akuntansi
Pemerintahan Berbasis Akrual. 2017. hlm. 70.
Trisnawati, Elsa Analisis Opini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Atas Laporan Keuangan Daerah: Studi Kasus Pada
Pemerintahan Kota
25 Bandung 2014-2016.
2018. hlm. 108.
D. Sumber Lain
Sumber Paparan Irjenad Pada Rapim TNI AD tahun 2019
E. Internet
Sumber www. BPKRI.co.id
https://tniad.mil.id/profil/orga nisasi/