• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi eksperimental perbaikan tanah pasir lepas dengan jamur Rhizopus oligosporus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Studi eksperimental perbaikan tanah pasir lepas dengan jamur Rhizopus oligosporus"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

5-1

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah:

1. Jamur Rhizopus oligosporus mempengaruhi nilai kuat geser tanah pada penelitian ini. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai kuat geser ketika jamur Rhizopus oligosporus mulai tumbuh.

2. Dari grafik hubungan nilai qu terhadap persentase kadar ragi disimpulkan bahwa semakin besar persentase kadar ragi maka semakin besar nilai kuat geser tanah.

3. Dari grafik hubungan nilai qu terhadap persentase kadar air disimpulkan bahwa kadar air paling ideal adalah 5% - 10%. Pada kadar air 5%

didapatkan nilai Cu terbesar, tapi pada kadar air 10% nilai Cu mulai menurun.

4. Dari grafik hubungan nilai qu terhadap curing disimpulkan bahwa nilai kuat geser terus meningkat hingga curing 3 hari, tapi menurun pada curing 4 10 hari. Hal ini membuktikan bahwa nilai Cu dipengaruhi oleh masa curing yang berkaitan juga dengan pertumbuhan jamur pada masa curing.

5.2 Saran

Saran untuk penelitian berikutnya adalah:

1. Dalam membuat sampel dan melakukan curing diperlukan suatu standar.

Perlakuan yang berbeda dapat mempengaruhi pertumbuhan jamur.

2. Meninjau lebih jauh mengenai persen kadar ragi yang optimum dengan meneliti pada persen kadar ragi >5.24%.

3. Meninjau lebih jauh mengenai persen kadar air yang optimum dengan meneliti pada persen kadar air 5% - 10%.

(2)

5-2

4. Melakukan sementasi dengan memberikan nutrisi pada bakteri yang terdapat pada pasir Padang untuk peningkatan kuat geser tanah yang lebih signifikan.

5. Menggunakan tanah yang berbeda untuk mengetahui pengaruh jamur Rhizopus oligosporus pada tanah tersebut.

6. Melakukan Uji Triaxial UU untuk mendapatkan nilai kohesi tanah (c).

(3)

xvii

DAFTAR PUSTAKA

Adityo, D. (2017). Studi Laboratorium Pengaruh Variasi Campuran Kapur Terhadap Kuat Geser Tanah Pasir Laut. Bandung: Universitas Katolik Parahyangan.

Atmaja, P. C. (2016). Laporan Praktikum Penyelidikan Tanah. Bandung:

Universitak Katolik Parahyangan.

Budi, G. S. (2011). Pengujian Tanah di Laboratorium: Penjelasan dan Panduan.

Yogyakarta: Graha Ilmu.

C. O., A., & R, L. (2012). Uses of Mushrooms in Bioremediation: A Review.

Ibadan: University of Ibadan.

Coduto, D. P. (1994). Foundation Design : Principles and Practices. Prentice Hall.

Das, B. M. (1991). Mekanika Tanah (Prinsip-Prinsip Rekayasa Geoteknis), Jilid 1. Jakarta, Indonesia: Erlangga.

Das, B. M. (1993). Mekanika Tanah (Prinsip-Prinsip Rekayasa Geoteknis), Jilid 2. Jakarta, Indonesia: Erlangga.

DeJong, J. T., Mortensen, B. M., Martinez, B. C., & Nelson, D. C. (2008). Bio- mediated Soil Improvement. Ecological Engineering.

Dwinaningsih, E. A. (2010). Karakteristik Kimia Dan Sensori Tempe Dengan Variasi Bahan Baku Kedelai/Beras Dan Penambahan Angkak Serta Variasi Lama Fermentasi. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Fomina, M., Burford, P. E., Hillier, S., Kierans, M., & Gadd, G. M. (2013). Rock- Building Fungi. Geomicrobiology Journal.

Mitchell, J., & Soga, K. (2005). Fundamentals Of Soil Behaviour. New Jersey:

John Wiley & Sons, Inc.

Nurrohmah, A. D. (2013). Kualitas Tepung Beras Sebagai Bahan Baku Campuran Ragi Tempe (Rhizopus oligosporus) Dilihat Dari Hasil Produksi Tempe Kedelai.

Rahardjo, P., Widjaja, B., Herina, S., Lestari, A. S., Lim, A., Rustiani, S., . . . Hapsari, V. (2014). Kajian Geoteknik Infrastruktur Untuk Koda Padang Menghadapi Ancaman Gempa Dan Tsunami. Bandung: Universitas Katolik Parahyangan.

(4)

xviii

Rhodes, C. J. (2015). Mycoremediation (Bioremediation With Fungi) - Growing Mushrooms To Clean The Earth.

Tambunan, A. W. (2018). Studi Laboratorium Pengaruh Variasi Campuran Tepung Limestone Terhadap Nilai Kuat Geser Pada Tanah Organik Terkompaksi Di Kawasan Gedebage, Kota Bandung. Bandung:

Universitas Katolik Parahyangan.

Thanh, N. V., & Nout, M. J. (2003). Dormancy, Activation and Viability of Rhizopus oligosporus sporangiospores. International Journal of Food Microbiology.

Wipradnyadewi, P. U., Rahayu, E., & Raharjo, S. (2004). Isolasi Dan Identifikasi Rhizopus Oligosporus Pada Beberapa Inokulum Tempe.

Referensi

Dokumen terkait

Pengujian kuat geser tanah pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai parameter kuat geser yaitu kohesi (C), dan sudut gesek dalam ( ϕ ) tanah lempung lunak

Pada uji pemadatan semakin banyak persentase limbah beton yang digunakan maka semakin beser pula nilai kadar air optimumnya nilai terbesar terdapat pada campuran limbah beton

Hal ini menunjukkan nilai sudut geser dalam tanah cenderung mengalami kenaikan seiring dengan bertambah besar persen pasir dalam tanah, diasumsikan terjadi

Hubungan kerapatan dan tegangan geser sejajar serat adalah berbanding lurus, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar kerapatan maka semakin besar pula tegangan geser

banyaknya penambahan kadar styrofoam semakin membuat berkurangnya lekatan pada campuran sehingga nilai kuat geser tanah menurun.. Perlu dilakukan penelitian

Perbedaan kadar protein tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan dari suhu inkubasi terhadap kadar protein oncom bungkil kacang tanah, sehingga semakin tinggi suhu

Hubungan ini dinyatakan pada grafik diatas (Gambar 3 dan Gambar 4). Jika kita plotkan nilai PI sebesar 62.26 dan nilai persen clay sebesar 40 % pada grafik diatas maka

Gambar 69 Grafik ABJ 5C Sumber : Hasil Pengujian Gambar 70 Grafik ABJ 5% Sumber : Hasil Pengujian Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa nilai kuat geser maksimum terjadi pada balok