• Tidak ada hasil yang ditemukan

studi&identifikasi&subak& bangli&sebagai&potensi& wisata

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "studi&identifikasi&subak& bangli&sebagai&potensi& wisata"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

Di Bali, sektor pertanian sangat erat kaitannya dengan sistem subak karena sistem subak mengendalikan sistem irigasi sektor pertanian dan juga mengatur pola dan jadwal tanam. Padahal, sistem subak di Nailai mempunyai peranan yang sangat nyata dalam proses pembangunan nasional (Suyatna: 1982). Yang dimaksud dengan rekonstruksi sistem Subak adalah penataan kembali bangunan-bangunan sistem Subak di Bali agar lebih mampu menghadapi perubahan lingkungan strategis, akibat globalisasi.

Sebelumnya kita akan membahas tren pengelolaan sistem irigasi di masa depan dan keberadaan sistem Subak di Bali saat ini. Gambaran suramnya sistem pertanian juga akan memperlihatkan wajah suram sistem subak. Eksistensi sistem Subak di Bali masih bertahan hingga saat ini meskipun menghadapi berbagai tantangan dan hambatan seperti yang tercermin sebelumnya, tampaknya karena sistem Subak mempunyai ciri sistem teknologi yang proporsional.

Dapat dipahami bahwa landasan yang digunakan sistem subak dalam menjalankan organisasinya adalah landasan kerukunan dan kebersamaan yang merupakan perwujudan universal dari konsep tiga pukulan karan (THK) yang menjiwai sistem subak di Bali. Proses transformasi yang terus-menerus terjadi pada sistem irigasi Subak akan mengubah konstruksi sub-sistem pada sistem Subak. Namun mengingat perubahan lingkungan sistem Subak akibat globalisasi begitu kuat, maka disarankan untuk sengaja merekonstruksi sistem Subak di Bali.

Rekonstuksi Sistem Subak di bali

Mentalitas keharmonisan dan kebersamaan yang dikembangkan dalam sistem irigasi Subak sebenarnya merupakan kontribusi yang sangat penting bagi ilmu irigasi (Windia 2002), yang pada hakikatnya mengagungkan efisiensi, bukan efektivitas (Sutawan dkk. 1984). Nampaknya yang perlu diubah adalah orientasi pemerintah terhadap sektor pertanian, dengan lebih memberikan perhatian pada sektor pertanian. Dengan demikian, prinsip konsep kerukunan dan kebersamaan yang dikembangkan dalam sistem Subak tidak akan berubah.

Jika konsep subak berubah maka akan mempengaruhi subsistem lain dalam sistem subak di Bali.

Subsistem Sosial

Organisasi

Dalam forum koordinasi ini juga telah disepakati adanya Pura Subak yang akan dikelola bersama. Dengan adanya forum koordinasi seperti ini, sistem Subak akan lebih berdaya menghadapi lingkungan eksternal yang dikhawatirkan membahayakan keberadaan dan kepentingan Subak. Misalnya saja Subak Agung Yen Ho di Kabupaten Tabanan yang berhasil membatalkan kebijakan pemerintah yang akan mengambil alih sepenuhnya mata air Yeh Gembrong untuk keperluan air minum yang dikelola oleh PDAM Tabanan, padahal mata air Yeh Gembrong merupakan sumber air utama bagi sungai Yeh Ho untuk irigasi. sawah di daerah Subak – Yeh Ho yang hebat.

Subak - Perjuangan Agung Yeh Ho berhasil meredam keinginan PDAM yang mengambil seluruh air dari sumbernya menjadi hanya separuhnya. Konflik-konflik seperti ini masih sering terjadi yaitu konflik antara petani anggota Subak dengan subsektor pertanian lain atau dengan sektor ekonomi lain. Umumnya petani yang tergabung dalam Subak selalu mengalami kekalahan karena organisasi Subak masih lemah dan tidak berdaya.

Secara khusus dapat disebutkan bahwa struktur organisasi Subak sudah sangat lemah, karena lembaga Sedahan – Agung tidak lagi berkembang sebagai lembaga mandiri di tingkat kabupaten/kota. Oleh karena itu, kelembagaan sedahan – agung yang mandiri dan tidak bergantung pada pelayanan pendapatan, sangat perlu dihidupkan kembali (Windia 2003), untuk lebih memberdayakan subak di Bali menghadapi arus globalisasi dunia. Sementara itu, pemerintah harus segera membentuk kembali Subak – Gde dan Subak – Agung di Bali, agar Subak semakin kokoh dan berdaya menghadapi arus globalisasi dunia.

Sebagaimana dikemukakan Tum (1997), lemahnya sektor pertanian akan menghancurkan arus globalisasi jika pemerintah tidak memberikan perlindungan dan perlindungan. Dalam hal ini perlindungan yang harus diberikan oleh pemerintah daerah di Bali kepada Subak (yang mengelola sistem pertanian) adalah dengan memberdayakan dan memperkuat organisasinya dengan membentuk wadah koordinasi sistem Subak berupa Subak – Gde dan Subak. - Forum Agung. Selain itu, subsidi harus diberikan kepada sektor pertanian dan pertanian untuk memperkuat sistem ini.

Sehubungan dengan itu, sehubungan dengan kegiatan perlombaan subak di Bali, nampaknya perlu dipikirkan untuk mengadakan perlombaan subak yang berbentuk subak – gde atau subak – Agung. Hal ini penting karena kompetisi Subak harus lebih fokus pada pengelolaan sistem irigasi Subak yang harus menghadapi semakin terbatasnya air irigasi di tahun-tahun mendatang.

Kegiatan Subak

Keterkaitan Subak dengan Sektor Pariwisata

Subsistem Artefak / Kebendaan

Pendekatan Umum

Pendekatan umum peneliti meliputi penyiapan personel dan peralatan untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan secara tepat dan sesuai dengan tahapan kegiatan. Gigih dan keras dalam kerja individu dan tim, sehingga menciptakan iklim kerja yang baik. Peralatan kerja yang kami gunakan selalu update sesuai dengan kemajuan teknologi, dimana peralatan tersebut akan disediakan sesuai dengan kebutuhan di kantor maupun di lapangan.

Metodelogi Pelaksanaan Penelitian

Persiapan Pelaksanaan Penelitian 1. Persiapan

Survey Pendahuluan

Penyusunan Program Kerja

Tahapan III : Perolehan Data Primer Melalui Kegiatan Inventory, Survey dan Pengukuran

Pengolahan Data Lapangan dan Analisa

Gambaran Kabupaten Bangli

  • Letak Geografi dan Wilayah Administrasi
  • Kondisi Topografi
  • Jenis Tanah
  • Geologi
  • Hidrologi
  • Pola Penggunaan Lahan
  • Infrastruktur/ Transportasi
  • Kondisi Topografi
  • Karakteristik Wilayah
  • Luas Subak
  • Fasilitas
  • Keanggotaaan
  • Bantuan dan kerjasama
  • Jumlah Produksi Pertanian Tanaman Pangan

Jenis tanah di Kabupaten Bangli merupakan tanah sebagian regosal dengan suhu rata-rata 200C, sehingga tanaman apa pun dapat tumbuh di kawasan ini. Tanah Regosol di Kabupaten Bangli terbagi menjadi regosol berwarna abu-abu kecoklatan yang tersebar di sekitar kaki Gunung Batur dan daerah sekitar tepi Danau Batur. Bentukan geologi Kabupaten Bangli sebagian besar merupakan endapan tufa, endapan lava Buyan – Beratan dan Batur (Qbb) dan sebagian kecil merupakan batuan vulkanik Batur berumur Kuarter hasil gunung berapi muda.

Terdapat dua sungai besar di Kabupaten Bangla yang merupakan sungai permanen yaitu Sungai Melangit. Di wilayah Bangli terdapat 11 sungai yang dapat dijadikan sumber irigasi dan 17 buah bendungan serta 29 empelan yang berfungsi sebagai pengatur aliran sungai. Wilayah Bangli terletak di wilayah khatulistiwa dan mempunyai iklim yang dipengaruhi muson tropis, sehingga mempunyai musim yang berbeda-beda yaitu musim kemarau dan musim hujan, dipisahkan oleh perubahan suhu udara yang ditentukan oleh ketinggian dan suhu rata-rata 280C pada tahun 2010. curah hujan yang relatif tinggi.

Pola penggunaan lahan di wilayah Kabupaten Bangli meliputi luas sekitar 2.888 Ha yang merupakan lahan sawah, 25.088 Ha lahan kering, 9.341 Ha hutan negara, 11.731 Ha lahan perkebunan dan sisanya 3.033 Ha merupakan lahan lain-lain. . (jalan, sungai, dll-lainnya). Kabupaten Bangli dengan luas wilayah 520,81 Km2 atau 9,25% luas wilayah Provinsi Bali terdiri dari 4 (empat) kecamatan dan berdasarkan hasil sensus penduduk, jumlah penduduk Kabupaten Bangli sebanyak 192.681 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk tahun 1990-2010 sebesar 0,92%. Dilihat dari kondisi geografisnya, Kabupaten Bangli mempunyai kegiatan yang beragam dan dapat digolongkan menjadi 2 (dua) sektor, yaitu kawasan pertanian dan non pertanian.

Berdasarkan hasil identifikasi sampai dengan bulan Agustus 2010, jumlah sawah subak di Kabupaten Bangli sebanyak 109 subak. Pendataan kondisi topografi Kabupaten Bangli dilakukan pada masing-masing kecamatan oleh responden yang masuk seperti pada tabel dibawah ini. Fasilitas jalan sangat menunjang perekonomian khususnya pada sektor pertanian.Tabel berikut menunjukkan kondisi jalan dari hasil pendataan sawah subak yang dilakukan.

Sebagai kelompok tani yang bergerak dibidang pertanian lahan basah, maka sawah subak pada umumnya mempunyai fasilitas seperti: bendungan, parit, saluran irigasi, pintu air, pembatas air, bal timbang, balai subak, jalan subak, jalan pertanian dan pura subak. Namun dari 109 subak sawah yang telah didaftarkan, setidaknya terdapat 3 subak yang belum memiliki tempat penimbangan, dan 8 subak menyatakan kondisi balai subak rusak berat. Hal yang menarik dari perekrutan anggota Subak Sawah adalah anggota Subak juga bisa menjadi petani bagi hasil yang belum tentu memiliki lahan pertanian yang digarapnya.

Sebagai organisasi di bidang pertanian, Subak Sawah dilihat dari kebijakan Pemerintah Provinsi Bali dan Kabupaten Bangli diprogram untuk menerima bantuan operasional pengembangan kelembagaan.

Tabel 4.2. Kondisi Topografi
Tabel 4.2. Kondisi Topografi

Potensi Pengembangan Subak

  • Fisik
  • Sosial

Produksi padi sawah mengalami penurunan dari 2.290 ton pada tahun 2009 menjadi 1.677 ton pada tahun 2011 atau turun sebesar 26,77%, hal ini disebabkan oleh produktivitas yang menurun sebesar 14,20% dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk tanaman ubi jalar periode 2010-2011 mengalami penurunan produksi sebesar 52,84%, hal ini disebabkan oleh berkurangnya luas panen sebesar 46,80% sehingga mengakibatkan produktivitas menurun sebesar 24,82%. Sedangkan produksi kacang tanah mengalami penurunan sebesar 30,57% dan produktivitas kedelai mengalami penurunan sebesar 14,54% karena berkurangnya luas panen sebesar 67,73%.

Potensi sumber daya manusia berupa tenaga kerja terampil dengan keahlian di Kabupaten Bangla cukup besar untuk ditingkatkan, partisipasi angkatan kerja yang tinggi, kesejahteraan yang semakin besar, lembaga-lembaga sosial yang semakin berdaya, dan lain sebagainya. Potensi sumber daya buatan seperti infrastruktur regional dan perkotaan tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Bangli, mendukung kegiatan ekonomi/manufaktur yang luas. Potensi spasial tersebut diwujudkan dengan letak Kabupaten Bangli yang strategis di antara segitiga pertumbuhan (Gianyar, Klungkung, dan Buleleng) dan dilalui jalur-jalur ekonomi.

Terdapat beberapa potensi fisik yang menonjol di Kabupaten Bangli, antara lain: Potensi pengembangan kegiatan budidaya pertanian, hal ini sangat mungkin terjadi karena didukung oleh potensi air permukaan dan air danau yang belum dimanfaatkan secara optimal. Potensi alam dengan geomorfologi dan topografi yang beragam serta budaya masyarakat yang masih kuat mempunyai potensi yang besar untuk menjadi aset pariwisata khususnya kawasan destinasi wisata Bali Timur. Daya dukung dan daya tampung fisik Kabupaten Bangli masih besar, hal ini terlihat dari rasio luas terbangun terhadap luas dan jumlah penduduk yang masih kecil.

Wilayah Kabupaten Bangli tergolong subur sehingga sangat memungkinkan untuk dikembangkan berbagai jenis komoditas pertanian dan perkebunan yang pada akhirnya dapat meningkatkan PDRB daerah di masa depan. Kehidupan sosial budaya di Kabupaten Bangli sangat religius, berdasarkan cerminan agama dan budaya yang terselenggara dalam adat, adat istiadat, upacara keagamaan dengan adanya pura Sad Kayangan, dan dalam kehidupan sehari-hari merupakan potensi yang paling dominan. keadaan ini harus dipertahankan untuk mendukung pembangunan daerah dan penataan ruang. Kepadatan penduduk yang rendah memungkinkan terjadinya pengaturan arah pembangunan daerah dan kota, khususnya pola penggunaan uang daerah.

Kabupaten Bangli mempunyai sumber pendapatan yang mampu memberikan kontribusi terhadap PDRB dan PAD seperti PBB, retribusi dan pajak lainnya. Jumlah tenaga kerja yang cukup besar, dengan fungsi dan kesempatan kerja yang beragam memberikan peluang yang luas untuk berusaha.

Gambar

Tabel 4.2. Kondisi Topografi
Tabel 4.3. Karakteristik Wilayah  Karakteristik
Tabel 4.5. Kondisi Jalan
Tabel 4.4. Luas Wilayah Subak
+2

Referensi

Dokumen terkait

Guarantee scheme is designed to cope with the problems faced by small and medium enterprises either at micro lever or macro level (Samujh et al., 2012). At the micro level,