Vol. 1 No. 1, 2021
Analisis Pengelolaan Keuangan Desa: Studi Kasus Desa Mattirowalie, Kabupaten Bone
Analysis Of Village Financial Management: A Case Study Of Rural Mattirowalie, District Of Bone
Kasniati*, Hariany Idris, Mukhammad Idrus Jurusan Akuntansi, Universitas Negeri Makassar, Makassar, Indonesia
*Penulis Koresponden: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk : Mengetahui Pengelolaan Keuangan Desa Di Desa Mattirowalie Kecamatan Bengo Kabupaten Bone. Variabel dalam penelitian ini adalah : Pengelolaan Keuangan Desa yang terdiri dari 5 tahapan yaitu Perencanaan, Pelaksanaan, Penatausahaan, Pelaporan, Dan Pertanggungjawaban. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan Deskriptif Kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pengelolaan Keuangan Desa Di Desa Mattirowalie Kecamatan Bengo Kabupaten Bone hanya sesuai pada tahap penatausahaan. Sedangkan pada perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban masih belum sesuai dengan Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa.
Kata Kunci: Pengelolaan Keuangan Desa
ABSTRACT
This study aims to: Knowing the Village Financial Management in Mattirowalie Village, Bengo Sub-District, Bone Regency. The variables in this study are: Village Financial Management which consists of 5 stages, namely Planning, Implementation, Administration, Reporting, and Accountability. Data collection techniques were carried out using interviews and documentation. Data analysis used descriptive qualitative. The results of this study indicate that the Village Financial Management in Mattirowalie Village, Bengo Sub-District, Bone Regency is only appropriate at the administrative stage. Meanwhile, planning, implementation, reporting, and accountability are still not in accordance with the Minister of Home Affairs Regulation Number 20 of 2018 concerning Village Financial Management.
Keywords: Village Financial Management
1. PENDAHULUAN
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa mengamanatkan kepada pemerintah untuk mengalokasikan dana desa kepada setiap desa administratif di Indonesia dengan besaran setidaknya 10% dari dan di luar dana transfer daerah yang diberikan secara bertahap. Selain dana desa, desa juga menerima pendapatan dari pos lain berupa alokasi dana desa, bagi hasil pajak dan retribusi daerah, bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi dan Kabupaten/Kota, Pendapatan Asli Daerah, dan pendapatan lain- lain.
Desa ditantang untuk mengelola pendapatan yang diperolehnya tersebut dengan bertanggungjawab.
Bentuk pertanggungjawaban dilakukan dengan cara mengelola dana tersebut dengan berdasarkan pada prinsip- prinsip tata pemerintah yang baik (good governance) seperti akuntabilitas, transparan, partisipatif, efektif, efisien, responsive, terbuka dan lain sebagainya. Ini merupakan tuntutan yang patut di seriusi mengingat berbagai kajian menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan desa memiliki berbagai resiko dan kerawanan, baik dari sisi regulasi, kelembagaan, tata laksana, pengawasan, dan sumber daya manusia.
Ihwal keuangan desa diatur dalam pasal 71-75 Undang- undang No. 16 Tahun 2014. dalam pasal itu, dinyatakan bahwa “keuangan desa adalah semua hak dan yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban desa”.
Selanjutnya, dalam (Novianto, 2019) Pengaturan mengenai keuangan desa dan hal lain yang terikat dengan dijabarkan lebih lanjut dalam berbagai peraturan, diantaranya :
1) PP No. 43 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa 2) PP No. 60 Tentang Dana Desa Yang Bersumber
APBN, PP No. 22 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas PP No. 60 Tahun 2014
3) PP No. 47 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Pp No. 40 Tahun 2014
4) Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 113 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa (Sekarang Permendagri No. 20 Tahun 2018).
5) Peraturan Menteri Keuangan No.
241/PMK.07/2014 Tentang Pelaksanaan Dan
Pertanggungjawaban Transfer Ke Daerah Dan Dana Desa
6) Peraturan Menteri Keuangan No.
250/PMK.07/2015 Tentang Pengalokasian Transfer Ke Daerah Dan Dana Desa
7) Peraturan Menteri Keuangan No. 93/PMK.07/2015 Tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan, Dan Evaluasi Dana Desa,
8) Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrasi (Permendes PDTT) No. 5 Tahun 2015 Tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa,
9) Peraturan menteri desa, pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi nomor 2 tahun 2015 tentang pedoman tata tertib dan mekanisme pengambilan keputusan musyawarah desa ; 10) Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, Dan Transmigrasi Nomor 3 Tahun 2015 Tentang Pendampingan Desa;
11) Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi Nomor 5 Tahun 2015 Tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2015;
12) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 241/PMK.07/2014 Tentang Pelaksanaan Dan Pertanggungjawaban Transfer Ke Daerah Dan Dana Desa;
13) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 250/PMK.07/2014 Tentang Pengalokasian Transfer Ke Daerah Dan Dana Desa;
14) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 263/PMK.05/2014 Tentang System Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Transfer Ke Daerah Dan Dana Desa.
15) Dalam Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa,
Ihwal pengelolaan dana desa telah diatur dalam bab IV. Di dalamnya, diatur bahwa pengelolaan dana desa terdiri atas 5 tahap, yakni Perencanaan, Pelaksanaan, Penatausahaan, Pelaporan Dan Pertanggungjawaban.
Jika ditilik mulai dari hulu, pengelolaan keuangan desa dimulai dari perencanaan. Pertama kali diadakan musyawarah desa yang diselenggarakan oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) untuk membahas hal- hal yang sifatnya strategis. Kemudian, hasil musyawarah desa berupa perencanaan pembangunan ditindaklanjuti dengan Musyawarah Pembangunan
Perencanaan Desa (MUSRENGBANGDES) yang diselenggarakan kepala desa dan perangkatnya.
Setelah Rancangan Peraturan Desa (Raperdes) tentang APBD disepakati bersama oleh kepala Desa dan Badan Pengawas Desa (BPD) paling lambat Oktober dan hasil evaluasi dari Bupati/Walikota/Camat menyatakan telah sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang- Undangan yang lebih tinggi, kepentingan umum, dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPD), maka APBD ditetapkan.
Sebelum Desa dapat menerima pencairan dana desa, terlebih dahulu Kabupaten/Kota harus mengesahkan APBD Kabupaten/Kota dan Peraturan Bupati/Walikota mengenai tata cara pembagian dan penetapan besaran dana desa (pasal 17 ayat (1) PP No.
60 tahun 2014 dan pasal 16 ayat (2) Permenkeu No.
93/PMK/07/2015). Sebelum peraturan Bupati/Walikota dibuat, Desa menyelesaikan terlebih dahulu APBD- nya. Keharusan adanya peraturan kepala daerah tersebut sebagai indikasi bahwa Kabupaten telah siap untuk menyalurkan dana sesuai peraturan.
Penggunaan dana desa dikelola oleh pemerintah desa melalui kuasa kepala desa dan digunakan sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMD), Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPD), dan APBD. Adapun laporan realisasi pelaksanaan APBD disampaikan kepala Desa kepada Bupati/walikota berupa laporan semester pertama yang harus disampaikan paling lambat akhir bulan juli dan laporan semester akhir tahun paling lambat 3 bulan setelah akhir tahun anggaran berkenaan yang ditetapkan dengan Peraturan Desa. Selain pelaporan, KPI Desa juga harus menyampaikan laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBD dalam bentuk Perdes kepada Bupati/Walikota setiap akhir tahun anggaran. ("Pengelolaan Keuangan Desa Pasca UU No. 6 Tahun 2014," 2015).
Desa Mattirowalie adalah salah satu dari 328 Desa yang ada di Kabupaten Bone. Tahun 2019, Besaran APBD pada desa Mattirowalie adalah sebesar Rp 1.513.083.500,00. Besarnya dana yang diterima, tentu juga dibarengi dengan tanggung jawab yang besar.
Mengingat bahwa dana yang besar rentan dengan penyalahgunaan dan penyimpangan. Oleh karena itu, melihat besarnya jumlah APBD desa Mattirowalie penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana pemerintah desa mengelola keuangan desa tersebut.
Maka penulis melakukan suatu penelitian yang
berjudul: “Analisis Pengelolaan Keuangan Desa Di Desa Mattirowalie Kecamatan Bengo Kabupaten Bone”.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Desa
Pengertian desa menurut (Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa), pasal 1 poin 1:
Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Desa dalam pengertian umum menurut (Bastian, 2015) adalah sebuah aglomerasi permukiman di area Pedesaan (rural). Bentuk sebuah desa biasanya mempunyai nama, letak, dan batas-batas wilayah yang bertujuan untuk membedakan antara desa yang satu dengan desa yang lain. Perbedaan ini dilakukan untuk memudahkan pengaturan sistem pemerintahannya.
Satu desa dihuni oleh masyarakat yang terdiri dari beberapa keluarga.
Dari beberapa definisi diatas, penulis dapat menarik sebuah kesimpulan yaitu, Desa adalah sebuah wilayah yang terdiri dari beberapa penduduk, dan diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus sistem pemerintahannya sendiri.
2.2 Definisi Keuangan Desa
Dalam (Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa) “Keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban desa”.
Menurut (Sujarweni, 2015a) “ Keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban dalam bentuk satuan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun barang yang dapat menjadi milik desa.”Pendapatan
2.2.1 Shinta. M. (2019)
Penelitian yang dilakukan Shinta M (2-19) berjudul
“Analisis Pengelolaan Keuangan Desa Berdasarkan Permendagri Nomor 20 Tahun 2018”. Hasil Penelitian Menyatakan Bahwa Pengelolaan Keuangan Desa Di Desa Mangir Yang Meliputi Perencanaan, Pelaksanaan, Penatausahaan, Pelaporan, dan Pertanggungjawaban Sesuai Dengan Permendagri Nomor 20 Tahun 2018. Persamaan Penelitian Ini Adalah Sama-Sama Membahas Tentang Pengelolaan Keuangan Desa, Sedangkan Perbedaannya Terletak Pada Objek Yang Akan Diteliti.
2.2.2 Pratiwi (2019)
Penelitian yang dilakukan Pratiwi (2019) berjudul
“Analisis Penerapan permendagri nomor 20 tahun 2018 dalam perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban APBD”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan antara Permendagri tahun 2014 dengan permendagri tahun 2018 dilihat dari sisi struktur organisasinya, dan secara garis besar pengelolaan keuangan desa di desa pucangan sudah sesuai dengan permendagri namun secara teknis masih banyak kendala. Persamaan penelitian ini yaitu memiliki variabel yang sama yaitu pengelolaan keuangan desa.
Perbedaannya terletak pada objek yang akan di teliti.
2.2.3 Suriadi M dan Mersa A.N (2020)
Penelitian yang dilakukan Suriadi M dan Mersa A.N (2020) dengan judul “Analisis Penerapan Pengelolaan Keuangan Dana Desa Berdasarkan Permendagri Nomor 20 Tahun 2018”. Hasil penelitian menyatakan bahwa a). perencanaan keuangan desa telah dilaksanakan dengan prinsip partisipasi masyarakat dan keterbukaan. b). dalam pelaksanaannya pemerintah desa telah menerapkan prinsip akuntabilitas terhadap penerimaan dan pengeluaran, akan tetapi dapat dilihat dari realisasi pelaksanaan kegiatan pembangunan. c). Penatausahaan telah dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan secara periodik kepada kepala desa maupun masyarakat. d).
pelaporan realisasi pelaksanaan APBD telah disampaikan kepada masyarakat sebagai bentuk proses kegiatan penyelenggaraan pelaksanaan APBD.
e). untuk pertanggungjawaban laporan realisasi pelaksanaan APBD kepala desanya juga telah menyampaikan kepada bupati setiap akhir tahun anggaran. Persamaan penelitian ini yaitu sama- sama membahas tentang pengelolaan keuangan desa.
Perbedaannya terletak pada objek yang akan di teliti.
3. METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang yang hasil pembahasannya diuraikan bukan dengan angka. Variabel dalam penelitian ini yaitu Pengelolaan Keuangan Desa yang terdiri dari 5 tahapan yakni Perencanaan, Pelaksanaan, Penatausahaan, Pelaporan, dan Pertanggungjawaban.
Pengukuran menggunakan indikator yang terkandung dalam Permendagri No. 20 Tahun 2018.
3.2. Desain Penelitian
Objek penelitian ini yaitu Desa Mattirowalie Kecamatan Bengo Kabupaten Bone. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui Wawancara dan Dokumentasi. Untuk mengukur variabel dilakukan perbandingan dengan Indikator yang terdapat dalam Permendagri No. 20 Tahun 2018.
Teknik analisis data yang digunakan yaitu Deskriptif Kualitatif
.
3.4. Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah Deskriptif Kualitatif.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian dan Pembahasan 4.1.1. Hasil Penelitian
Hasil penelitian pengelolaan keuangan desa di Desa Mattirowalie, Kecamatan Bengo, Kabupaten Bone tahun 2019 dimulai dari tahapan perencanaan sampai pertanggungjawaban keuangan desa. Data diperoleh dari hasil wawancara dan dokumentasi.
a. Perencanaan pengelolaan keuangan desa di Desa Mattirowalie
Pemerintah Desa Mattirowalie dalam menyusun rancangan peraturan desa pertama - tama melakukan musyawarah RKPD, setelah dimusyawarahkan selanjutnya ditetapkan, disusun dan diserahkan ke BPD untuk di bahas lebih lanjut setelah itu diminta persetujuan verifikasi Kecamatan untuk selanjutnya di tetapkan. Perumusan RKP Desa Mattirowalie tahun 2019 berpedoman pada pembangunan desa. Proses penyusunan RKPD tahun 2019 disusun melalui berbagai tahapan, meliputi :
1) Penyusunan perencanaan pembangunan melalui musyawarah desa
2) Pembentukan TIM penyusun RKPD
3) Pencermatan pagu indikatif desa dan penyelaraan program/kegiatan masuk desa
4) Pencermatan ulang dokumen RPJMD 5) Penyusunan Rancangan RKPD
6) Penyusunan RKPD melalui musyawarah perencanaan pembangunan desa
7) Penetapan RKPD
Dari penjelasan diatas dapat dikatakan indikator pertama sudah diterapkan.
Dalam perumusan RKPD untuk ditetapkan sebagai peraturan desa, dilaksanakan pada tanggal 28 maret 2019 yang dihadiri oleh 23 orang terdiri dari BPD dan perangkat desa, sehingga indikator kedua dikatakan sudah diterapkan.
Peraturan desa tentang APBD akan disepakati bersama BPD. Kemudian peraturan desa tersebut disampaikan oleh kepala desa kepada bupati/walikota melalui Camat paling lambat 3 hari sejak disepakati untuk dievaluasi. Namun, hasil penelitian di kantor Desa Mattirowalie tidak ditemukan bukti bahwa rancangan peraturan desa tersebut disampaikan kepada Camat. Dengan demikian, peneliti menganggap bahwa indikator ketiga tidak diterapkan di Desa Mattirowalie.
b. Pelaksanaan pengelolaan keuangan desa di Desa Mattirowalie
Dalam pelaksanaan, langkah awal yang dilakukan adalah pelaksana kegiatan mengajukan pendanaan terkait APBD yang telah ditetapkan di tahap perencanaan untuk melaksanakan kegiatan. Beberapa ketentuan yang yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan desa, adalah : 1) Semua penerimaan dan pengeluaran desadalam
rangka pelaksanaan kewenangan desa dilaksanakan melalui kas desa dengan specimen tanda tangan sekretaris desa. Hal ini telah diterapkan oleh pemerintah Desa Mattirowalie didukung bukti yang lengkap dan sah.
2) Kepala desa menugaskan kaur dan kasi pelaksana untuk menyusun DPA. Namun, hal ini tidak ditemukan bukti DPA yang disusun pemerintah desa. Jadi, poin kedua tidak diterapkan.
3) Kaur keuangan menyusun RAK desa. Hal ini juga tidak ditemukan bukti yang mendukung. Jadi, poin ketiga juga tidak diterapkan.
4) Kaur dan Kasi pelaksana kegiatan anggaran mengajukan SPP. Hal ini juga tidak ditemukan
bukti yang mendukung. Jadi, dikatakan tidak diterapkan .
5) Kaur dan Kasi pelaksana kegiatan menyusun RAB. Hal ini juga tidak ditemukan bukti adanya RAB pelaksanaan dari anggaran belanja tak terduga.
6) Kaur keuangan melakukan pemotongan pajak terhadap pengeluaran kas desa. Adanya bukti pemotongan pajak, sehingga dikatakan diterapkan.
c. Penatausahaan pengelolaan keuangan desa di Desa Mattirowalie
Penatausahaan adalah pencatatan seluruh transaksi keuangan, baik penerimaan maupun pengeluaran uang dalam satu tahun anggaran. Penatausahaan di Desa Mattirowalie dilakukan oleh Kaur Keuangan.
Kaur Keuangan wajib mempertanggungjawabkan uang melalui laporan pertanggungjawaban yang disampaikan kepada kepala desa.
Laporan pertanggungjawaban yang wajib di buat oleh Kaur Keuangan berupa Buku kas umum, buku pembantu pajak dan buku bank. Kaur keuangan melakukan pencatatan atas seluruh penerimaan dan pengeluaran dalam buku kas umum untuk yang bersifat tunai. Sedangkan transaksi penerimaan dan pengeluaran melalui bank atau transfer dicatat di buku bank. Buku kas pembantu pajak di gunakan untuk mencatat penerimaan uang yang berasal dari pungutan pajak dan mencatat pengeluaran berupa penyetoran pajak ke kas negara.
d. Pelaporan pengelolaan keuangan desa di Desa Mattirowalie
Pelaporan merupakan salah satu mekanisme untuk mewujudkan dan menjamin akuntabilitas pengelolaan keuangan desa. Hakikat dari pelaporan ini adalah pengelolaan keuangan desa dapat dipertanggungjawabkan dari berbagai aspek : hukum, administrasi, maupun moral. Dengan demikian, pelaporan pengelolaan keuangan desa menjadi kewajiban pemerintah desa sebagai bagian tak terpisahkan dari penyelenggaraan pemerintah desa.
Dalam melaksankan tugas, wewenang dan kewajibannya dalam pengelolaan keuangan desa, kepala Desa Mattirowalie memiliki kewajiban untuk menyampaikan pelaporan. Laporan tersebut bersifat periodic semesteran dan tahunan yang disampaikan ke BPD dan bupati Bone.
Laporan realisasi pelaksanaan APBD Desa Mattirowalie terdiri atas laporan semester pertama dan laporan semester akhir tahun. Laporan semester pertama menggambarkan realisasi pendapatan, belanja dan pembiayaan dibandingkan dengan anggarannya selama semester pertama. Sedangkan laporan semester akhir menggambarkan realisasi pendapatan, belanja dan pembiayaan sampai dengan akhir tahun anggaran. Setelah laporan semester pertama dan semester akhir selesai, maka pemerintah desa Mattirowalie harus menyampaikan laporan tersebut kepada bupati Bone melalui Camat Bengo.
Namun berdasarkan temuan di kantor Desa Mattirowalie, tidak ditemukan bukti bahwa laporan semester pertama dan semester akhir disampaikan kepada Camat Bengo. Maka peneliti menganggap kedua indikator tidak diterapkan.
e. Pertanggungjawaban pengelolaan keuangan desa di Desa Mattirowalie
Laporan pertanggungjawaban pada dasarnya adalah laporan realisasi pelaksanaan APBD yang disampaikan oeh kepala desa kepada Bupati/Walikota setelah tahun berakhir pada 31 desember setiap tahun.
Untuk pertanggungjawaban kepada pemerintah, laporan realisasi pelaksanaan APBD tersebut dilaporkan kepada Bupati Bone Melalui Camat Bengo.
Namun karena laporan semester pertama dan semester akhir tidak ditemukan bukti bahwa laporan pertanggungjawaban tersebut disampaikan kepada Camat bengo. Hanya ada pernyataan lisan yang diberikan dari pemerintah desa. karena tidak ada bukti tertulis maka, peneliti menganggap bahwa indikator ini tidak diterapkan.
Untuk pertanggungjawaban kepada masyarakat Desa Mattirowalie, laporan realisasi pelaksanaan APBD tersebut diinformasikan kepada masyarakat berupa pemasangan baliho di deapn kantor Desa Mattirowalie sehingga dapat diketahui semua masyarakat Desa Mattirowalie. Maka, dapat dikatakan indikator ini sudah diterapkan.
4.1.1.2. Pembahasan
Pembahasan hasil penelitian yang telah dilakukan di Desa Mattirowalie Kecamatan Bengo Kabupaten Bone menunjukkan bahwa perencanaan keuangan desa di Desa Mattirowalie dilaksanakan dengan menyusun rancangan peraturan desa tentang APBD berdasarkan
RKPD tahun 2019 oleh sekretaris desa. Rancangan peraturan desa tentang APBD tersebut disepakati 28 maret 2019. Namun tidak ditemukan bukti bahwa rancangan peraturan desa disampaikan kepada Camat Bengo berdasarkan waktu yang telah ditentukan.
Pada pelaksanaan keuangan desa di Desa Mattirowalie menunjukkan bahwa sebelum melaksanakan kegiatan, kepala desa menugaskan kaur dan kasi pelaksana kegiatan anggaran sesuai tugasnya menyusun DPA.
Namun, tidak ditemukan bukti DPA. Setelah itu Kaur Keuangan menyusun rancangan RAK untuk selanjutnya disetujui kepala desa. Namun RAK juga tidak ditemukan. Selanjutnya Kaur dan Kasi pelaksana kegiatan anggaran mengajukan SPP dalam setiap pelaksana kegiatan. Namun, SPP ini juga tidak ditemukan di kantor desa. Secara lisan pemerintah desa mengatakan bahwa semua telah dilaksanakan namun karena tidak ada bukti dalam bentuk fisik maka peneliti menganggap hal itu tidak diterapkan.
Hal selanjutnya yang dilakukan oleh Kaur dan Kasi pelaksana kegiatan adalah menyusun RAB pelaksanaan dari anggaran belanja tak terduga yang selanjutnya diusulkan kepada kepala desa melalui sekretaris desa namun tidak ditemukan adanya bukti penyusunan RAB. setiap pengeluaran kas desa yang menyebabkan beban atas anggaran belanja desa dikenakan pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Serta kaur keuangan sebagai wajib pungut pajak melakukan pemotongan pajak terhadap pengeluaran kas desa dan wajib menyetorkan seluruh penerimaan pajak yang dipungut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pada penatausahaan keuangan desa di Desa Mattirowalie, kaur keuangan desa melakukan pencatatan setiap penerimaan dan pengeluaran dan tutup buku setiap akhir bulan secara tertib. Kaur keuangan juga membuat laporan pertanggungjawaban bulanan yang disampaikan setiap bulan kepada kepala desa. Untuk pencatatan penerimaan dan pengeluaran tersebut, kaur keuangan desa menggunakan buku kas umum, buku pembantu pajak, dan buku bank.
Pada pelaporan keuangan desa di Desa Mattirowalie dilaksankan dengan menyusun laporan semester pertama dan laporan semester akhir tahun oleh kaur keuangan. Kepala desa menyampaikan laporan pelaksanaan APBD semester pertama kepada bupati/walikota melalui Camat, namun hal itu tidak ditemukan bukti dokumen di kantor desa. selanjutnya
kepala desa menyusun laporan pelaksanaan APBD dan laporan realisasi kegiatan dengan cara menggabungkan seluruh laporan paling lambat minggu kedua bulan juli tahun berjalan. Namun hal ini juga tidak ditemukan dokumen bahwa seluruh laporan telah dibuat paling lambat minggu kedua bulan juli tahun berjalan.
Pada pertanggungjawaban keuangan desa di Desa Mattirowalie dilaksanakan dengan menyusun laporan pertanggungjawaban oleh sekretaris desa. laporan tersebut disampaikan kepada bupati Bone oleh kepala desa melalui Camat bengo. Namun tidak ditemukan bukti bahwa laporan pertanggungjawaban tersebut disampaikan kepada Camat bengo. Untuk laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBD tersebut telah diinformasikan kepada masyarakat melalui baliho yang terpasang di halaman kantor desa.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pengelolaan keuangan desa di Desa Mattirowalie Kecamatan Bengo Kabupaten Bone sesuai pada tahap penatausahaan, cukup sesuai pada tahap perencanaan, kurang sesuai pada tahap pertanggungjawaban, dan tidak sesuai pada tahap pelaksanaan dan pelaporan. Secara keseluruhan tahapan pengelolaan keuangan desa di Desa Mattirowalie masih belum maksimal. Masih ada beberapa yang penerapannya kurang bahkan belum menerapkan sama sekali peraturan menteri dalam negeri nomor 20 tahun 2018.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Shinta. M, 2019) dimana Hasil Penelitian Menyatakan Bahwa Pengelolaan Keuangan Desa Di Desa Mangir Yang Meliputi Perencanaan, Pelaksanaan, Penatausahaan, Pelaporan, dan Pertanggungjawaban Sesuai Dengan Permendagri Nomor 20 Tahun 2018.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Pratiwi, 2019) dimana Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan antara Permendagri tahun 2014 dengan permendagri tahun 2018 dilihat dari sisi struktur organisasinya, dan secara garis besar pengelolaan keuangan desa di desa pucangan sudah sesuai dengan permendagri namun secara teknis masih banyak kendala.
Penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian (Suriadi.
M dan Mersa A.N, 2020) dimana Hasil penelitian menyatakan bahwa a). perencanaan keuangan desa
telah dilaksanakan dengan prinsip partisipasi masyarakat dan keterbukaan. b). dalam pelaksanaannya pemerintah desa telah menerapkan prinsip akuntabilitas terhadap penerimaan dan pengeluaran, akan tetapi dapat dilihat dari realisasi pelaksanaan kegiatan pembangunan. c).
Penatausahaan telah dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan secara periodik kepada kepala desa maupun masyarakat. d). pelaporan realisasi pelaksanaan APBD telah disampaikan kepada masyarakat sebagai bentuk proses kegiatan penyelenggaraan pelaksanaan APBD. e). untuk pertanggungjawaban laporan realisasi pelaksanaan APBD kepala desanya juga telah menyampaikan kepada bupati setiap akhir tahun anggaran
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Rineka Cipta.
Bastian, I. (2015). Akuntansi Untuk Kecamatan dan Desa:
Erlangga.
Drs. Mursyidi, S., M.Si. (2009). Akuntansi Pemerintahan Indonesia (A. S. Mifka Ed.): Refika Aditama.
Noor, J. (2011). Metodologi penelitian: Kencana.
Novianto, D. (2019). Tepat Guna Pengelolaan Keuangan Desa. Derwati Press
Pengelolaan Keuangan Desa Pasca UU No. 6 Tahun 2014. (2015). Policy Paper.
Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa.
Pratiwi P. S. (2019). Analisis Penerapan PERMENDAGRI NO.20 THN 2018 dalam perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban APBD.
Shinta. D. (2019) Analisis Pengelolaan Keuangan Desa Berdasarkan Permendagri No. 20 Tahun 2018 (Studi Kasus Pada Desa Mangir Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi).
Sujarweni, V. W. (2015a). Akuntansi Desa (panduan tata kelola desa ) Pustaka Baru.
Suriadi M dan Mersa A.N. (2020). Analisis Penerapan pengelolaan Keuangan dana desa berdasarkan permendagrinomor 18 thn 2018 (studi kasus pada desa melintang kecamatan muara wis kabupaten kutai kartanegara).
Sujarweni, V. W. (2015b). Akuntansi Sektor Publik:
Pustaka Baru.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.