Nama : Mohamad Raihan Rizki Akbar NPM : 180110230047
Kelas : A
Isu Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan Bagaimana Penggunaannya Serta Penggunaannya pada Karya Sastra Populer
Supernova (6) :Intelegensi Embun Pagi Karya Dee Lestari
Pengantar
Karya Sastra Populer ini berjudul Intelegensi Embun Pagi yang merupakan seri penutup dari series novel Supernova yang telah berjalan selama kurang lebih 15 Tahun. Novel ini ditulis oleh Dee Lestari atau yang kerap dipanggil Dewi Lestari, alasan Dewi Lestari menggunakan nama pena, karena nama Dewi susah dilafalkan oleh orang asing. Novel ini diterbitkan oleh penerbit Bintang Pustaka dan memiliki tebal 724 halaman. Jumlah eksemplar novel ini sebanyak 13,000 eksemplar dan hingga saat ini telah terjual sebanyak 10.000 eksemplar. Menurut saya novel ini merupakan contoh novel fiksi ilmiah yang bagus dalam menggunakan “teknologi” pada karya tersebut, hal ini bisa dilihat dari para salah satu tokoh yang ingin menghidupkan salah satu sahabatnya menggunakan sebuah teknologi yang ada pada novel tersebut. Novel ini telah
mendapat penghargaan, yaitu Book of The Year 2016 (IKAPI) dan Anugerah Pembaca Indonesia.
Pembahasan 2.1 Ringkasan Cerita
Supernova: Inteligensi Embun Pagi menandai klimaks dari petualangan epik para karakter yang telah menghiasi seri Supernova sejak awal. Novel ini membawa pembaca pada perjalanan yang penuh teka-teki, aksi, dan momen emosional yang menyentuh hati.
Kisah berpusat pada Gio, pemuda jenius dengan kemampuan berkomunikasi dengan komputer, yang dihadapkan pada ancaman eksistensial dari Sarvara, entitas digital yang berniat menguasai dunia. Bersama para sahabatnya, Rana, Alfa, Fer, Sascha, dan Deva, Gio terlibat dalam misi berbahaya untuk menghentikan Sarvara sebelum terlambat.
Perjalanan mereka membawa mereka ke berbagai penjuru dunia, dari keramaian Tokyo hingga pelosok pedesaan di Peru. Di setiap tempat, mereka dihadapkan pada rintangan dan teka- teki yang menantang kecerdasan dan ketangguhan mereka.
Novel ini tidak hanya menyajikan petualangan yang menegangkan, tetapi juga mengeksplorasi tema-tema kompleks seperti persahabatan, cinta, pengorbanan, dan makna
hidup. Para karakter dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang menguji nilai-nilai mereka dan memaksa mereka untuk berkembang dan belajar.
Di sepanjang cerita, terungkap rahasia-rahasia mengejutkan tentang masa lalu para karakter dan hubungan mereka satu sama lain. Kejutan demi kejutan ini membuat pembaca penasaran dan terus menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Novel ini diakhiri dengan klimaks yang menegangkan di mana Gio dan kawan-kawan harus berhadapan langsung dengan Sarvara dalam pertempuran final. Pertarungan ini penuh dengan aksi dan ketegangan, dan nasib dunia tergantung pada hasil pertempuran ini.
Meskipun Gio dan kawan-kawan berhasil mengalahkan Sarvara, kemenangan ini diraih dengan pengorbanan yang besar. Beberapa karakter penting dalam cerita ini harus kehilangan nyawa mereka, meninggalkan rasa duka dan kehilangan bagi para karakter yang tersisa.
Novel ini ditutup dengan epilog yang menyentuh, di mana para karakter yang masih hidup berusaha untuk melanjutkan hidup mereka setelah tragedi yang mereka alami. Epilog ini memberikan kesan mendalam tentang kekuatan persahabatan dan cinta yang mampu
menyembuhkan luka dan memberi harapan untuk masa depan.
2.2 Isu/Tema yang Dibahas
“Katanya, Ferre pernah dapat pesan, orang pertama yang berhasil menjebol Supernova harus kontrak untuk membangun firewall yang baru. Orang itu aku. Ferre menawarkan honor fantastis.
Gila kalau ada yang nolak. Aku terima tawarannya. Aku bikinkan dia sistem pengamanan yang paling canggih yang aku bisa. Ferre baru mulai menjalankan newsletter Supernova setelah pekerjaanku selesai” (Lestari:93)
Firewall merupakan komponen penting dalam keamanan jaringan yang berfungsi untuk mengontrol dan memfilter lalu lintas data yang masuk dan keluar dari jaringan. Firewall berperan sebagai penjaga gerbang yang melindungi jaringan dari berbagai ancaman keamanan siber, seperti malware, virus, hacker, dan serangan lainnya.
“Toni mengambil posisi, meluncur ke tengah meja. “Tadi aku berhasil remote log-in pakai laptop Mas Re, dan aku sudah cek daftar running process. Dugaanku bukan virus atau hacker, tapi ada program yang bolak-balik crash di sistem. Aku nggak akan memproses forensiknya di server, Mas. Aku harus investigasi dari komputer lain. Program begitu biasanya baru ketahuan belangnya kalau sudah dikasih ruang bermain baru.” (Lestari:249)
“Toni meraih satu CD kosong dari tumpukan CD dalam sebuah kontainer plastik yang ada di atas meja. “Aku ambil snapshot sistemnya, kopi sebentar ke CD. Habis itu, aku running ulang
semuanya dari laptop.” Toni berdeham sambil melirik ketiganya. “Kerjaku paling efektif kalau ditinggal sendiri.” (Lestari 250)
“Jumlah memori yang diserapnya memang cukup menimbulkan tanda tanya, tapi Foniks tidak menunjukkan gelagat membahayakan server, hanya seperti program turunan yang bolak-balik
crash dan menjadi zombie process. Mungkinkah kamu program dari masa lalu? Toni membatin sambil terus bekerja, melakukan serangkaian langkah proses rekayasa balik” (Lestari:253)
“Kalau memang segampang itu, kamu pikir kenapa sampai hari ini kami masih harus kucing- kucingan dengan kalian dan Infiltran?” balas Simon. “Memang, di dimensi fisik yang kelihatan oleh matamu, tidak ada yang tidak bisa kami tembus dan manipulasi. Tapi, ini bukan dimensi satu-satunya. Akses dari satu dimensi ke dimensi lain ditentukan oleh rentang frekuensi. Peretas punya kemampuan mengakses frekuensi lain. Akses itu unik seperti sidik jari. Portal di Bukit Jambul hanya mau berinteraksi denganmu. Bisa kamu buka-tutup macam brankas pribadi.”
(Lestari:253)
“Dari aspek fisik, teknologi kami akan terlihat sangat minim. Dan, kami memang sengaja menyamarkannya dalam bentuk sesederhana mungkin. Ya, inilah sumber ‘listrik’ yang kamu cari-cari,” kata Kell sambil menepuk salah satu dari enam batu yang ada dan ikut duduk di atasnya.” (Lestari:173)
“Oke. Sebentar.” Alfa bangkit berdiri, tangan terlipat di dada, berusaha mengonsolidasikan apa yang terjadi di sekitarnya saat ini. Antara rumah joglo yang dibangun di lambung bukit dengan pembangkit listrik misterius, Bodhi yang terbengong- bengong di hadapan batu sungai, Kas yang cekikikan, dan Kell yang menatap kasihan. “Are we in some kind of a twilight zone, Kell? Help me out here.” (Lestari:175)
“Aku tahu format lengkap kami berenam. Fungsi kami berubah sesuai siklus, tapi nama kode kami selalu sama. Berenam kami membentuk jaringan inteligensi. Di siklus kali ini aku adalah Peretas Kunci. Menemukan Peretas Gerbang adalah prioritasku yang utama. Tanpa dia, tanpa kami berdua, tidak akan ada Peretas Puncak.” (Lestari:31)
“Pesawat telepon berwarna hijau telur asin itu masih menggunakan tombol putar. Mulus dan bersih seperti baru. Tidak pernah terbit keinginan Sati untuk menggantinya ke model yang lebih mutakhir. Telepon, dan juga pemutar kaset tuanya, hanyalah alat penunjang yang ia gunakan sekali-sekali. Sati mengecek sebaris nomor telepon dari buku alamat dan memutar setiap angka sambil mengeja pelan. Menunggu panggilannya tersambung dengan sabar.”(Lestari:63)
“Beberapa tahun ini muncul figur di internet bernama Supernova.” Reuben mulai bertutur. “Dia membuat semacam newsletter. Saya nggak tahu berapa jumlah pelanggannya. Yang luar biasa adalah dampaknya. Kami banyak kenal langsung orang- orang di lingkungan kami yang berlangganan newsletter Supernova. Mereka bilang, Supernova mengubah hidup mereka, cara mereka berpikir, cara mereka melihat dunia, dan macam-macamlah” (Lestari:66)
“Itu dia,” Dimas menyambar, “awalnya nggak. Tapi, satu hari kami dapat newsletter dari Supernova. Terus, kami kontak dia lewat chat room-nya. Dia menyapa kami kayak orang yang sudah menunggu. Dia bilang, kami ini kandidatnya, orang-orang yang dia bisa percaya. Kami masih terdaftar sampai hari ini. Tapi, tidak pernah lagi Supernova mengungkit soal itu. Kami bertanya, tidak ditanggapi. Akhirnya, ya sudah, kami ikuti saja newsletter-nya dengan pasif.
Sampai e-mail dari kamu masuk. Kami nggak kenal Diva, tapi begitu ada kata Supernova
disebut, dan mengingat bagaimana Supernova pertama kali mengontak kami, rasanya ada yang harus kami selidiki.” (Lestari:67)
“Supernova mengontak kami nggak lama setelah kami selesai menulis sebuah cerita. Fiksi.
Tentunya yang menulis adalah Dimas dan saya konsultan teknis.” Reuben berdeham. “Kami menulis tentang figur yang persis Supernova. Kami menyebutnya sang Cyber Avatar. Avatar modern yang bisa diakses lewat internet, yang pemikiran- pemikirannya mengubah hidup banyak orang. Nah, kamu bisa bayangkan betapa kagetnya kami waktu Supernova tahu-tahu mengontak?
Hanya beberapa saat setelah kami selesai menulis cerita itu? Sebelumnya, kami bahkan belum tahu soal keberadaan Supernova. Anehnya lagi, hanya alamat e-mail Dimas yang terdaftar, tapi ketika kami chatting, dia seperti tahu kami itu berdua. Gila. Itu kayak momen DMT,” lanjut Reuben.” (Lestari:68)
“Bukan karena susah, tapi karena nggak perlu,” jawab Toni lirih. “Aku yang bikin firewall-nya.
Supernova itu klienku.” (Lestari:92)
“Kamu mencatatnya di buku itu? Kamu PERLU mencatat? What ever happened to the telepathic superhighway?” (Lestari:95)
"Telepathic Superhighway" bisa jadi metafora untuk menggambarkan fenomena lain, seperti kekuatan kolektif pikiran manusia atau jaringan komunikasi yang sangat efisien.Carl Jung, seorang psikolog, berteori tentang "collective unconscious," sebuah pikiran bawah sadar yang dibagikan oleh semua manusia. Ini bisa dianggap sebagai semacam "jaringan" mental, meskipun tidak melibatkan telepati langsung.
“Yang penting tujuanmu tercapai, kan? Norbu dan telepon satelit. Ucapanku terbukti.”Kell kembali ke tempat tidurnya. “Get some rest, Sagala. (Lestari:96)
“ Aku bisa lihat medan warna di sekelilingmu, dan masih bisa terus lagi. Bukan cuma aura. Aku juga lihat sirkuit listrik di badanmu, dan masih bisa terus lagi. Ada jaring yang mengikat tempat ini. Di mana-mana. Ke mana- mana.” Arah mata Bodhi terus bergerak seperti aliran air. “Jaring itu bahkan masih ada di Asko,” lanjut Bodhi setengah berbisik. Genggamannya terbuka,
menunjukkan batu pemberian Alfa.” (Lestari:118)
Dibelah seratus pun aku rasa nggak bakal ditemukan apa-apa. Dia bukan sepenuhnya bagian dari realitas ini, Alfa. Wujud batu ini cuma topeng.” Kembali, tatapan Bodhi berpencar. “Sama seperti semua ini. Masalahnya, selama ini kita buta.” (Lestari:118)
“Pertapa seperti ayahnya Sati pun tidak sanggup,” sahut Simon. “Saya curiga kamu memang belum menyadari keterbatasan pilihanmu.” Simon mengulurkan tangannya. “Coba, alirkan listrik ke badan saya. Cek, masih bisa, nggak?” (Lestari:120)
Sati membongkar kantong itu dan menyiapkan perangkat yang biasa Elektra pakai; seutas kabel dengan satu ujung telanjang dan satu ujung bersteker, serta sebuah pelat timah berukuran separuh telapak tangan. Begitu sampai di depan colokan, Sati berhenti. “Kalau benar Elektra kehilangan kemampuannya, dia bakal kesetrum. Ini nggak aman.” (Lestari:120)
“No, no. Jaring mereka nggak bisa lumpuh. Dibandingkan punya mereka, jaring yang kita buat ibarat jaring laba-laba bertanding dengan terali besi. Tapi, jaring laba-laba juga punya kekuatan.
Jejaring tipis kita cuma butuh 64 simpul. Saat ke-64 simpul teraktivasi pada waktu yang
bersamaan, bertepatan dengan melemahnya magnet Bumi di 64 titik yang sudah kita pindai, akan ada celah yang terbuka sementara. Lewat celah itulah, mereka yang ikut tersambung ke jejaring kita, akan lolos.” (Lestari:139)
Gio memang tidak membutuhkan jawaban Re. Relasi segitiga Diva-Supernova-Bintang Jatuh menjadi kepingan yang begitu pas dan masuk akal, menjelaskan banyak hal tentang Diva yang selama ini cuma menjadi taburan kecurigaan dan pengamatan diam-diamnya.” (Lestari:152)
Penutup
Kesimpulan saya terhadap pembahasan yang telah saya tulis adalah novel ini banyak
menggunakan teknologi dan itu merupakan salah satu peran yang membuat cerita pada novel ini lebih utuh.
Daftar Pustaka
Lestari, Dee. 2016. Inteligensi Embun Pagi. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Provos, N. (2006). Firewall. In Springer eBooks (pp. 230–233). https://doi.org/10.1007/0-387- 23483-7_169
Inteligensi Embun Pagi (Supernova, #6). (n.d.). Goodreads.
https://www.goodreads.com/en/book/show/28937283