Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai ukuran tingkat kesehatan bank, dengan kategori sehat, cukup sehat, tidak sehat dan tidak sehat. Untuk memperbaiki fundamental industri perbankan nasional dan melanjutkan program restrukturisasi perbankan yang telah berjalan sejak tahun 1998, Bank Indonesia meluncurkan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) pada tanggal 9 Januari 2004 sebagai kerangka komprehensif arah kebijakan pengembangan perbankan ke depan. sektor perbankan Indonesia. Bank Indonesia sebagai bank sentral mempunyai peranan penting dalam restrukturisasi perbankan karena Bank Indonesia bertugas mengatur dan memantau jalannya operasional perbankan.
Dari latar belakang masalah tersebut maka penulis mengangkat judul “Analisis Kinerja Keuangan Pada Bank Syariah Mandiri Cabang Makassar Dr. Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang dihadapi dalam penelitian ini adalah: “Apakah kinerja keuangan berdasarkan . Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kesehatan Bank Syariah Mandiri tahun 2014-2016 dengan menggunakan metode CAMEL.
Dari hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan bagi manajemen Bank Syariah Mandiri untuk mengevaluasi kinerja bank khususnya yang berkaitan dengan tingkat kesehatan bank. Data yang digunakan adalah laporan keuangan (neraca dan rasio laba rugi) pada Bank Syariah Mandiri dari tahun berjalan.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Batasan Penelitian
Sistematika Penulisan Skripsi
TINJAUAN PUSTAKA
- Manajemen Keuangan
- Pengertian Manajemen
- Pengertian Manajemen Keuangan Menurut Para Ahli
- Fungsi Manajemen Keuangan
- Tujuan Manajemen Keuangan
- Konsep Manajemen Keuangan
- Bank
- Penegertian Bank
- Prinsip Bank
- Jenis Bank
- Sumber Dana Bank
- Kesehatan Bank
- Pengertian Tingkat Kesehatan Bank
- ArtiPentingKesehatan Bank
- Faktor- faktor Yang Menggugurkan Tingkat Kesehatan Bank
- LaporanKeuangan Bank
- Unsur Laporan Keuangan
- Tinjauan Penelitian Sebelumnya
- Kerangka Pikir
- Hipotesis
Isinya adalah Pengertian Bank, Prinsip-Prinsip Perbankan, Fungsi Perbankan, Jenis-Jenis Bank, Sumber Kekayaan Bank, Gambaran Umum Kesehatan Bank, Pentingnya Kesehatan Bank, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Bank, Arti dan Tujuan Laporan Akuntansi, Pentingnya Laporan Akuntansi. , jenis jenis laporan akuntansi, unsur laporan akuntansi,
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Lokasi Dan Waktu Penelitian
Sumber Data
Populasi Dan Sampel
- Populasi
- Sampel
Devinisi Operasional Variabel
- Capital, Asset, Earning, danLiquidity
- Laporan Keuangan
- Sehat Tidaknya Suatu Bank
Metode Analisis Data
Gambaran Umum Bank syariah Mandiri
Visi dan Misi
Mengutamakan mobilisasi pembiayaan dari golongan menengah dan ritel, memperluas portofolio pembiayaan untuk skala menengah dan kecil, serta mendorong terwujudnya pengelolaan zakat, infaq, dan shadaqah yang lebih efektif sebagai cerminan kepedulian sosial.
Struktur Organisasi Perusahaan
Rasio permodalan pada tahun 2014 lebih besar dibandingkan kriteria penilaian tingkat kesehatan bank yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 8%, sehingga rasio yang dicapai Bank Syariah Mandiri termasuk dalam kelompok SEHAT. Rasio permodalan pada tahun 2015 lebih besar dibandingkan kriteria penilaian tingkat kesehatan bank yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 8%, sehingga rasio yang dicapai Bank Syariah Mandiri termasuk dalam kelompok SEHAT. Rasio permodalan selama tahun 2014-2016 lebih besar dibandingkan kriteria penilaian tingkat kesehatan bank yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 8%, sehingga rasio yang dicapai Bank Syariah Mandiri termasuk dalam kelompok SEHAT.
Peningkatan nilai CAR (Capital Adequacy Ratio) ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah modal dan peningkatan jumlah aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) Bank Syariah Mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa rasio yang dicapai Bank Syariah Mandiri selama tahun 2014 hingga 2016 termasuk dalam kelompok SEHAT. Penyisihan penghapusan aset produktif (PPAP) pada tahun 2014 lebih besar dibandingkan kriteria penilaian tingkat kesehatan bank yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 81%, sehingga rasio kehilangan aset produktif (PPAP) yang diperoleh Bank Syariah Mandiri masuk dalam kelompok SEHAT .
Penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP) pada tahun 2015 lebih besar dibandingkan kriteria penilaian tingkat kesehatan bank yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 81%, sehingga penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP) yang dicapai Bank Syariah Mandiri masuk dalam kelompok KESEHATAN. . Penyisihan penghapusan aset (PPAP) selama tahun 2014 hingga 2016 melebihi kriteria penilaian kesehatan bank yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 81%. Oleh karena itu, rasio penyusutan aktiva produktif (PPAP) yang dicapai Bank Syariah Mandiri masuk dalam kelompok SEHAT. Rasio Return On Assets (ROA) pada tahun 2015 lebih tinggi dibandingkan kriteria penilaian tingkat kesehatan bank berdasarkan aspek profitabilitas yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 1,22%. Rasio Return On Assets (ROA) yang dicapai Bank Syariah Mandiri tergolong dalam kelompok SEHAT. 3) 2016.
Sehingga rasio Return On Assets (ROA) yang diperoleh Bank Syariah Mandiri masuk dalam kelompok KURANG SEHAT. Rasio return (ROA) pada tahun 2014 dan 2015 lebih tinggi dibandingkan kriteria untuk menilai tingkat kesehatan bank berdasarkan aspek profitabilitas yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 1,22%, sehingga rasio return (ROA) yang diperoleh Bank Syariah Mandiri pada tahun 2014 dan 2015 adalah sebesar 1,22%. Tahun 2015 masuk dalam kelompok SEHAT. Jadi, Loan to Deposit Ratio (LDR) yang dicapai Bank Syariah Mandiri pada tahun 2014 hingga 2016 masuk dalam kelompok SEHAT.
Rasio permodalan selama tahun 2014 hingga 2016 lebih besar dari kriteria penilaian tingkat kesehatan bank yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 8%, sehingga rasio yang dicapai Bank Syariah Mandiri termasuk dalam kelompok SEHAT. Hal ini menunjukkan bahwa rasio yang dicapai Bank Syariah Mandiri selama tahun 2014 hingga 2016 termasuk dalam kelompok SEHAT. Penyisihan penghapusan aset produktif (PPAP) pada tahun 2014 hingga 2016 lebih besar dari kriteria penilaian tingkat kesehatan bank yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 81%, sehingga rasio kehilangan aset produktif (PPAP) yang diperoleh Bank Syariah Mandiri termasuk dalam kelompok SEHAT.
ANALISA DATA DAN PEMBAHSAN
Analisa tingkat Kesehatan Bank Dengan Metode Camel
Nilai kredit yang diperbolehkan hanya 100, sehingga nilai kredit yang dicapai Bank Syariah Mandiri pada tahun 2014 adalah 100. Nilai kredit yang diperbolehkan hanya 100, sehingga nilai kredit yang dicapai Bank Syariah Mandiri pada tahun 2015 adalah 100. Nilai kredit yang diperbolehkan hanya 100, jadi nilai kredit yang dicapai Bank Syariah Mandiri pada tahun 2016 adalah 100.
Berdasarkan perhitungan Asset Quality Ratio (AQR) pada tahun 2014, Asset Quality Ratio (AQR) yang dicapai Bank Syariah Mandiri adalah sebesar 1,73% yang artinya setiap perubahan aset sebesar Rp100 akan mengakibatkan perubahan jumlah produktifitas. aktiva. Rasio kualitas aset (AQR) pada tahun 2014 lebih rendah dari kriteria penilaian kondisi bank yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu sebesar 10,35%, sehingga rasio yang dicapai Bank Syariah Mandiri pada tahun 2014 dapat digolongkan dalam kelompok HEAL. Hasil perhitungan rasio kompensasi kerugian aset produksi (PPAP) pada tahun 2015, rasio yang dicapai Bank Mandiri Syariah adalah sebesar 106,93% yang berarti setiap perubahan PPAP yang harus dilakukan bank sebesar Rp 100, PPAP yang dirumuskan bank adalah Rp 1.0693.
Rasio yang dicapai Bank Syariah Mandiri sebesar 2,66% yang berarti setiap aset Rp 100 akan menghasilkan laba sebelum pajak sebesar Rp 0,286. Rasio yang dicapai Bank Syariah Mandiri sebesar 1,83% yang berarti setiap aset Rp 100 akan menghasilkan laba sebelum pajak sebesar Rp 0,183. Rasio yang dicapai Bank Syariah Mandiri sebesar 0,84% yang berarti setiap aset Rp 100 akan menghasilkan laba sebelum pajak sebesar Rp 0,084.
Dengan demikian, rasio Return On Assets (ROA) yang dicapai Bank Syariah Mandiri masuk dalam kelompok KURANG SEHAT. c) Rasio antara biaya operasional 12 bulan terakhir dengan pendapatan operasional pada periode yang sama. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) pada tahun 2014 lebih kecil dibandingkan kriteria penilaian tingkat kesehatan bank yang ditetapkan oleh Bank Negara Indonesia sebesar 93,52%, sehingga rasio yang dicapai Bank Syariah Mandiri termasuk dalam kelompok SEHAT. Berdasarkan hasil perhitungan pada tahun 2015, rasio yang dicapai Bank Syariah Mandiri adalah sebesar 50,32% yang berarti setiap peningkatan pendapatan operasional sebesar Rp100 maka biaya operasional sebesar Rp0,5032.
Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) pada tahun 2015 kurang dari kriteria penilaian tingkat kesehatan bank yang ditetapkan oleh Banka Negara Indonesia sebesar 93,52%, sehingga rasio yang dicapai Bank Syariah Mandiri termasuk dalam kelompok SEHAT. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) pada tahun 2016 kurang dari kriteria penilaian tingkat kesehatan bank yang ditetapkan oleh Banka Negara Indonesia sebesar 93,52%, sehingga rasio yang dicapai Bank Syariah Mandiri termasuk dalam kelompok SEHAT. Berdasarkan hasil perhitungan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) selama tiga tahun yaitu dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2016, Bank Syariah Mandiri telah memperoleh hasil.
Loan-to-Deposit Ratio (LDR) pada tahun 2014 lebih kecil dibandingkan kriteria penilaian tingkat kesehatan Bank berdasarkan aspek likuiditas yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 94,75%, sehingga Loan-to-Deposit Ratio (LDR) yang dicapai Bank Syariah Mandiri tahun 2014, pada kelompok kategori SEHAT. Loan to deposit ratio (LDR) yang dicapai Bank Syariah Mandiri adalah sebesar 94,38% yang berarti setiap penerimaan dana sebesar Rp 100 dari pihak ketiga maka kredit yang diberikan adalah sebesar Rp 0,9438 .
Pembahasan
PENUTUP
Kesimpulan
Sedangkan Cash Ratio merupakan akibat dari pola pikir pengusaha yang salah sehingga hanya mengejar keuntungan jangka pendek dan melupakan tujuan jangka panjang. Hampir sebagian besar rasio-rasio keuangan Bank Syariah Mandiri berada pada kategori sehat, sehingga kinerja Bank Syariah Mandiri perlu lebih ditingkatkan lagi untuk mempertahankannya. Return On Assets (ROA) dan Cash Ratio pada tahun 2016 tergolong tidak sehat, sehingga sebaiknya Anda lebih memerhatikan kinerjanya agar tidak terulang kembali pada tahun depan.
Berbagai faktor eksternal suatu perusahaan yang mempengaruhi kinerja keuangannya, seperti faktor politik pemerintah, juga perlu mendapat perhatian lebih untuk meningkatkan kinerja keuangan. Birokrasi yang cukup rumit dan melelahkan untuk memperoleh data dan melakukan penelitian di Bank Syariah Mandiri.
Keterbatasan Penelitian
Saran