• Tidak ada hasil yang ditemukan

studi kegiatan anak putus sekolah di kenagarian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "studi kegiatan anak putus sekolah di kenagarian"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

0

(2)

1

STUDI KEGIATAN ANAK PUTUS SEKOLAH DI KENAGARIAN SUNGAI KAMBUT KECAMATAN PULAU PUNJUNG

KABUPATEN DHARMASRAYA Oleh

Gandi Andrian, Yeni Erita, Nila Afryansih

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRACT

This study aims to determine Activity School Children In Village Sungai Kambut Island District of the Arbor Dharmasraya seen from: the activities carried out after dropping out of school children and school dropouts people's perceptions about the activities undertaken by school dropouts.

This type of research is qualitative. The informants are Head Village Sungai Kambut school dropouts and parents of children dropping out of school. Decision informant this study using snowball sampling technique. In this study is the Head Village, parents and children dropping out of school in Village Sungai Kambut.

The results of the study explained that: (1) Children may drop out of school a lot of the activities carried on after dropping out of school there are positive and some are negative. One of the things in such activities form a group and conduct illegal racing activities, work after dropping out of school due to the help of his parents and there is also a negative activities carried out by the dropout like drinking liquor. School dropouts conducting juvenile delinquency and illegal racing form groups suggests just the influence of friends playing and not infrequently of the child to deal with the security forces. School dropouts who prefer to work activities due to economic pressure and wants to help alleviate the burden of the parents themselves. (2) In the case of dropping out of school, many parents who complain against negative activities carried out by children such engaged in activities that ultimately converge negative activities such as illegal racing and drinking liquor. There are also parents who are concerned about their children and the school should choose to work to help their parents.

Keyword : activity school dropout, parent

PENDAHULUAN

Kebutuhan akan sumber daya manusia yang akan berkualitas dalam era globalisasi sekarang ini, menjadi sebuah tuntutan serius yang harus dipenuhi. Ini berkaitan dengan semakin terbukanya persaingan disetiap bidang kehidupan, tidak hanya menyangkut bidang kehidupan, bidang bisnis, namun

juga dengan penyediaan sumber daya manusia. Secara umum dapat dikatakan bahwa kualitas sumber daya manusia sejalan dengan tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang dicapai, maka kualitas sumber daya manusia juga semakin tinggi pula.

(3)

2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2008 bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 34 ayat (4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Wajib Belajar 9 tahun adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah.yang mana fungsinya 1) Wajib belajar berfungsi mengupayakan

perluasan dan pemerataan

kesempatanmemperoleh pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara Indonesia.

2) Wajib belajar bertujuan memberikan pendidikan minimal bagi warga negara Indonesia untuk dapat mengembangkan potensi dirinya agar dapat hidup mandiri di dalam masyarakat atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Menurut Badan Pusat Statistik tidak bersekolah lagi atau putus sekolah adalah status sekolah bagi mereka yang pernah terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan di suatu jenjang pendidikan formal, tetapi pada saat pencacahan tidak lagi terdaftar dan tidak lagi aktif.

Putus sekolah bukan merupakan salah satu permasalahan pendidikan yang tak pernah berakhir. Masalah ini telah berakar dan sulit untuk dipecahkan penyebabnya, tidak hanya karena kondisi ekonomi, tetapi ada juga yang disebabkan oleh kekacauan dalam keluarga, dan lain- lain.

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 pasal 3 tentang dasar, fungsidan tujuan, secara tegas disebutkan sebagai berikut. UU SISDIKNAS (2011: 3) menyatakan, pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta perabapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan

untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Tabel I.1 Data anak putus sekolah di Kenagarian Sungai Kambut Kabupaten Dharmasraya tahun 2015.

No Nama Jorong Jumlah

1 Sungai Nili 24

2 Koto Lamo 27

3 Moarumao 15

4 Lambau 45

5 Pulau Songik 54

6 Labu Lurui 45

JUMLAH 162 Orang

Sumber: Data Sensus Penduduk 2015 - BPS Kabupaten Dharmasraya 2015.

Berdasarkan tabel I.1 di atas ternyata jumlah anak putus sekolah di Kecamataan Pulau Punjung berjumlah 162 orang.

Dewasa ini khususnya di masyarakat banyak sekali anak-anak yang tidak bersekolah dan mereka lebih memilih bekerja. Masalah keterputusan sekolah ini disebabkan oleh berbagai faktor. Banyak anak-anak yang seharusnya mereka bermain dan duduk dibangku sekolah, justru mereka malah bekerja, ada yang menikah muda dan malahan ada juga terjerumus dalam tindakan tidak baik seperti konsumsi bahan terlarang dan sampai bertindak kriminal. Fenomena yang tidak aneh lagi bila dilihat pada zaman sekarang. Banyak anak yang seharusnya sekolah malah bekerja. Dalam kasus ini telah terjadinya kurangnya kesadaran, kurangnya perhatian dari orang tua dan bisa juga dari faktor individu itu sendiri yang terpengaruh oleh lingkungan.

Maka dari pada itu perlunya upaya pencegahan yang harus dilakukan sebelum

(4)

3 putus sekolah dengan mengamati, memperhatikan permasalahan-permasalahan anak-anak dan dengan menyadarkan orang tua akan pentingnya pendidikan demi menjamin masa depan anak serta memberikan motivasi belajar kepada anak.

Adapun upaya pembinaan yang dilakukan adalah dengan mengajarkan nilai-nilai keagamaan dan sosial kemasyarakatan kepada anak, serta memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya supaya anak disibukkan serta dapat menghindarinya dari pikiran yang menyimpang.

Sebuah kajian tentang Anak Putus Sekolah yang dilakukan bersama oleh Kementerian Pendidikan, UNESCO, dan UNICEF di tahun 2011 menunjukkan bahwa 2,5 juta anak usia 7-15 tahun masih tidak bersekolah, dimana kebanyakan dari mereka putus sekolah sewaktu masa transisi dari SD ke SMP.

Berdasarkan hasil observasi awal tanggal 20 Mei 2015 di Nagari Sungai Kambut masih banyaknya dilihat anak putus sekolah yang perilakunya yang tidak seharusnya dilakukan seperti bekerja, ada yang menikah muda dan malahan ada juga terjerumus dalam tindakan tidak baik seperti konsumsi bahan terlarang dan sampai bertindak kriminal.

Jika masalah diatas tidak diperhatikan dan tidak dicarikan jalan keluarnya, maka dengan perkembangan zaman yang semakin maju kalau generasi penerus tidak menyadari pentingnya akan pendidikan.

Maka peneliti melihat kegiatan dari anak putus sekolah dan persepsi dari orang tua tentang kegiatan yang dilakukan oleh anak putus sekolah. Untuk itu maka peneliti mangangkat masalah yang harus diteliti dari masalah kegiatan dari anak putus sekolah dan persepsi dari orang tua tentang kegiatan yang dilakukan oleh anak putus sekolah.

Berdasarkan latar belakang di atas penulis mengangakat judul “Studi Kegiatan

Anak Putus Sekolah Di Kenagarian Sungai Kambut Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya”.

METODOLOGI PENELITIAN Jenis Penelitian

Berdasarkan keadaaan dan latar belakang penelitian maka jenis penelitian yang peneliti lakukan adalah termaksuk kualitatif. Menurut Sugiono (2005), metode kualitatif sering disebut metode naturalistik karena penelitinya dilakukan dalam kondisi alamiah. Disebut metode kualitatif karena data yang terkumpul dan analisanya lebih kualitatif. Secara holistik dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2010).

Dalam penelitian ini metode yang dimanfaatkan adalah metode wawancara, pengamatan dan memanfaatkan dokumen.

Metode ini dipilih karena dengan metode ini peneliti bisa melihat dan mengamati secara lansung perilaku informan, sehingga data lebih akurat.

Penelitian ini mengkaji tentang anak putus sekolah di Sungai Kambut Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya.

Nantinya yang disebut setting penelitian adalah anak-anak yang sudah putus sekolah khususnya di Jorong Sungai Nili.

Informan penelitian adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian (Moleong, 2010). Sebagai anggota masyarakat dengan kebaikan atau kasukarelaan dia dapat memberikan pandangan tentang nilai, sikap dan kebudayaan yang dapat menjadi latar penelitian setempat (Moeleong, 2010).

Untuk itu yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini adalah Wali Nagari

(5)

4 Sungai Kambut, serta anak putus sekolah yang ada dijorong Sungai Nili.

Informan penelitian ini diambil secara snowball sampling dimana penelitian ini adalah teknik pengambilan sampel sumbe data yang pada awalnya jumlah sedikit lama-lama menjadi besar (Sugiyono, 2001).

Pada penelitian ini adalah Wali Nagari, orang tua anak putus sekolah dan anak putus sekolah di Sungai Kambut Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya sehingga akan memudahkan peneliti memahami objek/situasi yang diteliti.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil temuan dilapangan dan sesuai dengan tujuan penelitian maka dapat disimpulkan bahwa Kegiatan Anak Putus Sekolah Di Kenagarian Sungai Kambut sebagai berikut:

Pertama, Anak dapat putus sekolah banyak kegiatan yang dilakukan pada setelah putus sekolah ada yang positif dan ada juga yang negatif. Salah satu hal dalam kegiatan seperti membentuk sebuah kelompok dan melakukan aktivitas balapan liar, bekerja setelah putus sekolah dikarenakan membantu orang tuanya dan ada juga kegiatan yang negatif dilakukan oleh anak putus sekolah seperti meminum minuman keras. Anak putus sekolah yang melakukan kegiatan kenakalan remaja membentuk kelompok dan balap liar mengemukakan hanya adanya pengaruh dari teman bermain dan tak jarang dari anak tersebut berurusan dengan pihak keamanan.

Dalam hal ini Kartono (2004) yaitu kenakalan remaja yang merusak diri sendiri yaitu seperti kebut-kebutan dijalan yang mengganggu keamanan lalu-lintas, membahayakan jiwa sendiri dan orang lain.

Anak putus sekolah yang lebih memilih kegiatan bekerja disebabkan karena desakan ekonomi dan ingin membantu meringankan beban dari orang tua anak itu sendiri. Dalam

hal ini juga diungkapkan oleh Menurut Sukmadinata (1994), faktor utama penyabab putus sekolah adalah kesulitan ekonomi atau karena orang tua tidak mampu menyediakan biaya bagi sekolah anak-anaknya.

Disamping itu tidak jarang terjadi orang tua meminta anaknya berhenti sekolah karena mereka membutuhkan anaknya untuk membantu pekerjaan orang tua. Anak putus sekolah yang kegiatannya melakukan meminum- minuman keras disebabkan karena adanya pengaruh buruk dari lingkungan dan teman bermain. Menurut Kartono (2004) yaitu kenakalan remaja yang merusak diri sendiri seperti kebut-kebutan dijalan yang bisa membahayakan jiwa sendiri dan orang lain, membolos sekolah, mabuk-mabukan, ketagihan narkoba, minum minuman keras dan komersialisasi seks.

Kedua, Dalam hal putus sekolah banyak orang tua yang mengeluh terhadap kegiatan yang negatif yang dilakukan oleh anaknya yang seperti melakukan kegiatan yang berkumpul yang pada akhirnya melakukan kegiatan yang negatif seperti balap liar dan meminum-minuman keras.

Ada juga orang tua yang prihatin terhadap anaknya yang seharusnya sekolah dan memilih bekerja untuk membantu orang tuanya. Dari orang tua sangat menginginkan agar anaknya dapat sekolah kembali karena pentingnya pendidikan namun anak tersebut putus sekolah dikarenakan orang tua yang kurang mampu dalam membiayai pendidikan anak. Dalam hal kegiatan yang meminum minuman keras disini orang tua tidak sanggup untuk menesehati dan merasa jenuh.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian sebagaimana yang telah dikemukakan pada bab

(6)

5 sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Anak yang putus sekolah banyak yang melakukan hal yang negatif dan ada juga positif nya yang mana negatifnya adanya pengaruh jelek dari teman sebaya yang melakukan kegiatan melanggar hukum dan yang positif anak putus sekolah memilih bekerja untuk membantu orang tuanya, namun disini hendaknya anak dapat melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi agar dapt bersaing pada dunia era globalisasi ini.

2. Orang tua kurang tegasnya dalam mendidik anak dan kurangnya juga dalam pengawasan terhadap lingkungan bermain anak sehingga ada anak yang terjerumus kepada hal yang tidak positif. Orang tua harus juga mampu didalam membiayai sekolah anaknya sampai ke pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat dikemungkakan sarannya, yaitu:

1. Bagi anak yang putus sekolah sangat disayangkan pada zaman sekarang tidak bersekolah, apalagi orang tuanya mampu menyekolahkan sampai sarjana atau lebih dari pada itu, maka daripada itu agar anak dapat sekolah.

2. Bagi orang tua anak yang putus sekolah lebih mengontrol pergaulan anaknya, memotivasi dan memberikan pemahaman pada anak bahwa pentingnya pendidikan pada zaman sekarang.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta :Rineka Cipta.

Dharmasraya dalam angka.2015

Fitria Mai Hansari. 2012. Faktor Penyebab Putus Sekolah Terjadinya Pada Remaja di Jorong Siguntur I Kabupaten Dharmasraya.

(SKRIPSI) STKIP PGRI Sumatera Barat.

http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/Ge oTadulako/article/view/2595/1728 di akses pada tanggal 16 Juli 2015 jam 16:26 WIB.

http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/Ge oTadulako/article/view/2595/1728 di akses pada tanggal 21 april 2015 jam 15.05 WIB.

Irma Sari. 2012. Faktor-Faktor Remaja Putus Sekolah SMP di Nagari Panti Kabupaten Pasaman. STKIP PGRI SUMBAR.

Irmansyah. 2005. Faktor-faktor Penyebab Remaja Putus Sekolah di Kecamatan Hiliran Gumanti Nagari Talang Babungo Kecamatan Hiliran Gumanti. (SKRIPSI) STKIP PGRI Sumatera Barat.

Iryadini, Lisnawati. 2010. Analisis Faktor Produksi Industri Kecil Kerupuk Kabupaten Kendal. (SKRIPSI) Universitas Diponegoro Semarang.

Kartono Kartini. 2014. Kenakalan Remaja.

Depok: PT.Rajagrafindo Persada

Lufri. 2005. Metode Penelitian. Padang:

UNP

Ni Ayu Krisna Dewi. 2014. Analisis Faktor- Faktor Penyebab Anak Putus sekolah

Notoatmojo, soedidjoe, 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rieneka Cipta

(7)

6 Riduwan, 2009. Pengantar Statistik Pendidikan, Sosial, Ekonomi, Komunikasi Dan Bisnis. Bandung: Alfabeta

Satiadarma, M.P. 2011. Persepsi Orang Tua Membentuk Perilaku Anak, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu kepercayaan masyarakat Bali dari jaman dulu sampai saat ini dalam keluarga, untuk waktu keluar rumah juga dibatasi dan tidak boleh dilanggar oleh

https://bajangjournal.com/index.php/JPDSH PENGARUH PENGGUNAAN GADGET DALAM KEGIATAN BELAJAR DAN MENGAJAR TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK GENERASI Y Oleh Delia Puspita Sari1,