STUDI KELAYAKAN BISNIS ISLAM PADA PRODUK KOPI PASAK BUMI DALAM MENINGKATKAN PEREKONOMIAN PETANI KOPI
(Studi Kasus Produk Kopi Pasak Bumi di Kabupaten Tabalong)
Akhmad Riyadi, H. Iman Setya Budi, Agus Purnomo.
Ekonomi syariah 60202, fakultas studi islam kalimantan MAB, NPM16510047 Ekonomi syariah 60202, fakultas studi islam kalimantan MAB, NIDN1127048201 Ekonomi syariah 60202, fakultas studi islam kalimantan MAB, NIDN1124088504
Fakultas Studi Islam Program Studi Ekonomi Syariah
Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari.
E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Seperti kita tau bersama Indonesia dengan kekayaan sumber daya alamnya yang besar memiliki aneka jenis kebun pertanian seperti Teh, kopi dan lain lain. Pembahsan dalam penelitian ini mencakup beberapa poin yakni, studi kelayakan bisnis produk kopi pasak bumi, tinjauan ekonomi islam terhadap produk kopi pasak bumi, serta dampak usaha kopi pasak bumi terhadap peningkatan ekonomi petani. Penelitian ini pmenggunakan pendekatan kualitatif dan menggunakan jenis penelitian deskriptif. Sampel dalam penelitian ini menggunakan sampel jenuh.
Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa studi kelayakan bisnis produk kopi pasak bumi yang diproduksi kelompok usaha bersama Rakat Sepakat Desa Teratau itu bisa dikatakan layak karena memenuhi beberapa unsur. Tinjauan atau perspektif dalam ekonomi Islam terhadap usaha tersebut sudah sesuai dengan syariat yang dianjurkan dalam agama Islam baik dari segi produksi sampai pemasaran produk. Serta dampak dari pengolahan kopi pasak bumi juga berpengaruh terhadap pendapatan para petani kopi.
Kata Kunci: ekonomi; kopi; petani; studi kelayakan
ABSTRACT
One of the fundamental problems which until now has become the biggest challenge for the Indonesian nation is economic development. As we all know, Indonesia, with its large natural resource wealth, has various types of agricultural gardens such as tea, coffee and others. The discussion in this study includes several points, namely, the feasibility study of the business of the pegada coffee product, a review of the Islamic economy of the pegada coffee product, as well as the impact of the pasak bumi coffee business on the improvement of the farmer's economy. Data collection techniques that researchers use are observation, interviews and documentation. The results of this study concluded that the business feasibility study of the pasak bumi coffee product which was produced by the joint venture group Rakat Sepakat Desa Teratau was feasible because it fulfilled several elements.
Reviews or perspectives in Islamic economics on these businesses are in accordance with the Shari'a recommended in Islam, both in terms of production to product marketing. As well as the impact of pegak bumi coffee processing also affects the income of coffee farmers.
Keywords: economy; coffe; farmers; feasibility study
PENDAHULUAN
Salah satu masalah utama yang hingga kini telah menjadi tantangan terbesar bagi bangsa Indonesia ialah pembangunan ekonomi sehingga akan berkontribusi dalam pertumbuhan maupun kesejahteraan ekonomi suatu bangsa. Akan tetapi Indonesia sekarang ini menghadapi problem yang sangat rumit dalam masalah pembangunan ekonomi, yang berimplikasi pada munculnya kesenjangan ekonomi di berbagai sektor. Dalam hal ini dikarenakan pembangunan tidak mamp menyerap potensi ekonomi masyarakat, termasuk bidang pertanian sebagai kontributor dalam percepatan pertumbuhan maupun kesejahteraan ekonomi tersebut.
Seperti kita ketahui bersama Indonesia dengan kekayaan sumber daya alamnya yang besar memiliki aneka jenis hasil kebun pertanian seperti teh, kopi, dan lain-lain. Namun pada kenyataan nya hasil perkebunan itu banyak dijual dengan pengolahan biasa saja sehingga menyebabkan harga jual nya juga rendah dan itu berdampak sangat terhadap para petani nya langsung, disini lah peran pemerintah dan pihak terkait dalam mengembangkan atau memfasilitasi para petani dalam berkreasi agar hasil perkebunan itu tidak langsung dijual begitu saja dengan harga yang sangat rendah.
Dalam menjalankan suatu usaha ataupun bisnis untuk meningkatkan perekonomian, maka perlu ada yang namanya studi kelayakan bisnis. Studi kelayakan bisnis ialah suatu kegiatan mempelajari secara mendalam mengenai suatu usaha maupun bisnis yang akan dirintis dalam memulai bisnis baru bertujuan untuk menentukan layak atau tidak usaha suatu usaha tersebut untuk dijalankan.
Studi Kelayakan dapat dilaksnakan dalam menilai kelayakan investasi baik pada suatu proyek maupun usaha yang sedang dijalankan. Studi kelayakan dimaksud befungsi untuk menilai kelayakan sebuah proyek yang akan dijalankan disebut studi kelayakan proyek, sedangkan studi kelayakan yang dilakukan untuk menilai kelayakan dalam pengembangan sebuah usaha disebut studi kelayakan bisnis. Pengertian layak ataupun tidak layak disini ialah ramalan maupun perkiraan bahwa proyek yang akan dapat atau tidak dapat menghasilkan keuntungan yang layak bila telah dioperasionalkan.
Indonesia ialah salah satu negara penghasil kopi utama dalam pasar dunia bersama Brazil, Vietnam dan Kolombia. Kapasitas produksi biji kopi tahun 2017 mencapai 0,67 juta ton bernilai lebih dari 12 triliun. Sehingga tingginya nilai ekonomi kopi tersebut membuat banyaknya petani memanfaatkan kopi sebagai sumber penghidupan mereka. Dalam hal tersebut ditandai dengan dominannya keberadaan perkebunan rakyat dibandingkan perkebunan swasta dan perkebunan negara.
Pada tahun 2017, luas perkebunan rakyat berkontribusi sebesar 96,1 persen terhadap luas total perkebunan kopi di Indonesia, dan kontribusi produksi kopi sebesar 94,1 persen terhadap total produksi kopi Indonesia.
Tercatat sebanyak lebih kurang 1,79 juta keluarga adalah petani kopi yang bertempat tinggal di pedesaan dengan kepemilikan lahan rata-rata hanya 0,6 ha. Kesejahteraan perekonomian petani kopi merupakan isu yang terus menjadi perhatian dalam beberapa dekade terakhir.
Volatilitas harga kopi dianggap berpengaruh buruk terhadap perekonomian petani kopi yang umumnya tinggal di kawasan pedesaan pada negara berkembang Belakangan ini kelompok tani diperbesar menjadi suatu gabungan kelompok tani yang menjadi satu kawasan administratif (desa) atau yang dikenal dengan sebutan GAPOKTAN (gabungan kelompok tani). Berdasarkan Keputusan Mentri Pertanian Nomor 93/
Kpts/OT.2103/3/1997 mengenai pedoman Pembinaan Kelompok Tani-Nelayan “gabungan kelompok tani” adalah merupakan gabungan dari beberapa kelompok tani yang melakukan agribisnis diatas prinsip kebersamaan dan kemitraan sehingga mencapai peningkatan produksi dan pendapatan usaha tani bagi anggotanya dan petani lainya.
Oleh karena itu GAPOKTAN adalah sebuah wadah untuk kerjasama antar kelompok tani.
Alasan dibentuknya GAPOKTAN secara sudut pandang ekonomi adalah sebagai upaya dalam menghindari suatu biaya transaksi tinggi yang harus dikeluarkan oleh para anggotanya karena adanya masalah penumpang kepentingan komitmen dan loyalitas yang berbeda, serta faktor eksternal. Akan tetapi paradigma suatu pembentukan gabungan kelompok tani ini belum tepat dikarenakan pembentukan kelompok tani ini hanya sebatas kelompok formal. Pada tahun 2006 jumlah kelompok tani tercatat 293.568 kelompok dan Gapoktan sebanyak 3000.
Peningkatan kelompok tani dalam pemberdayaan dalam hal tersebut belum diikuti dengan peningkatan kualitas sehingga maasih banyak kelompok tani yang belum mampu mandiri maupun masih tetap ditentukan dari atas dalam berbagai hal seperti menentukan jenis suatu komoditas yang diusahakan, pertama penentuan pasar, kedua penentuan suatu mitra usaha, dan ketiga yaitu menentukan suatu harga komoditas dan sebagainya.
Sehingga, kualitas kelompok tani yang terbentuk tidak sesuai dengan peran aset komunitas masyarakat desa yang partisipatif. Akibatnya pengembangannya belum signifikan terhadap peningkatan kapasitas masyarakat itu sendiri dalam menjadi mandiri di dalam upaya peningkatan kesejahteraan
Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan suatu produk pegembangan olahan kopi terhadap peningkatan perekonomian petani, yang kita ketahui bersama kopi adalah minuman semua golongan menengah keatas maupun menengah kebawah, laki-laki ataupun wanita, hingga anak kecil dan orang tua menyukai kopi tapi produk kopi dipasaran hanya itu-itu saja seperti kopi hitam maupun kopi susu, dan itu pula
yang mengakibatkan harga kopi masih jauh dikatakan layak sebagaimana harga kopi didunia. Teknik pengolahan dan pengelolaan berperan penting serta variasi olahan baru sehingga bisa mendongkrak harga kopi. Melihat peluang itu tercetuslah ide mengolah kopi dengan kearifan lokal kalimantan khusus nya Kalimantan Selatan tepat nya di Desa Teratau, Kecamatan Jaro, Kabupaten Tabalong. Harga kopi per bungkus dengan berat 100 gram bervariasi mulai dari harga Rp. 35.000,- sampai dengan Rp. 50.000,-. Harga bervariasi karena menyesuaikan dengan campuran nya seperti kopi pasak bumi jahe, kopi pasak bumi gula aren, dll.
Memperhatikan permasalahan yang terjadi dilapangan tersebut, penulis tertarik untuk meneliti lebih mendalam lagi tentang bagaimana sebenarnya kelayakan bisnis kopi pasak bumi untuk meningkatkan perekonomian petani tersebut. Dan juga penulis tertarik mengenai studi kelayakan tentang bagaimana tinjauan dalam ekonomi islam terhadap penjualan kopi pasak bumi dalam meningkatkan perekonomian petani kopi, layak atau tidaknya bisnis penjualan tersebut dan kendala-kendala yang mereka hadapi selama berjualan.
METODE
Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif, penelitian kulaitatif juga merupakan penelitian yang mengidentifikasikan gejala-gejala yang bersumber dari lapangan. Sesuai dengan jenis permasalahan yang diteliti, maka metode penelitian lapangan yang digunakan dalam skripsi ini menggunakan metode penelitian kualitatif.
Menggunakan sumber data perimer dan sekunder, Sumber data primer dalam penelitian ini adalah wawancara langsung dengan Arsani Ketua kelompok, Siti Sarah kepala bagian keuangan, Syarifah kepala bagian produksi, Risna Dilla Inrya kepala bagian pemasaran, Mahdini bagian bahan baku, M. Rizki bagian produksi, Ni’matul Azmi bagian pengemasan yang mana mereka juga sekaligus sebagai petani kopi di Kelompok Usaha Bersama Rakat Sepakat Desa Teratau.
Selain menggunakan sumber data primer, penelitian ini juga menggunakan data sekunder yang diperoleh secara tidak langsung untuk melangkapi dan mendukung sumber data primer. Data skunder dari penelitian ini bersumber dari buku, catatan, jurnal, maupun arsip laporan hasil penjualan produk yang ada di kelompok usaha bersama Rakat Sepakat Desa Teratau. Data ini sangat penting digunakan sebagai pelengkap analisa hasil penelitian ini.
Tabel 1. Key Informan Dan Informan Penelitian Pada Kelompok Usaha Bersama Rakat Sepakat
Nama Keterangan
Arsani Siti Sarah
Ketua Kelompok Usaha Bersama Rakat Sepakat
Bagian Keuangan Kelompok Usaha Bersama Rakat Sepakat Syarifah Bagian Produksi Kelompok Usaha Bersama Rakat Sepakat Risna Dilla Inrya
Mahdini M. Rizki Ni’matul Azmi
Bagian Pemasaran Kelompok Usaha Bersama Rakat Sepakat Bagian Bahan Baku Kelompok Usaha Bersama Rakat Sepakat Bagian Produksi Kelompok Usaha Bersama Rakat Sepakat Bagian Pengemasan Kelompok Usaha Bersama Rakat Sepakat
Pada penelitian ini penulis menggunakan teknik sampel jenuh karena jumlah pekerja dikelompok usaha bersama Rakat Sepakat kurang dari 10 orang maka dari itu penelitian dengan mewawancarai semua orang anggota dan ketua kelompok.
Peneliti dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data seperti observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti yang datang langsung ke tempat pengolahan produk kopi pasak bumi sekaligus menjadi rumah ketua kelompok usaha bersama tersebut, peneliti melihat kendala saat ini yang dialami oleh kelompok usaha bersama Rakat Sepakat adalah kekurangan tenaga kerja karena untuk saat ini mereka mempunyai hanya 6 orang pekerja dan mereka sekaligus sebagai pengurus, maka dari itu untuk saat ini mereka hanya mampu memproduksi 300 kilogram kopi perhari itu pun dikerjakan secara lembur.
Selanjutnya peneliti melihat kelompok usaha ini kekurangan alat sehingga apabila ada pesanan mereka berkumpul dirumah produksi, padahal yang diharapkan oleh mereka apabila ada pesanan mereka tinggal memproduksi dirumah masing-masing jadi mengurangi biaya transportasi.
Peneliti mewawancara narasumber yakni Arsani Ketua kelompok, Siti Sarah kepala bagian keuangan, Syarifah kepala bagian produksi, Risna Dilla Inrya kepala bagian pemasaran, Mahdini bagian bahan baku, M.
Rizki bagian produksi, Ni’matul Azmi bagian pengemasan, sekaligus mereka juga petani kopi di Kelompok Usaha Bersama Rakat Sepakat Desa Teratau dengan memuat sejumlah pertanyaan, yang mana pertanyaan itu sesuai dengan pedoman wawancara yang baik dan benar. Wawancara ini untuk memeperoleh data mengenai peran koperasi kemudian hal-hal yang menunjang dalam meningkatkan produksi produk dan meningkatkan pendapatan petani kopi diwilayah Kabupaten Tabalong.
Dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi akan menggunakan sebuah dokumen tertulis atau laporan-laporan yang ada di usaha Kelompok Usaha Bersama Rakat Sepakat Desa Teratau, dan menggunakan tenik analisis data seperti reduksi data, penyajian data, kesimpulan dan verifikasi data.
Penarikan kesimpulan merupakan bagian dari suatu kegiatan konfigurasi yang utuh. Kesimpulan dilakukan untuk dilakukan untuk menemukan inti dari isi dan makna yang terkandung. Teknik trigulasi digunakan untuk
mendapatkan data yang valid, dengan membandingkan antara hasil wawancara dengan kondisi subjek penelitian dilapangan, agar mendapat data yang lebih akurat terhadap data yang telah terkumpul dan untuk mengetahui Studi kelayakan bisnis islam pada produk kopi dalam meningkatkan perekonomian petani kopi
Studi kelayakan bisnis islam pada produk kopi dalam meningkatkan perekonomian petani kopi (studi kasus produk kopi pasak bumi
dikabupaten Tabalong).
Landasan Teori
Studi Kelayakan Bisnis Islam Meningkatkan Ekonomi Petani
Wawancara, Observasi, dan Dokumentasi
Hasil Penelitian
Gambar 1. Kerangka berpikir Sumber : Data diolah tahun 2020
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kelompok Usaha Bersama Rakat Sepakat pada awalnya masih bergabung dengan kelompok tani pengolah gula aren pada tahun 2017 sang ketua atau bisa dikatakan pelopor memutuskan untuk memisahkan diri untuk membuat kelompok usaha sendiri dikarenakan pada saat itu harga gula aren sangat anjlok karena belum ada kreasi olahan, maka dari itu bapak Arsani selaku pelopor membuat olahan gula aren dicampur dengan kopi, pasak bumi, dan jahe karena melihat 3 bahan tersebut sangat melimpah didaerah itu.Saat ini Kelompok Usaha Bersama Rakat Sepakat sudah memiliki izin usaha baik SIUP (surat izin usaha perdagangan), izin label Halal dari Majelis Ulama Indonesia, serta NPWP (nomor pokok wajib pajak).
Gambar 2. Tempat Penyimpanan Sampel Produk
Gambar 3. Sampel Jenis Produk
Peluang Pasar terhadap perkembangan kopi saat ini didukung oleh tren konsumsi kopi dimana meminum kopi saat ini menjadi sebagai gaya hidup dilakangan masyarakat yang terlebih anak muda. Kelompok usaha kopi HOFI ini didirikan oleh kelompok tani yang ada daerah Tabalong yang hasilnya dijual di wilayah Kalimantan pada umumnya dan Kalsel pada khusus nya. Dengan mengandalkan ciri khas kopi dari Kalimantan selatan khususnya daerah membuat persaingan kopi tidak terlalu banyak. Sehingga membuat permintaan masyarakat terhadap kopi ini relatif tinggi, hal ini dapat diliaht dari meningkatnya permintaan dari para pedagang, masyarakat dan para pemilik kedai kopi. Kapasitas produksi kopi saat ini adalah 150 pcs per hari sedangkan konsumen yang terus pertambah mengindikasikan potensi pasar yang besar san sangat prosfek untuk dicapai. Pada tahun 2019 kopi ini terjual 7.200 kilogram kopi.
Pemasaran sebagai salah satu hal terpenting dari kegiatan bisnis yang harus diperhatikan dalam analisa kelayakannya. Bisnis yang dijalankan harus memiliki pasar yang mampu menyerap produk yang dihasilkan.
Analisis pemasaran yang dibahas adalah bauran pemasaran.
Pelaku usaha kopi dikecamatan Jaro menghasilakn produk berupa tanaman kopi, dmana tanaman ini nantinya akan diproses menjadi bahan jadi yaitu kopi pasak bumi dan jenis olahan kopi lain nya. Produksi yang dihasilkan dari tanaman kopi para petani dikecamatan Jaro merupaka produksi terbaik dibandingkan dengan produksi serupa. Dimana memiliki ciri khas yang membedakan dengan kopi instan pada umumnya yaitu kopi diproduksi tanpa tambahan bahan campuran seperti biji jagung kering atau beras.
Hasil panen yang brupa tanaman kopi diproses untuk dijadikan bahan jadi berupa biji kopi yang sudah siap giling atau bubuk kopi. Untuk proses pengolahan dimana biji kopi yang belum jadi harus dibuang kulitnya terlebih dahulu, lalu dijemur dan dipisahkan dari kulit dalamnya dan setelah itu di sangrai mengunakan mesin pemanas sehingga menghasilkan biji kopi yang sdah siap untuk dipasarkan. Bagi yang ingin dalam bentuk bubuk, kopi kemudian di giling menggunakan mesin pengiling tepung hingga halus. Kemudian produk dijual dalam bentuk kemasan sachet dan kemasan kiloan tergantuk permintaan konsumen.
Harga berfungsi untuk mempengaruhi keinginan konsumen untuk melakukan produk yang ditawarkan.
Harga yang ditawarkan tidak mahal mengingat kopi yang dijual merupakan kopi murni tanpa campuran apapun untuk menambah volume kopi dalam kemasan. Harga untuk dengan varian kopi berat 150 gram dipatok dengan harga Rp 20.000,- .
Promosi merupakan tindakan pemasaran suatu produk yang dihasilkan oleh seseorang atau organisasi.
Tujuan promosi diharapkan dapat meningkatkan omset penjual produk. Bentuk promosi yang dilakukan kelompok usaha bersama Rakat Sepakat adalah melalui informasi dari ‘mulut ke mulut’, mengikuti pameran yang diselenggaran oleh dinas terkait, perdagagan, UMKM, toko oleh oleh khas Kalimantan dan melalui marketplace yang ada.
Saluran pendistribusian digambarankan yang dilakukan oleh penjual kopi hingga sampai ke konsumen erikut dibawah ini:
Pedagang, UMKM,
Pedagang Toko Oleh Oleh
Kelompok Usaha Bersama Rakat
Sepakat
Masketplace
Gambar 3. Saluran pendistribusian
Saluran distribusi pertama terdiri dari pedagang dan toko yang menjual produk kopi ke konsumen dan saluran distribusian kedua hanya berupa konsumen. Harga yang ditetapakan untuk setiap distribusi sama. Kalo membeli dari distribusi kedua masa harga kembali kepada distribusian kedua.
Adapun bahan penolong dari produk kopi arabika digunakan dalam pengemasan produk antara lain aluminum foil, plastik, stiker dan perekat dapat berupa lem atau perekat plastik otomatis. Para petani kopi kelompok tani hutan kopi mengenai bahan baku yang digunakan bahan baku yang digunakan murni kopi tidak dicampur dengan bahan pengawet dan agar menambah daya jual menggunakan kemasan aluminium foil pada kemasan.
Kelompok usaha bersama Rakat Sepakat memasarkan kopi pasak bumi buatannya ke beberapa daerah wilayah Kalimantan, dan Indonesia pada umumnya bahkan saat ini produk sudah sampai ke Jepang. Pemasaran produk langsung dilakukan oleh kelompok usaha bersama Rakat Sepakat langsung untuk daerah wilayah Kalimantan sedang untuk wilayah yang berada diluar Tabalong atau Kalimantan dipasarkan melalui UMKM dan marketplace kemudian akan dikirim melalui paket. Sebanyak 80 persen produk dipasarkan langsung dan juga toko oleh oleh dan 20 persen dipasarkan melalui marketpalce
Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan usaha pengolahan kopi. Analisis kelayakan finansial yang dilakukan pada kedua pola usaha bertujuan untuk melihat jenis pola usaha pengolahan kopi manakah yang lebih layak untuk dijalankan. Untuk mengetahui hasil kelayakan usaha pengolahan kopi akan dilihat dari kriteria-kriteria kelayakan finansial yang meliputi Net Present Value (NPV), Net B/C, Gross B/C, Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Period.
Penerimaan penjualan diperoleh dari perkiraan jumlah produksi dikalikan dengan harga jual produknya.
Jumlah produksi didasarkan pada jumlah produksi rata-rata. Diasumsikan bahwa kelompok usaha bersama Rakat Sepakat mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa investasi mesin pada tahun 2018 yang merupakan tahun ketiga usaha. Pada tahun tersebut, kelompok usaha masih melakukan persiapan dari tahun pertama dan tahun kemudian pada tahun ketiga sudah dapat melakukan produksi.
Berdasarkan hal tersebut, pada tahun pertama penerimaan penjualan yang didapat kelompok usaha lebih sedikit daripada tahun kedua. Penjualan pada tahun pertama sebanyak 360 kilogram selama enam bulan, sehingga produksi tiap bulan sebanyak 10 kilogram yang dimulai dibulan ketujuh. Harga per kilogram sebesar Rp 16.000.
Pada tahun pertama tersebut, kelompok usaha belum menjual dalam kemasan 500 gram. Mulai tahun kedua jumlah produk yang dihasilkan dalam satu kali proses produksi tidak selalu sama, namun rata-rata jumlah produksi per bulannya mencapai 300 kilogram kopi. Kelompok usaha berproduksi 12 bulan dalam setahun sehingga diperoleh jumlah produksi sebanyak 1 825 kilogram per tahun. Jumlah tersebut setara dengan 9000 bungkus ukuran 150 gram dan 1000 bungkus ukuran 500 gram.
Pada tahun berikutnya, diasumsikan jumlah tersebut tetap selama umur usaha. Harga jual produk dibagi menjadi dua kategori yaitu kemasan 150 gram dengan harga Rp 20.000 dan kemasan setengah kilogram dengan harga Rp 75.000 Kemasan 150 gram dijual di Kabupaten Tabalong yang menempati kios toko oleh oleh dan kemasan setengah kilogram dijual di Banjarmasin dan kabupaten lain berdasarkan pesanan konsumen. Harga jual untuk tiap saluran sama.
Tabel 2. Penjualan Prosedur
Tahun Ukuran Kemasan Harga Total Nilai Jual
2017 150 gram 2400 Rp. 48.000.000
2018 150 gram
500 gram
9000 1000
Rp. 255.000.000
2019 150 gram
500 gram
20000 75000
Rp. 480.000.000 Sumber: Data diolah pada 2020
Berdasarkan hasil perhitungan penerimaan penjualan, jumlah penerimaan yang berasal dari penjualan produk selama umur usaha adalah Rp 753.000.000,- Nilai penjualan diperoleh dari jumlah produk yang terjual dikalikan dengan harga jual selama umur usaha. Jumlah produk yang terjual sama dengan jumlah produk yang diproduksi oleh KUB Rakat Sepakat karena produksi dilakukan berdasarkan permintaan sehingga seluruh kopi yang diproduksi terjual atau tidak ada sisa produk yang tidak laku.
Nilai sisa (salvage value) Investasi yang diperlukan meliputi bangunan pabrik, satu set mesin pengolahan, lahan, dan peralatan. Usaha yang dijalankan KUB Rakat Sepakat mendapatkan bantuan investasi berupa satu set mesin pengolahan, sedangkan lahan diasumsikan pemilik usaha melakukan pembelian investasi tanah. Arus penerimaan yang berasal dari nilai sisa dihitung berdasarkan nilai dari investasi mesin, bangunan,peralatan, dan lahan yang masih tersisa pada akhir umur bisnis pada tahun ke-10.
Nilai sisa yang didapatkan pada akhir masa bisnis adalah Rp 374.400.000. Nilai tersebut berasal dari nilai sisa bangunan, lahan, dan investasi alas pengering kopi. Perhitungan penyusutan dari investasi tersebut menggunakan metode garis lurus.
Biaya investasi dikeluarkan pada tahun 2018. Biaya investasi tersebut didapat dari bantuan yang diterima KUB Rakat Sepakat dan terdapat beberapa peralatan yang didapat dengan modal sendiri. Pada tahun tersebut, mesin dan peralatan sudah dapat langsung dipakai dan berproduksi. Kebutuhan investasi KUB Rakat Sepakat disesuaikan dengan kebutuhan produksi secara teknis yang meliputi lahan tempat usaha, bangunan tempat usaha, mesin dan peralatan untuk menghasilkan produk.
Tabel 3. Barang Investasi
Uraian Jumlah Umur Ekonomis Harga Satuan Nilai
Bahan Bangunan Mesin
Alat Pengemas lahan
Alat Pengering Kop
1 2 5 1 1
20 tahun 10 tahun 10 tahun Seumur hidup 10 tahun
Rp. 200.000.000 Rp. 50.000.000 Rp. 400.000 Rp. 50.000.000 Rp. 20.000.000
Rp 200.00.000 Rp. 100.000.000 Rp. 2.000.000 Rp. 50.000.000 Rp. 20.000.000
Alat Memasak 3 5 tahun Rp. 800.000 Rp 2.400.000
Total Rp. 372.400.000
Keterangan: Data; Data; Data
Biaya operasional dikeluarkan setiap tahunnya selama umur bisnis. Biaya operasional ini meliputi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap merupakan biaya yang besarnya tidak tergantung pada jumlah produksi yang dihasilkan. Biaya tetap KUB Rakat Sepakat meliputi biaya pemeliharaan mesin dan peralatan, biaya sewa toko, pemasaran, biaya transportasi, listrik, air, dan biaya peralatan. Biaya peralatan terdiri dari centong, gayung, ember plastik, kursi plastik, plastik besar (75 kilogram), timbangan, stoples plastik (10 liter), dan sapu. Komponen biaya tetap penyusutan terdapat dalam perhitungan laba/rugi perusahaan.
Biaya variabel merupakan biaya yang besarnya dapat berubah-ubah tergantung dari perubahan jumlah produksi yang dihasilkan. Biaya variabel terdiri atas kopi segar, alumunium foil, stiker, kemasan kiloan, upah tenaga kerja langsung, solar, dan gas elpiji 15 kg.
Tabel 4. Tabel Operasional
Uraian Nilai
Pemeliharaan mesin dan peralatan Rp. 2.000.000
Pemasaran Rp. 700.000
Transportasi Air Biaya peralatan
penyusutan
Rp. 1.760.000 Rp. 1000.000 Rp. 3.000.000 Rp. 450.000
Total Rp. 12.510.000
Sumber : Data diolah 2020
Pada perhitungan cashflow perusahaan, komponen biaya tetap terbesar adalah biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan yaitu Rp2.000.000. Besarnya biaya pemeliharaan dihitung dari upah tenaga kerja yang memperbaiki mesin dan peralatan sebesar Rp120 000 untuk dua orang tiap bulan. Pada perhitungan laba/rugi perusahaan, komponen biaya tetap terbesar adalah juga biaya pemeliharaan dan mesin.
Biaya penyusutan yang dialami KUB Rakat Sepakat hanya untuk penyusutan investasi alas jemur kopi dan selang air. Hal ini karena investasi mesin dan bangunan merupakan bantuan sehingga tidak mengalami penyusutan. Biaya penyusutan hanya ada dalam perhitungan laba/rugi karena pada perhitungan tersebut tidak dikeluarkan biaya investasi sehingga komponen outflow untuk investasi hanya dihitung berdasar penyusutannya.
Tabel 5. Biaya Produksi
Uraian Jumlah per Total Biaya Pertahun
Kopi Segar (Pertahun) 3.900 kg Rp. 27.300.000
Bahan Campuran (Pertahun) 1.100 kg Rp. 33.000.000
Kemasan (Pertahun)
Upah Tenaga Kerja Langsung (Perhari) Solar (Perhari)
Gas Elpiji (Per 2 Minggu)
26.800 pcs Rp. 80.000 Rp. 13.000 Rp. 450.000
Rp. 5.624.000 Rp. 29.200.000
Rp. 4.747.000 Rp. 12.150.000
Total Rp. 112.021.00
Sumber : Data diolah 2020
Analisis laporan laba rugi usaha Pada analisis laba rugi usaha, pendapatan diperoleh dari penerimaan semua produksi, sedangkan komponen biaya disusun oleh biaya tetap, biaya variabel, dan biaya penyusutan. Pada tahun pertama. KUB Rakat Sepakat masih melakukan persiapan sehingga mulai beroperasi pada bulan ketujuh di tahun pertama.
Usaha ini tidak melakukan pinjaman kepada pihak manapun sehingga tidak mengeluarkan biaya bunga yang harus dikeluarkan. Diasumsikan bahwa usaha ini tidak melakukan pinjaman selama umur usaha. Biaya tetap
pada komponen biaya operasional ditambahkan dengan komponen biaya penyusutan dari barang-barang investasi pertahunnya. Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus.
Finansial Analisis kelayakan finansial dihitung berdasarkan nilai manfaat bersih (net benefit) yang didiskontokan dengan tingkat discount faktor sebesar 19.25 persen. Tingkat discount faktor ini didasarkan pada tingkat suku bunga mikro yang berlaku di BRI pada bulan April 2014. Hal ini dilakukan karena BRI memiliki program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang difokuskan pada UMKM. Suku bunga mikro diambil karena berdasarkan persyaratan KUR oleh BRI, Kelompok Usaha Bersama hanya dapat meminjam melalui KUR Mikro.
Pelaku pada KUB Rakat Sepakat tidak melakukan pinjaman kepada pihak manapun akan tetapi suku bunga yang diperhitungkan adalah suku bunga pinjaman karena diasumsikan dalam beberapa tahun mendatang, pelaku usaha akan melakukan pinjaman kepada bank. Nilai net benefit yang diperoleh, dijadikan dasar perhitungan kelayakan finansial berdasarkan kriteria investasi, yaitu Net Present Value (NPV), Net Benefit/Cost (Net B/C), Gross Benefit/Cost (Gross B/C), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period.
Tabel 6. Aspek Finansial
Tahun Ukuran Kemasan
Net Present Value Internal Rate of Return
1.0445.797.010.00 302%
Profitability Index 27,93 Paybex Period 1 Tahun 3 bulan Sumber : Data diolah 2020
Sebagaimana hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti yang dilakukan dalam pemasaran kedai kopi nyala merupakan sesuai dengan prinsip pemasaran bisnis islam, yaitu sebagai berikut:
a. Jujur dalam menjelaskan produk b. Atas dasar suka sama suka
c. Tidak ada unsur paksaan untuk membeli produk
d. Tidak menghina bisnis orang lain agar orang lain beralih kepadanya e. Bersih dari unsur riba
f. Membina ukhuwah antara pihak kedai terhadap konsumen, menjelaskan pentingnya akan kepribadian yang amanah dan terpercaya serta pengetahuan dan ketrampilan yang mumpuni.
Dari hasil wawancara yang dilakukan penulis pada usaha yang dilakukan berjalan dengan baik dan efisien, juga dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan ketentuan islam. Salah satu tolak ukur keberhasilan promosi suatu produk adalah jika produk tersebut dapat dikenal dengan konsumen tentang bagaimana keunggulan kopi olahan dari Kelompok Usaha Bersama Rakat Sepakat hingga kini dikatakan telah berhasil dalam memproduksikan produk kopinya.
Dilihat dari peranan tenaga penjualan yang berperan sebagai promotor dengan memperkenalkan produk kepada konsumen baik tentang mutu produk, keunggulan ataupun harga yang kompetitif. Selain daripada itu, bentuk strategi pemasaran, mengandung unsur positif, diisi dengan nilai-nilai syariah seperti penjualan produk yang jelas dengan mencantumkan harga, jenis, ukuran timbangan, yang dicantumkan dalam produksi kopinya.
Sistem pemasaran yang dilakukan pihak kedai kopi ini sesuai dengan bagaimana strategi pemasaran efektif tentang promosi dan implementasi syariah. Melihat dari hal yang telah disebutkan diatas telah menjelaskan dalam memasarkan produknya telah sesuai dengan apa yang diterapkan dalam kaidah islam.
PENUTUPAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang penulis peroleh melalui penelitian dan pembahasan maupun wawancara, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah :
1. Studi kelayakan Bisnis produk kopi pasak bumi yang diproduksi Kelompok Usaha Bersama Rakat Sepakat Desa Teratau itu bisa dikatakan layak karena memenuhi beberapa unsur seperti: Aspek pasar dan pemasaran, Bauran pemasaran, Aspek teknis, Aspek organisasi dan manajemen, serta Aspek finansial. Peneliti melihat dan mempelajari semua aspek yang ada dikelompok usaha tersebut meningkat setiap tahun nya dan itu artinya usaha tersebut memang layak untuk dilanjutkan dan dikembangkan lebih baik lagi.
2. Tinjauan atau perspektif dalam ekonomi islam terhadap usaha tersebut sudah sesuai dengan syariah yang dianjurkan dalam islam baik dari segi produksi sampai pemasaran produk
3. Dampak dari pengolahan kopi pasak bumi juga berpengaruh terhadap pendapatan para petani kopi yang dulunya mereka menjual biji kopi dengan harga yang sangat tidak sesuai kini mereka memperoleh harga yang sesuai dengan pasaran bahkan cukup kewalahan untuk menyediakan bahan baku biji kopi yang diperlukan oleh kelompok usaha bersama rakat sepakat
Saran
1. Saran yang diberikan oleh peneliti terhadap kelompok usaha bersama Rakat Sepakat agar tetap konsisten dengan tujuan awal meningkatkan ekonomi petani kopi dengan kreasi dan inovasi terbaru agar bisa bersaing dipasar Internasional. Dan saran yang terakhir agar kelompok usaha melalakukan pemasaran serta penjualan produk melalui toko online karena saat ini rata-rata masyarakat Indonesia bahkan dunia lebih mudah jual beli via online
2. Dalam penelitian ini penulis merasa banyak kekurangan dan kesalahan, oleh karena itu penulis mengharap saran dan masuka dari berbagai pihak. Untuk penelitian selanjutnyaagar dapat membantu memberikan ilmu dan pengetahuan mengenai pemasaran atau dapat bekerjasama dengan instansi terkait.
REFERENSI Buku
Leen, B., Bell, M., & McQuillan, P. (2014). Evidence-Based Practice: a Practice Manual. USA: Health Service Executive.
Abdullah, M. Ma’ruf,(2014) Manajemen Bisnis Syariah, (Yogyakarta:Cv. Aswaja Pressindo) Agustin, Hamdi (2017). Studi Kelayakan Bisnis Syariah, (Depok, Raja Grafindo Persada) Harahap, Sunarji (2018) Studi kelayakan bisnis pendekatan integratif. Febi UINSU, Medan.
Kasmir dan Jakfar. 2012. Studi Kelayakan Bisnis. (edisirevisi). Jakarta.
Moleong. (2011). Metode Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya.
Rifai, M.A. (1975). Data-data botani pasak bumi. Herbarium Bogoriense. LIPI. Bogor
Soemitra, Andri 2015. Kewirausahaan Berbasis Syariah. Penerbit CV. Manhaj Medan dengan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sumatera Utara, Medan.
Sudjarmoko, B. (2013). Prospek Pengembangan Industrialisasi Kopi Indonesia. Sirinov, 1(3), 99–110.
Sugiyono, P. D. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Alfabeta, Bandung.
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002),
Wiguna, S., Karimi, S., Ridwan, E. (2019). Dampak Skema Relasi Kopi Sebagai Pengembangan Perekonomian Petani Kopi di Pedesaan. Agriekonomika.
Wolf, R. Eric 1985 Petani, Suatu Tinjauan Antropologis, Jakarta: CV. Rajawali.
Yusuf, M. (2015). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & Penelitian Gabungan.
Jurnal
Atmaja, I., Tamba, I., & Kardi, C. (2015). Peningkatan Pendapatan Petani Kopi Arabika Peserta Unit Pengolahan Hasil (UPH)(Kasus Di Desa Belok Sidan Kecamatan Petang Kabupaten. Jurnal Agrimeta, 5(10), 32–42.
Budidaya Tanaman Kopi Arabika Sebagai Pendorong Ekonomi Masyarakat di Kabupaten Intan Jaya, Marsi Adi Purwadi, PP 1 – 11.
Dana Megayani (2019) Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis. Januari 2019. 5(1): 104- 113.
Dr Harianto, Pusat Studi Pembangunan dan Staf Pengajar Jurusan Sosek-IPB.
Hafid Ramdhani, Soni Akhmad Nulhaqim, & Muhammad Fedryansah, Peningkatan Kesejahteraan Petani Dengan Penguatan Kelompok Tani,
Immanuel, D., Situmeang, H., Mutaali, L., Kunci, K., Kopi, B., Kopi, U., Siborongborong, K., Masyarakat, P., &
Siborongborong, K. (n.d.). Identifikasi Pengaruh Komoditi Kopi Terhadap Perkembangan Perekonomian Masyarakat Di Kecamatan Siborongborong Kabupaten Tapanuli Utara.
Marsi Adi Purwadi (2018) JUMABIS (Jurnal Manajemen Dan Bisnis): Marsi, P. (2018). Budidaya Tanaman Kopi Arabika Sebagai Pendorong Ekonomi Masyarakat Di Kabupaten Intan Jaya, 2, 1–11.
Megayani, D. (2019). Studi Kelayakan Usahatani Kopi Dan Economic Feasibility of the Coffee Farming and the Characteristics of the Household Coffee Farmers in Ogan Komering Ulu Selatan Regency. Mimbar Agribisnis, 5(1), 104–113.
Pedesaan, P. D. I. (2005). Kajian Pengembangan Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Sebagai Kelembagaan Pembangunan Pertanian Di Pedesaan Pujiharto. 64–80.Peningkatan Kesejahteraan Petani Dengan Penguatan Kelompok Tani, Prosiding Ks: Riset & Pkm Volume: 2 Nomor: 3 Hal: 301 - 444 Issn:
2442-4480.
Peningkatan, U., Petani, P., Melalui, M., Pola, P., Komoditas, P., Sinergi, M., Kasus, S., Cibiru, K., Bandung, K., Kastaman, R., & Kunci, K. (2005). the Increase Efforts of Maximal Farmers ’ Income By Means of.
Skripsi
Nisa, A. S. (2014). Analisis Kelayakan Usaha Pengolahan Kopi Pada Kelompok Usaha Bersama Robusta Akur di Kabupaten Temanggung. Skripsi.
Nurmalasari (2014) .Penjualan Jagung Bakar Di Kecamatan Banjarmasin Tengah (Analisis Studi Kelayakan Bisnis)
Internet
Heriyanto, N. M., Sawitri, R., & Subiandono, E. (2016). Kajian Ekologi dan Potensi Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack.) di Kelompok Hutan Sungai Manna Sungai Nasal, Bengkulu. Buletin Plasma Nutfah, 12(2), 69. https://doi.org/10.21082/blpn.v12n2.2006.p69-75
portal.tabalongkab.go.id/kondisi-wilayah
Ramdhani, H., Nulhaqim, S. A., & Fedryansyah, M. (2015). Peningkatan Kesejahteraan Petani Dengan Penguatan Kelompok Tani. Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 2(3), 423–429.
https://doi.org/10.24198/jppm.v2i3.13593
Rusdiana, S., & Maesya, A. (2018). Jurnal Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Jurnal Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 7(2), 176–187. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.21107/agriekonomika.v6i1.1895