• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KOMPARASI PEMIKIRAN IBNU KHALDUN DAN AL-GHAZALI TENTANG MEKANISME PASAR DAN

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "STUDI KOMPARASI PEMIKIRAN IBNU KHALDUN DAN AL-GHAZALI TENTANG MEKANISME PASAR DAN "

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI KOMPARASI PEMIKIRAN IBNU KHALDUN DAN AL-GHAZALI TENTANG MEKANISME PASAR DAN

PENETAPAN HARGA SERTA RELEVANSINYA DI INDONESIA

SKRIPSI

Oleh:

Nur Arista Melanoi Agustina NIM 401190140

JURUSAN EKONOMI SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO

2023

(2)

ii

STUDI KOMPARASI PEMIKIRAN IBNU KHALDUN DAN AL-GHAZALI TENTANG MEKANISME PASAR DAN PENETAPAN HARGA SERTA RELEVANSINYA DI INDONESIA

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi Sebagian Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Strata Satu (S-1)

Oleh:

Nur Arista Melanoi Agustina NIM 401190140

Pembimbing:

Ajeng Pipit Fitriani, S.E., M.S.A.

NIP. 1990066102020122018

JURUSAN EKONOMI SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO

2023

(3)

iii ABSTRAK

Agustina, Nur Arista Melanoi. Studi Komparasi Pemikiran Ibnu Khaldun dan Al- Ghazali Tentang Mekanisme Pasar dan Penetapan Harga Serta Relevansinya di Indonesia. Skripsi. 2023. Jurusan Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, Pembimbing:

Ajeng Pipit Fitriani, S.E., M.S.A.

Kata Kunci: Mekanisme Pasar, Penetapan Harga, Ibnu Khaldun, Al-Ghazali Sebagai makhluk sosial, manusia perlu untuk malakukan interaksi dengan orang lain salah satunya untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Dalam proses pemenuhan kebutuhan hidup ini salah satu cara yang dilakukan yaitu dengan melakukan transaksi jual-beli di pasar. Dalam proses transaksi inilah muncul mekanisme pasar sebagai akibat dari berbagai interaksi yang ada di pasar. Jika membahas mengenai mekanisme pasar tentunya tidak terlepas dari pembahasan mengenai penetapan harga. Dalam hal ini peneliti ingin malakukan studi komparasi dari pemikiran dua tokoh yaitu Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali mengenai mekanisme pasar dan penetapan harga serta relevansinya di Indonesia.

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis bagaimana pemikiran keduanya mengenai mekanisme pasar dan penetapan harga, menganalisis persamaan dan perbedaan pemikiran keduanya, serta menganalisis relevansi pemikiran keduannya terhadap kondisi mekanisme pasar dan penetapan harga di Indonesia. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kajian pustaka (library research) mengguankan pendekatan deskriptif dan kajian tokoh. Pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi. Penelitian ini menggunakan metode analisis induktif dan komparatif.

Mekanisme pasar dan penetapan harga Ibnu Khaldun terdiri dari tiga bahasan utama yaitu mengenai teori harga, teori nilai, dan peran negara dalam perekonomian. Al-Ghazali menjabarkan mengenai mekanisme pasar dan penetapan harga dalam tiga pembahasan juga, yaitu pertukaran sukarela dan evolusi pasar, mekanisme harga, dan peran negara dan keuangan pablik. Menurut Ibnu Khaldun, mekanisme pasar merupakan sebuah sistem yang menentukan terbentuknya harga dan didasari oleh kekuatan permintaan dan penawaran, sedangkan menurut Al-Ghazali mekanisme pasar harus terbentuk sesuai etika dan moral masyarakat yang ada. Pendekatan yang digunakan Ibnu Khaldun adalah pendekatan sejarah, sedangkan Al-Ghazali menggunakan pendekatan tasawuf.

Secara substansi pemikiran dari Al-Ghazali lebih relevan dengan kondisi mekanisme pasar dan penetapan harga di Indonesia daripada pemikiran Ibnu Khaldun. Konsep perekonomian yang diterapkan di Indonesia adalah Sistem ekonomi yang berlandaskan Pancasila.

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi

(7)

vii

(8)

viii MOTTO

َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي ْمُكَنْيَب ْمُكَلا َوْمَأ اوُلُكْأَت َلَ اوُنَمآ

َّلَِإ ِلِطاَبْلاِب َّنِإ ۚ ْمُكَسُفْنَأ اوُلُتْقَت َلَ َو ۚ ْمُكْنِم ٍضا َرَت ْنَع ًة َراَجِت َنوُكَت ْنَأ

اًمي ِح َر ْمُكِب َناَك َ َّاللَّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan

suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu;

sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”1 (Q.S. An-Nisa’:29)

1 al-Qur’an, 4:29.

(9)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... ii

ABSTRAK ... iii

LEMBAH PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI ... iv

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... v

SURAT PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi

PERNYATAAN KEASLIAN NASKAH ... vii

MOTTO ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xii

PEDOMAN TRANSLITERASI ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 10

C. Tujuan Penelitian ... 11

D. Manfaat Penelitian ... 11

E. Studi Penelitian Terdahulu ... 12

F. Metode Penelitian ... 23

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 23

2. Data dan Sumber Data ... 24

3. Teknik Pengumpulan Data ... 24

4. Teknik Analisis Data ... 25

(10)

x

5. Teknik Pengecekan Keabsahan Data ... 26

G. Sistematika Pembahasan ... 27

BAB II MEKANISME PASAR DAN PENETAPAN HARGA DALAM ISLAM ... 30

A. Mekanisme Pasar ... 30

B. Penetapan Harga ... 34

C. Mekanisme Pasar di Indonesia ... 40

BAB III PEMIKIRAN IBNU KHALDUN DAN AL-GHAZALI MENGENAI MEKANISME PASAR DAN PENETAPAN HARGA ... 43

A. Pemikiran Ibnu Khaldun Mengenai Mekanisme Pasar dan Penetapan Harga Dalam Islam ... 43

B. Pemikiran Al-Ghazali Mengenai Mekanisme Pasar dan Penetapan Harga Dalam Islam ... 52

BAB IV ANALISIS KOMPARATIF PEMIKIRAN IBNU KHALDUN DAN AL-GHAZALI TENTANG MEKANISME PASAR DAN PENETAPAN HARGA SERTA RELEVANSINYA DI INDONESIA ... 63

A. Analisis Pemikiran Ibnu Khaldun Dan Al-Ghazali Tentang Mekanisme Pasar Dan Penetapan Harga ... 63

1. Analisis Pemikiran Ibnu Khaldun Tentang Mekanisme Pasar Dan Penetapan Harga ... 63

2. Analisis Pemikiran Al-Ghazali Tentang Mekanisme Pasar Dan Penetapan Harga ... 69 B. Analisis Komparatif Mengenai Pemikiran Ibnu Khaldun dan

(11)

xi

Al-Ghazali Tentang Mekanisme Pasar dan Penetapan Harga ... 73

1. Persamaan pemikiran Ibnu khaldun dan Al-Ghazali tentang mekanisme pasar dan penetapan harga ... 73

2. Perbedaan pemikiran Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali tentang mekanisme pasar dan penetapan harga ... 75

C. Relevansi pemikiran Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali terhadap mekanisme pasar dan penetapan harga di Indonesia ... 78

BAB V PENUTUP ... 81

A. Kesimpulan ... 81

B. Saran ... 82

DAFTAR PUSTAKA ... 84

LAMPIRAN ... 91

A. Cek Plagiasi ... 91

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 95

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Judul Halaman

2.1 Kurva permintaan dalam persaingan sempurna

30 2.2 Kurva permintaan dalam persaingan tidak

sempurna

30

3.1 Kurva penawaran 43

3.2 Kurva permintaan 43

4.1 Kurva penawaran oleh Al-Ghazali 64

4.2 Kurva permintaan oleh Al-Ghazali 65

(13)

xiii

PEDOMAN TRANSLITERASI

1. Penulisan transliterasi Arab-Latin dalam penelitian ini menggunakna pedoman transliterasi berdasarkan buku pedoman penulisan skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Ponorogo 2023 sebagai berikut:

Arab Ind. Arab Ind Arab Ind Arab Ind

ء ` د D ض Ḍ ك k

ب b ذ Dh ط T ل l

ت t ر R ظ Ẓ م m

ث th ز Z ع ‘ ن n

ج j س S غ Gh ه h

ح ḥ} ش Sh ف F و w

خ kh ص Ṣ ق Q ي y

2. Untuk menunjukkan bunyi hidup panjang caranya dengan menuliskan coretan horizontal diatas huruf ā, dan ū.

3. Bunyi hidup dobel (diftong) Arab ditansliterasikan dengan menggabung dua huruf “ay” dan “aw”.

Contoh: Bayna, ‘layhim, qawl, mawdū’ah

4. Kata yang ditransliterasikan dan kata-kata dalam bahasa asing yang belum terserap menjadi bahasa baku Indonesia harus dicetak miring.

(14)

xiv

5. Bunyi huruf hidup akhir sebuah kata tidak dinyatakan dalam transliterasi.

Transliterasi hanya berlaku pada huruf konsonan akhir.

Contoh:

Ibn Taymiyah bukan Ibnu Taymiyah, Inna al-din ‘inda Allāh al-Islām bukan Inna al-dina ‘inda Allāhi al-Islāmu. ... Fahuwa wājib bukan Fahuwa Wajibu dan bukan pula Fahuwa Wājibun

6. Kata yang berakhiran dengan tā marbutah dan berkedudukan sebagai sifat (na’at) dan idāfah ditranliterasikan dengan “ah”. Sedangkan mudāf ditransliterasikan dengan “at”

Contoh:

a. Na’at dan Mudāfilayh: Sunnah sayyi’ah, al-maktabah al-misriyah.

b. Mudāf: matba’at al-‘āmmah.

7. Kata yang berakhiran dengan ya’ mushaddadah (ya’ bertashdid) ditransliterasikan dengan i. Jika i diikuti dengan ta’ marbutah maka transliterasinya adayah iyah. Jika ya’ bertshdid berada ditengah kata ditransliterasikan dengan yy.

Contoh:

a. al-Ghāzali, al-Nawāwi b. Ibn Taymiyah, Al-Jawziyah c. sayyid, mu’ayyid, muqayyid

(15)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Islam merupakan agama universal yang mengatur seluruh dimensi kehidupan umatnya, biak di dunia maupun akhirat. Dalam kaidah muamalah, Islam mengatur segala bentuk perilaku umatnya dalam berhubungan dengan sesama untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia, termasuk kaidah yang mengatur mengenai pasar dan mekanismenya. 1 Masalah perekonomian ini sudah ada peraturannya semenjak Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. segala bentuk aktivitas mikro hingga makro telah banyak didiskusikan oleh tokoh-tokoh ekonom muslim yang mereka torehkan untuk selanjutnya dapat kita baca dan telaah bersama. Rujukan utama dari pemikiran tokoh-tokoh ekonomi Islam tersebut adalah bersumber dari Al- Qur’an dan Al-Hadits.2 Pemikiran-pemikiran para cendekiawan muslim pada dasarnya berusaha untuk mengembangkan konsep-konsep Islam sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.3

Ilmu ekonomi Islam adalah salah satu ilmu yang mana terus mengalami pertumbuhan dan menjadi pergerakan dalam perekonomian Islam sejak awal peradaban manusia hingga saat ini. Pada dasarnya, praktik

1 Alang Agung Zulkarnain, “Mekanisme Pasar Dalam Persepsi Ekonomi Islam,” Journal of Institution And Sharia Finance, Volume 1, Nomor 2 (2018), 33.

2 Rahmad Suryawan, “Pemikiran Ekonomi Imam Al-Ghozali Tentang Mekanisme Pasar Islami,” Skripsi (Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2013), 3–4.

3 Fitra Rizal, “Relevansi Pemikiran Ekonomi Islam Abu Ubaid Dengan Perekonomian Modern.,” ACTIVA: Jurnal Ekonomi Syaria, Volume 1, Nomor 1 (2018), 110.

(16)

ekonomi ini dekat dengan keseharian masyarakat maka sudah pasti tidak asing bagi kita untuk mengenalnya. Salah satu bidang kajian ekonomi Islam yang menarik untuk dibahas adalah mengenai pasar atau mekanisme pasar.4 Dalam konteks ekonomi Islam, pasar dalam arti sempit adalah tempat bertemu antara penjual dan pembeli atau bertemunya proses permintaan dan penawaran. Definisi seperti ini lebih ke arah pasar dalam arti tradisional.

Dalam arti luas, pasar adalah proses transaksi antara permintaan dan penawaran yang melibatkan banyak pihak. Definisi yang kedua ini lebih condong ke arah pasar dalam arti modern dan yang ditransaksikan pun tidak selalu murni berupa barang dan jasa, seperti transaksi jual beli utang, saham, dan hak membeli atau menjual (option) dan lain-lain.5 Didalam pasar ini tentunya banyak hal yang terjadi seperti proses tawar-menawar, jual-beli, dan lain sebagainya.

Dalam ekonomi Islam, elemen seperti pasar, negara, dan individu berada dalam suatu keseimbangan (iqtishad), tidak boleh ada sub-ordinat, sehingga salah satu menjadi dominan diantara yang lain. Pasar dalam islam juga dijamin akan kebebasannya, yaitu bebas dalam menentukan langkah- langkah produksi, harga, dan tidak boleh adanya gangguan yang mengakibatkan terganggunya keseimbangan pasar. Pada praktiknya sulit menemukan pasar yang berjalan sendiri secara adil, hal ini dikarenakan adanya distorsi pasar yang mana mengakibatkan kerugian pada berbagai

4 Ulfa J Farida, “Telaah Kritis Pemikiran Ekonomi Islam Terhadap Mekanisme Pasar Dalam Konteks Ekonomi Islam Kekinian,” La-Riba: Jurnal Ekonomi Islam VI, Volume 1, Nomor 2 (2012): 257.

5 Akhmad Affandi Mahfudz, Konsep Dasar Pasar Dalam Islam, 1 ed. (Tangerang Selatan:

Perpustakaan Digital Universitas Terbuka, 2021), 1.4.

(17)

pihak.6 Islam menempatkan pasar pada kedudukan yang penting dalam perekonomian dan juga sangat memperhatikan konsep harga yang adil dan mekanisme pasar yang sempurna.

Islam memberikan jaminan pasar bebas dimana para penjual dan pembeli bersaing satu sama lain dengan arus informasi yang berjalan lancar dalam kerangka keadilan, yakni tidak ada yang zalim atau dizalimi. Pada kenyataannya, situasi yang ideal tersebut tidak selalu tercapai, hal ini dikarenakan sering kali terjadi gangguan atau interupsi pada mekanisme pasar yang ideal. Gangguan yang dimaksud ini biasa disebut dengan distorsi pasar (market distortion).7

Al-Ghazali menjelaskan bahwa pasar merupakan salah satu tempat dimana manusia berusaha padanya untuk penghidupan. Adapun dalam pemikiran Ibnu Khaldun dikatakan bahwa pasar adalah sebuah mekanisme pertukaran produk baik berupa barang maupun jasa yang alamiah dan telah berlangsung sejak awal peradapan manusia.8 Pasar tempat bertemunya orang- orang yang menawarkan barang atau jasanya dan orang-orang yang memerlukan barang atau jasa tersebut. Dalam alurnya akan terjadi proses tawar menawar antara penjual dan pembeli guna mencapai kesepakatan harga atas barang atau jasa, itulah yang dinamakan mekanisme pasar.9 Membahas

6 Misdi Rianto, “Pemikiran Al-Ghazali Tentang Mekanisme Pasar Dalam Islam,” Skripsi, (Riau, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, 2010), 3.

7 Juliati Nasution dan Yeni Samri, “Mekanisme Pasar Dalam Perspektif Ekonomi Islam,” At- Tawassuth: Jurnal Ekonomi Islam 3, Volume 1, Nomor 1 (2018), 9.

8 Winda Ika Affriyanti, “Pemikiran Ibnu Khaldun Tentang Mekanisme Pasar Dalam Kitab Al-Muqaddimah,” Skripsi (Bengkulu: IAIN Begkulu, 2021), 55.

9 Abdul Qoyum dkk., Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, 1 ed. (Jakarta: Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah - Bank Indonesia, 2021), 376.

(18)

mengenai mekanisme pasar, pada dasarnya sedang membicarakan tentang suatu proses teknikal terbentuknya suatu harga yang sama di pasar antara produsen yang melakukan produksi barang atau jasa dengan konsumen yang membutuhkan barang atau jasa tersebut.10

Konsep mekanisme pasar dalam Islam dapat dirujuk kepada hadits Rasulullah SAW. sebagimana disampaikan oleh Anas RA, sehubungan dengan adanya kenaikan harga-harga barang di Kota Madinah. Dalam hadits ini dapat kita ketahui dengan pasti bahwa Islam jauh lebih dahulu mengenal konsep mekanisme pasar daripada Adam Smith.11 Dalam hadits tersebut dikatakan bahwa harga-harga pada zaman Rasulullah SAW. mengalami kenaikan, dan ketika masyarakat saat itu mengharapkan agar Rasulullah SAW.

menentukan harga, akan tetapi Rasulullah menolaknya. Alasan penolakan hal tersebut karena menurutnya, Allah-lah yang menentukan harga dan mengatur segala rezeki hambanya.

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwasanya Rasulullah SAW. tidak ikut campur tangan dalam penentuan harga di pasar dan menyerahkan sepenuhnya terkait ketentuan harga tersebut kepada mekanisme pasar.

Menurut pakar ekonomi kontemporer, teori inilah yang kemudian diadopsi oleh Bapak Ekonomi Barat, Adam Smith dengan nama teori invisible hands.

Menurut teori ini, pasar dan segala hal yang berkaitan dengan pasar diatur oleh tangan-tangan tidak kelihatan (invisible hands). Oleh karena itu, harga

10 Dominic Salvatore, Teori Mikroekonomi, Terjemahan oleh Rudy Sitompul (Jakarta:

Penerbit Erlangga, 1991), 16.

11 Ibid., 3.

(19)

yang terbentuk di pasar dapat sesuai dengan kekuatan permintaan dan penawaran yang ada di pasar tersebut.

Jika melihat dari paparan mengenai mekanisme pasar diatas, seharusnya pasar yang sehat itu ditunjukkan dengan adanya persaingan yang sehat antar penjual dan juga tanpa adanya pihak yang zalim atau terzalimi.

Pihak penjual harus menjual barang yang benar-benar layak jual dan juga melalukan proses jual-beli yang adil terhadap seluruh pelanggannya.

Teruntuk pihak pembeli, sudah seharusnya memperoleh pelayanan dan juga produk yang layak serta sesuai dengan harga yang dikeluarkan. Hal-hal tersebut tentunya dapat terjadi jika barang yang tersedia dipasar itu banyak atau melimpah, sehingga dapat memenuhi segala aspek kebutuhan dari pembeli dan juga nantinya dapat mempermudah penjual untuk melakukan proses penawaran kepada pembeli. Tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang stok suatu barang atau beberapa barang di pasaran cukup sulit ditemukan.

Selain karena minimnya stok, faktor lain yang dapat mempengaruhi sedikitnya barang di pasaran adalah adanya penimbunan yang dilakukan oknum-oknum tertentu.

Kasus penimbunan yang belum lama ini terjadi diantaranya yaitu mengenai minyak goreng. Seperti yang dikutip dari salah satu halaman berita, ada sekitar 7.000 kardus atau sekitar 75,6 ton minyak goreng yang telah ditemukan di gudang salah satu distributor di Sumatra Utara.12 Selain itu juga ada kasus penimbunan lain di tempat yang berbeda, dimana terdapat

12 Nikson Sinaga, “Satgas Pangan Sumut Temukan Dugaan Penimbunan 75,6 Ton Minyakita,” dalam https://www.kompas.id/baca/nusantara/2023/02/14/satgas-pangan-sumut- temukan-dugaan-penimbunan-756-ton-minyakita, (Diakses pada tanggal 22 Mei 2023, jam 21.33).

(20)

penimbunan BBM bersubsidi yang dilakukan oleh seorang oknum.13 Sudah jelas bahwa penimbunan merupakan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 40 Undang-Undang RI No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Dari kedua kasus inilah mekanisme pasar dalam negeri mengalami gangguan.

Akibat berkurangnya stok, maka proses penawaran yang diberikan oleh penjual akan terganggu, semakin sedikit stok barang maka harga akan semakin tinggi. Akan tetapi, kejadian seperti ini terjadi karena adanya beberapa oknum yang melakukan distorsi terhadap ketersediaan barang atau jasa di pasaran, padahal seharusnya hal tersebut tidak boleh dilakukan. Akibat yang ditimbulkan dari kesalahan yang dilakukan beberapa orang inilah mekanisme pasar yang sehat itu dapat terganggu.

Mengulas lebih dalam mengenai mekanisme pasar, tentunya pembahasan tidak terlepas dari harga, karena dari mekanisme pasar inilah harga terbentuk. Dalam konsep ekonomi Islam, cara pengendalian suatu harga ditentukan oleh penyebab-penyebab yang melatarbelakanginya. Apabila disebabkan oleh perubahan pada genuine demand dan genuine supply, maka mekanisme pengendalian yang dilakukan yaitu melalui market intervention.

Apabila penyebabnya adalah distorsi terhadap genuine demand dan genuine supply, maka mekanisme pengendalian yang harus dilakukan yaitu melalui

13 Fristin Intan Sulistyowati, “Penimbunan BBM Bersubsidi di Karanganyar Terbongkar,

Ketahuan Saat Sebuah Mobil Terbakar di SPBU,” dalam

https://regional.kompas.com/read/2023/05/03/124906678/penimbunan-bbm-bersubsidi-di- karanganyar-terbongkar-ketahuan-saat-sebuah , (diakses pada tanggal 22 Mei 2023, jam 11.41),.

(21)

penghilangan distorsi termasuk penentuan price intervention untuk mengembalikan harga pada keadaan sebelum distorsi terjadi.14

Menurut Ibnu Khaldun, harga merupakan hasil dari hukum permintaan dan penawaran. Adapun pengecualian satu-satunya dari hukum ini adalah terletak pada harga emas dan perak, yang mana ini merupakan standar moneter.15 Hal ini memiliki kemiripan dengan pemikiran Al-Ghazali mengenai harga yang berlaku seperti yang ditentukan oleh praktik-praktik pasar.16 Dalam menentukan harga pada suatu barang, maka akan dipengaruhi oleh berkembang atau tidaknya populasi dalam suatu daerah tersebut. Dengan perumpamaan, apabila populasi penduduk terjadi peningkatan maka dengan sendirinya pengadaan atau produksi barang-barang kebutuhan pokok dan lainnya akan menjadi prioritas atau terjadi peningkatan dalam konsumsinya, sehingga hal ini menyebabkan terjadinya penurunan harga terhadap barang tersebut. Untuk barang-barang mewah, akan mengalami peningkatan pada permintaan, mengikuti perkembangan kota dan berubahnya gaya hidup.

Akibatnya, harga dari barang mewah tersebut akan naik, mengikuti peningkatan pada gaya hidup yang mengakibatkan permintaan barang mewah ini meningkat.17 Ibnu Khaldun menekankan bahwa terjadinya kenaikan

14 Hendra Pertaminawati, “Analisis Pemikiran Ibnu Khaldun Tentang Mekanisme Pasar Dan Penetapan Harga Dalam Perekonomian Islam,” Kordinat: Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam XV, Volume 1, Nomor 2 (2016), 97.

15 Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, 3 ed. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), 402.

16 Ibid., 325.

17 Ibid., 196.

(22)

penawaran atau penurunan permintaan akan menyebakan kenaikan harga, hal demikian juga berlaku sebaliknya.18

Mengenai penetapan harga, tentunya juga dipengaruhi oleh mekanisme pasar yang terbentuk. Jika stok barang di pasar melimpah, maka penjual akan menawarkan dengan harga yang rendah. Begitupun sebaliknya, jika stok barang sedikit, maka penjual akan menawarkan harga jual yang tinggi. Hal ini selaras dengan hukum permintaan dan penawaran. Oleh karena itu, terjaminnya stok barang di pasaran akan menentukan penetapan harga yang terbentuk. Ada kasus yang mana terus terjadi secara berulang di Indonesia, yaitu seperti harga barang-barang pokok yang cenderung naik di saat natal dan tahun baru serta memasuki ramadhan atau hari raya. Jika stok barang mencukupi di pasaran, maka kestabilan harga yang terbentuk di pasar dapat terwujud dengan baik.

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya sudah ada penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya, akan tetapi ada perbedaan dengan yang peneliti lakukan saat ini, perbedaan itu terdapat pada variabel yang diteliti.

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti saat ini sama-sama menggunakan pemikiran Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali, jika penelitian terdahulu hanya mengkomparasikan mengenai pemikiran mengenai mekanisme pasar, maka yang dilakukan peneliti saat ini adalah mengkomparasikan pemikiran kedua tokoh mengenai mekanisme pasar dan penetapan harga. Penelitian terdahulu menggunakan pendekatan filosofi, sedangkan penelitian saat ini

18 Nur Chamid, Jejak Langkah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2017), 251.

(23)

menggunakan pendekatan kajian tokoh. Alasanya pemilihan pendekatan ini yaitu diharapkan dengan mengkaji secara mendalam mengenai pemikiran kedua tokoh dapat menghasilkan pemahaman yang lebih maksimal.

Dari pemikiran Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali ini tentunya mereka mempunyai karakteristik pemikiran tersendiri. Pemikiran kedua tokoh tersebut megenai mekanisme pasar dan penetapan harga tentunya memiliki suatu perbedaan yang mana hal ini menarik untuk dilakukan suatu pembahasan ataupun dikaji secara lebih mendalam. Adapun alasan penulis memilih Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali adalah yang pertama Ibnu Khaldun, dapat kita ketahui dari berbagai pernyataan-pernyataan maupun teori-teori yang tertulis di dalamn bukunya yang terkenal “Muqaddimah”, buku ini menyajikan berbagai macam permasalahan ekonomi dengan cara melakukan pengkajian sebab-akibatnya secara empiris, selanjutnya melakukan perbandingan dan merangkum hukum-hukum yang menjelaskan mengenai fenomena tentang ekonomi tersebut.19 Dari pemikiran Ibnu Khaldun inilah kemudian lahir pemikiran-pemikiran ekonomi dimasa setelah wafatnya.

Kemudian alasan mengapa memilih Al-Ghazali adalah karena memiliki pemikiran yang mana sangat luas dalam berbagai bidang kehidupan ini, salah satunya yaitu mengenai ekonomi.20 Bahasanya mengenai ekonomi ini dapat dipelajari melalui karyanya yang fenomenal yaitu “Ihya’ Ulumuddin”, didalam buku ini membahas secara luas mengenai pertukaran dan evolusi

19 Kiki Zulfa, “Studi Komparasi Pemikiran Ibnu Khaldun dan Ibnu Taimiyah Tentang Mekanisme Pasar dan Uang,” Skripsi, (Semarang: Universitas Islam Negeri Walisongo, 2021), 22.

20 Ridha Annisa, “Studi Komparatif Pemikiran Ekonomi Al-Gazali dan Ibnu Taimiyah tentang Mekanisme Pasar. Skripsi, Ekonomi dan Bisnis Islam” (Banjarmasin, Universitas Islam Negeri Antasari, 2020), 6.

(24)

pasar (mekanisme pasar, produksi, barter dan evolusi uang serta peranan negara dan keuangan publik).21 Pemikiran Al-Ghazali ini tidak hanya berlaku pada masanya tetapi juga dalam konteks tertentu mampu menembus dan memberikan jawaban atas berbagaimacam persoalan kontemporer saat ini.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis memiliki ketertarikan untuk melakukan penelitian lebih mendalam mengenai pemikiran kedua tokoh yakni Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali mengenai mekanisme pasar dan penetapan harga yang selanjutnya akan dilakukan perbandingan dari pemikiran tersebut. Mengenai apa saja persamaan dan perbedaan dari kedua pemikiran tersebut. Oleh karena itu penulis akan merealisasikan penelitian ini dengan judul “Studi Komparasi Pemikiran Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali mengenai Mekanisme Pasar dan Penetapan Harga Dalam Islam”.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelititan sebagai berikut:

1. Bagaimana pemikiran Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali tentang mekanisme pasar dan penetapan harga?

2. Bagaimana persamaan dan perbedaan pemikiran Ibnu Khaldun dan Al- Ghazali tentang mekanisme pasar dan penetapan harga?

3. Bagaimana relevansi pemikiran Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali pada kondisi di Indonesia?

21 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi, Ekonomi Islam (Yogyakarta: Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, 2013), 110.

(25)

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah diatas, tujuan dari penelitian ini tidak lain yaitu:

1. Untuk mengetahui pemikiran Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali tentang mekanisme pasar dan penetapan harga.

2. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan pemikiran Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali tentang mekanisme pasar dan penetapan harga.

3. Untuk mengetahui bagaimana relevansi pemikiran Ibnu kHaldun dan Al- Ghazali di Indonesia.

D. Manfaat Penelitian 1. Kegunaan Teoritik

a. Manfaat dari hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan ilmiah bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Selain itu, penelitian ini juga dapat digunakan untuk mengetahui dan memahami secara mendalam mengenai persamaan dan perbedaan antara pemikiran Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali menegenai mekanisme pasar dan penetapan harga dalam Islam.

b. Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi atau perbandingan untuk penelitian-penelitian yang akan dilakukan selanjutnya.

2. Kegunaan Praktis

a. Bagi penulis, diharapkan mampu memberikan suatu pemahaman dan kesiapan peneliti dalam dunia kerja kedepannya dan mampu

(26)

memperluas pengetahuan terutama yang berkaitan dengan pemahaman akan mekanisme pasar dan penetapan harga dalam Islam.

b. Bagi pihak luar, sebagai sumbangan pemikiran terkain pemahaman akan mekanisme pasar dan penetapan harga dalam Islam terutama yang menyangkut pemikiran dari Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali.

E. Studi Penelitian Terdahulu

Sejauh apa yang diketahui oleh penulis, tidak dapat dipungkiri bahwasanya sudah ada beberapa karya tulis yang telah melakukan pembahasan mengenai mekanisme pasar dan penetapa harga. Namun secara khusus belum ada yang melakukan studi komparasi pemikiran dari dua tokoh yang akan diteliti oleh penulis, yakni Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali. Dengan demikian penulis memandang perlu melakukan penelitian dalam bentuk studi komparasi mengenai hal tersebut.

Pertama, yaitu jurnal yang membahas mengenai pasar dan pembentukan harga berdasarkan beberapa pemikiran tokoh, yakni menurut Al-Ghazali, Abu Yusuf, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Khaldun. Pemikiran- pemikiran dari keempat tokoh tersebut tentunya memiliki perbedaan- perbedaan, yang selanjutnya dikaji oleh peneliti. Pada bagian akhir dijelaskan kesimpulan dari penelitian ini, pertama mengenai keseimbangan ekonomi dimana ini terjadi ketika jumlah penawaran sama besarnya dengan permintaan. Menurut Al-Ghazali mekanisme pasar itu berdasarkan pada permintaan dan penawaran, sedangkan menurut Abu Yusuf barang yang persediaannya sedikit tidak selalu diikuti oleh kenaikan harga dan barang

(27)

yang tersedia banyak belum tentu menyebabkan harga barang tersebut menjadi murah. Berkaitan dengan harga, menurut Abu Yusuf pengaruh harga terhadap jumlah permintaan suatu barang adalah negatif, apabila terjadi kelangkaan barang maka harga cenderung akan tinggi dan juga sebaliknya.22

Kedua, yaitu jurnal yang didalam penelitian dan pembahasannya menggunakan teori dari Ibnu Taimiyah dan menurut fiqh muamalah, adapun jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Ibnu Taimiyah mendefinisikan harga yang adil sebagai harga di mana individu menjual komoditas mereka dan yang biasanya diakui sebanding dengan barang yang ditawarkan atau barang serupa di lokasi dan periode tertentu. Menurut fikih muamalah, tidak boleh ada intervensi pemerintah dalam fluktuasi harga alami pasar karena hal itu dapat membatasi kebebasan dan merugikan produsen atau pedagang. Temuan penelitian menunjukkan bahwa berbagai faktor, termasuk kepadatan penduduk dan penawaran dan permintaan, dapat mempengaruhi harga pasar. Pengaruh utama adalah penawaran dan permintaan. Harga umum yang digunakan di pasar tradisional adalah harga yang dikenakan. Namun mayoritas pedagang masih menetapkan harga sendiri dengan menggunakan sistem harga jual dengan memperhitungkan modal dan keuntungan. Biasanya para pedagang ini menjual kebutuhan rumah tangga seperti perabot dapur dan kebutuhan pelengkap lainnya.23

22 Anisah Luthpi Adawiyah dkk., “Konsep Keseimbangan Ekonomi terhadap Mekanisme Pasar dan Penetapan Harga dalam Perspektif Islam,” Jurnal Pendidikan dan Konseling Volume 4, Nomor 6 (2022), 74.

23 Ade Irma Dwiratnaningrum, “Mekanisme Penetapan Harga Dalam Pandangan Islam (Studi Kasus Pada Pedagang Kaki Lima di Pasar Tradisional Ranomeeto),” ROBUS : Research Business and Economics Studies, Volume 3, Nomor 1 (2022), 77.

(28)

Ketiga yaitu skripsi membahas mengenai seperti apa konsep pasar islami menurut Imam Al-Ghazali. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research). Sumber data yang digunakan peneliti berasal dari dari primer yaitu Kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al- Ghazali dan data sekunder berupa dokumen, jurnal ataupun buku yang berkaitan dengan pemikiran dari Imam Al-Ghazali mengenai konsep pasar Islami. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa mekanisme pasar menurut Al-Ghazali adalah pasar berevolusi sebagai bagian yang alami atau hukum alam, yakni sebuah ekspresi berbagai hasrat yang timbul dari diri sendiri untuk saling memuaskan kebutuhan ekonomi dan juga proses timbulnya pasar ini dipengaruhi oleh kekuatan permintaan dan penawaran.

Pertemuan antara permintaan dan penawaran ini harus terjadi rela sama rela, dan tidak ada pihak yang merasa ditipu ataupun dirugikan.24

Keempat yaitu skripsi membahas atau meneliti secara mendalam mengenai konsep pemikiran Ibnu Khaldun mengnai mekanisme pasar yang tertuang dalam karyanya yang terkenal, yaitu Al-Muqaddimah. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan data kualitatif. Peneliti menggunakan sumber data sekunder yang masih berkaitan dengan topik penelitian yang dipilih. Ibnu Khaldun mengklaim bahwa hasil dari penelitian ini adalah sebuah sistem yang menetapkan bagaimana harga terbentuk. Proses ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti penawaran dan permintaan, distribusi, kebijakan

24 Mhd Asron, “Pemikiran Ekonomi Islam Imam Al-Ghazali Tentang Konsep Pasar Islami (Sebuah Tinjauan Ekonomi Syariah),” Skripsi (Pekanbaru: Universitas Islam Riau, 2021), 89.

(29)

pemerintah, tenaga kerja, uang, pajak, dan keamanan. Karena Indonesia sudah menganut era pasar bebas di zaman modern, refleksi Ibnu Khaldun tentang mekanisme pasar ekonomi modern tidak sepenuhnya akurat.25

Kelima yaitu skripsi dilakukan oleh peneliti guna mengkaji dan membahas secara mendalam mengenai pemikiran Ibnu Khaldun dan Ibnu Taimiyah mengenai mekanisme pasar dan uang. Dari pemahaman mengenai pemikiran kedua tokoh, juga dilakukan penelitian terkait kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pemikiran. Penelitian ini merupakan penelitian library research. Muqaddimah karya Ibn Khaldun dan Majmu Al- Fatwa karya Ibn Taymiyah menjadi sumber data primer. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa teori pasar Ibnu Khaldun menyatakan bahwa ketika sebuah kota tumbuh dan penduduknya meningkat, maka semakin banyak kebutuhan pokok yang tersedia, yang dapat menurunkan harga. Ibnu Taimiyyah percaya bahwa pasar beroperasi di bawah premis bahwa tidak semua kenaikan dan penurunan harga adalah hasil dari ketidakadilan manusia.

Menurut Ibnu Khaldun, uang berfungsi sebagai alat tukar, cara untuk mengukur harga, dan ukuran nilai ekonomi. Kedua, moda transportasi seperti Deviezen, dan ketiga, menjadi sarana bagi masyarakat untuk menyimpan uang di bank. Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa uang berfungsi sebagai ukuran nilai dan alat tukar. Manfaat teori mekanisme pasar Ibnu Khaldun adalah menjelaskan bagaimana harga terbentuk secara alamiah oleh mekanisme pasar, yang sejalan dengan teori modern. Cacatnya adalah tidak

25 Winda Ika Afrianti. A, “Pemikiran Ibnu Khaldun tentang Mekanisme Pasar Dalam Kitab Al-Muqaddimah,” Skripsi (Bengkulu: IAIN Bengkulu, 2021), 97.

(30)

memberikan proposal untuk program pemerintah yang mengendalikan harga.

Pendekatan Ibnu Taimiyyah untuk memahami mekanika pasar memiliki manfaat berfokus pada pendapat pelanggan bukan hanya sudut pandang satu sisi. Kerugiannya adalah bahwa definisi ihtikhar Ibnu Taimiyyah membatasinya pada makanan pokok.26

Keenam yaitu skripsi membahas mengenai pemikiran ekonomi Islam dari Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah. Kesimpulan penelitian adalah bahwa uang berfungsi sebagai alat tukar dalam pandangan Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah. Perbedaannya adalah bahwa meskipun Ibnu Taimiyah percaya bahwa pemerintah harus menghasilkan uang berdasarkan nilai wajar dan transaksi publik, Al-Ghazali percaya bahwa penipuan adalah penyebab jatuhnya nilai mata uang. Dalam hal harga, perbandingan antara kedua angka ini adalah bahwa tarif yang berlaku ditentukan oleh praktik pasar yang berjalan bebas. Bedanya, menurut Al-Ghazali, menurunkan harga akan meningkatkan penjualan sedangkan Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa kenaikan harga diakibatkan oleh berkurangnya jumlah barang yang tersedia atau bertambahnya jumlah penduduk. Terakhir, dalam hal pasar, kedua tokoh ini berpikir serupa bahwa kekuatan penawaran dan permintaan merupakan inti dari kemunculan pasar. Al-Ghazali mengklaim bahwa pasar berkembang sebagai akibat dari hukum alam, sedangkan Ibnu Taimiyyah mengklaim

26 Kiki Zulfa, “Studi Komparasi Pemikiran Ibnu Khaldun dan Ibnu Taimiyah Tentang Mekanisme Pasar dan Uang,” Skripsi (Semarang: Universitas Islam Negeri Walisongo, 2021), 88.

(31)

bahwa di pasar bebas, harga dipengaruhi dan diperhitungkan oleh kekuatan penawaran dan permintaan.27

Ketujuh, yaitu jurnal yang membahas mengenai konsep penetapan harga dalam perspektif islam. Harga suatu komoditas ditentukan oleh penawaran dan permintaan, dan fluktuasi harga saat ini juga dipengaruhi oleh perubahan penawaran dan permintaan. Dengan demikian, dalam keadaan normal, pemerintah tidak memiliki kekuatan untuk mengintervensi harga pasar. Kecuali ada keadaan darurat yang mengharuskan keterlibatan penguasa dalam menetapkan harga, harus diyakini bahwa paham Islam tidak memungkinkan adanya intervensi dari pihak manapun. Peneliti memasukkan pemikiran tokoh-tokoh sejarah dari zaman klasik, antara lain Abu Yusuf, Al- Ghazali, Ibnu Taymiyah, dan Ibnu Khaldun, dalam penelitiannya. Menurut temuan studi tersebut, meskipun komponen bauran pemasaran lainnya menghasilkan biaya, harga merupakan salah satu komponen yang menciptakan pendapatan. Imam Hambali dan Iman Syafi'i menentang penetapan harga karena dianggap akan menimbulkan masalah bagi masyarakat, namun menurut Imam Maliki dan Imam Hanafi komoditas sekunder bisa memiliki harga. Menurut Maqashid al-Syariah, tujuan harga dalam Islam adalah untuk meraup keuntungan dan mencegah kerugian antarpribadi.28

27 Een Mardiani, “Analisis Perbandingan Pemikiran Ekonomi Islam Tentang Uang, Harga dan Pasar (Telaah dari Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah),” Skripsi (Bengkulu: IAIN Bengkulu, 2021), 93.

28 Supriadi Muslimin, Zainab, dan Wardah Jafar, “Konsep Penetapan Harga Dalam Perspektif Islam,” Al-Azhar Journal of Islamic Economics, Volume 2, Nomor 1 (2020), 102-114.

(32)

Kedelapan, yaitu jurnal yang dalam hasil penelitian dari jurnal ini adalah konsep pemikiran tentang mekanisme pasar khususnya pada faktor- faktor yang mempengaruhinya, Al-Ghazali berpendapat bahwa hukum penawaran dan permintaan merupakan penggerak utama harga dalam mekanisme pasar. Al-Ghazali menjelaskan bahwa peran pemerintah adalah mengatur pasar dalam rangka memberikan keadilan pasar bebas. Apabila konsumen mempunyai uang lebih dan setelah kebutuhan pokoknya terpenuhi, maka diperlukan kebutuhan yang membuat mereka senang dan nyaman karena dapat meningkatkan kualitas ibadah dan memperlancar pelaksanaannya. Penetapan harga menurut Al-Ghazali mencapai maslahah hajiyyah, yaitu segala sesuatu yang dibuat nyaman setelah semua kebutuhan terpenuhi.29

Kesembilan yaitu skripsi yang membahas mengenai bagaimana pemikiran Al-Ghazali tentang aktualisasi dari teori mengenai terbentuknya harga yang terjadi di Pasar Sentral Kapubaten Pinrang. Jenis penelitian yang diambil adalah penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Dalam menunjang dukungan data untuk melakukan penelitian, peneliti memperoleh data tambahan melalui observasi dan wawancara. Kemudian kesimpulan akan dicapai dengan menggunakan metodologi ini. Ketika membicarakan harga, Imam Al-Ghazali selalu menyamakannya dengan keuntungan dan menyatakan bahwa keuntungan komersial yang akan diwujudkan seorang pedagang adalah keuntungan dunia

29 Indra Hidayatullah, “Pemikiran Al-Ghazali Tentang Mekanisme Pasar dan Penetapan Harga,” JES: Jurnal Ekonomi Syariah , Volume 5, Nomor 1 (2020), 177-185.

(33)

dan akhirat. Selain itu, hal ini menunjukkan bahwa ide Imam Al-Ghazali tentang harga di pasar sentral Kabupaten Pinrang secara umum sudah sesuai, namun belum sepenuhnya diaktualisasikan ketika membahas etika ekonomi Islam.30

Kesepuluh, yaitu jurnal yang membahas atau menganalisis mengenai mekanisme pasar menurut pandangan Islam dan pandangan konvensional, adapun pemikiran yang dibahas pada jurnal ini adalah pemikiran dari Abu Yusuf, Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Khaldun, sedangkan tokoh konvensinal yang dibahas adalah pemikiran dari Adam Smith. Dikatakan bahwa dalam konsep ekonomi Islam penentuan harga dilakukan oleh kekuatan-kekuatan pasar yaitu kekuatan permintaan dan penawaran. Jika terjadi suatu ketidaksempurnaan dalam mekanisme pasar, dikatakan bahwa solusi Islam mengenai hal ini yaitu dengan melarang ikhtikar atau secara sengaja melakukan penahanan atau menimbun barang, terutama disaat terjadinya kelangkaan secara masif dengan tujuan untuk menaikkan harga barang tersebut suatu hari nanti. Regulasi harga itu dapat dilakukan jika pasar tidak bekerja secara sempurna, namun jika pasar sudah bekerja secara sempurna distorsi pasar tidak perlu dilakukan, karena hal ini akan mengakibatkan terganggunya mekanisme pasar itu sendiri.31

Kesebelas, yaitu jurnal yang dalam penelitiannya menganalisa mengenai mekanisme pasar berdasarkan pemikiran Abu Yusuf dan Ibnu

30 Rudy, “Aktualisasi Pemikiran Imam Al-Ghazali Tentang Harga di Pasar Sentral Kabupaten Pinrang,” Skripsi (Pare-pare: IAIN Pare-Pare, 2019), 103.

31 Tri Wahyuni, “Permasalahan Dalam Penerapan Mekanisme Pasar Perspektif Islam,”

Economica Sharia, Volume 5, Nomor 1 (2019), 88.

(34)

Khaldun, disebutkan bahwa dalam sistem ekonomi Islam mekanisme pasar dibangun atas dasar kebebasan, yaitu kebebasan individu untuk bertransaksi komoditas dan jasa. Menurut Abu Yusuf, kemampuan pasar untuk menawarkan harga rendah dan tinggi tidak terbatas. Kadang-kadang mungkin ada sedikit makanan yang tersedia, tetapi harganya masih rendah. Murah bukan berarti melimpah, juga bukan berarti kekurangan pangan. Ketentuan Allah itu murah dan mahal. Jumlah uang yang beredar, penimbunan barang, dan faktor lainnya, menurut Abu Yusuf, juga dapat berdampak pada pembentukan harga. Menurut teori harga ekonomi Ibnu Khaldun, harga naik ketika produk sulit didapat. Ibnu Khaldun mengklaim bahwa harga ditentukan oleh penawaran dan permintaan. Namun, jika komoditas ini diimpor, harganya akan turun karena melimpahnya pasokan.32

Kedua belas, yaitu jurnal yang didalam penelitian dan pembahasannya ini dikatakan bahwa konsep Islam menegaskan bahwa pasar harus berdiri di atas prinsip persaingan sempurna (perfect competition). Mekanisme pasar berarti bahwa harga-harga ditentukan secara bebas oleh pasar, dan harga- harga tersebut bergantung pada mekanisme pasar yang telah berkembang.

Islam, bagaimanapun, tidak menggunakan harga berbasis pasar. Ketika terjadi monopoli harga di pasar, Islam akan turun tangan mengintervensi. Sistem pasar Islam mencakup komponen agama bahwa pasar diatur dan diawasi oleh Syariah di samping komponen sosial. Tulisan para pemikir besar Abu Yusuf,

32 Nurdiana, “Mekanisme Pasar Dalam Konteks Idealita dan Realita (Analisis Pemikiran Abu Yusuf dan Ibnu Khaldun),” Jurnal Balanca, Volume 1, Nomor 1 (2019), 95.

(35)

Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Khaldun juga dibahas dalam publikasi ini.33

Ketiga belas, yaitu jurnal yang dalam penelitiannya dikatakan bahwa Sepanjang tidak melanggar syariat Islam, teknik harga dari ekonomi konvensional dapat digunakan dalam ekonomi Islam, namun disarankan agar perilaku ekonomi pasar Islam dibedakan secara jelas dengan pasar yang dijalankan dengan sistem konvensional. Pemikiran empat tokoh sejarah dari masa kalsik, yaitu Abu Yusuf, Al-Ghazali, Ibnu Taymiyah, dan Ibnu Khaldun, juga digunakan dalam penelitian ini, sesuai dengan penelitian dari publikasi sebelumnya. Kesimpulan jurnal ini adalah bahwa dengan memeriksa keadaan pasar untuk penawaran dan permintaan, prosedur penetapan harga komoditas dalam Ekonomi Islam dapat dipraktikkan. Islam mensyaratkan agar harga digunakan secara adil, yang berarti tidak boleh merugikan baik konsumen maupun produsen. Harga harus didasarkan pada gagasan keadilan bagi semua pihak. Harga komoditas pada dasarnya ditentukan oleh gagasan kebebasan.

Harga tercipta ketika penawaran dan permintaan, tergantung pada keinginan dan prosedur pasar, bertemu. Ini benar jika pasar berfungsi normal.34

Keempat belas yaitu jurnal yang melakukan pembahasan mengenai pemikiran ekonomi dari Ibnu Taimiyah. Menurut publikasi tersebut, mekanisme pasar dan semua isu terkini menjadi inti perdebatan di kalangan intelektual Islam. Ibnu Taimiyyah dan para pemikir lainnya berkeyakinan

33 Abd Ghafur, “Mekanisme Pasar Perspektif Islam,” Jurnal Iqtishadiyah, Volume 5, Nomor 1 (2019). 75-112.

34 Sholikul Hadi, “Strategi Penetapan Harga Komoditas Dalam Perspektif Ekonomi Syariah,” Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi, Keuangan, dan Bisnis Syariah Vol. 1, no. 2 (2019).

(36)

bahwa ada banyak jenis masalah pasar yang harus diselesaikan, mulai dari penetapan harga yang adil hingga prosedur pasar. Dalam karya ini, teknik deskriptif untuk penelitian kepustakaan digunakan untuk menggambarkan atau menjelaskan pandangan Ibnu Taimiyah tentang operasi pasar dan harga.

Dalam upaya menyeimbangkan kondisi pasar terkait dengan mekanisme dan harga di pasar, Ibnu Taimiyah juga melibatkan pemerintah, menurut kesimpulan penelitian tersebut. Dia secara konsisten melarang segala sesuatu yang akan merusak kerja pasar, termasuk penetapan harga, dengan alasan akan merugikan pembeli dan penjual. Dia menegaskan bahwa pemerintah memainkan peran penting dalam mengatur pasar. Agar mekanisme pasar berfungsi dengan baik, pemerintah nantinya harus mengambil pilihan yang bijak dalam menetapkan harga.35

Kelima belas atau yang terakhir yaitu jurnal yang membahas mengenai prinsip-prinsip mekanisme pasar dan konsep mekanisme pasar menurut pandangan ekonomi Islam. Menurut jurnal tersebut, persaingan terbuka adalah paradigma pasar yang optimal, dan hukum penawaran dan permintaan menentukan harga. Sebagai hasil dari kemampuan pasar bebas untuk menciptakan keseimbangan dalam masyarakat, akan ada tingkat pengangguran publik yang rendah, harga komoditas yang stabil, dan pendapatan yang ada. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pasar sangat penting untuk fungsi ekonomi, dan bahwa kapitalisme mencari pasar bebas yang dapat mengatasi masalah distribusi, konsumsi, dan masalah ekonomi

35 Kendro Pratomo dan Trisna Taufik, “Mekanisme Pasar dan Penetapan Harga Dalam Islam (Studi Kasus Pemikiran Ibnu Taimiyah),” Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam Vol. 4, no. 3 (2018).

(37)

lainnya. Lebih lanjut, hasil dari mekanisme harga tersebut menunjukkan bahwa penentuan harga diserahkan kepada mekanisme pasar yang inheren, artinya menurut ilmu ekonomi Islam penetapan harga ini tidak dapat ditentukan secara pasti.36

F. Metode Penelitian

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian a. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini termasuk kedalam penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan kajian tokoh yaitu peneliti mengkaji secara mendalam terkait pemikiran Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali mengenai mekanisme pasar dan penetapan harga dalam islam. Dimana analisis ini dilakukan berdasarkan kajian bibiografi serta lingkup sosial politik yang berkembang pada masanya. Bahan kajian yang dipergunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah bersumber dari data kepustakaan, baik berupa buku, kitab, skripsi yang telah dilakukan sebelumnya, maupun lainnya. Dari gambaran diatas, maka selanjutnya diharapkan dari hasil analisis dapat diketahui persamaan dan perbedaan dari pemikiran masing-masing tokoh.

b. Jenis Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini termasuk dalam jenis penelitian kepustakaan (library research) yang berarti penelitian dengan objek utamanya adalah bersumber dari buku-buku atau kepustakaan. Alasan

36 Agung Zulkarnain Alang, “Mekanisme Pasar dalam Perspektif Ekonomi Islam,” Journal of Institution And Sharia Finance, Volume 1, Nomor 2 (2018), 45.

(38)

peneliti menggunakan jenis penelitian ini adalah karena masalah yang ingin diteliti hanya bisa didapatkan dengan cara studi kepustakaan.

Tidak mungkin bagi peneliti untuk meneliti masalah ini secara langsung atau terjun lapangan untuk mencari data.

2. Data dan Sumber Data

Dalam penyusunan suatu karya ilniah harus menggunakan data yang relevan dengan pokok pembahasan yang dikaji. Sumber data yang digunakan peneliti adalah sumber data sekunder, berasal dari buku-buku yang mana pembahasannya berisikan data-data mengenai pemikiran kedua tokoh yang akan dikaji pemikirannya, yaitu Ibnu Khaldun dan Al- Ghazali. Sumber data pada penelitian ini juga didukung oleh data-data yang berasal dari buku-buku lain dan karya-karya tulis ilmiah.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa teknik dokumentasi, yang mana data diperoleh dari sumber sekunder yaitu pada kumpulan buku-buku, artikel, skrpsi dan karya tulis ilmiah lainnya. Teknik dokumentasi adalah suatu cara yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumen, tulisan angka dan gambar yang berupa laporan serta keterangan yang dapat mendukun penelitian yang dilakukan.37

37 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2018), 476.

(39)

4. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai dalam pengumpulan data pada periode tertentu.38 Kemudian, data-data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan metode induktif-komparatif.

a. Metode induktif yaitu penelitian yang menggunakan data sebagai pijakan awal dalam melakukan penelitian. Metode ini menganggap bahwa teorisasi bukan hal yang penitng untuk dilakukan.39 Dalam pengertian lain, metode induktif dikatakan bahwa analisis yang dilakukan itu berawal dari visi dan gaya khusus yang berlaku bagi seorang tokoh sehingga pemikirannya dapat dipahami dengan baik dan selanjutnya diambil kesimpulan secara umum. Dalam penelitian ini penulis memahami pemikiran dari Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali mengenai mekanisme pasar dan penetapan harga untuk selanjutnya dilakukan komparasi dan di analisis dari yang bersifat umum ke khusus.

b. Metode komparatif adalah penelitian yang mana membandingkan antara keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda.40 Dalam hal ini peneliti melakukan perbandiangan atas pemikiran Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali mengenai mekanisme pasar dan penetapan harga.

38 Ibid., 470.

39 Sirajuddin Saleh, Analisis Data Kualitatif (Bandung: Pustaka Ramadhan, 2017), 21.

40 Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.

(40)

5. Teknik Pengecekan Keabsahan Data

Teknik keabsahan data pada penelitian kualitatif ada empat hal, yaitu uji kredibilitas, uji transferabilitas, uji dependabilitas dan uji konfirmabilitas. Pada penelitian kualitatif dengan model kajian pustaka (library research), peneliti menggunkan uji kredibilitas dalam menguji keabsahan data pada penelitian ini. Uji kredibilitas merupakan cara yang digunakan dalam teknik keabsahan data dengan melihat suatu data dapat dikatakan kredibel apabila terdapat kesamaan anatara apa yang disampaikan oleh peneliti dengan apa yang terjadi pada objek penelitian.

Dalam uji kredibilitas ada beberapa teknik yang dapat dilakukan, salah satunya adalah teknik triangulasi. Teknik triangulasi adalah suatu cara yang digunakna untuk mendapatkan data yang benar-benar absah dengan menggunakan pendekatan metode ganda. Dari beberapa triangulasi data yang ada, peneliti menggunakan dua triangulasi yaitu:41

a. Triangulasi teori

Triangulasi teori adalah memanfaatkan dua teori atau lebih yang selanjutnya akan dipadukan. Tujuannya yaitu untuk meningkatkan kedalaman pemahaman terhadap tema yang dibahas, dengan demikian akan mampu memberikan hasil yang komprehensif dan mampu dipahami dengan mudah.

41 Bachtiar S. Bachri, “Menyakinkan Validitas Data Melalui Triangulasi Pada Penelitian Kualitatif,” Jurnal Teknologi Pendidikan, Volume 10, Nomor 1 (2010), 56–57.

(41)

b. Triangulasi metode

Triangulasi metode adalah usaha melakukan pengecekan keabsahan data atau pengecekan keabsahan temuan dalam penelitian.

Triangulasi metode dapat dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan data yang sama.

Pelaksanaannya juga dapat dilakukan dengan melakukan pengecekan atau perbandingan dengan data sebelumnya.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji kredibilitas dengan triangulasi teori dan triangulasi metode. Pada langkah pertama, peneliti akan menggunakan dua pemikiran tokoh mengenai mekanisme pasar dan penetapan harga, dalam hal ini yaitu pemikiran Ibnu Khaldun dan Al- Ghazali untuk dipadukan dan dianalisis secara mendalam. Selanjutnya dengan melakukan pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan melakukan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.

G. Sistematika Pembahasan

Dalam memberikan penjelasan yang jelas mengenai penelitian ini, makapembahasan dalam penulisan skripsi ini dibagi kedalam 5 bab. Dari bab pertama sampai dengan bab kelima, terdapat beberapa sub bab yang merupakan rangkaian untuk pembahasan dalam penelitian. Adapaun sistematika pembahasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(42)

BAB 1 PENDAHULUAN

Bab ini berisikan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, studi penelitian terdahulu, metode penelitian (pendekatan dan jenis penelitian, sumber data, metode pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data), dan sistematika pembahasan.

BAB II MEKANISME PASAR DAN PENETAPAN HARGA DALAM ISLAM

Bab ini memuat teori yang relevan dengan penelitian yang dilakukan.

Berisikan teori tentang mekanisme pasar dan penetapan harga. Menyajikan data terkait sistem perekonomian yang ada di Indonesia

BAB III PEMIKIRAN IBNU KHALDUN DAN AL-GHAZALI MENGENAI MEKANISME PASAR DAN PENETAPAN HARGA

Pada bab ini peneliti memaparkan tentang pandangan Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali mengenai mekanisme pasar dan penetapan harga. Dilengkapi juga dengan sejarah singkat dari kedua tokoh tersebut.

BAB IV ANALISIS KOMPARATIF PEMIKIRAN IBNU KHALDUN DAN AL-GHAZALI TENTANG MEKANISME PASAR DAN PENETAPAN HARGA SERTA RELEVANSINYA DI INDONESIA

Pada bab ini peneliti akan melakukan analisa atau membandingkan pemikiran dari Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali mengenai mekanisme pasar dan penetapan harga serta bagaimana relevansi pemikiran keduannya di Indonesia.

(43)

BAB V PENUTUP

Bab terakhir ini berisikan kesimpulan dan saran dari keseluruhan penelitian yang dilakukan mengenai pemikiran Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali.

(44)

30 BAB II

MEKANISME PASAR DAN PENETAPAN HARGA DALAM ISLAM

A. Mekanisme Pasar 1. Pengertian Pasar

Pasar secara sederhana merupakan tempat pertemuan dimana penjual dan pembeli melakukan transaksi jual beli barang dan jasa.

Adapun pasar menurut sumber lain adalah sebuah mekanisme pertukaran produk, baik barang maupun jasa yang alamiah dan telah berlangsung sejak peradaban awal manusia.1 Ahli ekonomi mengatakan bahwa pasar adalah tempat bertemunya pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi jual-beli suatu barang. Pengertian ini termasuk dalam lingkup sempit, karena membatasi pasar dengan unsur-unsur seperti ada tempat bertemu penjual dan pembeli, ada kegiatan transaksi, dan ada barang yang diperjual-belikan. Dimana pengertian menunjukkan atau menekankan pada pengertian pasar konkret, namun dalam kenyataannya selain pasar konkret juga terdapat bentuk pasar abstrak yang tidak memenuhi untuk unsur pertama dan ketiga. Dengan demikian pasar dapat didefinisikan, pasar merupakan suatu kondisi yang memungkinkan antara penjual dan pembeli melakukan hubungan (komunikasi) dan dapat melakukan transaksi komoditi (barang maupun jasa).2

1 Amin Suma, Pengantar Ekonomi Syariah Teori dan Praktik (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), 219.

2 Syamri Syamsudin dan Detri Karya, Mikro Ekonomi Untuk Panajemen (Depok: PT Rajagrafindo, 2018), 181.

(45)

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat diketahui bahwasanya pasar merupakan tempat dimana berkumpulnya orang-orang (penjual dan pembeli) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagi penjual kenaikan harga akan menyebabkan munculnya beberapa kondisi, seperti para penjual akan mengurangi pembelian produk, penjual hanya akan menyediakan produk yang cepat laku terjual dengan harapan dapat meraih keuntungan secara maksimal. Jika terdapat banyak penjual dan pembeli, tetapi hanya terdapat satu komoditas yang diperjual-belikan, maka hal ini disebut dengan pasar persaingan murni. Persaingan dianggap murni jika penjual dan pembeli memahami kondisi akan pasar yang sebenarnya.

Kondisi pasar yang seperti ini dirasa mampu memberikan keuntungan kepada konsumen, karena harga di pasar seringkali terlihat rendah, jika penjual menurunkan harga jual barangnya, maka konsumen akan lebih bersedia untuk membeli barang tersebut.3

2. Konsep Umum Mekanisme Pasar

Mekanisme pasar adalah alokasi sumber daya ekonomi dimana berlandaskan interaksi yang lebih menekankan pada kekuatan permintaan dan penawaran. Pendapat lain juga mengatakan bahwasanya mekanisme pasar akan menjadi sebuah alat untuk alokasi sumber daya yang efisian, jika ikut campur kedalam perekonomian. Lebih lanjut, Adam Smith juga mengatakan bahwa apa yang menjadi kekuatan tangan-tangan yang tidak

3 T.Gilarso, Pengantar Ilmu Ekonomi Bagian Makro, Cet. Ke-2 (Yogyakarta: Kanisus, 1994), 154.

(46)

terlibat adalah mekanisme pasar itu sendiri, bukan sesuatu yang berkaitan dengan kekuatan gaib yang abstrak.4

Mekanisme pasar pada dasarnya adalah kecenderungan di pasar bebas sehingga terjadi perubahan harga sampai pasar menjadi seimbang (equilibrium) yaitu sampai jumlah antara permintaan dan penawaran sama.

Pada prinsipnya harga yang dibentuk oleh mekanisme pasar bergerak secara bebas sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran.

Mekanisme pasar yang berjalan secara sehat akan membentuk suatu kondisi yang seimbang antara permintaan dan penawaran, yaitu kondisi dimana tidak ada kelebihan ataupun kekurangan akan persediaan.5 Maka dengan ini jumlah barang yang ditawarkan pada periode tertentu akan sama dengan barang yang diminta, pada kondisi inilah harga keseimbangan akan terbentuk.

3. Mekanisme Pasar Dalam Islam

Ekonomi Islam memandang bahwa pasar, negara, dan individu berada dalam keseimbangan (iqtishad), tidak boleh ada sub- ordinat, sehingga salah satunya menjadi dominan dari yang lain. Pasar dijamin kebebasannya dalam Islam, dimana pasar bebas menentukan cara- cara produksi dan harga, tidak boleh ada gangguan yang mengakibatkan rusaknya keseimbangan pasar. Namun dalam kenyataannya sulit ditemukan pasar yang berjalan sendiri secara adil (fair), hal ini dapat

4 Ahmad Erani Yustika, Ekonomi Politik (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), 77–79.

5 M. Nur Rianto Al Arif dan Euis Amalia, Teori Mikro Ekonomi: Suatu Perbandingan Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional (Jakarta: Kencana, 2010), 51.

(47)

terlihat dari distorsi pasar yang sering terjadi, sehingga dapat merugikan para pihak.6

Pasar yang dibiarkan berjalan sendiri (laissez faire), tanpa ada yang mengontrol, ternyata telah menyebabkan penguasaan pasar sepihak oleh pemilik modal (capitalist), penguasa infrastruktur, dan pemilik informasi.

Negara dalam Islam mempunyai peran yang sama dengan pasar, tugasnya adalah mengatur dan mengawasi ekonomi, memastikan kompetisi di pasar berlangsung dengan sempurna, informasi yang merata dan keadilan ekonomi. Perannya sebagai pengatur tidak lantas menjadikannya dominan, sebab negara, sekali-kali tidak boleh mengganggu pasar yang berjalan seimbang, perannya hanya diperlukan ketika terjadi distorsi dalam sistem pasar. Jadi bisa dikatakan bahwa pasar adalah suatu mekanisme pada saat dimana penjual dan pembeli suatu komoditi mengadakan interaksi untuk menentukan harga dan kuantitas.

Mekanisme pasar menurut Ibnu Khaldun adalah sebuah sistem yang menentukan terbentuknya harga, dimana dalam prosesnya dipengaruhi oleh beberapa hal seperti permintaan, penawaran, kebijakan pemerintah, pajak dan keamanan. Sedangkan menurut Al-Ghazali, mekanisme pasar harusnya berfungsi berdasarkan etika dan moral para pelakunya.7 Karena sistem ekonomi merupakan kodifikasi ideologi atau paham tertentu, maka sistem ekonomi Islam terkait dengan etika. Islam (syariah) sebagai sistem ekonomi jelas terikat dengan prinsip dan standar

6 Alang Agung Zulkarnain, “Mekanisme Pasar Dalam Persepsi Ekonomi Islam,” Journal of Institution And Sharia Finance, Volume1, Nomor 2 (2018), 36.

7 Moh Faizin, Buku Ajar Ekonomi Makro Islam (Pekalongan: Penerbit NEM, 2021), 16.

(48)

syari'ah dalam pembentukannya.8 Menurut sudut pandang yang berbeda, mekanisme pasar adalah sistem yang cukup efektif untuk menegakkan harga yang adil serta untuk mendistribusikan faktor produksi dan mendorong kegiatan ekonomi. Hal ini disebabkan pasar memiliki banyak manfaat, antara lain kemampuannya untuk menyediakan informasi yang akurat, mendorong pelaku usaha untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi, dan memberikan kebebasan ekonomi yang tinggi kepada masyarakat luas.9

Harga mencerminkan kondisi dimana seseorang atau perusahaan bersedia untuk mengadakan tukar menukar secara sukarela. Dalam Islam, segala bentuk jual beli yang dilarang atau diperbolehkan telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, begitu pula dengan mekanisme pasar.

Menurut Rasulullah SAW. tidak menganjurkan campur tangan siapapun atau apapun dalam proses penentuan harga, apalagi jika penetapan harga diperoleh dengan cara melakukan perusakan pada sistem perdagangan yang fair, yaitu seperti penimbunan barang.10

B. Penetapan Harga 1. Pengertian Harga

Harga dalam bahasa Arab disebut dengan tsaman, dan dalam bahasa inggris disebut dengan kata price yang artinya harga dengan jumlah yang mana harus dibayarkan sebagai pengganti atas nilai

8 Elly Masykuroh, “Reformulasi Bangun Sistem Ekonomi Islam,” Justicia Islamica: Jurnal Kajian Hukum dan Sosial, Volume 8, Nomor 1 (2011): 19.

9 Abdul Aziz, Ekonomi Islam Analisis Mikro & Makro (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008), 115.

10 Muhammad, Ekonomi Mikro Dalam Perspektif Islam (Yogyakarta: BPFE, 2004), 26.

Gambar

Gambar  Judul  Halaman
Gambar 2.1 Kurva permintaan dalam persaingan sempurna  Price
Gambar 4.1 Kurva Penawaran Oleh Al-Ghazali
Gambar 4.2 Kurva Permintaan Oleh Al-Ghazali

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Pengaruh Literasi Ekonomi dan Gaya Hidup Terhadap Perilaku Konsumtif untuk Produk Fashion Dalam Perspektif Ekonomi Syariah (Studi Terhadap Mahasiswa Ekonomi Syariah Fakultas