• Tidak ada hasil yang ditemukan

studi setelah pemekaran kecamatan pucuk rantau

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "studi setelah pemekaran kecamatan pucuk rantau"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

0

(2)

1

STUDI SETELAH PEMEKARAN KECAMATAN PUCUK RANTAU

KABUPATEN KUANTAN SINGINGI By:

Parila*, Bakaruddin**, Rika Despica**

*) the geography education student of STKIP PGRI West Sumatera

**) the teacher staff of geography education of STKIP PGRI West Sumatera

ABSTRACT

This study aims to get the data, process, analyze and discuss data on the study after splitting the District Shoots Overseas Regency Kuantan Singingi in view of: 1) the condition of the population, 2) infrastructure development, 3) public services.

This study belongs to a descriptive study. This study population is the number KK 6492 all community families in District Kuantan District Shoots Rantau Singingi Riau Province. The research sample with proportional random sampling technique with a percentage of 2% of the population in the study area, the sample amounted to 129 heads of families after separation in the district communities Rantau shoots. Collecting data using guided questionnaire, the analysis used descriptive statistics by using a percentage formula. The results showed: 1) the condition of the population after the split can be seen from the aspect of people's livelihood in the district Shoots Rantau Regency Kuantan Singingi in general farming and levels of public education in the District Shoots Rantau Regency Kuantan Singingi generally junior high school graduation is still said to be lack of education in District shoots Overseas , 2) Facilities and infrastructure in Sub Shoots Rantau Regency Kuantan Sngingi generally asphalt roads and educational facilities in the district Shoots Rantau Regency Kuantan Singingi generally adequate, 3) public services to people both the district government, District Government and government The village is generally good.

Key Word: autonomy, feasibility, territory

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data, mengolah, menganalisis dan membahas data tentang studi setelah pemekaran Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi di lihat dari: 1) kondisi kependudukan, 2) sarana dan prasarana pembangunan, 3) pelayanan publik. Penelitian ini tergolong pada penelitian deskriptif.

Populasi penelitian ini adalah jumlah KK 6.492 semua keluarga masyarakat di Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau. Sampel penelitian dengan teknik proposional random sampling dengan persentase 2% dari populasi yang ada di wilayah penelitian, sampel berjumlah 129 kepala keluarga masyarakat setelah pemekaran di Kecamatan Pucuk Rantau. Pengumpulan data menggunakan angket terbimbing, analisa yang digunakan adalah statistik deskriptif dengan memakai formula persentase.

Hasil penelitian menunjukan : 1) kondisi kependudukan setelah pemekaran dapat lihat dari aspek mata pencaharian masyarakat di Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi pada umumnya bertani dan tingkat pendidikan masyarakat di Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi pada umumnya tamat SMP masih dikatakan rendahnya pendidikan di Kecamatan Pucuk Rantau, 2) Sarana dan prasarana yang ada di Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Sngingi yang pada umumnya jalan aspal serta sarana dan prasarana pendidikan di Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi

(3)

2 pada umumnya memadai, 3) Pelayanan publik terhadap masyarakat baik pemerintah Kabupaten, Pemerintah Kecamatan dan pemerintah Desa pada umumnya baik.

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Semenjak Undang-Undang Otonomi disahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di era reformasi, maka munculnya keinginan berbagai elite daerah untuk memekarkan wilayah Kabupaten dan Kota. Keinginan ini sejalan dengan keluarnya undang-undang (UU) No. 22/1999 yang memberikan hak otonomi bagi pemerintah di daerah perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah serta beralih sistem pemerintahan dari sentralisasi ke sistem pemerintahan yang disentralisasi. Undang- Undang Nomor 43 tahun 2004 tentang pemerintah daerah sebagai perubahan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, selain merupakan panduan yang nyata dalam pelaksanaan otonomi daerah, juga merupakan politik hukum otonomi daerah (Hamid, 2004).

Dasar kekuatan tersebut, pelaksanaan otonomi daerah diwujudkan dalam kebijakan yang terukur, terarah dan terencana oleh pemerintah pusat.

Kebijakan demikian perlu dilakukan agar konsep pelaksanaan otonomi daerah tetap berada pada panduan dan garis hukum nasional. Semenjak Undang-Undang otonomi di sahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di era reformasi ini, menyebabkan munculnya keinginan berbagai elit daerah memekarkan Propinsi, Kabupaten, Kecamatan, Desa atau Nagari.

Pemekaran merupakan solusi tepat untuk mendekatkan pelayanan pemerintah, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia dalam pembinaan sosial kemasyarakatan. Intinya adalah mewujudkan kesejatreaan masyarakat, dalam mengurus daerah untuk mencapai kesejateraan rakyat juga bisa dilakukan dengan cara pengembangan wilayah atau pemekaran Kecamatan. Unsur pemerintah

Kecamatan yang dekat dengan masyarakat yang beranjak dari konsep Kecamatan yang fungsi memberikan pelayanan umum, penyelenggaraan pembangunan dan peningkatan demokratis (Hamid, 2004).

Kewenangan membuat peraturan daerah merupakan wujud nyata dan pelaksanaan hak otonomi dari suatu daearah dan sebaliknya peraturan daerah dengan terjadinya pemekaran Kecamatan ini, tentu saja pemerintah dan pembangunan daerah ini sudah lebih dominan dalam masyarakat meningkat kualitas dan kuantitas selayaknya berdiri berkaitan dengan ini peneliti ingin melihat kembali bagaimana proses terjadinya pemekaran dan kondisi kependudukannya serta sarana dan prasarana lainnya yang terdapat di wilayah Kecamatan baru ini.

Kecamatan Pucuk Rantau merupakan salah satu Kecamatan hasil pemekaran di Kabupaten Kuantan Singingi dengan ibukota Pangkalan.

Diawal terbentuknya Kecamatan Pucuk Rantau adalah pemekaran dari Kecamatan Kuantan Mudik, sesuai dengan peraturan daerah Kabupaten Kuantan Singingi Nomor: 24 Tahun 2012 tentang pembentukan Kecamatan Kuantan Hilir Seberang, Kecamatan Sentajo Raya dan Kecamatan Pucuk Rantau. Kecamatan Pucuk Rantau memiliki luas wilaya 821.64 km². Jumlah desa di Kecamatan Pucuk Rantau sebelumnya hanya terdiri 6 Desa (Kantor Camat 2013).

Berdasarkan observasi awal penulis, Sebelum Kecamatan ini dimekarkan, kondisi kependudukan dilihat dari jenis mata pencaharian masyarakat Kecamatan Pucuk Rantau mayoritas mata pencaharian hampir menyeluruh bertani, sedangkan sarana dan prasarana atau aksebiltas kurang memadai karena jarak keterjangkauan dari pusat kota yang terlalu jauh sehingga kurang perhatian dari

(4)

3 pemerintah pusat. pelayanan publik masih

belum merata sepenunya dirasakan masyarakat akibat letak geografis yang masih sulit untuk dijangkau.

Perkembangan pemukiman di kecamtan pucuk rantau sebelum di mekarkan belum mengalami peningkatan yang pesat hal ini dapat dibuktikan dengan pemukiman yang mengelompok. Potensi daerah disuatu daerah sebelum dimekarkan masyarakat belum begitu berkembang pola pemekirannya karena masyarakat hanya memanfaatkan apa yang ada disekitar lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Studi setelah Pemekaran Kecamatan Pucuk Rantau Di Kabupaten Kuantan Singingi.

2. Rumusan Masalah

Sesuai dengan masalah yang diungkapan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana kondisi kependudukan setelah pemekaran Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi?

2. Bagaimana sarana dan prasarana pembangunan setelah Pemekaran Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi?

3. Bagaimana tentang pelayanan publik setelah pemekaran Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi?

3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi serta menganalisis tentang:

1. Kondisi kependudukan setelah pemekaran Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi.

2. Sarana dan prasana setelah pemekaran Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi.

3. Pelayanan publik setelah pemekaran Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten kuantan Singingi.

II. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini yaitu deskriptif dengan tujuan menerangkan, menggambarkan, gejala-gejala, fakta-fakta dan sifat-sifat populasi pada daerah penelitian, menerangkan variabel-variabel yang telah diajukan dengan maksud memberikan gambaran mengenai keadaan yang ada pada daerah penelitian (Arikunto, revisi V, 2006).

Menurut Sugiyono (2010) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi karena keterbatasan dana, tenaga, waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pucuk Rantau. Pengambilan sampel responden dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik proposional random sampling yaitudengan mengambil sampel di wilayah penelitian dengan proporsi 2% sehingga diperoleh sampel responden sebanyak 6.492 KK.

Instrumen dalam penelitian ini yang akan dilakukan dengan teknik observasi dan kuisioner instrumen untuk memperoleh tentang kebenaran keadaan dilapangan.

Menurut Bakaruddin (2012) pemekaran yaitu suatu tekanan pada luas kota bertambah karena daerah yang lama tidak mampu lagi menampung fasilitas kegiatan sehingga diperlukan penambahan areal dan perluasan daerah, sedangkan perkembangan adalah suatu proses perubahan keadaan perkotaan dan suatu keadaan yang lain dalam waktu berbeda didasarkan dalam bentuk analis yang sama.

(5)

4 III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pertama, berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di lapangan bahwa kondisi kependudukan dilihat dari jenis mata pencaharian masyarakat di Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi setelah pemekaran bahwa pekerjaan pokok masyarakat pada umumnya adalah bertani sebesar (53%) dijawab oleh 129 responden. Sedangkan yang mempunyai pekerjaan sampingan setelah pemekaran pada umumnya ada sebesar (39%), dijawab oleh 129 responden.

Menurut Anwar (1997) dalam( Beni, Sari 2012) mata pencaharian merupakan pekerjaan yang mengasilkan uang untuk kebutuhan hidup. Sedangkan pengertian pekerjaan adalah mata pencaharian seseorang untuk mendapatkan nafkah bagi kelangsungan hidup.

Kemudian dilihat dari pendidikan formal masyarakat di Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi pada umumnya adalah tamat SMP yaitu sebesar (47%). Sedangkan masyarakat yang tamat SMA (26%) dan perguruan tinggi relatif sangat sedikit. Hal ini dapat dikatakan masih rendah pendidikan masyarakat di daerah ini yang menjadi kendala masyarakat atau tidak melanjutkan pendidikan karena tidak ada biaya sehingga mereka putus sekolah.

Hal ini sesuai dengan Pendidikan diartikan suatu proses belajar yang berati dalam pendidikan itu sendiri proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan kearah yang lebih baik dan dewasa, lebih baik dan lebih jelas matang pada diri individu kelompok atau masyarakat (Noto Admodja 2007

Kedua, berdasarkan hasil yang telah dilakukan di lapangan bahwa: a) Sarana dan prasarana yang ada di Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi setelah pemekaran dilihat dari sarana jalan masyarakat pada

umumnya jalan aspal sebesar (66%) yang dijawab oleh 129 responden, b) Sarana dan prasarana pendidikan setelah pemekaran pada umumnya memadai sebesar (53%) yang dijawab oleh 129 responden karena dapat dijelaskan berdasarkan data yang terdapat di lapangan, karena dengan adanya pemekaran maka sarana dan prasarana di Kecamatan Pucuk Rantau sudah jauh lebih baik, c) Sarana Prasarana lembaga kesehatan setelah pemekaran pada umumnya lengkap yaitu sebesar (78%) yang dijawab 129 responden.

Menurut arfiah dalam novia (2012) sarana dan prasarana adalah bentuk perantara yang di pakai orang untuk menyebar ide, sehingga ide tersebut sampai pada penerima bahwa sarana adalah fasilitas yang menghasilkan produk dan jasa-jasa secara langsung di butuhkan, sedangkan prasarana sesuatu yang merupakan penunjang utama untuk terselenggara proses.

Ketiga, hasil penelitian yang telah dilakukan di lapangan tentang pelayan publik sistem pemerintahan terhadap masyarakat setelah pemekaran baik itu, a) Tingkat Kabupaten terhadap masyarakat di Kecamatan Pucuk Rantau pada umumnya baik sebesar (68%), yang dijawab oleh 129 responden, b) Tingkat Kecamatan terhadap masyarakat di Kecamatan Pucuk Rantau pada setelah pemekaran umumnya baik sebesar (63%) yang dijawab oleh 129 responden, c) Tingkat Desa dalam pengurusan adminitrsai setelah pemekaran di Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi pada umumnya cukup cepat sebesar (60%) yang dijawab oleh 129 responden.

Menurut Lewis dan Gilman (2005) mendefenisikan pelayanan publik sebagai berikut: pelayanan publik adalah kepercayaan publik warga negara berharap pelayanan publik dapat melayani dengan kejujuran dan pengelolaan sumber

(6)

5 penghasilan secara tepat dan dapat

dipertanggung jawabkan kepada publik.

IV.KESIMPULAN DAN SARAN a. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.

Kondisi kependudukan dapat dilihat, a)Mata pencaharian masyarakat di Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi pada umumnya mata pencaharian masyarakat bertani dengan persentase sebesar (68%) yang dijawab oleh 129 responden, b) sedangkan tingkat pendidikan penduduk di Kecamatan Pucuk Rantau pada umumnya tamat SMP dengan persentase sebesar (47%) yang dijawab oleh 129 responden dapat dikatakan masih kategorikan rendah.

2. Kondisi sarana dan prasarana dapat dilihat dari .a).Sarana dan prasarana pembangunan yang ada di Kecamatan Pucuk Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi setelah pemekaran dilihat dari sarana jalan pada umumnya baik dengan persentase sebesar (52%) yang dijawab oleh 129 responden, b) sedangkan sarana dan prasarana pendidikan penduduk di Kecamatan Pucuk Rantau setelah pemekaran pada umumnya memadai dengan persentase sebesar (53%) yang dijawab oleh 129 responden dapat dilihat dengan data, c) Sarana dan prasarana lembaga kesehatan penduduk di Kecamatan Pucuk Rantau setelah pemekaran pada umumnya cukup lengkap dengan persentase sebesar (78%) yang dijawab oleh 129 responden.

3.Pelayanan publik terhadap masyarakat dilihat dari, a) Tingkat Kabupaten setelah pemekaran di Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi pada umumnya baik dengan persentase sebesar (67%) yang di jawab oleh 129 responden, b) Tingkat Kecamatan setelah pemekaran di Kecamatan Pucuk Rantau pada umumnya baik dengan persentase sebesar (62%) yang di jawab oleh 129 responden,

c).Tingkat pemerintah Desa setelah pemekaran di Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi pada umumnya cukup cepat dilihat dari pelayanan pemerintah terhadap masyarakat dengan persentase sebesar (60%) yang di jawab oleh 129 responden

. b. Saran

Berdasarkan penelitian dan kesimpulan yang dikemukakan di atas maka peneliti manyarankan sebagai berikut:

1. Bagi masayrakat untuk kedepannya saling kerja sama maupun antar Desa Saling bekerja sama supaya sumber daya manusia menjadi lebih baik dan mata pencaharian masyarakat lebih di tingkatkan dan juga di kembangkan baik.

2. Di harapkan bagi pemerintah dan instansi terkait terus kembangkan sarana dan prasarana khususnya pendidikan dan jalan yang belum tersentu oleh pemerintah supaya meningkatnya mutu pendidikan dan untuk membangun sarana dan prasarana penunjang perekonomian kebudayaan, sehingga potensi ekonomi dari kearifaan lokal masyarakat dapat terus lestari dan berkelanjutan. di Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singngi.

3. Bagi peneliti lanjutkan, penelitian ini bisa dijadikan bahan rujukan dan pedoman yang bermanfaat dan menambah wawasan pembaca dan peneliti sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto , Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: RinekaCipta.

Bakaruddin, pengantar Geografi Desa dan Kota, Padang : Jurusan Pendidikan Geografi : 2012.

Beni Sari. 2014. Studi sosial Masyarakat Tertinggal di Kanagarian

(7)

6 Garabak Data Kecamatan Tigo

Lurah Kabupaten Solok : Skripsi jurusan Geografi.

Lewis, Gilman.(2005) implikasi peyanan publik : PT. Jakarta.

Hamid 1999.Undang-undang No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah.

Novia.2012.Persepsi masyarakat tentang pembangunan jalan di Kenagarian Rantau Limau Kapas Kecamatan Sangir Batang Hari Kabupaten Solok Selatan. Skripsi.

Sudijono,Annas.2010.Statistik

Pendidikan.Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Sugiyono.2011.MetodePenelitian

Pendidikan. Bandung: Alfate

Referensi

Dokumen terkait

Some authors observe that these are attempts to use the dispute settlement process to pursue matters that they are unable to win in negotiations despite Article 3 (2)