1
STUDI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT SETELAH PEMEKARAN WILAYAH KECAMATAN KOTO BESAR DI KABUPATEN DHARMASRAYA
Amalia¹ Yuherman² Momon Dt. Tanamir²
¹Mahasiswa Prodi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat
²Dosen Prodi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]
ABSTRACT
This research purpose to getting, processing, analyzing and reviewing the data about social economic of society after regional expansion at Koto Besar district of Dharmasraya with variables are 1) livelihood, 2) income, 3) education, 4) healthy at Koto Besar district of Dharmasraya.Type of this research is qualitative research. The population is the householders at Koto Besar district which consists 6.523 householders. The respondents are 98 householders who were chosen by using propotional random sampling technique with propotion 10%. The instrument is questionnaire which analyzed in descriptively. As the results it showed that, 1) societies income after regional expansion at Koto Besar distritc of Dharmasraya is in average Rp> 1.500.000 in a month, 2) livelihood of society at Koto Besar district of Dharmasraya after regional expansion generally is farming, 3) education of society at Koto Besar district of Dharmasraya after regional expansion is finished the elementary school, 4) health, there is no insurance of the societies health at Koto Besar district of Dharmasraya after regional expansion.
Key word:livelihood, income, education, healthy
PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk Republik yang dalam pelaksanaan pemerintahannya dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah-daerah provinsi dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten dan kota mempunyai pemerintahan daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.
Pemerintah daerah berhak menetapkan Peraturan Daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi daerah
dan tugas pembantuan Wijoyo dalam Irradiyah (2015).
Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya tinggal di daerah pedesaan dan hanya sebagian kecil yang tinggal di perkotaan, ini mencirikan bahwa negara Indonesia merupakan negara agraris yaitu negara pertanian. Diketahui bahwa dalam masyarakat agraris di mana kehidupannya masih tergantung pada hasil produksi tanah sebagai sarana produksi pokok dan memiliki corak yang homogen dalam mata pencaharian yaitu sebagai petani Yulianti dalam Yayuk (2010).
2 Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah pembentukan daerah pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan pelayanan publik guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Pembentukan daerah dapat berupa pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih, atau penggabungan daerah yang bersandingan, atau penggabungan beberapa daerah.
Proses pembentukan daerah sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2007 tentang tata cara pembentukan, penghapusan dan penggabungan daerah menyatakan bahwa pembentukan daerah didasari pada 3 (tiga) persyaratan, yakni administratif, teknis dan fisik kewilayahan. Persyaratan administratif didasarkan atas aspirasi sebagian besar masyarakat setempat untuk ditindak lanjuti oleh pemerintah daerah dengan melakukan kajian daerah terhadap rencana pembentukan daerah.
Suatu wilayah dapat berkembang dengan baik apabila didukung dengan banyak kondisi yang ada pada wilayah tersebut. Kondisi tersebut antara lain berupa letak geografis, data demografis, dan kekayaan alam atau sumber-sumber alam yan diolah sehingga menghasilkan pendapatan asli wilyah tersebut. Wilayah dengan penduduk yang sangat tinggi dan jumlah desa yang sangat banyak akan
mengakibatkan jauhnya rentang kendali penyelenggaraan pemerintah pada wilayah tersebut.
Persyaratan secara teknis didasarkan pada faktor kemampuan ekonomi, potensi daerah, sosial budaya, sosial politik, kependudukan, luas daerah, pertahanan keamanan, dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. Adapun faktor lain tersebut meliputi pertimbangan kemampuan keuangan, tingkat kesejahteraan masyarakat, dan rentang kendali penyelenggaraan pemerintahan.
Persyaratan fisik kewilayahan dalam pembentukan daerah meliputi cakupan wilayah, lokasi calon ibu kota, sarana dan prasarana pemerintahan Susanti (2014).
Pemekaran wilayah secara intensif saat ini telah berkembang di Indonesia sebagai salah satu jalan untuk pemerataan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seperti dalam bidang ekonomi, keuangan pelayanan publik dan aparatur pemerintah desa termasuk juga mencakup aspek sosial politik, batas wilayah maupun keamanan serta menjadi pilar utama pembangunan pada jangka panjang Wijoyono dalam Irradiyah (2015).
Kabupaten Dharmasraya dimekarkan dari kabupaten Sawahlunto Sijunjung pada tanggal 7 Januari pada
3 tahun 2004 oleh presiden RI secara simbolis di Istana Negara. Dibentuk berdasarkan Undang-Undang N0 38 tentang pembentukan Kabupaten Dharmasraya. Setelah diresmikan menjadi Kabupaten baru pada tanggal 7 Januari 2004, Kabupaten Dharmasraya telah mempunyai 5 kecamatan. Salah satu Kecamatan yang ada di Dharmasraya adalah Kecamatan Sungai Rumbai. Namun pada tahun 2007 Kecamatan Sungai Rumbai telah kembali dimekarkan menjadi 3 kecamatan yaitu Kecamatan Sungai Rumbai, Kecamatan Asam Jujuhan dan Kecamatan Koto Besar.
Sebelum dilakukannya pemekaran wilayah Kecamatan Koto Besar ini, di Kecamatan Koto besar tidak adanya gedung Sekolah Menegah Atas (SMA), sehingga bagi orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya kejenjang yang lebih tinggi (SMA) harus menyekolahkan anaknya ke Kecamatan tentangga salah satu nya Kecamatan Koto Baru. Begitu juga dengan sarana kesehatan seperti PUSKESMAS, PUSTU, Praktek Dokter tidak ada, dimana masyarakat lebih banyak menggunakan pengobatan tradisional untuk berobat di karenakan sarana kesehatan belum ada.dilihat dari segi Mata pencaharian penduduk ada yang bertani, buruh tani, buruh pengangkut pasir dan bengkel. Setelah dimekarkan pada tahun 2007 kecamatan ini masih banyak
bergantung kepada kecamatan induk yaitu Kecamatan Sungai Rumbai .Di kecamatan Koto Besar terdapat sebanyak tujuh buah nagari dan 27 Jorong. Tujuh buah nagari tersebut adalah Nagari Abai Siat, nagari Bonjol, nagari Koto Besar, nagari Koto Tinggi, nagari Koto Laweh, nagari Koto Gadang, dan nagari Koto Ranah.
Berdasarkan obeservasi awal penulis pada tanggal 13-14 Maret 2017, maka diketahui mata pencaharian masyarakat setelah pemekaran adalah bertani (buruh tani). Selain disektor bertani ada juga mata pencaharian penduduk disektor lain, yaitu:
peternak, pedagang, tukang, montir, tukang kayu, tukang batu, perangkat nagari, buruh industri, karyawan honorer, sopir, dan masih banayak yang lain.
Selain dari mata pencaharian, dapat juga diketahui pendapatan masyarakat setelah pemekaran secara umum untuk setiap rumah tangga di salah satu kenagarian yang terdapat di dalam Kecamatan Koto besar yaitu kenagarian Koto Laweh sekitar Rp. 1.200.000/bulan.
Menurut Bapak wakil sekretaris wali nagari Koto Laweh tersebut tingkat pendapatan masyarakat di nagari mereka lebih rendah dibandingkan tingkat pendapatan Nagari Abai Siat.
Dilihat dari tingkat pendidikan masyarakat setelah pemekaran bermacam- macam, ada tamatan SD, tidak tamat SD, tamatan SMP, SMA dan Perguruan Tinggi
4 bahkan ada yang Buta Aksara. Fasilitas pendidikan seperti gedung sekolah SMA sudah di bangun namun umurnya masih sangat muda. Begitupun Dari tingkat kesehatan PUSKESMAS juga sudah ada.
Kondisi sosial ekonomi adalah suatu kedudukan yang diatur secara sosial dan menempatkan seseorang pada posisi tertentu dalam masyarakat, pemberian posisi itu disertai pula dengan seperangkat hak dan kewajiban yang harus dimainkan oleh si pembawa status Sumardi dalam Juariyah (2010).
Kondisi sosial ekonomi masyarakat ditandai adanya saling kenal mengenal antar satu dengan yang lain, paguyuban, sifat kegotong- royongan dan kekeluargaan. Sementara W.S Winke dalam Juariyah (2010) menyatakan bahwa pengertian status sosial ekonomi mempunyai makna suatu keadaan yang menunjukan pada kemampuan finansial keluarga dan perlengkapan material yang dimilki, dimana keadaan ini bertaraf baik, cukup, dan kurang. Berdasarkan pengerrtian di atas maka kondisi sosial ekonomi dapat disimpulkan bahwa posisi atau kedudukan suatu masyarakat dalam lingkungan masyarakatnya.
Hadud dan Zain dalam Jamil (2016) mata pencarian merupakan pekerjaan yang menghasilkan uang untuk bertahan hidup.
Pengertian pekerjaan menurut Darmawan dalam Jamil adalah mata pencaharian
seseorang untuk mendapatkan nafkah bagi kelangsungan hidup. Menurut Nawi dalam Jamil (2016) pekerjaan adalah medium dimana kita memperoleh syarat kehidupan pokok sebagai alat yang menggambarkan, mengklasifikasikan dan mengevaluasi diri dan orang lain yang merupakan suatu mekanisme dimana kita merubah diri kita dari orang orang disekitar kita. Indikator mata pencaharian dalam Liliana yaitu:
mata pencaharian pokok, mata pencaharian sampingan, jenis bidang usaha, dan jumlah anggota keluarga yang bekerja. Anwar dalam Liliana (2017)di Indonesia mata pencaharian yang ditekuni penduduk dikelompokkan dalam dua bidang, bidang pertanian dan non pertanian, (1) Pertanian, Masyarakat Indonesia banyak yang menggelutin bidang pertanian disebabkan tanah dan lahan yang tersedia cukup subur dan luas untuk ditanami, (2) Berladang, Berladang adalah cara bertani berpindah-berpindah yang dilakukan dengan cara membakar hutan, (3)Bersawah, Bersawah adalah cara bertani yang pengolahannya dilakukan dengan pengairan dan pemupukan yang baik dan teratur, (4) Perkebunan, Perkebunan adalah usaha tumbuhan- tumbuha nyang menghasilkan bahan mentah industri dan komoditas ekspor dilakukan oleh rakyat, pemerintahan dan pengusaha swasta.
5 Menurut Dyekman dalam Irradhiyah (2016) bahwa pendapatan adalah arus masuk atau peningkatan lainnya atas aktivitas sebuah entitas atau penyelesaian kewajiban (atau kombinasi dari keduanya) selama satu periode dari pengiriman atau produksi barang, penyediaan jasa, atau aktifitas lain yang merupakan operasi utama atau sentra entitas yang sedang berlangsung.
Nasir dalam Irradhiyah (2016) pendapatan adalah penghasilan yang berupa uang selama periode tertentu sedangkan pendapatan rumah tangga adalah jumlah pendapatan hasil riil dari seluruh anggota yang disumbangkan untuk memenuhi kebutuhan bersama dan perorangan dalam rumah tangga.
Pendapatan merupakan suatu hal yang berkaitan dengan apa yang diusahakan dalam segala bentuk tindakan untuk menghasilkan barang dan jasa, apabila seseorang memiliki pendapatan yang tinggi maka ia akan mudah dalam meningkatkan kebutuhan sehari-harinya.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan Bab 1 Pasal 1 sebagai berikut:
“ Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari, badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial ekonomi” (11).
Soeaidy dalam susanti (2014) penyelenggaraan upaya kesehatan dilaksanakan melalui kesehatan, perbaikan gizi, pengamanan makanan dan minuman, kesehatan lingkungan, kesehatan kerja, kesehatan jiwa, pemberantasan penyakit dan pembunuhan penyakit, penyuluhan, pengamanan sedia farmasi, kesehatan sekolah, kesehatan olahraga dan pengobatan tradisonal.
Defenisi terakhir ini menganggap seseorang itu sehat apabila dilengkapi dengan kemungkinan mampu hidup produktif, dengan sendirinya akan memerlukan lebih banyak lagi investmen yang harus ditaruh padanya. Indikator kesehatan dalam Tailelen (2015) yaitu:
penyakit yang pernah diderita, tempat berobat, dan sumber biaya pengobatan.
Pendidikan merupakan usaha pengembangan kualitas diri manusia dalam segala aspeknya. Sebagai aktifitas yang disengaja, pendidikan bertujuan tertentu dan melibatkan berbagai factor yang saling berkaitan antara satu dan lainnya, seehingga membentuk satu yang saling mempengaruhi Tedi Priatna dalam Saputra (2016).
Pendidikan merupakan usaha pengembangan kualitas diri manusia dalam segala aspeknya. Kesehatan merupakan dimana kesejahteraan dari badan dan sehat jasmani dan rohani yang sangat mempengaruhi kondisi sosial
6 ekonominya. Mata pencaharian merupakan pekerjaan yang menghasilkan uang untuk bertahan hidup.
Istilah pemekaran secara etimologis berasal dari kata asalnya, yaitu mekar.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti : 1) berkembang menjadi terbuka, 2) menjadi besar dan gembung, 3) menjadi tambah luas, besar, bagus, 4) mulai timbul dan berkembang.
Kaloh dalam Putra (2015) Pemekaran daerah merupakan suatu langkah atau cara politik sebuah daerah dengan membagi atau memperluas sub wilayah dari daerah tersebut, baik daerah bagian maupun daerah Provinsi baru ataupun Kabupaten baru. Tujuan dilakukan upaya pemerintah dalam pemekaran daerah ini adalah tidak lain dengan meningkatkan keefektifan serta keefesiensian sebuah daerah dalam mengatur atau mengelola daerahnya baik dilihat dari sector perekonomian, politik serta pelayanan publik untuk masyarakat.
Dalam penelitian ini akan akan di ungkapkan bagaimana kondisi sosial ekonomi masyarakat melalui pembahasan Pendapatan masyarakat, Pendidikan masyarakat, Kesehatan masyarakat, dan Mata pencaharian masyarakat.
tujuan pemekaran daerah yakni untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui, 1) peningkatan pelayanan kepada masyarakat, 2)
percepatan pertumbuhan kehidupan demokrasi, 3) percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah, 4) percepatan pengelolaan potensi daerah, 5) peningkatan keamanan dan ketertiban, dan 6) peningkatan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah (BAPPENAS 2008).
Persyaratan dalam pembentukan daerah otonomi menurut pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah syarat administrasi, syarat teknis, dan syarat fisik kewilayahan, dan pasal (3) berisi tentang jumlah penduduk, luas wilayah, rentang kendali penyelenggaraan pelayaran pemerintah, aktifitas perekonomian dan ketersediaan sarana dan prasaran Laode dalam Irradiyah (2016).
Dalam pasal 4 ayat (3) dinyatakan:
pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersanding atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. Sedangkan dalam pasal 4 ayat (4) dalam UU tersebut dinyatakan:
pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih sebagaimana dimaksud pada ayat 3 dapat dilakukan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintah Laode dalam Irradiyah (2016).
METODE PENELITIAN
7 Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang ingin dicapai maka penelitian ini digolongkan dalam penelitian deskriptif. Penelitian Deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang bertjuan mendeskripsikan secara sistematis, dan akurat mengenai fakta- fakta dan sifat populasi tertentu.
Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan untuk menerangkan, menggambarkan, gejala-gejala, fakta- fakta, dan sifat populasi pada daerah penelitian, menerangkan variabel-variabel yang telah diajukan dengan maksud memberikan gambaran mengenai keadaan yang ada pada daerah penelitian (Arikunto, 2010).
Tabel III.1 Jumlah Populasi di Kecamatan Koto Besar Kabupaten Dharmasraya
No Nama Nagari Jumlah Penduduk
Jumlah KK
1 Abai Siat 4.732 1.377
2 Bonjol 2.452 569
3 Koto Besar 1.185 298
4 Koto Gadang 4.250 1.161
5 Koto Laweh 3.056 912
6 Koto Ranah 4.462 1.311
7 Koto Tinggi 3.029 813
JUMLAH 23.337 6.441 Sumber:Kantor Kecamatan Koto Besar Januari 2017
Sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus slovin denga proporsi 10%. Maka diperoleh sampel respondennya sebanyak 98 KK. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel III.2 di bawah ini:
Rumus:
n = 𝑁
1+𝑁. 𝑑2
n= 6441
1+6441. 0.12
n= 6441
1+6441. 0.01
n= 98 kepala keluarga Keterangan;
N= ukuran populasi n= ukuran sampel
d= persen kelongggaran (10%) Syofian Siregar (2010:145)
untuk pengambilan sampel per nagari, dapat dilihat dengan cara dibawah ini:
1.377
6.44198 = 21 kk
Jadi, sampel untuk Nagari Abai Siat sebanyak 21 kepala keluarga (kk).
Tabel III.2 Sampel Responden Penelitian
No Nama Nagari Jumlah Penduduk
Jumlah KK
1 Abai Siat 1.377 21
2 Bonjol 569 8
3 Koto Besar 298 5
4 Koto Gadang 1.161 18
5 Koto Laweh 912 14
6 Koto Ranah 1.311 20
7 Koto Tinggi 813 12
JUMLAH 23.337 98
Sumber:Pengolahan Data Sekunder
Pada teknik analisis data yang digunakan yaitu rumus persentase, sesuai dengan jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian deskriptif maka digunakan analisis deskriptif dengan rumus formula persentase (%) yang dikemukakan oleh Arikunto (2010) yaitu:
P= 𝑓
𝑛x 100%
Keterangan : p= persentase
8 f= frekuensi
n= jumlah
100%= Angka ketetapan untuk responden
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pertama, Mata pencaharian masyarakat setelah pemekaran wilayah Kecamatan Koto Besar di Kabupaten Dharmasraya, Mata pencaharian rata-rata kepala keluarga Bertani, Anggota keluarga yang bekerja adalah istri, Pekerjaan sampingan masyarakat pada umumnya ada, jenis pekerjaan sampingan masyarakat pada umumnya bertani.
Mata pencaharian masyarakat sebelum pemekaran wilayah Kecamatan Koto Besar di Kabupaten Dharmasraya ada yang bertani, buruh tani, berdagang, buruh angkut pasir, bengkel.
Mata pencaharian merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhan guna kelangsungan hidup. Mata pencaharian ini banyak macamnya, mulai dari yang bersifat tradisional sampai mata pencaharian yang bersifat modern. Dalam unsur budaya universal sistem mata pencaharian dapat diperinci kedalam sub unsur seperti berburu, berladang, pertanian, berdagang, perkebunan, industry dan jasa. Mata pencaharian dapat dibedakan atas dua hal, pertama mata pencaharian pokok dikerjakan secara terus-
menerus karena keahliannya dan fungsinya sebagai suatu pendapatan. Kedua yaitu mata pencaharian sampingan, mata pencaharian sampingan ini dikerjakan untuk mencari tambahan pendapatan dan dikerjakan secara tidak tetap dan sering berubah-ubah.
Kedua, Pendapatan rata-rata masyarakat setelah pemekaran wilayah Kecamatan Koto Besar di Kabupaten Dharmasraya 1) Pendapatan pokok rata- rata kepala Rp. 1.500.000/bulan, 2) pendapatan pokok istri, anak 1, anak 2, anak 3, dan anak 4 Tidak ada, 3) Pengeluaran rata-rata/bulan Rp.1.000.000- Rp. 2.000.000, 4) Pengeluaran rata-rata makanan/bulan Rp.500.000- Rp.1.000.000, 5) Pengeluaran rata-rata non makanan Rp.5.00.000-Rp.1000.000.
Pendapatan masyarakat sebelum terjadinya pemekaran wilayah Kecamatan Koto Besar di Kabupaten Dharmasraya menurut Bapak sekretaris Kenagarian pendapatan rumah tangga berkisar pada nominal Rp.1.200.000/bulan.
Dalam ensiklopedi indonesia yang disusun Kurniadi dalam Liliana (2017) dinyatakan bahwa pendapatan seseorang diartikan sebagai jumlah uang atau barang yang diterima sebagai hasil kerja yang dilakukan. Menurut Sastroamijoyo dalam Liliana menyatakan bahwa pendapatan adalah semua hasil yang di terima
9 seseorang kepala keluarga melalui berbagai jenis usaha kegiatan ekonomi.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pendapatan rata-rata kepala keluarga setelah pemekaran wilayah Kecamatan Koto Besar di Kabupaten Dharmasraya telah sesuai berdasarkan UMK (Upah Minimum Kabupaten) Dharmasraya Rp.1.800.725 (BPS Kabupaten Dharmasraya).
Ketiga, Pendidikan masyarakat setelah pemekaran wilayah Kecamatan Koto Besar di Kabupaten Dharmasraya 1) Pendidikan rata-rata kepala keluarga (suami) rata-rata tamat Sekolah Dasar, 2) Pendidikan terakhir istri tamatan sekolah menengah pertama, dan anak 1, anak 2, anak 3, anak 4 tidak ada.
Pendidikan masyarakat sebelum pemekaran wilayah Kecamatan Koto Besar dimana untuk melanjutkan ketingkat pendidikan SMA masyarakat harus menyekolahkan anaknya ke kecamatan tetangga salah satunya adalah Kecamatan Koto Baru. Hanya sedikit masyarakat yang melanjutkan pendidikan anak ke tingkat perguruan tinggi dikarenakan pendapatan tidak sesuai dengan jumlah biaya pengeluaran untuk pendidikan pada saat itu.
Temuan ini sesuai dengan teori Pendidikan diartikan usaha yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis untuk memotivasi, membina, membantu, serta
membimbing seseorang untuk mengembangkan segala potensinya sehingga ia mencapai kualitas diri yang lebih baik. Inti pendidikan adalah usaha pendewasaan manusia seutuhnya (lahir dan batin), baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain, dalam arti tuntunan agar anak didik memiliki kemerdekaan berfikir, merasa, berbicara dan bertindak serta percaya diri dengan penuh rasa tanggung jawab dalam setiap tindakan dan perilaku sehari-hari Tatang (12:2012).
Keempat, Kesehatan masyarakat setelah pemekaran wilayah Kecamatan Koto Besar di Kabupaten Dharmasraya, Jenis penyakit yang diderita oleh anggota keluarga demam, Tempat berobat keluarga puskesmas, 3) sarana kesehatan disekitar tempat tingga bidan,4) Jaminan kesehatan yang digunakan masyarakat pada umumnya untuk berobat Tidak ada.
Kesehatan masyarakat sebelum pemekaran wilayah Kecamatan Koto Besar dimana masyarakat lebih banyak menggunakan pengobatan tradisional untuk berobat, karena pada saat itu belum tersedianya sarana kesehatan seperti PUSKESMAS.
Istilah kesehatan dalam UU Republik Indonesia No. 23 Tahun 1992 kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
10 produktif secara sosial dan ekonomis (Putra 2009).
Penyelenggaraan upaya kesehatan dilaksanakan melalui kesehatan, perbaikan gizi, pengamana makanan dan minuman, kesehatan lingkungan, kesehatan kerja, kesehatan jiwa, pemberantasan penyakit, dan pembunuhan penyakit, penyuluhan, pengamanan sedia farmasi, kesehatan sekolah, kesehatan olahraga dan pengobatan tradisional. Soeaidy dalam Susanti (2014).
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian pada deskripsi data dan pembahasan data dapat dambil kesmpulan bahwa:
1. Pendapatan masyarakat setelah pemekaran wilayah Kecamatan Koto Besar di Kabupaten Dharmasraya adalah pada rata-rata nominal >Rp.
1.500.000 /bulan.
2. Mata pencaharian rata-rata masyarakat setelah pemekaran wilayah Kecamatan Koto Besar di Kabupaten Dharmasraya pekerjaan pokok Bertani.
3. Pendidikan rata-rata masyarakat setelah pemekaran wilayah Kecamatan Koto Besar di Kabupaten Dharmasraya tamat sekolah dasar.
4. Jaminan kesehatan yang digunakan rata-rata oleh masyarakat setelah pemekaran wilayah Kecamatan Koto
Besar di Kabupaten Dharmasraya untuk berobat tidak ada.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto. (2010). Prosedur Penelitian.
Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Basrowi dan Juariyah. (2010). Analisis Kondisi Sosial Ekonomi Dan Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Srigading, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur. Jurnal Ekonomi dan Pendidikan Volume 7 Nomor 1. HLM 58-81.
Dodi, Saputra (2016). Studi Perkembangan Kenagarian Koto Besar Pasca Pemekaran Dari Kecamatan Sungai Rumbai Di Kabupaten Dharmasraya. Jurnal Penelitian. Padang
Irradiyah dan Azmi annisa (2016).
Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat di Wilayah Pemekaran Kabupaten Muratara di Kecamatan Rupit Kabupaten Muratara (Musi Rawas Utara). Jurnal Penelitan.
Padang
Junirman, Tailelen. (2015). Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Bulasat Kecamatan Pagai Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Jurnal Penelitian. Padang
Liliana. (2017). Perbandingan Sosial Ekonomi Masyarakat Nagari Tabek
11 Dan Nagari Panyubarangan Kecamatan Timpeh Kabupaten Dharmasraya. Penelitian. Padang Koto Besar Dalam Angka. (Koto Besar
In Data). 2016. Penerbit BPS Kab Dharmasraya
Putra. (2015). Komparasi Produksi Karet Antara Kecamatan Pancung Soai dengan Kecamatan Kabupaten Pesisir Selatan. Jurnal Penelitian.
Padang
Putra. (2009). Studi sosial ekonomi petani padi penangkar di kenagarian sungai dareh kecamatan pulau punjung kabupaten dharmasraya. Jurnal Penelitian. Padang
Siregar, Syofian. (2010). Statistika deskriptif Untuk Penelitian Dilengkapi Perhitungan Manual dan Aplikasi SPSS Versi 17.
Jakarta: PT. RAJAGRAFINDO PERSADA.
Susanti. (2014). Dampak Pemekaran Wilayah Terhadap Kesejahteraan Di Kabupaten Lampung Utara.
JEP-Vol. 3, N0 2. HLM 250-251