Asas Kafaah Dalam Pola Hubungan Suami Istri (Studi di Balusu Kabupaten Barru)”, yang merupakan bahan keilmuan sekaligus salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan memperoleh gelar “Sarjana Hukum (S.H)” pada Fakultas Hukum. Syariah dan Ilmu Hukum Islam, Institut Agama Islam Negeri.Perkawinan yang pernah dilangsungkan oleh suami istri juga pernah berakhir dengan perceraian. 7Nanda Himyatul Ulya, “Pola Hubungan Suami Istri dan Perbedaan Status Sosial (Studi Kasus di Kota Malang)” (Tesis Program Magister: Ahwal Al-Syakhsyiah), hal.
Oleh karena itu, peneliti bertujuan untuk mengkaji dan menyajikan fenomena tersebut dalam bentuk disertasi yang berjudul: Asas Kafaah dalam Pola Hubungan Suami Istri (Studi di Balusu Kabupaten Barru).
Rumusan Masalah
Jadi 'urf yang merupakan perbuatan itu ibarat saling pengertian antar manusia mengenai jual beli, sehingga kita saling memberi tanpa shīgat lafzhīyyah (mengungkapkannya dengan kata-kata). Urf diwujudkan atas persetujuan semua orang dengan persetujuan mayoritas, dan pengingkaran sebagian tidak merugikan terbentuknya 'urf. Imam Syafi'i yang mazhabnya dianut sebagian besar masyarakat Indonesia, menggunakan 'urf sebagai landasan dalam menetapkan hukum Islam.
Teori 'urf dan hubungannya dengan asas kafa dalam perkawinan dirumuskan oleh para fuqaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat pada saat itu.
Teori Penegakan Hukum
Urf merupakan salah satu pernyataan atau sumber hukum sehari-hari yang penjelasannya menjadi bahan pembahasan ushul al-fiqh. Dari sudut pandang ini, ushul al-fiqh merupakan karya besar Imam Syafi'i dalam mensistematisasikan kaidah deduksi dan penafsiran hukum Islam melalui magnum Karyanya, al-Risala, lahir dengan misi regulatif.20 Cara ushul al-fiqh karya fiqh adalah menjelaskan dalil-dalil dan metode-metode menurunkan hukum yurisprudensi dari sumbernya. Dalam arti luas penegakan hukum juga mencakup nilai-nilai keadilan yang diwujudkan dalam bunyi aturan formal dan nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat. Namun dalam arti sempit, penegakan hukum hanya mencakup penegakan peraturan formal dan tertulis.
Yang dimaksud dengan hukum sebagai panglima tertinggi adalah hukum yang berada di garda depan dan mampu menjawab nilai-nilai keadilan dalam masyarakat untuk mewujudkan masyarakat sejahtera. Dalam konteks penegakan hukum di Indonesia, hukum responsif mengandung makna bahwa penegakan hukum tidak bisa dilakukan setengah hati. 21Muhammad Zulfadli, Kasman Abdullah, Fuad Nur, “Penegakan Hukum yang Responsif dan Adil Sebagai Instrumen Perubahan Sosial untuk Membentuk Karakter Bangsa”, Seminar Nasional 22 Oktober 2016, Makassar, hal.
Hukum menjadi satu kesatuan dengan penegak hukum yang tidak dapat dipisahkan oleh ruang dan waktu dalam kehidupan masyarakat. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mempunyai prinsip bahwa kegiatan perlindungan anak mempunyai akibat hukum, baik yang berkaitan dengan peraturan perundang-undangan yang tertulis maupun tidak tertulis. Arif Gosita menyatakan kepastian hukum harus diupayakan demi kelangsungan kegiatan perlindungan anak dan mencegah terjadinya penyimpangan yang menimbulkan akibat negatif yang tidak diinginkan dalam penyelenggaraan perlindungan anak.22.
Perlindungan anak mencakup segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak beserta hak-haknya agar mereka dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan martabat kemanusiaan, serta terlindungi dari kekerasan dan diskriminasi. Tujuan perlindungan anak adalah untuk menjamin terpenuhinya hak-haknya agar mereka dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan fitrah dan martabat kemanusiaan, serta terlindungi dari kekerasan dan diskriminasi, sehingga dapat lahir anak Indonesia yang berkualitas, mempunyai akhlak mulia dan sehat.
Tinjauan Konseptual 1. Pengertian Kafaah
Kata kufu atau kafa'ah dalam konteks pernikahan islami mempunyai arti adanya keharmonisan keadaan antara calon suami dan calon istrinya. Sifat kafa artinya sifat perempuan yang dalam perkawinan dianggap ada pada laki-laki yang mengawinkannya.25 Sedangkan menurut sumber lain, yang dimaksud dengan kufu dalam perkawinan adalah laki-laki yang sederajat dengannya. calon isterinya atau perempuan yang sederajat antara calon isterinya dengan calon suaminya, sederajat kedudukannya, sederajat dalam derajat sosialnya, dan sederajat dalam akhlak dan harta. Kafa atau kufu menurut bahasanya berarti sederajat, seimbang, atau serasi/ serasi, serupa, sederajat atau genap, yang dimaksud dengan kafa'ah atau kufu dalam perkawinan menurut syariat islam adalah keseimbangan dan keharmonisan antar calon suami. dan istri agar setiap calon tidak merasa kesulitan untuk menikah26.
Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal-mengenal. Menentukan kafaah merupakan hak bagi laki-laki dan perempuan untuk menentukan pilihan hidupnya. Adapun bagi wanita yang ingin dinikahkan oleh walinya dengan orang yang tidak menganut kufu, maka boleh menolak atau tidak memberikan izin untuk dinikahkan oleh walinya. Bisa juga dikatakan hak yang dikawini adalah wali, sehingga apabila anak perempuan itu menikah dengan laki-laki yang tidak mempunyai hubungan darah, maka wali dapat turun tangan untuk mencegah perkawinan itu. Para ahli fiqih menggambarkan konsep kafa’ah dengan mengatakan bahwa apabila seorang laki-laki dan seorang perempuan hendak menikah, maka harus antara mereka yang sederajat, artinya laki-laki dan perempuan itu dipandang selaras dengan keadaan, setara dalam masyarakat. , sama akhlaknya yang baik, hartanya seimbang dan lain sebagainya.
Hadirnya perdebatan panjang mengenai konsep qafah dalam kitab-kitab klasik fiqh sangat turut meramaikan khazanah dialogis yang dibangun oleh para ulama fiqh tentang apa sebenarnya qafah dalam Islam31. Keadaan ini tentu saja karena peran para ulama fiqih yang telah merumuskan konsep kafa dan seperti biasa akan terjadi perbedaan pemahaman antar para ahli mengenai kafa, oleh karena itu patut juga kita mencermati perbedaan pendapat tersebut. para ahli fiqh tersebut. Banyaknya ulama yang menerima adanya kafa dalam perkawinan mempunyai patokan tersendiri dan berbeda pendapat.
Para ulama fiqih banyak mengulas tentang kopi dalam buku Bughyatul Mustarsyidin karya Sayyid Ba’alawi al-Hadhrami. parameter calon suami istri yaitu gender, kredibilitas, akhlak dalam ilmu dan ketakwaan serta pandangan dan wawasan keislaman. Ketiga, sebagaimana dikemukakan al-Adzra'I dan Ibnu Rif'ah, parameter kopi seperti di atas adalah berkaitan dengan kredibilitas, karya, ilmu, ketakwaan.
PERNIKAHAN
PRINSIP KAFAAH
Lokasi dan Waktu Penelitian
Waktu yang digunakan dalam melaksanakan penelitian ini kurang lebih dua bulan untuk memperoleh data yang dibutuhkan (sesuai kebutuhan peneliti).
Fokus Penelitian
Jenis dan Sumber Data yang digunakan
Dalam penelitian ini data sekundernya adalah tentang prinsip kafa dalam model hubungan suami istri. Cara ini mempunyai beberapa kelebihan, seperti penyajian objek media secara nyata, sehingga mudah dan sederhana dalam penerapannya. Cara melakukan observasi adalah dengan menentukan objek apa yang akan diamati, membuat petunjuk observasi sesuai dengan ruang lingkup objek yang akan diamati, menetapkan secara jelas data apa saja yang harus diamati, baik primer maupun sekunder, serta menentukan tempat dan waktu. waktu observasi.
Observasi adalah suatu cara pengumpulan data informasi bahan yang dilakukan dengan menggunakan pengamatan secara sistematik dan pencatatan terhadap fenomena-fenomena yang diamati. Selain itu, perlengkapan dan kondisi yang diperlukan untuk melakukan wawancara juga harus ditentukan dalam panduan wawancara. Wawancara adalah cara mengumpulkan data melalui kontak atau hubungan pribadi antara pengumpul data dan sumber data.
Dokumentasi merupakan suatu metode pengumpulan data yang memberikan catatan-catatan penting mengenai permasalahan yang diteliti sehingga diperoleh data yang lengkap dan valid, bukan sekedar pemikiran saja. Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh berbagai data atau informasi mengenai permasalahan yang diteliti.
Teknik Analisis Data
Oleh karena itu, pembahasan pertama terkait pemahaman masyarakat Balusu mengenai pernikahan kafaah atau keharmonisan suami istri. Pada prinsipnya pemahaman umum masyarakat Balusu tentang kopi, baik tentang pentingnya kopi, prinsip kopi dalam pola hubungan suami istri, masih sangat rendah, hal ini disebabkan kurangnya informasi dan pengetahuan tentang kopi. Jika berbicara mengenai permasalahan pemahaman masyarakat Balusu mengenai ngopi atau kecocokan suami istri, menurut Bapak H.
Balusu bahwa masyarakat Balusu kurang memahami apa yang dimaksud dengan makna kafaah dan hubungannya dengan suami istri. Selain itu dari hasil wawancara Ibu Asmayani diatas memberikan penjelasan mengenai kategorisasi kafaah pada masyarakat Balusu. Balusu bahwa ketika masyarakat Balusu ingin menikah maka yang terpenting bagi seorang suami istri adalah agama.
Berdasarkan beberapa hasil wawancara dan interpretasi beberapa informan di atas, dapat dipahami bahwa pemahaman masyarakat Balusu ada kaitannya. Prinsip ngopi yang juga menjadi hal utama dalam masyarakat Balusu adalah pentingnya edukasi bagi masyarakat dalam kehidupan rumah tangga, yang dapat menjadikan suami istri dan keluarga inti saling memahami, sehingga terciptalah sakinah. keluarga dapat tercipta. Menurut sebagian Balusu, pengkategorian kopi berdasarkan garis keturunan atau asal usul merupakan hal yang penting dalam perkawinan.
Berdasarkan hasil wawancara di atas terhadap beberapa informan, dapat dipahami bahwa dalam penerapan kafaah pada masyarakat Balusu, mereka telah menerapkan prinsip-prinsip kafaah dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, dari uraian di atas dapat kita pahami bahwa masyarakat Balusu sangat mengharapkan terbentuknya keluarga sakinah dalam keluarga. Oleh karena itu, salah satu cara penanganan perceraian khususnya pada masyarakat Balusu adalah melalui tugas dan fungsi Badan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) pada Kantor Urusan Agama serta memberikan penyuluhan pranikah yang kita kenal dengan istilah Kurus Pengantin. dan Pengantin Pria ( Suscatine).
Berdasarkan berbagai hasil wawancara dan penjelasan di atas, kita dapat memahami bahwa kedudukan kafaah dalam menangani perceraian khususnya pada masyarakat Balusu memegang peranan yang sangat penting. Masyarakat Balusu memandang bahwa dalam sebuah perkawinan yang terpenting dari segi agama adalah pemahaman agama yang baik, akhlak dan akhlak yang baik. Kedudukan kafaah dalam mengatasi perceraian pada masyarakat Balusu adalah adanya kafaah atau keharmonisan dalam sebuah rumah tangga sangat diperlukan oleh sepasang suami istri.