• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DI DESA SILIMA BANUA TAHUN 2022

N/A
N/A
jeffry louis

Academic year: 2023

Membagikan "PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DI DESA SILIMA BANUA TAHUN 2022"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

SUBPROPOSAL

PROGRAM PENGUATAN KAPASITAS ORGANISASI KEMAHASISWAAN (PPK ORMAWA)

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DI DESA SILIMA BANUA TAHUN 2022

OLEH:

No. Nama NIM Tahun Angkatan

1. Wina Frederika Sarumaha 19200241027 2019

2. Asri Yanti Laia 19200241003 2019

3. Dayanti Hulu 19200241004 2019

4. Defirman Zebua 19200241005 2019

5. Ester Santi Hulu 19200241008 2019

6. Fatulusi Giawa 19200241011 2019

7. Karman Yoga Dachi 19200241017 2019

8. Kristiyan Candra Hulu 19200241018 2019

9. Nofaebua Dodo Daeli 19200241019 2019

10. Isa Noni Fati Lafau 19200241015 2019

11. Odorikus Sirahugo Harita 19200241020 2019

12. Henti Wirana Ndruru 20200241025 2020

13. Suci Murni Wartawati Buulolo 20200241043 2020

14. Noitolo Halawa 19200251045 2019

UNIVERSITAS NIAS RAYA TELUKDALAM

2022

(2)
(3)

ii DAFTAR ISI

Halaman Sampul

Halaman Pengesahan... i

Daftar Isi ... ii

Ringkasan Subproposal ... 1

Pendahuluan ... 2

Solusi Permasalahan ... 5

Tujuan ... 8

Indikator Keberhasilan Program ... 8

Luaran yang Diharapkan ... 9

Manfaat ... 9

Metode Pelaksanaan ... 10

Jadwal Kegiatan ... 12

Rancangan Biaya ... 13

Lampiran ... 15

(4)

1 RINGKASAN SUBPROPOSAL

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang telah lama merdeka dari penjajahan. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa sekarang ini masyarakat Indonesia masih mengalami penjajahan, mungkin bukan penjajahan seperti yang dahulu, tapi lebih pada kurangnya kebebasan untuk mengekspresikan dirinya sendiri. Hal ini banyak dirasakan oleh kaum perempuan. Seperti di Desa Silima Banua, Kec. Ulu Idanotae, Kab Nias Selatan banyak problematika yang dialami perempuan berkaitan dengan kebebasan mengekspresikan dirinya. Diantaranya perempuan lebih dominan bekerja, perempuan mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), maraknya kasus pernikahan dini, kurangnya peran penting perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, dan rendahnya keterampilan perempuan yang ada di masyarakat.

Permasalahan ini dapat terjadi karena kurangnya pemahaman perempuan tentang betapa pentingnya perempuan itu. Tentu setiap permasalahan memilik solusi, dalam hal ini perlu dilakukan pemberdayaan perempuan di Desa Silima Banua, mereka diajak untuk berinovasi dan berkreatifitas untuk menciptakan ekonomi mandiri, diberikan pemahaman tentang bagaimana mengatasi tindak KDRT, diberikan pelatihan bagaimana agar perempuan yang masih di bawah umur lebih memilih untuk meningkatkan soft skill dan hard skill nya, dan diberikan pelatihan dan pendampingan betapa pentingnya perempuan itu sehingga dapat terjun dalam dunia bermasyarakat. Pemberdayaan perempuan ini bertujuan untuk memberi pemahaman kepada masyarakat luas bahwa mencari nafkah adalah tanggung jawab bersama, memberi pembimbingan kepada perempuan yang sering mengalami kekerasan dalam rumah tangga, menghimbau masyarakat terutama perempuan akan kesadaran terhadap pernikahan dini, memberikan pengarahan tentang peran dan hak perempuan dalam keluarga dan masyarakat, dan membekali perempuan agar terampil dalam dunia ekonomi.

Luaran yang akan dicapai setelah kegiatan ini berlangsung adalah Buku Pengembangan Soft skills Tematik, ringkasan eksekutif, media publikasi elektronik, serta Poster dan profil hasil pelaksanaan program. Selain itu ada juga luaran tambahan yaitu hasil kegiatan ini akan dijadikan artikel ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal nasional dan atau internasional. Kemudian untuk kegiatan ini memerlukan metode pelaksanaan yang terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan program, pelaksanaan program, evaluasi program dan pembuatan laporan. Di setiap tahap kegiatan ini baik Ormawa dan kelompok sasaran saling terlibat aktif dalam mensukses kegiatan program ini.

(5)

2 PENDAHULUAN

Perkembangan zaman pada abad ke 21 ini sangat pesat, terbukti dengan terciptanya berbagai teknologi canggih dan terlahirnya sumber daya manusia yang berkompeten pada bidangnya. Hal ini terjadi karena negara ataupun pemerintah telah membuka ruang seluas-luas bagi setiap individu dan memberikan hak bagi mereka untuk mendapatkan pendidikan. Dalam UUD pasal 31 ayat 1 dan 2 tertulis bahwa “setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya, negara juga memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang kurangnya 20% dari APBN dan APBD”. Sehingga melalui pendidikan setiap individu diberi pengajaran, pelatihan dan pembekalan dan menjadi manusia yang tangguh, berkompeten, beriman, dan berbudi pekerti.

Pemberian hak dalam mengikuti pendidikan, merupakan hal yang diharapkan setiap individu. Karena tidak ada satupun individu di muka bumi tidak ingin belajar dan tidak ingin menjalani pendidikan. Hal ini menandakan bahwa adanya kepedulian masyarakat terhadap pendidikan. Meskipun begitu masih banyak individu yang berada di tengah tengah masyarakat yang belum sepenuhnya mampu mengikuti pendidikan, yang disebabkan oleh karena beberapa faktor di antaranya: faktor ekonomi, faktor sosial, faktor kesehatan mental dan jasmaniah serta faktor lainnya. Beberapa faktor tersebut menjadi kendala bagi mereka untuk mengikuti pendidikan seperti manusia pada umumnya.

Terkhusus pada faktor sosial, perbedaan hak dan kewajiban sangat jelas terlihat di tengah- tengah masyarakat. Masih terdapat perbedaan derajat ataupun kedudukan antara orang kaya dengan orang miskin, golongan bangsawan dengan golangan masyarakat biasa, dan yang lebih mirisnya lagi, sampai pada hari ini masih terdapat dan terlihat menonjol perbedaan derajat antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut, menimbulkan kecemasan, ketakutan, merasa tidak dianggap, merasa tidak bernilai, mendapatkan tekanan baik fisik maupun psikis. Hal ini dirasakan oleh beberapa orang atau sekompok orang yang berada di masyarakat. Keadaan ini tidak baik, karena akan mengganggu kelangsungan hidup oleh setiap orang.

Perlakuan perbedaan gender di masyarakat bukan hal baru, bahkan hampir dalam berbagai aspek, kedudukan perempuan itu menjadi nomor dua dan dianggap terbelakang dibanding laki-laki.

Karena masyarakat masih terdoktrin dengan pemikiran bahwa perempuan itu merupakan kaum lemah dan hanya mampu mengurus kegiatan domestik saja, sedangkan laki-laki diberikan kebebasan mengembangkan karir, bekerja di luar rumah, dan berurusan dengan publik. Dalam pemikiran masyarakat, bahwa kodrat seorang perempuan hanya mampu melakukan kegiatan- kegiatan rumah, contohnya: memasak, mencuci, mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Pada hal jika dipahami dari pengertiannya, kodrat itukan sesuatu hal yang sudah digariskan oleh Tuhan yang tidak dapat diubah-ubah, misalnya mengandung dan melahirkan. Sementara jika

(6)

3

perempuan mampu melakukan pekerjaan rumah itu bukan kodrat tetapi keterampilan. Artinya bahwa kaum laki-laki pun sebenarnya dapat melakukannya, tidak hanya dipusatkan pada kegiatan perempuan. Tetapi nyatanya tidak dapat seperti itu, karena ketika suami atau laki-laki melakukan pekerjaan rumah, itu dianggap menyalahi kodrat sebagai laki-laki.

Beberapa masalah tersebut menjadi alasan mengapa peran laki-laki dan perempuan tidak dapat disetarakan di masyarakat desa, karena banyak hal yang mengikat dan banya dalil mereka yang kemudian menurunkan kedudukan perempuan. Jika dipandang dari sisi adat, tetap kedudukan laki-laki di atas perempuan. Begitu juga dari sisi agama, kedudukan perempuan berada di bawah kedudukan laki-laki. Hal semacam inilah yang kesulitan untuk mengubah pemikiran masyarakat.

Walau sebenarnya pemikiran yang salah, tetapi tetap menjadi bagian penting dan isu yang sangat sensitif di tengah-tengah masyarakat.

Sesungguhnya perempuan memiliki hak yang sama dengan laki laki baik itu dibidang pendidikan, sosial, ekonomi dan budaya. Pemerintah secara resmi telah menganut dan menetapkan asas persamaan antara perempuan dan laki laki sebagai mana termuat dalam UUD 1945 Pasal 27

“segala warga negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualian”.

Hal yang sama telah dinyatakan dalam instrumen hukum Indonesia yang melandasi perwujudan persamaan dan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara termuat dalam UU No.7 Tahun 1984 tentang pengesahan konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination Against Woman). Sehingga bisa kita tarik kesimpulan bahwa stereotip masyarakat selama ini tentang derajat perempuan lebih rendah daripada laki-laki adalah salah.

Dahulu kala banyak keluarga yang memilih untuk tidak menyekolahkan anak perempuannya. Namun, sekarang pemikiran itu telah berubah jika dilihat banyaknya kaum perempuan yang telah mengenyam pendidikan hingga jenjang yang tinggi. Anggapan yang mengatakan bahwa perempuan merupakan kaum lemah, merupakan pandangan yang salah. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya perempuan-perempuan masa kini yang berhasil mengukir prestasi bahkan berperan penting di banyak bidang contohnya di bidang politik, pendidikan, bisnis dan lain- lain. Contoh perempuan masa kini yang berhasil dan cukup kita kenal adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia masa jabatan 2014-2019 yaitu Susi Pudjiastuti. Contoh lainnya adalah Ibu Raden Ajeng Kartini yang berperan memperjuangkan hak-hak perempuan pribumi yang tidak mendapatkan kesetaraan dengan kaum laki-laki. Artinya bahwa kiprah seorang perempuan di muka bumi sudah tidak diragukan lagi dan mampu menyetarakan dirinya dengan kaum laki-laki.

Sebenarnya jika dipandang dari pengertian kata perempuan, menurut Sudarwati dan D.

Jupriono menyebutkan bahwa secara etimologis, kata perempuan berasal dari kata empu yang

(7)

4

berarti tuan, „orang yang mahir atau berkuasa‟. Kata perempuan juga berhubungan dengan kata ampu artinya sokong dalam arti memerintah, penyangga, penjaga keselamatan. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut mendefinisikan bahwa perempuan adalah makhluk yang memiliki kemampuan memerintah atau menyokong kehidupan bahkan berperan dalam menjaga keselamatan harkat dan martabatnya.

Sesungguhnya pada zaman ini, perbedaan gender sudah tidak baik menjadi permasalahan dalam masyarakat. Karena jika dipandang dalam ranah hukum, laki-laki dan perempuan punya hak sama. Tetapi kenapa kemudian masih tetap menjadi masalah di tengah-tengah masyarakat dikarenakan kurangnya kepedulian mereka terhadap perempuan. Karena kurangnya perhatian masyarakat terhadap perempuan, maka perempuan sering sekali mendapatkan perlakukan tidak adil baik dalam keluarga maupun di masyarakat luas. Seperti yang terjadi di Desa Silima Banua, Kecamatan Ulu Idanotae, Kabupaten Nias Selatan, bahwa di masyarakat ini perlakuan tidak adil pada perempuan masih sangat kentara. Dapat kita lihat dari kejadian-kejadian yang pernah terjadi diantaranya:

1. Perempuan lebih dominan bekerja, dimana laki-lakinya kurang peduli dalam bertanggung jawab terhadap keluarganya sehingga perempuan terpaksa bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

2. Seringkali terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seringkali terjadi karena ketidakadilan dalam rumah tangga.

3. Kaum perempuan seringkali mendapatkan ketidakadilan dalam mengenyam dunia pendidikan, yang mengikuti pendidikan lebih banyak didominasi oleh kaum laki-laki.

4. Di desa ini masih sering ditemui kasus pernikahan dini.

5. Kurang kepedulian masyarakat terhadap kaum perempuan, seringkali perempuan menjadi sasaran dan korban terjadi kasus kriminalitas.

6. Di desa ini juga perempuan tidak diberi kesempatan untuk memiliki peran penting dalam masyarakat. Bahkan tidak diberikan ruang bagi perempuan utk bertanya dan menyampaikan pendapat, memberikan sanggahan atau kritikan

Hal ini menciptakan posisi perempuan berada pada situasi yang kejepit dan tidak mampu berbuat apa-apa. Keadaan ini sangat membatasi ruang gerak perempuan untuk mampu berkarya, mengejar karir, hanya fokus pada tuntutan masyarakat, tuntutan adat dan tuntutan kebiasaan masyarakat tradisional, bahwa perempuan hanya mampu berurusan dengan kegiatan domestik saja.

Permasalahan yang terjadi di Desa Silima Banua ini tidaklah baik jika dibiarkan begitu saja, perlu ada perhatian pemerintahan setempat ataupun dari pihak manapun untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat luas tentang hak-hak perempuan dan tentang kesetaraan gender.

Makna kesetaraan gender ini, bukan berarti aka ada penyamaan antara laki-laki dan perempuan,

(8)

5

bukan begitu tetapi yang diharapkan pada kesetaraan gender ini adalah membuka ruang akses bagi perempuan untuk berkarir, untuk terlibat dalam organisasi dan terhadap publik. Maka salah satu tindakan yang dilakukan adalah kebiasaan-kebiasaan yang salah itu harus bisa dikikis dan ditinggalkan. Karena dampaknya tidak hanya pada hari ini, tetapi merusak pandangan generasi berikutnya, dimana seterusnya mereka akan beranggapan bahwa perempuan itu tidak memiliki peran penting dalam masyarakat.

Proses pengikisan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu upaya dan tindakan dalam memberikan kesadaran dan pemahaman kepada masyarakat luas tentang kedudukan perempuan melalui kegiatan pemberdayaan perempuan. Pemberdayaan perempuan adalah proses penyadaran dan pembentukan kapasritas (capacity building) terhadap partisipasi yang lebih besar seperti keluasan, pengawasan, dan pengambilan keputusan serta tindak transformasi yang mengarah pada perwujudan persamaan derajat yang lebih besar antara perempuan dan laki-laki.

Pemberdayaan perempuan bukan terpaku pada satu bidang saja, namun pemberdayaan juga dapat dilakukan di berbagai bidang, contohnya di bidang politik, ekonomi hingga kemampuan berorganisasi. Dengan adanya pemberdayaan ini dapat membantu perempuan untuk menggali lebih dalam dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Sejatinya sebuah pemberdayaan bertujuan untuk membuat seseorang mampu melakukan sesuatu secara mandiri tanpa harus tergantung pada orang lain. Kemandirian yang ada sebagai hasil dari sebuah pemberdayaan dalam bentuk kemandirian ekonomi, kemandirian politik dan lain-lain. Pemberdayaan sebagai suatu kegiatan yang membuat orang dapat melakukan perubahan dalam dirinya dengan melalui sebuah proses yang dapat berlangsung secara singkat ataupun melalui sebuah proses yang panjang.

Kegiatan pemberdayaan ini dilakukan melalui kegiatan pengajaran non formal, dalam memberikan pembekali kepada kaum perempuan tentang penyelesaian permasalahan yang dialami, pengetahuan bagaimana berorganisasi, pengetahuan tentang keterampilan, dan pengetahuan peran sebagai perempuan baik dalam keluarga, anggota keluarga dan masyarakat. Dan secara keseluruhan kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas perempuan dalam kehidupan bermasyarakat.

SOLUSI PERMASALAHAN

Berdasarkan uraian pada pendahuluan, maka ada beberapa permasalahan yang diperoleh:

1. Perempuan menjadi tulang punggung dalam mencari nafkah keluarga.

2. Seringkali terjadi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang disebabkan oleh karena rendahnya pandangan suami/ laki-laki terhadap istri/ perempuan.

3. Tindakan melakukan kasus pernikahan dini terhadap perempuan seringkali terjadi.

4. Kurangnya perhatian terhadap hak peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat.

5. Rendahnya keterampilan perempuan yang ada di masyarakat.

(9)

6

Berdasarkan permasalahan di atas, maka dibutuhkan suatu solusi guna meminimalisir tindakan atau perlakuan ketidakadilan terhadap perempuan. Solusi dalam hal ini melalui kegiatan pemberdayaan perempuan. Kegiatan ini dilakukan guna memperbekali perempuan tentang bagaimana memahami diri sebagi makhluk yang mampu dan mandiri serta juga mampu dalam memegang peranan penting dalam masyarakat, maka pemberdayaan perempuan dapat dilakukan.

Pemberdayaan ini dapat dimulai dengan melakukan sosialisasi tentang pemberdayaan perempuan. Secara sederhana sosialisasi dapat dipahami sebagai proses internalisasi adanya nilai dan norma sosial yang diserap oleh masyarakat. Sosialisasi yang dimaksudkan dalam hal ini adalah pengenalan hak-hak dan kewajiban perempuan, agar mampu mempelajari pola-pola kehidupan selama ini yang telah terjadi dan mampu menyandingkan diri dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam sosialisasi ini nantinya akan diungkapkan betapa perempuan itu adalah makhluk yang penting dan berharga, dimana tidak ada yang namanya perbedaan antara perempuan dan laki- laki. Pemahaman tentang kerapnya dipandang lemah sehingga sering menjadi sasaran kekerasan maupun kriminalitas juga akan dibahas dalam sosialisasi. Perlu ditekankan perempuan bisa melindungi dirinya sendiri dan mengupayakan dirinya agar terhindar dari kekerasan dan kriminalitas.

1. Pada permasalahan yang pertama di Desa Silima Banua ini dikatakan bahwa perempuan lebih dominan bekerja atau lebih memegang peranan untuk mencari nafkah.

Yang diharapkan pada keluarga adalah bukan siapa yang dominan atau tidak, karena suami/istri dan laki-laki/perempuan sesungguhnya memiliki tanggungjawab yang sama dalam mempertahankan kehidupannya dan kehidupan keluarga. Maka pada kegiatan ini akan diberikan pemahaman kepada masyarakat luas perlunya keadilan dalam pembagian tanggungjawab dan hak baik kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.

2. Permasalahan yang kedua yang disebutkan adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

KDRT berpengaruh dalam siklus kehidupan perempuan itu sendiri dan kehidupan berkeluarga. Karena KDRT ini dapat mengganggu kesehatan mental perempuan bahkan bisa menimbulkan trauma berkepanjangan. Dalam sosialisasi yang dilakukan, perempuan akan diberi pembinaan tentang tindakan yang harus dia lakukan jika mengalami KDRT. Yang pertama pastinya harus melakukan komunikasi, karena untuk menghindari kekerasan diusahakan harus mengkomunikasikan permasalahan yang ada dengan kepala dingin. Yang kedua adalah memberi tahu orang terdekat. Yang ketiga jika cara sebelumnya tidak berhasil, maka lakukan upaya penyelamatan diri, bahkan bisa melaporkan kepada pihak berwajib.

3. Permasalahan yang ketiga adalah kasus pernikahan dini.

Dalam sosialisasi yang dilakukan akan diberitahukan bahwa dewasa fisik tidak boleh dijadikan dasar untuk sekedar memperbolehkan anak untuk menikah dini. Seperti dikatakan

(10)

7

dalam UU No.1 tahun 1974 pasal 1 tentang Perkawinan, pernikahan dianggap sah bila perempuan telah lebih dari 16 tahun dan untuk laki-laku di atas 19 tahun. Dengan adanya peraturan ini berarti menegaskan ada pertimbangan bahwa dewasa secara umum dan kesehatan reproduksi secara matang nantinya akan berpengaruh pada kesehatan hubungan keluarga. Dalam sosialisasi nantinya akan diberikan pelatihan bagaimana agar perempuan yang masih di bawah umur lebih memilih untuk meningkatkan soft skill dan hard skill nya. Dengan adanya kesadaran ini perempuan yang masih di bawah umur akan dilatih melakukan hal-hal positif yang mendukung pendidikannya, bahkan kemungkinan berkarir lewat kegiatan yang melatih kreativitas. Dengan bisanya perempuan melatih kemampuannya, perempuan menjadi tidak bergantung pada orang lain, sehingga tidak memaksakan diri untuk menikah dini.

4. Permasalahan keempat; kurangnya perhatian terhadap hak dan peran perempuan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat

Adanya anggapan bahwa perempuan itu cukup menugaskan dirinya sebagai ibu dan istri membuat peranan perempuan dalam masyarakat sangat minim. Padahal sebenarnya seperti yang dinyatakan di pendahuluan, banyak perempuan yang memiliki peran penting dalam keberlangsungan pembangunan bangsa dan Negara. Bagaimana perempuan bisa memiliki peran dalam masyarakat adalah dengan memiliki pengetahuan yang luas, dan salah satu cara memiliki pengetahuan yang luas adalah dengan mengikuti pendidikan. Dan bukan hanya melalui pendidikan formal, perempuan juga bisa mengikuti pendidikan-pendidikan non-formal untuk meningkatkan kualitas dirinya.

Peran perempuan sebagai anak juga cukup sulit dalam pandangan masyarakat. Dalam hal ini pergerakan sangat terbatas oleh budaya yang terbentuk di masyarakat. Seperti anak perempuan tidak boleh melakukan ini tidak boleh melakukan itu, banyak dibatasi dan dilarang.

Sehingga tidak memiliki keberanian untuk mencoba hal baru, hingga mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam masyarakat. Jadi sasaran yang akan dicapai dari sosialisasi, pelatihan dan pendampingan ini adalah menyampaikan betapa pentingnya perempuan itu. Perempuan bisa memasuki dunia ekonomi, bahkan bisa menciptakan dunia ekonominya sendiri dengan membuat produk-produk yang bermanfaat yang bisa menghasilkan keuntungan.

Perlu ditegaskan pula bahwa mengikuti pendidikan sampai tingkat yang tertinggi juga melatih perempuan mengembangkan soft dan hard skill nya. Dengan memiliki pengetahuan yang luas perempuan akan bisa melindungi dirinya dari bahaya yang kerap diarahkan pada perempuan. Tidak seharusnya juga merasa rendah diri terhadap laki-laki. Perempuan dan laki- laki adalah setara. Perempuan juga bisa berperan dalam masyarakat, memberikan pendapat dan berorganisasi dalam masyarakat.

(11)

8

5. Permasalahan terakhir; Rendahnya kemampuan dan keterampilan perempuan di masyarakat desa Pada kegiatan diberikan pendampingan kepada kaum perempuan dengan berbagai keterampilan. Mereka dilatih dalam mengembangkan soft dan hard skillnya, agar mereka menjadi perempuan yang tangguh dan mampu serta memiliki daya saing. Pada kesempatan ini kaum perempuan dilatih untuk dapat bergabung dalam industri ekonomi, melalui kegiatan pembuatan berbagai jenis kue serta makanan-makanan ringan lainnya. Hal ini dilakukan agar mereka terampil dalam dunia ekonomi dan mereka juga memiliki penghasilan sampingan dalam menafkahi keluarga.

TUJUAN

Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan pada bagian pendahuluan dan solusi permasalahan, maka yang merupakan tujuan kegiatan ini adalah:

1. Untuk memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa mencari nafkah merupakan tanggungjawab bersama dalam keluarga.

2. Untuk memberikan pembimbingan kepada perempuan yang sering mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

3. Untuk menghimbau masyarakat terutama perempuan akan kesadaran terhadap pernikahan dini.

4. Untuk memberikan pengarahan tentang peran dan hak perempuan dalam keluarga dan masyarakat.

5. Untuk membekali perempuan agar terampil dalam dunia ekonomi.

INDIKATOR KEBERHASILAH PROGRAM

Indikator keberhasilan pada kegiatan PPK Ormawa ini tidak terlepas dari indikator topik yang sudah dipaparkan pada panduan, antara lain:

1. Dihasilkan kurikulum pembelajaran non formal untuk kaum perempuan di suatu wilayah yang disusun berdasarkan permasalahan yang dihadapi oleh warga belajar;

2. Dilaksanakannya 1 semester pembelajaran non formal untuk kaum perempuan;

3. Terjadi peningkatan pengetahuan kaum perempuan sebagai warga belajar dan terbentuk kelompok belajar non formal kaum perempuan di wilayah tersebut; dan

4. Tersusunnya action plan kelompok belajar nonformal kaum perempuan untuk jangka waktu 2 tahun.

5. Berkurangnya jumlah perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga, korban kekerasan dalam rumah tangga, korban pernikahan dini

6. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap peran dan hak perempuan.

7. Tercipta perempuan inovatif, kompeten, serta mampu berkarya.

(12)

9 LUARAN YANG DIHARAPKAN

1. Luaran Wajib

Luaran wajib yang harus dihasilkan setiap Ormawa penerima program adalah:

a. Buku Pengembangan Soft skills Tematik yang berisi paparan proses kegiatan yang telah dilakukan sesuai dengan topik yang dipilih;

b. Ringkasan eksekutif maksimal 5 (lima) halaman, kertas A4, spasi 1,5, huruf Times New Roman 12, berisi deskripsi program dan kegiatan, strategi pelaksanaan kegiatan, hard skills dan soft skills mahasiswa yang dikembangkan, testimoni stakeholders, praktik baik yang diperoleh, dan hal-hal yang perlu diperbaiki, dilengkapi dengan minimal 2 foto kegiatan;

c. Media publikasi elektronik berupa video yang diunggah di kanal perguruan tinggi, kanal Ormawa, kanal youtube, atau kanal lain yang dapat diakses publik; dan

d. Poster dan profil hasil pelaksanaan program 2. Luaran Tambahan

Selain luaran wajib, ada luaran tambahan yaitu artikel ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal nasional dan atau internasional.

MANFAAT

Melalui kegiatan program ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi semua pihak, diantaranya:

1. Mahasiswa

Diharapkan melalui kegiatan ini mahasiswa mendapatkan pengalaman menerapkan pengetahuannya untuk diajarkan kepada masyarakat khususnya perempuan, meningkatkan kepekaan sosial, meningkatkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, kepemimpinan, berorganisasi, dan mengasah empati bagi kelompok masyarakat di sekitarnya.

2. Masyarakat

Diharapkan melalui kegiatan ini memberikan kesadaran dan pemahaman kepada masyarakat akan hak dan peran perempuan yang sesungguhnya.

3. Kaum Perempuan

Melalui kegiatan ini juga, kaum perempuan akan menyadari akan hak dan perannya dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, serta akan memberikan kebebasan bagi perempuan untuk menggapai mimpi, mengejar karir, serta akan berkiprah pada bidang apapun.

4. Pemerintah

Melalui kegiatan ini, memberikan sumbangan wawasan bagi pemerintah tentang hak dan peran perempuan serta pentingnya kepedulian kepada kaum perempuan agar tidak mendapatkan perlakuan tidak adil baik dalam keluarga dan masyarakat.

(13)

10 METODE PELAKSANAAN

Pada metode pelaksanaan memuat tentang roadmap kegiatan dan tahap-tahap kegiatan:

1. Roadmap Kegiatan

2. Tahap-Tahap Kegiatan

Pada kegiatan PPK Ormawa yang dilaksanakan di Desa Silima Banua tentang pemberdayaan perempuan, terdiri dari empat tahapan kegiatan, antara lain:

a) Perencanaan Program

1) Mapping masyarakat yang diberdayakan

Sebelum diadakan sebuah program pemberdayaan perempuan terlebih dahulu diadakan mapping untuk mengetahui karakteristik masyarakat tersebut. Pada tahap ini akan diketahui karakter, latar belakang masyarakat dan program yang dibutuhkan sesuai dengan permasalahan yang dialami masyarakat Desa Silima Banua terutama kaum perempuan sebagai sasaran pemberdayaan.

Seperti halnya prinsip pemberdayaan yang menghindari adanya eksploitasi, dengan diketahuinya karakter dan latar belakang masyarakat desa SIlima Banua maka program yang dilakukan pun akan pro dan mendapat dukungan masyarakat sehingga program kegiatan dapat berjalan dengan baik.

2) Identifikasi kebutuhan program

Berdasarkan hasil mapping pada masyarakat Desa Silima Banua, diperoleh informasi bahwa:

- Masih banyak perempuan yang masih belum mendapatkan keadilan mengenai hak dan peran sebagai perempuan dalam kehidupan keluarga bermasyarakat.

- Masih banyak perempuan yang putus sekolah, dan sangat dibatasi dalam mengenyam dunia pendidikan.

- Menjadi korban dalam kasus pernikahan dini. Informasi lain juga diperoleh,

- Pengetahuan dan keterampilan perempuan di Desa Silima Banua khususnya pada bidang ekonomi masih rendah.

• Adanya kesadaran masyarakat terhadap kepedulian pada kaum perempuan baik dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat

2022

• terbuka nya akses bagi perempuan dalam mengembangkan karir dan cita-cita tanpa ada pembatasan dari pihak manapun

2023

• hampir 50% perempuan telah berhasil baik dalam organisasi, pendidikan, kegiatan sosial, dan ekonomi

2024

(14)

11

Oleh karena itu, melalui kegiatan ini akan diberikan pengajaran non formal dalam membekali dan memberikan pelatihan kepada kaum perempuan mengenai hak dan peran perempuan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Disamping itu, kegiatan ini juga akan melatih kaum perempuan dalam meningkatkan taraf kehidupan melalui kegiatan ekonomi. Kaum perempuan akan dibekali dan dilatih dalam membuat aneka macam kue. Dari adanya program tersebut diharapkan kaum perempuan dapat membentuk usaha kecil yang dapat menjadi penghasilannya.

Setelah program difinalkan dengan rencana yang akan dilakukan selanjutnya adalah melihat kelompok yang akan menjadi sasaran program. Dalam program ini sasarannya adalah kaum perempuan di desa Silima Banua. Dalam tahap ini akan dilakukan pengorganisasian untuk mempermudah siapa saja yang akan diberdayakan, juga untuk pembagian kelompok sesuai dengan rencana dalam program. Disini juga akan dilakukan sosialisasi pada kelompok sasaran agar program tersebut dapat dipahami, diterima atau dikritisi jika dirasa kurang baik. Dalam sosialisasi program akan dijelaskan mengenai rencana program tersebut dan arah kedepannya sehingga masyarakat bisa mengetahui apa yang diharapkan dari program tersebut, sehingga tidak terjadi miskomunikasi dan salah paham yang akan memunculkan persepsi eksploitasi.

b) Pelaksanaan Program

Setelah tahapan-tahapan tersebut dilakukan, yang tidak lupa juga persiapan sarana dan prasarana untuk itu disini akan dipersiapkan beberapa perlengkapan dan peralatan. Pada tahap ini yang disiapkan perlengkapan dan peralatan untuk kegiatan sosialisasi tentang pemberdayaan perempuan dan untuk kegiatan pembuatan aneka macam kue terhadap kaum perempuan. Untuk kedua kegiatan ini sekelompok mahasiswa Ormawa akan menjadi mentor, pembimbing, dan narasumber bagi kaum perempuan dalam mengarahkan dan memberikan pengetahuan tentang hak dan peran perempuan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Setelah selesai kegiatan pembimbingan kaum perempuan tentang peran dan hak, kemudian dilanjutkan untuk demo memasak. Kegiatan ini dihimbau kaum perempuan untuk benar-benar serius mengikutinya, agar tidak terjadi kesalahan di kemudian hari. Pada kegiatan ini juga, mahasiswa menjadi pelatih buat kaum perempuan dalam membekali mereka dalam membuat aneka macam kue. Setelah masyarakat memahami bagaimana berwirausaha dan menghasilkan produk yang berkualitas, mereka akan mulai membuat produk yang lebih banyak dan memasarkanya ke daerah-daerah sekitar. Pada kegiatan ini juga telah disiapkan untuk distribusi untuk pemasaran juga pengiklanan produk hasil olahan. Setelah semua persiapan dilakukan tiba saatnya untuk pelaksanan program, sebelum masyarakat melakukan usaha kecil yang diharapkan, terlebih dahulu diadakan pelatihan agar produk yang dihasilkan benar-benar berkualitras sehingga dapat dipasarkan.

(15)

12 c) Evaluasi Program

Setelah semua tahapan dilakukan, tahapan terakhir yang harus dilakukan adalah mengevaluasi dari pelaksanaan kegiatan yang dilakukan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kekurangan dan kesalahan yang masih terjadi yang menjadi kendala dalam pelaksanaan program sehingga dapat dilakukan penanganan dan ditinggkan agar lebih baik lagi. Selain itu evaluasi juga digunakan untuk menemukan inovasi-inovasi baru untuk mengembangkan keterampilan kaum perempuan agar lebih berkembang dan maju pesat. Misalnya menambah inovasi aneka kue dengan khas tradisional. Selain itu, melalui tahap ini dapat diketahui kendala apa saja yang dihadapi selama pelaksanaan dalam jangka beberapa waktu. Setelah itu, mencari solusi bersama masyarakat guna memajukan program yang telah dilaksanakan agar dapat berkelanjutan dan berkesinambungan.

d) Penyusunan Laporan Akhir Kegiatan

Penyusunan laporan ini disesuaikan dengan kondisi kegiatan yang dilakukan, dan dipaparkan berdasarkan target yang diharapkan sesuai yang diharapkan pada awal kegiatan. Laporan ini nantinya akan menjadi bahan refleksi untuk kegiatan berkelanjutan berikutnya.

JADWAL KEGIATAN

Program kegiatan PPK Ormawa ini yang dilaksanakan di Desa Silima Banua direncanakan pelaksanaannya selama 5 bulan, untuk lebih jelas diketahui jadwal kegiatan untuk setiap bulan, dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1 Jadwal Kegiatan PPK Ormawa di Desa Silima Banua No. Tahap

Kegiatan Kegiatan Jadwal Kegiatan

Juli Agust Sept. Okt Nov 1. Perencanaa

n Program

Mapping masyarakat yang diberdayakan

Identifikasi kebutuhan program

2. Pelaksanaa n Program

Mempersiapkan perlengkapan dan peralatan yang digunakan selama kegiatan PPK Ormawa

Menyiapkan distributor yang menampung hasil keterampilan kaum perempuan

Sosialisasi tentang pemberdayaan perempuan

Melaksanakan kegiatan demo memasak aneka macam kue untuk melatih keterampilan kaum perempuan.

3. Evaluasi Program

Melaksanakan kegiatan evaluasi untuk melihat kekurangan dan kelemahan, dan memberikan inovasi baru agar kegiatan ini berkelanjutan.

4. Pembuatan Menyusun laporan kegiatan

(16)

13 No. Tahap

Kegiatan Kegiatan Jadwal Kegiatan

Juli Agust Sept. Okt Nov Laporan berdasarkan kegiatan yang telah

dilaksanakan RANCANGAN BIAYA

Berdasarkan buku panduan pelaksanaan program kegiatan PPK Ormawa bahwa untuk setiap judul subproposal maksimal dana yang disediakan sebesar 40.000.000 (Empat puluh juta rupiah). Maka pada kegiatan ini, dibutuhkan dana sebesar 40.000.000. Untuk lebih jelas, pada bagian ini telah disiapkan rincian dana yang dibutuhkan seperti pada tabel berikut ini.

No. Jenis Pengeluaran Volume Harga Satuan (Rp) Total (Rp) 1 Pembelian Bahan Habis Pakai (Maks. 60%)

Spidol 10 kotak Rp 60,000.00 Rp 600,000.00 Pulpen 20 kotak Rp 50,000.00 Rp 1,000,000.00 Buku Catatan (Note Book) 100 buah Rp 25,000.00 Rp 2,500,000.00 Penghapus 2 buah Rp 15,000.00 Rp 30,000.00 Tas File 100 buah Rp 35,000.00 Rp 3,500,000.00 Papan Tulis 1 buah Rp 250,000.00 Rp 250,000.00 Masker 10 kotak Rp 60,000.00 Rp 600,000.00 Hand Sanitaizer 4 buah Rp 80,000.00 Rp 320,000.00 Spanduk 3 buah Rp 60,000.00 Rp 180,000.00 Papan Nama 15 Buah Rp 15,000.00 Rp 225,000.00 Mixer Philips 2 Buah Rp 650,000.00 Rp 1,300,000.00

Oven 2 Buah Rp 500,000.00 Rp 1,000,000.00

Kukusan 2 Buah Rp 400,000.00 Rp 800,000.00 Sendok Penggoreng Besar 2 buah Rp 60,000.00 Rp 120,000.00 Kuali 2 Buah Rp 350,000.00 Rp 700,000.00 Penyaring Minyak 2 buah Rp 45,000.00 Rp 90,000.00 Jepitan Kue 10 buah Rp 35,000.00 Rp 350,000.00 Loyang Kue 10 buah Rp 50,000.00 Rp 500,000.00 Pencetak Akar Kelapa 5 kotak Rp 300,000.00 Rp 1,500,000.00 Pencetak Kembang

Loyang 10 buah Rp 50,000.00 Rp 500,000.00 Cetakan Kue Basah 10 lusin Rp 20,000.00 Rp 200,000.00 Baskom Besar 5 buah Rp 50,000.00 Rp 250,000.00 Alat Penyaring Santan 5 buah Rp 15,000.00 Rp 75,000.00 Tepung Terigu 1 Karung Rp 300,000.00 Rp 300,000.00 Gula 20 kg Rp 20,000.00 Rp 400,000.00 Mentega 20 kg Rp 30,000.00 Rp 600,000.00 Gula Merah 10 kg Rp 35,000.00 Rp 350,000.00 Telur 20 papan Rp 55,000.00 Rp 1,100,000.00 Tepung Ketan 40 kg Rp 40,000.00 Rp 1,600,000.00

(17)

14

No. Jenis Pengeluaran Volume Harga Satuan (Rp) Total (Rp) Tepung Tapioka 1 karung Rp 300,000.00 Rp 300,000.00 Garam 10 bungkus Rp 25,000.00 Rp 250,000.00 Tepung Beras 40 kg Rp 25,000.00 Rp 1,000,000.00 Kelapa 40 buah Rp 5,000.00 Rp 200,000.00

SP 5 kg Rp 48,000.00 Rp 240,000.00

Tepung Maizena 10 kotak Rp 30,000.00 Rp 300,000.00 Baking Powder 2 kg Rp 40,000.00 Rp 80,000.00 Pewarna Kue 1 Paket Rp 150,000.00 Rp 150,000.00 Sagu Mutiara 10 kg Rp 48,000.00 Rp 480,000.00 Hungkue 6 buah Rp 10,000.00 Rp 60,000.00

Jumlah Rp 24,000,000.00

2 Biaya Perjalanan, dan Konsumsi Kegiatan (Maks. 15%)

Transportasi Tim pada saat observasi dan pelaksanaan kegiatan

10 kali Rp 400,000.00 Rp 4,000,000.00 Transportasi belanja alat

dan bahan 1 kali Rp 250,000.00 Rp 250,000.00 Transportasi DPL pada

kegiatan Monitoring 5 kali Rp 150,000.00 Rp 750,000.00 Snack dan Minuman 2 Kali Rp 500,000.00 Rp 1,000,000.00

Jumlah Rp 6,000,000.00

3 Belanja Lain-lain (Maks. 25%)

Sewa Gedung 5 Bulan Rp 500,000.00 Rp 2,500,000.00 Sewa Genset 5 Bulan Rp 250,000.00 Rp 1,250,000.00 Bensin 10 liter Rp 10,000.00 Rp 100,000.00 Sewa Meja dan Kursi 1 Paket Rp 500,000.00 Rp 500,000.00 Sewa Jasa 3 orang Rp 500,000.00 Rp 1,500,000.00 Biaya Kebersihan 2 orang Rp 500,000.00 Rp 1,000,000.00 Biaya Surat Menyurat 100 lembar Rp 1,500.00 Rp 150,000.00 Biaya Fotocopy 500 lembar Rp 500.00 Rp 250,000.00 Pulsa dan Paket Internet 14 orang Rp 175,000.00 Rp 2,450,000.00 Kertas A4 2 rim Rp 50,000.00 Rp 100,000.00 Biaya Penjilidan 100 buah Rp 2,000.00 Rp 200,000.00

Jumlah Rp 10,000,000.00

Jumlah Keseluruhan (Belanja Habis Pakai+ Biaya Perjalanan

dan Konsumsi kegiatan+Belanja Lain-lain ) Rp 40,000,000.00

(18)
(19)
(20)
(21)
(22)
(23)

DENAH LOKASI

Jarak Kampus dan Lokasi:

95 Kilomter (3 jam)

Jalan Provinsi

Jln. Pramuka

Jalan ke Gomo

Jalan ke Gunung Sitoli

Lapangan Adam Malik

Jln Puncak Gomo Kec. Umbunasi

Silima Banua

Kec. Ulu Idanotae UNIVERSITAS

NIAS RAYA

HOTEL YONAS

KEC. LAHUSA

KANTOR KEPALA DESA SILIMA BANUA

Referensi

Dokumen terkait

Makara Human Behavior Studies in Asia Makara Human Behavior Studies in Asia Volume 27 Number 1 Article 1 7-1-2023 Employee Engagement is the Key: Its Mediating Role between Employee