• Tidak ada hasil yang ditemukan

Summa Justiti - Repositori Universitas Kristen Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Summa Justiti - Repositori Universitas Kristen Indonesia"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Summa Justiti

DAFTAR I5I

POLITIK HUKUM INDONESIA DALAM KEGIATAN BISNIS INTERNASIONAL

Dhaniswara K

Harjono

1-7

HUKUM PERSAINGAN USAHA

DI

INDONESIA DIKAITKAN DENGAN SISTEM EK.ONOMI KERAKYATAN

Penanggung

Jawab:

TN

Syamsah "' ""'r" ""

B-20

Direktur Program Pasca Sarjana UniversitasKristen

lndonesia

MENGHADAPI PERSAINGAN

Ketua

penqarah: PERDAGANGAN BEBAS AC- FTA

Ketua prosram studi r',l.si',.'

ilrkr;

M

ELALU I PEN

D

EKATAN K0 NSEP

UniversitasKristen

lndonesia PERLINDUNGAN HKI

Edv Santoso

pimpinan

Redeksir --' --lntoso

21-33

Anna

Katharina

KONSTTTUSI0NALIsME pENGlslAN

Dewan

Editor: JABATAN GUBERNUR DAERAH

Ab.,.n,

,, ^ll'^tl? lsrlM EwA NGAYoGYAKARTA

Kusuma

uewr

Margarito

Kamis

34-51

Editor Petaksanar

Petruswahyu Pansayoman

B0H0NG ATAU TID,AK: PERSQALAN

Murti H,

uspessy

M

EMAHAM I DATA

Atamat Redaksi/

Penerbitr

Barita

simanjuntak

52-57 Jt. Diponegoro 86, Jakarta Pusat

Tetp 021

17?9,.r,1

EKSISTENSI & KEDUDUKAN

Fax 021 3e0t+462

MnsyannKAT ADAT BESERTA

i

HAK ASAL USULNYA DALAM TATA HUKUM NASIONAL

Hendrik

Hattu..,...

58-72

BIODATA PENULIS

Summa Justitia, memuat hasiL kegiatan penetttian ,

pemikiran konseptual dan resensi bidang ilmu hukum.

Media ini diterbitkan oteh Fakuttas Hukum Program Pasca Sarjana universitas Kristen lndgnesia,

Jakarta. _

Redaksi menerima naskah artike[ [aporan penetitian, artiket konseptuat, dan resensi buku, sepanjang retevan dengan misi redaksi.

73

(3)

umma Justitia

POLITIK HUKUM INDONESIA DALAM KEGIATAN BISNIS INTERNASIONAL

Dhaniswara K. Harjono Abstrak

Politik Hukum lndonesia pada hakikatnya merupakan kebijakan dasar yang menentukan arah, bentuk maupun isi hukum bisnis dalam transaksi internasisnal yang akan dibentuk atau yang sudah drbentuk, Arah dari potitik hukum sangat dipengaruhi oleh kepentingan politi* sirta perkembangan teknologi. Selain meniadi anggota WT] (World Trade 0rganizationl, kebiiakan bisnis dan perdagangan internasianal Iain yang ditgtapkan pe:merintah adalah kerjasama kawasan regional dengan ikut sebagai pendiri AFTA lAsean Free Trade Area). Hingga saat inislslem bisnis dan perdagangan lndonesia diatur sesuai dengan hukum bisnii ian perdagangan internasionat yang diterjemahkan dalam bentuk perundangan di lndonesia yang diharapkan dapat melindungi kepentingan nasional' Kata kunci:

Potitik hukum, WTO/AFTA, Perdagangan lnternasionat'

I.

PENDAHULUAN

Kegiatan

bisnis dan

Perdagangan internasionat menjadi satah satu indikator

mengenai kemaluan suatu

negara'

Semakin besar voturne

perdagangan internasionaI suatu negara menunjukkan semakin majunya negara tersebut. Seiring dengan meningkatnya transaksi bisnis,

baik yang bersifat [okat, nasionat, reqionaI maupun gtobat

ini

sudah barang tentu

akan

membawa konsekuensi pertunya aturan main [rule af the gamel yang berupa regutasi yang dapat menlamin kontiunitas

aktivitas dunia usaha itu

sendiri

secara adil. dan pasti. Demi terciptanya

keteraturan dan kePastian

datam

mengakomodasi berbagai kepentingan para petaku bisnis, hukum bisnis akan

menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan sebagai pedoman fundamentat.l Datam gtobatisasi sekarang

ini

kegiatan bisnis internasionaI mengatdmi perkembangan

yang sangat progresif. Hat

tersebut

dilatar betakangi oteh kemajuan dibidang

teknotogi komunikapi, industri

dan

transportasi

serta

lnuncutnya hukum yang mengatur kegiatan bisnis tersebut.

Datam

haI

pembentukan hukum bisnis khususnya dalam bidang transaksi bisnis internasionaI sangat dipengaruhi oteh potitik hukum dari lndonesia

itu

sendiri, Potitik hukum merupakan pitihan tentang hukum-hukum yang akan dibertakukan sekatigus pil.ihan tentang hukum-hukum yang akan dicabut atau tidak dibertakukan yang kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan negara.2

1 Ad"

M.rrn

Suherman, Aspek Hukum Dalam Ekonomi Global, Ghatia lndonesia, Bogor, 2005, htm.2.

2

Moh. Mahfud MD, politik Hukum Di lndonesia, Ed.Revisi, Cet.1, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta. 2009, htm.1

(4)

iumma Justiti

Potitik Hukum tersebut

pada

hakikatnya merupakan kebijakan dasar yang menentukan arah, bentuk maupun

isi hukum bisnis datam

transaksi

rnternasionat yang akan

dibentuk

atau yang sudah

dibentuk.

Arah

dari

potitik hukum sangat dipengaruhi oteh kepentingan potitik serta perkembangan teknotog i.

Potitik hukum satu negara berbeda dengan poLitik hukum negara yang lain.

Perbedaan ini disebabkan karena adanya perbedaan

[atar

be[akang kesejarahan, pandangan

dunia

lworld-viewl, sosio- kutturat, dan political

will dari

masing- masing pemerintah. Dengan

kata

[ain, potitik hukum bersifat tokatdan partikutar {hanya berlaku

dari dan untuk

negara tertentu saja), bukan universa[ (bertaku seturuh dunial. Namun ini bukan berarti

bahwa potitik hukum suatu

negara

mengabaikan rea[itas dan potitik hukum interansidna[.3

Dengan adanya progresifitas dari kemajuan

teknologi telah

metahirkan

suatu hukum

perjanlian

lThe Law

of Treatiesl, mengimptikasikan kebijakan Ad

Hock

yang bersumber dari regionaL

trading dan bilafer"a

I

trade arrangement.

Susunan

dari

bilateral

trade ini

tetah

menghasitkan cukup banyak agreements

hasil kesepakatan banyak

negara

yang berisikan mengenai b,erbagai hat

seperti

hak atas

kekayaan inte[ektual, pertindungan k0nsqmen,

anti

monopol.i, persaingan usaha tidak sehat, dan lain-

lain. Kemudian

agreementg tersebut diterjemahkan kembati

datam

hukum suatu negara. Setain itu keadaan internat

suatu

negara

juga

mendorong negara tersebut untuk membuat hukum nasionaI

sesuai hukum

internasiona[. Contoh

faktor internat: lndonesra

memitiki tingkat konsumsi yang tinggi sedangkan produksi rendah sehingga impor bahan

konsumsi Lebih tinggi

dibandingkan dengan transfer teknotoginya. Saat ini lndonesia mengaiami penurunan daya

saing sehingga membuat para produsen menjuaI produk mereka dengan harga rugi. Hat ini menjadi pendorong mengapa lndonesia membangun hukum nasional

Iang

mengadopsr hukum internasionaI sebagai bentuk pertindungan terhadap kepentingan nasonaI lndonesia. Secara garis besar gtoba[isasi tetah menciptakan

suatu bisnis dan

perdagangan

yang menekankan pada

liberalism

dan

protection. Kegratan

bisnis

dan

perdagangan

internasionaI

menganut nitai-nitai rationalism, materialism dan

individualism

dan berakar dari

akat manusia yang dapat bertaku kapan saja,

di mana saja, dan bagi siapa saja. Hukum

bisnis dan

perdagangan internasionaI

yang

bertaku

saat ini

adatah hukum yang diietapkan oteh WIO lWarld Trade

0rganizationl

yang

menjunjung tinggi liberalism.

Berdasarkan latar betakang diatas, perumusan masatah yang diangkat datam

tutisan ini adatah

bagaimana potitik

hukum

lndonesia datam kegiatan dan transaksi bisnis khususnya datam bisnis internasionat? Pene[itian

ini

bertujuan

untuk

membahas pengaruh kebijakan pol.itik hukum lndonesia datam kegiatan bisnrs. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan

yuridis

normatif

,

yauitu

penetitian dengan menggunakan data

sekunder dengan

mengutamakan

menetiti

bahan kepustakaan terutama bahan hukum primer dan bahan hukum seku nder.

lmam Syaukani dan A. Ahsin Thohari, Dasar-Dasar Politik Hukum, Ed.1,,PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. 2004. htm. 33.

(5)

II.

PEMBAHASAN

A. Sistem Perekonomlan lndonesia

Sistem perekonomian

lndonesia

yang sejak laman 0rde Baru

tidak

tertatu

mengutamakarr

peran

hukum datam kegiatan bisniE kini tetah berubah

karena datam

hubungan perdagangan interndsionaI maka hukum menjadi hal yang sangat pentrng. Sistem duatisme

yang terjadi sejak masa orde

baiu mengakibatkan munculnya anomie di katangan masyarakat. Datam Pancasita dan Undang-Undang Dasar 1945 secara tegas diamanatkan bahwa perekonomian lndonesia

adalah

perekonomian yang berdasarkan kerakyatan namun kontras

dengan hat tersebut maka

Produk perundang-undangan yang dibuat justru

Lebih mengutamakan

kepentrngan

individu yang didominasi oleh

nitai

materiatistis. Hal. ini menciptakan anomi, dan kebingungan untuk mematuhi hukum

atau tidak

sehingga

muncuI

muncut ketidak pastian hukum bagi masyarakat.

lndonesia

adalah negara

hukum, sehingga sistem perekonomian bangsa pun diatur dalam hukum tersebut yaitu

perekonomian kerakyatan.

Namun

dengan adanya arus gtobatisasi yang deras dapat membuka kemungkinan perubahan sistem perekonomian lndonesia menj.adi

Iiberat, Datam hat ini

dibutuhkan

konsistensi yang kuat terhadap ideol.ogi dan hukum lndonesia agar kebhinekaan tunggat

ika

telap terjaga datam usaha pengembangan perekonomian bangsa.

Datam

menjatankan usaha-usaha tersebut lndonesia menetapkan berbagai kebijakan

ekonomi tuar negeri

yang berimptikasi pada kegiatan bisins dan

perdagangan

internasionaI

lndonesia.

Kebijakan yang diambit oteh pemerintah

mma Justitia

lndonesia adatah:

1.

Multilateral Trading Agreement, dengan bergabung datam WTO.

2.

Regional Trading Agreement, dengan bergabung datam APEC dan AFTA.

3.

Keikutsertaan sebagai negara pihak ketiga datam USA-Singapore FTA.

4.

Bilateral Relationship.

Kebijakan-kebijakan

yang

dibuat

pemerintah merupakan usaha

nyata

sebagai pertindungan

terhadap

perdagangan internasionaI

yang

dijatankan oleh bangsa lndonesia.

B.

World frade 0rganization lWT0l WTO adatah organisasi internasionaI

yang mengatur kegiatan bisnis

dan

perdagangan antar negara

untuk

meninbgkatkan perdagangan

dunia

tebih fokus

mengenai

free trade

dan protectionism.

Pembentukan WTO dinilai membuka petuang pasar yang

tuas

karena para penanda

tangan

GATT sepakat untuk antara lain mengurangi

tarif

atas dasar MFN [most favoured nationl, menerapkan secara ketat eturan non-tarif, khususnya

datam kaitan "safeguards",

"anti- dumping", dan "countervailing measures",

menetapkan

kebijakan

nasionaI yang transparan dan menetapkan aturan yang tebih jel.as dalam perdagangan produk pertanian, sektor jasa, dan HAKI.

Sejak WTO

menggantikan GATT,

banyak negara-negara

berkembang merasa "terintimidasi"

karena

hampir semua ketentuan yang berdasarkan free trade (perdagangan bebasl terasa [ebih berpihak kepentingan ekonomi negara- negara industri maju yang sudah kaya dan barang-barang hasilnya "harus" tidak dihambat datam memasuki pasar-pasar negara berkembang.4

4

Moch.Faisat Satam, Penyelesaian Sengketa Brsnis Secara Nasiona| dan lnternasional, Cet.l, , Bandung,2007, htm.9.

(6)

Summa Justit

Akan tetapi, di tain pihak sebenarnya banyal< ma

nfaat

bag

i

nega ra - nega ra berkembang dan negara tidak berkembang untuk masuk kedatam sistem World Trade

0rganization IWTO).

Karena

atternatif sebaliknya, matahan membuat negara tersebut semakin kacau. Sejarah juga membuktikan bahwa negara yang yang

maju

perekonomiannya ada[ah negara yang pating banyak menggunakan sistem

persaingan pasar dan

perdagangan bebas. 5

Sistem

perdagangan mutti[ateral

WTO diatur berdasarkan persetujuan yang berisi aturan-aturan yang telah disetujui dan ditandatangani oteh negara-negara anggota. Persetujuan tersebut berbentuk kontrak

atau

perjanjian yang mengikat bagi para negara anggota dan terikat untuk mematuhi isi tersebut. lndonesia sebagai

satah

satu

anggota WTO berdasarkan persetujuan darr para anggota DPR dan

juga Presidbn tetah metakukan ratifikasi metatui UU No.7 tahun 1994 yang secara garis besar mengatur :

-

Free kade: di bidang pertanian, tekstit dan pakaian,

-

Protectionism: anti-dumprng (penetapan

harga dibawah biaya produksi atau

menjuaI harga tebih murah

ke

[uar negeri

dibandingkan

harga

di

datam

negeri), SCM {Subsidies and

C ou nte rva i li ng M e a s u re sl dan Sa f e g u a rd ltarif sementara yang digunakan untuk me[indungi

industri domestik

dari keterbukaan kompetisi luar negeri.

WTO yang berdiri pada tahun 1995

menggunakan sistem perdagangan yang

tetah ada sebetumnya yaitu berasaI dari General Agreement

an

Tariffs and Trade IGATTI yang didirikan pada tahun 1948,

Sistem tersebut memuat

peraturan-

peraturan mengenai perdagangan dunia dan tarif perdagangan.

Gtobatisasi ekonomi

dan

perkembangan kerjasama

ekonomi

di dunia internasionat

tetah menggambarkan adanya potarisasi datam

arti

substansi permasatahan

di

bidang

hubungan

ekonomi sebagai

dampak

dari

upaya pengaturan yang ditakukan

oteh

negara maupun petaku ekonomi, Upaya pengaturan

baik

melatui WTO,

regionaI metatui berbagai

kerjasama kawasan, serta brlateraI metatui berbagai kesepakatan kerjasama bilaterat, ternyata

tidak

mengurangi muncutnya berbagai penyimpangan

dari

norma-norma yang

tetah disepikati, antara tain

terbukti dengan masih banyak negara terutama

negara maju untuk

menjatuhkan

tuduhan

" dumping"

terhadap

negara

mitra dagangnya dan juga dalam upaya

metindungi sektor industri

tertentu menerapkan kebijakan " saf eguards" .

Akibat hukum dari

diambil.nya

kebijakan nasionaI misatnya kebijakan

Mcbit Nasional (Mobnasl

tetah

menempatkan pemerintah

lndonesia datam posisi yang tidak menguntungkan

datam forum WTO karena

dianggap

menerapkan kebijakan

diskriminatif

me[atui

keringanan

pajak impor

atas komponen Mobnas sehingga lndonesia dikecam telah melanggar prinsip "non-

discriminatory" .

Siruktur dasar

persetujuan WTO metiputi:

1.

Barang/goods lGeneral Agreements on

Ta rif f a nd IradelGATTl.

2.

Jasalservices l?eneral Agreements on Tra d e a n d ServiceslGATSl.

3.

Kepemitikan intetektuat Ilrade-Related

As p e ct s of I nt e le c t u a I ProperfieslTR I Psl.

Munir Fuady, Hukum Dagang lnternastonal [Aspek Hukum dari WT}], Cet.ke l, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2004, htm. 103.

4

(7)

Summa Justitia 4. Penyetesaian sengketa

lDispute

Setflements).

Datam

sistem

perdagangan mutti- taterat, ada beberapa prinsip dasar WTO yaitu:

a.

Prinsip The Most Favorite Nation tMFN).

Yaitu peraturan yang

melarang diskriminasi

tarif antar dua

negara

atau [ebih, datam hal rni negara-negara

tidak

dapat mendiskrimrnassi mitra dagangnya.

Metarang

diskriminaiif

yang

memberikan kePada negara- negara

tain

keuntungan, Pertakuan

baik, hak

istimewa

atau

kekebatan

datam

perdagangan Yang diberikan

kepada negara yang

menerima pertakuan N4FN.

Tarif imPor

Yang diberikan pada produk suatu negara harus diberikan puta kepada produk

imBor dari mitra

dagang anggota

[a in nya.

b.

Prinsip National Treatment.

Negara anggota

diwajibkan untuk memberikan pertakuan

sama

atas barang-barang impor dan lokal pating tidak setetah barang impor memasuki pasar domestik. Berdasarkan pasaI lll ayat 2 GATI menetaPkan bahwa datam penerapan pajak-pajak datam negeri

tidak

boteh dibedakan antara pajak terhadap produk imPor

dan

Produk

domestik.

c.

Prinsip Tariff Binding

Tarif ditetapkan berdasarkan konsesi timbat batik adatah bea masuk Yang

dikenakan terhadaP

barang

imPor

yang dibuat

Pada barang tertentu

dan barang tersebut terikat

Pada

kesepakatan bersama.

d.

Prinsip [arangan "Non-tariff Bariers"

(NTB).

Metiputi peraturan-peraturan maupun

pe rsyarata n - persya rata n yang

menghambat

arus imPor

barang,

metiputi

pembatasan-Pembatasan kuantitatif .

e. Prinsip Liberatisasi Pasar

yang

Diskriminatif ,

Liberatisasi pasar hanya dibertakukan untuk produk unggutan negara-negara maju.

yaitu:

Non agriculture products market, /ccess/NAM

A,

Trade related- IPR protection, Trade related-foreign

i nve st m e rtt p rote cti o n.

Secara garis besar prinsip fundamentaI

pada WTO adatah mengenai

non' discrimination (equal treatmentl dan juga prinsip reciprocity.

Datam me.lakukan

kegiatan

perdagangannya, lndonesia berpatokan pada hukum yang ada baik hukum datam

negeri maupun hukum

internasionat.

Semua hukum

yang

metandasi setiaP

kegiatan bisnis dan

perdagangan di

lndonesia telah

disesuaikan dengan

keadaan perdagangan

internasionaI

yang

berjatan

saat ini. Hat

tersebut

dimaksudkan agar lndonesia

tidak

tertinggat

dari

negara-negara

[ain

baik

dari

segi hukum maupun kemajuannya dan agar negara [ain tetap merasa nyaman metakukan kegiatan perdagangan dengan lndonesia.

Sebagaimana tetah

dijetaskan

sebetumnya bahwa lndonesia telah sah menjadi anggota WTO sejak tangga[ 2 Nopember 1994. lndonesia mengadopsi

secara nyata reg'im

Perdagangan internasionat yang tiberaI dan mengambil

berbagai tangkah penting

untuk mengurangi proteksi,

Kini di

lndonesia

tarif impor yang ditetapkan tidak ada yang mel.ebihi batas rate yang tetah disusun

datam

komitmen lndonesia

di

bawah

persetujuan WTO.

Datam petaksanaan

komitmen

tersebut lndonesia tetah

membuat

beberdpa peraturan hukum

baru

dan institusi yang

mendukung untuk menyesuaikan negaranya dengan keadaan

dunia

saat ini

dengan mengumumkan

(8)

Summa Justiti

secara resmi kepada dunia

bahwa

lndonesia

telah

memberlakukan z0na

perdagangan bebas di

negaranya

yang

dilandaskan

pada

peraturan perpturan yang bertaku, antara [ain yang menetapkan witayah Sabang sebagai zona perdagangan bebas lndonesia.

lndonesia menetapkan

wi{ayah

Sabang sebagai zona

perdagangan bebasnya dengan atasan bahwa Sabang merupakan witayah yang mudah untuk dijangkau oteh negara-negara

di

dunia dan Sabang adatah witayah pertemuan

dua

samudera yang dianggap sebagai

tempat yang strategis

untuk

dijadikan witayah perdagangan bebas.

Sejak

tahun

1995 hingga

saat

ini lndonesia tetah membuat undang-undang

yang

diadopsi

dari

persetujuan WTO

yaitu peraturan mengenai pencantuman komposisi

bahan baku untuk

produk

industri makaBan dan

minuman

lgenecically engineered

and

irradiated

ingradientsl, ketetapan anti-dumping dan countervailing duty, the safeguards dan juga banyak membongkar mengenai kebijakan non-tariff barriers.

C. The ASEAN Free Trade Area IAFTAI

AFTA merupakan wujud

dari

kesepakatan dari

negara-negara

ASEAN untuk membentuk

suatu

kawasan

perdagangan

bebas

datam

rangka meningkatkan daya

saing

ekonomi kawasan regional bagi 500 juta

pend udu knya,6

AFTA dibentuk pada waktu

KTT

ASEAN Ke-lV di Singapura

tahun 1992.

Latar

bel.akang mengapa terjadi kerjasama antar Negara ASEAN adalah karena adanya persamaan yaitu komoditi perdagangan yang sama

dan

memil,iki

Negara tujuan ekspor yang

sama.

Sehingga AFTA memitiki

tujuan

untuk nreningkatkan daya saing Negara ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagar basis

produksi

pasar dunia, untuk

menarik

investasi dan meningkatkan perdagangan antar anggota ASEAN.

Sebaqai suatu kawasan perdagangan bebas ASEAN

maka

AFTA

tidak

ada

hambatan

tarif

f {bea masuk

0-570}

rna!pun hambatan non-tariff 6agi Negara- negara anggota ASEAN. AFTA bertujuan

menjadikan ASEAN sebagai

basis

produksi dunia, untuk menarik investasi,

dan

meningkatkan perdagangan antar anggota ASEAN dengan menciptakan

pasar regional dengan 500

juta

penduduknya,

Adanya aheka

warna hukum

dari berbagai Negara menyulitkan tatu-lintas perdagangan internasional. Maka sudah

sejak [ama orang mutai

mengadakan

berbagai usaha untuk

memperkeciI kesutitan-kesutitan yang

timbuI

karena adanya aneka warna hukum dagang dari berbagai Negara itu. 7

Akibat

kesamaan

antara

komoditi

dan tujuan antar Negara

ASEAN

membuat terjadinya kegagalan datam

usaha meningkatkan

comparative adventage

di

antara para anggota. Ha[

tersebut dibuktikan dengan

adanya

kenyataan bahwa terdapat kpnftik dengan kepentingan masing-masing

dari

setiap negara anggota. Oatam hat

ini

sebagai

contoh adalah Fitipina

membatalkan komitmen

untuk

membebaskan petro- chemicals,

serta

pertentangan antara

lndonesia dengan

FiLipina mengenai

impor guta,

Kerjasama perdagangan

secara

regionaI se[ain

ditatarbelakangi oleh

faktor

persamaan komoditi dan tujuan

6

Deperindag datam Majatah lnfomutu edisi Nopember 2002.

7 Sudargo Gautama, Hukum Dagang lnternasisnal, Cet. Kedua, Bandung: PT Atumni, 2004, htm.2-3.

(9)

beberapa faktor obyektif [ain s€pertt:

-

Faktor ekonomr, contohnya: Australia dengan New Zeatand.

- Faktor komersiat,

contohnYa: EU dengan Mexico.

-

Faktorstrategi, contohnya: EU dengan USA

-

Faktor ekonomi dan potitik, contohnya:

EU dengan Chite.

- Faktor yang

meruPakan kombinasi dari faktor di atas, contohnya: NAFTA.

D.

Potitik Hukum lndonccla Datam Kegiatan Bisnis lnternagional

Perkembanqjan

I Perdagangan

internasionat

tetah mengatami

perkembangan

yang sangat

Pesat.

Dengan adanya Progresrfitas

dari kemajuan teknotogi

tetah

metahirkan

suatu hukum

Perjanjian

lTne Law

of

Treatiesl, mengimptikasikan kebijakan Ad Hock yang bersumber dari regional trading

dan Bilateral Trade Agreement. Susunan dari Bilateral Trade ini tetah menghasilkan 28 Agreements hasiI kesepakatan banyak Negara yang berisikan mengenai berbagai

haI seperti Hak

Kekayaan lntetektuat, Pertindungan Konsumen, Anti MonopoLi, dan [ain-tain.

lndonesia

yang tetah

metakukan

ratif

ikasi

sebagai anggota WTO atas persetujuan

dari DPR dan

Presiden

memitiki kewajiban untuk melaksanakan

sistem

perdagangan internasionatnya sesuai dengan perianjian WTO tersebut.

Prinsip dasar datam WTO adatah non- discrimination

bqual

treatmentl, bahvra setiap anggota WTO memiLiki hak yang sama terutama mengenai tariff

.

Setain

itu terdapat puta prinsip reciprocity yailu hubungan timbaL

batik antar

angg0ta

yang

metindungi

semua

kepentingan'

Justitia

lndloneeia 'rl ;

datam

menjalankan sistim perdagangannya

mengadopsi

prinsip

WTO tersebut dengan

membangun

hukum

nasionaI

yaitu UU

No.7 tahun

1994 untuk kePentingan

nasionat.

Metatui undang-undang tersebut system

perdagangan internasionat

lndonesia

akan

menuju

suatu sistim

Free Trade dan

juga

memuncutkan protecsianism,

Namun datam

kenYataannYa PrinsiP WTO

justru

bertentangan dengan apa yang ditetapkan. WTO hanya metindungi kepentingan Negara

maju.

Sedangkan bagi Negara berkemfang justru terkesan

merugikan

karena

I

kebebasan besar

datam perdagangan tbrsebut.

Datam kerangka hubungan ekonomi

dan perdagangan

internasionat, keberhasitan

lndonesia

meningkatkan ekspor dan pembangunan nasional juga

akan

tergantung

pada

perkembangan

tatanan ekonomi dunia

serta

kemantapan sYstem

Perdagangan internasionaI

dt

samping kemampuan penyesuaian ekonomi nasionaI terhadap perkembangan

yang ada.

Satah satu

faktor yang sangat

memPengaruhi perekonomian dunia adatah tatanan atau

srstem

yang

merupa[<an

dasar

datam hubungan perdagangan

antar

Negara.

Tatanan dimaksud adatah

General

Agreement

on

Tariffs and Trade (GATTI'

Manfaat keikut sertaan lndonesia datam persetujuan

tersebut pada

dasarnya bukan

saja

memungkinkan terbukanya petuang pasar internasionaI yang tebih tuas, tetapi juga menyediakan kerangka pertindungan mul.titateraI

yang

tebih

baik bagi

kepentingan nasionaI datam perdagangan internasionat, khu-susnya

datarnmenghadapi mitra dagang. 8 Dal,am kaitannya

dengan

sistem penyelenggaraan

perdagangan

antar

urrima

jusa

dirakukan

karena p.T!l$

;loPit

8

Hata, Perdagangan Internasional Dalam Sistem GATT dan WTa Aspek-Aspek Hukum dan Non' Hukum, Cet. Pertama, PT Refika Aditama, Bandung, 2006, htm'225

(10)

Summa Justiti

bangsa, lndonesia te[ah

ikut

serta dan

berperan aktif datam

menyukseskan Puturan Uruguay dalam rangka GATT.

Sebagai negara yanq menganut sistem

ekonomi terbuka dan

mengandatkan ekspor sebagai penggerak pembangunan maka lndonesia sangat berkepentingan

untuk ikut mewujudkan

tatanan

perdagangan dan sistem

ekonomi internasional.

yang bebas, adit

dan

terbuka. Kepentingan lndonesia datam

hat ini yaitu

tersedianya pasar bebas

bagi

barang dan

jasa

yang dihasitkan

oteh lndonesia guna

mendukung pembangunan nasional. Posisi lndonesia yakni mempertahankan dan mempertuas

pasar

serta mengetiminasi hambatan- hambatan lbarriersl

ekspor.

lndonesia

selatu

berupaya menjaga

agar

aturan dan segata produk hukum dalam sistem perdagangan dan ekonomi internasional tidak bersifat memihak dan deskriminatif

sehingga

Negara-negara

maju

tidak

memaksakan kehendaknya

secara sepihak yang dapat merugikan Negara- negara sedang berkembang. 9

Setain menjadi anggota WTO kebijakan

bisnis dan

perdagangan internasionaI [ain yang ditetapkan pemerintah adalah kerjasama kawasan regionat dengan ikut sebagai pendiri AFTA [Asean Free Trade Area), metakukan hubungan bitaterat dan

tertibat datam US-S|ngapore FTA yang memberikan dampak cukup besar berupa peningkatan tajam perdagangan il.tegat di lndonesia,

Hirrgga

saat ini

sistem bisnis dan perdagangan lndonesia

diatur

sesuai dengan hukum brsnis dan perdagangan internasional yang diterjemahkan dalam bentuk perundangan

di

lndonesia yang diharapkan da,pat melindungi kepentingan nasionat,

III.

PENUTUP

A,

Kesimputan

Sebagai konsekwensihukum atas ratif ikasi yang ditempuh dengan persetujuan DPR

dan

Presiden maka lndonesia sebagai anggota WTO memitiki kewajiban untuk

metaksanakan sistem

perdagangan internasienalnya sesuai dengan perjanjian WT.O

tersebut. Prinsip dasar

datam WTO

ada[ah

non-discrimination lequal treatmentl, bahwa setiap anggota WTO

memi|,iki hak yang sama

terutama mengenai tadff. Setain

itu

terdapat puta prinsip reciprocity yaitu hubungan timbat

batik antar

anggota

yang

metindungi

semua

kepentingan. lndonesia datam

menjatankan sistim

perdagangannya mengadopsi prinsip WTO tersebut dengan membangun hukum nasionatyaitu UU No.

7 tahun 1994 untuk kepentingan nasionat.

Metalui undang-undang tersebut sistim perdagangan

internasionaI

lndonesia akan menuju suatu sistim Free Trade dan juga memuncutkan protecsianism, Datam kenyataannya prinsip WTO dikhawatirkan hanya metindungi kepentingan negara maju, sedangkan bagi negara berkembang

justru terkesan merugikan

karena kebebasan

besar datam

perdagangan tersebut.

B.

Saran

Dalarn menerapkan pol.itik hukum maka dibutuhkan kehati-hatian yang tinggi agar kebijakan

potitik

hukum

yang

diambit

akan

memberikan manfaat khususnya datam transaksi bisnis internasionat. HaI ini sangat penting karena potitik hukum

sebagai suatu garis

kebijakan yang dibertakukan dengan pembuatan hukum

rld,

.,1

9

N. Rosyidah Rakhmawati, Hukum Ekonomi lnternasiona! Dalam Era Global, Cet.Pertama, Malang : Bayumedia Pubtishing, 2006, htm.3.

(11)

baru maupun dengan penggantian hukum [ama

datam rangka

mencaPai tujuan Negara

memitiki

f

ungsi yang

sangat

mma Justitia

strategis khususnya datam memberikan kepastian hukum dan rasa keadiLan bagr para petaku

bisnis,l

ij-i

iIIlFll:llftE

;l

i:,

(

Ade Maman Suherman, AsPek Hukum

Dalam

Ekonomi

Global,

Jakarta:

Ghatia lndonesia, 2005.

Hata, Perdagangan lnternasional Dalam

,

Sistem GATT dan WTj, Cet Pertama,

Bandung: PT Refika Aditama, 2006.

, lmam Syaukani dan

A.

Ahsin Thohari' Dasar-Dasar Politik Hukum, Jakarta:

PT RajaGrafindo Perkas a, 2004.

Moh. FaisaL saLam,

PenYelesaian Sengketa Bisnis Secara Nasional dan lnternasional, Bandung: Mandar Maju, 2007.

Moh. Mahfud MD,

Politik Hukum Di lndonesia,

Jakarta:

Rajawati Pers,

2009.

Munir Fuady, Hukum Dagang lnternasionat, Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2004.

N. Rosyidah Rakhmawati, Hukum Ekonomi

.

lnternasional

Dalam Era

GLobal,

Edisi Pertama, Matang: BaYumedia Publ.ishing, 2006.

Sri Redjeki Hartono, l\apitaSelekta Hukum

Ekonomi. Cet.

1,

Bandung: Madar Maju, 2000.

Sudargo Gautama, i4ukum

Dagang

lnternasianal, Cet. Kedua, Barrdung:

ALumni, 2004.

|), (.

T.,

I

(12)

Summa Justitia

'BIODATA PENULIS

Dhaniswara K Harjono

Lahir di Jakarta 26 Oktober

1960.

Menye[esaikan pendidikanSl di Universitas Kristen lndonesia dan Universrty Hawair at Manoa, USA, Hawaii Pacific Coll.ege, USA,

Master

of

Business Administration-lEU, 52 llmu Hukum UNPAD, 53 lLmu Hukum UNPAD. Kepala Program Studi Program Studi Magister

ltmu

Hukum Universitas Kristen lndonesia.

TN Syamsah

Lahir di

Haria, Saparua

19 Mei

1955,

:Lahir di

Lahat

27

Desember 1943,

S1

menyetesaikan

pendidikan S1

pada

:Fakuttas Hukum Universitas

Sriwidjaya

Fakuttas Hukum Patimura, tahun 1981,

"tahun 1970,

52

UNPAD tahun 2006,

53

Pasca Sarjana Sam Ratu[angr (S21, tahun UNPAD tahun

2008.

2006 dan Doktor ltmu Hukum, Universitas Hasanuddin tS3)

tahun

2010,

saat

ini

Edy5antoso

menjabat sebagai Pembantu Rektor pada Universitas Pattimura,.

Lahir di Bandung 10 Aprii

1966,

menyetesaikan pendidikan D3 Teknik Sipil.

Potiteknik ITB tahun 1990, S1 Teknik Sipit lnstitut Teknotogi Budi Utomo, Jakarta, tahun 1995, Master

0f

lnformation and

Technotogy Management

University Wottongong, Australia, tahun 2002, Master Hukum Program Hukum Bisnis UNPAD, tahun 2006, 53 itmu Hukum UNPAD.

Barita Simanjuntak

Lahir

Tarutung,

12 Juti

1971, lutus Doktor itmu hukum [S3] tahun 2007 dari Universitas lndonesia, Magister Hukum

t52l

Universitas lndonesia

tahun

2000 dan Sarjana Hukum [S1) pada Universitas Sumatera

Utara tahun

199L,

saat

ini

menjabat sebagai Dekan Fakuttas Hukum Universitas Kristen I ndonesia.

Hendrik Hattu, SH,

llH

Dr. Hargarito Kamis, SH, l.lH

Lahir di Ternate, 27 Aprit

1965,

menyetesaikan

pendidikan S1

pada

Universitas Kahirun, Ternate

tahun 1990,

52 pada

Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang, tahun 1993

dan

meraih getar Doktor pada Universitas lndonesia,

Jakarta, tahun 2004. Dosen

pada Magister ltmu Hukum Universitas Kristen lndonesia, Universitas

Airtangga

dan Universitas Pattimura.

(13)

Summa Justitia

Pedoman Penulisan Naskah Untuk Jurnal ltmiah

..SUMMA

JUSTITIA.

1.

Naskah

diketik

daLam tampiLan hal.aman 2 (dua) koLom, 1,5 spasi,

jenis Times New Roman ukuran

11,

abstraks Times New Roman ukuran

10, jumLah

5-10 hataman ukuran kertas A4 [termasuk gambar,

tabLe,

ifustrasi, dan daftar pustakal. Margin kiri 2 cm; margin atas 2 cm;

margin

bawah 2

cm dan margin kanan

2

cm

(sesuai

ukuran jurnatl.

2. Belum pernah

dipubLikasikan meLatui

media

[ainnya.

3. Dapat berupa

hasiL

penel.itian atau studi kepustakaan yang bersifat obyektif, sistematis, anaIitis,

dan

deskriptif bidang iImu hukum.

4. Menggunakan

bahasa

lndonesia yang baku, sederhana,

dan lugas.

5. Hindari pemakaian kata atau

istiLah

asing

yang

dianggap tidak perlu.

6. JuduI ditulis singkat dengan kata-kata atau frase kunci

yang

mencerminkan

isi tuLisan.

7. Sistematika penutisan secara garis besar memuat: Abstrak Imeliputi:

tujuan dan ruang Lingkup penetitian, metode yang digunakan, ringkasan hasiL, kesimputan), Kata Kunci, PendahuLuan Imetiputi:

masaLah

dan ruang

Lingkup,

status itmiah dewasa ini, hipotesis

cara

pendekatan penyetesaian

masaLah, hasiL

yang diharapkan), Tinjauan teori, metodotogi Penelitian, Pembahasan Imetiputi: ada

kesesuaian

atau pertentangan dengan hasit

Litbang

[ain, adanya impLikasi

hasit

Litbang baik teori maupun penerapan). Kesimpu[an dan saran,

dan

Daftar Pustaka [antara 30-50 referensiJ. Naskah tidak menyertakan catatan kaki, tetapi menggunakan catatan datam lparentical lisf)

yaitu

nama pengarang diikuti tahun. Panjang naskah minimal

15 haLaman.

Contoh

teks:

PenuLis

harus

banyak

membaca IParera,

2003).

B. Daftar Pustaka diketik berdasarkan urutan abjad, bukan nomor, dengan menutiskan nama pengarang [tanpa getar), judut,

nama

penerbit, Kota Penerbit

dan Tahun.

9. Redaksi menerima naskah daLam bentuk print out dan

disket/CD.

Disertai

CV dan aLamat

tengkap

penuLis.

10.

lsi

tulisan di [uar tanggungjawab redaksi.

Redaksi

berhak menyunting dari segi

bahasa

tanpa mengubah arti.

11. Keterangan

Lengkap

dapat menghubungi PMIH UKI Jl.

Diponegoro N0. 85

Jakarta

10430, TeLp.

[02113920174,Fax

[021)3920018.

Referensi

Dokumen terkait

EXPLORING A RURAL ENGLISH TEACHER’S LIVED EXPERIENCES OF ASSESSMENT PRACTICES IN A BLENDED LEARNING ENACTMENT: A NARRATIVE INQUIRY Thesis BY HARIS SUGIANTO NPM: 21902073022