• Tidak ada hasil yang ditemukan

Supply Chain Management Pada Industri Manufaktur Kabel Tembaga

N/A
N/A
Ahmad Ismail Z.A

Academic year: 2024

Membagikan " Supply Chain Management Pada Industri Manufaktur Kabel Tembaga "

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Supply Chain Management Pada Industri Manufaktur Kabel Tembaga Penulis : Ahmad Ismail Zulfajri Akbar

I. DASAR TEORI

1.1 Supply Chain Management (SCM)

Supply Chain Management atau dalam bahasa indonesia disebut rantai pasok secara definitive dapat disebut sebagai aktivitas pemindahan barang dari satu entitas bisnis ke entitas lainnya yang membutuhkan koordinasi demand dan supply antara berbagai stakeholder dalam sistem (Ballou, 2007).

(Kusmantini, 2015) menyampaikan bahwa secara umum pihak yang terlibat dalam Supply Chain Management adalah perusahaan-perusahaan pemasok bahan baku dan komponen, perusahaan vendor, perusahaaan pabrikan, perusahaan distributor, perusahaan agen logistik, serta toko atau ritel yang menjual produk langsung ke konsumen akhir.

Contoh sederhana dari model Supply Chain Management dapat dilihat pada diagram berikut:

Gambar 1. Contoh Diagram model Supply Chain Management Sederhana (Kusmantini,2015)

Setiap perusahan industri manufaktur mempunyai model supply chain management yang berbeda-beda, system operasional dari berbagai perusahaan industri sangat mempengaruhi model supply chain management dari perusahaan tersebut, banyaknya

(2)

stakeholder dan stakeholder dalam suatu industri manufaktur juga sangat mempengaruhi model supply chain management. Model supply chain yang berbeda-beda tiap perusahaan membuat setiap perusahaan memiliki risiko rantai pasok yang berbeda-beda, manajemen risiko rantai pasok menjadi satu tantangan bagi eksekutif bisnis untuk dapat mengelola bisnis agar kinerja keuangan perusahaan dapat meningkat secara berkelanjutan.

(Kusmantini,2015) menyampaikan beberapa cara untuk meminimalisir risiko rantai pasok:

1. Pengupayaan peningkatan pendapatan perusahaan melalui strategi keragaman produk. Definisi keragaman produk diperjelas oleh (Kotler,2013) “Keragaman produk adalah kumpulan semua produk dan barang yang ditawarkan untuk dijual oleh penjual tertentu”.

2. Pengurangan biaya total operasi misalnya dengan cara pengelolaan persediaan berbasis sistem Just-In-Time ataupun pengelolaan persediaan berbasis vendor atau disebut vendor-managed inventory (VMI).

3. Penerapan strategi subkontrak pada proses manufaktur mereka dalam rangka mengurangi modal kerja perusahaan. Beberapa inisiatif tersebut akan efektif jika perusahaan menghadapi konteks lingkungan bisnis yang stabil. Namun, inisiatif tersebut akan berdampak pada tingkat pengembalian investasi yang lebih lama dan berdampak pada pengelolaan rantai pasok perusahaan semakin rumit.

1.2 Supply Chain Process View

Semua proses dalam supply chain masuk kedalam salah satu dari dua kategori tergantung pada waktu eksekusi relatif perusahaan untuk mengakhiri permintaan pelanggan.

- Push proses juga dapat disebut sebagai proses spekulatif karena berspekulasi (atau diperkirakan) daripada permintaan actual.

- Pull process, eksekusi dimulai sebagai respon terhadap pesanan pelanggan. Dengan push proses, eksekusi dimulai dengan mengantisipasi pesanan pelanggan. Oleh karena itu, pada saat eksekusi pull proses, permintaan pelanggan yang diketahui dengan pasti, sedangkan pada saat pelaksanaan push proses, permintaan tidak dikenal dan harus diperkirakan. Pull proses juga dapat disebut sebagai proses reaktif karena bereaksi terhadap permintaan pelanggan (Hayati,2014).

Batas push/pull dalam memisahkan proses supply chain digambarkan sebagai berikut:

(3)

Gambar 2. Ilustrasi Pull and Push Process (Hayati,2014)

Untuk mengidentifikasi proses push atau pull yang paling efektif digunakan pada sebuah industri manufaktur, diperlukan adanya analisis strategic fit pada industry tersebut.

(Hayati,2014) pada jurnalnya menjelaskan bahwa Strategic fit merupakan konsistensi antara prioritas pelanggan yang diharapkan mampu dipenuhi oleh strategi kompetitif dan kemampuan rantai nilai yang dapat dibangun dengan strategi supply chain.

(Hayati,2014) juga menjelaskan adanya 3 tahap yang perlu dilakukan untuk menganalisis strategic fit pada suatu industry, 3 tahapan tersebut adalah :

1. Memahami pelanggan dan ketidakpastian rantai pasokan (Understanding the Customer and Supply Chain Uncertainty)

Perusahaan harus memahami kebutuhan pelanggan pada masing-masing segmen dan ketidakpastian supply chain yang dihadapkan pada pemenuhan kebutuhan. Kebutuhan ini membantu perusahaan menemukan keinginan biaya dan permintaan jasa. Ketidakpastian rantai pasokan membantu perusahaan mengidentifikasi tingkat ketidakmampuan dalam memprediksi permintaan, gangguan, dan keterlambatan.

2. Memahami kemampuan rantai pasokan (Understanding the Supply Chain Capabilities)

(4)

Terdapat beberapa jenis supply chain, masing-masing dirancang untuk pelaksanaan tugas yang berbeda. Perusahaan seharusnya mengetahui bagaimana supply chain didesain dengan baik.

3. Pencapaian strategi fit (Achieving Strategic Fit)

4. Jika terdapat persaingan yang tidak sebanding antara supply chain dengan kebutuhan pelanggan, perusahaan juga akan mengatur kembali rantai pasokan untuk mendukung strategi kompetitif atau mengubah strategi kompetitif.

Langkah pertama dalam pencapaian strategi fit antara kompetitif dan strategi supply chain adalah memahami pelanggan dan ketidakpastian supply chain.

Ketidakpastian dari pelanggan dan supply chain dapat dikombinasikan dan dipetakan pada spektrum ketidakpastian. Langkah kedua dalam pencapaian strategi fit antara kompetitif dan strategi supply chain adalah memahami supply chain dan memetakannya pada spektrum kemampuan reaksi. Langkah terakhir dalam pencapaian strategi fit adalah mencocokkan antara kemampuan reaksi supply chain dengan ketidakpastian dari permintaan dan penawaran.

Rancangan rantai pasokan dan seluruh strategi fungsional pada perusahaan harus dapat mendukung tingkat kemampuan reaksi supply chain.

(Chopra.2016) mengidentifikasikan push view process sebagai speculative process dan pull view process sebagai reactive process. Hal ini dikarenakan pada push process eksekusi dan produksi diinisiasi dalam mengantisipasi permintaan konsumen berdasarkan hasil forecasting, sedangkan dalam pull process eksekusi dan produksi diinisiasi karena adanya permintaan konsumen yang real. Dapat dikatakan bahwa push dan pull process terjadi pada kondisi environment yang berbeda. Proses push terjadi pada uncertain environment karena permintaan konsumen belum diketahui secara pasti. Proses pull terjadi pada kondisi yang lebih pasti karena permintaan konsumen telah diketahui.

(5)

II. PEMBAHASAN

II.1 Proses Manufaktur Kabel Tembaga

Dikutip dari web salah satu manufakturer kabel listrik terbesar di Indonesia (https://sinarmonas.co.id/blog/detail/mengenal-proses-stranding-pada-produksi-kabel-listrik) Diagram alur produksi kabel tembaga dapat dilihat pada gambar berikut

Gambar 3. Diagram Alur Tahapan Pembuatan Kabel

(https://sinarmonas.co.id/blog/detail/mengenal-proses-stranding-pada-produksi-kabel- listrik)

Berdasarkan diagram alur tersebut proses pembuatan kabel dibagin menjadi 5 tahap sebelum kabel tersebut dapat di jual ke pasaran

1. Drawing

Pada tahap ini akan ditentukan jenis kabel tembaga yang akan dibuat, ukuran kabel, jenis insulasi yang digunakan, isi core kabel, dan dan jumlah inti kabel,

(6)

sebagai contoh kabel NYY 3x2.5 menggunakan insulasi XLPE, inti kabel berisi 3 dengan masing-masing inti kabel berukuran 2,5mm.

2. Stranding

Proses stranding adalah proses menggabungkan beberapa penghantar. Proses ini dilakukan untuk kabel yang berukuran besar atau kabel ukuran kecil jenis serabut. Semakin besar penghantarnya maka kapasitas hantar arus dari kabel tersebut akan semakin besar.

3. Insulation

Dalam tahap ini penghantar akan dibungkus oleh insulator yang sesuai pada design, pada umumnya insulator berbahan plastik (XLPE atau PVC), namun ada pula beberapa design kabel yang menggunakan bahan FRC untuk lapisan insulator (biasanya digunakan pada instalasi FA, Lift, Manifold).

4. Cabling

Dalam proses ini kabel yang berukuran sama akan di gabungkan, menjadi Panjang kabel yang biasa dijual di pasaran (10m, 50m, 100m, 200m, dst).

5. Sheating

Jenis kabel tertentu memerlukan adanya proses sheating, proses sheating ini dibagi menjadi inner sheating dan outer sheating, biasanya digunakan pada kabel MV, HV, atau kabel bawah tanah yang memerlukan proteksi lebih. Sebagai contoh kabel NFgBY menggunakan armoring berbahan steel untuk proteksi kabel.

Setelah semua proses selesai maka akan lanjut ke proses quality control untuk memisahkan antara kabel yang rusak dan kabel yang bagus, untuk mengecek insulasi kabel biasanya menggunakan alat megger. Kabel yang lolos proses quality control kemudian akan dijual ke pasaran atau diteruskan ke distributor.

II.2 Struktur Rantai Pasok Pada Industri Manufaktur Kabel Tembaga

Sesuai dengan pembahasan 2.1, dapat di ilustrasikan struktur rantai pasok pada industri manufaktur kabel tembaga, bahan mentah utama yang diperlukan dalam produksi kabel adalah tembaga untuk penghantar, dan karet untuk insulasi. Pemesanan tembaga dan karet dari fabricator akan menyesuaikan dengan drawing yang dibuat oleh manufacturer

(7)

kabel. Sebagai ilustrasi, pada gambar 4 disampaikan diagram supply chain management pada industri manufaktur kabel tembaga.

Gambar 4. Diagram Supply Chain pada industri manufaktur kabel tembaga.

Dalam ilustrasi tersebut disebutkan bahwa untuk mencapai proses manufaktur diperlukan adanya peran dari distributor, fabricator, dan supplier raw material. Dieprlukan juga adanya koordinasi antar pihak yang terlibat untuk mengintegrasikan supply dan demand antar pihak yang berkolaborasi. Hal ini sesuai dengan penjelasan oleh (Chopra, 2016) yang secara spesifik menyampaikan bahwa rantai pasok terdiri atas semua stakeholder yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam memenuhi pesanan konsumen, meliputi supplier, transporter, warehouse, retailer dan konsumen. Bersama dengan focal company, yaitu pabrik/manufaktur secara Bersama berkoordinasi untuk menghasilkan nilai tambah produk dan memehui pesanan konsumen dan memperoleh keuntungan melalui aktivitas pengembangan produk baru, pemasaran, distribusi, customer service dan kegiatan lain yang mendukung.

II.3 Push and Pull Supply Chain Process View pada Industri Manufaktur Kabel Tembaga

Proses supply chain yang digunakan pada manufaktur kabel pada umumnya adalah push process, dimana manufacturer mendorong produksi setiap jenis kabel dalam skala besar untuk disimpan di warehouse, kemudian di distribusikan tergantung demand

(8)

dari konsumen. Banyaknya kuantitas produk yang disimpan di warehouse di sesuaikan dengan demand pasaran terhadap jenis kabel tersebut, sebagai contoh kabel jenis NYY 2x2.5 sangat umum digunakan pada instalasi listrik rumahan, oleh sebab itu jenis kabel ini akan diproduksi dalam jumlah besar dan secara continue.

Namun ada juga beberapa jenis kabel yang baru akan di produksi setelah ada demand dari pelanggan, jenis kabel ini biasanya kabel khusus yang hanya akan di gunakan dalam project tertentu, sebagai contoh pada project PLTU untuk transmisi High Voltage 500 KV Menggunakan kabel 4xACCC, kabel jenis ini menggunakan konduktor berbahan alumunium dengan system pendingin oli di antara konduktornya, kabel jenis ini pada umumnya baru akan di produksi setelah adanya demand, dikarenakan untuk menyimpan kabel jenis ini di gudang hanya akan memakan tempat mengingat ukurannya yang besar dan jarangnya demand dari konsumen, hal ini disebut sebagai pull process.

III. Referensi

Kusmantini, Titik., Guritno, A.D., & Rustamaji, H.C. (2015). Manajemen Risiko Rantai Pasok.

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UPN Veteran Jogjakarta

Ballou, R. H. (2007). The evolution and future of logistics and supply chain management.

European Business Review.

Kotler, Philip., & Kevin, L. K. (2013). Manajemen Pemasaran. Jakarta: Erlangga Jilid 2

Sinarmonas official website. Mengenal Proses Stranding Pada Produksi Kabel Listrik.

https://sinarmonas.co.id/blog/detail/mengenal-proses-stranding-pada-produksi-kabel-listrik

Chopra, S., Meindl, P., & Kalra, D. (2016). Supply chain management: strategy Planning and Operation (Sixth). Pearson.

Hayati, Enti Nur. (2014). Supply Chain Management (SCM) dan Logistic Management. Jurnal Dinamika Teknik, Vol 8 No 1.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pengelolaan risiko supply chain , kepentingan dari berbagai stakeholder yang terlibat dalam supply chain harus diperhatikan untuk keberlangsungan dari

The Effect of Supply Chain Management Practices on Supply Chain Quality Integration Supply chain quality integration refers to the degree to which company synchronized and

Sejarah awal dari perkembangan supply chain dimulai dari era revolusi industri ditahun 1890 dengan munculnya istilah “logistik”, kemudian pada tahun 1927 pada masa

Terdapat dua pandangan dalam menentukan proses bisnis yaitu pandangan cycle view dan push or pull view (Chopra dan Meindl 2004). Siklus procurenment dilakukan

Supply Chain Council (2012), Pujawan (2005), dan Saputra dan Fithri (2012). b) Menentukan indikator-indikator kinerja Green Supply Chain Management pada model Green SCOR yang

Figure 1.2: Components of Supply Chain Responsiveness Figure 1.1: Classification of Healthcare Supply Chain Management Healthcare Supply chain Management Internal Hospital Supply

doi: 10.5267/j.uscm.2021.12.002 Uncertain Supply Chain Management 10 2022 495–510 Contents lists available at GrowingScience Uncertain Supply Chain Management homepage:

TUGAS SUPPLY CHAIN MANAGEMENT Oleh : NASLA SHIVA AZZURA- 130407222015 RICARD MUGABE TURNIP- 130407221016 KELAS:TRANSPORTASI LAUT 3A Contoh kegiatan internal supply chain Internal