• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURAT PENCATATAN - Unissula

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "SURAT PENCATATAN - Unissula"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

a.n. MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUAL

Dr. Freddy Harris, S.H., LL.M., ACCS.

NIP. 196611181994031001 REPUBLIK INDONESIA

KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

SURAT PENCATATAN

CIPTAAN

Dalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:

Nomor dan tanggal permohonan : EC00202030111, 31 Agustus 2020 Pencipta

Nama : Pujiati, Endang Lestari

Alamat : Karang Gawang Baru RT 2 RW 6, Semarang, Jawa Tengah, 50274

Kewarganegaraan : Indonesia

Pemegang Hak Cipta

Nama : Pujiati, Endang Lestari

Alamat : Karang Gawang Baru RT 2 RW 6, Semarang, Jawa Tengah, 50274

Kewarganegaraan : Indonesia

Jenis Ciptaan : Laporan Penelitian

Judul Ciptaan : ANALISIS PERSEPSI MAHASISWA MENGENAI INTERPROFESSIONAL

EDUCATION BERBASIS KOMUNITAS Tanggal dan tempat diumumkan untuk pertama kali di

wilayah Indonesia atau di luar wilayah Indonesia

: 31 Agustus 2020, di Semarang

Jangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuh puluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal 1 Januari tahun berikutnya.

Nomor pencatatan : 000201655

adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.

Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

(2)

LAMPIRAN PENCIPTA

No Nama Alamat

1 Pujiati Karang Gawang Baru RT 2 RW 6

2 Endang Lestari Desa Banjarejo RT 001/RW 004

LAMPIRAN PEMEGANG

No Nama Alamat

1 Pujiati Karang Gawang Baru RT 2 RW 6

2 Endang Lestari Desa Banjarejo RT 001/RW 004

Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)

(3)

1

LAPORAN PENELITIAN KELOMPOK

ANALISIS PERSEPSI MAHASISWA MENGENAI

INTERPROFESSIONAL EDUCATION BERBASIS KOMUNITAS

OLEH:

1. KETUA: dr. Pujiati, Sp.A

2. ANGGOTA: dr. Suryani Yuliyanti, M.Kes.

3. ANGGOTA: Dra. Endang Lestari, M.Pd. MPd.Ked.

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG NOVEMBER 2019

Pendidikan kedokteran

(4)

2

(5)

3

DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan ... 2

DAFTAR ISI ... 3

DAFTAR GAMBAR ………4

ABSTRAK ... 5

BAB I. PENDAHULUAN ... Latar Belakang... 6

Rumusan masalah ... 7

Tujuan Khusus ... 8

Urgensi (Keutamaan)... 8

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 9

Interprofessional Education…..………. 10

Urgensi Interprofessional Education ..……….. 11

IPE Framework ………...……….. 12

Teori peembelajaran yang melandasi pembelajaran interprofesi berbasis komunitas ... 14

Evaluasi kolaborasi dan pembagian peran dalam pembelajaran interprofesi berbasis komunitas pembelajaran interprofesi ... 14

Pengaruh pendidikan berbasis komunitas terhadap kesadaran tanggungjawab sosial pada pelayanan kesehatan di daerah tertinggal ...……….16

Studi Pendahuluan yang Sudah Dilakukan... 17

BAB III. METODE PENELITIAN ... 18

Metode ... 18

Konteks………..18

Subjek ... 19

Metode pengumpulan data ... 20

Tempat penelitian ... 20

Analisis data ... 20

Etika ... 20

Indikator keberhasilan kegiatan ……..………..………20

(6)

4

BAB VI. HASIL DAN PEMBAHASAN ……….. ..………..22

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ………..33

DAFTAR PUSTAKA ... 34

LAMPIRAN ... 35

Lampiran 1. Bukti Acceptance for oral presentation ..………….……….35

Lampiran 2. Draft paper ... 36

(7)

5 DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. IPE Framework ………...12 Gambar 2.Diagram road map penelitian pembelajaran interprofesional

berbasis komunitas ………..18

Gambar 2. Diagram alir penelitian ………..…21

(8)

6 ABSTRAK

Pelayanan kesehatan masyarakat adalah layanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan sasaran kelompok dan masyarakat. Dengan demikian, membutukan penanganan yang komprehensif dari tim pelayanan kesehatan yang memiliki ketrampilan dan pengetahuan untuk bekerjasama dalam menangani masalah pasien.Literature melaporkan bahwa banyak terjadi kolaborasi yang yang kurang maksimal antara praktisi kesehatan dalam melaksanakan layanan kesehatan termasuk layanan kesehatan di masyarakat. Penelitian ini mengkaji persepsi mahasiswa dari berbagai prodi kesehatan UNISSULA mengenai IPE setelah mengkuti pendidikan interprofesi kesehatan berbasis komunitas.

Mahasiswa dari fakultas kedokteran, kebidanan dan keperawatan yang akan dibagi menjadi beberapa kelompok akan menjadi subjek dalam penelitian ini.Data persepsi mahasiswa dikumpulkan dengan Focus Group discussion (FGD) yang direkam dan di transkrib secara verbatim. Data dianalisis tematik oleh dua orang ahli menggunakan program Atlas Ti.

Hasil dari penelitian ini akan berupa desain pembelajaran interprofesi berbasis komunitas dan informasi mengenai persepsi mahasiswa mengenai pendidikan interprofesi di komunitas,serta dihasilkan publikasi ilmiah pada jurnal internasional Journal of Multidiscilinary Healthcaredanpublikasi pada forum ilmiah: TUFH, AMEA dan APMEC.

Kata kunci: pendidikan interprofesi kesehatan berbasis komunitas,teamworking,

(9)

7 BAB 1

PENDAHULUAN

Latar belakang

Pelayanan kesehatan masyarakat adalah layanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan sasaran kelompok dan masyarakat. Dengan demikian, pelayanan kesehatan tidak hanya ditekankan pada upaya penyembuhan penyakit, akan tetapi juga pada upaya promosi dan pencegahan penyakit, sehingga membutukan penanganan yang komprehensif dari tim pelayanan kesehatan yang memiliki ketrampilan dan pengetahuan untuk bekerjasama dalam menangani masalah pasien. (Baker & Fowler-Durham, 2013; Bridges & Tomkowiak, 2010;

Makino et al., 2013)

Meskipun demikian, literature melaporkan bahwa banyak terjadi kolaborasi yang yang kurang maksimal antara praktisi kesehatan dalam melaksanakan layanan kesehatan termasuk layanan kesehatan di masyarakat,yangpada gilirannya berdampak pada terjadinya medical errors yang dapat mengancam keselamatan pasien (Olson & Bialocerkowski, 2014;

Olupeliyawa, O’Sullivan, Hughes, & Balasooriya, 2014; Rowland & Kitto, 2014;

Thistlethwaite et al., 2014)Selain itu, pada setting layanan kesehatan di masyarakat, terjadi role blurring atau ketidakjelasan peran antara petugas kesehatan satu dengan lainnya, serta tumpang tindih peran. Keadaan ini diperparah dengan persepsi di masyarakat bahwa semuapetugas medis adalah sama.Masyarakat terutama di pedesaan terkadang tidak memahami kepada petugas medis mana yang harus melayani mereka sesuai dengan keperluan layanan kesehatan yang dibutuhkannya. Sepanjang kebutuhan kesehatan terlayani oleh siapapun petugas medis, maka mereka akan menerima layanan tersebut.

(Guru, et al. 2013).

Bertolak dari keadaan tersebut, sejak dini perlu diselenggarakan pembelajaran interpofesi yang mendudukkan siswa dari berbagai profesi kesehatan yang berbeda untuk belajar dengan, dari dan tentang profesi satu sama lain, dengan setting komunitas. Pola pembelajaran seperti ini diakui sebagai sarana untuk mempromosikan dan mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan oleh siswa agar dapat berkolaborasi dalam melaksanakan

(10)

8 pelayanan kesehatan dengan pendekatan keselamatan pasien (Barr, 2002) dan pelayanan yang komprehensif, yakni preventif, kuratif, rehabilitatif dan promotif. Literatur menjelaskan bahwa desa tertinggal menjadi seting pembelajaran yang ideal karena daerah rural tidak banyak terdapat petugas kesehatan dan umumnya mereka bekerja sangat dekat dalam tim work yang baik dalam menangani masalah kesehatan masyarakat sehingga dapat menjadi role model praktek interprofesi yang baik. (Cragg, et al 2010).

Model pembelajaran IPE berbasis komunitas telah dilaksanakan oleh berbagai Universitas yang menyelenggarakan pendidikan tenaga kesehatan. Meskipun demikian, sejauh ini, di Indonesia belum ada bentuk baku pembelajaran IPE dengan setting komunitas. Oleh karena itu, Tim IPE Unisula berupaya untuk melakukan pilot project IPE dengan setting komunitas dan mengevaluasi keberhasilan pembelajaran berdasarkan persepsi mahasiswa setelah mengikuti IPE Komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi persepsi mahasiswa mengenai IPE berbasis komunitas setelah mengikuti kegiatan IPE pada setting komunitas.

Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimanakah persepsi mahasiswa kedokteran dan kebidanan setelah mengikuti kegiatan IPE berbasis komunitas?

Yang dimaksud dengan pendidikan interprofessional berbasis komunitas dalam penelitian ini adalah desain pembelajaran yang mendudukkan mahasiswa dari berbagai profesi kesehatan untuk belajar bersama secara dengan setting komunitas. Kegiatan pembelajaran akan terdiri dari survey masalah kesehatan, perencanaan program kegiatan pelayanan masyarakat, dan tahap intervensi di masyarakat.

Tujuan Khusus:

- menyusun desain pembelajaran interprofesi kesehatan berbasis komunitas.

- mengevaluasi persepsi mahasiswa kedokteran dan kebidanan setelah mengikuti kegiatan IPE berbasis komunitas

Urgensi penelitian

Pola pendidikan seperti ini penting untuk dilakukan agar mendidik siswa terbiasa bekerjasama dan berinteraksi dengan tim medis lain, seperti yang akan dilakukannya ketika

(11)

9 di tepat praktek yang sesungguhnya. Pola pendidikan seperti ini belum pernah dilaporkan di Indonesia, karena umumnya tiap profesi medis memiliki pendidikan yang terpisah, baik pada tingkatan pre klinik maupun pada fase klinik (praktek di rumah sakit).

Jika pendidikan interprofesi kesehatan berbasis komunitas ini tidak dilakukan di Indonesia, maka masalah kesenjangan komunikasi dan kerjasama yang kurang harmonis, role blurring, serta sikap merendahkan profesi satu dengan lainya akan terus terjadi, yang akan berakibat buruk bagi pelayanan kesehatan yang seharusnya dilakukan secara kolaboratif oleh tim medis. Telah disadari bahwa peningkatan kualitas tenaga medis sangat penting bagi peningkatan pembangunan, khususnya pembangunan bidang kesehatan.

Dengan dihasilkan tenaga medis yang ‘mumpuni’, trampil (termasuk trampil dalam berinteraksi dalam konteks interprofesi), memiliki pengetahuan dan sikap yang baik akan sangat membantu terwujudnya layanan kesehatan yang baik bagi masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini sangat penting dan menunjang kegiatan pembangunan kesehatan, khususnya dalam upaya menyiapkan tenaga kesehatan yang berkualitas.

Penelitian akanmenghasilkan prototipe rancangan kegiatan pembelajaran interprofesi berbasis komunitas, perangkat pembelajaran dan perangkat evaluasi. Prototipe- prototipe tersebut sangat penting bagi fakultas kedokteran dan kesehatan di Indonesia karena pertimbangan (1) belum ada model pendidikan yang mengembangkan ketrampilan ini secara formal, (2) sehingga diperlukan diperlukan prototipe penerapan pembelajaran interprofesi berbasis komunitas bagi pendidikan profesi kesehatan di Indonesia beserta model evaluasi programnya. Melalui penelitian ini diharapkan akan dihasilkan rancangan kegiatan pembelajaran dan rancangan evaluasi program pembelajaran interprofesi bidang kesehatan tersebut.

(12)

10 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Interprofessional Education (IPE)

Interprofessional education sudah bukan menjadi fenomena baru dalam pendidikan tebaga kesehatan. Di Amerika, misalnya, topik mengenai pentingnya IPE bagi mahasiswa profesi kesehatan telah dieksplorasi sejak 40 tahun yang lalu (Heuer, Geisler, Kamienski, Langevin, & Maillet, 2010). Team based education yang diinisiasi tersebut sesungguhnya juga dilandasi oleh berbagai issue yang hingga saat ini masih eksis, yakni:

 Meningkatkan produktifitas tenaga kesehatan

 Mendorong tenaga kesehatan untuk bekerja bersama sebagai tim yang mengedepankan dan focus pada patient centered

 Berbagai institusi pendidikan tenaga kesehatan belum mempersiapkan dengan baik luarannya atau alumninya untuk bekerja secara tim.(Schmitt, Gilbert, Brandt, &

Weinstein, 2013).

Untuk memastikan arah pembelajaran interprofesi, telah disusun 38 core competencies yang terbagi dalam empat domain praktek kolaborasi interprofesi keempat domain tersebut adalah: (a) nilai dan etika praktek interprofesi (b) tugas dan tanggungjawab (c) komunikasi interprofesi (d) tim dan timwork (IPECEP, 2011). Domain kompetensi yang disusun oleh IPECEP disusun berdasarkan konsep WHO mengenai praktek kolaborasi dalam layanan kesehatan dan didesain untuk menyiapkan mahasiswa profesi kesehatan untuk bekerjasama dalam meningkatkan kualitas layanan kepada pasien.(Cerra et al., 2015).

Urgensi Interprofessional Education

Premise dasar IPE adalah bahwa mahasiswa dari berbagai profesi belajar bersama sejak awal hingga akhir pendidikan, mereka akan lebih siap untuk bekerja secara kolaboratif ketika memasuki dunia kerja yang nota bene juga dilaksanakan secara kolaboratif. (Buring et al., 2009). Meskipun hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai kapan sebaiknya IPE diterapkan, namun terdapat konsensus bahwa IPE semestinya diberikan kepada mahasiswa sepanjang kurikulum (Buring et al., 2009).

(13)

11 Penelitian terdahulu melaporkan bahwa mahasiswa yang dididik secara monoprofesi sepanjag pendidikannya akan memiliki persepsi negative mengenai profesi pemberi layanan kesehatan lainnya. (Cook & Stoecker, 2014) Oleh karena itu, penerapan IPE sebagai bagian dalam kurikulum akan membantu mahasiswa meningkatkan persepsi positif terhadap profesi lain (Michalec, Giordano, Arenson, Antony, & Rose, 2013; Paslawsk, 2013). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman dan apresiasi mahasiswa terhadap interprofesionalisme mengalami peningkatan setelah memperoleh intervensi mengenai konsep interprofesionalisme (Heuer et al., 2010; Margalit et al., 2009). IPE dapat membantu mahasiswa meningkatkan ketrampilan komunikasi dan pemahaman terhadap peran profesi (Schuetz, Mann, & Everett, 2010), memperoleh pengalaman praktek kolaboratif dan menurunkan prevalensi stereotyping (Margalit et al., 2009) meskipun bukti efektifitas IPE masih lemah. (Reeves, Perrier, Goldman, Freeth, & Zwarenstein, 2013).

Meskipun bukti bukti mengenai sejauh mana pengaruh IPE terhadap efektifitas kolaborasi masih belum mencukupi, namun IPE tetap disarankan untuk dimasukkan dalam kurikulum pendidikan tenaga kesehatan, dan penting untuk dilaksanakan guna peningkatan kualitas layanan kesehatan (Poirer & Wilhelm, 2013; Reeves et al., 2013) Organisasi nasional seperti Institute of Medicine (IOM), the National Academies of Practice (NAP), the Joint Commission on the Accreditation for Health Care Organizations (JCAHO), the Josiah Macy Jr. Foundation, the Pew Charitable Foundation, the American Public Health Association (APHA), dan the World Health Organization (Buring et al., 2009; Heuer et al., 2010; WHO, 2013) seluruhnya menyarankan IPE untuk diterapkan dalam kurikulum pendidikan tenaga kesehatan. Selanjutnya, badan akreditasi institusi pendidikan tenaga kesehatan juga mengharuskan IPE masuk dalam kurikulum pendidikan tenaga kesehatan, termasuk LAMPT-Kes (Olenick & Allen, 2013).

IPE Framework

Freeth and Reeves (2004) menjelaskan berbagai factor yang berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran IPE, antara lain adalah keseluruhan konteks pembelajaran.

Kajian mengenai konteks ini membutuhkan informasi mengenai bagaimana profesi medis bekerja sama satu dengan lainya. (Freeth & Reeves, 2004) Selain itu, support dari pengambil kebijakan juga akan sangat mempengaruhi pelaksanaan IPE. Hal lain yang tak

(14)

12 kalah penting untuk diperhatikan adalah sikap, persepsi dan kepercayaan pembelajar terhadap IPE. Informasi ini sangat penting bagi penyusunan konten pembelajaran.

Karakteristik Pengajar seperti persepsi pengajar mengenai IPE juga akan memberikan pengaruh pada pembelajaran IPE. Selain itu, karakteristik pembelajar juga menjadi komponen penting terhadap keberhasilan IPE.Salah satu hal yang harus dieksplorasi dari karakteristik pembelajar adalah sikap mereka terhadap IPE. Persepsi positif akan memotivasi pengajar untuk memberikan kontribusi positif pula. Pendekatan pembelajaran yang diterapkan juga akan berpengaruh terhadap hasil IPE. Kegiatan pengajaran harus didesain agar pembelajaran harus secara integral berhubungan dengan penyelesaian dan pemahaman masalah kesehatan yang nyata. Hal penting yang harus dikembangkan dalam IPE adalah ketrampilan untuk menyelesaikan masalah kesehatan secara bersama dengan setiap fihak memberikan kontribusi penyelesaian sesuai bidang ilmunya (Légaré et al., 2011; Stephenson & Richardson, 2008).

Berdasarkan penjelasan tersebut, Freeth and Reeves (2004) kemudian menyusun diagram 3P learning and teaching IPE. (Freeth & Reeves, 2004)Hammick et.al.(2007) memperbaiki model tersebut dengan menambahkan beberapa factor yang harus dianalisis pengaruhnya terhadap program IPE. (Hammick, Freeth, Koppel, Reeves, & Baar, 2007) Pada variable karakteristik pembelajar, Freeth and Reeves (2004) menjelaskan bahwa factor demografi juga perlu dipertimbangkan. Gambar 1 menjelaskan komponen-komponen 3P model of IPE teaching and learningyang dikembangkan oleh Hammick (2007) dari Freeth and Reeves, 2004. Pada komponen karakteristik pembelajar, sikap pembelajar terhadap IPE (attitude toward IPE) merupakan salah satu factor yang harus dieksplorasi. Selanjunya Freeth dan Reeves (2004) menjelaskan bahwa berbagai factor seperti demografi, social ekonomi, budaya, dan lain sebagainya kemungkinan akan berpengaruh terhadap sikap mahasiswa pada IPE.

(15)

13 Gambar 1. 3P IPE learning and teaching

Dari framework tersebut diketahui bahwa output dari IPE trainin adalah peningkatan kompetensi kolaborasi yang diukur dari sikap, pengetahuan dan ketrampilan serta persepsi terhadap IPE dan peningkatan kinerja kolaboratif yang dinilai dari kolaboratif practice dan pengaruhnya terhadap layanan pada pasien.

Teori pembelajaran yang melandasi pembelajaran interprofesi berbasis komunitas

(16)

14 Sejauh ini, berbagai teori menjadi pijakan bagi pelaksanaan pembelajaran interprofesi berbasis komunitas, beberapa diantaranya adalah kognitif teori, andragogy, self-directed learning, konstructifis, experiential learning, reflective practtioner, dan teori pembelajaran transformational. Andragogi, seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar juga mendukung IPE, dengan memberikan dasar bahwa pengalaman pembelajar dipandang sebagai learning resources yang penting untuk dalam kegiatan pembelajaran.

Dalam pendidikan dengan pendekatan andragogi, iklim pendidikan akan kondusif untuk belajar dengan rileks, saling percaya, saling menghormati, informal, menghangatkan, kolaboratif dan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran (Sills, 2005).

Teori social constructivism juga menjelaskan bahwa pengetahuan merupakan hasil kolaborasi antar berbagai persepsi individu dalam membangun pemahaman.Selain itu, belajar dapat terjadi jika siswa berpartisipasi dalam kegiatan praktek secara langsung.Partisipasi tersebut mengharuskan siswa terlibat dalam pemecahan masalah, membahas etika, dilema, menggunakan keterampilan berpikir kritis dan membuat keputusan kelompok dalam situasi yang nyata.Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran perlu disajikan dalam konteks yang otentik.Selama praktek dengan profesi lain seperti kondisi sesungguhnya yang akan dihadapi di lingkungan kerja, dia berkembang dari praktisi pemula dan akan berkembang menjadi ahli selama mengikuti praktek tersebut, sehingga pada saat bekerja, siswa sudah memiliki pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan dalam melakukan kegiatan kolaborasi mereka tidak hanya menguasai pengetahuan dan skill saja, akan tetapi mereka juga memiliki pengalaman, pengetahuan dan merasakan system nilai yang kompleks yang akan mereka hadapi saat bekerja di komunitas tersebut (Sills, 2005).

Pertimbangan-pertimbangan tersebut menjadi dasar perlu dilaksanakannya pendidikan interprofesi berbasis komunitas secara formal pada pendidikan profesi kesehatan.

Persepsi mahasiswa mengenai pembelajaran interprofesi berbasis komunitas

Analisis terhadap proses konstruksi pengetahuan yang terjadi pada saat diskusi kelompok dapat menggambarkan pola interaksi kelompok. Dengan menganailisi proses diskusi dan proses kolaborasi kelompok, akan tergambarkan pola partisipasi anggota kelompok, pola interaksi social dan pola dimensi epistemic atau proses kognitif yang

(17)

15 dibangun oleh kelompok pada saat berdiskusi diskusi (Weinberger et al., 2006; Rimor et al.,2010)

Analisis dimensi partisipasi dalam pembelajaran inteprofesi akan memberikan informasi apakah peserta didik dari latar belakang profesi kesehatan yang berbeda dapat berpartisipasi sama dan atas dasar kesetaraan. Untuk mendapatkan informasi partisipasi ini, dapat dilakukan dengan mengevaluasi partisipasi.Berdasarkan deskripisi tersebut dapat dievaluasi lanjut berbagai persoalan yang menyebabkan terjadinya ketidaksetaraan partisipasi. Dimensi partisipasi dianggap sebagai indikator penting dari proses kerjasama kelompok, karena dimensi ini menunjukkan sebanyak apapembelajar mengekspresikan fungsi komunikatif selama sesi diskusi dan menunjukkan sebanyak apa teori yang telah dikuasai oleh pembelajar (Weinberger et al., 2006). Meskipun demikian, menganalisis kuantitas partisipasi saja tidak cukup, karena apa yang peserta didik expresikan kadangkala tidak memberikan kontribusi apapun terhadap konstruksi pengetahuan dan penyelesaian masalah.

Analisis dimensi interaksi sosial menggambarkan sejauh mana pembelajar berkontribusi pada pembelajaran teman sekelompoknya, atau dengan kata lain, kontribusi apa yang bisa diberikan pembelajar dalam membantu pembelajaran anggota kelomponya.

Dalam konteks pembelajaran interprofesi, analisis dimensi interaksi social akan memberikan informasi kepada kita mengenai sejauh mana masalah diselesaikan secara bersama-sama oleh siswa dari berbagai profesi kesehatan yang berbeda tersebut, dan pola dimensi interaksi social apa yang dikembangkan dalam pembelajaran interprofesi kesehatan ini.Analisis arah kontribusi pada saat diskusi dan konten ontribusi dari tiap-tiap peserta akan digunakan untuk menilai interaksi social ini.

Selain itu, literatur menjelaskan bahwa kegiatan pembelajaran interprofesi dapat mengatasi masalah pembagian peran petugas kesehatan.Konflik peran sering terjadi pada layanan kesehatan di masyarakat, terutama antara dokter dengan perawat (Brown et al, 2011).Untuk menyelesaikan masalah tersebut, harus ada kejelasan peran dan kewenangan dari kedua profesi tersebut dalam memberikan layanan kesehatan di masyarakat.Dengan duduk bersama dan bekerjasama, maka mahasiswa dapat mengetahui peran profesi lain dan dapat menjelaskan peran profesinya kepada profesi lain. Dengan demikian, setiap profesi

(18)

16 akan memiliki kejelasan peran dan tumpang tindih peran dalam layanan kesehatan dapat diatasi.

Persepsi mahasiswa mengenai IPE

Definisi persepsi adalah perasaan mendukung dan memihak atau perasaan tidak mendukung dan tidak memihak pada objek tersebut (Azwar, 2013). Menurut Petty &

Cacioppo persepsi merupakan evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri, orang lain, objek atau isu-isu (Azwar, 2013). Persepsi dapat berupa perasaan, keyakinan dan kecenderungan perilaku yang menetap.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan persepsi menurut Azwar (2013) antara lain:

a. Pengalaman pribadi

Hal yang telah dan sedang dialami oleh seseorang akan membentuk dan mempengaruhi stimulus sosial.

b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Seorang individu cenderung memiliki persepsi yang searah dengan persepsi orang yang dianggap penting.Orang yang dianggap penting oleh individu adalah orang tua, orang yang memiliki status sosial lebih tinggi, teman dekat, guru, dan teman sebaya.

c. Pengaruh kebudayaan

Kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh persepsi seseorang terhadap berbagai masalah karena kebudayaan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan persepsi.

d. Media massa

Media massa membawa informasi yang dapat mengarahkan opini seseorang. Informasi yang memiliki sifat sugestif akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu.

e. Pendidikan dan agama

Pendidikan dan agama seseorang berpengaruh terhadap proses dan cara berfikir seseorang individu. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan agama seseorang maka semakin banyak pertimbangan dalam penentuan persepsi.

f. Faktor emosional

Persepsi merupakan hal yang didasari oleh faktor emosional.Emosi seseorang berpengaruh pada pengambilan keputusan.Emosi yang berbeda-beda mempengaruhi individu dalam pembentukan persepsi.

(19)

17 Persepsi terhadap IPE dapat dipengaruhi oleh pengalaman mahasiswa selama menjalankan kegiatan IPE

Studi pendahuluan yang sudah dilakukan

Sejak dicanangkan oleh WHO pada tahun 1984, penelitian mengenai pendidikan interprofesi mulai berkembang.Barr et al (1996) memulai menjelaskan mengenai tujuan dan maksud dari pendidikan interprofesi kesehatan.Pada tahun-tahun berikutnya, dikembangkan theoretical framework bagi pengembangan pendidikan interprofesi (Reeves, & Freeth, 2002; Sills, 2005). Kompetensi-kompetensi inteprofesi mulai disusun dan dikembangkan secara komprehensif guna menjadi rujukan kegiatan pembelajaran (Sargeant, 2009).

Pada tahap pelaksanaan kegiatan pembelajaran, telah dilakukan pnelitian terhadap persepsi mahasiswa mengenai pendidikan interprofesi, bahkan telah disusun alat ukur RIPL (readiness interpofessional learning scale) yang telah divalidasi di beberapa Negara, untuk mengukur persepsi tersebut (Parsell, 1999;) Selain itu, telah dilakukan pula kajian terhadap peran tutor dan fasilitator kegiatan pembelajaran dan pengaruh kegiatan pembinaan tutor bagi pendidikan interprofesi (Freeman, 2010).Telah dilakukan kajian mengenai persepsi mahasiswa profesi kesehatan terhadap pendidikan interprofesi kesehatan dan factor-faktor yang berpengaruh terhadap persepsi tersebut (Lestari, 2012), menunjukkan hasil bahwa 50% lebih mahasiswa memiliki persepsi negative mengenai IPE.Selain itu, dilaporkan bahwa factor latar belakang prodi dan IPK merupakan predictor persepsi mahasiswa terhadap IPE. Proses pembelajaran interprofesi kesehatan dengan seting kelas menggunakan pendekatan PBL telah dilakukan pada fase pre klinik, dan menunjukkan hasil adanya kesetaraan partisipasi mahasiswa dalam melakukan pembelajaran kolaboratif (Lestari, 2013, Lestari, 2014). Selain itu juga saat ini peneliti sedang mengkaji proses kolaborasi interprofesi pada pembelajaran interprofesi kesehatan (IPE) pada seting ketrampilan klinik interprofesi, dan belum ada laporan hasil penelitian tersebut. Belum ada literatur yang melaporkan potret proses interaksi antar pembelajar dari profesi kesehatan dengan seting komunitas di Indonesia.

(20)

18 Sudah dilakukan sedang dilakukanakandilakukan

Gambar 2. Diagram road map penelitian pembelajaran interprofesional berbasis komunitas

penyusunan theoreticalfram

ework IPE (Barr,1996) (Hammick, 1998)

(Reeves

&Freeth, 2002) (Sills, 2005)

Kajian terhadap tutor/

instruktur IPE (Curran, 2007)

(Freeman, 2009)

Evaluasi pembelajaran IPE:

Evaluasi persepsi, sikap, kerjasama pre-post (Pollard,

2004)

Penyusunan kompetensi IPE

(Barr, 2002) (Cooper, 2004)

Kajian persepsi terhadap IPEdi Indonesia (Lestari, 2012)

Evaluasi proses belajar / diskusi

kelas Interprofesi (Lestari, 2013)

Interprofessional skills Evaluasi

pembelajar an IPE:

berbasis komunitas

di Indonesia

Penelitian yang akan dilakukan

Evaluasi proses belajar ketrampilan

klinik (Lestari, 2014)

(21)

19 BAB 3

METODE PENELITIAN

Pada penelitian ini, dilakukan pilot projectpendidikan interprofesi (IPE) berbasis komunitas. Hal-hal yang dikaji paska IPE berbasis komunitas adalah ketrampilan teamworking mahasiswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.

Metode

Penelitian kualitatif ini untuk mengkaji persepsi mahasiswa mengenai IPE berbasis komunitas.

Konteks

Kegiatan pembelajaran IPE pada seting komunitas ini diikuti oleh mahasiswa kedokteran yang mengikuti rotasi klinik IKM, mahasiswa tahun terakhir keperawatan dan kebidanan, sehingga partisipan kegiatanIPE diikuti oleh mahasiswa dari level yang berbeda.

Keseluruhan mahasiswa dari ke tiga program telah mengikuti pendidikan komunitas dengan pendekatan monoprofesi.Mahasiswa kedokteran telah mengikuti pendidikan komunitas pada beberapa modul seperti problemsolving dan survey modulKB dan kependudukan dan modul Sistem Kesehatan Nasional.Mahasiswa Kebidanan telah mengikuti kegiatan komunitas dalam bentuk homevisit dengan bentuk program "one student one client"(OSOC).Selain itu, mahasiswa keperawatan telah mengikuti kegiatan IPE berbasis komunitas melalui kegiatan di puskesmas.Dengan demikian, seluruh mahasiswa telah memiliki pengalaman kegiatan pembelajaran komunitas secara monoprofesional.

Kegiatan pembelajaran IPE berbasis komunitas di Unissula dimulai dengan pembekalan dalam bentuk kuliah. Materi yang diberikan mencakup: Etika, kompetensi kultural, identifikasi dan problem solving komunitas. Setelah pembekalan mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 7 hingga 8 mahasiswa per kelompok yang terdiri dari 2 mahasiswa kebidanan, 2 atau 3 mahasiswa keperawatan, dan 3 mahasiswa kedokteran.

Selanjutnya mahasiswa dikirim ke komunitas dan melakukan kegiatan di komunitas selama dua minggu.Mereka harus melakukan diagnosis masalah kesehatan dengan melakukan survey masalah kesehatan.Setelah data terkumpul tiap kelopok mahasiswa duduk bersama untuk mendiskusikan prioritas masalah kesehatan dan intervensi yang harus dilakukan

(22)

20 untuk menyelesaikan masalah individu, keluarga dan komunitas berdasarkan hasil survey yang mereka lakukan.

Hasil analisis masalah kesehatan dan rencana penyelesaian dilaporkan oleh mahasiswa kepada pimpinan desa dan pimpinan puskesmas dalam musyawarah masyarakat desa (MMD). Intervensi dilakukan berdasarkan rencana yang telah disusun bersamaoleh kelompok. Bentuk intervensi dapat berupa konseling dan penyuluhan kepada komunitas, kerjabakti dengan komunitas untuk pencegahan penyakit, melakukan training kepada kader kesehatan, home visit untuk penyuluhan keluarga, dan lain sebagainya. Pada tahap ini mahasiswa harus dapat mengidentifikasi peran dan tanggungjawab yang harus diemban oleh masing-masing profesi agar tidak terjadi tumpeng tindih peran.Penilaian dilakukan pada saat presentasi MMD dan dari laporan mahasiswa.

Subjek

Mahasiswa dari tiga profesi kesehatan yang berbeda (kedokteran umum, keperawatan dan kebidanan) akan menjadi subjek penelitian. Keikutsertaan mahasiswa menjadi subjek didasarkan pada konsep voluntary basis,

Metode pengumpulan data

Data mengenai persepsi mahasiswa terhadap IPE berbasiskomunitas akan dikumpulkan dengan menggunakan Focus Group Discussion (FGD). FGD akan direkam dan ditranskrib secara verbatim.

Tempat penelitian

Kegiatan IPE komunitas akan berlangsung selama 2 minggu, di desa binaan FK Unissula, desa Nggaji, Kecamatan Bangetayu.

Analisis data

Transkrib data dianalisis tematik oleh dua orang ahli. Kedua ahli menetapkan tema yang selanjutnya dipergunakan untuk menganalisis data. Data dianalisis dengan program komputer Atlas Ti.

Etika

Seluruh subjek akan diminta untuk menandatangani kesediaan mengikuti penelitian dengan informed consent yang jelas. Ethical clearance akan dimintakan kepada Komite etik Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung.

Indikator keberhasilan kegiatan:

(23)

21 a. Publikasi ilmiah pada jurnal internasional: Journal of Multidisciplinary Healthcare

yang memiliki impact factor 0.63.

Diagram alir kegiatan:

Gambar 3. Diagram alir penelitian

Kajian pustaka

Penyusunan rancangan

kegiatan.

Pembelajaran

Bahan kegiatan pembelajaran

Sosialisasi kegiatan belajar pda mahasiswa

Penyususnan Instrument untuk mengurkur proses teamworking

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran interprofessi berbasis komunitas

(tahap survey dan tahap perencanaan kegiatan)

Evaluasi proses

Lokasi:

Desa Penggaron Lor

OUTCOME - Bahan ajar Interprofessional

Health Education (IPE) berbasis komunitas

- Desain evaluasi danInstrumen evaluasi proses pembelajaran IPE berbasis komunitas - 1 Artikel jurnalinternasional

- Penggalian data teamworking Lokasi:

FK Unissula

Lokasi:

FK Unissula

(24)

22 BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL

Fokus Group Discussion diikuti oleh 26 mahasiswa dari profesi kebidanan, kedokteran dan keperawatan. Karakteristik subjek peserta FGD ditampilakn pada table 1.

Table 1. Karakteristik peserta FGD

Kebidanan Keperawatan Kedoketran

N % N % N %

Jenis Kelamin

Laki-laki 0 0 6 60.0 8 66.7

perempuan 8 100 4 40.0 4 33.3

Mean SD Mean SD Mean SD

Usia 19.2 0.7 19.8 0.35 20.4 0.52

Berdasarkan analisis data menggunakan Atlas Ti, data dikelompokkan menjadi tiga tema besar, yakni: 1) perlu perbaikan desain home visit 2) mahasiswa dapat mengambil manfaat dari IPE berbasis komunitas seperti peningkatan sift skill, memahami peran dan

tanggungjawab profesi dan profesi lain, memahami permasalahan social terkait dengan kesehatan 3) masalah-masalah yang berhubungan dengan ‘communication and mutual support’ problem during team working.

1. Perlu perbaikan desain home visit

Bagi siswa, home visit adalah kegiatan belajar yang menantang, karena selama kunjungan ke rumah, siswa dapat melakukan berbagai kegiatan

a. Melakukan pemeriksaan fisik kepada pasien atau wanita hamil

b. Konseling dan pendidikan tentang berbagai topik kesehatan, seperti pemberian ASI eksklusif, kontrasepsi, menu sehat untuk balita

c. Pendidikan tentang upaya pencegahan penyakit seperti: rumah dan lingkungan yang bersih dan sehat, gaya hidup sehat tanpa merokok

d. Konseling tentang asuransi kesehatan dan lain lain

(25)

23 Namun demikian, siswa mengeluh tentang kegiatan kunjungan rumah karena dalam praktiknya siswa menghadapi banyak kendala yang disebabkan oleh masalah budaya dan masalah teknis.

Berbagai masalah budaya harus dihadapi oleh siswa, agar mereka dapat melakukan intervensi home visit. Di antara masalah-masalah itu terkait dengan nilai-nilai dan norma agama. Misalnya, Muslim di desa-desa memiliki keyakinan kuat bahwa pasien harus dilayani oleh profesional layanan kesehatan dengan jenis kelamin yang sama.

Seorang wanita harus diperiksa oleh petugas kesehatan wanita dan seorang laki-laki harus dirawat oleh petugas kesehatan laki-laki. Situasi ini terkadang menjadi masalah bagi anggota kelompok dalam pengaturan jadwal kunjungan rumah karena selain profesi yang menangani harus sesuai masalah kesehatan yang dihadapi, gender juga harus menjadi pertimbangan lain.

"Ya, saya mendapat pengalaman yang sama dengannya. Wanita hamil yang merupakan kelompok kami berasal dari keluarga yang sangat religius. Mereka hanya ingin dirawat oleh profesi kesehatan sesama jenis, jadi kami tugaskan siswa kebidanan untuk kunjungan.” (Mahasiswa kedokteran 3)

Beberapa penyelesaian disampaikan oleh mahasiswa terkait dengan masalah pada home visit:

a. Kunjungan rumah harus diawasi dan didampingi oleh bidan desa atau petugas kesehatan dari pusat kesehatan masyarakat di daerah tersebut. Kehadiran pengawas dan petugas kesehatan dimaksudkan untuk menumbuhkan kepercayaan publik terhadap kegiatan kunjungan rumah yang dilakukan oleh siswa.

"Menurut pendapat saya, bidan desa atau petugas kesehatan lainnya yang bertanggung jawab atas kesehatan masyarakat harus bersama kami selama kunjungan, mungkin dua kali maka selanjutnya kami dapat melakukannya secara mandiri. Dengan cara tersebut, keluarga akan membuka pintu bagi kami dan mempercayai kami. " (Mahasiswa kedokteran 2)

b. Kepala desa harus memberi tahu dan memperkenalkan kami kepada masyarakat.

Selain itu, kita harus dapat berkomunikasi dengan sempurna dan jelas kepada keluarga tentang tujuan kegiatan kunjungan rumah

(26)

24

"Meskipun banyak orang menolak kehadiran kami dengan berbagai alasan, saya pikir dengan penjelasan yang baik dan mengomunikasikan tujuan kunjungan rumah ini dengan jelas, insyaAllah akhirnya, ibu dan keluarga yang hamil menerima kami dengan hangat. Jadwal kunjungan harus diatur dengan mempertimbangkan waktu yang tersedia (siswa Kebidanan 1)

'Saya sangat setuju dengan kegiatan kunjungan rumah, tetapi untuk mengurangi dampak negatif seperti penolakan atau sikap yang kurang ramah dari keluarga, kami merekomendasikan bahwa sebelum keluarga dikunjungi, penjelasan yang jelas harus diberikan mengenai hasil kunjungan rumah untuk mereka dan bertanya tentang kesediaan mereka untuk dikunjungi ... '(mahasiswa kedokteran 3)

c. Kegiatan kunjungan rumah harus memberi manfaat kepada keluarga yang dikunjungi sehingga mereka tidak merasa bahwa itu hanya kegiatan untuk pelatihan siswa.

'Menurut pendapat saya, agar keluarga mau dikunjungi, siswa harus dapat

memberikan layanan kesehatan terbaik mereka sehingga klien tidak akan berpikir bahwa kegiatan ini hanya untuk siswa berlatih, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi peningkatan kesehatan siswa. keluarga yang dikunjungi dan masyarakat (Mahasiswa Keperawatan 4)

2. Siswa mendapat manfaat dari pembelajaran interprofessioal berbasis komunitas seperti meningkatkan soft skill, memahami identitas peran, dan identitas sosial.

Selama pembelajaran interprofesional berbasis komunitas mahasiswa kebidanan, perawat dan mahasiswa kedokteran berinteraksi dan berkolaborasi satu sama lain selama tiga minggu. Berikut ini adalah persepsi mereka mengenai manfaat kegiatan pendidikan interprofesional.

a. Kegiatan IPE memberikan manfaat bagi siswa untuk siswa meningkatkan keterampilan lunak mereka seperti:

 Keterampilan komunikasi

"Kami telah mendapatkan pengalaman praktik di puskesmas, bekerja sama dengan sesama bidan, atau bidan senior dan perawat. Kali ini (di IPE Komunitas) kami benar-benar berinteraksi secara intensif dengan mahasiswa kedokteran. Kami belajar bagaimana berkomunikasi dan berkolaborasi dengan mereka. (Mahasiswa kebidanan 4)

(27)

25

"Selama IPE kami benar-benar belajar berkomunikasi dengan profesi lain. Saya belajar cara meminta bantuan atau bantuan dari profesi lain dengan hormat.

Tidak semudah seperti yang saya pikirkan sebelumnya. Saya sering khawatir jika saya meminta bantuan kepada profesi lain." tampaknya menjadi 'perintah' untuk melakukan sesuatu. (Mahasiswa kedokteran 1)

 Keterampilan membuat keputusan

“Diskusi dengan mahasiswa profesi kesehatan lainnya tentang masalah komunitas (kesehatan) sangat menarik. Kami harus mendiskusikan masalah dan memutuskan beberapa kegiatan intervensi yang mungkin untuk dilakukan.

”(Mahasiswa kedokteran 3)

 Keterampilan perencanaan

“Kami merencanakan jadwal survei, diskusi masalah, dan intervensi bersama.

(Mahasiswa Kebidanan 2)

“Kami membahas kegiatan dan semua hal yang diperlukan untuk setiap kegiatan intervensi yang kami rencanakan.” (Mahasiswa keperawatan 6)

 Keterampilan Kolaborasi dan Kerja Tim

“Bekerja dalam tim seperti ini sangat berharga untuk meningkatkan keterampilan kolaborasi dan kerja tim kami. Kami belajar komunikasi, berbagi peran dan tanggung jawab, dan sebagainya ”(mahasiswa kedokteran 1)

"Dalam menjalankan tugas kami dengan mahasiswa kedokteran dan keperawatan, kami berkolaborasi dan saling melengkapi, misalnya, mahasiswa kedokteran adalah ahli dalam teori, mendiagnosis dan sebagainya, tetapi kadang-kadang mereka tidak pandai berkomunikasi dengan keluarga dan masyarakat dan kami menguasai keterampilan. "(Mahasiswa keperawatan 4)

 Siswa meningkatkan keterampilan belajar kolaboratif mereka selama pendidikan interprofesional berbasis masyarakat

Siswa berbagi pengetahuan dan saling mengajarkan keterampilan

"Selama bekerja dengan siswa dari profesi lain kami dapat bertukar pengetahuan. Kami kadang-kadang menjelaskan apa yang harus dilakukan seorang perawat dalam konteks asuhan keperawatan komunitas. Mahasiswa kedokteran tidak memiliki ide untuk mendidik anggota keluarga mengenai 'perawatan diri anggota keluarga', untuk contoh, dan mereka akan bertanya kepada kami tentang hal itu. "(Mahasiswa keperawatan 6)

(28)

26

"Siswa kebidanan memiliki kontrol lebih besar atas keterampilan seperti pemeriksaan fisik ibu hamil. Selama kunjungan rumah kami belajar dari mereka. Kami kadang-kadang bertanya kepada mereka, tidak apa-apa ... kami tidak malu. Kami adalah pelajar, yang dapat belajar dari siapa saja dan sumber apa pun. bukan? (Mahasiswa kedokteran 4)

 Siswa mengidentifikasi peran mereka sendiri dan profesi lain, dan mereka berbagi tugas mengenai tanggung jawab dan wewenang profesi.

Siswa mempelajari peran dan tanggung jawab mereka sendiri dan profesi lainnya

‘Dengan bekerja bersama, kami memahami tanggung jawab dokter, perawat, dan bidan. Apa otoritas bidan dan apa yang tidak ”(siswa Kebidanan 5)

“Peran yang tumpang tindih sering terjadi. Misalnya, saya memiliki pengetahuan untuk mendidik ASI eksklusif dan kebidanan atau mungkin siswa yang menyusui memiliki pengetahuan semacam itu juga. Ketika kita harus memberikan konseling kepada ibu dan keluarganya mengenai topik itu;

Menurut Anda siapa yang harus melakukan tugas itu? Semua profesi dapat melakukan layanan khusus itu. Dalam situasi itu, kita akan membahas dan pada akhirnya akan mempertimbangkan untuk memberikan tugas kepada profesi yang memiliki tanggung jawab utama terhadap kasus atau topik tersebut.

Mahasiswa profesi lain akan menyediakan cadangan. '(Mahasiswa kedokteran 3)

 Siswa mempelajari budaya kolaborasi tim layanan kesehatan dan kebiasaan profesi lain

Langkah ini sangat penting bagi siswa, sehingga nantinya ketika mereka harus bekerja dengan profesi kesehatan lain di lingkungan apa pun, mereka tidak memerlukan adaptasi yang lebih lama.

"Dengan bekerja secara kolaboratif dengan profesi lain dalam suatu komunitas, kami mendapatkan lebih banyak pengetahuan tentang karakteristik masing- masing profesi. Saya tahu bahwa dua minggu tidak cukup, tetapi setidaknya kita mempelajari kebiasaan mereka ... Menurut saya pengalaman ini penting, sehingga nantinya , ketika saya bekerja di rumah sakit yang mengharuskan saya untuk bekerja dengan dokter dan perawat, saya sudah memiliki pengetahuan (untuk berkomunikasi dengan mereka), sehingga adaptasi mungkin tidak terlalu sulit. "(Mahasiswa Kebidanan 3)

"Dengan IPE kita belajar bagaimana bekerja sama dengan bidan dan perawat.

Setelah kolaborasi kita mengetahui karakteristik profesi mereka, seperti mereka sangat patuh kepada dokter. Pengalaman seperti itu akan sangat bermanfaat

(29)

27 bagi kita ketika kita melakukan praktik kolaborasi nyata di masa depan."

(Mahasiswa kedokteran 7)

 Siswa mengembangkan kesadaran budaya dan sosial selama pendidikan interprofesional berbasis komunitas.

Kesadaran budaya

"Ini tampaknya terkait dengan budaya ..., ada beberapa keluarga Muslim yang tidak senang jika dikunjungi dan diperiksa oleh petugas perawatan kesehatan seks yang tidak sama. Mereka akan sangat selektif dalam menerima atau menolak siswa yang melakukan kunjungan rumah (menyusui) siswa 7)

"Secara budaya di desa, ketika ada rumah yang dihadiri oleh banyak petugas kesehatan, orang akan berpikir pasti ada masalah yang sangat besar, atau mungkin ada anggota keluarga yang membutuhkan bantuan. Para tetangga di sekitar akan datang dan bertanya apa yang terjadi? Situasi ini sering membuat para ibu malu dan menolak untuk dikunjungi dan dirawat. "(Mahasiswa Kebidanan 2)

Kesadaran sosial

“Masalahnya sangat kompleks. (Rendah) masalah pendidikan dan ekonomi tampaknya menjadi penyebab utama (dari semua masalah kesehatan) '(Mahasiswa kedokteran 5)

“Hampir semua keluarga tidak memiliki akses ke BPJS (asuransi nasional).

Mereka menganggap itu terlalu mahal untuk membayar asuransi setiap bulan.

”(Mahasiswa keperawatan 2)

3. Penyebab masalah 'communication and mutual support' selama kerja tim

Hasil kuesioner menunjukkan bahwa komunikasi dan saling mendukung adalah masalah bagi siswa keperawatan dan kebidanan. Ini juga terungkap dalam FGD. Ada sejumlah alasan di balik para siswa yang mengalami hambatan komunikasi dan saling mendukung.

 Kurang percaya diri dan inisiatif.

Mahasiswa keperawatan dan kebidanan merasa rendah diri ketika bekerja sama dengan mahasiswa kedokteran karena mereka melihat mahasiswa kedokteran lebih berpengetahuan.

‘Ya, kami kurang percaya diri. Ini adalah pertama kalinya kami berkolaborasi dengan mahasiswa kedokteran. Mereka terlihat pintar, percaya diri, dan berwibawa.

'(Mahasiswa Kebidanan 6)

(30)

28 Mahasiswa kedokteran yang berpendapat bahwa sebenarnya mahasiswa kebidanan dan keperawatan tidak perlu kalah dengan mahasiswa kedokteran karena setiap profesi memiliki peran mereka sendiri dalam perawatan dan layanan kesehatan masyarakat, dan mereka dapat melakukan banyak hal dengan pengetahuan dan keterampilan mereka .

"Dalam diskusi, kami selalu meminta pendapat dari semua anggota kelompok dalam diskusi kelompok, tetapi seperti biasa, mahasiswa kedokteran yang berdebat.

Kebidanan dan mahasiswa keperawatan berkontribusi minimal dan tampaknya mereka kurang berani mengungkapkan pendapat mereka. Akhirnya mahasiswa kedokteran memutuskan banyak, mahasiswa profesi lain hanya setuju dan mengikuti keputusan. Saya pikir mereka tidak perlu merasa rendah diri terhadap kami, karena mereka juga memiliki kontribusi terhadap layanan '(Mahasiswa kedokteran 4)

 Let the doctor lead

Mahasiswa kebidanan dan keperawatan memberikan posisi kepemimpinan kepada mahasiswa kedokteran. Semua 30 kelompok dipimpin oleh mahasiswa kedokteran.

Budaya profesional kesehatan yang selalu menempatkan dokter sebagai pemimpin dapat memengaruhi fenomena ini.

'Ya, kami menunjuk mahasiswa kedokteran sebagai pemimpin dalam kelompok kami, itu budaya, kan? Meski begitu, kami masih memiliki kesempatan untuk memimpin beberapa proyek kecil, terkait dengan tanggung jawab kami.

"(Mahasiswa keperawatan 2)

Pengambilan keputusan juga merupakan masalah selama kolaborasi antarprofesional, karena banyak keputusan diputuskan oleh mahasiswa kedokteran.

Situasi ini dikeluhkan oleh mahasiswa kebidanan dan menjahit.

“Kami benar-benar ingin berdebat, tetapi, ketika kami masih memikirkan solusi alternatif, mahasiswa kedokteran telah membuat keputusan"(mahasiswa Kebidanan 1)

“Menurut pendapat kami ada perbedaan dalam cara berpikir mahasiswa kedokteran dan keperawatan. Kami, perawat, terbiasa berpikir secara holistik. Bahkan ketika melakukan asuhan keperawatan atau diagnosa keperawatan, kami membuat pertimbangan seperti dari 'ujung ke ujung'. Untuk mahasiswa kedokteran mungkin

(31)

29 dianggap perlu waktu. Jadi yang terjadi adalah ketika kita masih berpikir mereka membuat keputusan. OK, akhirnya kami baru saja mengikuti. '(Murid 7)

Ketika kami mengkonfirmasi dominasi pengambilan keputusan kepada mahasiswa kedokteran, mereka setuju dan mengakui itu dengan alasan bahwa mereka harus membuat keputusan cepat.

"Kita harus membuat keputusan cepat, kadang-kadang kita meminta pendapat mahasiswa profesi lain, tetapi kadang-kadang mereka mengambil waktu untuk berpikir dan akhirnya mereka hanya akan menjawab:" Oke, kita ikuti. " (Mahasiswa kedokteran 8)

 Perbedaan usia dan fase pendidikan

Selain persepsi mereka terhadap budaya profesional, perbedaan usia dan tingkat pendidikan diindikasikan sebagai faktor yang menghambat komunikasi. Diketahui bahwa dalam program pendidikan interprofesional berbasis komunitas ini, diikuti oleh fase klinis mahasiswa kedokteran tahun keempat atau kelima, mahasiswa kebidanan tahun ketiga dan mahasiswa keperawatan tahun keempat. Perbedaan usia dan fase pendidikan mungkin menghasilkan perasaan kurang percaya diri untuk siswa kebidanan dan keperawatan.

‘Kami menyadari bahwa masalah komunikasi muncul karena mahasiswa kebidanan dan keperawatan adalah junior bagi kami, sehingga mereka mungkin memiliki perasaan khawatir ketika harus menyampaikan pendapat. Meskipun kami telah meminta mereka untuk berdebat, mereka memberikan sedikit sekali pendapat.

Akhirnya kami memutuskan banyak dan mereka mengikuti '(Mahasiswa kedokteran 5)

DISKUSI

FGD Uni-profesi menunjukkan bahwa desain enam langkah Sultan Agung Community Based Interprofessional Education (SACBIPE) memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan beberapa soft skill termasuk keterampilan komunikasi, keterampilan perencanaan, keterampilan membuat keputusan, dan keterampilan kolaborasi dan kerja tim.

Penelitian sebelumnya juga melaporkan bahwa mahasiswa kedokteran mengalami peningkatan keterampilan komunikasi dan kolaborasi melalui partisipasi dalam program

(32)

30 pendidikan interprofesional berbasis masyarakat. (Asakawa et al., 2017; Salam, 2009) Penelitian sebelumnya juga menyampaikan temuan serupa (Giordano et al., 2013). Fakta- fakta ini adalah indikator bahwa siswa dapat mengembangkan keterampilan belajar kolaboratif selama program.

Sudah diketahui bahwa semua soft skill yang dikembangkan adalah elemen penting agar dapat bekerja secara efektif dalam angkatan kerja dan untuk pembelajaran seumur hidup yang meningkatkan pengembangan pribadi dari atribut karier yang diinginkan. (Gibb, 2014; Robles, 2012). Selama program, siswa memperoleh keterampilan ini melalui berbagai kegiatan, seperti dari interaksi mereka dengan anggota masyarakat, keluarga, aktivis kesehatan, dan profesional perawatan kesehatan, pengawas; dari kegiatan diskusi kelompok mereka, dan dari upaya mereka untuk memahami fenomena sosial dan budaya

Keterampilan manajemen tim dan keterampilan perencanaan proyek dapat dikembangkan selama langkah 2 dan 3 dari kegiatan pendidikan interprofesional berbasis komunitas ini.

Kegiatan perencanaan proyek ini merupakan langkah penting yang membantu siswa dalam manajemen proyek yang baik yang akan menjadi bagian dari tugas mereka ketika mereka bekerja di layanan kesehatan (Randita et al., 2019). Oleh karena itu, pengalaman melakukan perencanaan proyek perlu diberikan kepada siswa sejak tahap awal program profesional pendidikan kesehatan (Hosny et al., 2013). Selain itu, diskusi kelompok Interprofessional selama proses perencanaan proyek merupakan langkah penting untuk mengembangkan pemahaman pendapat, sudut pandang, persepsi, ide dan saran dari profesi lain tentang bagaimana peran, tanggung jawab, pendapat, dan metode mereka untuk manajemen konflik menciptakan resolusi kesehatan. masalah tim perawatan di setiap tingkat layanan kesehatan.

Ketiga profesi memiliki persepsi yang sama tentang struktur tim dan kepemimpinan. Ketiga kelompok sepakat bahwa peran dan tanggung jawab dibagi dengan jelas di antara semua anggota kelompok dan ada keseimbangan beban kerja di dalam tim. Ketua tim memfasilitasi, dan mengoordinasikan kegiatan anggota tim lainnya menggunakan tindakan berikut: 1) menerima peran kepemimpinan; 2) terus memantau situasi; 3) menyelesaikan konflik tim dengan diskusi, penjelasan singkat dan tanya jawab; 4) menyeimbangkan beban

(33)

31 kerja dalam tim; 5) mendelegasikan tugas atau tugas; 6) memberdayakan anggota tim untuk berbicara secara bebas dan mengajukan pertanyaan; 7) menginspirasi anggota tim lainnya;

dan 8) memelihara budaya kelompok yang positif.

Meskipun demikian, ‘let the doctor lead’ terjadi di semua kelompok karena semua kelompok dipimpin oleh mahasiswa kedokteran. Hal ini terjadi karena mahasiswa profesi kesehatan masih dipengaruhi oleh budaya yang berkembang di lingkungan layanan kesehatan yang hierarkis (S Reeves, Nelson, & Zwarenstein, 2008). Secara tradisional dan itu masih terjadi di beberapa negara, perawat diposisikan sebagai pihak yang membantu dokter. Hubungan tersebut tidak hanya hierarkis, tetapi juga patriarkal.Padahal, saat ini, diketahui bahwa dalam tim layanan kesehatan, kepemimpinan harus dibagi dan kolaboratif dengan fokus pada membangun kepercayaan dan shared power(Goldsberry, 2018). Model kepemimpinan tradisional tidak lagi sejalan dengan tuntutan layanan kesehatan saat ini yang menuntut layanan yang cepat dan tepat sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih terbuka, fleksibel dan cepat beradaptasi dengan perubahan. Dewasa ini tenaga kesehatan tidak bisa lagi menerapkan kepemimpinan hierarkis; alih-alih mereka lebih suka bekerja dengan kolega dari seluruh organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Upaya kolaboratif seperti itu mengharuskan pergeseran dari hubungan vertikal atau hierarkis ke pembagian kekuasaan horisontal (Wilson, 2013). Menilik pertimbangan tersebut, mahasiswa pendidikan tenaga kesehatan termasuk perawat dan bidan harus siap dengan kompetensi kepemimpinan untuk memenuhi tantangan agar dapat terlibat dalam kerja kolaboratif dengan profesi lain. Komunikasi, menetapkan tujuan bersama, manajemen, pemahaman, merangkul, dan menangani konflik secara efektif adalah peran mendasar dari setiap pemimpin yang harus menjadi perhatian kurikulum pendidikan tenaga kesehatan(Goldsberry, 2018). Sayangnya, sejauh ini keterampilan kepemimpinan kadang- kadang diabaikan dalam kurikulum pendidikan profesi kesehatan, karena konsentrasi pengajaran lebih menekankan pada penguasaan ilmu atau keterampilan kesehatan saja.

Berdasarkan temuan ini, kami menyarankan, di masa depan keterampilan kepemimpinan mendasar ini harus diintegrasikan ke dalam pendidikan profesi kesehatan termasuk keperawatan dan kebidanan untuk mempersiapkan profesi kesehatan masa depan agar dapat menjalankan peran kepemimpinan dalam tim kolaboratif (Marshall, 2011). IPE adalah salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk mengembangkan keterampilan

(34)

32 kepemimpinan kolaboratif dan transformasional (Chan, Wong, Chan, & Jr., 2019;

Goldsberry, 2018; Schaik, O’Brien, Almeida, & Adler, 2014).

Persepsi siswa tentang kunjungan rumah ke keluarga menarik untuk dipelajari. Siswa melaporkan bahwa beberapa keluarga tidak menyambut mereka dengan baik dengan berbagai alasan, seperti ketidaknyamanan dan masalah budaya. Temuan ini tampaknya tidak sesuai dengan tinjauan sistematis sebelumnya dari kunjungan rumah antarprofesional yang melaporkan bahwa pasien memberikan sikap positif terhadap siswa layanan kesehatan dan program (Gougeon, Johnson, & Morse, 2017) Mengenai masalah ini, kompetensi budaya harus menjadi salah satu kompetensi yang harus diperoleh oleh tenaga kesehatan.

Studi budaya dalam konteks layanan kesehatan menjadi penting dan topik harus diajarkan kepada siswa sehingga di masa depan mereka dapat melakukan layanan kesehatan kepada masyarakat dengan mempertimbangkan masalah budaya dan sosial yang mungkin mempengaruhi layanan. Ketrampilan untuk menyediakan layanan kesehatan yang memberi perhatian pada budaya yang berkembang di masyarakat disebut praktik kompetensi budaya.

Untuk mencapai tingkat kompetensi ini, siswa perlu mengembangkan kesadaran budaya, persepsi, sikap, dan keterampilan(O’Connell, Korner, Rickles, & Sias, 2007).

(35)

33 BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis data menggunakan Atlas Ti, data dikelompokkan menjadi tiga tema besar, yakni: 1) perlu perbaikan desain home visit 2) mahasiswa dapat mengambil manfaat dari IPE berbasis komunitas seperti peningkatan sift skill, memahami peran dan tanggungjawab profesi dan profesi lain, memahami permasalahan social terkait dengan kesehatan 3) masalah-masalah yang berhubungan dengan ‘communication and mutual support’ problem during team working

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian, perlu dilakukan perbaikan kegiatan home visit. Perlu dilakukan penelitian kuantitatif untuk mengetahui pengaruh IPE terhadap ketrampilan kerja kelompok.

(36)

34 DAFTAR PUSTAKA

Baker, M. J., & Fowler-Durham, C. (2013). Interprofessional education: A survey of student’s collaborative competency outcomes. Journal of Nursing Education, 52(12), 713-718.

Bridges, D. R., & Tomkowiak, J. (2010). Allport's intergroup contact theory as a theoretical base for impacting student attitudes in interprofessional education. Journal of Allied Health, 39(1), e29-33.

Buring, S. M., Bhushan, A., Brazeau, G., Conway, S., Hansen, L., & Westberg, S. (2009).

Keys to successful implementation of interprofessional education: Learning location, faculty development, and curricular themes. American Journal of Pharmaceutical Education, 73(4), 1-11.

Cerra, C., Drake, D., Sick, B., King, J. A., Chesney, M., & Lutfiyya, M. N. (2015).

Building the foundation for culture change through the design, implementation, and assessment of an interprofessional education intervention. Journal of Nursing Education and Practice, 5(1), 46-57.

Cook, K., & Stoecker, J. (2014). Healthcare student stereotypes: A systematic review with implication for interprofessional collaboration. . Journal of Interprofessional Practice and Education,, 4(2), 1-13.

Freeth, D., & Reeves, S. (2004). Learning to work together: using the presage, process, product (3P) model to highlight decision and possibilities. Journal of

Interprofessional Care, 18(1).

Goldberg, L. R., Koontz, J. S., Rogers, N., & Brickell, J. (2012). Considering accreditation in gerontology: The importance of interprofessional collaborative competencies to ensure quality healthcare for older adults. Journal of Gerontology and Geriatrics Educatio, 33(1), 95-110.

Hammick, M., Freeth, D., Koppel, I., Reeves, S., & Baar, H. (2007). A best evidence systematic review of interprofessional education: BEME Guide no. 9. Medical Teacher, 29, 735–751.

Heuer, A. J., Geisler, S. L., Kamienski, M., Langevin, D., & Maillet, J. O. (2010).

Introducing medical students to the interdisciplinary health care team: Piloting a case-based approach. Journal of Allied Health, 39(2), 76-81.

Légaré, F., Stacey, D., Brière, N., Desroches, S., Dumont, S., Fraser, K., . . . Aubé, D.

(2011). A conceptual framework for interprofessional shared decision making in home care: Protocol for a feasibility study. BMC Health Services Research, 11(23), 2-7.

Makino, T., Shinozaki, H., Hayashi, K., Lee, B., Matsui, H., Kururi, N., . . . Watanabe, H.

(2013). Attitudes toward interprofessional healthcare teams: A comparison between undergraduate students and alumni. Journal of Interprofessional Care, 27(3), 261- 268. doi: 10.3109/13561820.2012.751901

Mallow, P. J., Pandya, B., Horblyuk, R., & Kaplan, H. S. (2013). Prevalence and cost of hospital medical errors in the general and elderly United States populations. Journal of Medical Economics, 16(12), 1367-1378.

Margalit, R., Thompson, S., Visovsky, C., Geske, J., Collier, D., & Paulman, P. (2009).

From professional silos to interprofessional education Campuswide focus on quality of care. Quality Health Care, 18(3), 165-173.

(37)

35 Michalec, B., Giordano, C., Arenson, C., Antony, R., & Rose, M. (2013). Dissecting First

Year Students’ Perception on Health Profession Groups: Potential Barrier to Interprofessional Education. J. Allied Health, 42(4), 202-213.

Olenick, M., & Allen, L. R. (2013). Faculty intent to engage in interprofessional education.

Journal of Multidisciplinary Healthcare, 6, 149-161.

Olson, R., & Bialocerkowski, A. (2014). Interprofessional education in allied health: A systematic review. Medical Education, 48, 236-246.

Olupeliyawa, A. M., O’Sullivan, A. J., Hughes, C., & Balasooriya, C. D. (2014). The teamwork mini-clinical evaluation exercise (T-MEX): A workplace-based assessment focusing on collaborative competencies in health care. Academic Medicine, 899(2), 1-7.

Paslawsk, T. (2013). The perceptions of pre-service health science students of the barriers to interprofessional collaboration. EAF Journal,, 23(1), 65-71.

Poirer, T. I., & Wilhelm, M. (2013). Interprofessional education: Fad or imperative.

American Journal of Pharmaceutical Education, 77(4), Article 68.

Reeves, S., Perrier, L., Goldman, J., Freeth, D., & Zwarenstein, M. (2013).

Interprofessional education: Effects on professional practice and healthcare

outcomes (update). Cochrane Database of Systematic Reviews, 3(CD002213). doi:

10.1002/14651858.CD002213.pub3

Rowland, P., & Kitto, S. (2014). Patient safety and professional discourses: Implications for interprofessionalism. Journal of Interprofessional Care,, 28(4), 331-338.

Schmitt, M. H., Gilbert, J. H. V., Brandt, B. F., & Weinstein, R. S. (2013). The coming of age for interprofessional education and practice. The American Journal of Medicine, 126(4), 284-288.

Schuetz, B., Mann, E., & Everett, W. (2010). Educating health professionals

collaboratively for team-based primary care. Health Affairs, 29(8), 1476-1480.

Stephenson, R., & Richardson, B. (2008). Building an Interprofessional Curriculum Framework for Health: A Paradigm for Health Function. Advances in Health Sciences Education, 13, 547-557.

Thistlethwaite, J. E., Forman, D., Matthews, L. R., Rogers, G. D., Steketee, C., & Yassine, T. (2014). Competencies and Frameworks in Interprofessional Education: A

Comparative Analysis. Academic Medicine, 89(6), 869-875.

WHO. (2013). Transforming and scaling up health professionals’ education and training:

World Health Organization Guidelines (pp. 124). Switzerland: World Health Organization.

(38)

36 Lampiran 1.Bukti acceptance for oral presentation

(39)

37 Lampiran 2. Draft Publikasi

Assessing community based interprofessional education Endang Lestari, Pujiati Abas

Current health issues become very complex. Health services are not only focused on efforts to cure the disease, but also on promotion and disease prevention at the society or community. (Barker MJ, 2013). Considering that, The World Health Organization advocates the promotion of socialaccountability in health professional education by encouraging the health professional education to develop close collaboration withcommunities.(WHO, 2013) This encouragement for social accountability is important andneeds to be fostered during student education from preclinical year up to clinical year.

In health professions education,social accountability means that students shouldhave the skill toadjust to the needs of patients and communities. As the community health issues are getting more and more complex ,comprehensive health services need to bein an interprofessional manner; this requires thetraining of health professional students in community based interprofessional education to gain skills in aspects such as collaborative practice for solving community health problems. (Hosny, Kamel, El-Wazir, & Gilbert, 2013; Rhoda, Laattoe, Smithdorf, Roman, & Frantz, 2016).

One of the main advantages of community-based education(CBE) is that students learn through actual practice to provide health services at community healthcare. Considering that, literature provides some enlightenment as to the importance ofcommunity-based education. The primary health care principles that drive communityhealth care highlight the importance of community participation in health caredecision making and in turn the need for health care providers to be responsive tocommunity needs (WHO, 2010). Health carereforms in some countries haverecognized the need for community participation since thedeclaration of Alma-Ata (World HealthOrganization 1978)over 30 years ago (Bath &

Wakerman, 2015; Galaa, 2008). The interprofessional healthcare team is an important component of community based healthcare service, and is most effective if skills of shared understanding and mutually respectfulcollaboration are developed during students training.

These skills can be learned through interprofessionaleducation(Luebbers, Dolansky, Vehovec, & Petty, 2016; Scott Reeves, 2000; Stubbs et al., 2017). Literature suggested that interprofessional education only makes sense when applying practices in the workplace (Paradis & Whitehead, 2018). IPE settings in the classroom such as using the PBL approach alone are less sufficient to develop some skills needed for clinical collaboration (Lestari, Stalmeijer, Widyandana, & Scherpbier, 2019). Therefore, broadening the scope of IPEinitiatives to include nonclinical settings, such as communitybasedIPE program, is needed so that the avenues for interprofessionallearning can be expanded and the number of available IPEopportunities could be increased (Stubbs et al., 2017). Community-based IPE program may alsoproduce the added benefit of exposing students to conceptsthat might not be accounted for, or explicitly taught, in allhealth professions curricula, such as social determinants ofhealth and cultural competence (Ryan, Vanderbilt, Mayer, & Gregory, 2015). In doing so, students of an interprofessional group could stay in a community for certain period, evaluate the community health problems and provide the best method to

Gambar

Gambar 2. Diagram road map penelitian pembelajaran interprofesional berbasis komunitas
Diagram alir kegiatan:
Table 1. Karakteristik peserta FGD
Table 1. Factor Loading of each item of Interprofessional Teamwork  Evaluation (ITE)
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini menggunakan teori Belajar Sosial ( Social Learning Theory ) yang menjelaskan dalam proses belajar sosial, individu selalu mengumpulkan informasi dan

Penelitian ini menggunakan teori Belajar Sosial ( Social Learning Theory ) yang menjelaskan dalam proses belajar sosial, individu selalu mengumpulkan informasi dan