".\l-Furqan"
Junral : Studi pendiclikan IslanrVol. II
No.I
Maret-
Aguslus20l3
ISSN:2252-3812.t-:-J'**-.=.
- _!
PENDIDII
NISLT\M DI TENGA}I REALIT,{S KE}IAJEMUK,,\N:
PARADIGNTA
KEILN.IUAN r\t.AU KE.\CAITAAN?
Oleh: llyas
yasiu *)
r\bstrak:
. corak
ltehidrpau v-ang nctJ<itt ncugsrobLtrde\or.1 ini
rtctporersi ntenintburkan itltegra.si-sekaligus disitltegrusi dulu,n iJhiJ,,pu,,
"orint. ii iittir'
sisi gl.)batisasitn en ebabkutt
.
terjudinla iiterilepen(let'i untariranttsia
trnil,pnin
r:utnrn, ke.saclaran ,i.:::.:.!:.,, ,:,.1:,,1,,ui,,t
ukris. .rcLlunskan cti si.titain
gtobotisas ijitga
tetcrtt ntengakibatkan^LittUott trtflt3ltaltl1d.\t ti,!cn-.\etIittlLtl ft,,t,atJin/ 1,,,t,:.ttu,tA t. tp Ctui;,li rt,Ottg publik.. Sebagai betttttk relio.t,asd Jbntl,t l ,', ru. pt Ai r,,n
,ln,i
prni,,,t ,,,,,rif iU, .nr,_nn
t n,,paratlignta pentlidikttn Islatn
sctlang_clir4i k"rtunpr,urnrt tlolartt
tnere.tl)otr datr nrentecuhkan persoolanini
baik cli tittgkatnnsi.nnl t,,n,,tr,i
,tr,,,irr."Doinnl
kontetsini paradignta pendidiktu lslaDt tlita tang ttntuk
ntet.untuskctDlernbali
.fbrntulasiparatlignnnva.
apakah sehogai*acatu
keilntttttn ntr,r, u.t,r.n,jrn k"l,.qnu,ou, otn,,Aon,.:..'.:,,,,
,: , ,,:il:" tttt.rrotit.'. l,to7i
Lpnptt,tpittttatrtr,t. A.,l,,a pu,",t,;r,a t,,,,b,,t
1tt.'rl,ltltit
tntftik0ii
t, t iu:rcrhod,f
.tilosofi rlo,t
lr.tkrik f,
nrliJi/.,tnj,lont. TtJi,.|t it,i, tli ',::.:!:r:.
.:.4":, utcngurai.k,tt.ttLntqn{ /a tanga
),c!g'dihad.tpi
paratligntcrpetuti(lik.
r,,::::.,.,,-::::.:1
,,1",:, tis-,! tis
Jcnsatl realitcts kenaje111uk.t,it,go
,,,e,nipu,icrn teutattg^ortcArcn\1 sttl.t ri.le-t/fccr duri pilihan liedua tacanu cli
atrasseflar fietlcari
kenutngkitnnalanva
x,acana dlrcn;.!t.il.tlari
puratligntop",,'riiri,i"" irtant.
Dengn,rlettikian. tlilnrapkttn
akunluhit
sebttulr pnradig,nopJ,,diJi*u isin),
vnrgtidot n_rrn
k r Iut;,1 t. t t.o.1.tl ht rt,,t,-,,tt
ttiloi
ttilaif,t\ittJ
Jnti l,t,tt Kata Kunci:
Islam. Kcrnajemulian,Nilai,
Absolut, Relatif.*) STAL{l-Amin
Dompu prograrr StLidi penclidikan AgamaStudi Kornunikasi penyiar.an Islam
(Kpl)
Islam(PAI)
dan programA, Pendahuluan .
:Dilihat
dari berbagai sudut pandang, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat pluralitas cukuptinggi di
duniabaik
pluralitas ehris, ras, agama.bahasa,
budaya' derrografis maupun geografis. penduduk r'donesia saat
ini mencapai sekitar 2'r0 jutajiwa,
terdiri atas 17.667pulau.
500 suku dan5r2
bahasa daerahse a
tersebardalam enam
agatnabesar dunia yakni Islam.
Katolik.Protestan,
Hindu,
Budha dan Kunghucu, belumtenrasuk
sekjan banyak agarralokal
maupun berbagaialiran
kepercayaan.CE.
Beeby(19g2: 25)
melukiskan,...:
,
,,w,
"Al-Furqan"
Jurnal : Studi Pendidikan IslanlVol. ll \o. I MJet-Agu'tus2013
ISSN:2252-3812
bahrva "keragaman yang terdapat
di
negeriini
beginr banyak sehinggaia
seolah- olahterdiri
atas selusin dan bukannya satu bangsal".Bila
berbagai keraganran ini dapat dikelola secala baik rnaka ia dapat menjadi salah satu kekuatan yangefektif
dan sumber kemajuan bangsadi
masa depan Namunjika
sebaliknya, keragamantersebut dapat meiljadi
ancamandan sumber disintegrasi yang
menakutkanBerbagai kasus kekerasan ehlik, agama maupun separatisme
sejak pascakemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru maupun orde:efomasi
menunjukkan kegagalannegara
dalam mengatur dan mengelola berbagai keragaman yang adaDi
masa depan, potensi ancaman sepettiini
bersifat laten.Pada saat yalrg sama, derasnya arus globalisasi dunia saat
ini
telah membual upayaurtuk
rnenatapluralitas
bangsajuga
beltambah kompleks. Kemajuan di bidang transportasi dan komunikasi telah membentuk dunia tanpa 6atas (boardlessof
therorlf1
dan desaglobal (global t'illage).
Corak globalisasi yang demikian melahirkan duahal
yang paradoks.Di
satusisi
era keterbukaanini
mendorong warga duniacenderung memiliki
.rerrseof belonghg
dalam menyikapi berbagai targedidan
problern kemanusiaan sehinggahal
tersebutjustru
mengulltungkan dalam membentuk solidaritas global.Tapi di sisi lain,
corak globalisasi tersebut justn-r semakin mendorong orang untuk kembali kepada ikatan-ikatan primordialnya sehingga dapat mengancam pembentukan kesadman. dan solidaritas globaldi
atas.Timbulnya belbagai pergesekan antarehlis, antaikomunitas, maupun kekerasan atas nama agama serta
tero
sme keagamaan menrpakan diantara sedikit contoh tentang gejala ini.Sebagai bagian
dari
sistem pendidikanonasional, pendidikanIslam kini
dihadapkan pada tantangan untuk merespon berbagai permasalahandi
atas. Sebagai subsistem pendidikan nasional, pendidikan Islam harus secaraproaktif
membantu memecahkan persoalan nasional dan global saatini
yakni bagaimana melumuskan suatu pola pendidikan yang tidak hanya berfokus pada korlteks keislaman(inuard
tookirtg) tapi juga berorientasi dan mengakomodrsi kebutuhan
nasionll
dan global.Secara spesifik, dalam posisinya sebagai agama mayoritas di Tanah
Air,
tentu saja keberhasilanpendidikan Islam
mengatasi persoalanini ikan menjadi
kajiana
a
'\
-t
64
"Al-Furqan"
Jurnal : Studi Pendidikan Islanr Vol.il No. I
Maret-
Agustus 2013ISSN:2252-3812
menarik dimana
Islarn manpu
mengantarkan bangsa Indonesia sebagar neglra Muslim qlqlnqk1..1itrerbc.rl
di duniaSalah satu kajian terbaru dalanr
wacanapendidikan saat ini
aclalahpendidikan multikultural yakni suatu sistern pendidikan yang
menekankan pentingnya menghargai betbagai kemajemukanyang
ada_ Tel.dapatdua
alasan utama dilaksanakannyapendidikan multikultLual di indonesia yakni,
perta]11a, adanya kemajemukan budaya, etnisitas,faharr dan religi yang
terdapat dalam masyarakat; danketluo-
kecenderungan tatanan masyarakat masa depan dengancirinya yakni era globalisasi (Ni'anr- 20)0: 7.1). Tetapi menurut
penulis, pentingnya pendidikanmultikultural tjdek
semata karena adanva pluralitas dalam kehidupan berbangsa ntaupun corakglobalistsi
yang makin membuat kehidupanrnakin
terbukatapi iuga
ken)'ataan bah\1'a aganta dervasaini telah
'diperalat.menjadi kekuatan ideologis kelompok tefientu untuk menghancurkan kemenusiaan, salah satunya mclalui kegiatan dan aksi aksi terorisme keagamaan.
Dalam
beberapatahun teEkhir, tampak jelas terjadinya
peningkatan eskalasikonflik-konflik
bernuansa etnik maupun agama di TanahAir.
Terlepas darikemungkinan adanya konspirasi dan invasi gerakan transnasional
dalam meningkahya eskalasi kekerasan lersebut, satuhal
),a]lg pasti bahwa munculnya berbagaikonflik di
atas secara liclak langsung menunjukkan kegagalan pendidikan agama selamaini.
Dalam kontpks ini^ pendidikan (agama) Islam telah gagal atau senga.jaditelikung
oleh' kekuatan-kekuatan tertentu sehingga tidak
lagi menampilkan wajah lslam yang ralnahr humanis dan demokratis.Menurut
Wahjd(2008),
masuknya berbagai pahamdan
gerakan keagamaanyang
mengusungideologi
kekerasan terutama f;hscarelorrnasitidak saja
mengubah rvajah Islanr Indonesia yang toleran dan demokratis menjadi intolerantapijuga
menghancurkan berbagaicorak Islam
berwa.jahlokal. Invasi gerakan
tersebutbahkan
telah menyusup masukke
dalam berbagai ormas, kampus, danbirokrasi.
Fakta inirrenunjukkan
bagaimana pendidikan(agarra)
menjacli instrunrenettktif
dalam mendorong sebuah translorrnasi sosial. Mengingat shategisnya fungsi pendidikan tersebutmaka penting bagi kita uniuk
memastikanbahwa orientasi
rrraupun konstruksi pendidikanIslant memiliki
kemanpuanuntuk
mengakomodasi sel.ta:l
.t
"Al-Furqan"
Jurnal : Studi Pendidikan lslanrVol. II No. I
Maret-
Agustus 2013ISSN:2252-3812
:-
, '.i:
._
"ti
' ..:.. t. ,
merespon berbagai persoalan sosial
baik di tingkat
negala-bangsa(tntio
-stale) rnaupun tantangan dunia global. Dalam konteksini
pula, penting bagikita
untuk merumuskan sebuahformula dan
paradigma pendidikanyang
tepatdan
benar sesuai dengan tantangan zamannya.Tetapi apa
itu
pendidikan Islam? Secaraimplisit
kata 'pendidikan Islam' nlengandungdua
aspekyaitr
aspck'pendidikan' dan 'lslat'n'. Aspek
pel1anla mengacu pada serangkaian pemikiran dan praktik pendidikan yang djlakukan olehpendidik
kepada pesertadidik baik
secarafbrmal, informal
maupun nonfornal Sedangkanaspek kedua merujuk pada suatu sistem keyakinan dan
praktikkeaganraan yang bersumber dari tuhan. Dengan demikian istilah 'pendidikan Islanr' mengandung
pengenian
sebagai sebuahsistem dan praktik pendidikan
yang bersumberdari
seltaditujukan untuk
mewariskan sistem keyakinan dan praktik keberagamaan Islam. Menurut Soejoeti (Fadjar, 1998:3)
teldapat tiga pengelrirn''pendidikan Islam". Peltana, Jenjs pendidikan yang pendirian
duq penyelenggaraannyadidorong oleh hasrat dan semangat cita-cita
untukmengejewantahkan
nilai-nilai
Islam baik yang tercermin dalam nama lembaganla maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakannya Dalam konteksini
kala'lslam'
ditempatkan sebagai sumbernilai
yang ak-an diwujudkan dalam seluruh kegiatan pendidikannya.Ketltn,
jenis pendidikan y4ng mernberikan perhatian dan sekaligus menjadikan ajaran lslam sebagai pengetahuan untuk program studi yang diselenggarakannya.Di sini
kata Islam ditempatkan sebagai bidang studi, sebagaiilmu dan
diperlakukan sepertiilmu yang 1ait. Ketiga, jenis
pendidikan Iang mencakup kedua pengertian itu. Dalam halinl,
lslam ditempatkan sebagai sumbernilai dan
sebagaibidang studi yang
ditawarkanmelalui program studi
)ang diselenggarakarnya. Berdasarkan pengertiandi atas, yang dimaksud
dengan'pendiclikan Islam dalam tulisan ini adalah suatu sistem pe,rdidikan
yangmenjadikan nilai-nilai Islam sebagai sunber
aspirasinya.Dengan
demikian pendidikan Islamdi siri
mencakup pendidikan yang diselenggarakan di-lingkungan keluarga, masyarakatdan
sekolah.Namun untuk
keperlqankajian ini
maka pembrhesrn m.rkalrhini
akan dilokuskrn pada prakrik pendidikqn lormal.\
66
"Al-Furqan"
JurnaI : Studi Pendidikan lslamVol. II No. I
Maret-
Agustus 2013ISSN : 2252-3812
t"
'' f':**
,
t.t"
,t
AkaD tetapi sebelum itu, penting kiranya untuk
membedakan antara 'pendidikanIslam'dan'pendidikan
aganra Islam,. pendicljkan Istanr rnenrpakankeseluruhan konstruksi lllosofis dan praktik pendidikan Islam itu
sendiri, sedangkan pendidikan agama Islam(PAl)
hanyalah salah satu bagian terkecil dar.ipendidikan Islam.
Dengankata Iain, pendidikan Islam
merupakan pendidikandalam konteks makro,
sedangkanpendidikan
agamaIslam lebih pada
skalamikronya.
Dalamtulisan ini
keduaistilah tersebut
akan dipergunakan secara bergantian tetapi dengan makna yangrelatif
sama.B.
ProblemPendidikan
IslamPendidikan Islam
merupakanhasil
konsh.uksidari
pergumulan antara landasan landasan normative agama (rvahyu, sunnah) dengan realitas sosial yang dihadapikaurr Muslim.
Sebagaihasil
konstruksidari
pengalamanhidup
kaumMuslim.
secara konseptual pendidikan sud.rh cukupteruji
kentJmpllannya untuk menata dair mengantarkan kaumMuslim
mencapai tingkat peradaban yang tinggi dari abad 9 sanrpai abad1l
masehi. Dalam konteks kekinian pun pendidikan Islam rnasihmerriliki
potensi yang sama. Ivlenurut Tilaar (2002: ?7-80) terdapat tiga nilailuhur
y,ang terkandungdalam
pendidikanIslam yaitu (1)
salahsatu
kekuatan buda;,a.(2)
pengimbangplndidikan sekuler, dan (3)
menyajikan pendidikanalternative. Karena itu
pengembanganpendidikan Islam tetap relevan
uDtuk diaktualkan kembali.Kendari demikian, harus pula
diakui
bahwa keberadaan pendidikan Islam krni seperti sudoh kehilangrn elan vitalnya lantaran mengidap sejumlah kelemahan baik secarafilosolis
maupunfraktis.
MenurutAzizy
(Syukri, 2003: 237) beberapa kelemahan penilidikan Islam adalah(l)
lebih banyak mengajarkan hafalan daripadaniiai-nilaiyang
harus dipraktikkan (2) lebih menekankan pada hubungan formalitasantara hamba dengan Tuhannya (3) kurang
memperhatikan penalaran dan argumentasiberpikir (4)
kurang menekankan pada aspek penghayatarl(5)
metode pengajaranIslam
liurang rnendapat garapan(6)
ukur.an keberhasilan pendidikan"Al-Furqan"
Jurnal:Studi
Pendidikan lslanrVol. II No. I
Maret-
Agustus 2013ISSN:2252-3812
agama masih formalistis (7) pendidikan agama belum dijadikan fondasi pendidikan karakter anak didik dalam perilaku keseharian
Secara kategoris kelemahan pendidikan
Islam
menurutAndi
Rasydianah(1995) adalah (1) dalam teologi, ada
kecenderungan mengarahpada
laharrfatalistik (2)
bidangakhlak
sekedar dimaknai sebagai urusan sopan santun dan belum dipahami sebagai keseluruhan pribadi tranusia beragama(3)
bidang ibadah diajarkan sebagai kegiatanrutin
agamadan
kurang ditekankan sebagai proses pembentukan kepribadian(4) dalam bidang hukum/fiqih
cenderung dipelajari sebagaitata aturan yang tidak akan
berr.rbah sepanjangmasa; dan
krrrang memahami dinamika danjiwa
hukum Islam(5)
agama Islam cenderung diajarkan sebagai dogma dan kurang mengembangkanrasionalitas sefia
keciotaan pada kemajuanilmu
pengetahuan(6)
orientasi mempelajariAl-Quran
mosih cenderung pada kemampuan membacateks, belum
mengarah pada pemahamanarti
danpenggalian makna.
Sementala
Muhaimin (2003:71)
menunjukkan beberapa kelemahan 1-anghampir
samayakni (1) masih
berpusatpada hal-hal yang bersifat
simbolik'ritualistik, legal-formalistik dan
kehilanganruh moralnya (2) bertumpu
pada penggarapanranah kognitif dan paling jauh hingga ranah emosional
(atausebaliknya kurang memperhatikan ranah intelektual), tetapi tidak
dapatmewujudkannya dalam tindakan nyata karena tidak tergarapnya
ranahpsikomotorik. Sejumlah
kelemahanpendidikan lslam tersebut di atas
padagilirannya berimplikasi
pada lemahnya kemampuan adaptasipendidikan
Islam dengan realitas sosial yang ada. Dengan katirlain'
system danpraktik
pendidikanlslam
sudahjauh terlinggal oleh dinamika dap
perubahansosial yang
terjadi sehinggatak jarang
ditemukan kesenjanganyang
cukupjauh
antara apa yang diajarkan dalam konsepsi-konsepsi pendidikan IsLam dengan realitas yang ada di masyarakat. Padagilirannya
kesenjanganini, biia
terus berlangsung.jelas
akanmenimbulkan
keterasinganpendidikan Islam di
kalangan masyarakat Muslimsendiri. Bahkan lebih buruk lagi bila
pesertadidik mulai
kehilangan simpati, kepercayaan dan kebanggaannya terhadap konsepsi agamanya sendi-qi. Oleh karena...
't'
+
L
1i.}
\
68
.*---*-1
",{l-Furqan"
Junral : Str)di Pendidikan lslanlVol. II No. I Maret
Agustus 2013ISSN:2252-3812
itu,
melakukan evaluasi dan mereorientasi dasar--dasarfilosofis
maupun praktikpendidikan Islam menjadi kebutuhan tak
terelakkan. .
lC.
Penrlidik:rnlslanr: tntara \ltcana
Kcilmu:rndtn Ke:tgamlfln
:. ,
Untuk
n.relihatdan
mengetahui bagaimana konsepsipendidikan Islam t.;::
terhadap
realitas
kemajemukansosial dan
agamatentu harus dimulai dengan ;,
"
meiihat
pandangan-pandanganteologis Islam itu sendiri.
Sebabseperti kata :..'l -i Langgulung (1988: 27) nrustahii kita
rnemahamipendidikan Islam tanpa '*---,
merrahami Islarn sendiri,
yakni
suatu kekuatan yang rnemberihidup bagi suatu " +
peradaban raksasa
yang
salah satu buahnva adalah pendidikan. Pendidikanini :.
rvujud
bukan secara kebetulandi
tengah{engahrakyat yatlg
kebetulan adalah.orang-olang Islaln, tetapi dihasilkan dalam bentuk seperti
ia
dihasilkanitu
sebab orang-olangyang
membawanyake wujud ini
adalah omng,oranglsiam
dan betnaf.rs dr dalrrn.rl.rrn iagatlang
penLrh dengan udcra I.lam.Drri aspel
colrcrrrs.i:i
pendidik.rn Islamrnemiliki
sejLrmlnhkrrJkteri.lil*
yang
digali
dari al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw sebagai sumber aiaranIslam. l::
I(arakteristik pertama tampak pada kriteria pemilihannya, yaitu iman, arnal, akhlak,
dar
sosiq,l.Dengan kritetia
torsebutpendidikan Islam
merupakan pendidikan keimanan,ilmiah.
amaliah, moral, dan sosial.Isi
pendidikan Islam mencakup tigahal
vakni,penana, isi
pendidikanlslam
berkaitan dengan sebuah rujuan besaryaitu
berimankepada Allah
serta menjalin hubunganindividu,
masyarakar.dan
tt'_\.
-
-mdl m.rnucic oengtn al-Ahaliq
sehinggalehidup.rn menjrdi berr iuan dan Tt
'rF,
, _,i imerrili.ki
orientasi yang jelas di jalan yang benar menuju rida Allah.Ketlua, amal ; *
:saleh, saling mengingatkan agar rnenaati kebenaran
(isi ini sqalan
dengan ilmuyang beltujuan menyingkap hakikat dan mencari
kebenaran),dan saling :
mengingatkan agar
.
menaati kesabaran(lsi ini
me)ambangkan pendidikanakhlak, .:
-<5i'."" ,'
krrela
kesrbaran merupakan inri .rkhlak yang disebutdi dllrm
al-euran lebihdali -_i-a a{5r*
seratu.
k,li). K./lq.r.
perdrdikrn sosial. mencakupkerjrsrmr
dtlarn menumbulrkan+-s- - ' Z
rar:tn
dJn !{
'rnenaatikesatlaral(DirjenBirrbagaIslam,2002:35.36). \ .:
-4
"Al-Furqan"
Jurnal : Studi Pendidikan IslanrVol. II No. I
Maret-
Agustus 2013ISSN:2252-3812
Secara singkat, clapat dikatakan bahwa
inti
pendidikan agamaIslarr
adalah penanamaniman yakni
bagaimana n.renjadikan anakdidik orang
yang beriman (Tafsir,2003:
124). Namun meski secala normatifisi
maupuntujuan
pendidikancukup idealistik tapi dalam praktiknya seringkali jatuh pada
pendekatan pembelajaran bercorakteologis dan
mengarah pada semangatklaim
keberraran(tnnh clain).
Padahaltntth clain
yang dipahami secara mentah dan emosionalakan menimbulkan
masalah.Menurut Abdullah (2010: 2) diantara ciri-ciri
pembe)ajaran modelteologi (rlun al-Ditt) ini
adalah,pertana,
berorieritasi dan menitikberatkanpada segi
keimananatau
keperccyacn semata {corr&ssiorlal)Umumnya model
pembelajaranini tidak
menaruh perhatia:ryang cukup
pada rvilayah atau dimensi-dimensi keberagamaan manusia yar18lain
Pembelajaran bercorak teologis biasanya cenderung bersifat "parochial, eksklusif, dan karena itu sectarian dan ideologis (Donald Wiebe, 2005: 99)' Kedua, seringkali terjebak pada sifal-sifatparochill
(hanya terbatasuntuk
lingkungansendiri
saja,dan
kura:rg peduli pada kelompok di luardiri
dan kelompoknya)' Keliga, sifat-sifat bawaan lain yangtidak
dapat clihindari adalah eksklusivitas(tefiutup;
hanyauntuk
kalangansendlrt), sectarian (fanatic kepada kelompoknya sendiri dan tidak toleran telhadap
kelorrpok
yanglain)
dan ideologis (pemyataan dan r,program -programnya terkait denganpolitik,
social dan ekonomi).Kee lpctl, apologetic (mempertahankan eksistensi
kelompok sendiri
dan kurang berminat mempertahankan dan membela kepentingan kelompok lain) adalah akibat langsung dari akumulasi sifat-sifat tadi, Kelima, pada aras teologiini
kadangjuga
memb:hcs sejarahlgama-.lglma atflu
perbandinEln agematetapi
dengart semangat normativeyaitu
telaah ataukajian
dgamalain
si:suai dengan norma- norma dan patokan dasar yang telah ditentukan benar-tidaknya secara sepihak olehkelornpoknya sendili, non-dialogis. Keenam, dalam bahasa studi
agamakontemporer,
kecenderunganteologis illi dikenal dengan sebutan (/'er'\lit, subjectiism, yaitu kebertuhanan dan
ketreragamaanyang dibatasi
dandidetelminasi oleh
semangat"subjeklivitas'
kepercayaan kelompok-kelorrpok social,baik
subjektivitasitu
disebabkan karena factor bahasa yang belbeda-beda(Arab, lnggris,
Mandarin, Tagalok) atauoleh kondisi
geogrrifi (daratan, lautan''.',
70
.. . _?___!.
"Al-Furqan"
Jurnal : Studi pendidikan IslanlVol. II No. I Maret
Agustus 2013ISSN : 2252-3812
kepulauan,pegunungan) maupun tingkat kemajuan pendidikan atau tingkat Iiterasi keberagamaan yang manusia
miliki.
.
Sitlgkatnya, pendekatan teologis cenderung membar.va kepada sernangartntth cleill
yang berbahaya. Sementara truthcl.rin
yarrg berjalan tanpa mekanisme kontrol dari"luar"
mudah mengaralr pada dognratisme dan f'anatisme se,npit. TaDpa disertai mekanismekontrol
yang jelas, agaksulit
menentukan batas_batas antara benlukconDtitne t
sehat yang dituntut agama dan fanatisme sempit yang tlicegah agama (Abdullah,2004: 50). Hal jtu disebabkan oleh kenyataan bahwa pendekatan teologis cenderung melihat perbedaan-perbedaan (difference) daripada kesamaan di dalam agama-aganra. Sementara kehadiran,.yanl lajn,,berkat kon*rnikasi mau tak mau mengusik orientasi teologi. ,.yanglain,'ihr
ada clan banyak, clan hadir begitLr dekat bahkankita
tinggaldi
antara mereka. pluralitas adalah lakta sosial, historis"dan sehari-hali.
Kita
beftanya bagaimana bersikap terhadap'.yang lain,'tersebut.Pluralitas
agamadan pluralisme
agamapada umumnya akan
memengaruhi.mengubah pemahaman akan agama, bahkan pemahaman dan pengalaman kita akan
Allah.
Perubahan sikapmulai dari
memandang'.yang (beragama)lain,,
sebagai musuh,mentolerir
keberadaan mereka, sampaisikap bukan saja
menghormati mereka bahkan memandang kehadiran mereka ',yanglain,'ihr
bermakna baginya(Wijoyo,2000:
4).Dalam posisinya
sebagajultiujate goal
maka menghindari pendekatan teologisdalam
pendidikandan
pembelajaran agama Demanghampir
mustahil, apalagibila diingat
bahwateolog!.seperti
dikemukakanWhaling (201i:
318) pernah menjadi "ratunyailmu-ilmi-
(qtreen oJ sciettce). Namun demikian. dalarrjangka panjang .peidekatan
pembelajaranxgama semacom itu tentu
akan menimbulkan masalah. Karenaitu tak
mengherankanbila masih
menonjolnya pendekEtan teologis tersebut menyebabkan wacana pluralisme agan.ia dalam bukr_rteks atau bajlan
;j PAI di
sekolah misalnya ,,masih mengedepankan pendekatan teologis-dogmatik baik menyangkut dimensi doktrin, dimensi praksis dan dimensihistoris" (Abdul Wahid,2003:308). Hal itn u,ajar
karena memang masalah pluralitas agamadi
Indonesia tampak tidak mendapat perhatian berarti dalam buku teks pendidikan agama(Adib,
?.011:460).
Wacana plur.alisme agama umumnya'.j
*
\}1---::\
:
:1' ,:' -
."Al-Furqan"
Junral : Studi Pendidikan lslartrVol. ll No. I Maret-Agustus2013
ISSN:2252-3812
t
memuat bebelapa konsep mendasar dalam diskursus keagamaan sepelti masalah
klairr
kebenatan yang mencakup kiairn finalitas' kesernpurnaan' keselamatan' dan keaslian agana (Abdul Wahid,2003:330)
Bila rvacana plutalism agaria seperti ini diabaikanmakamendoronglahirnyasikap-sikapkeberagamaanyangeksklusifdan eksLretn.Pada dasamya adanya
klaim kebenrrln
bcgi setiap rgrma seperti itu adalah sangat absah adanya, karena tar]paklaim
tersebutlnaka
agama sebagai systemkehidupantidakakanmemilikikekuatansipboiikyangcukupmenarikbagisetiap pengikutnya. Selain itu,
agamamempunyai asumsi dasar perlunya
mattusia mempunyai pegangan hidup yang tidak berubah-ubah danstabil
Karenaitu
setiap pemeluk agama akan berusaha memposisikandiri
sebagai pelaku agamanya yang loyal,memiliki
pers ol1dlconnlit
erlt (keterikatandiri)
terhadap ajaran agamanya'memiliki
semangat dedikasi dan bahkan berjuang serta berkolban untuk agamanya kalau memang diperlukan. Namun demikian'jika
klaim kebenaran dipahami secera mentah-mentah dan emosional maka akan menimbtrlkan banyak masalah karena walaupun agama mempunyai asumsi dasar perlunya manusia akan pegangan hidup yangtidak
belubah-ubah danstabil' tetapi
kehiduparl manusiaitu
sendiri penuhdiwamai
dengan perubahan-perubahan'ketidakstabilan dan
ketidakmenentuan (Muhain.rin,2003: 58)
Berdasarkan alasanini maka paradigna dan
praktik pendidikan agamalslam
semestinyatidak
melulu dilakukad secara dogmatik tapi juga seccrr rasional.Oleh karena itu, pendekatan dalam pendidikan agama
perlumempertimbangkan paradigma baru
yakri
tidak hanya paradigm normatif tapi iuga historis. Menurut Abdullah (2004:v)
terdapat dqa pendekatan dalanr studi agama yakni historis dannormatil
Pada umumnya' normativitas ajardn wah'vu dibangun'diramu, dibakukan dan ditelaah lewat
pendekdtandoctrinal-teolovis'
sedarlghistorisitas
keberagamaanmanusia ditelaah lewat berbagai sudut
pandangpendekatan keilmuan social keagamaan yang bersifat
multi
dan interdisipliner' baiklewat
p€ndekatanhistoris, filosofis, psikologis' kultural
maupun antropologis' Menurut Abduliah, meski dengan corak yang berbeda namun dalam praktik hidup sehari-haricampur
aduk antara kedua aspektersebut tidak
dapat dihindarkan'....
'/2
ISSN:2252-3812
Dalam praktik di
lapangan, campuraduk
antara keduanya rebih Llmumteradi
daripada keterpisahan antara keduaantara keduanya menjadikan
,"no,r,,nt"
Campur aduk dan ketertLlmpangtindihaD :na agama agama menjadi unik dan kornpleks.
Di satLr sisi, ia bergayut clan terikat d
sisi rain ia
jusa
terkuit iung.unga"nj;:l;:::ffi';l.ff"JH:l
I(orrsekuensinya, memahami fenomena aganra dibutuhkan peralatan metodolosis yang khusus.
Oleh
karenaitu,
berbedadari
fenomena budaya dan sosialyang
biasa, keteranyaman antara keduanya menjadikan lenomena agama, sekali lagi, menjadi sangatpelik
darr kompleks. MenurutAbdullah,
norma dan aturan agama yang dikJaim sebagiyang
bersuntberdari ,ilahi., yang.suci,. yang
,samau,i,,'sakral',
yang.ultinate',
yangmenjadikan agama
nempunyai ciri
yangspesifik
danunik
sekaligus membedakannl,adari
jenis_jenis pengalaman budayadan
sociai kemanusiaan yanglain.
Dimungkinkan,tuth claint,(klaim
kebenaran tun-qgal) yang biasa terjadi dalam penganut agama_agama, sebagianbersumber dari
apayang
disebut-sebut sebagaiyang ',suci'. ini. sampai di sini
barangkari ticrak nrasalah. Nanrun ketika apa yang disebut nornra dariyrng ,ilchi..
yang -suci,, yang 'samarvi', yang 'sakra)', 1,ang,llltinlate,
te,-eb',t cliungkapkan dalam bahasa dan bLrdaya tei.tentu
(Arab,
Ibrani. Jawa, Cina,Latin,
Inggris dan begitu seremsnya) maka serta merta ca*lpur tangan budaya dan sociar tidak dapat dihindarkan sama sekall. Belum Iagijika
apa'yang disebut_sebut sebagai norma_norma atau aruran-aluran
agama tersebuttelah
berubah.atau
berpindahdari yang
semr:la hanya merupakan"cita-cita',,
,,gagasan". ..keinginan,,, ..angan-angansocial.,
yang
biasa disampaikan-secara lisan menjafli :.konsepsi,.
dan .1.umusan.,
yang diLrngkapkan dalam bentuk tErtuiis
dalam
format teks, dalam formathuruf, kaljmat,
subjek, predikat dan begitu seterusnya dan Iebih-lebjhlagijika
harus pula dikonkrjtkan ataudipersonafikasikan pula nenjadi
suriteladan atau panutan(usvatun
hasanah),maka campur tangan historisitas
kemanusiaandan historisitas budaya
dan historisitasbudaya dan social
samasekali tidak drpat
dihindarkaD. Dengandemikian,
fenomena ketercampuradukkan, ketertumpangtindihan, keteranvaman intara isi normclivitas ddn historjsiras dari lenomena keberrgornranrn""""," ;;r;;
\-Fa
''id.:-:
-r:-ri t.
-*
'v't4-
. 1't{f
tt
,-
"Al-Furqan"
Jurnal : Studi Pendidikan lslarrlVol. Il No. I
Maret-
Agustus 2013ISSN:2252-3812
dipahami dan dapat dijelaskan secukupnya
llal itu,
sebagaimana dikatakan Smart(2011: ix),
disebabkankarakter dimensional agana. Dengan
memperkaya pendekatan pendidikan agama dengan beragarn petspektif diharapkan akan lahir sebuah kesadaranbaru
akanpenting sikap
koeksistensi diantaraumal
manusix umumnya.D.
TantanganPendidikan
IslamUraian tersebut
di
atas mencoba menunjL:kkan bahlva pendidikanIslart
atauPAI
menghadapitantangan untuk
meresponpluralitas baik secara
internal (pluraLitas kebangsaan) maupun eksternal(pluralitas
global).Untuk
menghadapipluralitas
tersebut tentr-rtidak cukup
denganrrengambil sikap pasif tapi
harus proaktif. Oleh karenaitu,
dalam merespon realitas pluralitas tersebut maka secaraumum
terdapat beberapaopsi yang dilpit dilakukan. Pcrldrrd. adalah
sikap menerima kehadiranorang lain
atas dasar konsephidup
berdampingan secara damai.Yang
dipertukan adalahsikap tidak srling
mengganggu. Keclua adalah mengembangkan kerjasama sosial keagamaan,me)alui berbagai
kegiatan yaDg secarasimbolik
mempedihatkan dan fungsional meudorong proses pengetltbangan kehidupan beragamayang rukun. Kerlga
adalah mencari. mengembangkan dan merumuskantitik-temu
agama-agamauntuk
merrjawab,fioblem,
tantangan dankeprihatinan umat manusia (Effendi, 1999:
l4), '
'lDalam perspektif masa depan, opsi pertama dan kedua tidaklah cukup.
Kita
harus mengupayakanuntuk
mencapai opsi.ketigayakni
membangun pemahaman yang positif antarumat beragama. Dalam kontelts Indonesia,,hal itu semakin penting mengingat bahwa kesadaran akan pluralitas ataumuliikultural
dalam masyarakatlndonesia ternyata masih rendah. Ahimsc-Putra (tt:
2q0lc)l)
misalnya, menunjukkan beberapa indikasi seperti. pertaryg', kurangnya penghargaan terhadap budaya dan agamalain.
Sebagai contoh, meski banyak kaumMuslim
memiliki teman dan menjalin relasi dengan temannya yang beragamaKlisten, Hindu
atau Budha tetapi hanyasedikit di
antara mereka ydng paham apaitu Kristen,
Hinduatau Budha. Kedua,
rendahnyakeinginan untuk
merrgetahuidan
mempelajari budaya atau agama lain. Halitu
tarrpak dari misalnyaminipnya
minat mahasiswa ' l:'i.r{it - , -''l':
t-
74
"r\l-Furqan''
Jurnal : Studi Pendidikan lslarrrVol. ll
No.I Marer-
Agrrsrus 201 tISSN:2252-3812
yang masuk ke jurusan
ilmu
budaya dibandingkan jurusan ekonomi atau FISIPOL.Lebih dari
jtu, di
kalangan mahasisrva.jur.usan ilmLr budaya tersebutjarang
yang mau mengkaji ataumeneliti
budayalain;
umumnya merekalebih
suka Irleneliti budaya dari sukunya sendiri. Ketigd, rendahnya penghargaan terhadap budaya atau agamalain. Bahkan lebih dari itu
banyakorang
Indonesiayang tidak
pedulitelhadap
budaya.Reformasi politik yang Ialu tcrnyata tidak diikuti
dengan refonnasi untuk ineiihat kembali bLrdaya dan tradisi.Oleh karena
itu;
dalamkonteks
dunia yangpluralistis
pendidikan Islam menghadapi beberapa tantangan.Menurut Muhaimin (2003: 72-73)
diantara beberapa tantanganpendidikan lslam
adalah.pertdna,
bagaimalrapAI
bisamenjaga akidah sisi.va dengan dukungan rvawasan
kejlmuan Islam yang
kokoh.Kedua- bagaimana
PAI
mampu mengajarkan agama dengan baik, jangan sampai menunrbuhkan semangat f'anatisme buta; menumbuhkan sikap intoleran cli kalangan pesertadidik dan
masyarakat Indonesia:den
memperlemah kerukunan hidup_*_q
'i
't
+
beragama serta
persatLran. dan kesatuan nasional, karena diakui
bahrvapengembanga:r
pendidikan
aga-madi
madrasah/sekolah/pesantlen atilupun di '..
maslarakdt berpotensi untuk mesujudkan inregrasi arau disinregrasi
d.,lam kehidupan nasyarakat. HaJini
banyakditertukan
oleh pandangan teologr agamadan doktrin
ajarannya.sikap dan perilaku
pemeluknyadalam
memahami dan menghayatl og:rma tersebut, lingkungan social cultural yang mengelilinginya. dan peranan dan pengaruh peinuka agama, termasuk guru agama, dalam mengarahkanpengikutnya.
Ketiga, bagairana P,{l
dapat memacu siswauntuk
lebihrajin dan _,r.--;i=F=_r\
pjntar,
sertakreatif, kitis
daninovatif.
Keentpat, bagaimattapAI
bisameniadi . -J :
:li:iutt'irv. \- "tl i
Kelima bagaimana
PAI
bisa mencetak siswa yang bertanggungjawab baikrerhadap { ;
diri,keluarga,masyarakat,.bangsada]1negarasebagaimaniltsrasidarisikap
' .i
rrr
unrrrt, :v* *a, iI '€'
menjadi seorrng h,rrnbc
Allah
yang\aleh
tapijuga
menjadi\arga
negrra)rng ':
bark. laar- dan demokraris sebagaimrna tujual pendrdrl,n lasional )aitu ,.-r
'' bctken
ba
gnl,Lfot. \i pcr(rra tliJili
agarnetjaJi
ntatttt.tio 1,t,tgbcritttan,lu,t :.
i
+
t
-={r
' tr:fl,-r .t '4.,,
"Al-Furqan"
Jurnal : Shrdi Pendidikan IslaDrVol. II No. I
Maret-
Agustus20ll
ISSN:2252-3812
berlakta
kepada Tuhtrn Yang Maha Esa, berakhlakuulia,
sehat, berilntu, cakap, krealrf,nan.lili&tl1enjacli warga
negardlg
clenokralissefil berlanggatga\rob"
(Pasal 3
UU No
20/2003). Oleh karena itu, dalarn perspektif masa depan menurul Pranowo(Syukri,
2003: 245) relormulasi pendidikan Islam mencakuplima
unsur'Perta a,
agamayang
disajikan dalam proses pendidikan haruslah agama yang lebih menekankan pada kesalehan actual, bukan kesalehan ritual semata, lnengingat eraini
akan dirvarnai oleh "t1r.r1" danjuga kompetisi
Kerlrra, pendidikan Islam harus mampu menyiapkan generasiterdidik yang pluralis
yang siap mengatasikemajemukan baik intemal maupun ekstenral. Ketlga, pengembangan silat pluralis harus merupakan
bagian tak
terpisahkandari
upaya mewujudkan masyarakat madaniyang
demokratis dan terbukadan
beradabyang
menghargai perbedaan pendapal. Keenpat, masyarakat madani yang diharapkan adalah masyarakat yallg penuh percayadtri,
dankelinn,
pendidikanyang
dilakukan harus menyiapkan generasi yang siap berpartisipasi aktif dalam interaksi global.Namun ironisnya, di tengah hiruk-pikuknya
wacanaplulalisma
agama selamaini
guru-guru agama sebagaifjung
tombak pendidikan agama, sejak dariTK
sampai PT, nyaris tidak tersentuh oleh gelombaig Pergumulan pemikiran dan diskursus pemikiran keagamaandi
seputar isu pluralisme dandialog
antar umat beragamaselam hampir 30 tahun terakhir. Akibatnya, seperti
dikemukakan Abdullah (2000: 22-23), dalamrri,;d.se/
mereka. p1d.r umumnya masih terpanggi) dan terinstal untuk mengajarkan aganra dengannaieri. cira
dan metode yang sama dengan asumsi dasar, keyakinan dan praanggcpan-praanggapan merekr bahrva anakdidik,
masyarakatdan umat di luar pagar selolah
seolah-olahhidup
dalarr komunitas yang homogen, dan bukannya heterogen, secaraGagamaan. Anak didiktidak dibekali
apa-apaketika
mereka keluardari
pagar sekolah, gereja, mesjid menghadapirealitas
masyarakatyang majepuk
secara keagamaan. Paradigma pendidikan agama masih lerbatas pJda paradignt lrm,r ycitu ,ttorL, todo
dan to be.'
Pendidikan agama belum mempunyai tonsepyi;g vorkable
dan applicable dalamhal yang terkait
dengan/o live
togetherdalam
masyarakatyang
terbuka dan majemuk.'
'-:-,li;
i
' i'.''
E
'/6
. -.. -_-
"Al-Furqan"
Jurnal : Stucli Pendidikan IslanrVol. U
No.I
Maret-
Agustus 201 3ISSN:2252-3812
Oleh sebab itu, bertolak dari berbagai
pclmasalahandan
tantanganpendidikan Islam
sebagaimanadikemukakan di atas, Abdullah (2000:
25) rrenjelaskan bahwa ke depan paradigma pendidikan agarna (lslarn) halus dialahkan pada upayauntuk
mervujudkan serracam konsepsocidl
contract dimana serruaindividu dan kelompok
mernpunyaiplotfonit, hak dan
kervajibanyang
sama.rneskipun berbeda
ras, suku,
golongan, agamadan
kepercayaanyang
diarlut.Sayangnya, menurut Abdullah, konsep
social conr'ect kwang
begitu dikenal dan kurang mendapat perhaiian, penajanan sertatitik tekan
dalam pengajaran dan pendidikan agamayang
berjalansekarang ini. Materi
pendidikan agama lebihterfokus dan sibuk
mengurusi urusanuntuk
kalangansendiri (itrclividuul atat pri,ate
aJfairs) dalam bentuk o/ a lutal
al-syaksil,ah(individu
atau pt'ivatenloralitt) dan
kurang begitupeduli
padaisu-isu umum dan al alnval al unrnah
Qtublicnto ra I i t v. p t bl i c a{fa i rs).
Pada masa Menteri Agama Mukti Ali tahun 1970-an,
beliau memperkenalkanistilah
yang cukup popular yakni agreein
.lisagreenent (set\)Jl dalam perbedaan) sebagai fondasi dalam membangun kerukunan umat beragama.Namun
Abdullah (20Q: ?5) menilai
bahrva mewirjudkan kerukunan beragarna melalui semboyan tersebut hanya bersifht sesaat. Sebab pada level level kehidupan sosial danpublik,
bukan pola agreeiil disagreenett
yang diperlukan melainkan nrodel"social co iract".
Dalam konsep"agree. itl disagreenelt'.
nrasih tampak corak pendekatan Teol&gliian
Kalam yang cukup menonjol dxnterlrlu
kental di situ lantaran disagreenrent nrasih selnpat ditortolkan. sedang konrponen "ngrcc"r'ryilbisa saja cepat tcdindih oleh "disagreenent"nya.
Seclangkansttle oJ nritti,
i-mentalitas dan cara
berpikir
serta bertindak yang tersernblrnyidi balik
kata kunci korltrak social adalahsebui
asumsi dan keyakinan bahrva kita semua sejak semulamemang berbeda,dalam banyak hal, lebih-lebih dalam bidang aqidah, irnan.
kredo. 4\
letapidemiu[tukmenjagakeharmonisan,keselamatan'irrtegrasisocialdan
kepentingan bersama dan kelon*pok (social sru-r'ir?/), mau tak mau, kita harus
rel --ff. -':
untuk menjalin ketjasama (cooperatloa) dalam bentuk kontrak social antara sesama
kelompok dan warga
masyarakat,yang sejak
semula memang sudah berbeda ditinjau dari sudut pandang apapun.t.
\.
ISSN:2252-3812
"Al-Furqan"
Jurnal : Studi Pendidikan IslanlVol. II No. I
Maret-
Agustus 2013Oleh karena
itu,
sekali lagi kita memerlukan sebuah paradigma baru dalatnpendidikan Islam; bukan
sekedarparadigma
keagamaandengan
pendekatan teologis yang cenderungdogmatik
telhadap agama sendiri darl pada saat yang sama penuh prasangka seftaprejtdice
pada agama orang lain rnelainkan paradigrra pendidikan yanginklusifdan
peduli terhcdap pArsoalan berscnta Mahlud(2011:5)
mengemukakan bahwa paradigrra pendidikan yang diharapkan adalah terciptanyasikap siswtpeserta didik yang mau memahami, meighormati,
menghargaiperbedaan budaya, etnis, agama dan lainnya yang ada
di
masyarakatBahkanjika
dimungkikan mereka bisa bekerjasamaOleh karena itu, tugas pata perumus dan pemimpin pendidikan menjadi sangat penting
di
sini. Razik&Srvanson (1995: 558) menyatakan bahwa mutu pendidikan sangatdipengamhi oleh
kapasitas seorangpemimpin dalam
memadukanvisi'
tindekrn. dan analisis dalam mengevaluasi elektiritls orgrniwsi
yang dipimpinny'r' Pemimpin pendidikanjuga
harus ,nampuminganljsifasi
belbagai perubahan dan dinamika yrng terj,rdi baik prda tingkat intental mrupunglob:l:
For e.lucational
lea(lersto be utccesfull lo'lay and in the future'
tltese leaders mrrst be able toble
dlheir |isions a'tiais
aDil anolvsesi
order toeraltate thei orga izatio s niisions and
e.ffecti|e essa d to 'leteruitle vhethet
instilulittgcha
geol naintaitli'|lg llrc
statns quo is 1pproPriatealld
e'fectircfor
theirorgattitatio
s. Because schoolsIre
alfected contitwally byihanges and
presstttesfronl their i Ennl antl eslennl
etNitontne lseclucitional leiilers must be able to
ottli(iP(tt.e ':hLtttgc tlevelopa
broad htowleclge base,antl be cogni:ottt of
e'tci:irffi'an') i
letnal d)nanics
tiroltghout
the world, notjt!sl
those.tflheit'
local cotllttti.ttilies':,;
Uutuk itu,
kebijakan pendidikan ke depan harus le{kgordinasi dalam semuasektor sosial
secaraterintegrasi (UNESCO, 1,??i I63) Dengan kata
lain.paradigma pendidikan agama Islam tidak boleh hanya untuk
kepentingan pendidikan agamaIslam itu
sendiri dan meletriiskandiri dali
konteks sosiahya termasuk realitas pluralitas sebagai bangsa maupun sebagaiwaga dunia
Namun.-.,baliknya, pendidikan Islam juga tidak boleh
sematadiperlakukar
,sebagai
paradigma keilmuan sehingga menimbulkan side-elfect berupa
terjadinya pendangkalanapalagi melahirkan sikap
sekularistisdalanl praktik
pendidikanIslarr.
Dalam konteks dunia yang makin pluralistis seperti dewasaini,
Olsen dkkI
'.-...fi t'.'
,t
'-_.Y h
'78
"Al-Furqan"
Jurnal : Studi Pendjdikan IslanlVol. II
No. 1Maret
Agustus201j
ISSN:2252-3812
(Tilaar
danNugroho,2008:
267-268) mengingatkan bahrva kebi.jakan pendidikan yang tepatmemiliki
peran sh.ategis bagi keunggulan dan kelangsungan kehidupan global d.rn dernokrasi di rnasa dep.n:...edu.qtion policl.; in the tventtJirst is the kel, to llobal
secut.itj,,.\ttttoiuabiliry,tnJ stttttrol.-.e,ltrttttion polt,t(s tl\ .t.nu.,!l h,.tt..lt
gl,Jh:al nlission...a deepand
robust dentocrac.\,at atianal
let,el retluires strottgci\,il
society basedonporns of trust drld
acti|,ercspot\e
citizenship ond that educatiofiii
central to sucll ogoal.
Thus, the strongedtlcatio
stcrte is necessaryto
sustait.tdetltutracy at the
nqlic,nLlllevel so lhat stong denocratic natib
-sldlesca
brftress Jbrntsof internatio a!
g()\,et. at1ceatld et$ure thot globalization becones a Jbtce.for
global
sustainabiliry ancl sut'viyol....Akhirnya halus dikatakan bahr.va paradigma rnaupun kebijakan pendidikan yang tepat dan benar tidak saja berpengaruh bagi
individu
pesertadidik trpi
yugabagi
negaradan dunia global. Dalam konteks
penclidikanIslarn.
pendidikan dimaksud tidak semata berkaitan dengan penyiapan dair i mervujL_rclkan peserta didik yangmeniiiki
orientasi spirftuai kepada AJlah Swr tapijuga memiliki
kepedulian serta momlitas sosial yangbaik. Karenc itu,
dalam konteks nrokro tnaka ulttukrnengetahui
bagairnana.perspekrif pembrngunan suaru
pemelinmh.rreg.rra dirumuskan ltruupurlparniu"uun
bangsa tersebut terhadap sejarah ntasa depan, dapatdiljhat dari politik
pembangunannya,terutama
kebijakannyadi
bidargpendidikan. Sebab
"setiap kebijakan pendidikan
merefleksikan piliharr-pilihanpolitik,
tradisi. nihi..da{Sldonsepsi masa depan sebuah negara.. (UNESCO.l97l:
170).
Di sini
pendidikan tidak hanya berfungsi lnengembangkan potensiindiv:'r,- individu
dalaiir masyarakat tapijugaljkut
memengaruhi kualitas kehiclupan,i"g-",i --,
,+
secara luas.
sebagaiinanaditegeskan Razik&Swanson (1995: !!i) bahla
''educt!iiott tleals
witlt riifiais tlrut
reldteto
the heartn,td,orl of th. irLlii.l al citi:ert
artd, thesane tine, is iriticol to
thepolitical
attcl econotnicttelfare
o/the
,tu:ttio
and its seeurity".I )
ISSN:2252-3812
"Al-Furqan"
Jurnal : Studi Pendidikan lslanrVol. II
No. 1 Maret-
Agustus 2013E.
PenutupDari uraian
tersebutdi
atas dapatdianrbil dua
kesimpulan penting berkaitan dengan tantangan pendidikan Islam. Peltattla,di luar lungsi
ulltutl-tirntuk
memandirikan peserta didik-, pendidikanIslam tidak
hanya diarahkan untuk membentuk moralitas dan kesalehan individudlllm
hubungannya denganAllah
Swt tapi juga diharapkan mampu membentuk moralitas sosial yang utlrh Kedrra, pendidikan Islam diharapkan ddak hanya melahirkan pesedadidik
yang selalu taat danmemiliki
ikatan spiritual dengan Tuhannya tapi dapat melahirkan warga negara yang demokr'tis. hurnanis dan lolerarl.: '
Liu:j::.., . :
Y s
80
"Al-Furqan"
Jurnal : Studi Pendidikan lslamVol. Il No. I
Maret-
Agustus 20132003_
No.
1, Maret 2010. Bima: STIT SunanGiri'
Whaling, Frank. "Pendekatan Teologis'' dalam Peter Cannoly (ed),
TSSN:2252-3812
Razik,
T&Srvanson,A,
Fundantenllal CortcePlsof Eclrttaliornl
Leaclership and Managenrenl.New Jelsey: Plentice-Hall, I995Smad.
Ninian. "Kata
Pengatar" clalatn PetetC'nnoly (edJ"lrtel;a
Pendekatan StutliAgand,lei.lmam
Khoiri. Yogyakafta; LKiS, 201'lSyukri "Pendidikan Islam dalam Konteks Politik Pendidikan
Nasional" Jvnal
[Jlununa Vol.VII,
Eclisi 12 No. 2, Juli-Desember 2003 Mataram: STAIN Mataram Tafsir, Ahmad. Mea odologi Pengajaran '4gama Islant'BandLrng: Rosdakarya' 2003 UNESCO,learnirg
tobe
Paris: UNESCO' 1972'UU No. 20 Tahtrn 2003 Tentcrrg Sistern Pendidiken Nasional'
Putra, Heddy Shri Ahimsa, "lndonesia Cultural Plurdlism Without Multicrrlt'rralism?" in
Frani
Dhont,Kevin W Fogg
MasonC.
Hoadley.{ed),
Towards an InclusiveDe ocratic I do
esiaSotietv,rp.tt.
Langgulung, Hasan, Asas-Astrs Pendiclikan
lslan'
Jakarta: PustakaAl:Husna'
1988' Mahfud, Choirui'. P"ndidfiiitt Mtltikutntal.
Yogyakarta: Pustaka Pelaj ar' 201 1'Muhairrin,
Arah Bcrru Pengentbangan Pendidikan 1slnnr' Bandung: Nuansa Cendekia'Ni'am,
Syamsun"lslarr
dan PendidikanMultikultur di
lndonesia" JurnalFittah Yol
2'A
eka PendekataflI
Srutli Aganta. terj.Imam Khoiri. Yogyakafia: LKiS, 201 1'
'fijdo,
at"t
Soesilo, "Globalisasi dan Pluralisrne Agama" Jurnal(Jlunnta,Yol SNo' .', i -
2, Mei-Juli 2000. Matalam: STAIN Mataram.Wiebe, Donatd, ''Religious Studies" in John R ilinnells (ed). Ile
Routledge ConpanIon rc rhe Study of Religion. Lo1\doril Routledge,20054-
82