TAFSIR KAWASAN PAKISTAN
Icha Alawiyah (07040320122), Idris Nur Hikmah (07020320043), Mohamad Ziyad A.F (07020320053)
Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
UIN Sunan Ampel Surabaya Email: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini menggunakan kajian pustaka (library research) dengan menggunakan karya tafsir, buku, dan artikel jurnal yang relevan. Studi ini menemukan mufassir dari era pertengahan hingga modern-kontemporer, tetapi dalam perkembangannyab tidak ditemukan mufassir dari era klasik di Pakistan. Karena banyak karya tafsir di Pakistan ditulis dalam bahasa Urdu, penelitian ini hanya membahas mufassir kontemporer dan beberapa tokohnya.
Munculnya Islam di Pakistan ketika pemerintahan Dinasti Umayyah diperluas ke daerah Sindi/Punjab yang dipimpin oleh Mahmud Ghaznawi. Pakistan awalnya merupakan bagian dari India, tetapi kemudian memisahkan diri untuk menjadi negara Islam sendiri. Perluasan Islam di India memiliki dampak yang signifikan terhadap kemajuan penelitian. Berdirinya madrasah-madrasah pengkajian angama Islam menyebabkan perkembangan pesat dalam bidang tafsir di Pakistan.
Penafsiran yang digunakan di Pakistan saat ini lebih fokus pada masalah sosial kemasyarakatan, menggunakan corak tafsir adabi ijtima'i, sumber bi al-ra'yi, dan metode maudhu'i. Republik Islam Pakistan tercatat sebagai negara yang paling aktif mengkaji permasalahan keislaman dan filsafat di dunia Islam kontemporer. Di antara ilmuwan muslim ternamanya adalah Muhammad Iqbal, Abu A’la Al-Maududi, M.M. Syarif, C. A. Qadir, Dr.
Abdus Salam, dan Fazlur Rahman.
Kata kunci: Pakistan, Tafsir, Mufassir Abstract
This study uses a literature review (library research) by using works of interpretation, books, and relevant journal articles. This study finds mufassir from the medieval to modern- contemporary era, but in its development there are no mufassir from the classical era in Pakistan. Since many works of exegesis in Pakistan are written in Urdu, this research only discusses contemporary mufassir and some of their figures.
The emergence of Islam in Pakistan when the Umayyad dynasty government was extended to the Sindi/Punjab area led by Mahmud Ghaznawi. Pakistan was originally part of India, but later broke off to become an Islamic state of its own. The expansion of Islam in India had a significant impact on the advancement of research. The establishment of madrasas for the study of Islam led to rapid developments in the field of interpretation in Pakistan.
The interpretation currently used in Pakistan is more focused on social issues, using the adabi ijtima'i style of interpretation, bi al-ra'yi sources, and the maudhu'i method. The Islamic Republic of Pakistan is listed as the country that is most active in studying Islamic issues and philosophy in the contemporary Islamic world. Among the famous Muslim scientists are
Muhammad Iqbal, Abu A'la Al-Maududi, M.M. Sharif, C. A. Qadir, Dr. Abdus Salam, and Fazlur Rahman.
Keyword: Pakistan, Tafsir, Mufassir Pendahuluan
Tafsir merupakan suatu keilmuan yang dibutuhkan dalam memahami dan menginterpreksi teks Alquran. Setiap masa sejak zaman nabi hingga sekarang, tafsir pasti mengalami perkembangan. Perkembangan tafsir tidak hanya berada di daerah Arab Saudi atau Timur Tengah saja, namun juga ada di berbagai negara di seluruh penjuru dunia, salah satunya yaitu Pakistan.
Pakistan awalnya merupakan bagian dari India yang memisahkan diri karena kerusuhan antara umat Hindu dan Islam, yang disebabkan oleh konflik berkepanjangan antara kedua agama tersebut. Setelah merdeka pada tahun 1947, Pakistan menjadi negara Islam dengan jumlah penduduk Islam yang mencapai 200 juta jiwa.
Perkembangan tafsir di Pakistan memiliki sejarah panjang yang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti faktor sosial, budaya serta sejarah dan agama yang berkembang di Pakistan. Perkembangan tafsir di Pakistan berlangsung sejak awal penyebaran Islam di India.
Pada saat awal penyebaran Islam di India tersebut, para ulama dan cendekiawan Islam memperkenalkan pemahaman dan penafsiran Alquran pada masyarakat setempat.1
Seiring berjalannya waktu, perkembangan tafsir di Pakistan mengalami perkembangan yang sangat besar dan signifikan. Para ulama dan cendekiawan Islam di Pakistan memiliki peran sentral dalam menghasilkan karya tafsir yang relevan dengan konteks sosial, budaya dan agama negara tersebut. Para cendekiawan Islam tersebut menafsirkan Alquran dengan banyak mempertimbangkan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat Pakistan, seperti isu-isu sosial, budaya, politik, ekonomi serta keadilan sosial.
Perkembangan tafsir ini sejalan dengan upaya para ulama dan cendekiawan muslim untuk mengaitkan pesan-pesan dalam Alquran dengan keadaan yang ada pada negara ini.
Kondisi dan keadaan masyarakat sangat diperhitungkan dalam menyusun tafsir, sehingga mereka bisa memahami Alquran dengan lebih mudah. Selain itu, ada beragam aliran pemikiran dan tradisi keilmuan di Pakistan juga memberikan kontribusi yang berbeda dalam perkembangan tafsir di seluruh dunia, khususnya di Pakistan.
1 Rahman, T. (2014). Tafsir in Pakistan: Challenges and Prospects. Journal of Qur'anic Studies, 16(2), 76-94.
Perkembangan tafsir di daerah Pakistan juga terkait erat dengan adanya lembaga- lembaga pendidikan Islam yang didirikan di negara ini. Universitas dan madrasah terkemuka di Pakistan menyelenggarakan program studi yang mengkhususkan diri dalam bidang tafsir Alquran, dimana para sarjana dan ulama muda belajar dan melakukan penelitian tentang teks suci.
Pembahasan
A. Geografis dan Demografis Pakistan
Pakistan terletak wilayah Asia Selatan dan berbatasan dengan beberapa negara dan wilayah disekitarnya. Secara letak astronominya, Pakistan terletak di antara lintang 24° dan 37° Utara serta bujur 61° dan 77° Timur. Dalam perbatasan wilayahnya, Pakistan berbatasan dengan beberapa negara tetangga. Di sebelah utara, Pakistan berbatasan dengan Tiongkok melalui wilayah Gilgit-Baltistan, dan dengan Afghanistan di sebelah Barat Laut. Di sebelah Timur, Pakistan berbatasan dengan India. Di sebelah Barat Daya terdapat perbatasan dengan Iran. Sedangkan di Sebelah Selatan, Pakistan berbetasan dengan Laut Arab yang merupakan bagian dari Samudra Hindia.2
Untuk letak atau wilayah geografisnya, Pakistan memiliki beragam karakteristik geografis. Di sebelah Utara, terdapat Pegunungan Karakoram dan Himalaya yang mencakup wilayah Gilgit-Baltistan. Di sini terdapat beberapa puncak tertinggi di dunia, termasuk K2, yang merupakan gunung tertinggi kedua di dunia.bagian tengah Pakistan didominasi oleh Dataran Punjab yang subur. Daerah ini adalah pusat kegiatan pertanian dan juga rumah bagi beberapa kota besar, termasuk Lahore dan ibu kota Islamabad. Di Barat Daya, terdapat wilayah Balochistan yang luas, yang sebagian besar terdiri dari dataran rendah dan pegunungan gersang. Wilayah ini memiliki sumber daya alam yang kaya, termasuk tambang mineral dan ladang gas alam.
Di sebelah selatan, terdapat dataran rendah Indus yang luas, yang merupakan wilayah pertanian yang subur. Sungai Indus, yang mengalir melalui Pakistan, menjadi tulang punggung kehidupan pertanian dan irigasi di negara ini.
Pakistan memiliki demografi yang beragam dengan populasi yang besar dan beraneka ragam. Pakistan memiliki populasi yang besar dan merupakan negara ke-5 terpadat di dunia. Menurut perkiraan terbaru, populasi Pakistan mencapai lebih dari 240 juta jiwa.3 Masyarakat Pakistan terdiri dari berbagai kelompok etnis. Mayoritas
2 Flysh Geost, Kondisi geografi pakistan, https://www.geologinesia.com/2019/12/geografi-pakistan.html?m=1 diakses pada 20 Juni 2023
3 https://worldpopulationreview.com/countries/pakistan-population diakses pada 20 Juni 2023
penduduknya adalah Punjabi, yang merupakan kelompok terbesar di negara ini. Suku Pashtun, Sindhi, Baloch, dan Muhajir juga merupakan kelompok etnis yang signifikan.
Agama yang banyak dianut oleh masyarakat Pakistan adalah agama Islam dengan lebih dari 96% populasi mengidentifikasi diri sebagai Muslim. Mayoritas Muslim di Pakistan mengikuti Sunni, sedangkan sebagian kecil mengikuti Syi’ah.
B. Historisitas Kawasan Pakistan
Sejak tahun 3500 SM, orang pertama yang tinggal di Balukistan, sekarang Pakistan, bergerak ke timur melalui lembah sungai Indus. Mereka berkolaborasi dengan suku Arya. Kerajaan Gandhara di Lembah Sungai Indus muncul sebagai hasil dari perpaduan ini.
Hal ini diketahui dari catatan Budha dari abad ke-6 dan 5 SM. Pada tahun 327, Alexander Agung menghancurkan kerajaan tersebut. Pada masa kerajaan Muria pada abad ke-3 SM, Pakistan kemudian ditaklukkan dan menjadi bagian dari India. Sekitar tahun 320–540 SM, daerah sungai Indus akhirnya dikuasai oleh Hindu yang sangat kuat, yang melemahkan pengaruh Hindu. Pada sekitar abad ke-8 SM, orang Islam mulai menguasai wilayah India yang sekarang menjadi Pakistan serta membentuk kerajaan Islam.4
Sejak tahun 711 M, panglima Muhammad bin Qasim5 dari kerajaan Bani Umayyah menyerang wilayah ini, kaum muslimin mengenalnya dengan sebutan Sind.
Daerah ini berada di bawah pemerintahan khalifah al-Walid selama tiga tahun pemerintahan Bani Umayyah. 300 tahun kemudian, pasukan Abbasiyah di bawah pimpinan Mahmud Gazna (973-1073), anak panglima Turki Alptakan menggantikan dan menyempurnakan pendudukannya. Pada tahun 1030 M, mereka dapat menguasai Lahore dan India Utara.6
Dinasti Mughal menguasai seluruh anak benua ini pada abad ke-16, dengan raja pertamanya Babur, yang berasal dari Timur Lenk yang memerintah tahun 1530. Namun ketika Inggris datang ke India, masa kejayaan Mughal hancur.
Pada tahun 1757, Serikat Dagang Hindia Timur Inggris menaklukkan kerajaan Mughal dan menguasai sebagian besar anak benua India selama lebih dari sepuluh tahun. Tahun 1858, tentara asli India yang direkrut oleh pasukan Bengal melakukan
4 Setiawan, dkk, Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid XII (Cet. I: Jakarta PT. Cipta Adi Pustaka, 1990), h. 40
5 Ismail Razi Al-Faruqi dan Lois Lamnya Al-Faruqi, The Cultural Atlass of Islam, diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan Judul, Atlas Budaya Islam Menjelajah Peradaban Gemilang, (Cet. III; Bandung: Mizan, 2001), h. 258
6 Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam Melacak Akar-Akar Sejarah Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam, (Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h. 199
pemberontakan, dan pemerintah Inggris mengambil alih tanggungjawab pemerintahan.7
Nasionalisme Pakistan berawal dari perselisihan antara Hindu dan Islam pada tahun 1885. Orang Islam merasa diabaikan oleh Kongres Nasional India Bersatu, yang didominasi oleh orang Hindu. Setelah Perang Dunia I, orang Islam mulai melakukan gerakan dengan membentuk kolaborasi internal untuk menuntut kemerdekaan dan lepas dari India.8
Jami'at al-Ulama (Perkumpulan Ulama-ulama India) mengecam keras rencana untuk mendirikan negara Islam merdeka yang terpisah dari India. Mereka percaya bahwa menciptakan Pakistan sebagai negara yang berbeda dari India tidak akan menyelesaikan masalah. Alasan tersebut terletak pada fakta bahwa banyak kaum muslimin di India telah hidup bersama selama bertahun-tahun. Orang-orang agama ini bekerja sama dengan para tuan tanah. Di bawah pemerintahan Inggris, mereka memiliki hak atas tanah, melindungi mereka dari konflik kepentingan keuangan dengan pihak Hindu, bahkan menerima beberapa tanah tambahan. Pada tahun 1945 Liga Muslim mendesak para pemuka agama untuk membentuk sebuah negara muslim yang dijalankan oleh muslim untuk mempertahankan pola kehidupan muslim dan tidak peduli dengan kepentingan lokal.
Sayyid Ahmad Khan mencetuskan konsep komunalisme (sebuah kelompok umat Islam yang membentuk negara mereka sendiri secara mandiri). Muhammad Iqbal adalah orang pertama yang mengemukakan gagasan tentang Pakistan sebagai negara Islam terpisah. Dia mengatakan bahwa India terdiri dari dua bangsa yang besar, bangsa Islam dan bangsa Hindu. Umat Islam India harus membangun negara sendiri yang terpisah dari negara Hindu. Dalam rapat tahunan Liga Muslim tahun 1930, dikatakan,
"Saya ingin melihat Punjab, daerah perbatasan Utara, Sindhi dan Balukhistan bergabung menjadi satu negara." Ini merupakan pengumuman resmi gagasan tentang pembentukan negara tersendiri. Ini kemudian menjadi subjek kampanye nasional umat Islam India.9 Oleh karena itu, masuk akal bahwa Iqbal dianggap sebagai Bapak Pakistan, sementara Ali Jinnah bertanggung jawab untuk menciptakan negara Islam Pakistan yang berdaulat.
7 Ibid
8 Setiawan, dkk, Ensiklopedi Nasional Indonesia………. h. 40
9 Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h. 194
Dimulai dengan perjuangannya bersama dengan Liga Muslim untuk bekerja sama dengan partai Kongres Nasional dan para pemimpinnya, perjuangan Muhammad Ali Jinnah mewujudkan cita-cita tersebut. Namun, ia akhirnya menemukan bahwa sangat sulit untuk membangun nasionalitas Hindu dan Islam karena dia menyadari perkembangan masyarakat India.
Ghandi menciptakan gagasan asionalisme India yang menggabungkan umat Islam dan Hindu menjadi satu bangsa ketika M. Muhammad Ali Jinna masuk ke Liga Muslim India dan terpilih sebagai Presiden Liga Muslim pada tahun 1913. Ali Jinna meninggalkan Liga Muslim dan tinggal di London sebagai pengacara. Beliau diminta untuk pulang oleh teman-temannya setelah Liga Muslim membutuhkan pemimpin yang lebih aktif. Kemudian beliau kembali dipilih untuk memimpin Liga Muslim. Atas kepemimpinannya Liga Muslim menjadi gerakan yang lebih kuat.10
Dalam rapat tahunan Liga Muslim tahun 1940, terbentuklah kesepakatan mengenai pembentukan negara tersendiri untuk umat Islam India sebagai tujuan perjuangan Liga Muslim, sidang kemudian menyetujui untuk memberi nama negara itu Pakistan. Seorang mahasiswa India di London bernama Khaudri Rahmat Ali mengatakan bahwa dia sangat tertarik dengan pidato Iqbal tentang konsep negara Muslim tentang nama Pakistan. Ia menggabungkan huruf awal dari lima negara, dengan
"P" menunjukkan Punjab, "A" menunjukkan Afghanistan, "K" menunjukkan Khasmir,
"S" menunjukkan Shindi, dan "Tan" menunjukkan Baluchistan. Sebuah sumber lain mengatakan bahwa Pakistan berasal dari kata Persi, di mana "Pak" berarti "suci" dan
"Stan" berarti "negara," sehingga Pakistan berarti "negara suci".11 C. Perkembangan Keilmuan
Negara Pakistan adalah negara peradaban yang terkenal dengan gerakan keilmuan Islam. Setidaknya, hal itu ditunjukkan dengan keberanian negara itu untuk menggunakan agama Islam sebagai nama dan landasan konstitusinya, mengubah namanya menjadi Republik Islam Pakistan. Setelah negara Pakistan menjadi Republik Islam para akademisi muslim modernis dan tradisionalis Pakistan sangat giat mengeksplorasi pemikirannya.
Sayiid Ahmad Khan, Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, dan masih banyak lagi cendekiawan muslim yang cukup terkenal dari negara Pakistan ini. Tokoh-tokoh ini
10 Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam………….. h. 197
11 Ibid, h. 194
sangat dekat dengan pemikiran Islamnya dan mereka dijadikan sebagai figur serta acuan oleh para pembaharu Islam dari seluruh penjuru dunia.
Sejarah Pakistan menunjukkan kecenderungan terhadap ilmu sejak lama, bahkan jauh sebelum berdirinya India-Pakistan berdiri. Sejak berdirinya kerajaan Ghaznawi berfokus pada ilmu pengetahuan dan telah mengumpulkan para ilmuwan dari berbagai diiplin ilmu. Banyak sarjana, penyair dan guru sufi dari berbagai daerah di jazirah arab ingin tinggal di Lahore (Pakistan) dari tahun 1030 hingga akhir pemerintahan Ghaznawi pada tahun 1186. Mereka membawa berbagai pengalaman dan potensi yang mereka miliki dari wilayah sebelumnya ke wilayah-wilayah baru kaum muslim12.
Secara umum antusiasme para sultan di kerajaan Ghaznawi untuk menerapkan budaya dan pol administrasi Persia (Iran). Mahmud Ghazna sebagai ahli perang dan pemimpin di kerajaan tersebut, beliau juga terkenal sebagai pendorong dan pengembang ilmu pengetahuan. Figur penguasa ini sangat menghormati para sarjana dan juga pecinta ilmu pengetahuan. Ghazna yang akan menjadi daerah cikal bakal negara Pakistan pada saat itu, bukan hanya sebagai tempat pertahanan perang, tempat itu juga sebagai tempat berkumpulnya ulama’, fuqaha’ ahli hukum, ahli bahasa, tasawuf dan filsafat. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat cepat di masa itu.
Salah satu tandanya adalah pembangunan masjid yang sangat bear dengan madrasah dan perpustakaan di dalamnya. Mahmud Ghazni mengumpulkan para pujangga dan sarjana untuk membantu mengembangkan ilmu pengetahuan. Mereka ditempatkan di istananya sendiri. Selain itu, mereka menerima dana dan dukungan untuk mengembangkan dan menjalankan berbagai jenis penelitian ilmiah. Al-Biruni dan Al-Firdausi adalah dua ilmuwan yang Mahmud Ghazi pernah bantu. Artinya pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan sangatlah pesat selama dipimpipn oleh kerajaan Ghaznawi. Keinginan para sultan terhadap ilmu pengetahuan sangat besar dan hal ini berdampak besar pada pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan pada masa-masa berikutnya. Karena para ulama dan ilmuwan dari berbagai cabang keilmuan telah membangun dasar pengetahuan. Buktinya Pakistan memiliki banyak ulama dan pemikir yang sangat terkenal di seluruh dunia13.
12 https://ganaislamika.com/pakistan-19-peradaban-ilmu/ diakses pada tanggal 14 Juni 2023
13 https://journal.unismuh.ac.id/index.php/alurwatul diakses pada tanggal 14 Juni 2023
Di era kontemporer setelah negara republik Islam Pakistan didirikan, ada kecenderungan untuk meningkatkan dan mempelajari ilmu pengetahuan. Ini terbukti dengan munculnya banyak perguruan tinggi di Pakistan. Beberapa di antaranya adalah Universitas Pertanian Baluchistan Faisalabad dan College of Government Lahore.
Negara Pakistan juga memiliki beberapa lembaga yang mempelajari ilmu keislaman.
Lembaga penelitian seperti Yayasan Ilmu Pengetahuan Pakistan, Akademi Ilmu Pengetahuan Pakistan, Kongres Filsafat Pakistan, Asosiasi Filsafat Islam Internasional, Forum Iqbal Internasional, Pusat Penelitian dan Akademi Urdu Barat Pakistan adalah beberapa dari Lembaga penelitian yang berkontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan Islam.
Pengkajian ilmu-ilmu keislaman tersebut masih berlangsung sampai sekarang dan Pakistan tercatat sebagai negara yang paling aktif dalam mengkaji permasalahan keislaman dan filsafat di dunia Islam kontemporer. Sampai saat ini tradisi keilmuan di Pakistan telah menghasilkan banyak cendekiawan muslim yang terkenal di seluruh dunia. Diantaranya Muhammad Iqbal (1873-1938), Abu A’la Al-Maududi (1903- 1979), M.M. Syarif (1893-1965), C.A. Qadir (lahir 1909), Dr. Abdus Salam (lahir 1926) penerima hadiah nobel fisika 1979 dan Fazlur Rahman seorang Guru Besar Ilmu Agama Islam di Universitas Chicago, AS14.
Oleh karena itu, jelas bahwa Pakistan bukan hanya memajukan ilmu pengetahuan dan filsafat, tetapi juga menghasilkan banyak lembaga pengkajian, intelektual, politisi dan ilmuwan muslim terkenal. Semua itu telah dan akan berkontribusi positif bukan hanya bagi Pakistan itu sendiri, namun juga bagi dunia Islam pada umumnya.
D. Perkembangan Tafsir Kawasan Pakistan
Berikut adalah tabel ulama tafsir di Kawasan Pakistan dari masa ke masa:
No Nama Mufassir Periode dan Wafat Nama Kitab 1 Abu Bakar Ishaq Pakistan, wafat 1335
M/736 H
Khulasat Jawahir al- Qur’an fi Bayan Ma’ani Furqan15
14 Ibid
15 ‘Adil Nuwayhidl, Mu’jam Al-Mufassirin Min Sadr Al-Islam Hatta Al-‘Asr Al-Hadlir, (Beirut: Muassasah Nuwayhidl al-Thaqafiyah, 1988), 86.
2 Umar bin Ishaq bin Ahmad al-Ghaznawi (Siraj al-Din)
Ghazni, Pakistan, 1302- 1372 M16
Tafsir al-Qur’an (Tafsir Siraj al-Din)
3 Bashir al-Din Mahmud Ahmad
Pakistan, 1889-1965 M Tafsir Kabir dan Tafsir Saghir
4 Syekh Muhammad Shafi’ al-Deobandi
Pakistan, 1896-1976 M Ma’arif al-Qur’an
5 Muhammad Idris al- Khandalawi
Pakistan, 1899-1976 M Ma’arif al-Qur’an
6 Fazlur Rahman Hazara, Pakistan, 1919- 1988 M
Major Themes of The Qur’an
7 Asma Barlas Pakistan, 1950-sekarang Believing Woman in Islam, Unreading Patriarchal Interpretation of The Qur’an.
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pada periode klasik atau kira-kira abad 14 masehi, ada 2 karya tafsir yang ditemukan. Kedua tafsir tersebut adalah Khulasat Jawahir al-Qur’an fi Bayan Ma’ani Furqan karya Abu Bakar Ishaq dan Tafsir al-Qur’an (Tafsir Siraj al-Din) karya dari Siraj al-Din al-Ghaznawi. Pada era pertengahan, tidak ditemukan karya tafsir dari Pakistan. Kemudian pada era modern (kontemporer), ditemukan beberapa karya tafsir seperti Major Themes of The Qur’an karya Fazlur Rahman, Ma’arif al-Qur’an karya Muhammad Idris al-Kandahlawi, dan lainnya.
Adapun fokus kajian mufassir dari masa ke masa beserta profil kitabnya, sebagai berikut:
1. Mirza Basharuddin Mahmud Ahmad (1889-1965 M)
Khalifah kedua dari Jamaah Muslim Ahmadiyah adalah Mirza Basharuddin Mahmood Ahmad, yang lahir pada 12 Januari 1889 dan wafat pada 07 November 1965.
Beliau terpilih sebagai Khalifatul Masih II pada 14 Maret 1914, satu hari setelah Maulana Hakim Nuruddin wafat.17
16 “Imam Maturidi: International Scientific Research Center,” 2020.
17 M. A. Suryawan, Bukan Sekedar Hitam Putih: Kontroversi Pemahaman Ahmadiyah, (Tangerang: Azzahra Publishing, 2005), h. 3
Diantara prestasi yang dicapai selama kekhalifahan Mirza Basharuddin Mahmood Ahmad adalah membangun dan mengajarkan secara langsung struktur organisasi Jemaah Ahmadiyah. Karya besarnya, termasuk tafsir Alquran, Tafsir Kabir, yang terdiri dari sepuluh volume dan Tafsir Saghir, yang lebih singkat daripada Tafsir Kabir, dan menyebarkan Islam melalui kegiatan misi pengutusan mubaligh-mubaligh ahmadiyah secara aktif di seluruh dunia
Profil Kitab Tafsir Saghir (Tafsir Qur’anum Majid) dan Tafsir Kabir karya Mirza Basharuddin Mahmud Ahmad
Tafsir Saghir dan Tafir Kabir merupakan karya Mirza Basyiruddin yang paling terkenal. Kedua tafsir ini ditulis secara lengkap, berbeda dengan Mirza Ghulam Ahmad yang hanya menafsirkan beberapa ayat dan surah tertentu yang dirasa dapat menyokong ide dan pemikirannya. Habib Ahmad Berlin berpendapat bahwa Tafsir Kabir ini memiliki bentuk yang besar dan terdiri dari beberapa jilid. Tafsir tersebut membahas makna secara dalam dan terperinci. Akan tetapi tidak semua golongan Ahmadiyah boleh membacanya. Hal tersebut mendorong Mirza Basyiruddin untuk menulis tafsir yang lebih kecil dan ringkas yang kemudian diberi nama Tafsir Saghir.18
Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Nuruddin Muneer dalam buku “Ahmadi Muslim”. Menurutnya Tafsir Kabir merupakan tafsir yang
2. Syekh Muhammad Shafi al-Deobandi (1897-1976 M)
Nama lengkapnya adalah Muhammad Shafi’ ibn Muhammad Yasn ‘Usmani Doebandi. Beliau merupakan cendekiawan Islam Sunni dari Pakistan yang lahir pada 25 Januari 1987 M di desa al-Doebandi. Muhammad Shafi’ adalah nama yang diberikan oleh ayahnya Syekh Rashid Ahmad Gangohi. Shafi’ dibesarkan dalam keluarga religious.
Shafi’ menempuh pendidikan seperti anak-anak lainnya. Sejak usia lima tahun beliau telah menghafalkan Alquran Bersama Muhammad Azim dan Namdar Khan di Darul Uloom. Beliau lulus dari Darul Uloom Doebandi pada tahun 1917, kemudian mengajar hadis dan menjabat sebagai ketua mufti di sekolah tersebut. pada tahun 1943 beliau mengundurkan diri dari jabatannya dan memberikan waktunya untuk Gerakan Pakistan. Setelah Pakistan merdeka sekitar tahun 1951, beliau pindah ke Pakistan dan mendirikan Darul Uloom Karachi. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Ma’rifat Alquran.
Profil Kitab Ma’rifat Alquran karya Syekh Shafi’ al-Doebandi
Tafsir ini terdiri dari 8 jilid tebal dan sangat populer di kalangan Muslim berbahasa Urdu. Beliau menghimpun pendapat-pendapat tentang tafsir Syekh Rafiuddin al-Dahlawi, dan rangkuman tentang tafsir Syekh Asyraf dalam Thanawi serta pendapat para ulama salafi palsu lainnya. Beliau mengawali penjelasannya dengan memberikan penjelasan singkat dan jelas tentang makna ayat tersebut, kemudian sering merujuk pada riwayat dan riwayat Nabi, para sahabat, dan tabi’in yang berkaitan dengan ayat tersebut, kemudian menyimpulkan makna dari ayat tersebut. dan mengungkapkan rahasia serta pengetahuan yang dapat membimbing manusia. Beliau juga terkadang membahas tentang terbatasnya pengetahuan yang terkandung dalam ayat-ayat Alquran, dan jarang menyebut sejarah Israel bahkan dengan keras menyangkalnya.19
3. Muhammad Idris al-Khandahlawi (1899-1976 M)
Beliau adalah alumni Madrasah Syekh Asyraf Ali a-Thanawi dan belajar berbagai ilmu pengetahuan agama dari ulama tekenal di Darul Uloom Doebandi.
Karyanya sangat banyak dan membahas berbagai ilmu. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Ma’rifat Alquran. Kitab tafsir ini ditulis dalam 8 jilid yang luas dan ditulis dalam Bahasa Urdu dengan uslub yang mudah dipahamai oleh orang awam.
Tafsir ini memiliki keistimewaan. Selain hanya bersandar pada riwayat-riwayat yang shahih dan kuat, juga membantah atheis dan zindiq, menjawab keraguan dan syubhat mereka terhadap Alquran dan hukum Islam.20
4. Fazlur Rahman (1919-1988 M)
Fazlur Rahman lahir di Hazara (Barat Laut Pakistan) pada tanggal 21 September 1919 M dan wafat di Chicago pada 26 Juli 1988 Ayahnya rernama Maulana Shihab al- Din, seorang ulama modern dan ibunya Bernama Ny. Bilqis Rahman. Keluarganya tergolong alim atau taat beragama dengan menganut Mazhab Hanafi. Hal tersebut diakui oleh Fazlur Rahman bahwa dia telah terbiasa menjalankan ibadah sehari-hari secara teratur sejak kecil dan tidak pernah meninggalkannya.21
19 M. Afifudin Dimyathi, Tafsir Berbahasa Urdu, https://alif.id/read/m-afifudin-dimyathi/tafsir-berbahasa-urdu- b223524p/ (Online diakses pada 22 Juni 2023)
20 M. Afifudin Dimyathi, Tafsir Berbahasa Urdu, Tafsir Berbahasa Urdu - Alif.ID (Online, diakses pada Kamis, 22 Juni 2023)
21 Ebrahim Moosa, “Introduction”, F. Rahman, Ravival and Reform in Islam: a Study of Islam Fundamentalism, diedit oleh E. Moosa (Oxford: Oneworld, 2000), h.1
Ayah dan ibunya memiliki peran penting dalam perkembangan keilmuan Fazlur Rahman. Mereka merupakan sosok orang tua yang sangat menghargai pendidikan dengan sistem modern. Hal inilah yang mempengaruhi pemikiran Fazlur Rahman kedepannya. Ayahnya menganggap bahwa pendidikan keluarga merupakan suatu ilmu yang sangat efektif dalam pembentukan watak dan karakter seseorang Ketika berhadapan dengan kehidupan nyata. Dengan kesadaran inilah yang menyebabkan keberhasilan ayahnya dalam mendidik Fazlur Rahman dalam lingkup keluarga.22 Selain ayanya, ibunya pun mengajarkan sesuatu yang dapat membentuk karakter dan kedalamannya dalam beragama, yaitu pelajaran tentang kejujuran, kasih sayang, serta kecintaan sepenuh hati.
Profil Kitab Major Themes of The Quran karya Fazlur Rahman
Kitab tafsir ini merupakan kitab yang membahas mengenai tema-tema pokok Alquran.
Sehingga metode yang digunakan didalamnya adalah metode tematik atau maudhu’i.
Dalam kitab tersebut Fazlur Rahman mengkategorisasikan tema-tema pokok yang terdapat dalam Alquran, sehingga dapat mudah untuk dipahami sekalipun bagi orang awam. Fazlur Rahman turut menerapkan teori double movement dalam kitabnya meskipun tidak pada keseluruhan ayat. Kitab Major of The Alquran atau Tema-tema Pokok Alquran ini berisi tentang 8 bab. Meskipun demikian, kategorisasi tema-tema yang dicantumkan didalamnya sudah mencakup keseluruhan isi Alquran.23
E. Penafsiran Ayat-Ayat a. Ayat Ahkam
َباَط اَم اوُحِكْناَف ٰىَماَتَ يْلا ِفِ اوُطِسْقُ ت الََّأ ْمُتْفِخ ْنِإَو ْنِإَف ۖ َعَبَُرَو َث َلَُثَو َٰنَْثَم ِءاَسِ نلا َنِم ْمُكَل
اوُلوُعَ ت الََّأ َٰنَْدَأ َكِلَٰذ ۚ ْمُكُناَْيَْأ ْتَكَلَم اَم ْوَأ ًةَدِحاَوَ ف اوُلِدْعَ ت الََّأ ْمُتْفِخ
Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita- wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”
22 M. Hasbi Amiruddin, Konsep Negara Islam Menurut Fazlur Rahman (Yogyakarta: UII Press, 2000), h. 9
23 Fazlur Rahman, Major Themes of The Quran. Second Edition, (Illinois: The University of Chicago Press, 2009), diterjemahkan oleh Ervan Nurtawab dan Ahmad Baiquni dengan judul Tema-tema Pokok Alquran (Bandung:
Mizan, 2017), h. 2-3
• Fazlur Rahman berpendapat bahwa terdapat kontradiksi antara pernyataan bahwa suami harus berlaku adil dan pernyataan bahwa "berapapun kalian mengingikannya, kalian tidak dapat berlaku adil kepada perempuan-perempuan tersebut" (QS. An-Nisa [4]: 129).24 Dengan kata lain, berbuat adil di sini adalah kondisi yang tidak mungkin. Menurutnya, masalah poligami seharusnya dipahami dengan benar.
Dalam penafsirannya, Fazlur Rahman tidak menolak ayat sepenuhnya. Sebaliknya, dia mencoba menawarkan model penafsiran yang berbeda yang tidak hanya berfokus pada ayat itu sendiri, tetapi juga mempelajari sejarah turunnya ayat untuk menemukan pesan yang tersembunyi di dalamnya. Di mana ayat tersebut pada dasarnya bertujuan untuk mengurangi ketidakadilan bagi kelompok tertentu, seperti perempuan yang ayahnya meninggal dunia, janda yang memiliki anak, dan budak perempuan-perempuan.
Selain itu, Fazlur Rahman menentang poligami karena dia melihat konsekuensi sosiologis dari penghapusan jati diri, yang merusak moral ekonomi, sosiologis, dan religius. Namun, konteks ayat tersebut mengungkapkan aspek tersebut.
Singkatnya, poligami hanya boleh dilakukan jika memenuhi kriteria yang dijelaskan dalam ayat tersebut. Jika tidak, poligami tidak boleh dilakukan secara umum25.
24 Fazlur Rahman, Tema Pokok Al-Qur’an, h. 69
25 Burhanuddin, “Poligami Perspektif Hermeneutika Fazlur Rahman”, dalam Jurnal As-Sabiqun: Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Vol. 1, No. 2, 2019, h. 86.
DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin, M. Hasbi. (2000). Konsep Negara Islam Menurut Fazlur Rahman. Yogyakarta:
UII Press
Burhanuddin. (2019). Poligami Perspektif Hermeneutika Fazlur Rahman. Jurnal As-Sabiqun:
Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Vol. 1, No. 2, 2019, h. 86.
Geost, Flysh. Kondisi Geografi Pakistan. Diakses pada 20 Juni 2023 dari https://www.geologinesia.com/2019/12/geografi-pakistan.html?m=1
Hasan, Ilyas (Eds). (2001). Atlas Budaya Islam Menjelajah Peradaban Gemilang. Bandung:
Mizan
M. Afifudin Dimyathi, Tafsir Berbahasa Urdu, Diakses pada 22 Juni 2023 dari https://alif.id/read/m-afifudin-dimyathi/tafsir-berbahasa-urdu-b223524p/
Moosa, Ebrahem. (2000). Introduction, F. Rahman, Ravival and Reform in Islam: a Study of Islam Fundamentalism. Oxford: Oneworld
Nasution, Harun. (1975). Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan.
Jakarta: Bulan Bintang
Nurtawab, Ervan dkk (Eds). (2017). Tema-tema Pokok Alquran. (Bandung: Mizan)
Nuwayhidl, ‘Aidil. (1988). Mu’jam Al-Mufassirin Min Sadr Al-Islam Hatta Al-‘Asr Al-Hadlir.
Beirut: Muassasah Nuwayhidl al-Thaqafiyah
Setiawan, dkk. (1990). Ensiklopedi Nasional Indonesia (Jilid XII). Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka
Suryawan, M. A. (2005). Bukan Sekedar Hitam Putih: Kontroversi Pemahaman Ahmadiyah.
Tangerang: Azzahra Publishing.
T, Rahman. (2014). Tafsir in Pakistan: Challenges and Prospects. Journal of Qur'anic Studies Thohir, Ajid. (2004). Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam Melacak Akar-Akar Sejarah Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada