• Tidak ada hasil yang ditemukan

TAHUN 2007 TENTANG WARALABA JO. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR: 53/M-DAG/PER/8/2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "TAHUN 2007 TENTANG WARALABA JO. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR: 53/M-DAG/PER/8/2012 "

Copied!
41
0
0

Teks penuh

Penambahan kata “atau saling mengikatkan diri” pada Pasal 1313 KUH Perdata 17 Rumusan suatu perjanjian, maka menurutnya suatu perbuatan hukum, dimana satu orang atau lebih mengikatkan diri pada satu orang atau lebih. Lebih lanjut pasal 1334 ayat (1) KUH Perdata menyatakan bahwa barang yang hanya akan ada pada waktu yang akan datang dapat pula menjadi objek suatu perjanjian. Pasal 1335 KUH Perdata menyatakan bahwa suatu perjanjian tanpa alasan, atau dibuat karena alasan yang salah atau dilarang, tidak mempunyai kekuatan.

Pasal 1337 KUH Perdata menentukan bahwa sebab-sebab dalam perjanjian tidak boleh bertentangan dengan hukum, kesusilaan, dan ketertiban umum. Pasal 1233 KUH Perdata menyatakan bahwa “setiap perjanjian timbul baik karena perjanjian maupun karena hukum”. 28. Ketentuan ini pada hakikatnya merupakan penegasan lebih lanjut, berlakunya suatu perjanjian yang telah dibuat secara sah.

Akibat Perjanjian

Terpenuhinya syarat-syarat sahnya suatu perjanjian tidak serta merta menghilangkan hak salah satu pihak dalam perjanjian untuk tetap meminta pembatalan apabila perjanjian itu tidak dilaksanakan dengan itikad baik oleh pihak lain dalam perjanjian. Apabila salah satu pihak tidak melaksanakan perjanjian, maka pihak yang dirugikan dapat menuntut ganti rugi kepada pihak yang tidak melaksanakannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembatasan syarat perdagangan juga menyimpang dari prinsip jual beli yang menganut asas timbal balik.

Dari Pasal 1338 KUH Perdata kita dapat menyimpulkan bahwa orang dapat dengan bebas mengadakan perjanjian jual beli, sepanjang tidak melanggar hukum, ketertiban umum, atau kesusilaan.

Berakhirnya Perjanjian

Berdasarkan sebab-sebab ketidakabsahannya, maka ketidakabsahan tersebut dapat dibedakan menjadi perjanjian yang dapat diakhiri dan perjanjian yang tidak sah demi hukum. Undang-undang membolehkan suatu perjanjian diakhiri jika pelaksanaan perjanjian itu merugikan orang-orang tertentu. Untuk keadaan yang terakhir ini Pasal 1451 dan Pasal 1452 KUH Perdata mengatur bahwa setiap pembatalan mempunyai akibat mengembalikan seluruh benda dan orang pada keadaan yang sama seperti sebelum dibuatnya perjanjian.

Suatu perjanjian dikatakan tidak sah apabila terdapat pelanggaran terhadap syarat-syarat obyektif sahnya suatu perjanjian. Perjanjian itu batal, tidak pernah ada perjanjian pada mulanya, dan tidak pernah ada perjanjian tanpa perlu adanya keputusan hakim atau keputusan instansi pemerintah untuk membatalkannya. Syarat suatu obyek dalam perjanjian dirumuskan dalam Pasal 1332 hingga Pasal 1334 KUH Perdata, yang disusul dengan Pasal 1335 hingga Pasal 1336 KUH Perdata, yang mengatur tentang rumusan alasan halal, yaitu alasan yang diperbolehkan oleh undang-undang. .

Setiap pihak yang mengadakan suatu perjanjian dapat menyatakan isi perjanjian itu, sehingga sekalipun timbul sebab yang melawan hukum, perjanjian itu adalah perjanjian yang diperbolehkan oleh undang-undang. Apabila syarat ini tidak dipenuhi, maka perjanjian itu batal demi hukum dan perjanjian dianggap tidak pernah ada. Selain tidak terpenuhinya syarat-syarat obyektif sebagaimana disebutkan di atas, undang-undang juga merumuskan secara konkrit segala perbuatan hukum (khususnya dalam perjanjian formal) yang memerlukan dibuatnya suatu perjanjian dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, akan menjadi batal demi hukum apabila hal itu terjadi. kesepakatan tidak dipenuhi adalah. dan kekosongan.

Selain penerapan batal atau batalnya relatif dan mutlak, KUH Perdata juga mengatur ketentuannya. Para pihak atau undang-undang dapat menentukan batalnya perjanjian apabila terjadi peristiwa-peristiwa tertentu.

Perjanjian Waralaba

Sejarah Perkembangan Waralaba di Indonesia

Sistem waralaba di Indonesia diciptakan salah satunya yaitu Coca Cola Bottling kurang lebih 30 tahun yang lalu, dimana mereka berperan sebagai franchise holding master franchisee untuk menjadi franchisee di Indonesia, namun hal tersebut belum pernah diterapkan. Faktanya, waralaba dimulai di Amerika pada tahun 1860-an, dimulai dengan Singer Sewing Machine Company, yang menggunakan operator jahit independen (penjahit) untuk memasarkan mesin jahitnya. Penjualan barang dan jasa di Amerika melalui sistem yang mencakup lebih dari 500.000 poin waralaba ini diperkirakan akan meningkat pada tahun ini.

Perkembangan usaha waralaba telah mendapat pengakuan dari berbagai pelaku usaha dan pengacara usaha sejak tahun 1983 melalui Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 3051/K/Sip/1981 tanggal 26 Desember 1983 dalam perkara merek Obligasi Emas yang mengawali pemberian izin merek. di Indonesia karena salah Salah satu aspek hukum waralaba adalah penggunaan merek dagang yang dilisensikan oleh pemberi lisensi kepada penerima lisensi. Sesuai dengan yurisprudensi Mahkamah Agung terdapat beberapa peraturan berupa Keputusan Menteri Kehakiman No: M.02-HC.01.01 Tahun 1987 tanggal 16 Juni 1987 tentang Pedoman Penggunaan Nama Perseroan Terbatas. Dengan adanya Keputusan Menteri ini, maka akta undang-undang dan peraturan yang didaftarkan akan ditolak apabila nama perseroan terbatas yang baru didaftarkan sama dengan nama PT yang terlebih dahulu mendaftarkan perseroan terbatas yang akan didaftarkan. perusahaan. nama perusahaan.43.

Aturan ini kemudian diperkuat dengan Keputusan Menteri Kehakiman Nomor: M.03-HC.02.01 Tahun 1991, selain itu perusahaan yang mendaftar terlebih dahulu dapat menggugat/menggugat berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata apabila perusahaan tersebut , yang tidak terdaftar, dioperasikan dan memperoleh keuntungan dengan menggunakan nama yang serupa.;44. Peraturan pemerintah baru tentang waralaba secara implisit diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1997 tentang Waralaba dan diganti dengan peraturan baru yaitu Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2007 tentang Waralaba. Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1997 tentang Waralaba kemudian diganti dengan Peraturan Pemerintah yang baru No. 42 Tahun 2007 tentang Waralaba, yang dikeluarkan untuk pengembangan kegiatan waralaba sebagai upaya pemerintah dalam memperluas kesempatan kerja, peluang usaha dan upaya meningkatkan pemanfaatan alih teknologi serta memberikan jaminan hukum bagi dunia usaha yang mengelola usaha waralaba, khususnya pendirian, pelatihan dan pengembangan waralaba.

Sedangkan penemuan atau ciri-ciri bisnis, misalnya sistem manajemen dan . cara atau pengaturan penjualan atau ciri-ciri pendistribusian yang merupakan ciri-ciri khusus pemiliknya. Perkembangan selanjutnya karena semakin meningkatnya minat terhadap usaha waralaba, diperlukan adanya peraturan yang dapat memenuhi kepentingan masyarakat di bidang waralaba, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2007 tentang Waralaba dan peraturan lainnya yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan.

Pengaturan Waralaba di Indonesia

Pemberian waralaba selalu dikaitkan dengan imbalan/kompensasi yang diminta oleh pemberi waralaba (franchisor) kepada penerima waralaba (franchisee). Pemerintah memandang perlu mengetahui legalitas dan bonafiditas pemberi waralaba, baik pemberi waralaba dalam negeri maupun luar negeri, guna menciptakan transformasi informasi perusahaan yang dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh perusahaan nasional dalam pemasaran barang dan/atau jasa melalui perusahaan waralaba. Hak eksklusif yang dimiliki oleh perorangan atau badan usaha terhadap sistem usaha yang mempunyai ciri-ciri pemasaran barang dan jasa yang terbukti berhasil dan digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba.

Berdasarkan Pasal 8 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2007 tentang Waralaba, pemberi waralaba wajib memberikan pelatihan, pengelolaan operasional, pemasaran, penelitian dan pembinaan. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor : 53/M-Dag/Per/8/2012 tentang Penyelenggaraan Waralaba, disusun dalam rangka optimalisasi Penyelenggaraan Waralaba, dalam rangka peningkatan kegiatan usaha melalui Waralaba, kemitraan usaha antara Pemberi Waralaba dan pengusaha kecil dan menengah, serta peningkatan penggunaan produk rumah tangga. Dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53 Tahun 2012 diatur mengenai perjanjian waralaba dan sertifikat pendaftaran waralaba.

Pengertian Waralaba

Eksklusivitas adalah suatu perjanjian dimana salah satu pihak diberikan hak untuk menggunakan dan/atau menggunakan hak kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri-ciri usaha yang dimiliki pihak lain dengan imbalan tertentu berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan oleh pihak lain tersebut, dalam rangka penyediaan dan/atau menjual barang dan/atau jasa.” Banyak sekali definisi yang diberikan oleh para ahli hukum, namun pengertian waralaba dari sudut pandang hukum cenderung mengutip definisi yang diberikan oleh Henry R Cheesemen. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa waralaba adalah suatu bentuk perjanjian dimana salah satu pihak (pemberi waralaba atau penerima lisensi) menggunakan nama perusahaan, merek dagang, merek dagang, paten, hak cipta, dan barang-barang lain milik pemberi waralaba dalam pendistribusian dan penjualan barang. dan/atau jasa. 48.

Para Pihak dalam Perjanjian Waralaba

Hak dan Kewajiban Para Pihak Hak Pemberi dan Penerima Waralaba

Pemberi waralaba wajib memberikan prospektus penawaran waralaba kepada calon pewaralaba pada saat penawaran dilakukan. Pemberi waralaba wajib senantiasa memberikan bimbingan berupa pelatihan, bimbingan manajemen, pemasaran, penelitian dan pengembangan kepada penerima waralaba.54.

Karakteristik Yuridis dan Bisnis Waralaba

Artinya produk usaha (barang atau jasa) tersebut belum dimiliki oleh orang lain dan belum beredar di pasaran kecuali milik franchisor sendiri. Sebagai imbalannya, pemberi waralaba berhak menerima imbalan dalam berbagai bentuk dan royalti atas waralaba yang diberikannya kepada penerima waralaba. Ciri lain dari waralaba adalah adanya pelatihan yang diberikan oleh pemberi waralaba kepada penerima waralaba.

Oleh karena itu, franchisor tetap menjadi pihak yang memiliki merek, paten, hak cipta, logo, namun franchisee dapat menggunakannya. Seringkali franchisor sendiri atau bekerja sama dengan lembaga keuangan menyediakan uang kepada franchisee agar franchisee dapat menjalankan bisnis franchise. Dalam sistem waralaba, biasanya sebagian atau seluruh produk yang diproses oleh penerima waralaba melalui sistem waralaba harus dipasok oleh pemberi waralaba atau oleh pemasok/spesifikasi yang ditetapkan oleh pemberi waralaba.

Oleh karena itu, dalam sistem bisnis waralaba ini, besaran biaya yang dialokasikan untuk promosi (biasanya berkisar antara 1% hingga 6% dari pendapatan penjualan) harus ditentukan oleh penerima waralaba kepada pemberi waralaba. Dalam meninjau lokasi, franchisor biasanya mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain sebagai berikut. Pemberi waralaba sering kali memberikan hak pemasaran kepada pewaralaba di wilayah eksklusif.

Sebab produk dan jasa yang diberikan franchisee dengan kualitas yang lebih rendah dapat menghancurkan image publik yang mungkin sudah lama dibangun oleh franchisor. Untuk itu franchisor sangat memperhatikan masalah kualitas dan selalu memantau kualitas dengan mengontrol secara ketat persediaan bahan baku, proses pengolahan, pelayanan dan hal-hal lain yang dapat mempengaruhi kualitas produk dan layanan.

Berakhirnya Perjanjian Waralaba

Para pihak atau undang-undang menentukan bahwa atas terjadinya suatu peristiwa perjanjian itu menjadi batal. Misalnya A (pemberi waralaba) menyatakan perjanjian waralaba berakhir karena B (pemberi waralaba) dianggap tidak mampu memenuhi tujuan yang ditetapkan oleh A; Misalnya para pihak sepakat bahwa perjanjian waralaba akan berlangsung selama 15 tahun, setelah jangka waktu tersebut dianggap tujuan usaha telah tercapai sehingga mengakibatkan berakhirnya perjanjian.

Referensi

Dokumen terkait

adalah hak atas seluruh wilayah masyarakat hukum adat yang bersangkutan yang tidak pernah akan diasingkan pada orang atau kelompok masyarakat lain, atau dicabut dari masyarakat hukum